بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ
Lampiran Kastamonu · hlm. 193
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Bagian ini akan ditulis baik ke Lampiran (Lâhika) maupun ke akhir İ'caz-ı Kur'an. Beberapa hari lagi kami pun akan mengirim sebuah bagian penting.
Dengan rahasia Malam Qadar (Leyle-i Kadir) Ramadan mulia, dengan rahasia hikmah bahwa ia memberi sebuah umur maknawi delapan puluh tiga tahun, dan dengan rahasia keikhlasan pada murid-murid Risale-i Nur — dengan prinsip ketautan dan keikutsertaan dalam amal ukhrawi — sebuah dalil yang sangat kuat bahwa tiap murid setia akan meraih perolehan maknawi luar biasa itu adalah ini: di dalam lingkaran ini, di antara empat puluh ribu, bahkan seratus ribu mukmin ikhlas dan hakiki, kemungkinan yang akan meraih hakikat Malam Qadar bukan satu-dua, atau sepuluh-dua puluh, melainkan kuat kemungkinan ratusan yang meraihnya. Dengan rahasia keikhlasan dan rahasia prinsip keikutsertaan dalam amal ukhrawi, kami dan kalian — menghadap hakikat ini — pada Ramadan Mulia ini, masing-masing kita, dengan menempatkan diri atas nama semua dan di antara semua kawan, dengan nun mutakallim ma'al-gair (kami), yakni selalu pada kata-kata seperti اَجِرْنَا اِرْحَمْنَا وَاغْفِرْلَنَا وَوَفِّقْنَا وَاهْدِنَا وَاجْعَلْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ف۪ى هٰذَا الرَّمَضَانَ خَيْرًا ف۪ى حَقِّنَا مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ — meniatkan seluruh saudara di dalam kata نَا (kami). Dan khususnya, menolong saudara kalian yang paling lemah ini, dalam tugasnya yang berat, dengan niat khusus itu.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Kami mengucapkan selamat — kepada kalian, kepada kami, kepada lingkaran Risale-i Nur, dan khususnya kepada sang pahlawan Tahir — atas munculnya Vird-ül A'zam-ı Kur'anî ini dengan cara begini. Ya, dalam pencetakannya ada dua urusan besar: Pertama: ia membuka sebuah jalur yang belum pernah terlihat di percetakan bagi pencetakan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana yang penuh mukjizat dan Risale-i Nur yang penuh keramat. Kedua: sebuah poin pahala luar biasa yang ia berikan kepada Tahir, Hâfız Ali, dan kawan-kawan; dalil lahir bagi rahasia ini: dengan cara yang belum pernah terlihat dalam pencetakan yang semisalnya — persis seakan tulisan Tahir diambil dengan foto — siapa pun yang memandang berkata: "Ini tulisan Tahir, bukan cetakan." Karena kertas dan waktu sempit, salam untuk semua. Saudara kalian, Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Padahal pada Ramadan Mulia ini aku sangat membutuhkan untuk tak menengok ufuk-ufuk luar (âfâk) dan melupakan dunia; sayang sekali, mereka memaksa kami sesekali menengok dunia. İnsya Allah, karena dalam menengok ini niat kami adalah khidmah iman; ia pun terhitung sejenis ibadah. Ya, sebagaimana mereka mengusik kalian, mereka pun memberi kesan serangan kepada kami dalam bentuk yang berbeda-beda. Tapi syukur kepada Cenab-ı Hak bahwa serangan mereka — dalam jenis reaksi terbalik (aks-ül amel) — justru menolong fütuhat Risale-i Nur. Sehubungan dengan keberatan orang tua di İstanbul, sang pahlawan Nazif menulis bahwa keberatan itu justru menjadi sarana bagi Risale-i Nur untuk melakukan fütuhat dan bersinar di İstanbul. Dan serangan-serangan kecil terhadap kami dari sisi-sisi lain pun memberi hasil yang sama.
Tapi kini, untuk membuat sebagian hoca dan sufi yang malang menghindar dan dingin terhadap Risale-i Nur, mereka menemukan sebuah dalih yang sama sekali tak terlintas. Begini: mereka berkata: "Said tak menyimpan kitab-kitab lain di sisinya. Berarti ia tak menyukainya. Dan İmam Gazali radhiyallahu 'anhu pun tak ia sukai sepenuhnya, sebab ia tak membawa karya-karyanya ke sisinya." Nah, dengan ucapan-ucapan aneh tak bermakna ini mereka memberi sebuah kemualan. Yang melakukan tipu-daya jenis ini, di balik tabir, adalah kaum zindik; tapi mereka menjadikan hoca-hoca yang lugu dan sebagian sufi sebagai perantara.
Menghadapinya kami berkata: "Hâşâ, seratus kali hâşâ (sekali-kali tidak)!.. Risale-i Nur dan murid-muridnya, bukannya tak menyukai Hüccet-ül İslâm İmam Gazali dan üstadku satu-satunya yang menghubungkanku dengan Hazret-i Ali; justru dengan segenap kekuatan mereka berupaya menyelamatkan dan menjaga jalan yang ditempuh mereka dari serbuan ahli kesesatan. Tapi di zaman mereka, serbuan zindik yang dahsyat ini tak mengguncang rukun-rukun iman. Senjata-senjata yang dipakai para tokoh muhaqqiq, allamah, dan mujtahid itu dalam munazarah ilmiah dan keagamaan sesuai abad mereka — selain lambat diperoleh, juga tak bisa sekaligus mengalahkan musuh zaman ini; karena Risale-i Nur menemukan dari Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat senjata-senjata yang cepat, tajam, dan tepat untuk mencerai-beraikan kepala musuh, ia tak merujuk ke bengkel tokoh-tokoh yang diberkahi dan suci itu. Sebab, Al-Qur'an — yang merupakan rujukan, sumber, dan üstad mereka semua — telah menjadi üstad yang sepenuhnya sempurna bagi Risale-i Nur. Lagi pula, karena waktu sempit dan kami sedikit, kami tak menemukan waktu untuk mengambil manfaat pula dari karya-karya bercahaya itu. Lagi pula, tokoh-tokoh yang lebih dari seratus kali lipat murid Risale-i Nur sibuk dengan kitab-kitab itu dan menjalankan tugas itu. Kami pun telah menyerahkan tugas itu kepada mereka. Kalau tidak, hâşâ wa kallâ (sekali-kali tidak)! Kami mencintai karya-karya diberkahi para üstad suci kami sebesar jiwa raga kami. Tapi masing-masing kami punya satu kepala, satu tangan, satu lidah; di hadapan kami ada ribuan penyerang. Waktu kami sempit. Karena kami melihat bukti-bukti Risale-i Nur sebagai senjata terakhir bagai senapan mesin, dengan terpaksa kami berpegang padanya dan mencukupkan diri dengannya."
Sebuah tevafuk yang halus: kami memulai surat ini dengan mengucap بِعَدَدِ عَاشِرَاتِ دَقَائِقِ شَهْرِ رَمَضَانَ, lalu muncul banyak urusan, kami belum bisa menulis lagi. Sampai surat Âtıf yang diberkahi datang. Kata-kata بِعَدَدِ عَاشِرَاتِ دَقَائِقِ شَهْرِ رَمَضَانَ di awalnya membuat kami menunggu, supaya bertevafuk dengan awal surat kami. Niatnya untuk mengirim tulisan-tulisan gemilang Risale-i Nur yang dahulu ia kirim ke negeri ini dengan pena penuh keramatnya — ke kawasan ini untuk menolong kami — adalah sebuah pengorbanan berupa khidmah nurani yang sangat besar; tapi ia pun sangat membutuhkannya untuk dirinya. Mulai sekarang, atas nama murid-murid Risale-i Nur di sini, kami memberi ribuan terima kasih kepadanya dan mengucapkan selamat atas khidmah itu. Dan bahwa pena penuh keramatnya memalingkan wajah dari rahasia-rahasia tevafuk yang memikat lalu langsung berpegang pada penyebaran Risale-i Nur, sangat membuat kami berterima kasih dan gembira. Semoga Cenab-ı Hak memperbanyak murid-murid ikhlas dan tulus sepertinya, âmîn.
Dalam surat-surat kalian sesekali disebut Sıddık Süleyman dengan kesetiaan hangat, kepedulian, dan kemuridan kuatnya di zaman dahulu. Sampai ajalku, aku tak bisa melupakan kesetiaannya, kebersihan hatinya, dan khidmahnya yang ikhlas kepadaku dan kepada Risale-i Nur.
Saudara-saudaraku yang mulia, setia, bersih, dan tulus, serta kawan-kawanku yang sungguh-sungguh dan hakiki dalam khidmah Al-Qur'an! Baru-baru ini, sehubungan dengan mulai tersebarnya Kilatan-Kilatan Ikhlas (İhlas Lem'aları) Risale-i Nur — baik di Isparta maupun di kawasan ini — dan sehubungan dengan satu-dua peristiwa kecil, sebuah peringatan keras datang ke hati. Tiga poin tentang riya akan ditulis:
Pertama: dalam fardhu dan wajib, dalam syiar-syiar Islam, dalam mengikuti Sunnah Mulia, dan dalam meninggalkan yang haram — riya tak bisa masuk. Menampakkannya tak bisa menjadi riya. Kecuali kalau ia, beserta kelemahan iman yang sangat, secara fitrah memang seorang riya. Justru, tokoh-tokoh seperti Hüccet-ül İslâm İmam Gazali radhiyallahu 'anhu menerangkan bahwa menampakkan ibadah yang menyentuh syiar Islam jauh lebih berpahala daripada menyembunyikannya. Padahal menyembunyikan ibadah sunnah lainnya sangat berpahala; menampakkan — yang menyentuh syiar, khususnya di zaman bid'ah semacam ini menunjukkan kemuliaan mengikuti Sunnah, dan menampakkan takwa dalam meninggalkan yang haram di tengah dosa-dosa besar semacam ini — bukanlah riya, justru jauh lebih berpahala dan bersih daripada menyembunyikannya.