Risale-i NurLampiran Kastamonu

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Lampiran Kastamonu · hlm. 50

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَائِمًا

Tuanku Hazret Üstad Teragung (Üstad-ı A'zam) yang sangat mulia, sangat berharga, penuh kasih, dan penuh pengorbanan!

Suratmu yang lebih berharga daripada permata sepenuh perbendaharaan — bahkan yang tak bisa diukur dengan perhiasan kehidupan dunia yang fana ini — kuterima dari pos pada malam hari kedua puluh tiga Ramadan Mulia, sepuluh menit sebelum berbuka. Semoga Cenab-ı Hak menerimanya; aku menjadikan dua iftar sebagai satu. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى

Karena baris-baris panjang yang dulu kutulis itu sia-sia dan kosong sehingga terlalu menyibukkan Anda, dan karena aku memberanikan diri menerima dan mempersembahkan hadiah-hadiah tak bernilai — baik dari kami maupun dari saudara kami yang diberkahi, Zekeriya — tanpa izin; maka sementara aku menanti dengan rasa takut akan terkena teguran, ketidakmenerimaan, dan ketidaksenangan Üstadku yang mulia yang lahir dari hal itu, tukang pos (müvezzi) menyerahkan dua surat. Karena sudah waktu berbuka, setelah kubuka amplopnya sambil berdiri, ketika tulisan tangan Anda yang mulia (hatt-ı fâzılane) — yang sangat manis dan memikat, yang tak bisa kunilai harganya — menyentuh mataku sambil tersenyum seakan menyapa "jangan takut", aku tak bisa membacanya karena kegembiraan. Aku segera berlari ke rumahku, lalu mulai membacanya bersama buka puasa.

Üstadku yang tercinta dan penuh kasih! Kabar gembira (tebşirat) Hazret Muhyiddin-i Arabî terlintas di benakku. Aku beriman bahwa kasih sayang kebapakan (şefkat-i pederane) yang kulihat pada diri Anda yang mulia memiliki kasih sayang kebapakan yang dikabarkan oleh tokoh besar itu. Semoga Hadrat Kādir-i Mutlak (Yang Maha Kuasa secara mutlak) ridha berlipat-lipat kepada Anda Üstad kami, dan menjadikan kami pun kekal dan teguh dalam khidmah Anda dan dalam khidmah Al-Qur'an, serta menjadikan kami mazhar bagi isyarat-isyarat Üstad kami yang berharga dan suci serta doa-doanya yang berharga.. âmîn bihürmeti Seyyidil Mürselîn (demi kehormatan Penghulu para rasul).

Üstadku yang penuh kasih! Aku tak bisa menggambarkan sampai derajat mana — diterimanya dengan baik di sisi mulia keüstadan Anda jerih payah yang hanyalah sejenis satu zarah tunggal dalam khidmah Al-Qur'an dan publikasi Risale-i Nur — mengubah hamba Anda yang lemah, tak berdaya, dan fakir ini, murid Anda yang tak berkemampuan, kurang pemahaman, sempit cakupan, dan terganggu kesadarannya, menjadi sukacita dan kegembiraan. Aku tak tahu dengan cara apa aku harus memuji dan bersyukur kepada Hadrat Cenab-ı Hak dan Feyyaz-ı Mutlak (Sang Maha Pelimpah secara mutlak) — yang menjadikan kami mazhar bagi penghargaan maknawi dan suci semacam ini, yang menganugerahkan Anda Üstad kami kepada para pendosa seperti kami sebagai balasan atas kerinduan tiga puluh tahun dan munajat serta permohonan sepuluh tahun, yang tanpa memandang kedurhakaan hamba-hamba-Nya mengetahui dan mendengar segala yang mereka inginkan dan memberi sepenuh-penuhnya (bâligan mâ belag), yang menggenggam segala makhluk dalam tangan kekuasaan-Nya, dan yang menjadi pemilik, penguasa, serta penentu segala sesuatu.

Üstadku yang berharga! Sudilah Anda menjadi perantara, agar — dengan khidmah kami yang tak bernilai — puji dan syukur kami yang barangkali hanya sebesar setetes di dalam kehidupan dunia yang sangat sedikit dan singkat ini, insya Allah dijadikan-Nya mazhar bagi rahasia "Tekabbelallah" (semoga Allah menerimanya).

Walau aku selalu mengingat Surat Kedua dari Risalah Mektubat dan berusaha menaati perintah-perintah Anda ini, sebuah pendorong gaib (mücbir-i gaybî) menggerakkan hamba Anda — yakni mendorongku untuk menyalahi Surat Kedua itu, bertentangan dengan kenyataan bahwa sepanjang hidup Anda tak pernah menerima hadiah tanpa balasan. Niatku ikhlas, kesetiaan dan keterikatanku sungguh-sungguh dan sangat kokoh. Seorang tokoh suci — yang bersih dari segala riya, yang tak tertuju dan tak bersandar pada keuntungan materi apa pun, yang di jalan ridha Allah, atas nama Al-Qur'an dan demi tujuan berkhidmah kepada Risale-i Nur, dan khususnya bagi hidayah, irsyad, dan penyampaian (îsal) ke jalan yang benar bagi orang-orang tak berdaya, durhaka, dan berdosa seperti kami, serta yang mengajak ahli kesesatan dan ahli bidah ke jalan yang hak dan menjadi khadim bagi hakikat-hakikat iman — telah dianugerahkan kepada kami dan negeri kami sebagai titipan Allah (vedîatullah).

Seperti tamu kami yang berharga itu berlari menolong kami para pendosa secara maknawi dan siang-malam berupaya demi ampunan Ilahi dan irsyad kami, begitu pula kami merasa dibebani tugas untuk berlari dan berupaya — dengan senang hati, penuh kerinduan, dan semata karena Allah — menolong tamu kami yang mulia ini secara materi. Lagi pula, Al-Qur'an dan Nabi kita صلى الله عليه وسلم memerintahkan kami: تَعَاوَنُوا — menolong para gureba (orang-orang asing/yang membutuhkan).

Aku mohon maaf, Üstadku yang berharga dan tercinta! Aku tahu engkau tak menerima hadiah. Tapi atas desakan kawan-kawan kami, aku terpaksa menuliskan tentang bantuan seperti zakat dan sedekah. Lagi pula, aku berpikir itu diperlukan untuk kebutuhan materi Anda, untuk kebutuhan mendesak seperti sewa tempat tinggal, kayu bakar, dan batu bara. Pada dasarnya, agar kaidah keüstadan Anda tak rusak, nasihat dan bimbinganku kepada kawan-kawanku selalu adalah agar tak ada keuntungan materi apa pun yang dipikirkan. Sebab agama tak bisa menjadi alat bagi dunia. Dan agama sama sekali tak bisa menerima alat pencari keuntungan (vasıta-i cer) dan keuntungan materi. Bahkan dalam publikasi Risale-i Nur, demi tak mengambil utang budi siapa pun, aku meniru Üstadku yang berharga.

Üstadku yang berharga dan penuh kasih! Hanya saja, ada satu hal: hamba Anda, kami ingin memberi bantuan materi bukan atas nama Üstad, melainkan atas nama tamu kami yang berharga dan asing, semata karena Allah (rızaen lillah). Dan agar Anda tak mengalami kerugian maknawi, kami berdoa — sambil memohon dan merendahkan diri (tazarru') kepada Cenab-ı Allah Pemilik kekuatan, kekuasaan, dan keagungan — agar Dia menjadikannya mazhar bagi penerimaan yang baik di haribaan Ilahi-Nya.

Üstadku yang berharga! Sebagai pengganti kunjungan dan penyampaian penghormatan di hari raya, bersama semua kawan kami — dalam kedudukan seluruh murid dan şakird Risalet-ün Nur serta para pelayan Al-Qur'an yang berharga — kami mengucapkan selamat kepada Üstad kami yang berharga atas Ramadan Mulia, Lailatul Qadar, dan Idul Fitri yang diberkahi; kami memohon dan merendahkan diri kepada Cenab-ı Hak agar kami dimuliakan untuk bertemu Ramadan Mulia berkali-kali serupa, bersama lebih banyak lagi saudara dan kawan kami, dengan Anda Üstad kami di kepala kami; dan kami memohon doa kebaikan serta irsyad suci Anda sambil mencium kedua tangan Anda yang diberkahi, wahai Üstad kami yang berharga.

Yang membutuhkan doa-doa suci Anda yang abadi, hamba dan murid Anda yang penuh dosa, Ahmed Nazif

(Ini adalah tulisan (fıkra) dari para murid Risale-i Nur: Hilmi, Çaycı Emin, dan Tahsin. Dipandang tepat untuk dimasukkan ke dalam tulisan-tulisan Surat Kedua Puluh Tujuh.)

Beberapa hari ini, karena risalah-risalah diawasi dengan kepekaan yang berlebih oleh para mata-mata, perlindungan inayah pun menunjukkan karunianya dengan semacam kepekaan. Sebuah contoh kecilnya adalah ini:

Bagi para murid Risale-i Nur, dari sisi penghidupan (maişet), ada sebuah karunia Ilahi dan sebuah keselarasan (tevafuk) yang kecil namun mengherankan dan sangat halus — sebuah kejadian dan sebuah keramat khidmah Risalet-ün Nur yang tak diragukan. Ya, tevafuk yang merupakan salah satu sumber dari sebuah rangkaian keramat Risale-i Nur — pada kejadian ini, berkumpulnya enam buah keselarasan dari jenis itu — kami putuskan, memotong kemungkinan kebetulan sampai ke akarnya. Begini:

Karena beberapa hari kami tak mengunjungi Üstad kami, aku bersama saudaraku Emin pergi mengunjungi Üstad kami. Setelah salat Asar bersama, beliau menyuruh kami: "Aku akan memberi kalian makan, di sini ada jatah (tayin) kalian." Berulang kali beliau berkata, "Kalau kalian tak makan, aku rugi sembilan kali." "Sebab, sebagai imbalan atas apa yang kalian makan, Cenab-ı Hak akan mengirim." Walau kami minta dimaafkan dari makan, beliau menyuruh: "Makanlah rezeki kalian, ia datang kepadaku." Demi tak melanggar perintahnya, kami mulai memakan mentega dan manisan labu yang beliau berikan dengan roti. Ketika kami masih di meja makan, di waktu yang tak terduga, dengan satu cara, dan pada saat yang sama, seorang lelaki datang. Ia membuka pintu dengan, di tangannya, roti segar sebanyak yang kami makan, mentega sebanyak yang kami makan (sebesar buah hazelnut), dan di tangan lainnya manisan labu persis sebanyak yang diberikan kepada kami. Maka dengan keheranan, tanpa tersisa peluang sedikit pun bagi kebetulan, kami melihat dengan mata kepala sendiri sebuah keberkahan Rabbani pada rezeki para murid Risale-i Nur. Üstad kami berkata: "Ihsan mestinya sepuluh kali lipat. Padahal karunia ini persis satu kali lipat. Berarti, sisi jatah (tayin) yang menang. Sedangkan penyediaan jatah itu berlangsung dengan timbangan (mizan)." Lalu, di malam yang sama, sisi sedekah pun menunjukkan hukumnya. Kami melihat bahwa roti sepuluh kali lipat, helva mentega pun sepuluh kali lipat, dan karena beliau tak begitu menyukai manisan labu, maka labu itu — acar terong — datang sepuluh kali lipat; di luar dugaan, sebagai sebuah upah maknawi atas penelaahan Sinar Kedua (İkinci Şua) dari Risale-i Nur selama seminggu — kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Berarti, manisnya manisan labu masuk ke helva mentega-tepung, sedangkan labunya sendiri tinggal di acar.

Seperti para murid Risale-i Nur melihat ganjaran yang segera atas khidmah mereka yang baik, begitu pula kami melihat dengan mata kepala sendiri — di sini, seperti di Isparta — bahwa orang-orang yang lalai dalam khidmah pun menerima tamparan (tokat). Dari sekian banyak kejadian, kami sebutkan hanya lima-enam saja:

Yang Pertama: Aku — yakni Tahsin — suatu hari, karena kesibukan sebuah toko yang baru kami buka, karena malas tak menunaikan tugas Nuriah (vazife-i Nuriye) yang diperintahkan kepadaku. Pada saat itu juga aku menerima sebuah tamparan yang penuh kasih. Saat aku duduk di toko, seseorang datang kepadaku dan menyerahkan 100 lira sebagai titipan untuk ditukar. Demi melakukan sebuah khidmah karena Allah bagi pemilik uang ini, aku pergi ke kas keuangan untuk menukarnya. Saat menghitung uang-uang ini, di antaranya ditemukan satu lira palsu (kalp lira). Karena itu, selain aku terkena pemeriksaan keterangan, tanya-jawab, dan celaan, rumah kami pun harus digeledah. Mereka membawaku ke pengadilan. Tapi karena ini berupa tamparan pendidikan dan kasih sayang, lagi-lagi Risale-i Nur menunjukkan keramatnya, dan kami selamat tanpa kerugian.

Yang Kedua: Seorang yang selama empat-lima tahun kadang berkhidmah kepada Üstad kami dan Risale-i Nur, membacakannya, dan sungguh-sungguh menjadi pendukung, tiba-tiba suatu hari datang dengan sebuah koran bertema agama di tangannya. Ketika ia menunjukkan sikap memihak kepada para pemilik sebuah arus yang berseberangan dengan jalan Risale-i Nur, hati Üstad sangat tertekan. Satu-dua hari kemudian ia menerima sebuah tamparan yang keras namun penuh kasih. Seorang dokter berkata kepadanya: "Kalau engkau tak menjalani operasi, seratus persen kematian." Ia pun terpaksa menjalani operasi. Tapi sisi kasih sayang datang menolong, dan ia cepat selamat.

Yang Ketiga: Seorang pegawai membaca Risale-i Nur dengan penuh kerinduan. Ia sangat berupaya untuk bertemu Üstad dan mengambil pelajaran secara penuh. Tiba-tiba seorang komisaris menanamkan kecurigaan (evham) padanya. Ia pun meninggalkan pertemuan dan bacaan, lalu ketika pergi ke kota lain, tiba-tiba salah satu kakinya patah tanpa sebab, dan ia menderita sebulan. Lagi-lagi kasih sayang menyertainya, sehingga kini ia kembali membaca dengan semangat.

Yang Keempat: Seorang tokoh penting membaca dan menulis Risale-i Nur dengan penghargaan yang sempurna. Tiba-tiba ia menunjukkan ketidakteguhan, lalu menerima sebuah tamparan tanpa kasih. Istrinya yang sangat ia cintai wafat. Dengan perginya dua putranya ke tempat lain pula, ia jatuh ke dalam keadaan yang memilukan.

Yang Kelima: Seorang yang selama empat tahun berkhidmah dalam urusan pasar Üstad, tiba-tiba meninggalkan kesetiaan dan mengubah jalannya. Tiba-tiba ia menerima sebuah tamparan tanpa kasih. Sudah setahun ia masih menderitanya.

Yang Keenam: Ini sebuah peristiwa yang menyangkut seorang hoja (guru agama). Barangkali ia tak merelakannya. Kami pun tak melihatnya. Tamparannya untuk saat ini ditangguhkan.

Kejadian dari jenis ini banyak, dan tak tersisa keraguan kami bahwa itu benar-benar sebuah tamparan akibat kelalaian terhadap Risale-i Nur.

Para murid Risale-i Nur yang membenarkan: Hilmi, Emin, Tahsin Ya, aku pun membenarkannya. Said

Kami juga melihat dengan mata kepala sendiri — saat menulis surat ini dan pada menit keramat dalam jamuan makan itu — sebuah keramat kemudahan penyebaran (sühulet-i intişar) Risale-i Nur. Begini:

Kami telah mengirim tujuh-delapan risalah penting dan Sinar İşarat-ı Kur'aniye bersama sepucuk surat penting di dalam sebuah kantong kepada salah satu saudara kami yang penting di sebuah kota. Sopir menjatuhkan paket itu. Sampainya karya-karya semacam itu kembali ke tangan kami lima hari kemudian lewat sebuah tangan yang terpercaya, tanpa diketahui kaum munafik dan mata-mata, di zaman seperti ini — datanglah keyakinan pasti kami bahwa sebuah inayah melindungi kami.

Sebuah perlindungan halus dari inayah Rabbani tentang Risale-i Nur pula adalah ini: dalam sebuah keadaan yang gelap, di sebuah waktu yang menakutkan, pada menit ketika kecurigaan dan pengintaian para mata-mata dan petugas penggeledah mengepung tempat tinggal Üstad kami, seekor tikus mengambil kaus kaki Üstad kami. Sekeras apa pun kami mencari, kami tak menemukannya di mana pun. Kami melihat sarang tikus itu. Mustahil kaus kaki itu masuk ke sana. Dua hari kemudian kami melihat bahwa hewan itu membawa kaus kaki itu ke sebuah tempat — lalu meninggalkannya tepat di samping surat-surat rahasia dan dokumen-dokumen yang telah disembunyikan dan isinya telah terlupakan. Padahal kami sudah dua kali melihat ke sana, dan tak bisa menemukannya. Lagi pula, membawa kaus kaki itu ke tempat itu hanya bisa dengan memanjat pipa tungku lalu dari atas. Hanya seorang yang sangat licik dan cerdas yang bisa melakukan pekerjaan itu. Karena tak tersisa kemungkinan kebetulan dari sisi mana pun, Üstad kami berkata: "Kita akan memindahkan surat-surat ini dari sana." Kami melihatnya; memang surat-surat itu tak ada kaitannya dengan politik. Tapi bagi mata-mata yang penuh waham, ia bisa menjadi sarana penting untuk membesar-besarkan perkara sepele (membuat biji jadi kubah) untuk menyerang kami. Kami memindahkan baik surat-surat itu maupun benda-benda lain yang bisa menjadi dalih. Dari kehebohan kami, para mata-mata mengetahuinya dan paham bahwa kami telah bersiap. Bahkan sebelum mereka menyerang, hanya pada hari kedua, Emin masuk ke tempat tinggal dengan sebuah kantong di tangannya. Persis di belakangnya, komisaris pos polisi masuk secara diam-diam tanpa membuat curiga. Ketika ia melihat di tangan Emin ada kantong yoghurt sebagai ganti kitab, ia mengubah sikapnya. Sudahlah, apa pun itu. Singkatnya: melawan semua musuh dan mata-mata yang menghalangi penyebaran Risale-i Nur, muncullah seekor tikus saja, lalu ia memporak-porandakan rencana mereka.

Ya, Hilmi. Ya, Tahsin. Ya, Emin. Ya, Tevfik. Ya, Said. (Mehmed Feyzi saat itu sedang wajib militer, tak ada. Kalau tidak, tanda tangan pertama adalah haknya.)

(Ini adalah sebuah penggalan dari surat Ahmed Nazif)

Menarik diri dari menunaikan khidmah-khidmah yang merupakan utang kami, baik materi maupun maknawi — ketidakpedulian dan ketakacuhan (bîganelik) semacam itu tak ada dalam fitrah dan penciptaan kami, sehingga kami tak mungkin berdiam diri. Selama Cenab-ı Hâlık-ı Rahîm (Sang Pencipta Yang Maha Penyayang) telah menciptakan kami sebagai manusia: padahal kami tak mampu menunaikan seperseribu pun dari tugas-tugas yang diperintahkan oleh kemanusiaan, bagaimana mungkin kami sama sekali tetap acuh? Sembari memohon agar Anda memaklumi hal ini: padahal Üstad kami yang sangat berharga — tamu kami yang penuh tekad, penanggung derita, penuh pengorbanan, tak terhingga tabah, asing, suci, dan mulia — telah memenuhi hati kami para pendurhaka dan pendosa dengan cahaya-cahaya, kami menghibur diri dengan anggapan bahwa kami hanya bisa membayar utang kami sebagai balasannya dengan materi yang tak bernilai dan tak berharga, karena kami tak bisa menjangkau ranah maknawi. Maafkanlah, Üstadku! Muslim mana yang, setelah mendengar seruan-seruan Penyeru Al-Qur'an (Dellâl-ı Kur'an), lalu menyumbat telinganya? Hâşâ sümme hâşâ (sekali-kali tidak, sungguh sekali-kali tidak)! Sinar cahaya-cahaya Anda menyilaukan mata kami. Ia mengikat dan telah mengikat hati kami, dengan segenap kemurniannya, kepada Allah, kepada Al-Qur'an, kepada Rasul yang Terpilih (Resul-i Mücteba) صلى الله عليه وسلم, dan kepada para pewaris mulia Penghulu Dua Alam (İki Cihan Serveri). Ikatan ini adalah ikatan yang — dengan inayah Allah — bukan saja seluruh kekuatan kaum materialis mana pun, mulhid mana pun, dan golongan sesat (firak-ı dâlle) mana pun, bahkan seandainya seluruh kekuatan orang-orang kafir sedunia berkumpul jadi satu, tak akan bisa memutuskan ikatan hati yang suci (rabıta-i kalbiye) ini. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى

Aku tak bisa rela bila Anda, diri Anda yang mulia, menanggung repotnya menulis surat — tanpa Anda sendiri memandangnya perlu dan tanpa kebutuhan. Dalam hal ini, jangankan tersinggung, aku justru memandang sebuah kesibukan yang menghalangi penunaian tugas-tugas suci Üstadku yang berharga sebagai sebuah kesalahan besar dan ketidaksopanan.

Ahmed Nazif Çelebi