بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Lampiran Kastamonu · hlm. 92
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ بِعَدَدِ حُرُوفَاتِ الْقُرْاٰنِ
Saudara-saudaraku yang mulia dan kawan-kawanku yang setia! Berbahagialah, beruntunglah kalian! Usaha dan upaya kalian yang sangat sungguh-sungguh membangkitkan semangat dan upaya, baik di sini maupun di tempat-tempat lain. Syukur tak terhingga kepada Cenab-ı Hak bahwa penaklukan (fütuhat) Risale-i Nur kian bertambah. Ahli iman merasakan luka-luka mereka, lalu menemukan obatnya darinya.
Kami memerhatikan isyarat dua ayat yang ditulis Hâfız Ali dalam suratnya. Kami pun, seperti pemilik Pabrik Nur, sangat gembira dan senang. Tapi karena tiga puluh tiga ayat yang mengabarkan Risale-i Nur dengan sebuah isyarat gaib telah berakhir dengan ayat شَهِدَ اللّٰهُ, maka pintu bagi isyarat dua ayat baru ini secara berdiri sendiri belum terbuka. Lagi pula, untuk saat ini belum diketahui ayat mana dari tiga puluh tiga ayat itu yang akan menjadi pelengkapnya. Hanya sebatas ini yang terpahami: bahwa fragmen بِاَيْد۪ى سَفَرَةٍ ❊ كِرَامٍ بَرَرَةٍ memandang kepada para penyebar dan juru tulis Risale-i Nur dengan makna isyari. Lagi pula, fragmen يَتْلوُا صُحُفًا مُطَهَّرَةً ❊ ف۪يهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ pun memandang kepada juz-juz, lembaran-lembaran (suhuf), dan kitab-kitab Risale-i Nur dengan makna isyari. Tapi dengan hitungan cifir, kami pahami secara ringkas bahwa mereka akan menunjukkan keadaan cemerlang ini setelah seribu tiga ratus enam puluh (1360) sekian.
Pabrik Gül akan menghadiahkan kepada kami sebuah taman Mawar Muhammadi (Gül-ü Muhammedî) صلى الله عليه وسلم yang cemerlang. Kami menantikannya dengan segenap jiwa raga kami.
Di zaman ini, lillahilhamd, karena murid-murid Risale-i Nur yang meraih kesempurnaan iman dalam lingkup Sunnah yang mulia telah mengambil kedudukan yang akan menarik perhatian para wali dan mursyid; maka para mursyid hakiki yang ada di setiap zaman, di zaman ini pasti akan menjadi "peminat" murid-murid Risale-i Nur. Kalau mereka memperoleh salah satunya, mereka memberinya nilai sebesar dua puluh murid. Lagi pula, karena di hadapan rembesan kewalian (velayet tereşşuhatı) yang nikmat dan memikat, di dalam khidmah Risale-i Nur terdapat kepayahan, mujahadah, dan beban, maka hakikat yang diterangkan dengan ditujukan kepada Feyzi — dengan harapan ia bermanfaat bagi sisi itu pula — dikirimkan kepada kalian secara terlampir. Salam satu per satu untuk seluruh saudaraku.
Feyzi, saudaraku! Kalau engkau ingin menyerupai para pahlawan di Provinsi Isparta, engkau mesti benar-benar seperti mereka. Di penjara — semoga Allah merahmatinya — seorang tokoh dari kalangan wali Naqsyi yang penting, mursyid, dan memikat, padahal selama empat bulan terus-menerus bercakap secara memikat di tengah lima puluh-enam puluh murid Risale-i Nur, hanya bisa menarik seorang murid saja kepada dirinya untuk sementara. Sisanya tetap merasa tak butuh terhadap syaikh yang memikat itu. Khidmah keimanan Risale-i Nur yang tinggi dan berharga telah memberi mereka rasa cukup. Basirah hati para murid itu yang sangat tajam telah memahami sebuah hakikat: khidmah dengan Risale-i Nur menyelamatkan iman; sedangkan tarekat dan kesyaikhan memberikan tingkat-tingkat kewalian. Sedangkan menyelamatkan iman seseorang lebih penting dan lebih berpahala daripada menaikkan sepuluh mukmin ke derajat kewalian. Sebab, karena iman memberikan kebahagiaan abadi, ia menjamin bagi seorang mukmin sebuah kerajaan baka sebesar bola bumi. Sedangkan kewalian memperluas dan memperindah Surga si mukmin. Sebagaimana menjadikan seseorang sultan jauh lebih tinggi daripada menjadikan sepuluh prajurit jenderal (paşa), maka menyelamatkan iman seseorang adalah sebuah khidmah yang lebih berpahala daripada menjadikan sepuluh orang wali. Nah, rahasia yang halus ini, walau akal sebagian saudaramu dari Isparta tak melihatnya, hati tajam mereka secara umum telah melihatnya; sehingga mereka lebih memilih persahabatan seorang yang malang dan penuh dosa sepertiku daripada para wali — bahkan, andai ada, daripada para mujtahid sekalipun. Berdasarkan hakikat ini: seandainya seorang quthub, seorang ghauts agung (gavs-ı a'zam) datang ke kota ini lalu berkata "aku akan menaikkanmu ke derajat kewalian dalam sepuluh hari", lalu engkau meninggalkan Risale-i Nur dan pergi ke sisinya — maka engkau tak akan bisa menjadi kawan para pahlawan Isparta.