Bagian Kedua
Lampiran Kastamonu · hlm. 61
dari Fihrist (Daftar Isi) yang kalian tulis, bernama Sinar Kesepuluh (Onuncu Şua), memberiku sebuah harapan yang kuat: bahwa Risale-i Nur, sebagai ganti seorang tak berdaya yang tua dan lemah sepertiku, telah dan akan menemukan banyak Said yang muda dan kuat di tengah kalian. Karena itu, aku menduga bahwa setelah ini penyempurnaan, penjelasan, serta penjabaran dan pembuktian Risale-i Nur dengan haşiye-haşiye telah diserahkan kepada kalian. Sebuah tandanya pula adalah ini: tahun ini, walau aku berkali-kali berupaya mencatat hakikat-hakikat yang diingatkan, aku tak digerakkan untuk itu.
Ya, Risale-i Nur bisa menjadi sumber rujukan (me'haz) yang sempurna bagi kalian. Dan darinya, untuk tiap-tiap rukun iman — misalnya, kalau bagian-bagian yang tersebar di berbagai risalah tentang Al-Qur'an sebagai kalamullah dan tentang nuktah-nuktah kemukjizatannya dikumpulkan, atau kalau burhan-burhan yang berbeda tentang kebangkitan dihimpun, dan demikian seterusnya — ia bisa menjadi sebuah penjelasan, sebuah haşiye, dan sebuah syarah yang sempurna. Aku kira, Risale-i Nur telah meliputi sepenuhnya hakikat-hakikat iman yang tinggi, tak perlu mencarinya di tempat lain. Hanya saja, kadang ia masih membutuhkan penjelasan dan perincian. Karena itu, terasa olehku seakan tugasku telah usai. Tugas kalian masih berlanjut. Dan insya Allah tugas kalian akan berlanjut dengan syarah dan penjelasan, dengan penyempurnaan dan pemberian haşiye (tahşiye), dengan penyebaran dan pengajaran, barangkali dengan penyusunan Surat Kedua Puluh Lima dan Ketiga Puluh Dua, dengan penyempurnaan Sembilan Kedudukan (Dokuz Makam) dari Sinar Kesembilan (Dokuzuncu Şua), serta dengan penataan, penyusunan, penafsiran, dan pengoreksian Risale-i Nur. Sebuah şahs-ı manevî (sosok maknawi) — yang tersaring dan tampak dari kekuatan ikhlas dan kesetiakawanan (tesanüd) keseluruhan himpunan murid-murid Risale-i Nur yang tulus dan ikhlas — adalah sebuah kekuatan penopang (kuvvet-i zahr) yang kekal dan berkemampuan bagi kalian, sebuah pembimbing.
Kalian menulis bahwa kelompok Mübarekler mengumpulkan surat-surat yang datang dari sini ke sana dalam bentuk sebuah risalah, dan bahwa Hüsrev telah menyerahkan kepada Hâfız Ali dan Sabri untuk menghapus (tayy) sebagian kalimat yang parsial dan khusus serta sebagian frasa yang tak perlu. Pandangan Hüsrev — yang penuh keramat, cermat, tepat, dan tajam tentang Risalet-ün Nur — itu benar. Pada sebuah karya yang kekal, akan lebih baik bila kata-kata yang sementara, parsial, dan khusus dihapus (tayy). Dalam surat kalian kali ini, kami melihat tiga poin yang penuh keramat:
Yang Pertama: Seorang murid Risalet-ün Nur yang rajin bernama Küçük Hüsrev Mehmed Feyzi — yang menunjukkan keikhlasan, keterikatan, dan kemampuan sampai ke tingkat layak menjadi seorang Hüsrev bagi tempat ini — baru pulang dari wajib militer; dan ketika baru kedua kalinya kami bertemu dengannya, kami melihat nama Feyzi dalam surat kalian. Kami berkata: para murid Risale-i Nur ini, sejauh apa pun mereka berpisah, sungguh sangat dekat satu sama lain, sampai-sampai begitu serempak merasakannya lalu menuliskannya.
Yang Kedua: Küçük Hüsrev Feyzi ini, ketika belakangan berada di İstanbul, menyentuh benakku atas nama Risale-i Nur. Aku menjadi tersentuh sedih. "Apakah ia sedang sakit?" Tiba-tiba benakku memalingkan wajahnya dari dia, dan aku sangat tersibukkan dengan Hâfız Ali. Aku paham bahwa ada hal yang akan menyedihkan. Tapi ia ada di sisi Hâfız Ali yang merupakan pusat aktif Risale-i Nur. Aku mulai dan terus mendoakan kesembuhan Hâfız Ali. Dan sebelum surat datang, aku bertanya kepada Feyzi: "Apakah engkau menderita suatu penyakit?" Ia berkata: "Tidak." Aku berkata: "Kalau begitu, di Isparta ada sebuah penyakit pada salah satu rukun (pilar) Risale-i Nur yang penting dan kuat. Tapi khayalku keliru menangkap rupa hakikatnya." Lalu surat kalian datang, dan hakikatnya pun terpahami.
Yang Ketiga: Dua puluh hari yang lalu, setelah hari-hari yang diberkahi (eyyam-ı mübareke), terlintas di benakku bahwa bagi orang-orang yang tak menggunakan penanya secara bertugas setiap hari, cukuplah menjadi penyerta seratus kali setiap dua puluh empat jam di bawah gelar global (ünvan-ı icmalî) "murid-murid Risale-i Nur"; maka di dalam lingkaran murid-murid khusus, sebagian nama yang disebut dengan nama khusus untuk sementara dihapus (tayy). Saudara kita Hakkı Efendi pun ada di antara mereka. Beberapa hari ia berlangsung begitu. Lalu tiba-tiba, tanpa merasakan sebab apa pun, Hakkı kembali menjadi kawan bagi Hulusi. Dengan nama dan rupanya, ia masuk ke lingkaran khusus. Kami menduga bahwa Hakkı meraih doa khusus persis pada waktu ditulisnya frasa dalam surat kalian — "Jangan ia lupakan aku dalam doa." Bahkan beberapa hari ini banyak kilatan inayah semacam ini. Emin akan menulis sebuah catatan tentangnya sebagai "berita harian" (havadis-i yevmiye), barangkali ia akan mengirimkannya kepada kalian pula. Murid-murid kecil Risale-i Nur di sana, dan mereka yang kelak menjadi şakird yang berharga, kini pun menjadi penyerta sebagai bagian dari lingkaran murid.
Ketika Mehmed Feyzi di İstanbul mencari risalah-risalah Said yang Lama (Eski Said), pada hari yang sama sang pahlawan Rüşdü telah mengumpulkan dan membeli persediaan yang ada di sebuah toko. Küçük Hüsrev dengan sedih mencari di tempat lain, lalu menemukan İşarat-ül İ'caz. Ia menduga dan berkata: "Yang mendahuluiku pastilah saudara-saudaraku dari Isparta yang lebih maju daripadaku." Sudahlah, apa pun itu... Ia ingin agar dituliskan keramat tevafuk (keselarasan) yang terdapat pada naskah İşarat-ül İ'caz yang ada pada Hâfız Ali dan Sabri. Cara termudahnya: akan baik bila di sebuah buku catatan kecil, untuk tiap halamannya yang sepadan dengan satu halaman tafsir, kalian mencatat huruf-huruf hijaiyah (elif, tâ, dan seterusnya), lalu mengirimkannya. Kalau kalian tak menemukan cara mudahnya, biarkan saja.
Salam satu per satu untuk seluruh saudaraku, dan khususnya salam serta doa untuk mereka yang sangat sibuk dengan risalah-risalah; dan aku menanti doa mereka.
Saudara kalian, Said Nursî
(Ini adalah sebuah tulisan (fıkra) dari Emin dan Küçük Hüsrev Feyzi)
Tokoh-tokoh seperti Hüsrev dan Rüşdü yang diberkahi — dari saudara-saudara kami yang setia, ikhlas, teguh, dan penuh kesetiaan yang mendahului kami dalam khidmah Al-Qur'an — telah menulis beberapa catatan tentang keberkahan yang dianugerahkan kepada para khadim Risale-i Nur sebagai sebuah tanda diterimanya tugas mereka. Kami pun, seperti catatan saudara-saudara kami ini, akan mencatat beberapa kejadian yang kami lihat, yang tampak bersama-sama belakangan ini. Sebagai contoh, kami sebutkan hanya sebagiannya.
Yang Pertama: Belakangan ini kami keluar ke padang bersama Üstad kami. Beliau menyuruh dibuatkan teh, dan diminum masing-masing dua cangkir teh dengan masing-masing tiga gula. Kami semua minum dua cangkir teh dengan tiga gula. Hanya saudara kami Emin yang minum dengan satu gula kurang bagi dirinya. Menjelang petang, kami datang ke kamar Üstad kami yang merupakan sumber penyebaran Risale-i Nur. Emin hendak mengembalikan gula-gula yang terpakai ke dalam kotak gula, tapi kotak itu tak memuat lebih dari delapan gula. Emin berkata "Fesübhanallah"; kami pun heran bahwa kotak yang mestinya menampung tujuh belas gula justru penuh hanya dengan delapan gula. Nah, kejadian ini memberi kami keyakinan setingkat penyaksian (syuhud) bahwa rahasia ini adalah sebuah inayah Ilahi dan kasih sayang Rabbani bagi Risale-i Nur dan para khadimnya.
Yang Kedua: Lagi-lagi pada hari yang sama, aku — yakni Mehmed Feyzi — ketika Üstadku mencari Risalah Enam Serangan (Hücumat-ı Sitte) yang dulu kutulis dan kuserahkan kepadanya, dari tempat ia menyimpannya untuk diberikan kepadaku — di luar dugaan, ia tak ditemukan. Tiba-tiba pada saat itu, dengan munculnya sebuah peristiwa dengan cara yang menyalahi kebiasaannya dan tak pernah terjadi sebelumnya, beliau meletakkan kacamatanya dan menghadap ke arah tangga. Pada saat yang sama, terlihat seorang mata-mata — dengan niat merugikan penyebaran dan khidmah Risale-i Nur — berjalan ke arah tangga dengan dalih lahir hendak berkunjung. Ia merasa Üstad sedang panik. Üstad mengalihkan pandangan orang itu ke peristiwa jasmani yang lain, lalu berkata kepadanya: "Engkau lihat aku punya uzur, tangguhkan kunjungan ke hari lain." Ia pun berbalik dan pergi. Baik Mehmed Feyzi, Hücumat-ı Sitte, maupun urusan-urusan kami yang lain selamat dari pengintaian itu. Ya, hilangnya Hücumat-ı Sitte secara luar biasa dari tempat tertentu ia disimpan, mencegah sebuah peristiwa penting. Keadaan yang menyalahi kebiasaan yang menimpa Üstad dan tak adanya risalah itu di tempat tertentunya, sama sekali tak bisa disandarkan pada kebetulan. Seminggu kemudian kami menemukan risalah itu di tempat yang tak terduga. Atas perintah Üstadku, aku membacakannya secara penting kepada saudaraku Emin. Üstad memberi kami penjelasan. Sampai saat itu kami belum pernah mengambil pelajaran yang sepenting dan seberpengaruh itu. Berarti, berdasarkan dua rahasia penting ini, risalah itu tak menampakkan dirinya. Nah, peristiwa ini tak menyisakan keraguan bahwa murid-murid Risale-i Nur yang ikhlas dan setia setiap saat berada di bawah penjagaan dan inayah, serta selalu di bawah perlindungan.
Yang Ketiga: Üstad kami punya satu okka (yakni satu kilo) keju. Di kebanyakan hari, karena beliau menyukainya, beliau memakan keju itu satu-dua kali. Beliau juga memberikannya kepada kami. Padahal beliau memakannya pula di kebanyakan waktu saat tak ada makanan lain, namun ia berlangsung sekitar enam bulan dan sampai sekarang masih tersisa sekitar seratus dirhem* dari keju itu — aku, yakni pelayan tetapnya Emin, dan aku, yakni murid dan pelayannya Küçük Hüsrev, menyaksikannya secara yakin dan membenarkannya. Tapi setelah peristiwa keberkahan ini diungkapkan, dasarnya yang tadinya tak terlihat mulai terlihat, menunjukkan kekurangannya. Ya, ia sebuah peristiwa yang mengherankan dalam hal keberkahan. Lagi pula, setengah kilo mentega, padahal di kebanyakan hari banyak terpakai, namun bertahan hampir lima puluh hari — tak diragukan, ia telah masuk ke dalam sebuah keberkahan. Lagi-lagi, persis pada Idul Fitri, padahal Üstad tak meridhainya, Tahsin dan aku — yakni Emin — telah membawa satu kilo gula halus. Padahal sering ditambahkan sekitar dua puluh-tiga puluh dirhem ke yoghurt, susu, manisan labu, dan benda-benda lain, namun — sudah lebih dari dua bulan — gula itu masih tersisa lebih dari seratus dirhem; tentu itu karena keberkahan.
Lagi pula, para murid di kawasan ini, semuanya merasakannya — sebagian atau sepenuhnya — dan mengakui: ketika kami bekerja untuk Risale-i Nur, kami merasakan secara nyata keberkahan dan kemudahan pada rezeki kami, serta kelapangan dan kegembiraan di hati kami. Contohnya, aku — yakni Emin — mengakui sendiri: sebelum masuk ke lingkaran Risale-i Nur, aku bekerja sepanjang tahun. Sejak aku masuk ke lingkaran Risale-i Nur, padahal aku hanya bisa bekerja sekitar tiga-empat bulan setahun, tak ada keraguan sedikit pun bahwa hidupku dalam keadaan yang lebih senang dan lebih bahagia daripada sebelumnya, seratus persen adalah berkat keberkahan khidmah Risale-i Nur.
(Hâsiye: Ya, saudara kami Emin, ketika datang ke negeri kami, dulu bekerja setiap bulan dengan sangat aktif. Sekarang, aku tak melihatnya bekerja lebih dari tiga-empat bulan. Tak ada keraguanku bahwa sebabnya adalah keberkahan khidmah Risale-i Nur; aku membenarkannya dengan segenap kekuatanku. — Küçük Hüsrev Mehmed Feyzi)
Lagi pula, contohnya, Üstad kami berkata: "Keyakinanku yang pasti pun datang lewat banyak pengalaman: ketika aku sibuk dengan pengoreksian (tashihat) Risale-i Nur, secara sangat nyata aku melihat keberkahan sekaligus kemudahan pada rezekiku. Setiap kali aku tak bekerja, aku tak melihat keadaan itu." Lagi pula, Üstad kami berkata — dan kami pun membenarkannya: "Belakangan aku paham bahwa sampai sekarang, baik aku maupun sahabat-sahabatku, telah melihat rupa hakikat ini dalam bentuk yang lain. Begini: di penjara, padahal satu roti saja cukup bagiku delapan, kadang sepuluh hari, di sini pun aku hidup persis dengan cara itu. Baik aku maupun saudara-saudaraku, kami mengaitkan ini dengan sedikitnya makanku dan kurangnya selera makanku. Padahal, dengan banyak tanda, kami paham dengan pasti bahwa keadaan aneh itu ternyata adalah hasil keberkahan. Beberapa kali, sepotong roti yang cukup bagiku delapan hari, dengan selera yang sama — saat aku tak bekerja sehingga tak menjadi mazhar bagi keberkahan — kuhabiskan dalam dua hari, kadang satu setengah hari. Berarti, jatah makanku yang sempurna selama enam belas-tujuh belas tahun ini ternyata berasal dari sebuah keberkahan yang datang dari khidmah Risale-i Nur. Ya, datang pula keyakinan kepada kami setingkat aynelyakin bahwa kejadian-kejadian keberkahan yang banyak ini adalah sebuah sinar dari kemukjizatan maknawi Al-Qur'an yang penjelasannya mukjizat (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan). Secara maknawi ia berkata: 'Wahai para murid Al-Qur'an! Yang paling sering membuat kalian tertinggal dari tugas suci kalian adalah kecemasan penghidupan (maişet). Sedangkan ini, dengan feyiz Al-Qur'an, diberikan kepada kalian dalam bentuk keberkahan. Perhatikanlah tugas kalian.'"
اَللّٰهُمَّ يَسِّرْلَنَا خِدْمَةَ الْقُرْاٰنِ بِنَشْرِ رَسَٓائِلِ النُّورِ بِحُرْمَةِ اِسْمِكَ اْلاَعْظَمِ وَ حَب۪يبِكَ اْلاَكْرَمِ اٰم۪ينَ
Lagi pula, pada waktu yang sama dengan kejadian-kejadian keberkahan itu, sebagai sebuah keramat Risale-i Nur: selamatnya rumah seorang murid yang bernilai ribuan lira — secara di luar dugaan, dengan keberkahan Risale-i Nur — dari sebuah kebakaran dahsyat yang sangat dekat dengannya; dan seorang perempuan yang menunjukkan kepedulian besar dari sisi akhirat kepada penerjemah Risale-i Nur: ketika ia berlari naik untuk menyelamatkan intan, permata, dan emasnya yang ada di lantai tiga rumah yang terbakar dalam kebakaran dahsyat itu, api telah melahap segala penjuru; pada saat ia tak bisa menyelamatkan permatanya dan melihat dirinya sendiri sepenuhnya dalam bahaya yang pasti, penerjemah Risale-i Nur — sementara berdoa dengan sangat untuk selamatnya rumah muridnya dari api itu — teringat akan perempuan malang itu; khawatir jangan-jangan saudari akhiratku itu ada di kebakaran itu, ia pun berdoa untuknya — dengan menjadikan Risale-i Nur sebagai pemberi syafaat. Ia memohon: "Ya Rabbi, kasihanilah ia!" Pada saat yang sama, perempuan itu memecahkan jendela, melemparkan dirinya ke halaman dari ketinggian dua lantai; secara luar biasa, ia tak terluka dan tak ada satu pun anggota tubuhnya yang patah. Lagi pula, dari kebakaran dahsyat dan hebat yang melelehkan tembaga dan besi itu — setelah seluruh bangunan terbakar — seluruh permata dan emasnya, tanpa satu pun yang hilang atau rusak, dijaga oleh sejumlah tepung; ia menemukannya dan mengambilnya. Dengan keberkahan Risale-i Nur, ia menyelamatkan baik jiwa maupun hartanya. Lagi pula, karena terjadi pada waktu kejadian-kejadian yang disebutkan tadi: dua tamparan Risale-i Nur yang penuh keramat, pada saat yang sama, menghantam — pada saat dua orang yang melanggar dan mengganggu, yang penting dari segi tugas, sedang melanggar dan mengganggu — kepala yang satu dan paru-paru yang lain (Hâsiye: Ya, salah satu pelanggar itu meminta perlindungan dan menyerah (dehalet), sehingga selamat dari kematian; yang lain menderita azab setahun, lalu mati.) — itu tak menyisakan keraguan sedikit pun pada kami bahwa itu adalah sebuah tamparan penjagaan dan perlindungan dari inayah Rabbani dalam khidmah Al-Qur'an. Yaitu ucapannya secara maknawi: "Sudah cukup, berhentilah! Kalian pantas menerima tamparan."
(Karena Ahmed Nazif dan putranya Salahaddin — yang berhasil menggali (istihrac) isyarat ayat ketiga puluh satu dan ketiga puluh dua kepada Risale-i Nur — termasuk murid penting Risale-i Nur, maka tulisan Salahaddin berikut ini layak dimasukkan ke dalam tulisan-tulisan Surat Kedua Puluh Tujuh.)
Karena pada tahun 1358 sebuah percikan api yang keluar dari Danzig dengan cepat menyebar ke dalam Eropa dan menjadi sebuah kebakaran besar, dan karena semua bangsa berada dalam keadaan perang, Turki pun melakukan mobilisasi sebagian. Pada tahun 1359, ia memanggil ke wajib militer kelahiran 27, 28, 29. Di antaranya, murid-murid kecil dari murid-murid Risale-i Nur seperti Mehmed Feyzi dan aku pun, berdasarkan suatu hikmah, diambil menjadi tentara.
(Hâsiye: Karena Feyzi dan Salahaddin menjadi tentara, Üstad dengan tersenyum tipis berkata: "Mereka tak bisa mengambil kalian. Kalian punya tugas, kalian sedang dipanggil. Sebab, walau tidak dengan lisan, sikap dan perilaku kalian akan menjalankan tugas itu." Sungguh, ketika Salahaddin menjadi tentara: pada Ramadan yang diberkahi, di Tavşan Tepesi İzmit, meski cuaca tak mengizinkan, ia tetap mengimami salat tarawih berjamaah; dan karena keberangkatan Resimen ke Hadımköyü bertepatan dengan hari ke-27, 28, 29 Ramadan, ia menjalankan puasa dan salatnya di kapal, dan malam Lailatul Qadar di Hadımköyü di rampa stasiun — dengan berwudu memakai air yang ia temukan dengan susah payah di cuaca dingin berhujan, lalu salat di atas tutup peti, serta melewati malam itu di dalam gerbong barang dalam keadaan yang pahit dengan penuh syukur. Semua itu menggugah rasa keagamaan pada para prajurit lain, dan menjadi setara dengan sebuah pelajaran. Dan di Balaban Köyü, sebelum salat hari raya, di masjid desa ia membacakan persis Kalimat Keempat (Dördüncü Söz) tentang salat kepada orang-orang militer dan sipil, lalu berceramah dengan Risale-i Nur; saudaraku Feyzi pun, di kesatuannya, dengan cara yang lebih berpengaruh, mengajar dengan lisan keadaan dan ucapan (lisan-ı hal ve kal) yang maknawi — semua ini secara nyata membenarkan ucapan Üstadnya. Tanggal 27, 28, 29 adalah hari-hari yang diberkahi yang paling penuh kesukaran. Di Turki, pada 1359, undian wajib militer (kur'a) 27, 28, 29 dipanggil menjadi tentara. Tevafuk ini pun menambah sebuah keindahan pada keramat. — Salahaddin)
Karena demi penyebaran Risale-i Nur kami perlu berada di lingkungan lain hanya sekitar enam-tujuh bulan, dan karena secara maknawi terpahami bahwa Üstad kami membuka hati, pikiran, dan telapak tangannya kepada rahmat Cenab-ı Hak, maka sebagai hasil dari dikabulkannya doa ini — sebuah keramat penting Risale-i Nur — kami dikirim ke lingkungan lain di dalam tugas wajib militer, demi berkhidmah kepada Risale-i Nur. Enam-tujuh bulan kemudian, setelah Feyzi dan Salahaddin menunaikan tugas penyebaran, keramat itu terpahami dengan diberhentikannya (terhis) undian-undian tersebut — di sebuah saat yang paling berbahaya, ketika pasukan Jerman menduduki Romania, menekan Bulgaria, dan Italia berperang dengan Yunani.
(Hâsiye-1: Ya, Üstadku menyuruhku menulis Mu'cizat-ı Ahmediye dengan gaya saudaraku Hüsrev. Aku — yakni Feyzi — sedikit bermalas-malasan. Tiba-tiba aku dipanggil menjadi tentara bersama angkatan '28. Lagi-lagi Üstadku berkata: "Tulislah Mu'cizat-ı Ahmediye, aku tak akan menyerahkanmu sekarang." Aku mulai menulis. Perintah panggilan itu tertunda seminggu. Lagi-lagi karena sebuah gangguan, tulisan jadi kurang. Aku kembali dipanggil menjadi tentara. Lagi-lagi Üstadku berkata: "Pergi, tulislah!" Aku mulai bekerja sungguh-sungguh. Di luar dugaan, untuk kedua kalinya perintah itu tertunda. Seminggu kemudian, lagi-lagi karena sebuah uzur, aku meninggalkan tulisan. Üstadku berkata: "Tugasmu sekarang, dari sisi Risale-i Nur, ada di kemiliteran." Tiba-tiba sebuah perintah datang, aku menerima sebuah tamparan kasih sayang lalu dikirim ke tugasku. Syukur kepada Cenab-ı Hak, aku bekerja dan digerakkan untuk Risale-i Nur. Seperti yang dikatakan Üstad kami kepada kami, enam-tujuh bulan kemudian aku diberhentikan dan kembali bertemu Üstadku. Insya Allah kesalahanku ini pun telah diampuni. Dengan menjadikan Risale-i Nur serta saudara-saudaraku seperti Hüsrev, Rüşdü, dan Sabri yang mendahului kami dalam khidmah Al-Qur'an sebagai pemberi syafaat, aku memohon ampun atas kekuranganku ini dari Üstadku. Aku mengakui: sebagai akibat kemalasanku, aku menerima sebuah tamparan kasih sayang. — Feyzi)
Lagi pula: karena Salahaddin diberangkatkan dari pasukan sebulan setelah teman-teman seangkatannya, hal itu — karena ia tak berada bersama teman-teman seangkatannya di İnebolu — mengganjal mata sebagian orang dari masyarakat negeri, sehingga mereka membuat beberapa laporan; maka pihak cabang wajib militer, lewat kepala dan polisi, memanggil ayahnya ke kantor cabang dan menanyakan di mana putranya. Dengan menunjukkan telegram yang datang sehari sebelum dari putranya — yang menunjukkan bahwa ia ditugaskan ke Resimen Angkatan Laut İzmit, dan bahwa putranya tidak sengaja tak berangkat melainkan pergi berdagang sebulan — ayahnya, Ahmed Nazif, dibebaskan. Lagi pula: di antara mereka yang didaftarkan untuk pekerjaan tiang tambang sehingga wajib militernya ditangguhkan, seorang kawanku yang juru tulis, yang setiap hari bertemu denganku, melupakanku dan tak mendaftarkanku; lalu mereka yang ditangguhkan itu pun diambil menjadi tentara sekaligus dipandang dengan pandangan buruk, sedangkan Salahaddin selamat dari pandangan itu. Lagi pula: bahwa Salahaddin — karena bergabung terlambat lima belas hari ke resimen tempat ia ditugaskan — diterima sebagai juru tulis resimen tanpa diberi hukuman dan tanpa membutuhkan rekomendasi apa pun; dan bahwa, padahal pada masa pemberhentian, prajurit yang terlambat lapor (bakaya) walau tiga hari saja diajukan ke pengadilan, ia sendiri — padahal terlambat sebulan — diberhentikan tanpa hukuman, dan komandan resimen beserta ajudannya berpisah dengannya dengan mata berkaca-kaca karena sedih — datanglah keyakinan pasti bagi kami bahwa itu adalah sebuah keramat milik Risale-i Nur.
Lagi pula, suatu waktu ketika datang dari Tosya ke Kastamonu, aku membawa Lem'a (Kilatan) dan Şualar (Sinar-sinar) Risale-i Nur. Aku sedang membaca sebuah pembahasan tentang kebangkitan. Truk sedang mendaki tanjakan-tanjakan. Panasnya udara dan mesin membawakanku rasa berat, dan ke pikiranku pula — selama pertimbangan: "Risale-i Nur ini adalah sebuah mukjizat Al-Qur'an yang dahsyat. Bisakah ia menunjukkan mukjizat di bidang lain? Padahal mukjizat itu khusus bagi para Nabi 'alaihimussalam. Setelah Resul-i Ekrem صلى الله عليه وسلم takkan ditunjukkan mukjizat" — truk dengan benturan-benturan yang dahsyat berjungkir balik tiga kali, dan kami terguling ke bawah dari ketinggian dua puluh lima-tiga puluh meter. Aku mengucapkan syahadat. Aku memeriksa diriku, apakah aku terluka. Seratus ribu syukur, tak ada lukaku sedikit pun. Dengan takut aku bangkit; kepala dan mata sopir hancur, ia mengerang "ah, oh". Aku memeriksa sekitarku; pintu dan kaca di sisi sopir hancur berkeping. Bahkan kaca tipis di sisiku pun tak pecah. Pada saat itu aku paham bahwa ini adalah sebuah keramat besar, bukan mukjizat, dan sebuah tamparan gaib yang penuh keramat agar aku tak lagi memikirkan hal-hal yang penuh petualangan seperti ini.
Dari para murid Risale-i Nur, Salahaddin Çelebi