Risale-i NurLampiran Kastamonu

Kalimat ketiga

Lampiran Kastamonu · hlm. 192

اَللّٰهُ الصَّمَدُ. Ia sebuah kerang bagi dua mutiara Tauhid. Mutiara pertamanya: Tauhid rububiyah. Ya, lisan keteraturan kosmik berkata: لاَ خَالِقَ اِلاَّ هُوَ Mutiara keduanya: Tauhid qayyumiyah. Ya, di seluruh alam, dalam wujud dan kekekalan, lisan kebutuhan kepada Sang Pengaruh (müessir) berkata: لاَ قَيُّومَ اِلاَّ هُوَ

Keempat: لَمْ يَلِدْ. Sebuah Tauhid jalali tersembunyi di dalamnya; ia menolak ragam-ragam syirik, memutus kekufuran tanpa keraguan. Yakni, yang berubah, atau beranak, atau terbagi-bagi, tentu bukan Pencipta, bukan Qayyum, bukan Ilah... Pikiran adanya anak, kekufuran tentang kelahiran — لَمْ menolaknya, sekaligus memutus dan membuangnya. Dari syirik inilah kebanyakan manusia menjadi sesat... Sebab syirik tentang kelahiran 'Isa 'alaihissalam, atau Uzair 'alaihissalam, atau para malaikat, atau akal-akal (ukul) — sesekali merebak di antara jenis manusia dari masa ke masa...

Kelima: وَ لَمْ يُولَدْ Isyarat sebuah Tauhid sermadi (kekal-azali) begini: kalau Ia bukan Wajib, Qadim, Azali, maka Ia bukan Ilah... Yakni: kalau Ia baru (hadis) dari sisi waktu, atau lahir dari materi, atau terpisah dari sebuah asal, tentu Ia tak bisa menjadi tempat berlindung bagi alam ini... Pemujaan sebab (esbabperestî), pemujaan bintang (nücumperestlik), penyembahan berhala (sanemperestî), pemujaan tabiat (tabiatperestlik) — masing-masing sebuah ragam syirik; masing-masing sebuah sumur di dalam kesesatan...

Keenam: وَ لَمْ يَكُنْ Sebuah Tauhid yang menyeluruh. Tak ada tandingan pada Zat-Nya, tak ada sekutu pada perbuatan-Nya, tak ada serupa pada sifat-Nya — lafal لَمْ menjadi tempat pandang bagi ketiganya... Enam kalimat ini secara maknawi saling menjadi kesimpulan, sekaligus saling menjadi bukti; bukti-buktinya berantai, kesimpulan-kesimpulannya tersusun rapi, bermarkas di surah ini. Berarti, dalam Surah Al-Ikhlas ini, dalam ukuran tubuhnya sendiri, terkandung tiga puluh surah yang berantai dan tersusun; ia menjadi fajar bagi semuanya...

لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ