ISYARAT KESEMBILAN
Kelimat · hlm. 623
Hasil dari iman dan kecintaan kepada Allah: dengan kesepakatan ahli kasyaf dan tahkik, kehidupan surga — yang seribu tahun kehidupan bahagia dunia tak sebanding dengan satu jamnya — dan penyaksian serta pemandangan Dzat Dzul-Jalâl, pemilik keindahan dan kesempurnaan yang suci lagi tersucikan, yang seribu tahun kehidupan surga pun tak sebanding dengan satu jam penyaksiannya; {(Catatan kaki): Dengan nas hadis, "Penyaksian itu demikian jauh mengatasi seluruh kelezatan surga, sehingga membuatnya terlupakan. Dan setelah penyaksian, keindahan ahli penyaksian bertambah sedemikian rupa, sehingga tatkala mereka kembali, keluarga mereka di istana hanya dapat mengenali mereka dengan susah payah setelah memandang dengan saksama." — demikian tersebut dalam hadis.} tetap dengan hadis yang pasti dan nas Al-Qur'an. Kerinduan penuh dambaan untuk memandang seorang yang masyhur dengan kesempurnaan megah seperti Nabi Sulaiman 'alaihissalam, dan kerinduan penuh dambaan untuk menyaksikan seorang yang istimewa dengan keindahan seperti Nabi Yusuf 'alaihissalam, dirasakan setiap orang secara nurani. Gerangan, engkau dapat mengiaskan betapa didambakan lagi mengundang kerinduan pemandangan sebuah Dzat, yang seluruh kebaikan dan kesempurnaan surga — yang beribu derajat lebih tinggi daripada seluruh kebaikan dan kesempurnaan dunia — hanyalah sekilau keindahan dan kesempurnaan-Nya…
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا فِى الدُّنْيَا حُبَّكَ وَ حُبَّ مَا يُقَرِّبُنَا اِلَيْكَ وَ اْلاِسْتِقَامَةَ كَمَا اَمَرْتَ وَ فِى اْلاٰخِرَةِ رَحْمَتَكَ وَ رُؤْيَتَكَسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مَنْ اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَم۪ينَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ اَجْمَع۪ينَ اٰم۪ينَ
PERINGATAN
Janganlah engkau memandang panjang uraian di akhir kalimat ini; dibanding urgensinya ia justru ringkas, ia menuntut yang lebih panjang.
Yang berbicara di seluruh Kumpulan Kalimat bukanlah aku. Melainkan ia adalah hakikat atas nama isyarat Al-Qur'an. Adapun hakikat berkata dengan haq, berucap dengan benar. Jika engkau melihat sesuatu yang salah, ketahuilah dengan pasti bahwa tanpa kusadari, pikiranku telah bercampur, mengacaukan, dan membuatnya keliru.
MUNAJAT
Ya Rabb! Sebagaimana seseorang yang mengetuk pintu sebuah istana besar, tatkala pintu itu tak terbuka, ia mengetuk pintu istana itu dengan suara seorang yang diterima lagi dikenal di istana itu; supaya pintu terbuka baginya. Demikian pula, aku yang malang ini pun mengetuk pintu rahmat-Mu dengan seruan dan munajat hamba-Mu yang dicintai, Uwais al-Qarani, demikian: sebagaimana Engkau membuka pintu-Mu baginya, bukakanlah pula bagiku dengan rahmat-Mu.
اَقُولُ كَمَا قَالَاِلٰه۪ٓى اَنْتَ رَبّ۪ى وَ اَنَا الْعَبْدُ ❊ وَ اَنْتَ الْخَالِقُ وَ اَنَا الْمَخْلُوقُوَ اَنْتَ الرَّزَّاقُ وَ اَنَا الْمَرْزُوقُ ❊ وَ اَنْتَ الْمَالِكُ وَ اَنَا الْمَمْلُوكُوَ اَنْتَ الْعَز۪يزُ وَ اَنَا الذَّل۪يلُ ❊ وَ اَنْتَ الْغَنِىُّ وَ اَنَا الْفَق۪يرُوَ اَنْتَ الْحَىُّ وَ اَنَا الْمَيِّتُ ❊ وَ اَنْتَ الْبَاق۪ى وَ اَنَا الْفَان۪ىوَ اَنْتَ الْكَر۪يمُ وَ اَنَا اللَّئ۪يمُ ❊ وَ اَنْتَ الْمُحْسِنُ وَ اَنَا الْمُس۪ٓىءُوَ اَنْتَ الْغَفُورُ وَ اَنَا الْمُذْنِبُ ❊ وَ اَنْتَ الْعَظ۪يمُ وَ اَنَا الْحَق۪يرُاَنْتَ الْقَوِىُّ وَ اَنَا الضَّع۪يفُ ❊ وَ اَنْتَ الْمُعْطِى وَ اَنَا السَّٓائِلُوَ اَنْتَ اْلاَم۪ينُ وَ اَنَا الْخَٓائِفُ ❊ وَ اَنْتَ الْجَوَّادُ وَ اَنَا الْمِسْك۪ينُوَ اَنْتَ الْمُج۪يبُ وَ اَنَا الدَّاع۪ى ❊ وَ اَنْتَ الشَّاف۪ى وَ اَنَا الْمَر۪يضُفَاغْفِرْل۪ى ذُنُوب۪ى وَ تَجَاوَزْ عَنّ۪ى وَ اشْفِ اَمْرَاض۪ى يَا اَللّٰهُ يَا كَاف۪ىيَا رَبُّ يَا وَاف۪ى ❊ يَا رَح۪يمُ يَا شَاف۪ى ❊ يَا كَر۪يمُ يَا مُعَاف۪ىفَاعْفُ عَنّ۪ى مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَ عَافِن۪ى مِنْ كُلِّ دَٓاءٍ وَارْضَ عَنّ۪ى اَبَدًا بِرَحْمَتِكَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَوَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ