Risale-i NurLampiran Kastamonu

Masalah Kedua

Lampiran Kastamonu · hlm. 116

dalam penjelasan isyarat ayat ketiga puluh satu, pada pembahasan يَسْتَحِبُّونَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا telah dikatakan: salah satu ciri khas abad ini adalah bahwa ia membuat orang — secara sadar — lebih memilih kehidupan dunia daripada kehidupan baka. Yakni, lebih memilih sekeping kaca yang akan pecah daripada intan-intan yang baka — padahal ia tahu — telah menjadi sebuah prinsip. Aku sangat heran akan hal ini. Beberapa hari ini diingatkan bahwa:

Sebagaimana ketika sebuah anggota tubuh manusia sakit atau terluka, anggota-anggota lain sebagian meninggalkan tugasnya lalu berlari menolongnya; begitu pula sebuah perangkat manusiawi yang membawa ambisi hidup dan penjagaannya, kenikmatan hidup dan kecintaannya, yang tertanam dalam fitrah manusia, telah terluka oleh banyak sebab, lalu mulai menyibukkan latifah-latifah (kelembutan-kelembutan batin) lain dengan dirinya dan menjatuhkannya; ia berupaya membuat latifah-latifah itu melupakan tugas-tugas hakikinya. Lagi pula, sebagaimana kalau ada sebuah hiburan gemerlap yang memikat, penuh kebejatan dan kemabukan, maka manusia yang berkedudukan tinggi dan perempuan-perempuan terjaga (mesture) pun — seperti anak-anak dan para gelandangan — terlena oleh daya tarik itu lalu menghentikan tugas-tugas hakiki mereka dan ikut serta; begitu pula, di abad ini kehidupan manusia, khususnya kehidupan sosialnya, telah mengambil sebuah keadaan yang begitu dahsyat namun memikat, dan menyakitkan namun menggugah rasa ingin tahu, sehingga ia menjatuhkan latifah-latifah manusia yang tinggi serta hati dan akalnya ke belakang nefsu amarah (nefs-i emmare), lalu menjerumuskannya seperti laron ke dalam api-api fitnah itu.

Ya, demi menjaga kehidupan dunia — dengan syarat berada pada tingkat keterpaksaan — ada rukhsah syar'i (ruhsat-ı şer'iye) untuk sementara lebih mengutamakannya daripada sebagian urusan akhirat. Tapi semata-mata berdasarkan sebuah kebutuhan, demi sebuah kerugian yang tak menyebabkan kebinasaan, ia tak boleh diutamakan; tak ada rukhsah untuk itu. Padahal abad ini telah begitu menyuntik urat manusiawi itu sehingga, karena sebuah kebutuhan kecil dan sebuah kerugian duniawi yang biasa, orang meninggalkan urusan-urusan agama yang seperti intan. Ya, urat kehidupan kemanusiaan dan perangkat penjaga hidup, di abad ini begitu terluka — karena pemborosan, ketidakhematan, ketidakpuasan, dan terangkatnya keberkahan akibat ketamakan, serta bertambahnya kefakiran dan kesempitan penghidupan — dan begitu tercederai oleh beratnya syarat-syarat hidup, serta — karena ahli kesesatan terus-menerus menarik perhatian ke kehidupan ini — begitu menarik perhatian kepada dirinya, sehingga ia membuat orang lebih mengutamakan sebuah kebutuhan hidup yang paling rendah daripada sebuah masalah agama yang besar. Terhadap penyakit aneh dan penyakit dahsyat abad yang aneh ini, Risale-i Nur — yang merupakan penyebar obat-obat penawar (tiryak) Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat — bisa bertahan; dan murid-muridnya yang kokoh, tak tergoyahkan, teguh, ikhlas, setia, dan penuh pengorbanan mampu menahannya. Kalau begitu, sebelum segala sesuatu, orang mesti masuk ke lingkarannya. Perlu berpegang teguh padanya dengan kesetiaan, ketabahan penuh, keikhlasan yang sungguh-sungguh, dan kepercayaan penuh, supaya ia selamat dari pengaruh penyakit aneh itu.

Salam dan doa satu per satu untuk seluruh saudara kami.

Saudara-saudaraku yang mulia, setia, dan teguh! Keaktifan kalian dan kerja kalian yang teguh, yang berkedudukan sebagai pegas (zenberek) lingkaran Risale-i Nur, menggerakkan kami dan banyak tempat. Semoga Allah ridha selamanya kepada kalian. Seribu âmîn, âmîn. Kami telah menulis sebuah penggalan untuk digabungkan (ilhak) ke Vird-ül A'zam Risale-i Nur yang dikirim sebelum Hizb-ül Kur'anî, dan sebuah penggalan lagi kami tunjukkan tempatnya di Kilatan Kedua Puluh Sembilan (Yirmidokuzuncu Lem'a). Karena perenunganku yang khusus bersifat demikian, ia diingatkan kepadaku, dan aku pun menuliskannya.

Kedua: sehubungan dengan masalah kedua dalam surat terakhir yang kukirim kepada kalian beberapa hari lalu — tentang mengalahnya kehidupan dunia atas kehidupan agama — sebuah makna yang sangat halus dan tak tertuliskan muncul di hati. Aku hanya akan memberi sebuah isyarat singkat kepada makna itu. Begini:

Aku melihat dan merasakan — tapi tak bisa kuungkapkan — bahwa kenikmatan lahiriah yang diambil dari yang fana oleh ahli kesesatan pemuja-hidup abad yang aneh ini, yang memperdaya dan memabukkan, ternyata sangat pahit dan menyakitkan; sedangkan ahli iman dan hidayah, di tempat yang sama dan pada yang fana itu, memiliki sebuah kenikmatan yang baka dan tinggi. Sebagaimana Risale-i Nur di beberapa tempat telah membuktikan bahwa, bagi ahli kesesatan, segala sesuatu selain masa kini adalah tiada (madum) dan penuh dengan derita perpisahan. Bagi ahli hidayah, masa lampau dan masa depan beserta segala isinya ada (mevcud) dan bercahaya. Persis begitu pula, kulihat bahwa pada yang fana — yakni keadaan-keadaan sementara yang telah lampau — bagi ahli dunia, ia tiada dalam kegelapan kefanaan mutlak, sedangkan bagi ahli hidayah ia ada. Sebab, aku teringat dengan penuh rindu, dan kudambakan dengan penuh kerinduan, keadaan-keadaan sementara yang nikmat, berharga, dan terhormat yang dulu sangat kupedulikan. Saat aku berpikir "Mengapa keadaan-keadaan yang diberkahi ini tinggal di masa lampau lalu fana?", cahaya Iman kepada Allah (İman-ı Billah) mengingatkan bahwa: keadaan-keadaan itu memang secara lahir fana, tapi dari beberapa sisi ia ada. Sebab, keadaan-keadaan itu — yang merupakan kilauan nama-nama baka Cenab-ı Hak — sebagaimana ia baka di lingkaran ilmu (daire-i ilim), di lauh-lauh mahfuz (elvah-ı mahfuza), dan di lauh-lauh misali (elvah-ı misaliye); begitu pula ia ada dalam sebuah keadaan di atas waktu (fevkazzaman), dari sisi hubungan baka yang diberikan cahaya iman. Aku pahami bahwa engkau bisa melihat dan memasuki keadaan-keadaan itu dari banyak sisi dan lewat banyak "bioskop" maknawi. Dan aku berkata: kalimat peribahasa "Selama Allah ada, segala sesuatu ada" mengungkapkan hakikat besar ini pula. Ia menunjukkan: bagi siapa Allah ada — yakni siapa mengenal Allah — segala sesuatu ada; siapa tak mengenal Allah, baginya segala sesuatu tiada. Berarti, orang-orang yang — dengan kebejatan — lebih memilih sedirham kenikmatan yang penuh derita, gelap, dan penuh kerinduan, daripada sebuah kenikmatan yang seratus derajat lebih kekal dan tanpa derita di tempat yang sama, justru — berlawanan dengan maksud mereka — menerima derita-derita yang menyakitkan di dalam kenikmatan yang sama itu.