MASALAH KEDUA:
Lampiran Kastamonu · hlm. 27
Saudara-saudaraku! Di penjara Eskişehir, dengan niat menjelaskan rahasia dan hikmah mengapa para ahli ilmu dan ahli iman tidak mengetahui dan tidak melihat — padahal takwil dari riwayat-riwayat tentang peristiwa akhir zaman ternyata cocok dan benar — aku pun mulai; kutulis satu-dua halaman, lalu tirai tertutup, dan ia tertunda. Dalam lima tahun ini, lima-enam kali aku menghadap masalah yang sama tapi tak berhasil. Hanya saja, diingatkan untuk menjelaskan sebuah peristiwa yang menyangkut diriku dari rincian masalah itu. Begini:
Di awal masa Kebebasan (Hürriyet, awal era Meşrutiyet/konstitusi), jauh sebelum Risale-i Nur, dengan harapan dan keyakinan yang kuat, demi menghapus keputusasaan ahli iman, aku memberi kabar gembira: "Di masa depan ada sebuah cahaya, aku melihat sebuah nur." Bahkan sebelum masa Kebebasan pun aku memberi kabar gembira kepada murid-muridku. Seperti yang ditulis almarhum Abdurrahman dalam Tarihçe-i Hayat (Riwayat Hidup)-ku, dalam risalah-risalah seperti Sünuhat pun aku berkata "Aku melihat sebuah cahaya", lalu dengan harapan itu aku bertahan dan menghadapi peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Aku pun, seperti semua orang, membayangkan cahaya itu di dunia politik, di kehidupan sosial Islam, dan di sebuah lingkaran yang sangat luas. Padahal peristiwa-peristiwa dunia sampai batas tertentu mendustakanku dalam pemberitaan gaib dan kabar gembira itu, dan mematahkan harapanku.
Tiba-tiba, dengan sebuah peringatan gaib (ihtar-ı gaybî), datanglah ke hatiku sesuatu yang memberi keyakinan pasti. Dikatakan: "Takwil, tafsir, dan tabir dari kabar-kabar gembira yang sejak dulu kauulang dengan penuh perhatian yang serius — 'Ada sebuah cahaya, kita akan melihat sebuah nur' — yang paling penting bagi kalian, bahkan dari segi iman juga bagi Dunia Islam, adalah Risale-i Nur. Inilah cahaya yang dulu membuatmu sangat tertarik. Dan inilah nur yang, dulu pun — dengan khayalan dan dugaanmu — sementara ia sebenarnya adalah pendahuluan dan pembawa kabar gembira bagi keadaan-keadaan bahagia dan religius yang akan datang di lingkaran yang luas, barangkali di dunia politik; engkau, dengan membayangkan cahaya yang segera ini (muaccel) sebagai kebahagiaan yang tertunda itu (müeccel), di masa lalu mencarinya lewat pintu politik. Ya, tiga puluh tahun lalu engkau merasakannya dengan sebuah firasat sebelum-kejadian (hiss-i kabl-el vuku). Tapi seperti halnya kalau sebuah tempat hitam dipandang lewat tirai merah, yang hitam terlihat merah — begitu pula engkau, engkau melihat dengan benar, tapi menerapkannya dengan salah. Daya tarik politik telah memperdayaimu."