بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Lampiran Kastamonu · hlm. 59
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَائِمًا
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Kebanyakan hikmah dari pengulangan dalam Al-Qur'an — yang ada di akhir Kalimat Kesembilan Belas (Ondokuzuncu Söz) — berlaku pula di Risale-i Nur. Khususnya hikmah keduanya benar-benar ada. Hikmah itu adalah:
Setiap orang setiap saat membutuhkan Al-Qur'an. Tapi tak setiap orang, di setiap saat, mampu membaca seluruh Al-Qur'an. Namun untuk satu surah, umumnya ia mampu. Karena itu, maksud-maksud Qur'ani yang terpenting disisipkan di kebanyakan surah panjang; sehingga tiap-tiap surah menjadi setara dengan sebuah Al-Qur'an kecil. Berarti, demi tak menghalangi siapa pun, sebagian maksud — seperti kebangkitan, tauhid, dan kisah Musa 'alaihissalam — diulang. Persis demi hikmah penting inilah, beberapa kali — tanpa kuketahui, tanpa kehendak dan keridhaanku — sebagian hakikat iman yang halus dan hujah-hujah yang kuat diulang di beberapa risalah. Aku sangat heran. Mengapa hal-hal ini dibuat terlupa olehku, lalu dituliskan kembali? Lalu aku tahu dengan pasti: setiap orang di zaman ini membutuhkan Risale-i Nur. Tapi ia tak bisa memperoleh seluruhnya. Kalaupun memperolehnya, ia tak bisa membacanya sampai tuntas. Namun ia bisa memperoleh sebuah risalah yang komprehensif (risale-i câmia) yang menjadi setara dengan sebuah Risale-i Nur kecil. Dan di kebanyakan waktu ia bisa membaca masalah-masalah yang ia butuhkan di dalamnya; dan seperti makanan yang kebutuhannya berulang setiap saat, ia pun mengulang penelaahannya.
Sebuah Poin Kedua: Akan baik bila, di akhir risalah kecil berbahasa Arab bernama "Vird-ül Ekber" yang keluar dari Âyet-ül Kübra, ditambahkan bagian-bagian berbahasa Arab sebagai tafsir ayat di awal Risalah Munajat (Risale-i Münacat), lalu dibaca bersama-sama. Kami pun telah menuliskannya di naskah kami.