Risale-i NurKelimat

Kelimat Ketiga Puluh Tiga

Kelimat · hlm. 625

Tiga Puluh Tiga Jendela

[Dari satu sisi Surat Ketiga Puluh Tiga, dan dari sisi lain Kelimat Ketiga Puluh Tiga]

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِسَنُر۪يهِمْ اٰيَاتِنَا فِى اْلاٰفَاقِ وَف۪ٓى اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَه۪يدٌ

Pertanyaan

Kami memohon penjelasan yang ringkas dan singkat mengenai sisi-sisi penunjukan manusia dan alam semesta — yang merupakan alam kecil dan alam besar — terhadap kewajiban wujud dan ketauhidan Ilahi serta sifat dan keadaan Rabbani yang diungkapkan oleh dua ayat yang menghimpun ini. Sebab para pengingkar telah melangkah terlalu jauh. Mereka berkata: "Sampai kapan kita akan mengangkat tangan seraya berkata وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ?"

Jawaban

Seluruh Kalimat yang ditulis, yang berjumlah tiga puluh tiga, adalah tiga puluh tiga tetes dari lautan ayat itu dan dari samudra hakikat yang dilimpahkannya. Jika kalian memandangnya, kalian dapat memperoleh jawaban kalian. Untuk sementara, hanya sebagai isyarat kepada percikan satu tetes dari lautan itu, kami berkata demikian:

Misalnya: Sebagaimana seorang pribadi yang penuh mukjizat, jika hendak membangun sebuah istana yang besar: pertama-tama ia meletakkan pondasi dan asasnya dengan teratur dan penuh hikmah, serta menatanya dengan cara yang sesuai dengan hasil dan tujuan yang akan datang. Kemudian ia memilah dan memerinci istana itu menjadi ruangan-ruangan dan bagian-bagian dengan ahli. Kemudian ia menata dan mengatur ruangan-ruangan itu. Kemudian ia menghiasinya dengan ukiran-ukiran. Kemudian ia meneranginya dengan lampu-lampu listrik. Kemudian, untuk memperbarui keahlian dan karunianya pada istana yang megah lagi berhias itu, ia membuat ciptaan, pergantian, dan perubahan yang baru pada setiap lapisan. Kemudian ia memasang pada setiap ruangan sebuah telepon yang terhubung dengan maqamnya sendiri, lalu membuka sebuah jendela pada masing-masingnya, sehingga dari setiap jendela terlihat maqamnya.

Persis demikian pula: وَ لِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى Sang Pencipta Dzul-Jalâl, Sang Hakim Yang Mahabijaksana, Sang Mahaadil lagi Maha Menetapkan, dan Sang Pencipta tiada tara yang dinamai dengan seribu satu asma suci, menghendaki penciptaan istana alam besar ini dan pohon penciptaan. Dalam enam hari, Ia meletakkan asas istana dan pohon itu dengan kaidah-kaidah hikmah dan undang-undang ilmu azali-Nya. Kemudian Ia memisahkannya ke dalam lapisan-lapisan tinggi dan rendah serta dahan-dahan, lalu memerinci dan menggambarkannya dengan kaidah kada dan takdir. Kemudian Ia menata setiap golongan dan lapisan makhluk dengan kaidah kreasi dan inayah. Kemudian Ia menghiasi setiap sesuatu dan setiap alam dengan cara yang layak baginya — misalnya menghiasi langit dengan bintang-bintang dan bumi dengan bunga-bunga. Kemudian Ia menampakkan asma-Nya di medan-medan kaidah menyeluruh dan undang-undang umum itu, lalu meneranginya. Kemudian Ia mengirim nama Rahman dan Rahim secara khusus untuk menolong individu-individu yang meratap akibat tekanan undang-undang menyeluruh ini. Berarti di dalam kaidah menyeluruh dan umum-Nya itu terdapat karunia khusus, pertolongan khusus, dan manifestasi khusus; sehingga setiap sesuatu, setiap waktu, untuk setiap hajatnya, meminta pertolongan dari-Nya dan dapat memandang kepada-Nya. Kemudian Ia membuka jendela-jendela — dari setiap ruangan, setiap lapisan, setiap alam, setiap golongan, setiap individu, setiap sesuatu — yang akan menunjukkan diri-Nya, yakni memberitahukan wujud dan ketauhidan-Nya. Ia meninggalkan sebuah telepon di dalam setiap kalbu. Kini, terhadap jendela-jendela yang tak terhingga ini, sudah pasti kami tidak akan membahasnya di luar batas kami. Kami serahkan semua itu kepada ilmu Ilahi yang meliputi, dan hanya mengisyaratkan tiga puluh tiga jendela — yang merupakan kilau ayat-ayat Al-Qur'an — secara global lagi ringkas, agar sesuai dengan bilangan tiga puluh tiga yang mubarak dari tasbih setelah salat, dan penjelasannya kami serahkan kepada Kelimat-Kelimat lain...

Jendela Pertama

Secara nyata kita melihat bahwa: seluruh benda, terutama yang hidup, memiliki banyak sekali kebutuhan yang berbeda-beda dan banyak sekali tuntutan yang beragam. Tuntutan dan kebutuhan itu diberikan kepada mereka dan disampaikan sebagai pertolongan pada waktu yang tepat lagi layak, dari tempat yang tidak mereka duga, tidak mereka ketahui, dan tidak terjangkau tangan mereka. Padahal kudrat orang-orang yang membutuhkan itu tidak sampai kepada yang terkecil dari maksud-maksud yang tak terhingga itu, tangan mereka tidak menggapainya. Lihatlah dirimu: betapa banyak benda yang engkau butuhkan tetapi tak terjangkau tanganmu, seperti indra lahir dan batinmu serta kebutuhan-kebutuhannya. Kiaskanlah seluruh makhluk hidup kepada dirimu. Maka semua itu, satu per satu, sebagaimana bersaksi atas wujud Yang Wajibul Wujud dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya, demikian pula dengan keseluruhannya — laksana cahaya matahari yang menunjukkan matahari — keadaan dan keajaiban ini menunjukkan kepada akal, di balik tabir gaib, adanya Zat Yang Wajibul Wujud, Yang Wâhid Ahad, dalam gelaran yang sangat Mahamulia, Maha Penyayang, Maha Pendidik, dan Maha Pengatur.

Kini wahai pengingkar yang jahil dan wahai fasik yang lalai! Dengan apa engkau dapat menjelaskan aktivitas yang penuh hikmah, penuh penglihatan, lagi penuh kasih sayang ini? Dengan natur yang tuli? Dengan kekuatan yang buta? Dengan kebetulan yang linglung? Dengan sebab-sebab yang lemah lagi beku?...

Jendela Kedua

Benda-benda, dalam wujud dan keindividuannya, tatkala berada dalam keadaan bimbang, bingung, lagi tak berbentuk di tengah jalan kemungkinan yang tak terhingga, tiba-tiba diberi suatu keindividuan wajah yang sangat teratur lagi penuh hikmah sedemikian rupa; sehingga misalnya pada wajah setiap manusia terdapat suatu tanda pembeda terhadap setiap orang dari seluruh sesama jenisnya — pada wajah yang kecil itu — dan karena ia dilengkapi dengan indra lahir dan batin dengan kesempurnaan hikmah, maka wajah itu membuktikan bahwa ia adalah suatu cap keahadan yang sangat cemerlang. Setiap wajah, dari ratusan sisi, sebagaimana bersaksi atas wujud Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya, demikian pula cap yang ditampakkan oleh keseluruhan seluruh wajah itu memperlihatkan kepada mata akal bahwa ia adalah suatu stempel khusus milik Pencipta segala sesuatu.

Wahai pengingkar! Kepada bengkel mana engkau dapat menyerahkan cap-cap yang sama sekali tak dapat ditiru ini, dan cap Samadiyah yang cemerlang pada keseluruhannya?...

Jendela Ketiga

Bala tentara seluruh jenis hewan dan tumbuhan — yang terdiri dari empat ratus ribu golongan berbeda{(Catatan kaki): Bahkan di antara golongan-golongan itu ada yang jumlah individunya dalam satu tahun lebih banyak daripada seluruh individu manusia yang datang ke dunia sejak zaman Adam hingga kiamat.}di permukaan bumi — secara nyata memiliki rezeki, rupa, senjata, pakaian, pelatihan, dan pembebasan tugas yang berbeda-beda; mengatur dan mendidik semuanya dengan timbangan dan keteraturan yang sempurna, tanpa melupakan satu pun dan tanpa mengacaukan satu pun — adalah suatu cap sedemikian rupa sehingga — tak menerima keraguan apa pun — ia adalah cap Wâhid Ahad yang cemerlang laksana matahari. Siapakah yang berhak, selain Pemilik kudrat yang tak terhingga, ilmu yang meliputi, dan hikmah yang tak berkesudahan, untuk ikut campur dalam pengaturan yang begitu luar biasa itu? Sebab siapa yang tidak mampu mengatur dan mendidik seluruh jenis dan bangsa yang saling bertautan ini sekaligus, jika ia ikut campur pada salah satunya, sudah pasti ia akan mengacaukannya. Padahal dengan rahasia فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُورٍ, tidak ada tanda kekacauan sedikit pun. Berarti tidak ada satu jari pun yang dapat ikut campur.

Jendela Keempat

Yaitu terkabulnya doa-doa yang dipanjatkan dengan lisan bakat oleh seluruh benih, dengan lisan kebutuhan fitri oleh seluruh hewan, dan dengan lisan keterpaksaan oleh seluruh yang terdesak.

Maka penerimaan dan pengabulan yang nyata atas doa-doa yang tak terhingga ini, masing-masing sebagaimana bersaksi dan mengisyaratkan kepada kewajiban wujud dan ketauhidan, demikian pula keseluruhannya, dalam skala yang besar, dengan jelas menunjukkan dan memperlihatkan Sang Pencipta Yang Maha Penyayang, Mahamulia, lagi Maha Mengabulkan.

Jendela Kelima

Kita melihat bahwa: benda-benda, terutama yang hidup, datang ke wujud dalam waktu yang seketika laksana serta-merta. Padahal benda-benda yang keluar dari materi sederhana secara serta-merta dan seketika, semestinya sangat sederhana, tak berbentuk, dan tak berseni; namun mereka diciptakan dalam suatu keindahan seni yang membutuhkan banyak keahlian, terukir dengan ukiran-ukiran teliti yang membutuhkan waktu panjang, berhias dengan seni-seni ajaib yang membutuhkan banyak perkakas, dan dalam rupa yang membutuhkan banyak materi. Maka seni luar biasa dan bentuk indah yang seketika lagi serta-merta ini, masing-masing sebagaimana bersaksi atas kewajiban wujud Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dan mengisyaratkan ketauhidan rububiyah-Nya, demikian pula keseluruhannya dengan cara yang sangat cemerlang menunjukkan Zat Yang Wajibul Wujud, Yang Mahakuasa tak terhingga lagi Mahabijaksana tak terhingga.

Kini, wahai pengingkar yang linglung! Ayo, dengan apa engkau menjelaskan ini? Dengan natur yang linglung, lemah, lagi jahil sepertimu? Ataukah engkau hendak melakukan ribuan kemustahilan sekaligus dengan memberi nama "Natur" kepada Sang Pencipta Yang Mahasuci itu — dengan dalih penamaan itu — lalu menyandarkan mukjizat kudrat-Nya kepada natur?

Jendela Keenam

اِنَّ ف۪ى خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّت۪ى تَجْر۪ى فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَٓا اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَٓاءِ مِنْ مَٓاءٍ فَاَحْيَا بِهِ اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ ف۪يهَا مِنْ كُلِّ دَٓابَّةٍ وَتَصْر۪يفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَٓاءِ وَاْلاَرْضِ َلاٰيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Ayat ini, sebagaimana menunjukkan kewajiban wujud dan ketauhidan, adalah suatu jendela yang sangat besar yang memperlihatkan suatu isim a'zam.

Maka ringkasan dari ringkasan ayat ini adalah: seluruh alam pada lapisan tinggi dan rendah alam semesta, dengan lisan yang berbeda-beda, menunjukkan satu hasil, yaitu rububiyah satu Pencipta Yang Mahabijaksana. Yaitu demikian:

Sebagaimana di langit (bahkan dengan pengakuan ilmu Kosmografi sekalipun) gerakan-gerakan yang sangat teratur demi hasil-hasil yang sangat besar, menunjukkan wujud dan ketauhidan serta kesempurnaan rububiyah Sang Qadîr Dzul-Jalâl.

Demikian pula: di bumi, secara nyata (bahkan dengan kesaksian dan pengakuan ilmu Geografi) perubahan-perubahan yang sangat teratur seperti pergantian musim demi maslahat-maslahat yang sangat besar, juga menunjukkan kewajiban wujud dan ketauhidan serta kesempurnaan rububiyah Sang Qadîr Dzul-Jalâl yang sama.

Dan sebagaimana seluruh hewan — yang diberi rezeki dengan kesempurnaan rahmat di darat dan laut, yang dikenakan aneka rupa dengan kesempurnaan hikmah, dan yang dilengkapi dengan berbagai indra dengan kesempurnaan rububiyah — masing-masing bersaksi atas wujud Sang Qadîr Dzul-Jalâl dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya, sekaligus dengan keseluruhannya dalam skala yang sangat luas menunjukkan keagungan uluhiyah dan kesempurnaan rububiyah-Nya.

Demikian pula: tumbuhan teratur di kebun-kebun, bunga-bunga berhias yang diperlihatkan tumbuhan, buah-buah seimbang yang diperlihatkan bunga, dan ukiran-ukiran berhias yang diperlihatkan buah, masing-masing bersaksi atas wujud Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya, sekaligus dengan keseluruhannya secara sangat gemerlap menunjukkan keindahan rahmat dan kesempurnaan rububiyah-Nya.

Dan sebagaimana tetesan-tetesan yang ditugaskan dan dikirim dari awan di angkasa demi hikmah-hikmah penting, tujuan-tujuan, manfaat-manfaat yang perlu, dan buah-buah — sebanyak bilangan tetesan itu — menunjukkan kewajiban dan ketauhidan serta kesempurnaan rububiyah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana.

Demikian pula: penyiapan dan penyimpanan seluruh gunung di bumi dan barang tambang di dalam gunung — dengan sifat-sifatnya yang berbeda demi maslahat-maslahat yang berbeda — dengan suatu kekuatan sekukuh gunung, juga menunjukkan kewajiban wujud dan ketauhidan serta kesempurnaan rububiyah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana.

Dan sebagaimana berhiasnya bukit-bukit kecil di padang dan gunung dengan aneka bunga teratur, masing-masing bersaksi atas kewajiban Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya, sekaligus dengan keseluruhannya menunjukkan keagungan kerajaan dan kesempurnaan rububiyah-Nya.

Demikian pula: aneka bentuk teratur seluruh daun pada seluruh rumput dan pohon, kedudukannya yang berbeda-beda, dan gerakannya yang seimbang lagi memikat — sebanyak bilangan daun — juga menunjukkan kewajiban wujud dan ketauhidan serta kesempurnaan rububiyah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana.

Dan sebagaimana pada seluruh jasad yang tumbuh, gerakan yang teratur pada masa pertumbuhannya, perlengkapan dengan aneka perkakas, dan pemalingannya yang berkesadaran kepada aneka buah — masing-masing satu demi satu bersaksi atas kewajiban wujud Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya. Dan dengan keseluruhannya dalam skala yang sangat besar menunjukkan keliputan kudrat, keluasan hikmah, keindahan seni, dan kesempurnaan rububiyah-Nya.

Demikian pula: menempatkan jiwa dan ruh ke dalam seluruh jasad hewani dengan kesempurnaan hikmah, mempersenjatainya dengan aneka perangkat dalam kesempurnaan keteraturan, dan mengirimnya dalam aneka khidmah dengan kesempurnaan hikmah — sebanyak bilangan hewan, bahkan sebanyak bilangan perangkatnya — juga bersaksi dan mengisyaratkan kepada kewajiban wujud dan ketauhidan Sang Pencipta Yang Mahabijaksana, sekaligus dengan keseluruhannya secara sangat cemerlang menunjukkan keindahan rahmat dan kesempurnaan rububiyah-Nya.

Dan sebagaimana seluruh ilham gaib yang mengajarkan segala jenis ilmu dan hakikat kepada seluruh kalbu — jika manusia — dan mengajarkan cara memperoleh segala kebutuhan — jika hewan — memberi rasa akan wujud Sang Rabb Yang Maha Penyayang dan mengisyaratkan rububiyah-Nya.

Demikian pula: sebagaimana seluruh indra lahir dan batin — laksana sinar mata yang memetik bunga-bunga maknawi di kebun alam semesta — menjadi kunci masing-masing bagi alam yang berbeda-beda, juga menunjukkan laksana matahari kewajiban wujud, ketauhidan, keahadan, dan kesempurnaan rububiyah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana, Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui, Sang Pencipta Yang Maha Penyayang, Sang Maha Pemberi Rezeki lagi Mahamulia itu.

Maka dari dua belas jendela terpisah yang tersebut di atas ini, dari dua belas sisi, terbukalah suatu jendela teragung; yang dengan cahaya hakikat berwarna dua belas menunjukkan keahadan, ketauhidan, dan kesempurnaan rububiyah Allah Yang Mahatinggi.

Maka wahai pengingkar yang malang! Dengan apa engkau dapat menutup jendela yang seluas lingkaran bumi ini — bahkan seluas orbit tahunannya? Dan dengan apa engkau dapat memadamkan sumber cahaya yang cemerlang laksana matahari ini, dan di balik tabir kelalaian mana engkau dapat menyembunyikannya?...

Jendela Ketujuh

Kesempurnaan keteraturan, kesempurnaan keseimbangan, kesempurnaan hiasan ciptaan-ciptaan yang tersebar di wajah alam semesta ini, kemudahan penciptaannya, keserupaannya satu sama lain, dan penampakan satu fitrah yang tunggal — sebagaimana menunjukkan kewajiban wujud, kesempurnaan kudrat, dan ketauhidan Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dalam skala yang sangat luas. Demikian pula: penciptaan susunan-susunan yang tak terhingga, berbeda-beda, lagi teratur dari unsur-unsur yang beku lagi sederhana — sebanyak bilangan susunan itu — juga bersaksi atas kewajiban wujud Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya, sekaligus dengan keseluruhannya secara sangat cemerlang menunjukkan kesempurnaan kudrat dan ketauhidan-Nya. Sebagaimana pula, dalam pembaruan pada saat penyusunan dan penguraian — yang disebut penyusunan makhluk — di tengah percampuran yang tak terhingga terdapat pemilahan dan pemisahan yang tak terhingga; misalnya, memilah dan memisahkan bulir dan wujud benih serta akar di dalam tanah yang sangat bercampur tanpa keliru sedikit pun, memisahkan materi-materi bercampur yang masuk ke pohon menjadi daun, bunga, dan buah, serta memilah dan memisahkan materi-materi gizi yang masuk secara bercampur ke sel-sel tubuh dengan kesempurnaan hikmah dan timbangan — juga menunjukkan kewajiban wujud, kesempurnaan kudrat, dan ketauhidan Sang Mahabijaksana Mutlak, Sang Maha Mengetahui Mutlak, dan Sang Qadîr Mutlak itu. Sebagaimana pula, menjadikan alam partikel laksana suatu ladang yang tak terhingga lagi luas, setiap menit menanam dan menuainya dengan kesempurnaan hikmah, mengambil darinya hasil alam-alam yang baru, dan menyuruh partikel-partikel yang beku, lemah, lagi jahil itu menunaikan tugas-tugas teratur yang tak terhingga dengan sangat berkesadaran, sangat penuh hikmah, lagi berkuasa — juga menunjukkan kewajiban wujud, kesempurnaan kudrat, keagungan rububiyah, ketauhidan, dan kesempurnaan rububiyah Sang Qadîr Dzul-Jalâl dan Sang Pencipta Yang Maha Sempurna itu.

Maka dengan empat jalan ini terbukalah suatu jendela besar menuju makrifatullah. Dan ia memperlihatkan Sang Pencipta Yang Mahabijaksana kepada akal dalam skala yang besar.

Kini wahai orang lalai yang malang! Kalau demikian, jika engkau tak mau melihat dan mengenal-Nya; cabutlah akalmu dan buanglah, jadilah hewan, selamatkan dirimu...

Jendela Kedelapan

Kesaksian seluruh Nabi (Alaihimussalam) — yang merupakan pemilik ruh-ruh bercahaya di kalangan manusia — dengan bersandar pada mukjizat mereka yang terang lagi nyata; dan seluruh wali — yang merupakan kutub kalbu-kalbu yang bercahaya — dengan berpegang pada kasyaf dan karamah mereka; dan seluruh asfiya — yang merupakan pemilik akal-akal bercahaya — dengan bersandar pada penelitian mereka; atas kewajiban wujud, ketauhidan, dan kesempurnaan rububiyah satu Wâhid Ahad, Yang Wajibul Wujud, Pencipta segala sesuatu — adalah suatu jendela yang sangat besar lagi bercahaya. Lagi pula ia setiap waktu memperlihatkan maqam rububiyah itu.

Wahai pengingkar yang malang! Kepada siapa engkau bersandar sehingga engkau tak mendengarkan mereka? Ataukah dengan menutup mata di siang hari, engkau mengira dunia telah menjadi malam?

Jendela Kesembilan

Ibadah umum di alam semesta, dengan jelas menunjukkan Sang Ma'bûd Mutlak. Ya, sebagaimana ubudiyah seluruh makhluk ruhani dan malaikat dengan kesempurnaan kepatuhan — yang tetap dengan kesaksian orang-orang yang pergi ke alam arwah dan batin serta berjumpa dengan makhluk ruhani dan malaikat — dan penunaian tugas ubudiyah oleh seluruh makhluk hidup dengan kesempurnaan keteraturan secara nyata, dan khidmah ubudiyah seluruh benda beku seperti unsur-unsur dengan kesempurnaan ketaatan secara nyata — menunjukkan kewajiban wujud dan ketauhidan Sang Ma'bûd Yang Haq; demikian pula makrifat hakiki seluruh arif — yang setiap golongannya mengemban kekuatan ijmak dan tawatur — syukur berbuah seluruh golongan yang bersyukur, zikir penuh limpahan seluruh yang berzikir, pujian penambah nikmat seluruh yang memuji, tauhid berburhan dan pensifatan seluruh yang mengesakan, kecintaan dan asyik hakiki seluruh pencinta, kehendak dan kerinduan tulus seluruh murid, dan permohonan serta taubat sungguh-sungguh seluruh yang kembali kepada-Nya — juga menunjukkan kewajiban wujud, kesempurnaan rububiyah, dan ketauhidan Sang Ma'bûd Azali itu, yang Maha Dikenal, Maha Disebut, Maha Disyukuri, Maha Terpuji, Wâhid, Maha Dicintai, Maha Dirindukan, lagi Maha Dimaksud; demikian pula seluruh ibadah yang diterima dari manusia-manusia yang sempurna, serta limpahan, munajat, penyaksian, dan kasyaf yang lahir dari hasil ibadah yang diterima itu — juga menunjukkan kewajiban wujud, ketauhidan, dan kesempurnaan rububiyah Sang Maujud Yang Tak Pernah Lenyap dan Sang Ma'bûd Yang Tak Pernah Sirna itu. Maka dari tiga sisi ini terbukalah suatu jendela besar yang bercahaya menuju ketauhidan.

Jendela Kesepuluh

وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَٓاءِ مَٓاءً فَاَخْرَجَ بِه۪ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِىَ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِه۪ وَسَخَّرَ لَكُمُ اْلاَنْهَارَ ❊ وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَٓائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ❊ وَاٰتٰيكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوهُ وَاِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللّٰهِ لاَ تُحْصُوهَا

Saling tolong, saling jawab, dan saling topang di antara makhluk-makhluk di alam semesta ini menunjukkan bahwa: seluruh makhluk berada dalam pendidikan satu Pendidik, dalam pengaturan satu Pengatur, di bawah tasarruf satu Penguasa, dan merupakan pelayan satu Tuan. Sebab, mulai dari Matahari — yang dengan perintah Rabbani memasak kebutuhan hidup bagi makhluk hidup di bumi — dan Bulan yang menjadi penanggalan, hingga bergegasnya cahaya, udara, air, dan makanan untuk menolong makhluk hidup, bergegasnya tumbuhan untuk menolong hewan, bergegasnya hewan untuk menolong manusia, bahkan bergegasnya anggota-anggota badan untuk saling menolong, bahkan bergegasnya partikel makanan untuk menolong sel-sel tubuh — dengan suatu kaidah tolong-menolong yang berlaku demikian, benda-benda beku lagi tak berkesadaran yang saling menolong itu, di bawah suatu hukum kemurahan, undang-undang kasih sayang, dan kaidah rahmat, saling menolong dengan sangat penuh hikmah lagi mulia, saling menjawab seruan kebutuhan, dan saling menguatkan — sudah pasti dengan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah para pelayan, petugas, dan ciptaan satu Zat Yang Wajibul Wujud, tunggal, tiada tara, Wâhid Ahad, Fard Samad, Qadîr Mutlak, Alîm Mutlak, Rahîm Mutlak, lagi Karim Mutlak.

Maka wahai filsuf malang yang bangkrut! Apa katamu tentang jendela yang megah ini? Dapatkah kebetulanmu ikut campur dalam hal ini?...

Jendela Kesebelas

اَلاَ بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ Terlepasnya seluruh arwah dan kalbu dari kegelisahan dan kekalutan yang lahir dari kesesatan, serta dari derita-derita maknawi yang lahir dari kegelisahan itu, terjadi dengan mengenal satu Pencipta. Mereka memperoleh keselamatan dengan menyerahkan seluruh makhluk kepada satu Pencipta, dan menjadi tenteram dengan zikir satu Allah. Sebab jika makhluk yang tak terhingga tidak diserahkan kepada satu Zat (sebagaimana dibuktikan secara pasti dalam Kelimat Kedua Puluh Dua) maka pada saat itu setiap satu benda mesti disandarkan kepada sebab-sebab yang tak terhingga; sehingga wujud satu benda saja menjadi sesulit wujud seluruh makhluk. Sebab jika diserahkan kepada Allah, Ia menyerahkan benda yang tak terhingga kepada satu Zat. Jika tidak diserahkan kepada-Nya, setiap benda mesti diserahkan kepada sebab-sebab yang tak terhingga. Pada saat itu sebutir buah menimbulkan kesulitan seukuran alam semesta, bahkan lebih sulit lagi. Sebab sebagaimana jika seorang prajurit diserahkan kepada pengaturan seratus orang berbeda, timbullah seratus kesulitan. Dan jika seratus prajurit diserahkan kepada pengaturan satu perwira, ia menjadi mudah laksana satu prajurit. Demikian pula: kesepakatan banyak sebab yang berbeda dalam penciptaan satu benda saja, menjadi seratus kali lebih sulit. Dan penciptaan banyak sekali benda, jika diserahkan kepada satu Zat, menjadi seratus kali lebih mudah. Maka yang menyelamatkan dari kegelisahan tak terhingga — yang datang dari sisi rasa ingin tahu dan pencarian hakikat dalam hakikat kemanusiaan — hanyalah tauhid kepada Pencipta dan makrifatullah. Oleh karena dalam kekufuran dan kesyirikan terdapat kesulitan dan kegelisahan yang tak terhingga, sudah pasti jalan itu mustahil, tak berhakikat. Oleh karena dalam tauhid terdapat kemudahan yang tak terhingga — sesuai dengan kemudahan, kemajemukan, dan keindahan seni dalam penciptaan makhluk — sudah pasti jalan itu wajib, ia adalah hakikat.

Maka wahai ahli kesesatan yang malang! Lihatlah: betapa gelap dan menyakitkannya jalan kesesatan! Apa gerangan keterpaksaanmu sehingga engkau menempuhnya? Dan lihatlah: betapa mudah dan tenteramnya jalan iman dan tauhid... Masuklah ke sana, selamatlah.

Jendela Kedua Belas

Berdasarkan rahasia سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلاَعْلٰى ❊ اَلَّذ۪ى خَلَقَ فَسَوّٰى ❊ وَالَّذ۪ى قَدَّرَ فَهَدٰى: pada seluruh benda, terutama pada ciptaan yang hidup, diberikan suatu ukuran teratur dan suatu rupa dengan hikmah — seolah keluar dari suatu cetakan penuh hikmah — dan pada rupa serta ukuran itu terdapat batas-batas berkelok demi maslahat dan manfaat; lagi pula rupa pakaian dan ukuran yang mereka ganti selama masa hidup, juga merupakan suatu rupa dan ukuran maknawi lagi teratur yang tersusun dari takdir kehidupan dengan cara yang sesuai hikmah dan maslahat — semua ini dengan jelas menunjukkan bahwa: ciptaan yang tak terhingga itu — yang rupa dan bentuknya disusun dalam lingkaran takdir Sang Qadîr Dzul-Jalâl dan Sang Hakîm Dzul-Kamâl, dan yang diberi wujud di bengkel kudrat — menunjukkan kewajiban wujud Zat itu dan bersaksi atas ketauhidan serta kesempurnaan kudrat-Nya dengan lisan yang tak terhingga. Lihatlah tubuhmu, anggota-anggotamu, serta buah dan manfaat dari tempat-tempat berkelok padanya! Lihatlah kesempurnaan kudrat di dalam kesempurnaan hikmah.

Jendela Ketiga Belas

Berdasarkan rahasia وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪: setiap sesuatu menyebut dan menyucikan Penciptanya dengan lisan khususnya. Ya, tasbih yang dipanjatkan seluruh makhluk dengan lisan keadaan dan ucapan menunjukkan wujud satu Zat Yang Mahasuci. Ya, kesaksian fitrah tak dapat ditolak. Adapun penunjukan keadaan, terutama jika datang dari banyak sisi, tak menimbulkan keraguan. Lihatlah rupa-rupa teratur dari makhluk-makhluk ini — yang mengandung kesaksian fitri yang tak terhingga, yang menunjukkan dengan lisan keadaan dalam cara yang tak berkesudahan, dan yang laksana lingkaran-lingkaran bertingkat memandang ke satu pusat — masing-masing adalah sebuah lidah. Dan bentuk-bentuknya yang seimbang, masing-masing adalah sebuah lisan kesaksian. Dan kehidupannya yang sempurna, masing-masing adalah sebuah lisan tasbih; sehingga sebagaimana dibuktikan secara pasti dalam Kelimat Kedua Puluh Empat, tasbih, penghormatan, dan kesaksian mereka atas satu Zat Yang Mahasuci dengan seluruh lidah itu, secara sangat nyata — laksana cahaya yang menunjukkan matahari — memperlihatkan satu Zat Yang Wajibul Wujud dan menunjukkan kesempurnaan uluhiyah-Nya.

Jendela Keempat Belas

Berdasarkan rahasia قُلْ مَنْ بِيَدِه۪ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ ❊ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ عِنْدَنَا خَزَٓائِنُهُ ❊ مَا مِنْ دَٓابَّةٍ اِلاَّ هُوَ اٰخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ❊ اِنَّ رَبّ۪ى عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَف۪يظٌ: setiap sesuatu, dalam setiap keadaannya dan setiap urusannya, membutuhkan satu Pencipta Dzul-Jalâl. Ya, kita memandang makhluk-makhluk di alam semesta dan melihat bahwa: di dalam kelemahan mutlak terdapat manifestasi suatu kekuatan mutlak. Dan di dalam ketidakmampuan mutlak terlihat jejak suatu kudrat mutlak. Misalnya, seperti keadaan luar biasa yang diperlihatkan simpul kehidupan pada benih dan akar tumbuhan pada saat kebangkitannya. Lagi pula di dalam kefakiran mutlak dan kekeringan terdapat manifestasi suatu kekayaan mutlak: seperti keadaan fakir tanah dan pepohonan di musim dingin, dan kekayaan serta kegemilangan di musim semi. Lagi pula di dalam kebekuan mutlak terlihat tetesan suatu kehidupan mutlak: seperti berubahnya unsur-unsur beku menjadi materi yang hidup. Lagi pula di dalam kejahilan mutlak terlihat manifestasi suatu kesadaran yang meliputi: seperti bergeraknya segala sesuatu dari partikel hingga bintang dengan cara yang sesuai tatanan alam, maslahat kehidupan, dan tuntutan hikmah, serta keadaannya yang berkesadaran.

Maka kudrat di dalam ketidakmampuan ini, kekuatan di dalam kelemahan, kekayaan di dalam kefakiran, serta kehidupan dan kesadaran di dalam kebekuan dan kejahilan; dengan jelas lagi niscaya membuka jendela-jendela dari segala arah terhadap kewajiban wujud dan ketauhidan satu Zat Yang Qadîr Mutlak, Kuat Mutlak, Kaya Mutlak, Alîm Mutlak, lagi Hayy Qayyum. Dengan keseluruhannya dalam skala yang besar ia memperlihatkan suatu jalan raya yang bercahaya. Maka wahai orang lalai yang terjerumus ke rawa natur! Jika engkau meninggalkan natur lalu tak mengenal kudrat Ilahi; engkau mesti menerima bahwa pada setiap benda, bahkan setiap partikel, terdapat suatu kekuatan dan kudrat yang tak terhingga, hikmah dan keahlian yang tak berkesudahan, bahkan suatu kemampuan yang dapat melihat, mengetahui, dan mengatur kebanyakan benda.

Jendela Kelima Belas

Berdasarkan rahasia اَلَّذ۪ٓى اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ: pemberian wujud dan pengenaan rupa kepada segala sesuatu — sesuai kelayakan hakikatnya, diukur dengan kesempurnaan timbangan dan keteraturan, disusun dengan keindahan seni, melalui jalan yang terpendek, dalam rupa yang terindah, dengan cara yang teringan, dalam bentuk yang termudah pemakaiannya (misalnya lihatlah pakaian burung dan betapa mudah mereka menggerakkan serta memakai bulunya setiap waktu), dan dengan cara yang penuh hikmah tanpa pemborosan — dengan lisan sebanyak bilangan benda, bersaksi atas kewajiban wujud Sang Pencipta Yang Mahabijaksana dan mengisyaratkan kepada Sang Qadîr Alîm Mutlak.

Jendela Keenam Belas

Keteraturan dan penataan dalam penciptaan serta pengaturan makhluk yang diperbarui musim demi musim di permukaan bumi, dengan jelas menunjukkan suatu hikmah yang umum. Oleh karena sifat tak dapat tanpa yang disifati; sudah pasti hikmah yang umum itu, dengan niscaya, menunjukkan suatu Yang Mahabijaksana. Lagi pula di dalam tabir hikmah itu, hiasan yang luar biasa dengan jelas menunjukkan suatu inayah yang sempurna. Dan inayah yang sempurna itu, dengan niscaya, menunjukkan suatu Pencipta Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi inayah. Dan pada tabir inayah itu, kelembutan dan karunia yang mencakup semua, dengan jelas menunjukkan suatu rahmat yang luas. Dan rahmat yang luas itu, dengan niscaya, menunjukkan suatu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan di atas tabir rahmat itu pula, pemberian makan dan rezeki yang layak lagi sempurna kepada seluruh makhluk hidup yang membutuhkan rezeki, dengan jelas menunjukkan suatu sifat pemberi rezeki yang penuh pendidikan dan suatu rububiyah yang penuh kasih sayang. Dan pendidikan serta pengaturan itu, dengan niscaya, menunjukkan suatu Maha Pemberi Rezeki lagi Mahamulia.

Ya, seluruh makhluk yang dididik dengan kesempurnaan hikmah, dihias dengan kesempurnaan inayah, dilimpahi dengan kesempurnaan rahmat, dan diberi makan dengan kesempurnaan kasih sayang di permukaan bumi, masing-masing bersaksi atas kewajiban Sang Pencipta Yang Mahabijaksana, Mahamulia, Maha Penyayang, lagi Maha Pemberi Rezeki, dan mengisyaratkan ketauhidan-Nya; sebagaimana pula, perhatikanlah sekaligus: hikmah umum yang tampak pada keseluruhan permukaan bumi dan terlihat pada semuanya serta dengan jelas menunjukkan maksud dan iradah; dan inayah sempurna yang mencakup seluruh ciptaan serta mengandung hikmah; dan rahmat luas yang mencakup seluruh makhluk bumi serta mengandung inayah dan hikmah; dan rezeki serta pemberian makan umum yang mencakup seluruh makhluk hidup dengan cara yang sangat mulia serta mengandung rahmat, hikmah, dan inayah — lihatlah! Sebagaimana tujuh warna membentuk cahaya. Dan cahaya yang menerangi permukaan bumi itu, betapa ia tak diragukan menunjukkan matahari. Demikian pula; inayah di dalam hikmah itu, rahmat di dalam inayah itu, dan pemberian rezeki di dalam rahmat itu, menunjukkan ketauhidan dan kesempurnaan rububiyah suatu Zat Yang Wajibul Wujud, Mahabijaksana, Mahamulia, Maha Penyayang, lagi Maha Pemberi Rezeki tak terhingga, dalam skala yang besar, pada derajat yang tinggi, dalam rupa yang cemerlang.

Maka wahai pengingkar linglung yang lalai! Dengan apa engkau dapat menjelaskan pendidikan yang penuh hikmah, mulia, penyayang, lagi pemberi rezeki di depan mata ini, dan keadaan yang ajaib, luar biasa, lagi mukjizat ini? Dengan kebetulan yang serampangan sepertimu? Dengan kekuatan yang buta seperti kalbumu? Dengan natur yang tuli seperti kepalamu? Dengan sebab-sebab yang lemah, beku, lagi jahil sepertimu? Ataukah engkau hendak melakukan kesalahan tak terhingga dengan memberi nama "natur" — yang tak terhingga lemah, jahil, tuli, buta, mungkin, lagi hina — kepada Zat Dzul-Jalâl yang tak terhingga suci, bersih, terbebas, tinggi, lagi tak terhingga Mahakuasa, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, lagi Maha Melihat? Dan dengan kekuatan mana engkau dapat memadamkan hakikat yang cemerlang laksana matahari ini? Di balik tabir kelalaian mana engkau dapat menyembunyikannya?

Jendela Ketujuh Belas

اِنَّ فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ َلاٰيَاتٍ لِلْمُؤْمِن۪ينَ

Kita memandang permukaan bumi di musim panas dan melihat bahwa: kedermawanan tak terhingga dan kemurahan mutlak — yang semestinya meniscayakan kekacauan dan menjadi sebab ketidakteraturan dalam penciptaan benda — justru terlihat di dalam suatu keselarasan dan keteraturan yang sangat tinggi. Lihatlah seluruh tumbuhan yang menghias permukaan bumi.

Lagi pula, kecepatan mutlak dalam penciptaan benda — yang semestinya meniscayakan ketiadaan timbangan dan kekasaran — justru terlihat di dalam kesempurnaan keseimbangan. Lihatlah seluruh buah yang memperindah permukaan bumi.

Lagi pula, kemajemukan mutlak — yang semestinya meniscayakan ketidakpentingan, bahkan keburukan — justru terlihat di dalam kesempurnaan keindahan seni. Lihatlah seluruh bunga yang menyepuh permukaan bumi!

Lagi pula, kemudahan mutlak dalam penciptaan benda — yang semestinya meniscayakan ketiadaan seni dan kesederhanaan — justru terlihat di dalam keahlian, kemahiran, dan ketelitian yang tak terhingga. Lihatlah dengan saksama seluruh benih dan biji, yang berkedudukan sebagai kotak perkakas, rancangan, dan wadah riwayat hidup pohon serta tumbuhan di permukaan bumi.

Lagi pula, kejauhan dan keterpencilan mutlak — yang semestinya meniscayakan perselisihan dan perpisahan — justru terlihat di dalam suatu kesepakatan mutlak. Lihatlah setiap jenis biji-bijian yang ditanam di seluruh penjuru bumi.

Lagi pula, kesempurnaan percampuran — yang semestinya meniscayakan keruwetan dan kekotoran — justru terlihat di dalam kesempurnaan pemilahan dan pemisahan. Lihatlah kesempurnaan pemilahan benih-benih yang ditebar bercampur ke bawah tanah dan yang serupa satu sama lain dari segi materi, pada saat berbulir; dan pemisahan sempurna materi-materi berbeda yang masuk ke pohon menjadi daun, bunga, dan buah; dan pemisahan sempurna makanan-makanan bercampur yang masuk ke lambung menurut anggota dan sel yang berbeda; lihatlah kesempurnaan kudrat di dalam kesempurnaan hikmah.

Lagi pula, kelimpahan yang sangat tinggi dan kemurahan harga yang tak berkesudahan — yang semestinya meniscayakan ketidakpentingan dan ketakbernilaian — justru terlihat pada ciptaan dan seni di permukaan bumi dalam suatu keadaan yang tak terhingga berharga lagi mahal. Lihatlah jenis-jenis buah murbei — yang hanyalah manisan kudrat — di atas hidangan Rahmani permukaan bumi di antara seni-seni ajaib yang tak terhingga itu! Lihatlah kesempurnaan rahmat di dalam kesempurnaan seni.

Maka di seluruh permukaan bumi: nilai yang sangat tinggi disertai kemurahan harga yang tak terhingga; dan di dalam kemurahan tak terhingga itu, percampuran tak terhingga disertai pemilahan tak terhingga; dan di dalam pemilahan tak terhingga itu, kejauhan yang sangat disertai keselarasan dan keserupaan yang tinggi; dan di dalam keserupaan tinggi itu, kemudahan yang sangat disertai pengerjaan yang sangat teliti; dan di dalam pengerjaan yang sangat indah itu, kecepatan mutlak disertai keseimbangan dan ketiadaan pemborosan yang sangat; dan di dalam ketiadaan pemborosan yang sangat itu, kebanyakan dan kemajemukan yang sangat disertai keindahan seni yang tinggi; dan di dalam keindahan seni yang tinggi itu, kedermawanan yang tak berkesudahan disertai keteraturan mutlak.. sudah pasti — sebagaimana cahaya siang menunjukkan cahaya matahari — bersaksi atas kewajiban wujud, kesempurnaan kudrat, keindahan rububiyah, ketauhidan, dan keahadan Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl, Sang Rahîm Dzul-Jamâl, serta memperlihatkan rahasia لَهُ اْلاَسْمَٓاءُ الْحُسْنٰى.

Kini wahai jahil, lalai, keras kepala, lagi pengingkar yang malang! Dengan apa engkau dapat menafsirkan hakikat teragung ini? Dengan apa engkau dapat menjelaskan keadaan yang sangat mukjizat lagi luar biasa ini? Kepada apa engkau dapat menyandarkan seni-seni yang tak terhingga ajaib ini? Tabir kelalaian mana yang dapat engkau lemparkan untuk menutup jendela seluas permukaan bumi ini? Di mana kebetulanmu, di mana teman perjalananmu yang tak berkesadaran yang engkau sebut natur dan engkau andalkan, sandaran dan kawanmu dalam kesesatan? Bukankah keikutsertaan kebetulan dalam urusan ini seratus kali mustahil? Dan bukankah penyerahan satu dari seribu urusan luar biasa ini kepada natur, seribu kali mustahil? Ataukah natur yang beku lagi lemah itu memiliki mesin dan percetakan maknawi di dalam setiap benda, sebanyak benda yang dibuat darinya?..

Jendela Kedelapan Belas

اَوَلَمْ يَنْظُرُوا ف۪ى مَلَكُوتِ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ

Lihatlah perumpamaan yang dijelaskan dalam Kelimat Kedua Puluh Dua: Sebagaimana suatu karya sempurna, teratur, berseni, laksana istana, dengan jelas menunjukkan suatu perbuatan yang teratur. Yakni suatu bangunan menunjukkan suatu pertukangan. Dan suatu perbuatan yang sempurna lagi teratur, dengan niscaya menunjukkan suatu pelaku yang sempurna dan seorang tukang yang mahir. Dan gelaran tukang yang sempurna, dengan jelas menunjukkan suatu sifat yang sempurna, yakni bakat seni. Dan sifat sempurna serta bakat seni yang sempurna itu, dengan jelas menunjukkan wujud suatu kesiapan yang sempurna. Dan suatu kesiapan yang sempurna menunjukkan wujud suatu ruh yang tinggi dan suatu pribadi yang luhur.

Demikian pula: karya-karya yang senantiasa diperbarui yang memenuhi permukaan bumi — bahkan alam semesta — dengan jelas menunjukkan perbuatan-perbuatan yang berada pada derajat kesempurnaan tertinggi. Dan perbuatan-perbuatan dalam lingkaran keteraturan dan hikmah yang tertinggi itu, dengan jelas menunjukkan suatu Pelaku yang gelaran dan namanya sempurna. Sebab perbuatan-perbuatan teratur lagi penuh hikmah, secara pasti diketahui tak dapat tanpa pelaku. Dan gelaran-gelaran yang tertinggi kesempurnaannya menunjukkan sifat-sifat Pelaku itu yang berada pada puncak kesempurnaan. Sebab sebagaimana dalam ilmu Sharaf isim fa'il dibentuk dari masdar, demikian pula masdar dan sumber dari gelaran serta nama adalah sifat-sifat. Dan sifat-sifat pada puncak kesempurnaan, tak diragukan menunjukkan keadaan zati yang tertinggi kesempurnaannya. Dan keadaan zati yang sempurna itu (yang tak dapat kami ungkapkan sebagai kelayakan zati) dengan keyakinan sejati menunjukkan suatu Zat yang berada pada derajat kesempurnaan tak terhingga.

Maka seluruh jejak seni di alam dan seluruh makhluk, karena masing-masing merupakan suatu karya yang sempurna, masing-masing bersaksi atas suatu perbuatan, dan perbuatan atas nama, dan nama atas sifat, dan sifat atas keadaan, dan keadaan atas Zat; maka sebanyak bilangan ciptaan, mereka bersaksi atas kewajiban wujud satu Pencipta Dzul-Jalâl dan mengisyaratkan keahadan-Nya, sekaligus dengan keseluruhannya menjadi suatu mikraj makrifat yang kuat sekuat rangkaian makhluk. Ia adalah suatu burhan hakikat yang berantai, yang sama sekali tak dapat dimasuki keraguan.

Kini wahai pengingkar lalai yang malang! Dengan apa engkau dapat mematahkan burhan yang kuat sekuat rangkaian alam semesta ini? Dengan apa engkau dapat menutup jendela berkisi lagi berlubang tak terhingga yang memperlihatkan sinar hakikat sebanyak bilangan ciptaan ini? Tabir kelalaian mana yang dapat engkau tarik ke atasmu?

Jendela Kesembilan Belas

Berdasarkan rahasia تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوَاتُ السَّبْعُ وَاْلاَرْضُ وَمَنْ ف۪يهِنَّ وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪: Sang Pencipta Dzul-Jalâl telah menyematkan sedemikian banyak hikmah dan makna pada benda-benda langit, sehingga — seolah untuk mengungkapkan keagungan dan keindahan-Nya — Ia menyuruh langit berbicara dengan kata-kata "matahari, bulan, dan bintang"; demikian pula Ia menyematkan sedemikian banyak hikmah, makna, dan maksud pada makhluk-makhluk di angkasa, sehingga — seolah — Ia menyuruh angkasa itu berbicara dengan kata-kata "kilat, halilintar, guruh, dan tetesan." Dan Ia mengajarkan kesempurnaan hikmah dan keindahan rahmat-Nya. Dan sebagaimana Ia menyuruh kepala bumi berbicara dengan kata-kata bermakna yang disebut hewan dan tumbuhan, lalu memperlihatkan kesempurnaan seni-Nya kepada alam semesta. Demikian pula; tumbuhan dan pohon — yang masing-masing merupakan sebuah kata dari kepala itu — pun Ia suruh berbicara dengan kata-kata "daun, bunga, dan buah," lalu kembali mengumumkan kesempurnaan seni dan keindahan rahmat-Nya. Dan bunga serta buah — yang masing-masing sebuah kata — pun Ia suruh berbicara dengan kata-kata "benih kecil," lalu mengajarkan kehalusan seni dan kesempurnaan rububiyah-Nya kepada makhluk berkesadaran. Maka di antara kata-kata tasbih yang tak terhingga ini, kita hanya akan menyimak dan mendengarkan cara ungkap satu bulir dan satu bunga saja. Kita akan mengetahui bagaimana ia bersaksi.

Ya, setiap tumbuhan, setiap pohon, memperlihatkan Penciptanya dengan banyak sekali lisan sedemikian rupa sehingga membuat orang yang saksama terpana, dan membuat yang memandang berkata "Subhanallah! Betapa indah ia bersaksi!"

Ya, tasbih setiap tumbuhan pada saat mekarnya bunga dan pada saat berbulir — pada saat ucapan maknawinya yang penuh senyum — indah dan nyata seperti dirinya sendiri. Sebab keteraturan yang memperlihatkan hikmah dengan mulut indah setiap bunga, dengan lisan bulir yang teratur, dan dengan kata-kata benih yang seimbang serta biji yang teratur, secara nyata berada di dalam suatu timbangan yang memperlihatkan ilmu. Dan timbangan itu berada di dalam suatu ukiran seni yang memperlihatkan kemahiran seni. Dan ukiran seni itu berada di dalam suatu hiasan yang memperlihatkan kelembutan dan kemurahan. Dan hiasan itu pun berada di dalam aroma-aroma halus yang memperlihatkan rahmat dan karunia. Dan keadaan-keadaan bermakna yang saling menyatu ini adalah suatu lisan kesaksian sedemikian rupa; ia mengenalkan Sang Pencipta Dzul-Jamâl dengan asma-Nya, mensifati-Nya dengan sifat-sifat-Nya, menafsirkan manifestasi asma-Nya, dan mengungkapkan kecintaan serta pengenalan-Nya, yakni penjadian-Nya dicintai dan dikenal.

Maka jika dari satu bunga saja engkau mendengar kesaksian seperti ini, gerangan jika engkau dapat mendengarkan seluruh bunga di kebun-kebun Rabbani di permukaan bumi, jika engkau mendengar dengan kekuatan setinggi apa mereka mengumumkan kewajiban wujud dan ketauhidan Sang Pencipta Dzul-Jalâl, mungkinkah masih tersisa keraguan, was-was, dan kelalaianmu? Jika masih tersisa, dapatkah engkau disebut manusia dan makhluk berkesadaran?

Kini datanglah, pandanglah sebuah pohon dengan saksama! Lihatlah mulutnya yang halus — di dalam keluarnya daun secara teratur di musim semi, mekarnya bunga secara seimbang, tumbuhnya buah dengan hikmah dan rahmat, serta bermainnya dahan di tangan-tangannya, laksana anak-anak yang suci, dengan hembusan angin sepoi. Betapa timbangan yang penuh keadilan di dalam keteraturan penuh hikmah — yang diungkapkan dengan lisan daun yang menghijau oleh tangan kemurahan, dengan lisan bunga yang tersenyum oleh kegembiraan kelembutan, dan dengan kata-kata buah yang tertawa oleh manifestasi rahmat; dan seni serta ukiran teliti di dalam timbangan yang memperlihatkan keadilan; dan aneka cita rasa manis serta aneka aroma indah yang memperlihatkan rahmat dan karunia di dalam ukiran mahir dan hiasan; dan benih serta biji yang merupakan mukjizat kudrat di dalam aneka rasa yang menyenangkan — secara sangat nyata memperlihatkan kewajiban wujud, ketauhidan, keindahan rahmat, dan kesempurnaan rububiyah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana, Mahamulia, Maha Penyayang, Maha Berbuat Baik, Maha Pemberi Nikmat, Maha Memperindah, lagi Maha Melebihkan. Maka jika engkau dapat mendengar sekaligus lisan keadaan seluruh pohon di permukaan bumi, engkau akan melihat dan memahami betapa indah permata yang ada di dalam khazanah يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ.

Maka wahai orang lalai yang malang, yang menyangka dirinya bebas di dalam kekufuran nikmat! Jika suatu Yang Mahamulia Dzul-Jamâl — yang mengenalkan, memberitahukan, dan menjadikan diri-Nya dicintai kepadamu dengan lisan yang tak terhingga ini — tak mau dikenal, maka lisan-lisan ini mesti dibungkam. Oleh karena ia tak dapat dibungkam, ia mesti didengarkan. Jika engkau menutup telingamu dengan kelalaian, engkau tak dapat menyelamatkan diri. Sebab dengan menutup telingamu, alam semesta tak diam, makhluk tak bungkam, saksi-saksi ketauhidan tak menghentikan suaranya. Sudah pasti mereka menghukummu...

Jendela Kedua Puluh

{(Catatan kaki): Hakikat Jendela Kedua Puluh ini, pada suatu ketika, datang ke kalbu dalam rupa Arab demikian: تَلَئْلاُءُ الضِّيَٓاءِ مِنْ تَنْو۪يرِكَ تَشْه۪يرِكَ ❊ تَمَوُّجُ اْلاِعْصَارِ مِنْ تَصْر۪يفِكَ تَوْظ۪يفِكَ سُبْحَانَكَ مَا اَعْظَمَ سُلْطَانَكَ ❊ تَفَجُّرُ اْلاَنْهَارِ مِنْ تَدْخ۪يرِكَ تَسْخ۪يرِكَتَزَيُّنُ اْلاَحْجَارِ مِنْ تَدْب۪يرِكَ تَصْو۪يرِكَ ❊ سُبْحَانَكَ مَا اَبْدَعَ حِكْمَتَكَتَبَسُّمُ اْلاَزْهَارِ مِنْ تَزْي۪ينِكَ تَحْس۪ينِكَ ❊ تَبَرُّجُ اْلاَثْمَارِ مِنْ اِنْعَامِكَ اِكْرَامِكَسُبْحَانَكَ مَا اَحْسَنَ صَنْعَتَكَ ❊ تَسَجُّعُ اْلاَطْيَارِ مِنْ اِنْطَاقِكَ اِرْفَاقِكَتَهَزُّجُ اْلاَمْطَارِ مِنْ اِنْزَالِكَ اِفْضَالِكَ ❊ سُبْحَانَكَ مَا اَوْسَعَ رَحْمَتَكَ ❊ تَحَرُّكُ اْلاَقْمَارِ مِنْ تَقْد۪يرِكَ تَدْب۪يرِكَ تَدْو۪يرِكَ تَنْو۪يرِكَ ❊ سُبْحَانَكَ مَا اَنْوَرَ بُرْهَانَكَ مَا اَبْهَرَ سُلْطَانَكَ}

فَسُبْحَانَ الَّذ۪ى بِيَدِه۪ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ ❊ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ عِنْدَنَا خَزَٓائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُٓ اِلاَّ بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ ❊ وَ اَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَٓاءِ مَٓاءً ﴿مُبَارَكًا﴾ فَاَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَ مَٓا اَنْتُمْ لَهُ بِخَازِن۪ينَ

Sebagaimana pada hal-hal parsial, hasil, dan cabang terlihat kesempurnaan hikmah dan keindahan seni. Demikian pula: keadaan-keadaan lahiriah yang tampak kacau dari unsur-unsur menyeluruh dan makhluk-makhluk besar — yang diduga bersifat kebetulan lagi acak — pun mengambil keadaan dengan suatu hikmah dan seni. Maka bersinarnya cahaya, dengan penunjukan khidmah-khidmahnya yang lain yang penuh hikmah, adalah pemameran dan pengumuman ciptaan Ilahi di permukaan bumi dengan izin Rabbani. Berarti cahaya dipekerjakan oleh suatu Pencipta Yang Mahabijaksana. Dengannya Ia memperlihatkan seni-seni antik-Nya di pameran pasar alam. Kini lihatlah angin-angin: dengan kesaksian manfaat dan tugas-tugasnya yang lain yang penuh hikmah lagi mulia, mereka bergegas menuju tugas-tugas yang sangat penting lagi banyak. Berarti berhembusnya itu adalah suatu penugasan, pengaturan, dan pemakaian oleh suatu Pencipta Yang Mahabijaksana. Adapun berhembusnya adalah bekerja dengan cepat untuk segera melaksanakan perintah Rabbani.

Kini lihatlah mata air, sungai kecil, dan sungai besar... Memancarnya mereka dari tanah dan gunung bukanlah kebetulan. Sebab, dengan kesaksian manfaat dan buah yang merupakan jejak rahmat yang mengikutinya, dengan ungkapan penyimpanannya di gunung dengan suatu timbangan kebutuhan, dan dengan penunjukan pengirimannya dengan suatu timbangan hikmah, diperlihatkan bahwa: itu terjadi dengan penundukan dan penyimpanan oleh suatu Rabb Yang Mahabijaksana. Adapun memancarnya adalah kepatuhan mereka dengan penuh gairah kepada perintah-Nya.

Kini lihatlah seluruh jenis batu, permata, dan barang tambang di bumi. Bahwa hiasan dan sifat bermanfaatnya terjadi dengan penghiasan, penataan, pengaturan, dan penggambaran suatu Pencipta Yang Mahabijaksana, diperlihatkan oleh penyiapannya dengan cara yang sesuai manfaat penuh hikmah yang berkaitan dengannya, maslahat kehidupan, kebutuhan insani, dan hajat hewani.

Kini lihatlah bunga dan buah! Senyumnya, rasanya, keindahannya, ukirannya, dan pemberian aromanya; diberikan sebagai daftar menu dan kartu undangan dengan warna, aroma, dan rasa yang berbeda-beda bagi setiap jenis di atas hidangan suatu Pencipta Yang Mahamulia, suatu Pemberi Nikmat Yang Maha Penyayang.

Kini lihatlah burung-burung! Dalil pasti bahwa kicau dan cericit mereka adalah penuturan dan pembicaraan oleh suatu Pencipta Yang Mahabijaksana, adalah pertukaran perasaan dan penyampaian maksud di antara mereka dengan suara-suara itu dengan cara yang mengagumkan.

Kini lihatlah awan! Dalil pasti bahwa gemericik hujan bukanlah suara tanpa makna, dan kilat serta guruh bukanlah kegaduhan kosong, adalah: penciptaan keajaiban itu di suatu ruang kosong yang hampa, pemerahan tetesan-tetesan yang berkedudukan sebagai air kehidupan darinya, dan penyusuannya kepada makhluk hidup yang membutuhkan lagi merindukan di permukaan bumi — memperlihatkan bahwa gemericik dan kegaduhan itu sangat bermakna lagi penuh hikmah; bahwa dengan perintah suatu Rabb Yang Mahamulia, hujan itu menyeru kepada yang merindukan, yang bermakna: "Kabar gembira untuk kalian, kami datang!"

Kini lihatlah langit! Di dalam langit, di antara benda-benda yang tak terhingga, perhatikanlah Bulan saja! Bahwa gerakannya terjadi dengan perintah suatu Qadîr Yang Mahabijaksana, adalah hikmah-hikmah penting yang berkaitan dengannya dan berkaitan dengan permukaan bumi, yang kami singkat sebab telah kami jelaskan di tempat lain.

Maka unsur-unsur menyeluruh yang kami sebutkan — mulai dari cahaya hingga Bulan — membuka suatu jendela dalam cara yang sangat luas dan skala yang besar. Mereka memperlihatkan dan mengumumkan ketauhidan, kesempurnaan kudrat, dan keagungan kerajaan suatu Zat Yang Wajibul Wujud.

Maka wahai orang lalai! Jika engkau dapat membungkam suara ini seperti guruh, dan memadamkan cahaya yang cemerlang laksana sinar matahari itu, maka lupakanlah Allah! Jika tidak, sadarkanlah akalmu! Ucapkanlah سُبْحَانَ مَنْ تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوَاتُ السَّبْعُ وَاْلاَرْضُ وَمَنْ ف۪يهِنَّ.

Jendela Kedua Puluh Satu

وَ الشَّمْسُ تَجْر۪ى لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذٰلِكَ تَقْد۪يرُ الْعَز۪يزِ الْعَل۪يمِ

Matahari, yang merupakan lampu alam semesta ini, adalah suatu jendela yang cemerlang lagi bercahaya laksana matahari terhadap wujud dan ketauhidan Pencipta alam semesta. Ya, dua belas planet bersama bumi kita — yang disebut tata surya — sekalipun jasadnya sangat berbeda dari segi besar-kecilnya, kedudukannya sangat berlainan dari segi jauh-dekatnya, dan kecepatan geraknya sangat beragam; gerakan dan peredaran mereka dengan kesempurnaan keteraturan, hikmah, dan timbangan, tanpa keliru sedetik pun, serta keterikatan mereka dengan matahari melalui suatu hukum Ilahi yang disebut hukum gravitasi — yakni pengikutan mereka kepada imamnya — memperlihatkan keagungan kudrat Ilahi dan ketauhidan Rabbani dalam skala yang besar. Sebab kiaskanlah, memutar dan mempekerjakan jasad-jasad beku itu, massa-massa besar tak berkesadaran itu, dalam keteraturan dan timbangan hikmah yang tertinggi, dalam bentuk, jarak, dan gerakan yang berbeda-beda — sampai derajat mana ia membuktikan suatu kudrat dan hikmah. Jika kebetulan bercampur sedikit saja dalam urusan besar lagi berat ini, ia akan menimbulkan suatu ledakan yang akan mencerai-beraikan alam semesta. Sebab jika kebetulan menghentikan salah satunya satu menit saja, ia akan menyebabkannya keluar dari porosnya, membuka jalan bagi tabrakannya dengan yang lain. Engkau dapat mengiaskan betapa dahsyatnya tabrakan dengan jasad yang seribu kali lebih besar dari bumi.

Kami serahkan keajaiban tata surya — yakni dua belas planet yang merupakan makmum dan buah matahari — kepada ilmu Ilahi yang meliputi, dan hanya memandang bumi, planet kita yang di depan mata kita. Kita melihat bahwa: planet kita ini disuruh melakukan suatu perjalanan panjang di sekeliling matahari dengan perintah Rabbani (sebagaimana dijelaskan dalam Surat Ketiga) demi suatu khidmah yang sangat besar, dalam suatu rupa yang memperlihatkan keagungan kemuliaan rububiyah, kemegahan kerajaan uluhiyah, serta kesempurnaan rahmat dan hikmah. Sebagai suatu bahtera Rabbani, ia diisi dengan keajaiban ciptaan Ilahi, dan diberi kedudukan laksana tempat tinggal berjalan, tempat pesiar bagi hamba-hamba Allah yang berkesadaran. Dan Bulan — yang laksana jarum jam yang memberitahukan waktu dan hitungan — dipasang padanya dengan perhitungan halus dan hikmah agung, dan kepada Bulan itu diberi perjalanan tersendiri di tempat-tempat persinggahan lain. Maka keadaan planet kita yang mubarak ini, dengan suatu kesaksian sekuat bola bumi, membuktikan kewajiban wujud dan ketauhidan suatu Qadîr Mutlak. Oleh karena planet kita demikian, engkau dapat mengiaskan tata surya kepadanya.

Lagi pula, memutar matahari — yang laksana kincir dan pemintal untuk menggulung tali-tali maknawi yang disebut gravitasi pada porosnya — dengan perintah suatu Qadîr Dzul-Jalâl, lalu mengikat dan menata planet-planet itu dengan tali-tali maknawi itu, dan menggiring matahari bersama seluruh planetnya — dengan kecepatan yang memangkas jarak lima jam dalam sedetik menurut satu perkiraan — ke arah "Rasi Herkules" atau ke arah Matahari dari segala matahari, sudah pasti terjadi dengan kudrat dan perintah Zat Dzul-Jalâl yang merupakan Sultan azali dan abadi. Seolah untuk memperlihatkan keagungan rububiyah-Nya, Ia melakukan suatu manuver dengan bala tentara tata surya yang berkedudukan sebagai prajurit-prajurit yang siap menerima perintah ini.

Wahai tuan ahli kosmografi! Kebetulan mana yang dapat ikut campur dalam urusan ini? Tangan sebab mana yang dapat menggapainya? Kekuatan mana yang dapat mendekatinya? Ayo katakanlah... Gerangan, adakah suatu Sultan Dzul-Jalâl demikian memperlihatkan ketidakmampuan-Nya lalu membiarkan orang lain ikut campur dalam kerajaan-Nya? Terlebih lagi, apakah Ia menyerahkan makhluk hidup — yang merupakan buah, hasil, tujuan, dan ringkasan alam semesta — kepada tangan lain? Apakah Ia membiarkan yang lain ikut campur? Terlebih lagi, apakah Ia membiarkan manusia — yang merupakan buah paling menyeluruh, hasil paling sempurna, khalifah bumi, dan tamu bercermin Sultan itu — terbengkalai? Dan apakah Ia menyerahkannya kepada natur dan kebetulan, lalu meniadakan keagungan kerajaan-Nya, dan menjatuhkan kesempurnaan hikmah-Nya?

Jendela Kedua Puluh Dua

اَلَمْ نَجْعَلِ اْلاَرْضَ مِهَادًا ❊ وَ الْجِبَالَ اَوْتَادًا ❊ وَخَلَقْنَاكُمْ اَزْوَاجًا ❊ فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

Bola bumi adalah suatu kepala yang memiliki seratus ribu mulut. Setiap mulutnya memiliki seratus ribu lisan. Setiap lisannya memiliki seratus ribu burhan; masing-masing dari banyak sisi bersaksi atas kewajiban wujud, ketauhidan, sifat suci, dan asma husna suatu Zat Dzul-Jalâl Yang Wajibul Wujud, Wâhid Ahad, Mahakuasa atas segala sesuatu, lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. Ya, kita memandang awal penciptaan bumi dan melihat bahwa: dari suatu materi cair yang menjadi zat mengalir, diciptakan batu, dan dari batu diciptakan tanah. Seandainya ia tetap cair, ia tak dapat dihuni. Setelah cairan itu menjadi batu, seandainya ia keras seperti besi, ia tak dapat dimanfaatkan. Sudah pasti yang memberinya keadaan ini adalah hikmah suatu Pencipta Yang Mahabijaksana yang melihat kebutuhan penghuni bumi. Kemudian lapisan tanah dihamparkan di atas tiang gunung, agar gempa yang datang dari gejolak internal di dalamnya bernafas melalui gunung, sehingga tidak menggoyahkan bumi dari gerakan dan tugasnya. Lagi pula agar menyelamatkan tanah dari serbuan laut. Lagi pula agar menjadi gudang bagi kebutuhan hidup makhluk hidup. Lagi pula agar menyaring udara, membersihkannya dari gas berbahaya, sehingga dapat dihirup. Lagi pula agar menghimpun dan menyimpan air. Lagi pula agar menjadi sumber dan penyandar bagi barang tambang lain yang dibutuhkan makhluk hidup.

Maka keadaan ini bersaksi dengan sangat pasti lagi kuat atas kewajiban wujud dan ketauhidan suatu Qadîr Mutlak dan suatu Hakîm Yang Maha Penyayang.

Wahai tuan ahli geografi! Dengan apa engkau menjelaskan ini? Kebetulan mana yang menjadikan bahtera Rabbani yang penuh keajaiban ciptaan ini sebagai suatu pameran keajaiban, memutarnya dengan cepat dalam jarak dua puluh empat ribu tahun dalam setahun, tanpa menjatuhkan satu pun benda yang tersusun di atasnya?

Lagi pula lihatlah seni-seni ajaib di permukaan bumi! Sampai derajat mana unsur-unsur ditugaskan dengan hikmah. Dengan perintah suatu Qadîr Yang Mahabijaksana, betapa indah mereka menjaga para tamu Rahman di permukaan bumi, dan bergegas melayani mereka.

Lagi pula lihatlah garis-garis berukir pada wajah permukaan bumi yang penuh hikmah, ajaib, lagi berwarna-warni di antara seni-seni yang ajaib ini! Betapa Ia menjadikan sungai, anak sungai, laut, gunung, dan bukit sebagai tempat tinggal dan sarana pengangkutan yang layak bagi masing-masing makhluk dan hamba-Nya yang berbeda-beda. Kemudian mengisinya dengan ratusan ribu jenis tumbuhan dan hewan dengan kesempurnaan hikmah dan keteraturan, memberi kehidupan lalu meramaikannya, dari waktu ke waktu mengosongkannya secara teratur dengan kematian, lalu mengisinya kembali secara teratur dalam rupa "kebangkitan setelah kematian"; bersaksi dengan ratusan ribu lisan atas kewajiban wujud dan ketauhidan suatu Qadîr Dzul-Jalâl dan suatu Hakîm Dzul-Kamâl.

Kesimpulannya: bumi — yang wajahnya adalah suatu pameran keajaiban seni, suatu mahsyar bagi makhluk-makhluk ajaib, suatu lintasan bagi kafilah makhluk, serta suatu masjid dan tempat menetap bagi saf-saf hamba — karena berkedudukan sebagai kalbu seluruh alam semesta, memperlihatkan cahaya ketauhidan sebesar alam semesta.

Maka wahai tuan ahli geografi! Jika kepala bumi ini mengenalkan Allah dengan seratus ribu mulut, pada masing-masingnya dengan seratus ribu lisan, dan engkau tak mengenal-Nya, lalu menenggelamkan kepalamu ke rawa natur, pikirkanlah derajat kesalahanmu. Ketahuilah, betapa dahsyat hukuman yang engkau layak menerimanya, sadarlah dan angkatlah kepalamu dari rawa. Ucapkanlah اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ الَّذ۪ى بِيَدِه۪ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ.

Jendela Kedua Puluh Tiga

اَلَّذ۪ى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ Kehidupan adalah yang paling bercahaya dan paling indah dari mukjizat kudrat Rabbani. Dan yang paling kuat serta paling cemerlang dari burhan ketauhidan. Dan yang paling menyeluruh serta paling bening dari cermin manifestasi Samadani. Ya, kehidupan dengan sendirinya memberitahukan suatu Hayy Qayyum dengan seluruh asma dan keadaan-Nya. Sebab kehidupan adalah suatu cahaya, suatu penawar yang berkedudukan sebagai racikan campuran dari banyak sekali sifat. Sebagaimana tujuh warna bercampur di dalam cahaya, dan aneka obat bercampur di dalam penawar. Demikian pula: kehidupan adalah suatu hakikat yang dibuat dari banyak sekali sifat. Sebagian sifat dalam hakikat itu memuai melalui indra lalu terurai dan terpisah. Adapun sebagian besarnya memberi rasa akan dirinya dalam rupa perasaan, dan memberitahukan dirinya dalam rupa pancaran dari kehidupan.

Lagi pula, kehidupan mengandung rezeki, rahmat, inayah, dan hikmah yang berkuasa dalam pengaturan dan pengelolaan alam semesta. Seolah kehidupan menyeret semua itu di belakangnya, menariknya ke tempat yang dimasukinya. Misalnya, pada saat kehidupan masuk ke suatu jasad, ke suatu badan; nama Hakîm pun bermanifestasi, membuat dan menata sarangnya dengan indah penuh hikmah. Pada saat yang sama nama Karim pun bermanifestasi, menata dan menghiasi tempat tinggalnya sesuai kebutuhan. Pada saat yang sama pula terlihat manifestasi nama Rahîm, yang melimpahi kehidupan itu dengan aneka karunia demi kelangsungan dan kesempurnaannya. Pada saat yang sama pula terlihat manifestasi nama Razzaq, yang menyampaikan gizi jasmani dan maknawi yang dibutuhkan bagi kelangsungan dan perkembangan kehidupan itu. Dan sebagian menyimpannya di dalam badan. Berarti kehidupan berkedudukan sebagai suatu titik fokus; aneka sifat saling masuk satu sama lain, bahkan menjadi identik satu sama lain. Seolah kehidupan sepenuhnya adalah ilmu, pada saat yang sama adalah kudrat, pada saat yang sama pula adalah hikmah dan rahmat, dan demikian seterusnya... Maka kehidupan, dengan hakikatnya yang menyeluruh ini, adalah suatu cermin Samadiyah yang mencerminkan keadaan zati Rabbani. Maka dari rahasia inilah: Zat Yang Wajibul Wujud, Yang Hayy Qayyum, menciptakan kehidupan dengan sangat berlimpah, lalu menyebar dan memamerkannya. Dan Ia menghimpun segala sesuatu di sekeliling kehidupan, menjadikannya pelayan bagi kehidupan. Sebab tugas kehidupan besar. Ya, menjadi cermin Samadiyah bukanlah perkara mudah, bukan tugas biasa.

Maka kehidupan-kehidupan baru yang tak terbilang dan tak terhitung yang kita lihat di depan mata setiap waktu, serta ruh-ruh yang merupakan asal dan jauhar kehidupan itu, datang ke wujud dan dikirim secara serta-merta dari ketiadaan — memperlihatkan kewajiban wujud, sifat suci, dan asma husna suatu Zat Yang Wajibul Wujud lagi Hayy Qayyum; laksana kilau yang menunjukkan matahari. Orang yang tak mengenal dan tak menerima matahari, betapa ia terpaksa mengingkari cahaya yang memenuhi siang. Demikian pula: orang yang tak mengenal Matahari Keahadan Yang Hayy Qayyum, Muhyi, lagi Mumit, mesti mengingkari wujud makhluk hidup yang memenuhi permukaan bumi — bahkan masa lampau dan masa depan — dan mesti jatuh seratus derajat di bawah hewan. Ia mesti jatuh dari tingkat kehidupan lalu menjadi orang beku yang jahil lagi tak berpengetahuan.

Jendela Kedua Puluh Empat

لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Kematian adalah suatu burhan rububiyah sebesar kehidupan. Ia suatu hujah ketauhidan yang sangat kuat. Dengan penunjukan اَلَّذ۪ى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ, kematian bukanlah ketiadaan, pemusnahan, kefanaan, kehampaan, atau kepunahan tanpa pelaku; melainkan — sebagaimana diperlihatkan dalam Surat Pertama — ia adalah pembebasan dari khidmah oleh suatu Pelaku Yang Mahabijaksana, perpindahan tempat, pergantian badan, istirahat dari tugas, pembebasan dari penjara badan, dan suatu karya hikmah yang teratur. Ya, sebagaimana ciptaan dan makhluk hidup di permukaan bumi serta permukaan bumi yang hidup bersaksi atas kewajiban wujud dan ketauhidan suatu Pencipta Yang Mahabijaksana. Demikian pula: makhluk-makhluk hidup itu, dengan kematiannya, bersaksi atas kelanggengan dan kewahidan suatu Hayy Baki. Oleh karena dalam Kelimat Kedua Puluh Dua telah dibuktikan dan dijelaskan bahwa kematian adalah suatu burhan ketauhidan yang sangat kuat dan suatu hujah kelanggengan, maka kami serahkan pembahasan ini kepada Kalimat itu dan hanya akan menjelaskan suatu nuktah penting. Yaitu demikian:

Sebagaimana makhluk hidup menunjukkan wujud suatu Yang Wajibul Wujud dengan wujud mereka. Demikian pula: makhluk hidup itu, dengan kematiannya, bersaksi atas kelanggengan dan kewahidan suatu Hayy Baki. Misalnya, permukaan bumi yang merupakan satu makhluk hidup saja, sebagaimana memperlihatkan Penciptanya dengan keteraturan dan keadaannya, demikian pula ketika ia mati — yakni musim dingin menutup wajah bumi yang telah mati itu dengan kafan putihnya — ia memalingkan pandangan manusia darinya. Atau pandangan itu pergi ke masa lampau di belakang jenazah musim semi yang berlalu itu, lalu memperlihatkan suatu pemandangan yang lebih luas. Yakni, karena seluruh musim semi yang lalu — yang memenuhi bumi, masing-masing merupakan mukjizat kudrat — memberi rasa dan bersaksi atas kedatangan makhluk hidup bumi yang memenuhi musim semi, yang masing-masing merupakan keajaiban kudrat dan permukaan bumi yang hidup yang akan datang baru; maka dalam skala yang seluas itu, dalam rupa yang secemerlang itu, pada derajat yang sekuat itu, mereka bersaksi atas kewajiban wujud, ketauhidan, kekekalan, dan kelanggengan suatu Pencipta Dzul-Jalâl, suatu Qadîr Dzul-Kamâl, suatu Qayyum Baki, suatu Matahari Sermedi; dan memperlihatkan dalil-dalil yang begitu cemerlang sehingga, mau tak mau, pada derajat kejelasan, membuat orang mengucapkan اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ الْوَاحِدِ اْلاَحَدِ.

Kesimpulannya: berdasarkan rahasia وَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا; bumi yang hidup ini, sebagaimana bersaksi atas Sang Pencipta pada suatu musim semi, demikian pula dengan kematiannya ia memalingkan pandangan kepada mukjizat kudrat yang tersusun pada dua sayap zaman — masa lampau dan masa depan. Ia memperlihatkan ribuan musim semi sebagai ganti satu musim semi. Ia mengisyaratkan ribuan mukjizat kudrat sebagai ganti satu mukjizat. Dan masing-masing musim semi itu bersaksi lebih pasti daripada musim semi yang hadir ini. Sebab yang telah berlalu ke masa lampau telah pergi bersama sebab-sebab lahiriahnya; di belakang mereka datang yang lain seperti mereka menggantikan tempatnya. Berarti sebab-sebab lahiriah adalah kosong. Ia hanya memperlihatkan bahwa satu Qadîr Dzul-Jalâl menciptakannya, lalu mengirimnya dengan mengikatkannya kepada sebab-sebab dengan hikmah-Nya. Adapun permukaan bumi yang hidup yang tersusun di masa depan, bersaksi lebih cemerlang lagi. Sebab mereka akan dibuat dari yang baru, dari ketiadaan, dari kehampaan, lalu dikirim, diletakkan di bumi, disuruh menunaikan tugas, kemudian dikirim (kembali).

Maka wahai orang lalai yang terperosok ke natur dan hampir tenggelam di rawa! Bagaimana suatu benda yang tak memiliki tangan maknawi penuh hikmah dan kudrat yang menjangkau seluruh masa lampau dan masa depan, dapat ikut campur dalam kehidupan bumi ini? Dapatkah kebetulan dan natur — yang merupakan ketiadaan di dalam ketiadaan sepertimu — ikut campur dalam hal ini? Jika engkau ingin selamat: ucapkanlah "Natur, sejauh-jauhnya, hanyalah suatu buku catatan kudrat Ilahi. Adapun kebetulan hanyalah tabir suatu hikmah Ilahi tersembunyi yang menutupi kejahilan kita," lalu dekatkanlah dirimu kepada hakikat.

Jendela Kedua Puluh Lima

Sebagaimana yang dipukul pasti menunjukkan yang memukul. Suatu karya berseni meniscayakan pembuatnya. Anak meniscayakan bapak. Kebawahan meniscayakan keatasan, dan demikian seterusnya... Sebagaimana sifat-sifat nisbi yang tak dapat tanpa lawannya — yang mereka sebut perkara-perkara idafi — demikian pula kemungkinan (imkan) yang terlihat pada hal-hal parsial dan keseluruhan alam semesta ini pun menunjukkan kewajiban (wujub). Dan keterpengaruhan (infi'al) yang terlihat pada semuanya menunjukkan suatu perbuatan (fi'l). Dan kemakhlukan yang terlihat pada semuanya menunjukkan kepenciptaan. Dan kemajemukan serta penyusunan yang terlihat pada semuanya meniscayakan ketauhidan. Dan kewajiban, perbuatan, kepenciptaan, serta ketauhidan itu, dengan jelas lagi niscaya, menghendaki yang disifatinya — yang bukan mungkin, terpengaruh, majemuk, tersusun, lagi makhluk; melainkan Yang Wajib, Pelaku, Wâhid, lagi Pencipta. Kalau demikian, dengan jelas seluruh kemungkinan, seluruh keterpengaruhan, seluruh kemakhlukan, dan seluruh kemajemukan serta penyusunan di alam semesta bersaksi atas suatu Zat Yang Wajibul Wujud, Maha Berbuat sesuai kehendak-Nya, Pencipta segala sesuatu, lagi Wâhid Ahad.

Kesimpulannya: Sebagaimana dari kemungkinan terlihat kewajiban, dari keterpengaruhan terlihat perbuatan, dan dari kemajemukan terlihat ketauhidan; wujud semua ini secara pasti menunjukkan wujud yang itu. Demikian pula: sifat-sifat seperti kemakhlukan dan keterezekian yang terlihat pada makhluk pun secara pasti menunjukkan wujud keadaan seperti kepenciptaan dan pemberian rezeki. Dan wujud sifat-sifat ini pun, dengan niscaya lagi jelas, menunjukkan wujud suatu Pencipta Yang Maha Penyayang, Maha Pencipta, lagi Maha Pemberi Rezeki. Berarti setiap makhluk, dengan lisan ratusan sifat semacam ini yang diembannya, bersaksi atas ratusan asma husna Zat Yang Wajibul Wujud. Jika kesaksian ini tak diterima, maka mesti mengingkari seluruh sifat semacam ini pada makhluk...

Jendela Kedua Puluh Enam

{(Catatan kaki): Jendela ini tidak umum. Ia memiliki kekhususan bagi ahli kalbu dan ahli kecintaan.} Keindahan dan keelokan yang diperbarui serta datang dan berlalu di wajah makhluk-makhluk alam semesta ini; memperlihatkan bahwa mereka adalah sejenis bayangan dari manifestasi suatu Keindahan Sermedi. Ya, sebagaimana bersinar dan berlalunya gelembung-gelembung di permukaan sungai, lalu bersinarnya yang datang kemudian seperti yang telah berlalu, memperlihatkan bahwa mereka adalah cermin bagi sinar suatu matahari yang abadi; demikian pula, kilau-kilau keindahan yang bersinar di atas makhluk-makhluk yang mengalir di sungai zaman yang mengalir, juga mengisyaratkan kepada suatu keindahan sermedi dan merupakan sejenis tandanya. Lagi pula, asyik yang sungguh-sungguh di kalbu alam semesta memperlihatkan suatu Yang Dicintai Yang Tak Pernah Sirna. Ya, dengan penunjukan bahwa sesuatu yang tak ada dalam hakikat suatu pohon tak akan ada secara mendasar dalam buahnya; asyik lahut yang sungguh-sungguh pada jenis manusia — yang merupakan buah peka dari pohon alam semesta — memperlihatkan bahwa di seluruh alam semesta — namun dalam bentuk yang berbeda — terdapat asyik dan kecintaan yang sejati. Kalau demikian, kecintaan dan asyik sejati di kalbu alam semesta ini memperlihatkan suatu Kekasih Azali. Lagi pula, tarikan, gejolak, dan daya tarik yang tampak dalam banyak rupa di dada alam semesta; memperlihatkan kepada kalbu-kalbu yang terjaga bahwa itu terjadi dengan tarikan suatu hakikat memikat yang azali. Lagi pula, dengan kesepakatan ahli kasyaf dan kewalian — yang merupakan golongan makhluk paling peka lagi bercahaya — dengan bersandar pada rasa dan penyaksian, mereka memberitakan secara sepakat bahwa mereka memperoleh manifestasi dan penampakan suatu Jamîl Dzul-Jalâl, dan dengan rasa mengetahui pengenalan serta penjadian diri Sang Jalîl Dzul-Jamâl itu dicintai — juga bersaksi secara pasti atas wujud suatu Zat Yang Wajibul Wujud, suatu Jamîl Dzul-Jalâl, dan pengenalan diri-Nya kepada manusia. Lagi pula, pena penghias dan pengindah yang bekerja di wajah alam semesta dan di atas makhluk; dengan jelas memperlihatkan keindahan asma Zat pemilik pena itu.

Maka keindahan di wajah alam semesta, asyik di kalbunya, tarikan di dadanya, kasyaf dan penyaksian di matanya, serta keelokan dan hiasan pada bentuknya; membuka suatu jendela yang sangat halus lagi bercahaya. Dengannya ia memperlihatkan suatu Jamîl Dzul-Jalâl yang seluruh asma-Nya indah, suatu Kekasih Yang Tak Pernah Sirna, dan suatu Ma'bûd Yang Tak Pernah Lenyap, kepada akal dan kalbu yang terjaga. Maka wahai orang lalai yang meronta di dalam kegelapan kebendaan, kegelapan wahm, dan keraguan yang mencekik! Sadarkanlah dirimu. Naiklah dalam rupa yang layak bagi kemanusiaan. Pandanglah dengan empat lubang ini; lihatlah keindahan ketauhidan, raihlah kesempurnaan iman, jadilah manusia yang sejati!..

Jendela Kedua Puluh Tujuh

اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَك۪يلٌ

Kita memandang benda-benda yang tampak sebagai "sebab dan akibat" di alam semesta dan melihat bahwa: suatu sebab yang paling tinggi pun kekuatannya tak sampai kepada suatu akibat yang paling hina. Berarti sebab adalah suatu tabir, yang membuat akibat adalah yang lain. Misalnya; sebagai contoh parsial saja dari ciptaan yang tak terhingga, kita memandang daya ingat yang ditempatkan di suatu tempat sekecil biji sawi di dalam kepala manusia. Kita melihat bahwa: ia berkedudukan sebagai suatu kitab yang menyeluruh, bahkan suatu perpustakaan, yang di dalamnya seluruh riwayat hidup ditulis tanpa tercampur.

Gerangan, sebab mana yang dapat ditunjukkan bagi mukjizat kudrat ini? Lipatan-lipatan otak? Partikel sel yang sederhana lagi tak berkesadaran? Angin kebetulan? Padahal mukjizat seni itu hanya dapat menjadi seni suatu Zat sedemikian rupa; suatu Pencipta Yang Mahabijaksana yang — untuk memberitahukan bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia telah ditulis dan akan diingatkan pada saat perhitungan dari buku amal besar yang akan disebar pada hari kebangkitan — menyalin, menulis, lalu menyerahkan suatu sertifikat kecil ke tangan akalnya.

Maka sebagai contoh bagi daya ingat manusia, kiaskanlah seluruh telur, biji, dan benih, dan kiaskanlah pula akibat-akibat lain kepada mukjizat-mukjizat kecil yang menyeluruh ini. Sebab akibat dan ciptaan mana pun yang engkau pandang, terdapat suatu seni yang begitu luar biasa sehingga, jangankan sebabnya yang hina lagi sederhana, bahkan seandainya seluruh sebab berhimpun, mereka akan memperlihatkan ketidakmampuan di hadapannya. Misalnya: seandainya matahari — yang dianggap suatu sebab besar — diandaikan berkehendak lagi berkesadaran, lalu dikatakan kepadanya: "Dapatkah engkau membuat wujud seekor lalat?" Sudah pasti ia akan berkata: "Dengan karunia Penciptaku, di kedaiku ada banyak cahaya, warna, dan panas. Akan tetapi pada wujud seekor lalat terdapat mata, telinga, kehidupan, dan hal-hal yang tak ada di kedaiku dan tak berada dalam kemampuanku."

Dan sebagaimana seni dan hiasan luar biasa pada akibat memecat sebab dan mengisyaratkan kepada Yang Wajibul Wujud, Penyebab dari segala sebab, berdasarkan rahasia وَ اِلَيْهِ يُرْجَعُ اْلاَمْرُ كُلُّهُ: menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Demikian pula: hasil, tujuan, dan manfaat yang tergantung pada akibat; dengan jelas memperlihatkan bahwa itu adalah pekerjaan suatu Rabb Yang Mahamulia, suatu Hakîm Yang Maha Penyayang, di balik tabir sebab. Sebab sebab yang tak berkesadaran, sudah pasti tak dapat memikirkan suatu tujuan lalu bekerja. Padahal kita melihat: setiap makhluk yang datang ke wujud, datang dengan mengejar bukan satu tujuan, melainkan banyak tujuan, banyak manfaat, dan banyak hikmah. Berarti suatu Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahamulia membuat dan mengirim benda-benda itu. Ia menjadikan manfaat-manfaat itu sebagai tujuan wujud mereka. Misalnya, hujan datang. Telah maklum betapa jauhnya sebab-sebab yang secara lahiriah menghasilkan hujan dari memikirkan hewan, mengasihani, dan menyayangi mereka. Berarti ia dikirim sebagai pertolongan dengan hikmah suatu Pencipta Yang Maha Penyayang yang menciptakan hewan dan menjamin rezeki mereka. Bahkan hujan disebut "rahmat." Sebab karena ia mengandung banyak jejak rahmat dan manfaat, seolah rahmat menjelma dalam bentuk hujan, menetes, datang tetes demi tetes.

Lagi pula, hiasan dan penampakan pada seluruh tumbuhan dan hewan berhias yang tersenyum ke wajah seluruh makhluk, dengan jelas menunjukkan kewajiban wujud dan ketauhidan suatu Zat Dzul-Jalâl yang ingin mengenalkan, menjadikan diri-Nya dicintai, dan memberitahukan diri-Nya dengan seni-seni indah lagi berhias ini di balik tabir gaib. Berarti keadaan berhias dan penampakan pada benda-benda, secara pasti menunjukkan sifat menjadikan diri dikenal dan dicintai. Adapun sifat menjadikan diri dicintai dan dikenal itu, dengan jelas bersaksi atas kewajiban wujud dan ketauhidan suatu Pencipta Yang Mahakuasa, Maha Pengasih, lagi Maha Dikenal.

Kesimpulannya: Oleh karena sebab sangat hina lagi lemah, sedangkan akibat yang disandarkan kepadanya sangat berseni lagi berharga, maka ia memecat sebab. Lagi pula tujuan dan manfaat akibat pun membuang sebab-sebab yang jahil lagi beku ke samping, dan menyerahkannya ke tangan suatu Pencipta Yang Mahabijaksana. Lagi pula hiasan dan kemahiran pada wajah akibat mengisyaratkan kepada suatu Pencipta Yang Mahabijaksana yang ingin memberitahukan kudrat-Nya kepada makhluk berkesadaran dan ingin menjadikan diri-Nya dicintai.

Wahai penyembah sebab yang malang! Dengan apa engkau dapat menjelaskan tiga hakikat penting ini? Bagaimana engkau dapat menipu dirimu sendiri? Jika engkau berakal, robeklah tabir sebab. Ucapkanlah "Wahdahu lâ syarîka lah," lepaskanlah dirimu dari wahm yang tak terhingga.

Jendela Kedua Puluh Delapan

وَمِنْ اٰيَاتِه۪ خَلْقُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَ اَلْوَانِكُمْ اِنَّ ف۪ى ذٰلِكَ َلاٰيَاتٍ لِلْعَالِم۪ينَ

Kita memandang alam semesta ini dan melihat bahwa: mulai dari sel tubuh hingga keseluruhan alam, terdapat suatu hikmah dan penataan yang mencakup. Kita memandang sel tubuh dan melihat bahwa: dengan perintah dan undang-undang seseorang yang melihat dan mengatur maslahat tubuh, terdapat suatu pengaturan penting pada sel-sel kecil itu. Sebagaimana sebagian rezeki disimpan di lambung dalam bentuk lemak lalu digunakan pada saat kebutuhan. Persis demikian pula pada sel-sel kecil itu terdapat tasarruf dan penyimpanan itu. Kita memandang tumbuhan, terlihat suatu pendidikan dan pengaturan yang sangat penuh hikmah. Kita memandang hewan; kita melihat suatu pendidikan dan pemberian makan yang sangat mulia. Kita memandang rukun-rukun agung alam semesta; kita melihat suatu pengelolaan dan penerangan yang megah demi tujuan-tujuan penting. Kita memandang keseluruhan alam; kita melihat suatu penataan sempurna demi hikmah-hikmah tinggi dan tujuan-tujuan mahal, laksana suatu negeri, kota, dan istana yang teratur. (Sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam Perhentian Pertama Kelimat Ketiga Puluh Dua) mulai dari partikel hingga bintang, tak menyisakan tempat bagi kesyirikan sedikit pun. Mereka sedemikian bertautan secara maknawi satu sama lain, sehingga siapa yang tak menundukkan dan menggenggam seluruh bintang dalam genggamannya, tak dapat menyuruh satu partikel mendengarkan rububiyahnya. Untuk menjadi Rabb sejati bagi satu partikel, mesti memiliki seluruh bintang. Lagi pula (sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam Perhentian Kedua Kelimat Ketiga Puluh Dua) siapa yang tak mampu menciptakan dan menata langit, tak dapat membuat keindividuan pada wajah manusia. Berarti siapa yang bukan Rabb seluruh langit, tak dapat membuat ukiran wajah yang merupakan tanda pembeda pada wajah satu manusia. Maka suatu jendela sebesar alam semesta; yang jika dipandang dengannya, ayat اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَك۪يلٌ ❊ لَهُ مَقَال۪يدُ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ akan terlihat pula dengan mata akal tertulis dengan huruf besar di lembaran-lembaran alam semesta. Kalau demikian: yang tak melihatnya, entah tak berakal, entah tak berkalbu, atau seekor hewan dalam rupa manusia!

Jendela Kedua Puluh Sembilan

وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪

Pada suatu musim semi, aku bepergian dalam keadaan asing lagi merenung. Ketika melewati kaki sebuah bukit kecil, sekuntum bunga kuning yang cemerlang menarik pandanganku. Ia mengingatkanku pada bunga kuning sejenis yang dulu kulihat di tanah airku dan negeri-negeri lain. Suatu makna datang ke kalbu demikian: Bunga ini, milik siapa turrah-nya, cap-nya, stempel-nya, dan ukiran-nya; sudah pasti seluruh bunga jenis itu di permukaan bumi adalah stempel, cap, dan mühr-nya. Setelah pengkhayalan stempel ini, datang suatu penggambaran demikian: Sebagaimana sepucuk surat yang dicap dengan sebuah stempel; stempel itu memperlihatkan pemilik surat itu. Demikian pula; bunga ini adalah suatu stempel Rahmani. Bukit kecil ini pun — yang ditulis dengan aneka ukiran dan baris tumbuhan bermakna — adalah surat Pencipta bunga ini. Lagi pula bukit kecil ini pun adalah sebuah stempel. Padang dan lembah ini mengambil bentuk sepucuk surat Rahmani. Dari penggambaran ini datang suatu hakikat ke benak demikian: Setiap sesuatu, yang berkedudukan sebagai suatu stempel Rabbani, menyandarkan seluruh benda kepada Penciptanya. Ia membuktikan bahwa ia adalah surat penulisnya. Maka setiap sesuatu adalah suatu jendela tauhid sedemikian rupa, yang menjadikan seluruh benda milik satu Wâhid Ahad. Berarti pada setiap sesuatu, terutama pada makhluk hidup, terdapat suatu ukiran yang begitu luar biasa, suatu seni yang begitu mukjizat, sehingga yang membuatnya demikian dan mengukirnya sedemikian bermakna, dapat membuat seluruh benda; dan yang membuat seluruh benda, sudah pasti Dialah yang akan membuatnya. Berarti yang tak dapat membuat seluruh benda, tak dapat menciptakan satu benda saja.

Maka wahai orang lalai! Pandanglah wajah alam semesta ini: lembaran-lembaran makhluk yang berkedudukan sebagai surat-surat Samadani yang tak terhingga, saling menyatu satu sama lain, dan setiap surat dicap dengan stempel tauhid yang tak terhingga. Siapa yang dapat mendustakan kesaksian seluruh stempel ini? Kekuatan mana yang dapat membungkam mereka? Yang mana pun engkau dengar dengan telinga kalbu, engkau akan mendengarnya mengucapkan اَشْهَدُ اَنْ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ.

Jendela Ketiga Puluh

لَوْ كَانَ ف۪يهِمَٓا اٰلِهَةٌ اِلاَّ اللّٰهُ لَفَسَدَتَا ❊ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Jendela ini adalah jendela seluruh ahli kalam yang berdasar pada kemungkinan (imkan) dan kebaruan (hudus), dan jalan raya mereka menuju penetapan Yang Wajibul Wujud. Kami serahkan perinciannya kepada kitab-kitab besar para muhakik seperti "Syarhul Mawaqif" dan "Syarhul Maqasid," dan hanya akan memperlihatkan satu dua sinar yang datang ke ruh dari limpahan Al-Qur'an dan dari jendela ini. Yaitu demikian:

Tuntutan keamiran dan kekuasaan adalah: tak menerima pesaing, menolak sekutu, dan menyingkirkan campur tangan. Karena itulah, seandainya di sebuah desa kecil terdapat dua kepala desa, mereka akan merusak ketenangan dan ketertiban desa. Seandainya di sebuah kecamatan terdapat dua camat, di sebuah provinsi dua gubernur, mereka akan menimbulkan kekacauan. Seandainya di sebuah negeri terdapat dua raja, mereka akan menyebabkan kekacauan yang penuh badai. Oleh karena bayangan lemah dari bayangan kekuasaan dan keamiran, serta contoh parsialnya, pada manusia lemah yang membutuhkan bantuan pun tak menerima campur tangan pesaing, lawan, dan sesamanya demikian; gerangan, kiaskanlah sampai derajat mana hukum penolakan campur tangan itu berlaku secara mendasar pada suatu Qadîr Mutlak — yaitu kekuasaan dalam rupa kerajaan mutlak dan keamiran pada derajat rububiyah. Berarti keharusan uluhiyah dan rububiyah yang paling pasti lagi tetap adalah: ketauhidan dan ketunggalan. Suatu burhan yang terang dan saksi yang pasti bagi hal ini adalah keteraturan yang paling sempurna dan keselarasan yang paling indah di alam semesta. Mulai dari sayap seekor lalat hingga pelita-pelita langit, terdapat suatu tatanan sedemikian rupa sehingga akal, di hadapannya, karena terpana dan mengagumi, berkata "Subhanallah, masyaallah, barakallah," lalu bersujud. Seandainya ada tempat bagi sekutu sebesar partikel, seandainya ada campur tangannya, dengan penunjukan ayat mulia لَوْ كَانَ ف۪يهِمَٓا اٰلِهَةٌ اِلاَّ اللّٰهُ لَفَسَدَتَا: tatanan akan rusak, rupa akan berubah, jejak kerusakan akan terlihat. Padahal dengan penunjukan فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُورٍ ❊ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَ هُوَ حَس۪يرٌ dan dengan ungkapan ini, pandangan manusia — betapa pun ia berjuang mencari cacat — tak menemukan cacat di mana pun, lalu datang dengan lelah kepada matanya yang merupakan tempat singgahnya, dan berkata kepada akal pengkritik yang mengirimnya: "Aku lelah sia-sia, tak ada cacat" — dengan itu ia memperlihatkan bahwa: tatanan dan keteraturan sangatlah sempurna. Berarti keteraturan alam semesta adalah saksi pasti ketauhidan.

Sekarang marilah kita ke "kebaruan" (hudus). Para ahli kalam berkata:

"Alam berubah-ubah. Setiap yang berubah adalah baru. Setiap yang baru memiliki pembaru, yakni pengada. Kalau demikian, alam semesta ini memiliki pengada yang qadim."

Kami pun berkata: Ya, alam semesta adalah baru. Sebab kita melihat: pada setiap abad, bahkan setiap tahun, bahkan setiap musim, satu alam semesta, satu alam berlalu, dan yang lain datang. Berarti ada satu Qadîr Dzul-Jalâl yang menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan, setiap tahun, bahkan setiap musim, bahkan setiap hari menciptakan salah satunya, memperlihatkannya kepada makhluk berkesadaran, kemudian mengambilnya, membawa yang lain. Ia menyematkan satu demi satu, secara berantai, pada pita zaman. Sudah pasti alam-alam semesta baru yang berkedudukan seperti alam ini pada setiap musim semi — yang datang dan pergi dari ketiadaan di depan mata kita — adalah mukjizat kudrat suatu Zat Yang Mahakuasa yang menciptakannya. Sudah pasti Zat yang senantiasa menciptakan dan mengganti alam-alam di dalam alam, pastilah Dia pula yang menciptakan alam ini. Dan Ia menjadikan alam ini dan permukaan bumi sebagai penginapan bagi para tamu besar itu.

Marilah kita ke pembahasan "kemungkinan" (imkan). Para ahli kalam berkata:

Kemungkinan adalah kesetaraan dua sisi. Yakni: jika ketiadaan dan wujud, keduanya setara; maka dibutuhkan suatu penentu, pemberi tarjih, dan pengada. Sebab makhluk mungkin tak dapat saling mengadakan lalu berantai. Atau ini mengadakan itu, dan itu mengadakan ini, dalam rupa lingkaran, pun tak dapat. Kalau demikian, ada suatu Yang Wajibul Wujud yang mengadakan semua ini. Lingkaran (daur) dan rantai (tasalsul), mereka batalkan dengan dua belas burhan pasti yang masyhur — yang dinamai dengan nama seperti "arsyi" dan "süllemi" — dan menunjukkan rantai itu mustahil. Mereka memutus rangkaian sebab, lalu membuktikan wujud Yang Wajibul Wujud.

Kami pun berkata: Daripada memutus sebab-sebab di ujung alam dengan burhan-burhan rantai, memperlihatkan cap khusus milik Pencipta segala sesuatu pada setiap benda adalah lebih pasti, lebih mudah. Dengan limpahan Al-Qur'an, seluruh Jendela dan seluruh Kalimat berjalan di atas asas itu. Bersama itu, titik kemungkinan memiliki keluasan yang tak terhingga. Dengan sisi-sisi yang tak terhingga ia memperlihatkan wujud Yang Wajibul Wujud. Ia tak terbatas pada jalan pemutusan rantai para ahli kalam (yang sungguh merupakan jalan raya yang luas lagi besar itu). Melainkan dengan jalan-jalan yang tak terhitung, ia membuka jalan menuju makrifat Yang Wajibul Wujud. Yaitu demikian:

Setiap benda, dalam wujudnya, sifatnya, dan masa kelangsungannya, tatkala berada dalam kemungkinan yang tak terhingga — yakni di tengah banyak sekali jalan dan sisi — kita melihat bahwa: di antara sisi-sisi tak terhingga itu, ia menempuh suatu jalan yang teratur dalam wujud. Setiap sifat pun diberikan kepadanya dengan cara khusus. Seluruh sifat dan keadaan yang diganti selama masa kelangsungannya pun diberikan dengan suatu pengkhususan demikian. Berarti dengan iradah suatu penentu, tarjih suatu pentarjih, dan penciptaan suatu pengada Yang Mahabijaksana-lah, di antara jalan yang tak terhingga, Ia menggiringnya di suatu jalan penuh hikmah, dan mengenakan kepadanya sifat serta keadaan yang teratur.

Kemudian, dengan mengeluarkannya dari ketunggalan dan menjadikannya bagian dari suatu jasad tersusun, kemungkinan bertambah. Sebab pada jasad itu ia dapat berada dalam ribuan cara. Padahal di antara keadaan-keadaan tanpa hasil itu, diberikan kepadanya suatu keadaan khusus yang berhasil, yang disuruh menunaikan hasil-hasil penting, manfaat, dan tugas pada jasad itu. Kemudian jasad itu pun dijadikan bagian dari jasad lain. Kemungkinan bertambah lagi. Sebab ia dapat berada dalam ribuan cara. Maka di antara ribuan cara itu, diberikan satu keadaan. Dengan keadaan itu ia disuruh menunaikan tugas-tugas penting, dan demikian seterusnya... Kian lama ia kian pasti memperlihatkan kewajiban wujud suatu Hakîm Yang Maha Mengatur. Ia memberitahukan bahwa ia digiring dengan perintah suatu Amir Yang Maha Mengetahui.

Jasad di dalam jasad, saling menjadi bagian dalam seluruh susunan ini; sebagaimana seorang prajurit memiliki suatu tugas khusus, hubungan penuh hikmah, dan khidmah teratur bagi masing-masing kesatuan yang saling termuat — regu, kompi, batalyon, resimen, divisi, dan pasukannya. Dan sebagaimana sebuah sel dari biji matamu memiliki suatu hubungan dan tugas pada matamu. Ia pun memiliki suatu tugas dan khidmah penuh hikmah terhadap keseluruhan kepalamu. Jika ia keliru sebesar partikel, kesehatan dan pengaturan tubuh akan rusak. Ia memiliki suatu tugas khusus dan kedudukan penuh hikmah terhadap pembuluh darah, saraf rasa dan gerak, bahkan terhadap keseluruhan tubuh. Di antara ribuan kemungkinan, keadaan tertentu itu diberikan dengan hikmah suatu Pencipta Yang Mahabijaksana.

Demikian pula: makhluk-makhluk di alam semesta ini, masing-masing dengan zat dan sifatnya, di tengah banyak jalan kemungkinan, sebagaimana bersaksi atas suatu Yang Wajibul Wujud dengan suatu wujud khusus, rupa penuh hikmah, dan sifat bermanfaat. Demikian pula: pada saat mereka masuk ke dalam susunan, setiap susunan mengumumkan Penciptanya dengan lisan yang lain lagi. Kian lama, hingga ke susunan yang paling besar, dari segi hubungan, tugas, dan khidmahnya, ia bersaksi atas kewajiban wujud, ikhtiar, dan iradah Sang Pencipta Yang Mahabijaksana. Sebab yang menempatkan suatu benda dengan memelihara hubungan penuh hikmah terhadap seluruh susunan, dapat menjadi Pencipta seluruh susunan itu. Berarti satu benda saja berkedudukan bersaksi atas-Nya dengan ribuan lisan. Maka bukan hanya sebanyak bilangan makhluk alam semesta, melainkan sebanyak bilangan sifat dan susunan makhluk, datang kesaksian terhadap wujud Yang Wajibul Wujud dari titik kemungkinan pula.

Maka wahai orang lalai! Tak mendengar kesaksian dan suara-suara yang memenuhi alam semesta ini.. sampai derajat mana mesti menjadi tuli dan tak berakal? Ayo katakanlah...

Jendela Ketiga Puluh Satu

لَقَدْ خَلَقْنَا اْلاِنْسَانَ ف۪ٓى اَحْسَنِ تَقْو۪يمٍ ❊ وَ فِى اْلاَرْضِ اٰيَاتٌ لِلْمُوقِن۪ينَ ❊ وَ ف۪ٓى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُونَ

Jendela ini adalah jendela manusia dan bersifat internal (anfusi). Dan dari sisi internal, kami serahkan perincian jendela ini kepada kitab-kitab terperinci ribuan wali muhakik, dan hanya mengisyaratkan beberapa asas yang kami ambil dari limpahan Al-Qur'an. Yaitu demikian:

Sebagaimana dijelaskan dalam Kelimat Kesebelas: "Manusia adalah suatu salinan menyeluruh sedemikian rupa, sehingga Allah memberi rasa akan seluruh asma-Nya kepada manusia melalui diri manusia sendiri." Kami serahkan perinciannya kepada Kalimat lain, dan hanya akan memperlihatkan tiga poin.