Risale-i NurLampiran Kastamonu

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Lampiran Kastamonu · hlm. 122

Karena kasih sayang dan kelembutan hati yang hebat, bencana, kebinasaan, kemelaratan, dan kelaparan yang menimpa orang-orang malang dari musibah kemanusiaan — beserta sebuah dingin maknawi yang hebat seiring dingin musim dingin yang hebat ini — menyentuh kelembutan hatiku dengan keras. Tiba-tiba diingatkan: dalam musibah-musibah semacam ini, walau seseorang kafir, ada sejenis rahmat dan ganjaran baginya, sehingga musibah itu — dibandingkan ganjarannya — jatuh sangat murah baginya. Musibah langit (musibet-i semaviye) semacam ini, bagi orang-orang tak berdosa, berkedudukan sebagai sejenis kesyahidan.

Sudah tiga-empat bulan, padahal aku tak punya kabar sama sekali tentang keadaan dunia dan perangnya, aku teringat — sambil mengasihani — anak-anak dan keluarga di Eropa dan di Rusia. Pembagian (taksimat) yang diterangkan peringatan maknawi itu menjadi sebuah salep bagi derita kasih yang menyakitkan ini. Begini:

Mereka yang wafat dan menjadi porak-poranda akibat musibah langit itu dan bencana yang datang sebagai akibat kejahatan bagian manusia yang zalim — kalau mereka berusia sampai lima belas tahun — apa pun agamanya, berkedudukan sebagai syahid. Ganjaran maknawi mereka yang besar, seperti kaum Muslim, membuat musibah itu menjadi tak berarti.

Mereka yang berusia di atas lima belas tahun, kalau tak berdosa dan terzalimi, ganjarannya besar; barangkali ia menyelamatkannya dari Neraka. Sebab, di akhir zaman: selama sebuah tabir ketidakpedulian — sampai derajat fatrah (masa kekosongan dakwah) — telah datang menutupi agama dan agama Muhammadi صلى الله عليه وسلم, dan selama di akhir zaman agama hakiki Nabi 'Isa 'alaihissalam akan berkuasa dan datang bahu-membahu dengan Islam; tentu bencana-bencana yang diderita oleh orang-orang Kristen yang terzalimi — yang berafiliasi kepada Nabi 'Isa 'alaihissalam dan yang kini tinggal dalam kegelapan seperti masa fatrah — bisa disebut sebagai sejenis kesyahidan bagi mereka. Khususnya para orang tua dan korban musibah, kaum fakir dan lemah, menderita musibah di bawah paksaan dan kekerasan para zalim besar yang despotik. Tentu, aku menerima kabar dari hakikat bahwa musibah itu — selain menjadi penebus (keffaret) bagi dosa-dosa yang datang dari kebejatan dan pengingkaran nikmat peradaban serta dari kesesatan dan kekufuran filsafat — seratus derajat menguntungkan bagi mereka. Aku bersyukur tak terhingga kepada Cenab-ı Erhamürrâhimîn. Dan aku menemukan hiburan dari derita kasih yang menyakitkan itu.

Kalau yang menanggung bencana itu adalah orang-orang zalim, para pelaku kelaliman yang menyiapkan kehancuran manusia, dan setan-setan berwujud manusia (insî şeytan) yang hina dan egois (hodgâm) yang membakar alam manusia demi kepentingan diri sendiri — maka itu sepenuhnya pantas dan sepenuhnya keadilan Rabbani (adalet-i Rabbaniye).

Kalau yang menanggung bencana itu adalah orang-orang yang berlari menolong yang terzalimi, dan yang berjuang demi ketenteraman manusia serta demi menjaga dasar-dasar agama, kesucian-kesucian samawi (mukaddesat-ı semaviye), dan hak-hak kemanusiaan — tentu hasil maknawi dan ukhrawi dari pengorbanan itu sedemikian besar sehingga menjadikan musibah itu sebagai sumber kemuliaan bagi mereka, dan membuatnya dicintai.

Saudara-saudaraku! Beberapa hari ini aku mengirim dua risalah tentang Rumuzat-ı Semaniye kepada murid-murid penting, ke suatu tempat. Jalan tertutup, ia tak sampai. Kedua risalah itu kembali kutelaah dengan cermat. Dalam pikiran aku berkata: "Pada jalan penuh tevafuk yang menuju sebuah maksud yang nikmat, indah, menggugah, dan manis ini, mengapa — sebelum digiring lebih jauh — tabir diturunkan, dan kami digiring serta digerakkan ke jalan lain?" Tiba-tiba diingatkan: "Akan datang kerugian terhadap khidmah kepada perbendaharaan hakikat-hakikat iman — yang merupakan batu-batu fondasi Islam, yang seratus derajat lebih penting dan berharga daripada jalan yang akan membuka rahasia gaib itu, yang menjadi sumber bagi kebutuhan umum, dan yang sangat dibutuhkan setiap orang di zaman ini — serta terhadap pengambilan manfaat darinya. Ia akan meninggalkan hakikat-hakikat iman — yang merupakan maksud terbesar dan tertinggi — di derajat kedua. Karena itulah."

Dalam isyarat (remiz) Surah اِذَا جَٓاءَ نَصْرُ اللّٰهِ, rahasia-rahasia gaib (esrar-ı gaybiye) ditunjukkan; tiba-tiba ia tertutup, tabir diturunkan. Lagi pula, demi rahasia inilah kami tak terlalu dipekerjakan di jalan itu; hanya saja, dari rembesan jalan tevafuk itu muncul: sebuah tanda tangan bagi kebenaran (hakkaniyet) Risale-i Nur, sebuah hiasan bagi kefasihannya (cezalet), dan sejenis kemukjizatan (i'caz) yang tampak dari keteraturan dan keadaan huruf-huruf Al-Qur'an. Kami tak digerakkan lebih jauh di jalan itu.

Salam dan doa satu per satu untuk seluruh saudara kami dan untuk kawan-kawan belajarku di Risale-i Nur, dan kami memohon doa mereka.

Saudara-saudaraku yang mulia, setia, diberkahi, dan tak berdosa! Kami telah menerima hadiah pena kalian — yang sangat diberkahi dan sangat berharga dalam pandangan kami, dan dalam pandanganku seperti sebuah hadiah suci yang abadi dan bersifat Firdaus dari وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ Surga — yang memaniskan hari raya yang telah lewat dan yang akan datang seperti manisan dan permen Surga, dan yang menghiasi majelis maknawi kami seperti pakaian dan busana para bidadari yang mengenakan tujuh puluh ragam perhiasan dan sulaman. Pahamilah betapa pentingnya hadiah ini dari sisi khidmah Risale-i Nur, lewat sebuah peristiwa yang menimpaku beberapa hari ini dan masuk ke mimpiku. Begini:

Tiga hari sebelum menerima hadiah maknawi yang sangat berharga ini — persis pada saat hadiah kalian akan tiba di Kastamonu — aku melihat dalam mimpi: sebuah titah agung (ferman-ı şahane) untuk peningkatan kedudukan dan pangkat kami datang dari sebuah pihak maknawi, dan mereka membawanya kepada kami sambil memegangnya dengan penuh hormat. Kami melihat bahwa titah agung itu ternyata adalah Al-Qur'an Yang Mahaagung. Maka makna ini datang ke hati: berarti, karena Al-Qur'an, sosok maknawi (şahs-ı manevî) Risale-i Nur dan kami para muridnya akan menerima sebuah titah peningkatan dan kemajuan dari alam gaib. Sedangkan takwilnya sekarang: bahwa kami menerima tafsir maknawi Al-Qur'an lewat pena anak-anak tak berdosa yang mewakili titah itu. Satu-dua jam sebelum takwil mimpi ini muncul sekarang, takwil yang ditunjukkan Feyzi dan Emin pun benar dan penting.

Lagi pula, ruhku telah sepenuhnya merasakan hadiah bercahaya yang menjadi sumber kegembiraan dan kebahagiaan ini dengan sebuah firasat sebelum kejadian (hiss-i kabl-el vuku), tanpa mengabari akal — sehingga dua hari sebelum ia tiba, pada siang hari malam ketika aku melihat mimpi yang diterangkan dalam catatan Feyzi dan Emin, dari pagi sampai petang, dan pada hari kedua pula sebagian, dengan cara yang tak pernah kualami aku merasakan sebuah kegembiraan, sebuah kesenangan, lalu terus-menerus dengan sebuah dalih menampakkan kegembiraanku, dan tiga puluh-empat puluh kali tersenyum dan tertawa. Aku dan Feyzi pun sangat keheranan dan kagum. (Hâsiye: Ya, kami tak pernah melihat Üstad kami segembira ini. Karena tak mengetahui sebabnya, kami keheranan. — Emin, Feyzi) Seorang yang dalam tiga puluh hari tak tertawa sekali pun, kini tertawa tiga puluh kali dalam sehari — itu membuat kami terheran-heran.

Sekarang terpahami bahwa kegembiraan dan kesenangan itu datang dari hadiah yang saat itu belum tiba — yang mengabarkan: bahwa tulisan pena anak-anak tak berdosa dan kaum ummi yang mewakili titah maknawi tersebut akan menyebarkan cahaya ke lembaran-lembaran kehidupan generasi mendatang (nesl-i âtî), ke lembaran takdir Dunia Islam, dan ke buku-buku masa depan ahli iman; bahwa dengan amal dan khidmah anak-anak tak berdosa itu yang ikhlas dan murni, kebaikan-kebaikan mereka tertulis dan tercatat di lembaran amal kami; dan bahwa takdir murid-murid Risale-i Nur dilanjutkan secara bahagia. Bagianku — seperseribu dari jumlah total yang agung itu — telah terasa secara ruhani, dan membawaku ke gejolak yang penuh kegembiraan.

Ya, sebagaimana amal yang diterima dan doa yang tak tertolak dari ratusan anak tak berdosa semacam ini tercatat di buku amal saudara-saudaraku yang lain, masuknya pula ke lembaran amal seorang pendosa sepertiku, memberi ribuan kegembiraan dan kesenangan. Karena bekerja secara tak berdosa dan penuh kepahlawanan semacam ini, di sebuah zaman yang gelap, di bawah syarat-syarat yang berat ini, kami mengucapkan selamat — kepada anak-anak tak berdosa dan kaum ummi itu serta guru-guru mereka, kepada ayah dan ibu mereka, kepada desa-desa mereka, kepada negeri-negeri mereka, kepada bangsa-bangsa mereka, dan kepada Anatolia.

Andai aku mampu menulis sepucuk surat terima kasih dan ucapan selamat khusus untuk tiap-tiap anak tak berdosa dan ummi yang diberkahi itu, aku akan menulisnya; maka hendaklah mereka menerima keinginanku ini seakan telah benar-benar ditulis. Aku akan menuliskan nama-nama mereka dalam bentuk sebuah lingkaran, dan akan melihatnya saat berdoa. Aku juga akan memasukkan mereka ke lingkaran murid-murid khusus Risale-i Nur, dan menjadikan mereka penyerta dalam seluruh perolehan maknawiku. Sampaikanlah salamku dari pihakku kepada ayah dan ibu mereka atau kepada kerabat dan guru-guru mereka. Semoga Cenab-ı Hak membahagiakan mereka dan anak-anak mereka di dunia dan akhirat, âmîn.

Salam dan doa satu per satu untuk seluruh saudara kami, dan kami memohon doa mereka pada sepuluh malam (leyali-i aşr) ini yang menjadi mazhar bagi pujian dan sanjungan Al-Qur'an. Catatan Emin dan Feyzi tentang mimpi pun kami kirimkan secara terlampir.

Kepada saudara-saudara kami di Isparta! Sebagaimana sebuah mimpi yang halus memberi kami keyakinan setingkat penyaksian (şuhud) tentang sebuah masalah terkait takdir, begitu pula bagian kedua mimpi halus itu yang serius — karena memberi kami sebuah kabar gembira maknawi — kami terangkan kepada kalian, saudara-saudara kami. Begini:

Dua hari lalu Üstad kami melihat dalam mimpi: aku — yakni Feyzi — keluar berjalan-jalan bersamanya. Saat berjalan, tiba-tiba aku berkata kepada Üstadku: "Dari sini aku akan mengumpulkan tasbih beruang." Üstadku pun memandang dan melihat sesuatu yang terlilit seperti benang-benang putih. Karena perkataanku yang aneh dan menggelikan itu serta keadaanku yang menisbahkan tasbih kepada beruang, ia terbangun sambil tertawa sangat keras. Setelah terbangun pun ia tertawa. Sampai petang, dengan cara yang tak pernah terlihat, dua puluh-tiga puluh kali ia bercanda denganku sambil menertawakan peristiwa mimpi (hâdise-i nevmiye) itu. Walau kami berupaya menakwilkannya dengan beberapa hal yang tak berkaitan, takwilnya tak menemukan kaitan.

Lalu pada hari kedua — sesuai kebiasaan yang berlangsung terus, menurut pengalamannya bahwa mimpi yang benar (rü'ya-yı sadıka) sebagiannya terjadi pada hari yang sama, sebagiannya pada jam yang sama di hari kedua — seorang sahabat yang mirip denganku (yang dalam mimpi tampak kepada Üstadku dalam rupaku) datang ke sisi Üstad kami dan berkata: "Bagaimana pendapatmu jika seseorang mengambil lemak beruang dari para pengumpulnya, lalu — atas saran seorang lelaki yang menjadi muazin dan pembuat tasbih — menelannya setiap pagi untuk penyakit, bagi seorang yang penting?" Üstad kami pun tertawa persis seperti ia tertawa dalam mimpi. Tiba-tiba mimpi itu terlintas di benaknya, dan ia menyambut takwil yang aneh dan persis sama ini dengan keheranan dan kekaguman yang sempurna, lalu berkata kepadanya: "Jangan sekali-kali ia menggunakannya."

Dalam Nuktah Keenam (Altıncı Nükte) Risalah Pertama Surat Kedua Puluh Delapan tentang mimpi: mimpi yang benar berkedudukan sebagai sebuah hujah yang pasti (hüccet-i katıa) bahwa takdir Ilahi (kader-i İlahî) meliputi segala sesuatu. Sebagaimana Üstad kami melihatnya lewat ribuan pengalaman, kejadian ini pun membuktikan kepada kami secara pasti setingkat penyaksian bahwa: kejadian-kejadian, sebelum terwujud, telah ditakdirkan, diketahui, dan ditentukan. Ia menjadi sebuah contoh yang sangat halus dan pasti bagi kami akan rukun iman ini — bahwa segala sesuatu datang dengan timbangan takdir Ilahi.

Lagi pula, pada lapisan kedua mimpi yang sama, Üstad kami melihat: sebuah titah datang kepada himpunan Risale-i Nur. Tiba-tiba ia datang, dan titah suci itu ternyata Al-Qur'an. Takwilnya: pada jam pengalaman yang sama di hari yang sama, kami melihat Hizb-ül Ekber Al-Qur'an — pada waktu yang tak diharapkan, Hizb-ül Ekber yang sekelilingnya dihias di rumah Âsiye Hanım yang termaklum — di dalam sebuah wadah indah berusia seratus tahun, yang di atas wadah itu disulam dengan benang emas sebuah tugra agung (turra-i şahane) seperti pada titah-titah penting para sultan. Üstad kami berkata: "Sebuah titah datang" — lalu yang muncul Al-Qur'an. Dan sekarang, Hizb-ül Ekber Al-Qur'an datang. Karena di atasnya terdapat tugra titah, kami menantikan dari rahmat Ilahi bahwa ia akan berkedudukan sebagai sebuah Titah Rabbani (Ferman-ı Rabbanî) yang penuh kabar gembira dan menjadi sumber feyiz serta kemajuan bagi himpunan Risale-i Nur. Setelah takwil ini, pada hari kedua, hadiah kalian yang sangat berharga memunculkan takwil hakikinya seterang matahari.

Dari para murid Risale-i Nur dan para pelayan tetapnya, Emin dan Feyzi, yang adalah Küçük Hüsrev

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Dengan segenap jiwa ragaku, aku mengucapkan selamat hari raya kepada kalian. Risalah-risalah berharga yang kali ini dikirim oleh anak-anak tak berdosa yang diberkahi, para orang tua ummi yang terhormat, dan guru-guru mereka — yang sangat memberkahi hari rayaku ini — telah kami jilid dengan indah menjadi lima jilid dan kami tata.

İnsya Allah ia akan banyak dimanfaatkan. Kami merasakan bahwa risalah-risalah yang ditulis anak-anak tak berdosa yang diberkahi dan kaum ummi yang terhormat itu secara tulus dan ikhlas, menambahkan sebuah keramat pula pada keramat Risale-i Nur, dan lebih berpengaruh daripada tulisan-tulisan yang paling indah.

Bahkan, ketika Feyzi membawa kumpulan tulisan anak-anak yang penuh tevafuk yang ia jilid dengan indah, punggungku (kulunç, nyeri otot punggung) sangat sakit. Aku berkata: "Aduh saudaraku! Pijatlah punggungku, ia sangat sakit." Tiba-tiba kami membuka kumpulan itu, kami memandanginya; tiba-tiba terjadi sebuah kesembuhan sedemikian rupa sehingga kami melupakan nyeri punggungku. Lalu kami teringat, dan kami keheranan. Nama-nama penulis risalah-risalah itu, juga umur mereka, akan kami cantumkan di awal kelima kumpulan itu, sebagai bahan pelajaran (ibret) dan agar orang mendoakan mereka. Ucapkanlah selamat dari pihakku — satu per satu, atas khidmah ini sekaligus atas hari raya mereka — kepada mereka, khususnya guru-guru mereka serta ayah dan ibu mereka.

Karena mereka secara nyata membuktikan harapan besarku tentang Isparta, dan karena memberiku sebuah hiburan besar, sampaikanlah rasa terima kasihku — sampai ajal — kepada mereka, kepada Himpunan Para Mübarek, kepada Madrasah Nuriah, serta kepada para pemilik Pabrik Nur dan Gül.

Menurut rahasia tasbih selepas salat: sebagaimana masuk — secara bayangan dan niat — ke lingkaran sebuah khataman agung Muhammadi صلى الله عليه وسلم (hatme-i muazzama-i Muhammediye) selepas salat dengan tasbih, zikir, dan tahlil, serta ke lingkaran sebuah halqah pujian Ahmadi صلى الله عليه وسلم (halka-i tahmidat-ı Ahmediye) yang berzikir dan bertasbih, seluas permukaan bumi, menjadi sumber limpahan karunia (füyûzat); begitu pula aku dan kami — dengan berkedudukan sebagai penyerta dalam doa dan amal saleh (a'mal-i sâliha) ribuan lisan tak berdosa dan para orang tua yang diberkahi yang belajar, berdoa, dan bekerja di lingkaran pelajaran Risale-i Nur yang luas dan di halqah cahayanya, serta dengan mengamini doa-doa mereka — dengan melipat jarak tempat (tayy-ı mekân) bersama mereka, dengan khayal, niat, dan bayangan untuk berada bahu-membahu dan lutut-berlutut bersama mereka, merasa diri kami berbahagia melampaui batas. Khususnya, menemukan anak-anak maknawi yang berharga dan tak berdosa semacam ini serta ratusan "Abdurrahman kecil" di akhir usiaku, bagiku berkedudukan sebagai sebuah kehidupan Surga di dunia.

Pada Ramadan Mulia yang lalu, karena penyakitku, karena aku melihat secara ainul yakin dan haqqul yakin hasil yang sangat besar dari tiap saudaraku yang bekerja satu jam atas namaku; doa, kerja, dan bantuan pena — secara lisan dan kalbu, atas namaku, dari waktu ke waktu — dari anak-anak tak berdosa yang doanya tak tertolak, para orang tua yang diberkahi, dan guru-guru yang berbahagia itu, menunjukkan kepadaku — bahkan di dunia — sebuah hasil baka ukhrawi dari khidmahku kepada Risale-i Nur. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى

(Sangat penting)

Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Sehubungan dengan beberapa hari ini seorang saudara kami yang sangat setia dan cermat menerima sebuah tamparan kecil karena kurang hati-hati, dan sehubungan dengan keadaanku selama empat bulan ini — yang, padahal aku punya kepedulian sebesar ribuan orang, sama sekali tak menerima, tak meminta, dan tak menaruh perhatian pada kabar tentang keadaan dunia, politik, dan perang — maka karena keheranan dan pertanyaan saudara-saudara khususku seperti Feyzi dan Emin, perlu lagi membahas sedikit dari sebuah hakikat, sebagaimana telah kerap kuterangkan. Begini:

Padahal hakikat-hakikat iman, di zaman ini, semestinya menjadi maksud yang paling utama sebelum segala sesuatu, dan hal-hal lain semestinya tinggal di derajat kedua, ketiga, keempat, dan berkhidmah kepadanya lewat Risale-i Nur semestinya menjadi tugas yang paling utama, sumber perhatian, dan tujuan pada dirinya sendiri; keadaan dunia sekarang — kehidupan dunia, khususnya kehidupan sosial, lebih-lebih kehidupan politik, dan terutama keberpihakan Perang Umum yang merupakan sebuah kilauan murka Ilahi (gazab-ı İlahî) yang datang sebagai hukuman atas kebejatan dan kesesatan peradaban — sedemikian rupa telah dan terus disuntikkan serta ditanamkan oleh abad yang celaka ini, sampai menggugah urat dan saraf, hingga ke lubuk kalbu, bahkan sampai derajat menempatkan keinginan-keinginan yang merugikan dan fana itu di derajat intan-intan hakikat iman; sehingga para ulama — bahkan barangkali para wali — yang berada di luar lingkaran Risale-i Nur, karena ikatan kehidupan politik dan sosial itu, meninggalkan hukum hakikat iman di derajat kedua dan ketiga, lalu — dengan tunduk kepada hukum arus-arus itu — mencintai kaum munafik yang sepaham dengannya, mengkritik dan memusuhi ahli hakikat — bahkan ahli kewalian — yang berbeda dengannya, bahkan menjadikan perasaan-perasaan keagamaan tunduk kepada arus-arus itu.

Nah, terhadap bahaya aneh abad ini, khidmah dan kesibukan Risale-i Nur telah sedemikian menggugurkan politik dan arus-arus masa kini dari pandanganku, sehingga selama empat bulan ini aku tak menaruh perhatian pada Perang Umum ini, dan tak menanyakannya. Lagi pula, murid-murid khusus Risale-i Nur, selagi berada dalam tugas hakikat iman yang berkedudukan sebagai intan-intan baka, semestinya tak melemahkan tugas suci mereka dengan menonton permainan catur para zalim, dan tak mengotori pikiran mereka dengan hal-hal itu.

Cenab-ı Hak telah memberi kami cahaya dan tugas bercahaya; dan kepada mereka, Ia memberi permainan yang penuh kezaliman dan kegelapan. Padahal mereka merasa cukup tanpa kami, tak menolong kami, dan tak menjadi peminat cahaya-cahaya suci yang ada di tangan kami — adalah sebuah kesalahan bagi kami untuk merendah-diri menonton permainan gelap mereka dengan merugikan tugas kami. Bagi kami dan bagi rasa ingin tahu kami, kenikmatan-kenikmatan maknawi (ezvak-ı maneviye) dan cahaya-cahaya iman di dalam lingkaran kami sudah cukup dan memadai. Salam satu per satu untuk seluruh saudara kami, dan kami mengucapkan selamat hari raya mereka. اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى

Said Nursî