Poin Kedua:
Lampiran Kastamonu · hlm. 26
Sayang sekali, musuh-musuh Risale-i Nur dari kalangan jin dan manusia yang tak beriman dan tak punya rasa aman (emansız) — karena tak mampu menandingi benteng-bentengnya yang kokoh bak baja dan hujah-hujahnya yang kuat bak pedang intan — dengan banyak tipu daya tersembunyi dan sarana-sarana yang samar, menyerang secara setani dan memukul dari arah mematahkan semangat para penulis tanpa mereka sadari, melemahkan mereka, dan membuat mereka berhenti menulis. Khususnya di sini, karena kebutuhan sangat banyak, para penulis sangat sedikit, musuh sangat awas, dan sebagian murid tak punya daya tahan, hal itu sampai batas tertentu membuat negeri ini terhalang dari cahaya-cahaya (Nur) itu.
Orang yang ingin bersohbet dan bertemu denganku dalam ranah hakikat, risalah mana pun yang ia buka, ia bukan bertemu denganku, melainkan bertemu dengan üstadnya yang merupakan khadim Al-Qur'an, dan ia bisa mengambil sebuah pelajaran dengan nikmat dari hakikat-hakikat iman.
Dengan sebuah peringatan maknawi, kutuliskan satu-dua masalah yang halus untuk kalian:
YANG PERTAMA:
Pada Ramadan Mulia yang lalu, diingatkan dua sebab khusus mengapa untuk sementara tak terlihat dikabulkannya secara nyata banyak doa yang dipanjatkan demi keselamatan dan keselamatan (necat) Ahlussunnah:
Yang Pertama: Ini adalah sebuah ciri aneh abad ini. (Hâsiye: Artinya, meski ia tahu intan itu intan, ia justru lebih memilih kaca daripadanya.) Yaitu, kepolosan yang luar biasa dari umat Islam di abad ini, dan pengampunan mereka secara berjiwa besar (âlîcenabane) bahkan terhadap penjahat-penjahat yang mengerikan; serta, kalau mereka melihat satu kebaikan saja pada seseorang yang melakukan satu kebaikan namun seribu keburukan, dan yang menghancurkan ribuan hak hamba — baik maknawi maupun materi — mereka justru menjadi semacam pendukungnya. Dengan cara ini, ahli kesesatan dan pembangkangan (tuğyan) yang sebenarnya sangat sedikit jumlahnya, bersama para pendukung yang lugu, membentuk mayoritas; lalu mereka memberi fatwa kepada takdir Ilahi untuk berlangsungnya, berlanjutnya, bahkan dikuatkannya musibah umum yang menjadi akibat dari kesalahan mayoritas; mereka seakan berkata, "Kami memang pantas menerima ini." Ya, meski ia tahu mana intan (seperti akhirat dan iman), hanya dalam bentuk keterpaksaan yang pasti (zaruret-i kat'iyye), ada rukhshah syar'i (keringanan syariat) untuk lebih memilih kaca (seperti dunia dan harta) daripadanya. Tapi kalau memilihnya hanya karena sebuah kebutuhan kecil, atau karena hawa nafsu, atau karena ketamakan dan ketakutan ringan, maka itu adalah kebodohan dan kerugian yang dungu, yang membuatnya pantas menerima tamparan. Sedangkan soal mengampuni secara berjiwa besar: seseorang hanya boleh mengampuni kejahatan yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Kalau ia melepaskan haknya sendiri, itu haknya; tapi kalau tidak, ia tak punya hak untuk memandang dengan penuh ampun kepada para penjahat yang menginjak-injak hak orang lain — ia jadi sekutu dalam kezaliman.
Sebab Kedua: Karena tak ada izin untuk menuliskannya, ia tidak ditulis.