Risale-i NurKelimat

POIN KETIGA

Kelimat · hlm. 665

Kehidupan memiliki suatu hakikat yang sangat penting dan suatu tugas yang berbobot. Akan tetapi, oleh karena pembahasan itu telah dirinci dalam Jendela Kehidupan dan dalam Kata Kedelapan Surat Kedua Puluh, kami serahkan kepadanya dan hanya memperingatkan ini bahwa:

Ukiran-ukiran bercampur yang berpancar dalam rupa perasaan di dalam kehidupan; mengisyaratkan kepada banyak sekali asma dan keadaan zati. Ia mencerminkan keadaan zati Sang Hayy Qayyum dengan cara yang sangat cemerlang. Oleh karena waktu untuk menjelaskan rahasia ini kepada mereka yang tak mengenal Allah dan yang belum sepenuhnya membenarkan belum tiba, maka kami tutup pintunya...

Jendela Ketiga Puluh Dua

هُوَ الَّذ۪ٓى اَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدٰى وَد۪ينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدّ۪ينِ كُلِّه۪ وَ كَفٰى بِاللّٰهِ شَه۪يدًا ❊ قُلْ يَٓا اَيُّهَا النَّاسُ اِنّ۪ى رَسُولُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيعًا ۨالَّذ۪ى لَهُ مُلْكُ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ

Jendela ini adalah jendela Baginda Muhammad Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم — yang merupakan matahari langit kerasulan, bahkan matahari dari segala matahari. Oleh karena betapa bercahaya dan nyatanya jendela yang sangat cemerlang, sangat besar, lagi sangat bercahaya ini telah dibuktikan dalam Risalah Mikraj yang merupakan Kelimat Ketiga Puluh Satu, dalam Risalah Kenabian Ahmadiyah (Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم) yang merupakan Kelimat Kesembilan Belas, dan dalam Surat Kesembilan Belas yang bertanda sembilan belas isyarat; maka pikirkanlah kedua Kalimat itu, Surat itu, dan Isyarat Kesembilan Belas Surat itu di maqam ini, serahkanlah pembahasan kepadanya, dan kami hanya berkata:

Zat Ahmadiyah Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم — yang merupakan suatu burhan berbicara bagi tauhid — dengan dua sayap kerasulan dan kewalian, yakni dengan suatu kekuatan yang mengandung ijmak seluruh nabi sebelumnya secara mutawatir dan tawatur penuh ijmak seluruh wali dan asfiya sesudahnya, sepanjang hidupnya dengan segenap kekuatannya telah memperlihatkan dan mengumumkan ketauhidan. Dan Ia telah membuka suatu jendela yang luas, cemerlang, lagi bercahaya laksana Alam Keislaman, menuju makrifatullah. Jutaan muhakik asfiya dan siddiqin seperti Imam Ghazali, Imam Rabbani, Muhyiddin al-Arabi, dan Abdul Qadir al-Jailani memandang dari jendela itu, lalu memperlihatkannya pula kepada yang lain. Gerangan, adakah suatu tabir yang dapat menutup jendela demikian? Dan adakah akal pada orang yang menuduhnya lalu tak memandang dari jendela ini? Ayo katakanlah!

Jendela Ketiga Puluh Tiga

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذ۪ٓى اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا قَيِّمًا ❊ الٓرٰ كِتَابٌ اَنْزَلْنَاهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ

Pikirkanlah bahwa seluruh jendela yang telah lalu adalah beberapa tetes dari lautan Al-Qur'an. Kemudian engkau dapat mengiaskan betapa banyak cahaya tauhid yang berkedudukan sebagai air kehidupan di dalam Al-Qur'an. Akan tetapi, sekalipun Al-Qur'an — yang merupakan sumber, tambang, dan asal seluruh jendela itu — dipandang dengan cara yang sangat global dan sederhana, ia tetaplah suatu jendela menyeluruh yang sangat cemerlang lagi bercahaya. Betapa pasti, cemerlang, dan bercahayanya jendela itu, kami serahkan kepada Risalah I'jaz Al-Qur'an yang merupakan Kelimat Kedua Puluh Lima dan kepada Isyarat Kedelapan Belas Surat Kesembilan Belas. Dan kami bermunajat ke Arasy Rahmani Zat Dzul-Jalâl yang mengirim Al-Qur'an kepada kita, seraya berkata:

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا ❊ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا ❊ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّم۪يعُ الْعَل۪يمُ ❊ وَ تُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّح۪يمُ

--

İHTAR (Peringatan)