Risale-i NurLampiran Kastamonu

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Lampiran Kastamonu · hlm. 118

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ بِعَدَدِ ثَوَابَاتِ قِرَٓائَةِ حُرُوفَاتِ الْقُرْاٰنِ الَّت۪ى قَرَاْتُمُوهَا بِنِيَّتِنَا فِى رَمَضَانَ

Saudara-saudaraku yang mulia, setia, dan diberkahi! Doa-doa yang sangat diberkahi dalam surat Hâfız Ali kali ini menggembirakanku dan kami dari ruh kami yang paling dalam, lalu menggiring kami kepada syukur. Ia menulis bahwa اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ dan اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا — yang dengan makna isyarinya menjadi penolong, penyelamat, penyembuh, dan sumber kegembiraan bagi setiap orang yang tertimpa musibah serta yang jatuh ke dalam kesedihan dan duka — sebagaimana ia memandang kepada setiap orang yang tertimpa musibah, begitu pula ia memandang kepada kami dari sisi penyakit yang baru berlalu ini. Ya, Hâfız Ali telah melihat sepenuhnya titik itu. Aku pun, sembari membenarkan, berkata: andai penyakit itu berlipat dua puluh kali, dibandingkan hasil yang ia berikan kepada kami, ia tetap murah dan menjadi sebuah rahmat. Tapi keutamaan dan kesucian yang disandarkan Hâfız Ali kepada üstadnya sendiri — jauh di atas batasku — kami bayangkan bukan sebagai pujian terhadapku lewat lisannya yang tulus, melainkan sebagai sejenis doa.

Lagi pula, bahwa tempat-tempat dan desa-desa seperti Sava serta Isparta menjadi Madrasah Nuriah masing-masing, dan bahwa murid-murid setia Risale-i Nur secara luar biasa kian hari kian meningkat dan kian bercahaya — kami terima sebagai sebuah kabar penuh hakikat yang menggembirakan dan menyenangkan kami, barangkali Anatolia, barangkali Dunia Islam. Pada frasa terakhirnya — "bahwa zaman dan tempat untuk melakukan fütuhat maknawi dan mengusir kegelapan, yang dikabarkan Muhbir-i Sadık (Sang Pemberita yang Benar, yakni Nabi صلى الله عليه وسلم), hampir-hampir telah tiba" — kami memohon dan mengharapkannya dari rahmat Ilahi dengan segenap jiwa raga kami. Tapi kami, para murid Risale-i Nur: tugas kami adalah khidmah, yaitu tak mencampuri tugas Ilahi (vazife-i İlahiye) dan tak membangun khidmah kami di atas tugas-Nya sehingga seakan menguji-Nya; beserta itu, memandang bukan kepada kuantitas, melainkan kepada kualitas; lagi pula, di bawah sebab-sebab dahsyat yang sejak lama menggiring kepada kemerosotan akhlak dan kepada lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dari segala sisi — fütuhat Risale-i Nur sampai sekarang, patahnya serangan kaum zindik dan kesesatan, terselamatkannya iman ratusan ribu orang malang, dan terbentuknya ratusan dan ribuan murid mukmin hakiki yang masing-masing setara seratus dan seribu — telah membenarkan persis pemberitaan Muhbir-i Sadık, telah membuktikannya dengan kejadian-kejadian, dan insya Allah akan lebih lagi. Dan ia telah begitu berakar sehingga, insya Allah, tak ada kekuatan yang bisa mengeluarkannya dari dada Anatolia. Sampai di akhir zaman, di lingkaran kehidupan yang luas, para pemilik aslinya datang dengan izin Cenab-ı Hak, memperluas lingkaran itu, dan benih-benih itu pun bertunas. Kami pun, di kubur kami, akan menyaksikannya dan bersyukur kepada Allah.

Pujian dan perincian Hâfız Ali tentang Hasan Âtıf dari Aydın, salah satu saudara kami yang berharga, membuat kami berterima kasih. Saudara kami itu pun ada di sisi kami setiap pagi, di antara kalangan khusus.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Kami mengucapkan selamat kepada kalian; kalian sungguh para hafiz yang cermat. Bahwa kalian menemukan kekeliruan-kekeliruan yang amat halus dalam Al-Qur'an yang ditulis Hüsrev, sepenuhnya menunjukkan kekuatan hafalan kalian. Kami berterima kasih kepada kalian dan mengucapkan syukur. Semoga Cenab-ı Hak ridha selamanya kepada kalian. Sehubungan dengan ini, kami akan menyebutkan sebagian keajaiban yang ditunjukkan Hüsrev, sang pahlawan Risale-i Nur, dalam khidmah Risale-i Nur, sebagai contoh. Begini:

Tokoh ini, dalam waktu sembilan-sepuluh tahun, selain menulis sekitar empat ratus risalah dari Risale-i Nur secara cermat dan penuh tevafuk, juga telah menulis tiga Al-Qur'an: dua Al-Qur'an yang sempurna — padahal ia bukan hafiz — dan yang ketiga, secara terpisah (müteferrik), dengan cara yang menampakkan sejenis kemukjizatan Al-Qur'an (i'caz) yang terlihat dengan mata; ia sampai kepada kami tanpa dibandingkan (mukabele) secara penuh; kami pun telah mengirimkannya kepada kalian tanpa membandingkannya. Empat puluh-lima puluh kekeliruan yang kalian temukan dengan kecermatan penuh pada harakat dan huruf, menunjukkan betapa luar biasanya pena Hüsrev. Sebab, ditemukannya hanya empat puluh-lima puluh kekeliruan pada tiga ratus ribu enam ratus dua puluh huruf tiap Al-Qur'an, beserta sekian banyak harakat dan sukunnya, menunjukkan bahwa pena itu luar biasa dalam ketepatan.

Sebuah hal yang halus: seorang yang menemukan kekeliruan Hüsrev, justru berbuat satu kekeliruan dalam dua huruf. Hüsrev berbuat satu kekeliruan dalam seratus ribu huruf. Sang pengoreksi berbuat keliru dengan meninggalkan titik dalam dua huruf. Berarti, kekeliruan sang hafiz yang cermat itu justru membuat kekeliruan Hüsrev itu dimaafkan.

Lagi pula, kita bisa katakan: seperti pena Hüsrev ini, pikiran dan hatinya pun luar biasa dengan kadar yang sama. Keterikatan, kerinduan, dan kepuasannya terhadap Risale-i Nur kian maju dan kian tersingkap. Tak ada peristiwa yang mengguncangnya atau membuatnya lesu. Lagi pula, salah satu keajaibannya: padahal selama lima tahun ia tetap asing terhadap Risale-i Nur, tiba-tiba ia bergabung (intisab) dan dalam waktu sebulan menulis empat belas risalah dari Risale-i Nur. Lagi pula, sebuah kilatan kemukjizatan (lem'a-i i'caz) Al-Qur'an yang terlihat dengan mata, kubuat tanda-tandanya di lima-enam mushaf, lalu kubagikan kepada saudara-saudaraku yang tulisan Arab Qur'aninya sempurna. Di antara mereka, padahal dalam tulisan Arab Al-Qur'an Hüsrev tak bisa menyamai mereka, tiba-tiba ia mengungguli seluruh juru tulis itu dan sang guru tulisan Arab. Dan dalam tulisan Arab, ia melampaui sepuluh derajat saudara-saudara kami yang paling menonjol. Mereka semua membenarkan dan berkata: "Ya, ia melampaui kami, kami tak bisa menyamainya." Berarti, pena Hüsrev adalah salah satu keramat dan keajaiban Al-Qur'an Yang Penjelasannya Mukjizat dan Risale-i Nur yang bersifat mukjizat.

Saudara kalian, Said Nursî

(Ini adalah pelengkap bagi dua penggalan yang ditulis sebelumnya tentang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat)

Abad yang aneh ini — dengan memberatkan kehidupan dunia, memberatkan dan memperbanyak syarat-syarat hidup, serta — lewat kebiasaan — menjadikan kebutuhan-kebutuhan yang tak primer (gayr-ı zaruri) sebagai kecanduan dan ketergantungan sehingga membawanya ke derajat kebutuhan primer — telah menjadikan hidup dan bertahan hidup sebagai maksud dan tujuan terbesar setiap orang di setiap waktu. Dengan itu, ia membendung kehidupan agama, abadi, dan akhirat, atau meninggalkannya di derajat kedua atau ketiga. Sebagai hukuman atas kesalahannya ini, ia menerima sebuah tamparan yang sedemikian dahsyat sehingga menjadikan dunia sebagai Neraka di atas kepalanya.

Nah, dalam musibah dahsyat ini, ahli agama pun jatuh ke dalam sebuah jurang besar, dan sebagian tak memahaminya.

Contohnya: aku melihat bahwa sebagian tokoh ahli agama — barangkali ahli takwa — menjalin kepedulian yang sangat sungguh-sungguh dengan kami. Pada satu-dua tokoh itu aku melihat: ia menginginkan agama dan suka mengamalkannya, supaya ia bisa berhasil dalam kehidupan dunianya dan urusannya lancar. Bahkan ia menginginkan tarekat demi penyingkapan dan keramat (keşf ü keramet). Berarti, ia menjadikan keinginan akhirat dan buah-buah ukhrawi dari tugas-tugas agama sebagai sebuah siku, sebuah anak tangga bagi kehidupan dunia. Ia tak tahu bahwa manfaat-manfaat duniawi dari hakikat-hakikat agama — yang menjadi sumber bagi kebahagiaan duniawi sebagaimana kebahagiaan ukhrawi — hanya bisa berada pada derajat penguat-pilihan (müreccih) dan pendorong. Kalau ia naik ke derajat sebab-utama ('illet), dan manfaat itu menjadi sebab dilakukannya amal baik itu, maka ia membatalkan amal itu; setidaknya keikhlasannya pecah, dan pahalanya lenyap.

Ada empat puluh ribu saksi bahwa penyelamat yang paling teruji dari bencana dan wabah, serta dari kezaliman dan kegelapan abad yang sakit, kejam, dan celaka ini, adalah cahaya yang disebarkan Risale-i Nur dengan timbangan-timbangan dan keseimbangan-keseimbangannya (mizan ve müvazene). Berarti, bagi mereka yang berada dekat dengan lingkaran Risale-i Nur, kalau mereka tak masuk ke dalamnya, kemungkinan bahayanya kuat.

Ya, dengan isyarat يَسْتَحِبُّونَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلاٰخِرَةِ, abad ini membuat kaum Islam pun — secara sadar dan menyukainya — lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Lagi pula, dimulai dari tarikh seribu tiga ratus tiga puluh empat (1334), sebuah rejim semacam itu dimasukkan pula ke kalangan kaum Islam. Ya, عَلَى اْلاٰخِرَةِ dengan hitungan cifir dan ebced menjadi 1333 atau empat, yang pada saat yang sama — dengan menangnya musuh-musuh Islam pada Perang Umum (Dunia I) yang dahulu — berselaras dengan permulaan rejim "mengutamakan dunia atas agama" dan syarat-syarat perjanjian. Dua-tiga tahun kemudian, hasil-hasilnya terlihat secara nyata.

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Pada cuaca yang sangat dingin ini, aku khawatir karena tak menerima kabar dari kalian. Aku mengirimkan kepada kalian masalah berikut, yang lahir dari sebuah kekhawatiran penuh kasih yang ditimbulkan dingin ini padaku. Barangkali ia bermanfaat bagi kalian pula.

Lagi pula, penggalan-penggalan tentang kebangkitan (haşir) yang manfaatnya terlihat di sini, telah dikumpulkan di akhir Kalimat Kesepuluh (Onuncu Söz) dan menjadi sebuah lampirannya (lâhika). Penggalan pertama, mukadimah kebangkitan (mukaddeme-i haşriye) yang merupakan Sinar Kesembilan (Dokuzuncu Şua), akan ditulis di belakang Kalimat Kesepuluh. Dan di belakangnya, sebagai ganti dan pengganti kedudukan pertama mukadimah kebangkitan itu, akan ditulis Isyarat Keempat (Dördüncü Remiz) tentang Nama İsm-i Hayy (Yang Maha Hidup) dari Kilatan Ketiga Puluh (Otuzuncu Lem'a). Di belakangnya, akan ditulis bagian dari awal Penutup (Hâtime) Risalah Tauhid (Tevhid Risalesi) yang merupakan Sinar Kedua (İkinci Şua) tentang pembuktian kebangkitan, sampai kalimat "Empat masalah kebangkitan ini cukup untuk saat ini. Kita kembali ke pokok bahasan kita." Lalu di belakangnya, akan ditulis bagian yang dimulai dari pertengahan Harapan Kelima (Beşinci Rica) Kilatan Para Orang Tua (İhtiyarlar Lem'ası) — "Ya, dengan nash hadis, seratus dua puluh empat ribu Nabi yang merupakan pribadi-pribadi paling menonjol dari jenis manusia, dan seterusnya" — sampai Harapan Keenam (Altıncı Rica). Kalau di risalah-risalah lain ada penggalan-penggalan tentang kebangkitan seperti ini, kalau kalian pandang tepat, kalian boleh menambahkannya. Pengaruh keseluruhan himpunannya besar.

(Sangat penting)