بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Lampiran Kastamonu · hlm. 38
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ بِعَدَدِ حَاصِلِ ضَرْبِ عَاشِرَاتِ دَقَٓائِقِ رَمَضَانَ ف۪ى حُرُوفِ مَا كَتَبْتُمْ مِنَ الرَّسَٓائِلِ
Saudara-saudaraku yang mulia dan setia! Dengan segenap ruhku, aku mengucapkan selamat dan merayakan bersama kalian: Ramadan kalian yang diberkahi, Lailatul Qadar (Leyle-i Kadir) kalian yang — insya Allah — bagi kalian berbuah sebanyak seribu bulan, hari raya kalian yang membahagiakan, serta khidmah kalian yang sangat berharga.
Saudara-saudaraku! Kali ini hadiah-hadiah kalian dengan pena yang suci membuatku begitu berterima kasih dan gembira, sampai-sampai aku bersukacita seakan sebuah pabrik Nur yang akan menyinari dunia dan sebuah pabrik Mawar (Gül) yang akan mengharumkan masa lalu dan masa depan dengan harum wanginya (rayiha) telah dikirim dari langit ke pertolongan kami; ia berdiri di belakangku sebagai kekuatan penopang (kuvvet-üz zahr) dan terus-menerus bekerja. Ratusan ribu Elhamdülillah.
Saudaraku Sabri! Dua suratmu yang berjeda menunjukkan dua saksi gaib akan diterimanya khidmahmu. Dengan istilahmu sendiri, untuk pabrik Nur aku pun berkata: "Elfü elfi mâşâallah, bârekâllah, veffakakellah." Karena engkau dan Sıddık Süleyman selalu bersama dalam pandangan, pikiran, dan doaku, ketika aku berbicara denganmu, kulihat kalian berdua bahu-membahu bersama. Anak-anak kalian yang suci dan diberkahi turut mendapat bagian dari doa.
Saudaraku Hâfız Ali! Ketawadhuan dan keikhlasan dalam suratmu, pujianmu kepada Hüsrev, dan keyakinanmu bahwa para murid Risale-i Nur laksana satu tubuh, benar-benar menguatkan harapan besarku dan husnuzanku terhadap dirimu. Dua Lütfü, para Mustafa, dan para Hâfız Ali dari Risale-i Nur, bersama Nureddin yang merupakan Küçük Sabri (Sabri Kecil), insya Allah telah diterima sebagai penyerta — dalam lingkaran murid-murid khusus — pada feyiz Ramadan dan keuntungan-keuntungan maknawi. Karena naskah-naskah yang tiap halamannya setara dengan sebuah hadiah berharga, aku berutang banyak — bahkan sangat banyak — kepadamu.
Saudaraku Hüsrev! Aku bersumpah, seandainya aku mampu, hanya sebagai balasan atas Mu'cizat-ı Ahmediye yang kali ini kautulis dengan sepuhan emas, untuk tiap-tiap halamannya — hanya sebagai upah materi — aku akan menghadiahkan sekeping emas. Sungguh, keyakinanku bahwa kalian ditunjuk sebagai juru tulis sebuah pabrik Mawar yang kekal telah menjadi pasti. Puji dan sanjungan tak terhingga bagi Rabb-ı Rahîm (Rabb Yang Maha Penyayang). Dalam bayanganku, Hüsrev dan Rüşdü telah menjadi seakan satu nama. Aku mengetahui dan mendapati kalian berdua bersama dalam segala hal yang berkaitan dengan Risale-i Nur. Kukirim kepada kalian sebuah pelengkap (tetimme) yang berkaitan dengan ayat اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا — yang tiba-tiba terlintas dan ditulis berkat pengaruh maknawi dua surat Sabri, bahkan sebelum kedua surat itu tiba. Ia agak rahasia, khusus untuk orang-orang khusus dan terpercaya. Akan baik bila Şamlı Tevfik menuliskan untukku Sinar Âyet-ül Kübra (Âyet-ül Kübra Şua'ı) dengan gaya yang ber-tevafuk dengan tiga puluh tiga "Lâ ilahe illallah" milik Hâfız Ali. Salam satu per satu untuk saudara-saudaraku.
Yang membutuhkan doa kalian, Said Nursî
Saudara-saudaraku yang mulia! Di hadapan penghancuran maknawi (tahribat-ı maneviye) yang terus berlanjut — lillahilhamd — perlawanan yang mukjizat, keperkasaan (satvet), dan nilai Risale-i Nur kian bertambah. Dengan mencerai-beraikan tagut tabiat (berhala "alam") yang menjadi batu fondasi dan titik sandaran kesesatan, ia — sebagai sebilah pedang intan di tangan Al-Qur'an — menaburkan cahaya ke segala arah dan mencerai-beraikan kegelapan-kegelapan. Tapi jenis-jenis kesesatan itu banyak. Seukuran itu pula, risalah-risalah punya keistimewaan dan kepentingannya masing-masing. Kalau mudah, kirimkanlah pula kepada kami Kilatan Tabiat (Tabiat Lem'ası).
Jawaban yang diterima Emin dan Feyzi dari Üstad atas sebuah pertanyaan yang mereka ajukan
Pertanyaan: Dalam jawaban yang Anda berikan kepada kami, Anda berkata: "Orang yang dengan rasa ingin tahu mengikuti lingkaran-lingkaran politik yang luas, akan merugi dalam tugas-tugasnya di lingkaran-lingkaran kecil." Kami minta penjelasannya.
Jawaban — Üstad kami berkata:
Ya, di zaman ini, orang-orang yang dengan rasa ingin tahu — lewat perantaraan radio, dengan kepedulian yang serius — penasaran dan menatap pergumulan-pergumulan di muka bumi serta memperhatikannya, punya banyak sekali kerugian materi dan maknawi. Entah ia mencerai-beraikan akalnya lalu menjadi orang gila secara maknawi, entah mencerai-beraikan hatinya lalu menjadi orang tak beragama secara maknawi, entah mencerai-beraikan pikirannya lalu menjadi orang asing secara maknawi. Ya, aku sendiri melihatnya: dengan rasa ingin tahu yang tak perlu, seorang awam yang religius — padahal ia punya keterkaitan dengan ilmu — kulihat bersedih sampai ke tingkat menangis atas kekalahan seorang kafir yang sejak dulu musuh Islam, dan bergembira atas kekalahan jamaah para Sayyid dari Ahlul Bait di hadapan seorang kafir. Seorang awam semacam itu, demi sebuah lingkaran politik luas yang tak ada kaitannya dengannya, lebih memilih seorang musuh kafir semacam itu daripada seorang Sayyid pejuang (mujahid) — apakah ini bukan contoh paling aneh dari kegilaan dan tercerai-berainya akal?
Ya, mengajarkan dan memperdengarkan lewat radio — dengan rasa ingin tahu yang penuh — masalah-masalah politik yang bagi mereka sia-sia (malayani) dan tak perlu, yaitu masalah-masalah lingkaran politik luas yang dari segi tugas hanya ada kaitannya sampai batas tertentu dengan para pejabat politik luar negeri, para perwira staf, dan para komandan; dengan membuat orang-orang berpikiran sederhana meninggalkan tugas-tugas perlu mereka yang menyangkut pengurusan ruhani, agama, pribadi, rumah tangga, dan kampungnya, lalu membuat mereka penasaran, menjadikan ruh mereka terlunta, akal mereka cerewet, dan mematahkan serta menerbangkan kenikmatan dan semangat hati mereka yang menyangkut hakikat-hakikat iman dan Islam — sehingga menjadikan hati-hati itu terlunta, mematikannya secara maknawi, dan dengan begitu menyiapkan tempat bagi ketidakberagamaan — itu adalah sebuah kerugian bagi kehidupan sosial Islam yang sedemikian rupa, sehingga bulu kuduk meremang setiap kali memikirkan akibat-akibat yang akan ia timbulkan di kemudian hari.
Ya, setiap orang punya keterkaitan dengan tanah air, bangsa, dan pemerintahnya. Tapi keterkaitan ini — yaitu terbawa arus-arus sementara lalu menundukkan kepentingan bangsa, tanah air, dan pemerintah kepada politik sementara sebagian orang, bahkan menganggapnya sama persis — selain sangat keliru; kalau dari rasa dan tugas cinta tanah air dan cinta bangsa itu tugas yang jatuh ke pundak setiap orang adalah satu, maka dari hati dan ruhnya sendiri — yaitu pengurusan pribadi, rumah tangga, agama, dan demikian seterusnya di banyak lingkaran tempat ia menjadi pengemban tugas yang sejati — khidmah, keterkaitan, dan kepedulian itu adalah sepuluh, dua puluh, bahkan seratus. Mengorbankan begitu banyak keterkaitan yang serius dan perlu ini demi satu arus politik yang tak perlu dan baginya sia-sia itu — kalau bukan kegilaan, lalu apa namanya?
Sekian jawaban yang Üstad kami berikan kepada kami dengan sangat tergesa-gesa. Kami pun mencatat ungkapan tergesa itu dengan tergesa pula, maafkanlah kekurangannya.
Kami pun, dengan segenap kekuatan kami, membenarkan hal ini. Sebab kami telah menyaksikannya dengan pengalaman pada diri kami dan pada sahabat-sahabat yang kami lihat. Bahkan banyak orang, karena rasa ingin tahunya, mendengarkan radio yang menyiar tepat di waktu salat — dengan sikap berlebihan sampai ke tingkat meninggalkan salat berjamaah, bahkan barangkali salat itu sendiri. Dengan memperhatikan secara peduli tamparan-tamparan dan pergumulan-pergumulan yang terus-menerus menimpa mimsiz medeniyet (peradaban tanpa huruf mim — deniyet, kehinaan) sebagai hukuman atas kebejatan, kesesatan, dan penghinaannya kepada Islam, serta lingkaran-lingkaran politik yang luas; dan dengan mengambil "pelajaran" di radio dari orang-orang yang bernapas racun dan berkepala mabuk, mereka benar-benar merugikan tugas-tugas mereka yang suci dan penting.
Dari para murid Risale-i Nur, Emin, Feyzi
(Ini adalah sebuah tulisan (fıkra) dari Ahmed Nazif)
Üstadku yang berharga! Tak diragukan lagi bahwa Risale-i Nur yang suci — yang, di dalam ketakberdayaan (acz) dan kefakiran pribadi mulia Anda, dengan inayah Rabbani dan rahmat Ilahi, menembuskan kemukjizatan (i'caz) Al-Qur'an yang penjelasannya mukjizat (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan) ke dalam hati kami laksana sinar matahari yang cemerlang dan tajam; dan yang menjadi khadim bagi keterlepasan (halâs), keselamatan, serta naiknya ke hidayah para mukmin yang lemah dan tak berdaya yang mulai condong ke kesesatan — sudah pasti akan menyandang nama seorang hâdî (pemberi petunjuk) dan seorang sahib-i zuhur (tokoh kemunculan) yang dibutuhkan zaman ini. Oleh karena itu, justru karena Anda adalah penerjemah dan penyeru (dellâl) Al-Qur'an, sekaligus penulis dan khadim satu-satunya Risale-i Nur ini; dan karena, padahal seorang prajurit biasa yang tak berdaya dan fakir, dengan khidmah maknawi Anda telah memperoleh kelayakan untuk naik ke derajat tinggi pangkat müşir (marsekal) dan untuk dilimpahi feyiz — maka Hadrat Pemilik Keagungan (Zülcelal) Yang Âlim-i Mutlak, Hâkim-i Mutlak, dan Kādir-i Mutlak (Maha Mengetahui, Maha Memutuskan, dan Maha Kuasa secara mutlak), telah menyerahkan, menganugerahkan, dan secara khusus menugaskan tugas tinggi nan suci ini kepada seorang penyeru (dellâl) yang Anda pandang tak bernilai, padahal sangat bernilai, penuh keutamaan, penuh feyiz, dan tinggi di derajat-derajat yang luhur. هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى Dia pula telah menjadikan Anda, Üstad kami, sebagai pembimbing, mursyid, dan perantara — dengan karunia dan kemurahan-Nya — untuk irsyad dan hidayah kami, para hamba Anda yang tak berdaya, durhaka, dan penuh dosa; sampai-sampai kami tak berdaya menunaikan rasa terima kasih dan syukur kami yang abadi.
Nah, Üstadku! Dengan menyadari bahwa — di luar surat kawan dan sekutu kami yang berharga dalam khidmah Al-Qur'an, Küçük Hüsrev Mehmed Feyzi — di tempat dan ranah lain hal itu tak pada waktunya, maka menyematkan kata yang hakiki dan nama mulia ini secara lahir kepada Risale-i Nur pun belum menjadi hakku, dan aku menjauhi penggunaannya. Sebab, selama tak ada izin dan perkenan Üstadku, julukan-julukan semacam ini tak bisa punya nilai. Hanya saja, disebutkannya hal itu dalam surat Feyzi — saudara kami yang meraih posisi pertama di lingkungan kami — atas ilham yang kuperoleh dari Risale-i Nur, semata-mata lahir dari niat baik, keterikatan yang amat sangat, kesetiaan, dan keikhlasan. Aku sangat tersentuh sedih karena telah menjadi sebab kerepotan Anda yang timbul dari kesalahan penampakan ini. Mohon dimaafkan. Dengan ketulusan yang sempurna, aku memohon agar Anda memaafkan — dengan nikmat dan himmah teguran (itab) Anda yang memberi peringatan dan irsyad — serta agar kami dijaga dari tamparan-tamparan maknawi Risale-i Nur.
Üstadku yang mulia dan berharga! Sembari memohon agar Anda mengampuni kekurangan-kekurangan hamba Anda yang tak berdaya ini — yang, dengan karunia, kemurahan, dan ihsan tak terhingga dari Cenab-ı Hak, telah bergabung (intisab) dan berada dalam khidmah suci Risale-i Nur, serta telah melihat secara aynelyakin (keyakinan lewat penyaksian) banyak sekali keramat dan keberkahannya, baik materi maupun maknawi, dan telah mencicipi kenikmatannya — demi niat baik dan ketulusan hatinya, aku sampaikan beberapa dari sekian banyak keramat Risale-i Nur yang diberkahi ini. Begini:
Orang yang menjadi penerjemah, penulis, dan pemilik Risale-i Nur, pada tahun rumi seribu tiga ratus dua puluh empat (1324) dan dua puluh lima (1325), terkenal di İstanbul dengan nama dan julukan "Bedîüzzaman"; dan saat itu — ketika aku berusia tujuh belas tahun dan masih sangat bodoh dalam masa kanak-kanak — karena terkesan oleh pemberitaan media cetak yang penuh pujian tentangnya, nama yang diberkahi ini mengambil tempat di hatiku. Dan barangkali demi kehormatan cinta hati ini: pada tahun seribu tiga ratus dua puluh enam (1326), ketika Hazret-i Üstad — dengan julukan "Bedîüzzaman Said-i Kürdî" — dalam perjalanan Laut Hitam mengunjungi İnebolu bersama dua pelayannya, dan saat beliau diantar ke kapal di tengah Hacı Ziya dan ulama-ulama lain dari kalangan ulama termasyhur İnebolu, secara kebetulan aku berpapasan dengannya di pasar; dengan rasa cinta yang sangat dalam aku berdiri memberi salam kepada orang mulia ini, lalu aku mendapat balasan salam dari wajahnya yang tersenyum dan bercahaya serta dari pandangannya yang tajam, dan mendapat perhatian kasih dari pandangan maknawinya — dan sejak hari itu, aku menyaksikan secara aynelyakin bahwa cinta dan keterkaitanku yang kian bertambah sama sekali tak terhapus dari ingatanku selama tiga puluh tahun.
Kira-kira enam tahun lalu, di sebuah kolom koran, dengan kesedihan kubaca bahwa beliau ditahan oleh ahli dunia yang ketakutan karena masyarakat Isparta menunjukkan terlalu banyak perhatian dan karena beliau menanamkan agama dan iman. Dalam rentang waktu yang panjang tiga puluh tahun, walau sekali itu aku menerima kabar pahit semacam itu, aku sama sekali tak bisa memperoleh informasi lain tentang nasibnya. Sejak sepuluh tahun, dalam permohonanku kepada Hadrat Cenab-ı Rabb-ül Âlemîn, selalu dalam doaku lima waktu, sementara aku memohon, "Ya Rabb! Anugerahilah aku seorang mursyid yang sempurna (mürşid-i kâmil)" — tiga tahun lalu, yakni tahun hijri seribu tiga ratus lima puluh tujuh (1357) dan masehi seribu sembilan ratus tiga puluh delapan (1938), di sebuah kedai kopi di İnebolu, aku mendengar tentang keberadaan di Kastamonu seorang yang dipuji-puji oleh seorang pemabuk malang asal Kastamonu, dan bahwa orang itu berada di sana dalam pengasingan (menfî). Aku memperhatikan, meneliti, dan mendalaminya. Aku pun paham — dengan takjub kuketahui — bahwa ia adalah Said-i Kürdî yang dulu, yang tiga puluh tahun kusimpan dan kubawa secara tersembunyi di hatiku. Dan karena kurasakan cinta di hatiku kian berkobar seiring hari, aku tahu bahwa wajib dan menjadi syarat untuk mengunjunginya dengan menanggung segala bahaya, lalu mencium tangannya yang diberkahi. Dan dalam kunjunganku, kudapati nama mulia Said yang Lama (Eski Said) itu sebagai Bedîüzzaman Said Nursî, penulis dan pemilik Risale-i Nur. Dengan cinta dan keikhlasan yang sempurna aku memeluknya. Dan aku berkata: mursyidku, pembimbingku, dan üstad agungku yang satu-satunya adalah Risale-i Nur itu. Dan kepada Cenab-ı Hak yang menganugerahiku ihsan tak terhingga, hidayah, dan inayah ini, aku bersyukur sebanyak jumlah huruf Al-Qur'an al-Hakim, seraya berkata اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى
(Hâsiye: Ya, seperti halnya sebagian ahli kewalian secara penuh keramat menyingkap — lewat tersingkapnya firasat sebelum-kejadian (hiss-i kabl-el vuku) — orang-orang yang kelak akan menjadi murid mereka, bahkan sebelum mereka lahir ke dunia; begitu pula beberapa orang dari murid-murid penting Risale-i Nur, jauh sebelumnya, dengan sebuah firasat sebelum-kejadian, telah merasakan bahwa kelak mereka akan berkhidmah kepada sebuah Nur secara berkaitan dengan Said. Nah, salah satu dari mereka adalah Nazif.)
Selain melihat perbedaan dan keberkahan yang luar biasa antara sebelum bergabung dengan Risale-i Nur dan sesudahnya — dalam segala urusan materi dan duniawi kami, dalam keuntungan tempat usaha kami, dan dalam urusan pribadi dan khusus kami — kami mengakui dan membenarkan bahwa kami menjalani hidup dengan bahagia — elhamdülillah — dengan kelapangan dan kegembiraan yang lebih besar daripada kelapangan dan kebebasan seorang pedagang terbesar atau seorang kaya yang bahagia, dengan cara hidup yang penuh kesehatan dan keafiatan; dan bahwa kami berutang budi pada karunia dan keramat suci Risale-i Nur.
Dengan izin khusus dari Üstad Hazretleri, atas nama Risale-i Nur dalam hal publikasi dan hakikat-hakikat iman — khususnya tentang ibadah dan salat — kami membenarkan: bahwa aku menyaksikan langsung dampak nyata dari keyakinan yang kuat dan seruan yang berpengaruh dalam bimbingan keagamaan (telkinat-ı diniye) yang terjadi dan akan terjadi, padahal keadaan pribadiku bodoh, tak berdaya, kurang, dan tak berkemampuan; dan bahwa — atas nama Risale-i Nur dengan kebanggaan yang sempurna — dampak nyata dari khidmah-khidmah suci seperti berhasilnya banyak Muslim yang tak salat — elhamdülillah — untuk salat dan rutin ke masjid, itu terbit dan terus terbit dari keramat besar nan menakjubkan Risale-i Nur.
Sejak awal hingga sepanjang berlangsungnya perang Jerman dan Inggris yang sedang kita alami ini, kaum zindik dan munafik yang tak terhingga — demi melemparkan sebuah tuduhan kepada pribadiku tanpa sebab apa pun, untuk membuat masyarakat negeri ini benci pada khidmah suciku, baik dari kalangan ulama berpikiran tercerahkan maupun mulhid (ateis) yang bodoh, kecuali hampir beberapa sahabatku saja — tampaknya setan-ı aleyhi mâyestehık (setan, atasnya apa yang ia pantas terima) telah memperdaya seluruh masyarakat negeri ini dan menghasut mereka melawanku; sehingga mereka dengan keras menjalarkan ke masyarakat negeri bahkan sampai ke jajaran pemerintah pola pikir bahwa "Nazif memihak persatuan Islam (ittihad-ı İslâm) lewat sebuah politik oposisi, ia melakukan propaganda politik." Dan pengintaian semua setan telah dibangkitkan. Seakan, demi menuntut balas dariku, para penentangku di belakangku — sekaligus untuk menguatkan arus yang dahsyat itu — tak segan-segan membuatku terpapar penghinaan dengan sebutan "Almancı" (pro-Jerman) yang mereka anggap sebagai sesuatu yang menjijikkan. Padahal aku — lillahilhamd, dengan irsyad Risale-i Nur — karena memandang dan meyakini hakikat-hakikat iman dan Al-Qur'an di atas seluruh alam semesta, bukan saja terhadap arus-arus di muka bumi, bahkan seandainya pun seluruh kerajaan dunia diberikan kepadaku, aku tak bisa menjadikannya alat. Aku hanyalah seorang khadim Risale-i Nur yang berpegang pada hakikat, iman, dan Al-Qur'an. Beberapa tahun ini, di tengah semua serangan itu, ada dua tanda inayah:
Yang Pertama: Selain khidmahku dalam publikasi Risale-i Nur tak dirugikan, kami justru berhasil di luar dugaan.
Yang Kedua: Setiap kali akan terjadi serangan keras, kami menerima perintah "Hati-hati" dari Üstad kami. Dan termasuk keramat Risale-i Nur yang nyata: pada hari kesepuluh atau kedua belas Ramadan Mulia tahun hijri seribu tiga ratus lima puluh sembilan (1359), seorang saudara kami bernama Hatib Mehmed — semoga Allah merahmatinya — yang wafat, ketika menulis İhtiyarlar Risalesi (Risalah Para Lansia) yaitu Kilatan Kedua Puluh Enam (Yirmialtıncı Lem'a), karena sakit dan tak mampu menulis, menuliskan kalimat tauhid "Lâ ilahe illâ Hû" lalu meninggalkannya; ia meminta saudara dan kawan kami yang aktif, Feyzi Mehmed Efendi — yang datang menjenguknya — untuk menyelesaikannya, lalu berpamitan dari dunia menuju kehidupan abadinya. Insya Allah, dengan memeteraikan akhir hayatnya dengan kalimat tayyibah ini, ia menampakkan bahwa ia masuk ke kubur dalam keadaan beriman, dan menjadi sebuah kabar gembira yang terang bagi para murid Risale-i Nur. Dengan rahasia فَفِى الْجَنَّةِ خَالِد۪ينَ dari ayat kedua puluh enam dalam İşarat-ı Kur'aniye (Isyarat-isyarat Al-Qur'an), keramat yang terang dan kabar gembira yang agung ini — yang menunjukkan kebenaran bisyarah "Para murid Risale-i Nur akan masuk ke kubur dengan membawa iman" — aku memohon, kalau hakikat ini sesuai, agar disebarkan kepada semua saudara kami dan dijadikan haşiye (tahşiye) pada Risalah İşarat-ı Kur'aniye, supaya derajat keluhuran Risale-i Nur serta kapan dan bagaimana ganjaran para khadimnya diberikan dapat diketahui dan dilihat secara aynelyakin, wahai Üstadku yang berharga.
Dari para murid Risale-i Nur, Ahmed Nazif Çelebi
Ini adalah sebuah penggalian makna (istihrac) dan sebuah tulisan (fıkra) dari Ahmed Nazif Çelebi, seorang murid Risale-i Nur yang aktif. Dipandang tepat untuk mencatatnya, baik sebagai ayat ketiga puluh dua dari Sinar Pertama (Birinci Şua) maupun di dalam tulisan-tulisan Surat Kedua Puluh Tujuh (Yirmiyedinci Mektub). Ia sendiri berkata:
Ayat-ayat yang datang kudengarkan dari seorang hafiz. Dari Surah Al-Ahzab:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ يَٓا اَيُّهَا الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَث۪يرًا ❊ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَاَص۪يلاً ❊ هُوَ الَّذ۪ى يُصَلّ۪ى عَلَيْكُمْ وَمَلٰٰٓئِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَح۪يمًا ❊ تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلاَمٌ وَاَعَدَّ لَهُمْ اَجْرًا كَر۪يمًا ❊ يَٓا اَيُّهَا النَّبِىُّ اِنَّٓا اَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذ۪يرًا ❊ وَدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِه۪ وَسِرَاجًا مُن۪يرًا ❊ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِن۪ينَ بِاَنَّ لَهُمْ مِنَ اللّٰهِ فَضْلاً كَب۪يرًا ❊ صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظ۪يمُ
Aku merasa bahwa dalam ayat-ayat ini ada isyarat halus (îma), remz (simbol), bahkan barangkali işaret (petunjuk) kepada Risale-i Nur. Ya, selama ayat-ayat yang memandang tugas kerasulan dan dakwah seperti ayat ini memandang setiap abad, dan di setiap abad punya individu-individu serta padanan nyatanya (mâsadak); dan selama sifat-sifat dan gelar-gelar yang diberikan kepada Resul-ü Ekrem صلى الله عليه وسلم dalam ayat-ayat ini — dari segi bahwa ia berlaku di setiap zaman dan berkuasa di setiap abad, dan dengan makna remzi di bawah gelar-gelar itu — maka masuknya karya-karya dan tokoh-tokoh yang menunaikan tugas itu seperti Risale-i Nur ke dalam lingkaran cakupan (daire-i şümul) ayat-ayat semacam ini adalah keadaan (şe'n) dari kemukjizatan maknawi dalam Al-Qur'an, bahkan konsekuensi dan keharusannya. Selama Risale-i Nur, di abad yang aneh ini, secara istimewa menjalankan tugas yang diisyaratkan ayat, dan merupakan satu individu dalam lingkaran universal makna ayat itu — tentu, dengan banyak tanda dan petunjuk (qarinah) yang tersembunyi, kita bisa berkata bahwa ayat ini pun, seperti tiga puluh satu ayat lain dari Sinar Pertama, memandang Risale-i Nur dengan makna isyari. Begini:
Kalimat لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِن۪ينَ رَح۪يمًا dengan makna isyarinya berkata: "Wahai ahli iman dan Al-Qur'an! Ia memandang dan memberi isyarat halus kepada sebuah kilatan Qur'ani (lem'a-i Kur'aniye) — yang pada namanya ada 'Nur' dan pada maknanya ada rahîmiyet (sifat penyayang), serta yang menjadi mazhar ism-i Nur dan ism-i Rahîm — dan kepada abad kita ini: kilatan yang mengeluarkan kalian dari sebuah kezaliman yang paling gelap, sebuah kegelapan yang paling pekat yang membentang sampai tahun seribu tiga ratus tujuh puluh (1370), menuju cahaya-cahaya (Nur) yang datang dari Al-Qur'an dan menuju sinar-sinar iman." Selain kesesuaian makna, sebuah tanda dan petunjuknya adalah ini: nilai cifir frasa اِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِن۪ينَ رَح۪يمًا — şedde dan tanwin dihitung — berjumlah (947), sehingga tepat ber-tevafuk dengan angka (947) yang merupakan nilai dari nama Risalet-ün Nur atau Risalet-i Nur.
Kalimat اِنَّٓا اَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا — şedde-şedde tidak dihitung, dan di akhir tanwin diwaqafkan sehingga elif yang dihitung — nilai cifirnya menunjukkan tahun 1323. Ia mengisyaratkan kepada seorang saksi sejati yang, pada tahun itu — di tengah awal letusan (mebde-i infilâk) sebuah revolusi yang dahsyat di pusat khilafah — memberi kabar gembira kepada ahli iman yang jatuh ke dalam putus asa, memberi kesaksian yang kuat atas kebenaran dan kekuatan Islam, dan berdakwah dari titik pewarisan kenabian (veraset-i nübüvvet).
Kalimat وَنَذ۪يرًا ❊ وَدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ (Hâsiye: Kalimat وَدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ, selain dengan tepat ber-tevafuk dan sesuai secara makna dengan nilai Bedîüzzaman — sebuah nama sejati Risale-i Nur — kata وَدَاعِيًا saja pun bersatu tiga huruf dengan nama Said, penerjemah Risale-i Nur, dan ber-tevafuk dengan selisih tiga. Sebab jumlah tanwin, elif, dan wawu adalah 57. Ada selisih (3) dari "Sin". — Dari para murid Risale-i Nur, Küçük Abdurrahman Tahsin) — tanwin-tanwin dihitung karena tidak diwaqafkan — nilai cifirnya menunjukkan tahun 1256; dengan memandang pendahuluan-pendahuluan yang satu abad sebelumnya telah menyiapkan gerhana (inhisaf) Islam di abad dan zaman ini, kata وَدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ berjumlah (191), sehingga dengan tepat ber-tevafuk dengan angka (191) yang merupakan nilai cifir Bedîüzzaman — sebuah nama sejati Risale-i Nur — dan memberi isyarat bahwa Risale-i Nur pun adalah seorang "dâî ilallah" (penyeru ke jalan Allah) di tengah gerhana itu.
بِاِذْنِه۪ وَ سِرَاجًا مُن۪يرًا (Hâsiye-1: بِاِذْنِه۪ وَ سِرَاجًا مُن۪يرًا berjumlah seribu tiga ratus tiga puluh (1330), sehingga ber-tevafuk dengan kemunculan tafsir İşarat-ül İ'caz yang merupakan pembuka (fatihah) Risale-i Nur; dan kalau "Ye" yang terucap (melfuz) pada بِاِذْنِه۪ dihitung, ia berjumlah seribu tiga ratus empat puluh (1340), sehingga cocok dengan kemunculan Risale-i Nur; dan kalau tanwin pertama dihitung sebagai "nun" karena tidak diwaqafkan, ia berjumlah seribu tiga ratus delapan puluh (1380), sehingga menjadi sebuah remz Qur'ani bahwa Risale-i Nur pada tahun itu — insya Allah — akan menjadi sebuah pelita bercahaya (sirac-ı nuranî) yang menyinari Bola Bumi. — Dari para murid Risale-i Nur, Tahsin) — dan kata سِرَاجًا مُن۪يرًا saja, dengan tepat memandang nama Risale-i Nur "Siracünnur" lewat tevafuk secara lafal, makna, dan cifir. (Mim, ye) pada مُن۪يرًا menjadi padanan bagi "nun" ber-şedde pada النُّورِ. Ya, bisa dikatakan — dan kami katakan tanpa ragu — bahwa pemberian nama "Siracünnur" kepada Risale-i Nur oleh İmam-ı Ali (radhiyallahu 'anhu) dalam keramat gaibnya, terilhami dari frasa ayat ini.
Kalimat وَبَشِّرِ الْمُؤْمِن۪ينَ بِاَنَّ لَهُمْ مِنَ اللّٰهِ — dari segi şedde dihitung — nilai cifirnya menunjukkan tahun 1359; dengan memandang tahun ini, tahun yang persis sedang kita jalani di abad kita, ia mengabarkan dengan makna remzi bahwa ada sebuah ihsan besar bagi ahli iman. Kami melihat: di zaman ini, ihsan terbesar adalah menyelamatkan iman. Dan kami melihat: yang menyelamatkan iman dengan burhan-burhan yang menakjubkan, terutama adalah Risale-i Nur. Berarti, dibandingkan zaman ini, ia pula adalah sebuah "fadlun kebir" (karunia yang besar). Yang menguatkan isyarat ini adalah: kata فَضْلاً pada فَضْلاً كَب۪يرًا berjumlah 960; dan nama Risalet-ün Nur ini, dengan beralih dari bentuk idhafah ke bentuk penyifatan menjadi "Risalet-ün Nuriye", bernilai 962 — maka tevafuk dengan selisih dua yang penuh makna itu adalah penunjukan secara remz dan isyarat dengan menekankan jarinya tepat di atasnya.
Ilahi, Ya Rabb! Engkau — peliharalah dan jadikanlah aman Risale-i Nur, penulis Risale-i Nur Üstad kami Said Nursî, serta para murid, şakird, dan pengikut Risalet-ün Nur, di dalam wadah penjagaan-Mu dan di dalam benteng Ilahi-Mu.. âmîn.. dan teguhkanlah serta kekalkanlah mereka dalam khidmah Al-Qur'an dan iman.. âmîn.. dan dalam khidmah-khidmah suci ini, anugerahilah pertolongan dan bantuan beserta keberhasilan.. âmîn.. dan jadikanlah mereka mazhar (penerima) rahasia teragung Al-Qur'an yang penjelasannya mukjizat dan agung kemuliaannya (Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan-ı Azîmüşşan), rahasia suci makrifatullah, mahabbatullah, dan mahabbah Rasulullah, rahasia teragung "Hasbünallahü ve ni'melvekil", serta karunia dan ihsan ridha Allah dan penyaksian Keindahan Allah (rü'yet-i Cemalullah), wahai Rabb seru sekalian alam (Yâ Rabb-el Âlemîn)!
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ وَ اَهْلِ بَيْتِه۪ اَجْمَع۪ينَ الطَّيِّب۪ينَ الطَّاهِر۪ينَ اٰم۪ينَ بِحُرْمَةِ سَيِّدِ الْمُرْسَل۪ينَ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ
Murid dan hamba Anda yang tak berdaya, fakir, lemah, dan penuh dosa, dari İnebolu, Ahmed Nazif Çelebi