Poin Kedua
Lampiran Kastamonu · hlm. 196
Sebab pertama yang menggiring manusia kepada riya: kelemahan iman. Orang yang tak memikirkan Allah, memuja sebab-sebab, lalu mengambil sikap riya di hadapan orang dengan pamer-diri (hodfüruşluk). Murid-murid Risale-i Nur, dengan pelajaran iman tahkiki kuat yang mereka peroleh dari Risale-i Nur, tak memberi nilai atau kepentingan kepada sebab-sebab dan manusia dari sisi ubudiyah, sehingga mereka tak akan riya dengan pamer kepada mereka dalam ubudiyah mereka. Sebab kedua: ketamakan dan keinginan, dari sisi kelemahan dan kefakiran, menggiring kepada pengambilan sikap riya demi menarik perhatian manusia. Kemuliaan iman (izzet-i imaniye) yang diperoleh murid-murid Risale-i Nur dari pelajaran Risale-i Nur — seperti hemat, qana'ah, tawakal, dan ridha atas bagiannya — insya Allah mencegah mereka dari riya dan dari pamer-diri demi kepentingan dunia. Sebab ketiga: ia berbuat riya lewat perasaan-perasaan seperti ketamakan akan ketenaran, cinta kedudukan, ingin punya jabatan, ingin mengungguli sesamanya, ingin tampak baik di hadapan manusia, secara dibuat-buat membuat orang menganggap dirinya lebih penting dari batasnya, dan secara berlebihan mengambil sikap tampil di kedudukan-kedudukan tinggi yang tak layak baginya. Karena murid-murid Risale-i Nur mengubah "ene" (aku) menjadi "nahnü" (kami) — yakni meninggalkan keakuan, bekerja atas nama sosok maknawi lingkaran Risale-i Nur, berkata "kami" alih-alih "aku" — dan karena di zaman ini salah satu sarana yang menyelamatkan dari riya, seperti "fana fi-sy-syaikh" dan "fana fi-r-rasul" dan mematikan nafsu amarah dalam jalan ahli tarekat, adalah "fana fi-l-ihwan", yakni melumerkan kepribadiannya ke dalam sosok maknawi saudara-saudaranya lalu bersikap demikian — insya Allah, seperti ahli hakikat yang selamat dari riya, dengan rahasia ini mereka pun selamat.