Poin Ketiga
Lampiran Kastamonu · hlm. 197
dari sisi tugas keagamaan, membuat manusia menerima dengan baik, serta sikap dan keadaan tinggi yang dituntut kedudukan itu, tak terhitung pamer-diri atau riya, dan tak boleh terhitung demikian. Kecuali kalau orang itu menundukkan tugas itu kepada keakuannya sendiri lalu menggunakannya. Ya, seorang imam dalam tugas keimaman menampakkan tasbih, memperdengarkannya; sama sekali tak bisa menjadi riya. Tapi di luar tugas, karena memperdengarkan tasbih itu secara terang-terangan kepada orang bisa kemasukan riya, menyembunyikannya lebih berpahala. Murid-murid hakiki Risale-i Nur, dalam penyebaran agama mereka, dalam ibadah mengikuti sunnah, dan dalam takwa menjauhi dosa besar, terhitung bertugas atas nama Al-Qur'an. İnsya Allah ia tak menjadi riya. Kecuali kalau ia masuk ke Risale-i Nur demi maksud duniawi lain. Masih akan ditulis, tapi sebuah keadaan berhenti memutusnya.
Sebuah istihrac Küçük Hüsrev Feyzi (Sebuah lampiran dan tambahan bagi istihrac Hâfız Ali dari Ayat Ketiga Puluh Tiga.)
Dalam Surah Az-Zumar, aku menemukan sebuah dalil kuat bahwa — selain makna jelas ayat agung اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهُ لِـْلاِسْلاَمِ فَهُوَ عَلٰى نُورٍ مِنْ رَبِّه۪ — sebuah individu yang termasuk dalam keumuman lapisan makna isyari adalah Risale-i Nur dan penerjemahnya. Sebab, kalimat اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهُ لِـْلاِسْلاَمِ فَهُوَ, dengan hitungan cifir, ebced, dan matematis, menjadi seribu tiga ratus dua puluh sembilan (1329) atau delapan (1328). Berarti, sebuah individu yang termasuk dalam keumuman مَنْ dan dalam isyarat فَهُوَ serta menjadi pusat perhatian — yaitu seorang yang, dengan cahaya lapangnya dada (inşirah-ı sadr) (Hâsiye: Ini sebuah tevafuk yang berkaitan dengan lapangnya dada ini, yang kupahami dari Üstadku; selama dua puluh lima tahun, doa yang selalu dan paling penting baginya adalah munajat اَللّٰهُمَّ اشْرَحْ صَدْرِى لِـْلاِيمَانِ وَ اْلاِسْلاَمِ.), masuk ke sebuah keadaan lain, terbebas dari kesempitan lama, lalu masuk ke sebuah jalan bercahaya — ditengok secara remiz oleh ayat itu, kepada tarikh dahsyat tersebut (yaitu masa persiapan datangnya Perang Umum lama dan baru) dan kepada keadaan individu itu.
Sebagaimana kata نُورٍ مِنْ رَبِّه۪ dalam فَهُوَ عَلٰى نُورٍ مِنْ رَبِّه۪ bertevafuk dengan nama dan makna Risale-i Nur — baik secara cifir, bentuk, maupun makna; begitu pula, tarikh yang ditunjukkan makam cifir kalimat اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهُ لِـْلاِسْلاَمِ فَهُوَ — dengan penyelidikanku — bertevafuk persis dengan keadaan Üstadku, penerjemah Risale-i Nur. Sebab pada masa itu, di permulaan Perang Umum, Üstadku meninggalkan kebiasaan lamanya serta ilmu-ilmu filsafat dan ilmu-ilmu tinggi, lalu dengan lapangnya dada yang penuh ia memulai tafsir İşarat-ül İ'caz — pembuka dan martabat pertama Risale-i Nur — dan mulai mencurahkan seluruh himmah dan pikirannya kepada Al-Qur'an; tevafuk dengan hal ini adalah sebuah pertanda kuat bahwa di abad ini, sebuah individu yang menjadi pusat perhatian dalam makna isyari menyeluruh itu adalah penerjemah Risale-i Nur dan wakil yang mewakili sosok maknawi murid-muridnya.
Ya, selama Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat bisa menengok segala sesuatu — dengan sebuah ilmu yang meliputi dan sebuah kehendak yang menyeluruh yang menyeru tiap individu di tiap abad; dan selama, dengan kesepakatan ulama Islam, ayat-ayat punya makna-makna — selain makna jelasnya — pada beberapa lapisan isyari, remzi, dan zimni (tersirat). Dan selama dalam seruan-seruan seperti يَٓا اَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا, seperti tiap abad, ahli iman di abad ini pun termasuk, seperti kaum mukmin di Masa Bahagia (Asr-ı Saadet). Dan selama, dari sisi Islam, abad ini sangat penting dan dahsyat. Al-Qur'an dan Hadis, dengan pemberitaan gaib, telah dengan keras mengabari ahli iman untuk menjauhi fitnahnya. Dan selama hitungan cifir, ebced, dan matematis sejak dahulu adalah sebuah prinsip yang kokoh dan bisa menjadi sebuah pertanda kuat. Dan selama Risale-i Nur, penerjemahnya, dan murid-muridnya telah meraih kepentingan sangat besar dalam tugas gemilang dan berpengaruh dalam khidmah iman dan Al-Qur'an. Dan selama ayat besar ini, dengan hitungan cifir, menengok abad ini dan dua Perang Umum. Sebagaimana ia bertevafuk dengan meletusnya perang lama dan munculnya Risale-i Nur, ia pun menunjukkannya secara maknawi. Tentu, berdasarkan hakikat-hakikat tersebut dan pertanda-pertanda kuat, kami memutuskan tanpa ragu bahwa: sosok maknawi Risale-i Nur dan penerjemahnya adalah sebuah individu yang termasuk dalam keumuman lapisan makna isyari ayat agung ini dan menjadi pusat perhatian. Dan ayat ini mengisyaratkannya. Dan dengan makna remzinya, ia pun mengabarkannya. Dan bisa dikatakan, dan kami katakan, bahwa ia menunjukkan sebuah kilatan kemukjizatan dari jenis pemberitaan gaib.
Analisis (Tahlil): Satu ش dua ر tujuh ratus. ف م ن ل dua ratus. ص د هـ ا seratus. س م seratus. Lafal Jalalah enam puluh tujuh. Dua ل enam puluh. فَهُوَ sembilan puluh satu. Dua atau tiga alif dalam لِـْلاِسْلاَمِ, dua atau tiga. ح delapan. نُورٍ مِنْ رَبِّه۪, "Risale-i Nur": pada keduanya ada نُور. ر pada "Risale" menghadapi ر pada رَبِّه۪. Kalau tanwin pada نُورٍ dihitung, pada النُّور pun ن bertasydid dihitung, mereka tetap bersatu. Selain نُورٍ, مِنْ به menjadi sembilan puluh tujuh; dan هـ ل س beserta dua Elif yang tersisa pada Risale-i Nur pun menjadi sembilan puluh tujuh, sehingga bertevafuk penuh. Dalam pelafalan Turki, dibacanya Risale-i Nur dengan hamzah tak merugikan.
Aku menemukan sebuah pertanda kuat bahwa Risale-i Nur — dari sisi makna dan cifir — termasuk individu makna isyari, seperti ayat keempat belas Surah Al-Maidah قَدْ جَٓاءَكُمْ مِنَ اللّٰهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُب۪ينٌ يَهْد۪ى بِهِ اللّٰهُ dan ayat di akhir Surah An-Nisa يَٓا اَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَٓاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَاَنْزَلْنَٓا اِلَيْكُمْ نُورًا مُب۪ينًا. Ayat kedua, yaitu ayat Surah An-Nisa, telah diterangkan isyaratnya oleh Üstadku dalam İşarat-ı Kur'aniye yaitu Birinci Şua. Ayat pertama, yaitu ayat keempat belas Surah Al-Maidah, sekaligus meneguhkan isyarat ini dan membenarkan isyarat ayat اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ. Ya, siapa pun yang memandang dengan adil akan membenarkan bahwa di abad ini, sebuah individu dari lapisan makna isyari yang persis sesuai dengan konsep suci ayat ini, adalah Risale-i Nur.
Selama keterkaitan maknawi bahwa Risale-i Nur adalah salah satu individunya itu kuat. Selama makam cifir ayat ini adalah seribu tiga ratus enam puluh enam (1366), dan kalau madd-madd dan hamzah yang tak dibaca tak dihitung, ia enam puluh dua (1362). Dan selama Risale-i Nur adalah sebuah kitab yang jelas (mübin) yang menyebarkan cahaya dan hidayah Al-Qur'an yang jelas. Dan selama secara lahir kami tak melihat orang yang lebih maju darinya menjalankan tugas itu di bawah keadaan berat. Dan selama ayat-ayat, seperti perkataan lain, tak bisa terbatas pada satu makna parsial. Dan selama dengan penunjukan tersirat (zımnî) dan isyari, secara kaidah ia termasuk dalam konsep perkataan. Dan selama banyak ahli kewalian seperti Necmeddin-i Kübra dan Muhyiddin-i Arabî radhiyallahu 'anhu menafsirkan kebanyakan ayat dengan makna batini dan isyari — selain makna lahir; bahkan dalam tafsir mereka, padahal mereka berkata bahwa yang dimaksud Musa 'alaihissalam dan Firaun adalah kalbu dan nafsu, umat tak mengusik mereka; banyak ulama besar membenarkan mereka. Tentu, isyarat ayat kepada Risale-i Nur — dengan penunjukan tersirat dan pertanda-pertanda kuat — adalah pasti; tak boleh diragukan.
Analisis: قَدْ جَٓاءَكُمْ 169. مِنَ اللّٰهِ 157. نُورٌ beserta tanwin 306. وَ كِتَابٌ مُب۪ينٌ beserta tanwin-tanwin 631. يَهْد۪ى بِهِ اللّٰهُ 103. Jumlahnya, 1366. Kalau madd-madd dan hamzah yang tak dibaca tak dihitung, ia bertevafuk penuh dengan tarikh Muharram tahun ini; yakni 1362. Kalau diwaqafkan pada tanwin مُب۪ينٌ, ia seribu tiga ratus enam belas (1316), yang bertevafuk dengan permulaan Risale-i Nur, dengan kesempurnaannya beserta tanwin, dan — sebagaimana diterangkan dalam Birinci Şua — dengan tarikh masyhur yang sama yang ditunjukkan dengan penting oleh banyak ayat.
(Ditulis sehubungan dengan meredam prasangka baik yang berlebih dari seorang hoca penting tentang Üstad; dikirim dengan harapan ia bermanfaat bagi kalian pula.)