Risale-i NurLampiran Kastamonu

Poin Ketiga

Lampiran Kastamonu · hlm. 60

Saudara-saudaraku yang mulia! Sering terlintas di hatiku — aku menanti rahasianya: mengapa İmam-ı Ali (radhiyallahu 'anhu) memberi kepentingan yang lebih kepada Risale-i Nur, khususnya kepada Risalah Âyet-ül Kübra? Lillahilhamd, ia diingatkan. Untuk rahasia yang tersingkap itu, untuk saat ini aku hanya memberi sebuah isyarat singkat. Begini:

Karena sebuah keistimewaan yang menonjol (mümtaz) dari Risale-i Nur adalah penjelasannya yang kuat dan pasti atas titik sandaran iman yang paling akhir dan paling menyeluruh; keistimewaan ini tampak luar biasa cemerlang dalam Risalah Âyet-ül Kübra. Dan di abad yang aneh ini, pertarungan kufur dan iman (mübareze-i küfür ve iman) menjalar sampai ke titik sandaran yang paling akhir dan menyandarkannya ke sana. Misalnya: persis seperti dua batalion bertempur di sebuah pertempuran terbuka yang sangat besar, di sebuah padang tempat seluruh kekuatan kedua pihak terkumpul. Pihak musuh menggunakan setiap sarana untuk membawa peralatan tempur penghancur (cihazat-ı muharribe) dari pasukan terbesarnya sebagai bantuan bagi batalionnya sendiri dan untuk memperkuat kekuatan maknawinya (kuvve-i maneviye) secara luar biasa; ia memakai setiap dalih untuk merusak kekuatan maknawi batalion ahli iman dan mematahkan kesetiakawanan (tesanüd) para anggotanya. Dengan membuat sebuah tempat bersandar yang penting condong ke pihaknya, ia mencerai-beraikan kekuatan cadangan. Terhadap tiap-tiap prajurit batalion Muslim, ia mengirim sebuah jamaah yang saling menopang dengan ruh perkumpulan dan komite-isme. Di sebuah saat ketika ia berupaya menghancurkan habis kekuatan maknawinya, muncullah seseorang seperti Hızır (Nabi Khidir), lalu berkata kepada batalion itu: "Jangan putus asa! Engkau punya sebuah titik sandaran yang begitu tak tergoyahkan, pasukan-pasukan yang begitu agung dan tak terkalahkan, serta kekuatan cadangan yang tak habis-habis, sehingga seandainya dunia berkumpul pun, ia tak akan bisa menghadapinya. Salah satu sebab kekalahanmu untuk saat ini adalah karena kalian mengirim satu prajurit untuk menghadapi sebuah jamaah dan sebuah şahs-ı manevî (sosok maknawi). Berusahalah agar tiap-tiap prajuritmu — dengan kekuatan maknawi yang kuat yang ia ambil manfaatnya secara maknawi dari lingkaran-lingkaran yang menjadi titik sandarannya — menjadi setara dengan sebuah şahs-ı manevî dan sebuah perkumpulan," katanya, dan ia memberi keyakinan yang penuh.

Persis begitu pula, ahli kesesatan yang menyerang ahli iman — dari segi bahwa abad ini adalah zaman jamaah — dengan ragi perkumpulan dan komite-isme telah menjadi sebuah şahs-ı manevî dan sebuah ruh yang keji (ruh-u habis), lalu merusak nurani umum (vicdan-ı umumî) dan hati universal (kalb-i küllî) di dunia Islam. Dan ia merobek tabir keluhuran Islami (perde-i ulviye) yang melindungi keyakinan-keyakinan kaum awam yang bersifat taklidi, serta membakar perasaan-perasaan warisan (hissiyat-ı mütevârise) yang datang lewat tradisi (an'ane), yang menghidupkan kehidupan iman. Sementara tiap-tiap Muslim, seorang diri, dengan putus asa berupaya selamat dari kebakaran yang dahsyat ini, Risale-i Nur datang menolong seperti Hızır. Dengan memperlihatkan pasukan terakhirnya yang meliputi alam semesta (Hâsiye: Kekuatan yang tak mampu mencerai-beraikan alam semesta, tak akan bisa merusaknya.) dan dalam khidmah membawa bantuan materi dan maknawi yang tak tertahankan dari pasukan itu, İmam-ı Ali (radhiyallahu 'anhu) telah melihat secara kasyaf Risalah Âyet-ül Kübra sebagai sebuah prajurit pesuruh (emirber nefer) yang menakjubkan, dan menunjukkannya dengan penuh penekanan.

Terapkanlah poin-poin lain dalam perumpamaan itu, supaya sebuah ringkasan dari rahasia itu tampak.

Said Nursî