بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Lampiran Kastamonu · hlm. 71
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ بِعَدَدِ حُرُوفَاتِ مَٓا اَرْسَلْتُمْ لَنَا
Saudara-saudaraku yang mulia! Pada keselarasan cifir (tevafuk-u cifrî) — yang dilakukan dengan sangat tergesa-gesa — dari sebuah isyarat gaib yang terlintas secara ringkas dan mendadak dalam dua menit, pada saat mengoreksi isyarat hadis, tentang ayat مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ di akhir hadis yang mengisyaratkan akhir zaman, telah terjadi sebuah kekeliruan kecil yang tak berbahaya. Sejak waktu itu aku belum memerhatikannya lagi. Kali ini, sungguh dan benar-benar, aku melihat sebuah kekeliruan yang disengaja dalam penulisan frasa tentang ayat itu di Lâhika Risalesi yang dikumpulkan dan disusun oleh Mübarekler Heyeti (Kelompok Mübarekler). Kekeliruan yang disengaja secara mengingatkan itu memberitahuku akan kekeliruanku yang penuh kekurangan. Ia membuatku sangat berterima kasih dan gembira kepada kelompok yang sangat cermat dan sangat diberkahi itu. Begini:
Kedudukan cifir كَلِمَةً طَيِّبَةً karena kekeliruan ditulis seribu dua (1002). ط tak terhitung; yang benar adalah seribu sebelas (1011). Selain berselaras dengan kedudukan Risalet-ün Nur dengan tiga belas selisih, kalau beralih dari idhafah (penyandaran) ke tavsif (penyifatan), ia menjadi رِسَالَةٌ نُورِيَّةٌ. Sebuah "Ye" dan "He" bertambah, lalu syaddah hilang, dan sebuah "Nun" berkurang. Tapi tanwin pada طَيِّبَةً — karena ia agak diwaqaf — kalau tak dihitung, berselaras persis dengan hanya satu selisih; dan kalau maddah tak dihitung, berselaras tanpa selisih.
Lagi pula, dari sisi makna, karena isyarat, hubungan, dan kesesuaian dua ayat terhadap dua arus itu sangat kuat, maka sebuah tevafuk yang kurang dan sebuah tanda yang lemah pun sudah cukup.
Lagi pula, pada kedudukan-kedudukan semacam ini, pada jumlah-jumlah total yang besar semacam ini, selisih-selisih kecil seperti ini tak merugikan. Aku menduga, kekeliruan ini — seperti kekeliruan pada isyarat ayat kelima — akan menjadi kunci bagi sebagian isyarat gaib yang penting; dan ayat yang agung ini adalah sebuah isyarat bahwa ia adalah ayat ketiga puluh tiga. Insya Allah, kelak salah satu saudara kita akan membuka harta karun itu.
Beberapa hari ini aku melihat keselarasan-keselarasan (tevafukat) Tafsir (İşarat-ül İ'caz) dan Kalimat Kesepuluh (Onuncu Söz). Aku berkata kepada diriku sendiri: perincian yang berlebih ini adalah pemborosan, masalah-masalah penting banyak, jangan sampai waktu terbuang. Tiba-tiba diingatkan: di balik tevafuk itu ada sebuah masalah yang sangat penting. Lagi pula, selama sebuah inayah khusus dan kasih sayang Rahmani telah tampak terhadap Risale-i Nur dalam tevafuk itu — maka rasa syukur, kepuasan, dan kegembiraan yang penuh syukur terhadap kasih itu, seberapa pun berlebihannya, tak bisa menjadi pemborosan. Peringatan yang ringkas ini akan kujelaskan dari dua sisi:
Yang Pertama: Yaitu adanya kilauan sebuah maksud dan kehendak dalam segala sesuatu — sekecil apa pun ia; dan tak adanya kebetulan secara hakiki. Ya, yang paling tersebar dari kemajemukan dan yang paling sering dikaitkan dengan kebetulan adalah keadaan huruf-huruf dalam kata-kata. Khususnya dalam penulisan: selama dalam keadaan huruf-huruf yang sama sekali tak punya hubungan dan tak dicampuri kehendak manusiawi terdapat sebuah keselarasan dan keteraturan, maka tentu keadaan-keadaan itu diberikan di bawah sebuah kehendak gaib. Seperti tak ada sesuatu pun yang berada di luar lingkaran ilmu dan kudrat-Nya, begitu pula tak ada yang berada di luar lingkaran kehendak dan masyiah-Nya; sehingga pada benda-benda yang parsial dan tersebar semacam ini pun sebuah keselarasan dijaga dan ditata. Dan di dalam penataan itu dan dalam kilauan kehendak umum (irade-i âmme), dalam bentuk sebuah inayah khusus, sebagai sejenis keistimewaan bagi Risale-i Nur, terlihat sebuah perhatian dan kasih yang khusus. Untuk melihat masalah yang mendalam ini, aku memerhatikan keselarasan-keselarasan tafsir İşarat-ül İ'caz; dengan keyakinan yang pasti aku mengetahui dan merasakan rahasia itu.
Sisi Kedua: Persis seperti seorang tokoh besar yang sangat diberkahi dan suci menganugerahkan kepada seorang lelaki yang sangat miskin dan membutuhkan, dengan cara yang tak terduga dan penuh kasih, sebuah hadiah yang terbungkus beberapa kertas di dalam sebuah wadah; tentu lelaki malang itu ingin berterima kasih kepada tokoh yang amat besar itu lebih dari ribuan kali lipat nilai hadiah itu. Dan terhadap kasih yang ditunjukkan lewat hadiah itu — yang bernilai seribu kali lipat dari hadiah itu sendiri — sebanyak apa pun ia memboroskan dan berlebihan dalam berterima kasih, tetap diterima. Dan kalau ia menyantap kertas-kertas pembungkus hadiah tokoh yang sangat diberkahi itu seperti gula sambil menyebutnya tabarruk (mengambil berkah), bahkan menelan kulit keras kacang kenari di dalam hadiah itu seperti roti sambil menyebutnya tabarruk, dan mencium wadah hadiah itu seperti sebuah kitab yang diberkahi lalu meletakkannya di atas kepalanya — sebagaimana itu bukan pemborosan; persis begitu pula, pada wajah Risale-i Nur, kehendak umum menganugerahkan kasih inayah khusus lewat wadah tevafuk. Tentu, perincian dan penggambaran tentang tevafuk adalah sejenis ungkapan terima kasih yang nyata, dan sebuah rembesan penuh semangat dari kegembiraan dan rasa terima kasih. Tak perlu dipersalahkan. Ya, terhadap anugerah materi sebesar empat puluh para (uang receh) yang menunjukkan kasih seorang tokoh semacam itu, kalau diberikan empat puluh ribu terima kasih pun, itu bukan pemborosan.