Saudara-saudaraku yang mulia, setia, dan jujur!
Lampiran Kastamonu · hlm. 36
Kali ini empat pucuk surat dari orang-orang yang sangat kuperhatikan membuatku begitu gembira dan begitu senang atas nama Risale-i Nur, sampai-sampai air mata kegembiraan menghapus banyak kesedihanku — seakan aku menemukan kembali para sahabat pahlawan itu. Ya, aku ingin menulis empat jawaban untuk empat surat, dan itu hak kalian; tapi karena persatuan kalian yang tulus, cukuplah dengan satu. Kujelaskan lima-enam masalah kecil satu per satu:
Yang Pertama: Bahwa sejak dulu kami berkata "ini adalah zaman menyelamatkan iman" dan, tanpa kehendakku, berulang kali melakukan penghimpunan besar (tahşidat) dari burhan-burhan tentang rukun-rukun iman — zaman telah menunjukkan bahwa itu sungguh benar dan diperlukan. Sebulan lalu kutulis untuk kalian, dalam sebuah percakapan maknawi, sebuah jawaban dari alam gaib tentang penghimpunan besar Risale-i Nur. Beberapa orang menggabungkan frasa itu ke akhir Risalah Âyet-ül Kübra.
Yang Kedua: Saudaraku Şamlı Tevfik! Suratmu membuatku — sampai jauh ke lubuk hati — sekaligus tersentuh sedih dan dibuat senang. Ia mengisyaratkan adanya sebuah perubahan yang baik pada dirimu. Kepada kerabat almarhum Hâfız Ahmed, sampaikanlah takziah dariku, sekaligus katakanlah: satu-dua bulan lalu, ketika berdoa — tiba-tiba — Hâfız Ahmed masuk ke lingkaran kerabat paling khusus dan murid paling ikhlas; aku merasa seakan ia berkata, "Aku pun punya hak di lingkaran ini." Aku membiarkannya di dalam lingkaran khusus itu agar setiap saat menjadi penyerta dalam keuntungan-keuntungan maknawiku, dan insya Allah ia akan tetap begitu. Dan aku paham bahwa kalian berdua, sejak awal, bersama dalam khidmah kepada Risale-i Nur. Salam untuk semua sahabat di Barla.
Yang Ketiga: Saudaraku Sabri! Surat Hulusi yang berharga sangat kusukai, karena ia menunjukkan pentingnya dan nilai dari keduanya — Hulusi dan Sinar Kelima (Beşinci Şua). Ya, Sinar Kelima memperbaiki dan menyelamatkan iman orang banyak, khususnya para ahli ilmu. Baik engkau maupun Hüsrev menyebut Halil İbrahim. Orang itu adalah murid penting Risale-i Nur dan penyebar yang berkemampuan, sekaligus termasuk murid khusus (haslar). Aku yakin ia telah mengambil pelajaran berupa kehati-hatian yang penuh dan kepedulian yang sungguh-sungguh dari peristiwa kita yang terdahulu. Sampaikanlah salamku kepadanya dan kepada para sahabatnya.
Yang Keempat: Saudaraku Hüsrev! Suratmu menjadi sebuah kesembuhan bagi kegelisahanku (seperti soal Hasan dan para Mustafa), sebuah obat bagi keinginanku (seperti soal Mu'cizat-ı Ahmediye), dan sebuah cahaya bagi harapan-harapanku (seperti soal Re'fet dan Sabri dari Konya). Lagi pula, sakit dan tuanya ibumu — seorang murid terhormat Risale-i Nur dan saudari akhiratku yang berada di lingkaran khususnya — yang menarikmu ke Isparta, itu adalah kebaikan. Tentu engkau telah membacakan kepadanya Risalah Orang Sakit (Hastalar) dan Risalah Para Lansia (İhtiyarlar). Semoga risalah-risalah itu, sebagai gantiku, menanyakan keadaannya dan memberinya penghiburan.
Aku banyak mengingat murid-murid dan sahabat-sahabat di sana dalam doa. Aku tak bisa melupakan mereka. Kepada seluruh saudaraku, salam dan doa satu per satu. Said Nursî