POIN PERTAMA
Kelimat · hlm. 663
Manusia adalah cermin bagi asma Ilahi dari tiga sisi.
Wajah Pertama
Sebagaimana kegelapan di malam hari memperlihatkan cahaya. Demikian pula: manusia, dengan kelemahan dan ketidakmampuannya, kefakiran dan kebutuhannya, kekurangan dan cacatnya, memberitahukan kudrat, kekuatan, kekayaan, dan rahmat suatu Qadîr Dzul-Jalâl, dan demikian seterusnya ia mencerminkan banyak sekali sifat Ilahi dengan cara ini. Bahkan dalam ketidakmampuannya yang tak terhingga dan kelemahannya yang tak berkesudahan, dengan mencari suatu titik sandaran terhadap musuh-musuhnya yang tak terhingga, nurani senantiasa memandang kepada Yang Wajibul Wujud. Dan dalam kefakirannya yang tak berkesudahan, di tengah kebutuhannya yang tak terhingga, karena terpaksa mencari suatu titik pertolongan terhadap maksud-maksud yang tak terhingga, nurani senantiasa bersandar dari titik itu ke hadirat suatu Ganî Yang Maha Penyayang, lalu membentangkan tangan dengan doa. Berarti pada setiap nurani, dari sisi titik sandaran dan titik pertolongan ini, dua jendela kecil terbuka ke istana rahmat Sang Qadîr Yang Maha Penyayang; ia dapat memandang dengannya setiap waktu.
Wajah Kedua
pencerminan itu adalah: dengan hal-hal parsial seperti ilmu, kudrat, penglihatan, pendengaran, kepemilikan, dan kekuasaan yang parsial — dari jenis contoh yang diberikan kepada manusia — ia mencerminkan ilmu, kudrat, penglihatan, pendengaran, dan kekuasaan rububiyah Pemilik alam semesta. Ia memahami dan memberitahukannya. Misalnya: sebagaimana aku membuat rumah ini, aku tahu cara membuatnya, aku melihatnya, aku pemiliknya, dan aku mengaturnya. Demikian pula istana alam semesta yang besar ini memiliki seorang tukang. Tukang itu mengetahuinya, melihatnya, membuatnya, dan mengaturnya, dan demikian seterusnya...
Wajah Ketiga
pencerminan itu adalah: manusia mencerminkan asma Ilahi yang ukiran-ukirannya terlihat padanya. Terdapat lebih dari tujuh puluh asma yang ukirannya tampak pada hakikat menyeluruh manusia, sebagaimana dijelaskan sekilas di awal Perhentian Ketiga Kelimat Ketiga Puluh Dua. Misalnya: dari penciptaannya nama Sang Pencipta dan Sang Khalik; dari keindahan bentuknya nama Rahman dan Rahim; dari keindahan pendidikannya nama Karim dan Latif; dan demikian seterusnya... Dengan seluruh anggota dan perkakasnya, perangkat dan organnya, kehalusan batin dan maknawinya, indra dan perasaannya, ia memperlihatkan ukiran-ukiran berbeda dari asma yang berbeda-beda. Berarti sebagaimana pada asma terdapat suatu isim a'zam, demikian pula pada ukiran asma itu terdapat suatu ukiran teragung, yaitu manusia.
Wahai manusia yang mengetahui dirinya sebagai manusia! Bacalah dirimu... Jika tidak, ada kemungkinan menjadi manusia yang berkedudukan seperti hewan dan benda beku!