بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Lampiran Kastamonu · hlm. 77
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Üstadku yang mulia, Hazret! Kemarin saat menjalankan salat Magrib, pada rakaat kedua, setelah Fatiha yang mulia, ketika aku membaca ayat شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ وَالْمَلٰئِكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَٓائِمًا بِالْقِسْطِ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ, padahal aku tak memikirkannya sama sekali dan tak ada sesuatu di akal dan hatiku, tak ada sebab untuk mencari-cari, tiba-tiba ke jendela ruhku ditunjukkan isyarat ayat mulia yang agung ini kepada Risale-i Nur dan penulisnya, lewat sebuah hubungan maknawi. Setelah salat aku memikirkannya. Sungguh ada sebuah hubungan maknawi yang kuat. Begini:
Sebagaimana yang pertama yang menunjukkan dan membuktikan keesaan Ilahi (vahdaniyet-i İlahiye) secara pasti di hadapan jin, manusia, dan para ruhani adalah Al-Qur'an Yang Mahaagung (Kur'an-ı Azîmüşşan); maka di abad ini, pada derajat kedua dan ketiga, yang menyajikan dan membuktikan keesaan itu — dengan keadilan yang sempurna dan dengan hujah-hujah yang benar dan dibenarkan, secara jelas dan terang, di hadapan pandangan manusia dan jin pada lembaran-lembaran alam semesta — adalah Risale-i Nur. Karena bagi kami terlihat nyata bahwa ia, sebagai madrasah sekaligus sekolah, sekaligus barak, sekaligus ahli hikmah (hakîm) sekaligus hakim, bagi semua lapisan manusia — dari kalangan awam yang paling awam sampai kalangan khusus yang paling khusus — memberi pelajaran, mengajar, dan mendidik; maka diberikan sebuah keyakinan yang tak diragukan bahwa salah satu objek dan salah satu mâsadak (kebenaran yang ditunjuk) ayat mulia ini pun adalah Risale-i Nur.
Bahwa setelah kalimat tauhid yang kedua, Cenab-ı Hak (Celle Celalühü) menyifati zat-Nya dengan nama "El-Aziz-ül Hakîm", lalu pada derajat kedua mengisyaratkan kepada şahs-ı manevî (sosok maknawi) Risalet-ün Nur yang menjadi mazhar nama-nama yang sama itu — adalah sebuah keadaan yang layak bagi keagungan Al-Qur'an Yang Mahaagung. Sebab, sebagaimana yang membusungkan dada dan tabah menghadapi musibah-musibah yang lebih pahit daripada kematian — demi menjaga kemuliaan ilmiah (izzet-i ilmiye) beserta keadaan kefakirannya, berbeda dengan seluruh dunia — adalah penerjemah Risale-i Nur; begitu pula benar dan dibenarkan bahwa yang membuka teka-teki pengaturan dengan hikmah di bumi dan di langit pun adalah Risale-i Nur. Sebuah tanda yang menguatkan hubungan maknawi yang kuat ini pula adalah ini:
Kedudukan cifir اُولُوا الْعِلْمِ adalah dua ratus empat belas (214); berselaras persis dengan dua ratus empat belas yang merupakan kedudukan "Bedîüzzaman" — salah satu nama Risale-i Nur — ("ze" dengan syaddah dan lâm asli dihitung); dan berselaras dengan satu selisih saja terhadap dua ratus lima belas yang merupakan kedudukan Molla Said, nama hakiki dan tetap penulisnya — tentu, sebagaimana kalimat suci ini memandang ke setiap abad, ini pun sebuah tanda bahwa salah satu individu yang menjadi sasaran pandangan untuk abad ini adalah Resail-in Nur; dan dengan bilangan enam ratus satu (601) yang merupakan kedudukan وَ اُولُوا الْعِلْمِ قَٓائِمًا بِالْقِسْطِ (vav kedua yang tak dibaca dan hamzah tak dihitung), berselarasnya ia — dengan dua selisih saja — terhadap kedudukan lima ratus sembilan puluh sembilan (599) Risale-i Nur dan terhadap kedudukan Resail-in Nur, yaitu terhadap dua namanya, pun adalah sebuah tanda; dan dengan bilangan seribu tiga ratus enam puluh (1360) yang merupakan kedudukan cifir dan ebced kalimat tauhid yang suci شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ وَالْمَلٰئِكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ (Hâsiye: Dua hamzah yang tak dibaca tak dihitung.) — berselarasnya dan bersesuaiannya ia secara persis dengan tahun ini, dengan tarikh tempat kita berada sekarang, yaitu abad pembangkangan, kedurhakaan, dan keangkuhan yang aneh ini, serta zaman kekufuran, kegejolakan, dan ilhad (pengingkaran Tuhan) yang ganjil ini — tentu sebuah tanda yang kuat bahwa: individu-individu penting dan mâsadak-mâsadak yang menjadi sasaran pandangan dari tauhid dan kesaksian yang amat besar, luas, dan umum ini akan terdapat pada waktu abad ini — yang lebih membutuhkan kesaksian ini daripada masa mana pun. Dan untuk saat ini, ada sangat banyak tanda, isyarat, dan kabar gembira (beşaret) bahwa Resail-in Nur — yang membuktikan kesaksian itu secara berpengaruh — adalah salah satu dari individu-individu itu dan menjadi sasaran pandangan yang khusus.
اللّٰهُ اَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
Dari para murid Risale-i Nur,
Hâfız Ali (rahmatullahi 'alaih)
Sebuah masalah yang tiba-tiba diingatkan:
Ada riwayat-riwayat bahwa kesalahan dan dosa-dosa seseorang di akhir zaman membentuk sebuah jumlah total yang sangat dahsyat. Dulu aku berpikir: apakah seorang biasa bisa berbuat dosa sebanyak ribuan orang, dan di akhir zaman itu — selain dosa-dosa yang kami ketahui — dosa-dosa apakah yang menyentuh keseluruhan himpunan alam semesta, yang menyebabkan terjadinya kiamat dan runtuhnya dunia-dunia ke atas kepala mereka? Sekarang, di zaman ini, kami telah melihat beberapa sebabnya. Contohnya, dari beberapa seginya, lewat radio terpahami bahwa: orang yang seorang itu, dengan satu kata saja, berbuat sejuta dosa besar (kebair) sekaligus, dan dengan membuat jutaan orang mendengarkannya, ia memasukkan mereka ke dalam dosa. Ya, unsur radio — yang merupakan sebuah lidah dari bola udara yang mengucapkan ratusan ribu kata sekaligus — adalah sebuah nikmat Ilahi bagi jenis manusia yang sedemikian rupa, sehingga semestinya bola udara dipenuhi dengan syukur dan puji-pujian beserta seluruh partikelnya; namun karena kebejatan manusia (sefahet-i beşeriye) yang lahir dari kesesatan menggunakan nikmat yang agung itu berlawanan dengan syukur, maka ia tentu akan menerima tamparan. Persis seperti peradaban yang kejam dan tanpa mim ini* — karena tak bisa menunaikan syukur atas anugerah-anugerah Ilahi yang berada di bawah nama "keajaiban peradaban" (havarik-ı medeniyet) dengan penggunaan yang baik, lalu menghamburkannya untuk penghancuran dan mengingkari nikmat (küfran-ı nimet) — menerima sebuah tamparan yang sedemikian rupa sehingga membuat kebahagiaan hidup hilang sama sekali. Dan ia menurunkan manusia yang ia bayangkan paling beradab ke tingkat yang lebih rendah daripada tingkat paling badui dan paling buas. Sebelum pergi ke Neraka, ia membuat mereka mencicipi azab Neraka.
Ya, sisi nikmat universal radio menuntut sebuah syukur yang universal. Dan syukur universal itu — demi menyampaikan kalam azali Pencipta Bumi dan Langit sekaligus kepada semua mukhatab masa kini — semestinya, sebagai seorang hafiz langit berlidah ratusan ribu yang universal, setiap saat membaca Al-Qur'an di alam semesta. Supaya ia menunaikan syukur universal nikmat itu dan melanggengkan nikmat itu.
Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Surat-surat kalian — yakni surat dari pemilik Pabrik Nur dan imam jamaah yang diberkahi — yang datang dari Atabey, sangat menggembirakan kami. Berhasilnya lima puluh pena dari kalangan ummi (yang tak bisa baca-tulis) menulis Risale-i Nur di tiga-empat desa dalam waktu tiga-empat bulan, tentu adalah sebuah keramat kesetiaan yang luar biasa dan tak diragukan dari para Ali dan para Mustafa. Kejadian yang penuh keramat ini sangat kuat memberi harapan kepada para murid Risale-i Nur di kawasan ini, dan memberi semangat yang lebih. Untuk kalian dan untuk para juru tulis ummi itu, seratus ribu bârekâllah (semoga Allah memberkahi).
Aku pernah penasaran dan bertanya tentang tingkat khidmah Pabrik Nur dan Pabrik Gül kepada Risale-i Nur. Jauh di atas harapan dan dugaanku, dari surat Hüsrev, kabar khidmah kepada Risale-i Nur dengan seribu pena, dan khususnya datangnya pertolongan lima puluh pena di beberapa desa — hanya dari kalangan ummi — di pihak kalian pula, menyenangkan kami sebesar kabar gembira sebuah harta karun yang kekal. Semoga Allah ridha selamanya kepada kalian, âmîn. Dan semoga Dia memberi kalian taufik dalam khidmah keimanan dan Al-Qur'an, âmîn. Keselarasan dan kesesuaian Büyük Hâfız Ali dengan Nazif bukan hanya dari satu-dua segi; ada tevafuk di antara mereka dari banyak segi.
Salam satu per satu untuk seluruh saudara kami.
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Upaya dan aktivitas kalian yang jauh di atas harapanku bersifat sedemikian rupa sehingga akan membuatku gembira dan bersyukur sampai akhir hayatku. Kali ini dalam surat kalian, jawaban atas pertanyaan kalian — "Bekerja untuk menghafal Al-Qur'an dan menulis Risale-i Nur, di zaman ini mana yang lebih baik didahulukan?" — sudah jelas dengan sendirinya. Sebab, di alam semesta ini dan di setiap abad, kedudukan terbesar adalah milik Al-Qur'an. Dan menghafal serta membaca Al-Qur'an — yang pada tiap hurufnya terdapat dari sepuluh sampai ribuan pahala — lebih didahulukan dan lebih diutamakan daripada setiap khidmah. Tapi karena Risale-i Nur pun merupakan burhan-burhan dan hujah-hujah hakikat keimanan Al-Qur'an Yang Mahaagung itu, dan dari sisi bahwa ia adalah perantara dan sarana bagi penghafalan dan pembacaan Al-Qur'an serta penafsiran dan penjelasan hakikat-hakikatnya, maka bekerja untuknya beserta penghafalan Al-Qur'an adalah sangat perlu.
Kepada tiap-tiap saudara kami yang berada di lingkungan Pabrik Nur dan Pabrik Gül, di Mübarekler Heyeti, di antara teladan para Lütfü, di jamaah para Hacı Hâfız, di kedudukan Sıddık Süleyman dan Hakkı, khususnya kepada para murid Risale-i Nur yang muncul dari lima puluh ummi itu, kami sampaikan salam dan doa satu per satu, dan kami meminta doa kalian.
Said Nursî