Risale-i NurLampiran Kastamonu

Masalah Kedua

Lampiran Kastamonu · hlm. 73

Aku melihat — baik pada diriku maupun pada murid-murid Risale-i Nur di dekat sini — sebuah keletihan dan sebuah kelesuan (fütur) dalam semangat setelah bulan-bulan yang dimuliakan (şuhur-u muharreme). Aku tak mengetahui sebabnya secara jelas. Sekarang, aku melihat bahwa sebab dugaan yang dulu kukatakan ternyata adalah hakikat. Begini:

Persis seperti udara jasmani yang buruk memberi pengaruh buruk, kalau udara maknawi pun rusak, ia memberi sebuah guncangan menurut kapasitas (istidad) masing-masing orang. Pada tiga bulan (Rajab-Sya'ban-Ramadan) dan pada bulan-bulan yang dimuliakan, udara maknawi Dunia Islam — yaitu perhatian sungguh-sungguh, himmah, dan pencerahan seluruh ahli iman terhadap keuntungan dan perniagaan akhirat mereka — memurnikan dan memperindah udara itu. Ia menghadapi gangguan-gangguan dan badai-badai yang dahsyat. Berkat itu, semua orang mengambil manfaat menurut tingkatannya. Tapi setelah bulan-bulan yang diberkahi itu pergi, seakan-akan pameran dan pasar perniagaan akhirat itu berganti; pameran dunia mulai dibuka. Kebanyakan himmah, keadaannya berubah sampai derajat tertentu. Uap-uap palsu yang meracuni udara (buharat-ı müzahrefe) merusak udara maknawi itu. Setiap orang terluka olehnya menurut tingkatannya. Cara untuk selamat dari bahaya udara ini adalah: memandang dengan mata Risale-i Nur, dan — sebanyak apa pun kesulitan bertambah — dari sisi tugas yang suci, bergerak dengan kesungguhan dan semangat yang lebih besar. Sebab, kelesuan dan menariknya diri orang lain justru menjadi sebab bertambahnya semangat dan upaya para pemilik himmah. Karena ia merasa — dan seharusnya merasa — terikat untuk sampai derajat tertentu menjalankan pula tugas-tugas mereka yang telah pergi.