Risale-i NurKelimat

Surat Ketiga Puluh Tiga

Kelimat · hlm. 666

yang berjendela tiga puluh tiga ini, insya Allah membawa yang tak beriman kepada iman. Menguatkan iman yang lemah. Menjadikan iman yang kuat namun taklidi menjadi tahkiki. Meluaskan iman yang tahkiki. Kepada yang imannya luas, ia memberi kemajuan dalam makrifatullah — yang merupakan penyandar dan asas seluruh kesempurnaan hakiki; membuka pemandangan yang lebih bercahaya lagi lebih cemerlang. Maka karena inilah, engkau tak dapat berkata "Satu jendela sudah cukup bagiku, memadai." Sebab jika akalmu telah memperoleh kepuasan dan mengambil bagiannya; kalbumu pun menginginkan bagiannya, ruhmu pun menginginkan bagiannya. Bahkan khayal pun akan menginginkan bagiannya dari cahaya itu. Oleh karena itu setiap jendela memiliki manfaatnya masing-masing.

Dalam Risalah Mikraj, mukhatab asal adalah orang mukmin; sang ateis berada di derajat kedua pada maqam pendengar. Adapun dalam risalah ini, mukhatab adalah sang pengingkar; sedangkan orang mukmin berada pada maqam pendengar. Pikirkanlah ini dan pandanglah demikian.

Akan tetapi, sayang, karena suatu sebab penting, surat ini ditulis dengan sangat cepat, bahkan tinggal dalam bentuk konsep; sudah pasti pada gaya ungkap yang menjadi tanggunganku akan terdapat kekaburan dan kekurangan. Aku memohon kepada saudara-saudaraku agar memandangnya dengan pandangan toleransi, memperbaikinya jika mereka mampu, dan mendoakanku dengan ampunan.

وَالسَّلاَمُ عَلٰى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدٰى ❊ وَالْمَلاَمُ عَلٰى مَنِ اتَّبَعَ الْهَوٰىسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُاَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مَنْ اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَم۪ينَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ وَ سَلِّمْ اٰم۪ينَ

--

Lemaat (Kuntum Bunga dari Benih-Benih)

مِنْ بَيْنِ هِلاَلِ الصَّوْمِ وَ هِلاَلِ الْع۪يدِ

Bunga-Bunga dari Benih-Benih

Sebuah matsnawi kecil dan diwan imani bagi para murid Risalah Nur.

Penulis: Bedîüzzaman Said Nursî

Peringatan (Tenbih)

Sebab mengapa karya bernama Lemaat ini tidak berjalan dengan satu-dua tema seperti diwan-diwan lain adalah: untuk sedikit menjelaskan kata-kata mutiara pendek bernama "Benih-Benih Hakikat" dari karya-karya lamanya, ia ditulis dalam bentuk prosa, dan tidak dimasukkan ke dalam khayalan serta perasaan tanpa timbangan sebagaimana diwan-diwan lain. Dari awal hingga akhir ia adalah suatu pelajaran ilmiah — dengan logika, sebagai hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman — bagi sebagian muridnya seperti keponakannya yang berada di sisinya; bahkan suatu pelajaran imani dan Qur'ani. Sebagaimana Ustaz kami katakan dalam ungkapannya di awal, kami pun telah memahami bahwa: beliau sama sekali tidak condong kepada nazam dan syair, dan tidak menyibukkan diri dengannya. Ia memperlihatkan suatu contoh dari rahasia وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ (Dan tidaklah Kami ajarkan syair kepadanya).

Karya ini ditulis seperti bersajak, di tengah banyak kesibukan dan tugas di Dâr-ül Hikmah, dalam dua puluh hari Ramadan, dengan bekerja dua atau dua setengah jam sehari. Karena dalam waktu yang sedemikian singkat, dan karena satu halaman bersajak sesulit sepuluh halaman, maka ia diucapkan dan dicetak demikian secara serta-merta, tanpa kesaksamaan, tanpa koreksi. Menurut kami, atas nama Risalah Nur ia adalah suatu keajaiban. Tidak terlihat satu diwan bersajak pun yang, seperti ini, dapat dibaca sebagai prosa tanpa dibuat-buat. Insya Allah karya ini kelak akan menjadi sejenis matsnawi bagi para murid Risalah Nur. Lagi pula karya ini berkedudukan sebagai suatu fihrist yang menggembirakan — dari jenis isyarat gaib — bagi bagian-bagian penting Risalah Nur yang muncul sepuluh tahun sesudahnya dan sempurna dalam dua puluh tiga tahun.

Dari para murid Risalah Nur

Sungur, Mehmed Feyzi, Hüsrev

--

Peringatan (İhtar)

Berdasarkan kaidah اَلْمَرْءُ عَدُوٌّ لِمَا جَهِلَ ("Manusia adalah musuh bagi apa yang tidak diketahuinya"), aku pun — karena tidak mengetahui nazam dan kafiyah (sajak) — tidak memberinya nilai. Aku sama sekali tidak ingin mengubah rupa hakikat menurut selera nazam, dengan cara mengorbankan kemurnian demi kafiyah. Pada kitab tanpa kafiyah lagi tanpa nazam ini, aku mengenakan pakaian yang paling kusut pada hakikat-hakikat yang paling tinggi. Pertama: Aku tidak tahu yang lebih baik. Aku hanya memikirkan makna. Kedua: Aku ingin menunjukkan kritikku terhadap para penyair yang meraut dan menyerut jasad menurut pakaian. Ketiga: Untuk menyibukkan nafsu bersama kalbu dengan hakikat-hakikat di bulan Ramadan, dipilihlah gaya kekanak-kanakan demikian. Akan tetapi wahai pembaca! Aku telah berbuat salah, aku mengakuinya. Jangan sekali-kali engkau berbuat salah! Jangan memandang gaya yang koyak ini lalu berlaku tak saksama dan tak hormat terhadap hakikat-hakikat yang tinggi itu!..

Penyampaian Maksud (İfade-i Meram)

Wahai pembaca! Terlebih dahulu aku mengakui bahwa: aku sangat mengeluhkan bakatku dalam seni tulis dan nazam. Bahkan kini aku pun tak dapat menulis namaku dengan rapi. Adapun nazam dan wazan (irama); sepanjang hidupku aku belum pernah membuat satu bait pun. Tiba-tiba muncul di benakku suatu keinginan yang mendesak untuk bernazam. Ada sebuah hikayat berbahasa Kurdi bernama قَوْلِ نَوَالاَسَيِسَبَانْ mengenai peperangan para sahabat. Ruhku menyenangi nazam alaminya yang bercorak nyanyian suci itu. Aku pun memilih gaya nazamnya dengan caraku sendiri. Aku menulis suatu prosa yang menyerupai nazam. Akan tetapi sama sekali aku tidak memaksakan diri demi wazan. Orang yang mau, dapat membacanya sebagai prosa tanpa susah payah, tanpa mengingat nazam. Lagi pula ia mesti dipandang sebagai prosa, agar makna dipahami. Pada setiap bait terdapat kesinambungan makna. Jangan berhenti pada kafiyah. Kopiah pun ada tanpa rumbai, wazan pun ada tanpa kafiyah, nazam pun ada tanpa kaidah. Menurut sangkaanku, jika lafal dan nazam menarik dari segi seni, ia menyibukkan pandangan dengan dirinya sendiri. Agar tidak memalingkan pandangan dari makna, lebih baik ia kusut.

Pada karyaku ini, ustazku adalah Al-Qur'an. Kitabku adalah kehidupan. Mukhatabku adalah diriku sendiri. Adapun engkau, wahai pembaca, adalah pendengar. Pendengar tidak berhak mengkritik; ia mengambil apa yang disukainya, dan tidak mengusik apa yang tidak disukainya. Karyaku ini adalah limpahan Ramadan yang mubarak ini{(Catatan): Bahkan tarikhnya keluar sebagai نَجْمُ اَدَبٍ وُلِدَ لِهِلاَلَىْ رَمَضَانَ. Yakni: "Ia adalah bintang adab yang lahir dari dua hilal Ramadan." (Bernilai seribu tiga ratus tiga puluh tujuh.)}, maka aku berharap insya Allah ia menyentuh kalbu saudara seagamaku, lalu lisannya menganugerahkan kepadaku suatu doa ampunan, atau membaca Al-Fatihah.

EDDÂÎ (Sang Pendoa)

{(Catatan): Bait ini adalah tanda tangannya.}Aku adalah sebuah kubur yang runtuh, yang di dalamnya bertumpuk tujuh puluh sembilan mayat dari Said{(Catatan): Karena setiap tahun tubuh diperbarui dua kali, berarti dua Said telah mati. Lagi pula tahun ini Said berada di usia tujuh puluh sembilan. Berarti setiap tahun seorang Said telah mati; artinya hingga tarikh ini Said akan hidup.}bersama dosa dan derita. Ia telah menjadi yang kedelapan puluh, sebuah batu nisan bagi kubur. Bersama-sama menangis{(Catatan): Keadaannya yang sekarang ini, dua puluh tahun kemudian, ia rasakan dengan firasat sebelum kejadian.}atas kerugian Islam. Bersama batu nisanku yang penuh mayat lagi meratap, dengan kubur itu jiwaku melangkah ke medan akhirat masa depanku. Aku yakin bahwa: langit masa depan, bumi Asia, akan bersama-sama diserahkan kepada tangan putih Islam. Sebab ia adalah tangan kanan keberkahan iman, yang memberi keamanan dengan jaminan kepada manusia...

--

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ وَالصَّلَوةُ عَلٰى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ٓ اَجْمَع۪ينَ

Dua Burhan Agung bagi Tauhid

Alam semesta ini seluruhnya adalah suatu burhan yang agung. Lisan gaib, dengan kesaksian, bertasbih lagi mengesakan. Ya, dengan tauhid Rahman, ia berzikir dengan suara yang besar: Lâ İlahe İlla Hu... Seluruh partikel dan selnya, seluruh rukun dan anggotanya, masing-masing adalah lisan yang berzikir; bersama suara yang besar itu ia berkata: Lâ İlahe İlla Hu... Pada lidah-lidah itu ada keragaman, pada suara-suara itu ada tingkatan. Akan tetapi ia berhimpun pada satu titik, zikirnya, suaranya: Lâ İlahe İlla Hu... Ini adalah suatu manusia yang teragung, ia berzikir dengan suara yang besar; seluruh bagian dan partikelnya, dengan suara-suara kecilnya, bersama suara yang lantang itu berkata: Lâ İlahe İlla Hu... Alam ini di dalam halaqah zikir membaca 'asyr, dan Al-Qur'an ini adalah tempat terbit cahaya. Seluruh yang berjiwa berpikir: Lâ İlahe İlla Hu... Al-Furqan yang mahaagung ini, burhan yang menuturkan tauhid itu, seluruh ayatnya adalah lisan yang benar. Ia adalah pancaran kilau iman. Bersama-sama berkata: Lâ İlahe İlla Hu... Jika engkau tempelkan telinga ke dada Al-Furqan ini, dari dalam hingga ke lubuk terdalam, secara nyata engkau akan mendengar suatu suara samawi berkata: Lâ İlahe İlla Hu...

Itu adalah suara yang sangat luhur, sangat sungguh-sungguh, hakiki lagi sangat tulus, lagi sangat ramah, meyakinkan, dan dilengkapi burhan. Berulang kali ia berkata: Lâ İlahe İlla Hu... Pada burhan yang bercahaya ini, keenam sisinya bening, di atasnya terukir cap i'jaz yang berbunga. Cahaya hidayah yang bersinar di dalamnya berkata: Lâ İlahe İlla Hu... Ya, di bawahnya tertenun logika dan burhan yang lembut, di kanannya akal diinterogasi; setiap sisi bersayap, benak-benak berkata "Engkau benar": Lâ İlahe İlla Hu...

Di sisi kanannya, ia menjadikan nurani sebagai saksi. Di depannya adalah keindahan kebaikan, di sasarannya adalah kebahagiaan. Kuncinya setiap saat: Lâ İlahe İlla Hu... Di belakang yang di depannya, sandarannya adalah samawi, yaitu wahyu murni Rabbani. Keenam sisi ini bercahaya; pada gugusannya bermanifestasi: Lâ İlahe İlla Hu... Ya, bisikan pencuri, dengan wahm keraguan yang gelap, tak berhak — pemberontak itu — untuk dapat masuk ke istana yang berkilau ini. Dan yang bersinar, karena pagar surah-surahnya menjulang, setiap kata adalah malaikat yang berbicara: Lâ İlahe İlla Hu...

Betapa Al-Qur'an yang mahaagung itu adalah lautan tauhid. Sebagai contoh, satu tetes saja: satu Surah al-Ikhlas.. namun satu isyarat pendeknya saja, dari isyarat-isyaratnya yang tak terhingga. Ia menolak seluruh jenis syirik, dan membuktikan tujuh jenis tauhid; tiga negatif, tiga positif, dalam enam kalimat ini sekaligus: Kelimat Pertama: قُلْ هُوَ (Katakanlah, Dia) adalah isyarat tanpa penghubung. Berarti penentuan dengan pemutlakan. Pada penentuan itu ada ketertentuan. Wahai — tiada Dia melainkan Dia (Lâ Hüve İlla Hu)...

Ini adalah isyarat kepada tauhid penyaksian. Jika pandangan yang melihat hakikat tenggelam dalam tauhid, ia berkata: Lâ Meşhude İlla Hu (Tiada yang disaksikan melainkan Dia). Kelimat Kedua: اَللّٰهُ اَحَدٌ (Allah Yang Esa), yang merupakan penegasan tauhid uluhiyah. Hakikat, lisan yang haq, berkata: Lâ Mabude İlla Hu (Tiada yang disembah melainkan Dia)... Kelimat Ketiga: اَللّٰهُ الصَّمَدُ (Allah Yang Tempat Bergantung). Ia adalah kerang bagi dua permata tauhid. Mutiara pertamanya: Tauhid Rububiyah. Ya, lisan tatanan alam berkata: Lâ Hâlıka İlla Hu (Tiada Pencipta melainkan Dia)...

Mutiara kedua: Tauhid Kayyumiyah. Ya, di seluruh alam semesta, dalam wujud dan kelangsungan, lisan kebutuhan akan Yang Maha Berpengaruh berkata: Lâ Kayyume İlla Hu (Tiada Yang Berdiri Sendiri melainkan Dia)... Keempat: لَمْ يَلِدْ (Dia tidak beranak). Suatu tauhid keagungan tersembunyi di dalamnya; ia menolak jenis-jenis syirik, memutus kekufuran tanpa keraguan. Yakni yang berubah, atau beranak-pinak, atau terbagi — sudah pasti bukan Pencipta, bukan Kayyum, bukan Ilah... Pikiran anak, kekufuran kelahiran, ditolak oleh لَمْ (lam), diputus dan dibuang sekaligus. Dari syirik inilah kebanyakan manusia menjadi sesat... Bahwa syirik kelahiran — pada Isa (a.s.), atau Uzair, atau malaikat, atau akal-akal — sesekali merajalela pada jenis manusia dari waktu ke waktu... Kelima: وَلَمْ يُولَدْ (Dan Dia tidak diperanakkan). Isyarat kepada tauhid sermedi demikian: Jika bukan Wajib, Qadim, lagi Azali, maka bukanlah Ilah... Yakni: jika ia baru dari sisi masa, atau lahir dari materi, atau terpisah dari suatu asal, sudah pasti ia bukan tempat berlindung bagi alam semesta ini... Menyembah sebab, menyembah bintang, menyembah berhala, menyembah natur — masing-masing adalah sejenis syirik; masing-masing sebuah sumur dalam kesesatan... Keenam: وَلَمْ يَكُنْ (Dan tidak ada bagi-Nya). Suatu tauhid yang menyeluruh. Tidak ada tandingan pada zat-Nya, tidak ada sekutu pada perbuatan-Nya, tidak ada serupa pada sifat-Nya — lafal لَمْ (lam) menjadi tempat pandang... Keenam kalimat ini secara maknawi saling menjadi hasil dan saling menjadi burhan; burhan-burhannya berantai, hasil-hasilnya tersusun, bermarkas dalam surah ini... Berarti pada Surah al-Ikhlas ini, dalam ukuran perawakannya sendiri, terkandung tiga puluh surah yang berantai lagi tersusun; ini adalah waktu sahur bagi mereka... لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ (Tidak ada yang mengetahui yang gaib melainkan Allah).

Sebab hanyalah lahiriah

Kemuliaan keagungan menghendaki agar sebab-sebab alami menjadi tabir bagi tangan kudrat di hadapan pandangan akal. Tauhid dan keagungan menghendaki agar sebab-sebab alami menarik tangannya dari pengaruh yang hakiki{(Catatan): Maksudnya: hendaklah ia menarik tangan dari pengaruh hakiki, tidak ikut campur dalam penciptaan.}pada karya kudrat.

Wujud tidak terbatas pada alam jasmani

Jenis-jenis wujud yang beragam dan tak terhitung tidak terbatas dan tidak terjejal dalam alam kasat mata ini. Alam jasmani laksana suatu tabir berenda, memancarkan cahaya di atas alam-alam gaib.

Kesatuan pada pena kudrat mengumumkan tauhid

Karya kesempurnaan seni, pada setiap sudut fitrah, dengan jelas menolak penciptaan sebab-sebabnya. Ukiran pena yang merupakan kudrat itu sendiri, pada setiap titik penciptaan, dengan niscaya menolak wujud para perantara.

Suatu benda tak ada tanpa segala sesuatu

Di alam semesta, dari ujung ke ujung, rahasia saling-topang tersembunyi lagi tersebar. Dan pada segala sisi ia memperlihatkan saling-jawab dan saling-tolong; sehingga hanya satu kudrat yang meliputi seluruh alamlah yang menjalankannya, menciptakan dan menempatkan partikel dengan segenap nisbatnya. Setiap baris dan setiap huruf kitab alam adalah hidup; kebutuhan menggiring, memperkenalkannya. Dari mana pun seruan kebutuhan datang, ia menyahut "Labbaik," dan atas nama rahasia tauhid ia mempertemukan sekelilingnya. Setiap huruf yang hidup, ia hadapkan satu wajah dan satu mata yang memandang kepada setiap kalimat.

Gerakan matahari demi gravitasi, gravitasi demi ketetapan tata suryanya

Matahari adalah pohon berbuah, ia mengibaskan diri agar buah-buah bergeraknya yang tertarik tidak jatuh. Seandainya dengan diamnya ia berhenti, tarikan pun lari, dan makhluk-makhluk teratur yang tertarik itu meratap di angkasa.

Yang kecil terikat dengan yang besar

Yang menciptakan mata seekor nyamuk, pastilah Dia pula yang menciptakan matahari dan galaksi. Yang menata lambung seekor kutu, pastilah Dia pula yang menyusun tata surya. Yang menyematkan penglihatan pada mata dan kebutuhan pada lambung, pastilah Dia pula yang mencelakkan celak cahaya pada mata langit, dan menghamparkan hidangan makanan pada wajah bumi.

Pada susunan alam semesta terdapat suatu i'jaz yang besar

Lihatlah, pada penyusunan alam semesta terdapat suatu i'jaz. Seandainya — secara pengandaian mustahil — seluruh sebab alami, masing-masing menjadi pelaku yang berkehendak lagi berkuasa. Menghadapi i'jaz itu, dengan ketidakmampuan yang tak terhingga, dengan kepatuhan, mereka bersujud seraya berkata: سُبْحَانَكَ لاَ قُدْرَةَ ف۪ينَا رَبَّنَا اَنْتَ الْقَد۪يرُ اْلاَزَلِىُّ ذُو الْجَلاَلِ

Terhadap kudrat, segala sesuatu adalah sama

مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ Ia adalah suatu kudrat zati lagi azali; kelemahan tak dapat menyusupinya. Padanya tak ada tingkatan, penghalang tak dapat masuk. Baik keseluruhan maupun bagian, nisbatnya tak berbeda. Sebab segala sesuatu terikat dengan segala sesuatu. Yang tak dapat membuat segala sesuatu, tak dapat pula membuat satu benda.

Yang tak dapat menggenggam alam semesta, tak dapat menciptakan partikel

Untuk menyusun bumi kita, matahari-matahari, dan bintang-bintang yang tak terhitung laksana tasbih lalu mengangkatnya; dan untuk menyematkannya pada kepala serta dada angkasa ini — seandainya seseorang tidak memiliki tangan yang sekuat itu, ia tak dapat mendakwakan penciptaan dan mengklaim pengadaan atas apa pun di dunia.

Menghidupkan jenis, seperti menghidupkan individu

Seekor lalat yang membeku di musim dingin dengan suatu tidur yang menyerupai kematian — sebagaimana menghidupkannya tak berat bagi kudrat. Kematian dunia ini, dan penghidupannya, pun demikian. Menghidupkan seluruh yang berjiwa tak membuat kudrat terlalu bermanja.

Natur adalah suatu seni Ilahi

Natur bukanlah pencetak alami, melainkan cetakan. Ia bukan pelukis, melainkan lukisan. Ia bukan pelaku, melainkan yang menerima. Ia bukan sumber, melainkan penggaris. Ia bukan penyusun, melainkan tatanan. Ia bukan kudrat, melainkan hukum. Ia adalah suatu syariat iradah, bukan suatu hakikat berdiri sendiri di luar.

Nurani mengenal Allah dengan tarikannya

Pada nurani terpendam suatu tarikan dan gejolak. Dengan tarikan suatu Yang Menarik, tarikan itu senantiasa berlangsung. Yang berkesadaran jatuh dalam gejolak, jika Dzul-Jamâl tampak. Seandainya Ia bermanifestasi senantiasa dengan penuh kemilau tanpa tabir. Fitrah berkesadaran ini adalah tempat kesaksian pasti atas suatu Yang Wajibul Wujud, Pemilik Keagungan dan Keindahan. Satu saksinya adalah tarikan itu, dan yang lain adalah ketertarikan.

Kesaksian fitrah adalah benar

Pada fitrah tak ada dusta; apa pun yang dikatakannya adalah benar. Lisan benih — kecenderungan tumbuh — berkata: "Aku akan berbulir, berbuah..." Ucapannya terbukti benar. Di dalam telur, kecenderungan kehidupan berbicara dari dalam: "Aku akan menjadi anak ayam, jika ada izin Ilahi." Lisannya menjadi benar. Segenggam air, jika di dalam sebutir peluru besi berniat membeku pada masa dingin — kecenderungan memuai di dalamnya berkata: "Melebarlah, aku butuh tempat lebih." Suatu perintah tanpa jaminan... Besi yang kokoh berusaha, tetapi tak menjadikannya dusta. Melainkan padanya ada kebenaran dan kejujuran hati, lalu ia memecahkan besi itu. Kecenderungan-kecenderungan ini seluruhnya masing-masing adalah perintah tekwini, hukum Ilahi, syariat fitri, dan manifestasi iradah. Iradah Ilahi, pengaturan alam. Perintah-perintahnya adalah ini: satu per satu kecenderungan, satu per satu kepatuhan, perintah-perintah Rabbani. Manifestasi pada nurani pun persis manifestasi demikian; tarikan dan gejolak adalah dua jiwa yang tersucikan, dua kaca yang mengilap, yang di dalamnya terpantul Keindahan Yang Tak Pernah Sirna, serta cahaya iman.

Kenabian bersifat daruri bagi manusia

Kudrat azali yang tidak membiarkan semut tanpa pemimpin dan lebah tanpa ratu, sudah pasti tak akan membiarkan manusia tanpa syariat, tanpa nabi. Rahasia tatanan alam menghendaki demikian, sudah pasti.

Mi'raj pada malaikat, laksana terbelahnya bulan pada manusia

Dengan suatu karamah mi'raj, para malaikat melihat — sungguh benar — bahwa dalam suatu kenabian yang telah diakui, terdapat suatu kewalian yang agung. Pribadi yang cemerlang itu menaiki Buraq lalu menjadi laksana kilat. Bak bulan, ia menyaksikan seluruh alam cahaya. Sebagaimana suatu mukjizat besar yang inderawi bagi manusia yang tersebar di alam kasat mata ini adalah اِنْشَقَّ الْقَمَرُ (bulan terbelah). Maka mi'raj ini adalah mukjizat terbesar bagi penghuni alam arwah, yaitu سُبْحَانَ الَّذ۪ٓى اَسْرٰى (Mahasuci Zat yang memperjalankan).

Burhan kalimat syahadat ada di dalamnya sendiri

Kalimat syahadat memiliki dua ucapan. Keduanya saling menjadi saksi, dan menjadi dalil serta burhan. Yang pertama adalah burhan limmî (dari sebab ke akibat) bagi yang kedua. Yang kedua adalah burhan innî (dari akibat ke sebab) bagi yang pertama.

Kehidupan adalah sejenis manifestasi tauhid

Kehidupan adalah cahaya tauhid. Ia memanifestasikan tauhid dalam kemajemukan ini. Ya, suatu manifestasi kesatuan menjadikan kemajemukan itu satu dan tunggal. Kehidupan menjadikan suatu benda pemilik segala sesuatu. Benda tak berkehidupan, dibanding dengannya, seluruh benda adalah ketiadaan.

Ruh adalah suatu hukum yang dikenakan wujud lahiriah

Ruh adalah suatu hukum yang bercahaya, suatu undang-undang yang mengenakan wujud lahiriah; ia menyematkan kesadaran di kepalanya. Ruh yang maujud ini dengan hukum yang masuk akal itu menjadi dua saudara, dua kawan seperjalanan. Laksana hukum-hukum fitri yang tetap lagi abadi, ruh pun datang dari alam amri dan dari sifat iradah. Kudrat mengenakan wujud inderawi, menyematkan kesadaran di kepalanya, dan menjadikan suatu benda cair yang halus sebagai kerang bagi jauhar itu. Seandainya kudrat Sang Pencipta mengenakan wujud lahiriah pada hukum-hukum dalam jenis-jenis, masing-masing menjadi suatu ruh. Jika ruh menanggalkan wujudnya, menurunkan kesadaran dari kepalanya, ia tetap menjadi hukum yang tak mati.

Wujud tanpa kehidupan, laksana ketiadaan

Cahaya dan kehidupan, masing-masing adalah penyingkap makhluk. Lihatlah, jika tak ada cahaya kehidupan, wujud berlumur ketiadaan; bahkan laksana ketiadaan. Ya, ia asing lagi yatim; sekalipun bulan, jika tanpa kehidupan...

Karena kehidupan, seekor semut menjadi lebih besar daripada bumi

Jika engkau menimbang seekor semut dengan timbangan wujud, alam yang keluar darinya tak akan muat di bumi kita. Menurutku bumi adalah makhluk hidup; menurut sangkaan yang lain ia adalah bumi yang mati. Jika bumi yang mati itu engkau bawa dan letakkan di hadapan seekor semut, ia bahkan tak akan mampu menjadi separuh kepala makhluk berkesadaran itu.

Nasrani akan tunduk kepada Islam

Nasrani akan menemukan salah satu dari dua: padam, atau tersaring. Ia akan tunduk kepada Islam dan meletakkan senjata. Ia telah berkali-kali terkoyak, hingga sampai kepada Protestanisme, namun pada Protestanisme tak ditemukan yang akan memberinya kebaikan. Tabir pun kembali terkoyak, ia jatuh ke kesesatan mutlak. Akan tetapi sebagian, sebagiannya mendekat kepada tauhid; padanya ia akan menemukan keselamatan. Ia bersiap sejak sekarang{(Catatan): Ini mengisyaratkan keadaan setelah Perang Umum yang dahsyat ini. Barangkali ia mengabarkan dengan tepat tentang Perang Umum Kedua.}, ia mulai terkoyak. Jika tidak padam, ia akan menemukan kemurnian lalu menjadi milik Islam. Ini adalah suatu rahasia besar; isyarat dan simbolnya adalah, Kebanggaan Para Rasul صلى الله عليه وسلم telah bersabda: "Isa akan beramal dengan syariatku, dan akan menjadi bagian dari umatku."

Pandangan ikutan melihat yang mustahil sebagai mungkin

Masyhur bahwa: sekumpulan besar orang memandang hilal Idul Fitri. Tak seorang pun melihat sesuatu. Seorang tua bersumpah: "Aku melihatnya." Padahal yang dilihatnya adalah sehelai bulu putih bulu matanya yang melengkung. Bulu itu menjadi hilal baginya. Di mana bulu melengkung itu, dan di mana bulan yang menjadi hilal? Jika engkau pahami simbol ini: gerakan-gerakan pada partikel telah menjadi bulu mata akal, masing-masing sehelai bulu yang gelap.. membutakan mata jasmani. Ia tak dapat melihat Pelaku penciptaan seluruh jenis, lalu kesesatan menimpa kepalanya. Di mana gerakan itu, dan di mana Penyusun alam? Menyangkakan yang ini kepada yang itu, adalah kemustahilan di atas kemustahilan!..

Al-Qur'an menghendaki cermin, bukan wakil

Mayoritas umat, dan seluruh kaum awam; lebih daripada burhan, kesucian pada sumberlah yang memberi gairah ketaatan dan menggiring kepada kepatuhan. Sembilan puluh persen syariat; hal-hal yang disepakati secara syar'i dan hal-hal daruri agama, masing-masing adalah tiang intan. Adapun masalah ijtihadi, khilafi, dan cabang; hanyalah sepuluh persen. Pemilik sepuluh keping emas tak dapat memasukkan sembilan puluh tiang intan ke dalam kantongnya dan menjadikannya tunduk kepadanya. Tambang intan itu adalah: Al-Qur'an dan Hadis. Ia miliknya.. mesti diminta dari sana, setiap waktu. Kitab-kitab dan ijtihad-ijtihad mesti menjadi cermin Al-Qur'an, atau teropong. Bayangan tak menghendaki wakil bagi Matahari yang penjelasannya penuh mukjizat itu.

Sang pembatil mengambil kebatilan dengan pandangan kebenaran

Karena fitrah pada manusia dimuliakan, ia dengan sengaja mencari kebenaran. Terkadang kebatilan jatuh ke tangannya, ia menyangkanya kebenaran, lalu menyimpannya di dadanya. Ketika menggali hakikat, tanpa ikhtiarnya kesesatan menimpa kepalanya; ia menyangkanya hakikat, lalu memasukkannya ke kepalanya.

Cermin-cermin kudrat banyak jumlahnya

Cermin Sang Qadîr Dzul-Jalâl sangat banyak. Masing-masing membuka jendela ke suatu alam mitsal yang lebih bening dan lebih halus daripada yang lain. Dari air ke udara, dari udara ke eter, dari eter ke alam mitsal, dari mitsal ke arwah, dari arwah ke zaman, dari zaman ke khayal, dari khayal ke pikiran — cermin-cermin yang beragam senantiasa mewakili urusan-urusan yang mengalir. Pandanglah cermin udara dengan telingamu: satu kata menjadi sejuta kata! Pena kudrat itu menyalin dengan ajaib.. inilah rahasia beranak-pinak...

Ragam pemantulan berbeda-beda

Pemantulan pada cermin terbagi ke dalam empat rupa: entah hanya identitas; atau bersama sifat; atau identitas dengan pancaran hakikat; atau hakikat dengan identitas. Jika engkau ingin contoh, inilah manusia dan matahari, malaikat dan kata. Pantulan benda pekat pada cermin menjadi mayat yang bergerak masing-masing. Adapun pantulan suatu ruh yang bercahaya pada cermin-cerminnya menjadi makhluk hidup yang bertaut masing-masing; jika bukan zatnya sendiri, ia pun bukan sepenuhnya lain, melainkan cahaya yang terbentang masing-masing. Seandainya matahari adalah makhluk hidup, panasnya menjadi kehidupannya, cahayanya kesadarannya.. pantulannya di cermin memiliki sifat-sifat ini. Inilah kunci rahasia-rahasia itu: Jibril, sekaligus di Sidrah, sekaligus dalam rupa Dihyah di majelis Kenabian, dan entah di berapa tempat lagi!.. Azrail dalam satu saat, Allah yang tahu di berapa tempat, mencabut arwah. Nabi dalam satu saat, sekaligus dalam kasyaf para wali, sekaligus dalam mimpi yang benar, tampak kepada umatnya, dan di hari kebangkitan berjumpa dengan semua melalui syafaat. Para abdal wali dalam satu saat muncul dan tampak di banyak tempat.

Yang berbakat dapat menjadi mujtahid; tetapi tak dapat menjadi pembuat syariat

Setiap orang berbakat yang memiliki syarat ijtihad, berijtihad untuk dirinya sendiri pada hal-hal yang tak ada nasnya. Itu keharusan baginya, tetapi ia tak dapat mewajibkannya atas orang lain. Ia tak dapat membuat syariat dengan menyeru umat. Pemahamannya berasal dari syariat; tetapi ia tak dapat menjadi syariat. Ia dapat menjadi mujtahid, tetapi tak dapat menjadi pembuat syariat. Dengan ijmak dan mayoritas, ia memperoleh cap syar'i. Menyeru kepada suatu pikiran; dugaan diterimanya oleh mayoritas menjadi syarat pertama. Jika tidak, seruan itu adalah bid'ah, ditolak. Ia disumpal ke mulutnya, tak dapat keluar lagi darinya...

Cahaya akal datang dari kalbu

Para pencerah yang gelap mesti mengetahui perkataan ini: Tanpa cahaya kalbu, cahaya pikiran tak akan bercahaya. Jika cahaya ini dan sinar itu tak bercampur, ia adalah kegelapan; memancarkan kezaliman dan kejahilan. Suatu kegelapan palsu yang mengenakan pakaian cahaya. Pada matamu ada siang, tetapi putih lagi gelap. Di dalamnya ada suatu kehitaman, yaitu suatu malam yang bercahaya. Jika kehitaman itu tak ada di dalamnya, gumpalan lemak itu tak menjadi mata; engkau pun tak dapat melihat apa-apa. Penglihatan tanpa mata batin pun tak bernilai. Jika pada pikiran yang putih tak ada bintik hitam kalbu, campuran otak tak menjadi ilmu dan mata batin. Akal tak ada tanpa kalbu.

Tingkatan ilmu di dalam otak berbeda-beda dan saling bercampur

Di dalam otak ada tingkatan; saling bercampur satu sama lain, hukumnya berbeda-beda. Mula-mula terjadi pengkhayalan, lalu datang penggambaran, lalu datang penalaran, lalu ia membenarkan, lalu terjadi keyakinan, lalu datang komitmen, lalu datang iktikad. Iktikad itu satu hal, komitmen itu hal lain. Dari masing-masing keluar suatu keadaan: keteguhan dari iktikad, fanatisme dari komitmen, kepatuhan dari keyakinan, komitmen dari pembenaran, netralitas dalam penalaran, ketiadaan bagian dalam penggambaran. Dalam pengkhayalan terjadi sofisme, jika seseorang tak mampu memilahnya. Menggambarkan hal-hal batil dengan indah, setiap saat, adalah pelukaan bagi benak yang jernih, dan penyesatan.

Ilmu yang tak tercerna jangan diajarkan

Pembimbing alim yang sejati adalah domba, bukan burung. Ia memberi ilmunya tanpa pamrih. Domba memberi anaknya susu murni yang telah tercerna. Burung memberi anaknya makanan yang berlumur air liur.

Menghancurkan itu lebih mudah; yang lemah menjadi penghancur

Adanya seluruh bagian adalah syarat adanya keseluruhan. Adapun ketiadaan terjadi dengan ketiadaan satu bagian saja; maka menghancurkan menjadi lebih mudah. Karena inilah: orang yang lemah — sebab munculnya kekuasaan — sama sekali tak mendekati yang positif. Ia bergerak secara negatif, senantiasa menjadi penghancur.

Kekuatan mesti menjadi pelayan kebenaran

Kaidah-kaidah dalam hikmah, undang-undang dalam pemerintahan, hukum-hukum dalam kebenaran, dan kaidah-kaidah dalam kekuatan — jika tak saling bersandar dan saling menopang, maka pada mayoritas manusia ia tak berbuah dan tak berpengaruh. Syiar-syiar dalam syariat pun tinggal terbengkalai lagi lumpuh. Pada urusan-urusan manusia ia tak menjadi bersandar dan terpercaya.

Terkadang lawan mengandung lawannya

Ada kalanya lawan menyembunyikan lawannya. Dalam lisan politik, lafal adalah kebalikan makna. Ia mengenakan kopiah keadilan{(Catatan): Ia membahasnya seolah benar-benar melihat zaman ini.}di kepala kezaliman. Pengkhianatan mengenakan pakaian kepahlawanan dengan murah. Kepada jihad dan perang suci ditempelkan nama pemberontakan. Perbudakan hewani dan kezaliman setan diberi nama kemerdekaan. Pada hal-hal yang berlawanan terjadi penyamaan, pada rupa-rupa terjadi pertukaran, pada nama-nama terjadi kebalikan, pada kedudukan-kedudukan terjadi pergeseran tempat.

Politik yang berasas kemanfaatan adalah binatang buas

Politik masa kini yang rodanya dibangun di atas kemanfaatan adalah pemangsa, binatang buas. Jika engkau berlaku ramah terhadap binatang buas yang lapar, engkau tidak membuka rahmatnya, melainkan seleranya. Kemudian ia berbalik, datang; menuntut darimu sewa cakar dan giginya.

Karena daya-daya manusia tidak dibatasi, kejahatannya menjadi besar

Berbeda dengan hewan, daya-daya pada manusia tidak dibatasi secara fitri. Kebaikan dan keburukan yang keluar darinya berjalan tak terhingga. Jika keakuan yang ada padanya, dan kesombongan, kecongkakan, serta kekerasan kepala yang keluar darinya bersatu; jadilah suatu dosa sedemikian{(Catatan): Pada ini pun ada isyarat gaib.}yang hingga kini manusia belum menemukan namanya. Sebagaimana ia menjadi dalil atas perlunya Neraka, maka balasannya pun hanya dapat berupa Neraka. Dan misalnya: seseorang, untuk menunjukkan satu perkataan dustanya sebagai benar, dalam kalbunya menginginkan kecelakaan Islam. Zaman ini pun telah menunjukkan: Neraka tidaklah tanpa guna, Surga tidaklah murah.

Terkadang kebaikan menjadi perantara keburukan

Keutamaan pada kaum elite, pada hakikatnya, adalah sebab bagi ketawaduan dan kerendahan hati. Sayang, ia telah menjadi sebab bagi kesewenangan, dan illat bagi kesombongan. Ketidakmampuan pada kaum fakir dan kefakiran pada para pekerja, pada hakikatnya, adalah sebab bagi kedermawanan dan kasih sayang. Akan tetapi sayang, kini ia berujung pada kehinaan dan perbudakan. Jika suatu kebaikan dan kemuliaan lahir pada suatu perkara; perkara itu dipersembahkan kepada kaum elite dan pemimpin. Adapun keburukan dan kejahatan yang lahir dari perkara itu; dibagi dan didistribusikan kepada rakyat dan awam. Jika suatu kemuliaan lahir pada suku yang menang: "Hasan Agha, bravo!" Adapun keburukan yang lahir, menjadi kutukan bagi rakyat jelata. Alangkah pilunya keburukan pada manusia!..

Jika tak ada tujuan cita-cita, keakuan menguat

Jika tak ada suatu tujuan cita-cita, atau jika kelupaan menimpa, atau jika sengaja dilupakan; sudah pasti benak-benak berpaling kepada keakuan, berputar-putar di sekelilingnya. Keakuan menguat, terkadang menjadi sensitif. Ia tak tertembus, hingga menjadi "kami". Orang-orang yang mencintai keakuannya, tak mencintai yang lain.

Kehidupan revolusi lahir dari kematian zakat dan kehidupan riba

Seluruh revolusi, seluruh kekacauan dan kerusakan; baik asal maupun tambangnya.. kehinaan dan kejahatan, seluruh perangai rusak, penggerak dan sumbernya adalah dua kata, atau dua ucapan. Yang pertama: "Jika aku kenyang, apa peduliku jika yang lain mati kelaparan!.." Yang kedua: "Bekerjalah demi kenyamananku; engkau bekerja, aku makan. Makan dariku, jerih payah darimu!" Bagi racun pembunuh dalam kata pertama, yang akan memutus akarnya dan menjadi obat penyembuh, hanya ada satu obat. Yaitu zakat syar'i, yang merupakan rukun Islam. Dalam kata kedua terkandung pohon zaqqum. Yang akan memutus uratnya adalah keharaman riba. Jika manusia menginginkan kebaikan, jika ia mencintai kehidupannya; ia mesti menegakkan zakat dan menghapus riba.

Jika manusia menginginkan kehidupannya, ia mesti membunuh segala jenis riba

Dari lapisan elite ke lapisan awam, ikatan kekerabatan telah putus. Dari bawah menyembur suara revolusi, jeritan dendam, rintihan kebencian dan iri hati... Dari atas turun api kezaliman dan penghinaan, beban kesombongan, halilintar kesewenangan... Dari bawah mesti keluar kecintaan dan ketaatan, penghormatan dan kepatuhan. Akan tetapi kasih sayang dan kedermawanan mesti turun dari atas, serta kelembutan dan pendidikan... Jika manusia menginginkan ini, ia mesti berpegang pada zakat dan mengusir riba. Keadilan Al-Qur'an berdiri di pintu alam dan berkata kepada riba: "Terlarang! Engkau tak berhak, mesti kembali!" Manusia tidak mendengarkan perintah ini, maka ia menerima suatu tamparan{(Catatan): Suatu isyarat gaib yang kuat. Ya, manusia tidak mendengarkan, maka dengan Perang Umum Kedua ia menerima tamparan dahsyat ini pula.}. Sebelum menerima yang lebih dahsyat, ia mesti mendengarkan perintah ini.

Sebagaimana manusia mengoyak perbudakan, ia pun akan mengoyak keupahan

Dalam suatu mimpi aku pernah berkata: Peperangan ringan antar negara dan bangsa sedang menyerahkan tempatnya kepada peperangan sengit antar lapisan manusia. Sebab manusia, sepanjang zaman, tidak menghendaki perbudakan, ia mengoyaknya dengan darahnya. Kini ia telah menjadi buruh upahan; ia memikul bebannya, dan mengoyaknya pula. Kepala manusia telah tua; ia memiliki lima zaman. Kebiadaban dan kebadawian, kepemilikan budak, perbudakan, dan kini pula keupahan — telah dimulai, sedang berlalu.

Jalan yang tidak sah menuju kebalikan maksud

اَلْقَاتِلُ لاَ يَرِثُ adalah suatu kaidah agung: "Orang yang menuju suatu maksud melalui jalan yang tidak sah, umumnya memperoleh balasan dengan kebalikan maksudnya." Kecintaan kepada Eropa adalah kecintaan yang tidak sah, sekaligus peniruan dan pembauran. Akibatnya, balasannya: permusuhan bengis dari sang kekasih, kejahatan-kejahatan... Si fasik yang terhalang tak menemukan kelezatan maupun keselamatan.

Pada Jabariyah dan Muktazilah terdapat masing-masing sebutir hakikat

Wahai pencari hakikat! Syariat memandang masa lampau dan musibah secara berbeda dari masa depan dan maksiat. Pandangan kepada masa lampau dan musibah menjadi pandangan kepada takdir; ucapannya menjadi Jabariyah. Pandangan kepada masa depan dan maksiat menjadi pandangan kepada taklif; ucapannya menjadi Muktazilah. Muktazilah dan Jabariyah berdamai di sini. Pada mazhab-mazhab batil ini terkandung masing-masing sebutir hakikat; ia memiliki tempatnya yang khusus; yang batil adalah penyamarataannya.

Ketidakmampuan dan keluh-kesah adalah pekerjaan orang-orang malang

Jika engkau menginginkan kehidupan, jangan berpegang pada ketidakmampuan pada hal yang ada obatnya. Jika engkau menginginkan kenyamanan, jangan berpegang pada keluh-kesah pada hal yang tak ada obatnya.

Terkadang suatu hal kecil melakukan pekerjaan besar

Ada keadaan-keadaan sedemikian, yang di bawahnya suatu gerakan kecil mengangkat pelakunya hingga ke puncak tertinggi... Ada keadaan-keadaan sedemikian, yang suatu gerakan kecil menurunkan pelakunya hingga ke lembah terendah...

Bagi sebagian orang, satu saat adalah satu tahun

Sebagian fitrah bersinar seketika. Sebagian bertahap, sedikit demi sedikit bangkit. Tabiat manusia menyerupai keduanya. Ia memandang keadaan; berubah menurutnya. Terkadang ia berjalan bertahap. Terkadang pula ia, laksana mesiu yang gelap, menyembur seketika. Menjadi api yang bercahaya. Terkadang suatu pandangan menjadikan arang sebagai intan. Terkadang suatu sentuhan menjadikan batu sebagai iksir. Satu pandangan Nabi seketika mengubah seorang badawi yang jahil menjadi seorang arif yang bercahaya. Jika engkau ingin timbangan: Umar sebelum Islam, Umar setelah Islam... Perbandingan keduanya: sebutir benih dan sebatang pohon... Pandangan Ahmadi itu, himmah Nabi itu صلى الله عليه وسلم, seketika membuahkan hasil... Di Jazirah Arab, fitrah-fitrah yang telah menjadi arang, ia ubah menjadi intan... Seketika seluruhnya... Ia menyalakan akhlak laksana mesiu, dan mereka menjadi cahaya yang bercahaya.

Dusta adalah suatu lafal yang kafir

Sebutir kejujuran membakar sejuta dusta. Sebutir hakikat meruntuhkan istana khayalan. Kejujuran adalah asas besar, suatu jauhar yang bercahaya. Ia menyerahkan tempatnya kepada diam, jika keluarnya membahayakan... Bagi dusta sama sekali tak ada tempat, sekalipun ia bermanfaat. Hendaklah setiap perkataanmu benar, setiap putusanmu haq. Akan tetapi, bukanlah hakmu untuk mengucapkan setiap yang benar. Ini mesti diketahui dengan baik. Jadikanlah خُذْ مَا صَفَا دَعْ مَا كَدَرْ ("Ambillah yang jernih, tinggalkanlah yang keruh") sebagai pedoman bagi dirimu. Pandanglah dengan indah, lihatlah dengan indah, agar engkau berpikir indah. Ketahuilah dengan indah, pikirkanlah dengan indah, agar engkau menemukan kehidupan yang lezat. Cita-cita dalam bersangka baik adalah kehidupan di dalam kehidupan. Sedangkan bersangka buruk adalah keputusasaan, penghancur kebahagiaan, sekaligus pembunuh kehidupan.

Dalam sebuah majelis mitsali

Perbandingan antara syariat dan peradaban masa kini, antara kejeniusan sains dan petunjuk syar'i

Pada awal gencatan senjata (Perang Pertama), pada suatu malam Jumat, dalam suatu mimpi yang benar, di alam mitsal, di suatu majelis yang agung, mereka bertanya kepadaku: "Setelah kekalahan, keadaan apa yang akan muncul di dunia Islam?" Dengan sifat sebagai utusan zaman ini aku menjawab; mereka pun mendengarkan: Sejak zaman dahulu, demi kelangsungan kemerdekaan Islam dan demi peninggian kalimat Allah, negara ini — yang mengemban jihad fardu kifayah sebagai keharusan diniyah, dan memandang dirinya bertugas mengorbankan diri demi dunia Islam yang bersatu-padu, serta menjadi pengibar panji khilafah —

kecelakaan masa lampau umat Islam ini, sudah pasti akan mendatangkan kebahagiaan dan kemerdekaan bagi dunia Islam. Musibah yang lalu akan tergantikan di masa depan. Yang memberi tiga dan memenangkan tiga ratus, sudah pasti tak menderita kerugian sama sekali. Orang yang berhimmah mengubah keadaannya menjadi masa depan... Sebab musibah ini menjadikan kasih sayang, persaudaraan, dan saling-topang Islam — yang merupakan ragi kehidupan kita — luar biasa; ia mempercepat tersingkapnya dan bergetarnya persaudaraan. Dengan hancurnya peradaban, rupa peradaban masa kini akan berubah, susunannya akan runtuh; pada waktu itu akan muncul peradaban Islami. Kaum muslimin sudah pasti akan masuk terlebih dahulu dengan kehendak mereka. Jika engkau ingin perbandingan: peradaban syariat dan peradaban masa kini — perhatikanlah asas-asasnya, pandanglah jejak-jejaknya. Asas-asas peradaban masa kini bersifat negatif. Lima asas negatif menjadi pondasi dan nilainya. Dengan itu rodanya diputar. Inilah titik sandarnya: sebagai ganti kebenaran, adalah kekuatan. Adapun keadaan kekuatan adalah pelanggaran dan pertentangan; dari sini keluar pengkhianatan. Sasaran maksudnya, sebagai ganti keutamaan, adalah kemanfaatan yang hina. Adapun keadaan kemanfaatan adalah berdesak dan bermusuhan; dari sini keluar kejahatan. Hukumnya dalam kehidupan, sebagai ganti tolong-menolong, adalah kaidah pertikaian. Keadaan pertikaian adalah ini: perebutan dan saling-tolak; dari sini keluar kesengsaraan.. Ikatan asas di antara bangsa-bangsa: rasialisme yang bangkit atas kerugian orang lain. Ia tumbuh dengan menelan yang lain, mengambil kekuatan. Nasionalisme negatif, rasialisme, kebangsaan; keadaannya senantiasa demikian: benturan yang dahsyat, ombak yang mengerikan, dan dari sini keluar kebinasaan.

Yang kelima adalah: khidmahnya yang memikat: mendorong dan memudahkan hawa dan nafsu; memuaskan hasrat dan keinginan; dari sini keluar kefasikan. Adapun keadaan hawa dan nafsu itu senantiasa demikian: ia merusak rupa manusia, mengubah wataknya. Ia mengubah rupa secara maknawi, kemanusiaan pun berubah. Jika engkau balikkan isi kebanyakan orang beradab ini keluar, engkau akan melihat: di kepalanya kera dan rubah, ular dan beruang, babi. Wataknya menjadi rupa. Khayalnya datang di hadapanmu, dengan kulit dan bulunya. Maka dengan inilah tampak jejaknya di medan. Timbangan bagi timbangan-timbangan di bumi adalah syariat... Rahmat dalam syariat berasal dari langit Al-Qur'an. Asas-asas peradaban Al-Qur'an bersifat positif. Roda kebahagiaan berputar di atas lima asas positif. Titik sandarnya: sebagai ganti kekuatan, adalah kebenaran. Keadaan kebenaran senantiasa adalah keadilan dan keseimbangan. Dari sini keluar keselamatan, lenyaplah kesengsaraan. Pada sasarannya, sebagai ganti kemanfaatan, adalah keutamaan. Keadaan keutamaan adalah kecintaan dan saling-tarik. Dari sini keluar kebahagiaan, lenyaplah permusuhan. Pedomannya dalam kehidupan, sebagai ganti pertikaian dan pembunuhan, adalah kaidah tolong-menolong. Keadaan pedoman itu adalah persatuan dan saling-topang; jamaah pun hidup. Dalam rupa khidmahnya, sebagai ganti hawa dan nafsu, adalah petunjuk hidayah. Keadaan hidayah itu adalah: kemajuan dan kesejahteraan dalam rupa yang layak bagi manusia. Pencerahan dan penyempurnaan dalam rupa yang perlu bagi ruh. Di dalam kelompok-kelompok, sisi kesatuan pun mengusir rasialisme dan nasionalisme negatif.

Dan sebagai gantinya adalah ikatan diniyah, nisbat kebangsaan (tanah air), hubungan kelas, dan persaudaraan imani. Keadaan ikatan ini adalah: suatu persaudaraan yang tulus, suatu keselamatan yang umum. Jika dari luar terjadi pelanggaran, ia pun membela diri. Maka kini engkau telah paham; apa rahasia bahwa (dunia Islam) merajuk, tak menerima peradaban itu. Hingga kini, kaum muslimin tidak masuk ke peradaban masa kini ini dengan kehendak mereka. Ia tak cocok bagi mereka; bahkan ia menghantam mereka dengan belenggu perbudakan yang dahsyat. Bahkan yang semestinya menjadi penawar bagi manusia, telah menjadi racun. Ia mencampakkan delapan puluh persennya ke dalam kesukaran dan kesengsaraan. Ia mengeluarkan sepuluh persen berupa suatu kebahagiaan palsu!

Adapun sepuluh persen yang lain, ia biarkan setengah-setengah tanpa kenyamanan! Keuntungan perdagangan yang datang menjadi milik minoritas yang zalim. Akan tetapi kebahagiaan yang sejati adalah: kebahagiaan bagi semua. Sekurang-kurangnya, ia menjadi jalan keselamatan bagi mayoritas. Al-Qur'an ini, yang turun sebagai rahmat bagi manusia, hanya menerima satu bentuk peradaban: yang memberi kebahagiaan kepada semua, atau kepada mayoritas. Adapun bentuk masa kini, nafsu telah bebas, hawa pun telah merdeka — suatu kemerdekaan hewani. Nafsu berkuasa sewenang-wenang. Hawa pun menjadi lalim, menjadikan kebutuhan yang tak perlu berkedudukan sebagai kebutuhan yang perlu. Ia melenyapkan kenyamanan... Sementara di kebadawian seseorang hanya butuh empat hal, peradaban membuatnya butuh seratus hal, lalu menjadikannya fakir. Usaha yang halal tak mencukupi pengeluaran.

Di sini, tipu daya menggiring manusia kepada yang haram. Ia merusak asas akhlak dari titik ini. Ia memberi kekayaan dan kemegahan kepada jamaah dan jenis. Namun ia menjadikan individu, pribadi, tak berakhlak sekaligus fakir. Saksinya banyak. Seluruh kebiadaban, kejahatan, kezaliman, dan pengkhianatan di zaman-zaman awal, dimuntahkan oleh peradaban keji ini dalam sekali muntah. Lambungnya{(Catatan): Berarti ia akan memuntahkan yang lebih dahsyat. Ya, dengan dua Perang Umum ia memuntahkan sedemikian, sehingga wajah udara, laut, dan darat menjadi keruh, ternoda darah...}akan lebih keruh lagi. Adapun penolakan bermakna di dunia Islam pun menjadi bahan perhatian.

Ia gelisah dalam menerima, dan berlaku dingin pula. Ya, cahaya Ilahi yang ada dalam Syariat yang cemerlang memiliki suatu sifat mumtaz: kemandirian dan kebebasan. Sifat itulah yang tak membiarkan cahaya hidayah itu dikuasai oleh kejeniusan Romawi yang merupakan ruh peradaban itu. Hidayah yang ada padanya tak dapat bercampur, tak dapat dicangkokkan, dan tak dapat tunduk kepada filsafat yang ada pada peradaban itu. Kasih sayang dalam ruh keislaman, kemuliaan iman, syariat yang dipeliharanya —

Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat telah menggenggam hakikat-hakikat syariat di tangan putihnya. Pada tangan kanan yang putih itu, masing-masing adalah tongkat Musa. Peradaban penyihir itu, di masa depan akan bersujud takjub kepadanya...

Kini perhatikanlah ini: Roma Kuno dan Yunani memiliki dua kejeniusan; keduanya kembar dari satu asal, yang satu berlumur khayal, yang lain penyembah materi. Keduanya tak dapat berpadu, laksana minyak di dalam air. Berlalunya zaman menghendaki, peradaban berjuang, Kristen pun berusaha, namun tak satu pun berhasil memadukannya. Masing-masing sedikit-banyak memelihara kemandiriannya. Bahkan kini, kedua ruh itu, seolah tubuh-tubuhnya telah berganti, menjadi Jerman dan Prancis.

Seolah sejenis tanâsukh telah melewati kepala mereka. Wahai saudara mitsaliku! Zaman telah menunjukkan demikian. Kedua kejeniusan kembar itu menolak sebab-sebab pemaduan laksana lembu. Kini pun keduanya tak berdamai. Oleh karena keduanya kembar, bersaudara dan berkawan, seperjalanan dalam kemajuan; namun keduanya saling berkelahi, sama sekali tak berdamai. Bagaimana mungkin — sedangkan asal, tambang, dan sumbernya berbeda jenis — cahaya yang ada dalam Al-Qur'an dan hidayah syariat dapat berdamai serta berpadu dan bersatu dengan kejeniusan Romawi yang merupakan ruh peradaban ini?

Kejeniusan itu dan hidayah ini, sumbernya berbeda: hidayah turun dari langit, kejeniusan keluar dari bumi. Hidayah bekerja di kalbu, lalu menggerakkan otak pula. Kejeniusan bekerja di otak, lalu mengacaukan kalbu pula. Hidayah menerangi ruh, menumbuhkan bulir-bulir. Natur yang gelap bercahaya dengannya. Bakat kesempurnaan seketika melaju, menjadikan nafsu jasmani sebagai pelayan yang patuh perintah. Ia menjadikan manusia yang berhimmah berwajah malaikat. Adapun kejeniusan: pertama-tama ia memandang kepada nafsu dan jasad, masuk ke natur, menjadikan nafsu sebagai ladang. Bakat nafsani tumbuh berkembang. Ia menjadikan ruh sebagai pelayan, mengeringkan bulir-bulir. Ia memperlihatkan wajah setan pada manusia. Hidayah memberi kebahagiaan pada dua kehidupan (dunia-akhirat), menyebarkan cahaya pada dua negeri.

Ia meninggikan manusia. Adapun kejeniusan bermata satu yang laksana Dajjal{(Catatan): Pada ini pun ada isyarat halus.}hanya memahami satu negeri dan satu kehidupan; ia menjadi penyembah materi dan pemuja dunia. Ia menjadikan manusia binatang-binatang buas. Ya, kejeniusan menyembah natur yang tuli, patuh kepada kekuatan yang buta. Akan tetapi hidayah mengenal seni yang berkesadaran, memandang kepada kudrat yang penuh hikmah. Kejeniusan menutupi bumi dengan tabir kekufuran nikmat. Hidayah menaburkan cahaya syukur. Dari rahasia inilah: kejeniusan buta lagi tuli; hidayah mendengar lagi melihat. Dalam pandangan kejeniusan, nikmat-nikmat di bumi adalah rampasan tak bertuan. Ia memberi rasa perampasan dan pencurian tanpa terima kasih, suatu rasa buas untuk merenggutnya dari natur. Dalam pandangan hidayah, nikmat-nikmat yang tersebar di dada bumi dan di wajah alam semesta adalah buah rahmat. Di bawah setiap nikmat ia melihat suatu tangan pemberi kebaikan, lalu menyuruh menciumnya dengan syukur.

Ini pun tak kuingkari: pada peradaban terdapat banyak kebaikan.. akan tetapi semua itu bukanlah milik Nasrani, bukan ciptaan Eropa, bukan seni abad ini.. Melainkan milik semua: ia adalah harta yang lahir dari pertemuan pikiran-pikiran, dari syariat-syariat samawi, dari kebutuhan-kebutuhan fitri, terutama syariat Ahmadi صلى الله عليه وسلم,

dan dari revolusi Islami. Tak seorang pun dapat memilikinya sendiri. Majelis para makhluk mitsali, ketua majelis itu bertanya lagi, dan berkata:

"Musibah senantiasa menjadi akibat pengkhianatan, sebab balasan. Wahai orang zaman ini! Takdir menampar, dan menghantamkan qada. Dengan perbuatan apa kalian memberi fatwa demikian kepada qada dan takdir, sehingga qada Ilahi menghukum dengan musibah, menghajar kalian? Kesalahan mayoritas senantiasa menjadi sebab bagi musibah umum." Aku berkata: Kesesatan pikiran manusia, kekerasan kepala bak Namrud, kesombongan bak Firaun, membengkak dan membengkak di bumi, hingga mencapai langit. Ia pun menyentuh rahasia penciptaan yang peka. Dari langit ia menurunkan — laksana Topan dan wabah — gempa perang ini; ia menghantamkan tamparan samawi kepada si kafir. Berarti musibah ini adalah musibah seluruh manusia, secara jenis mencakup semua. Suatu sebab bersamanya: kesesatan pikiran yang datang dari materialisme, kemerdekaan hewani, kelaliman hawa nafsu... Adapun sebab bagian kita: kelalaian dan peninggalan kita terhadap rukun-rukun Islam. Sebab Sang Pencipta Yang Mahatinggi meminta satu jam dari dua puluh empat jam. Ia memerintahkan dan meminta jam itu saja untuk salat lima waktu, dari kita, kembali untuk kita sendiri. Dengan kemalasan kita meninggalkannya, dengan kelalaian ia terabaikan. Maka kita menerima hukuman demikian: dalam lima tahun, dalam dua puluh empat jam ia senantiasa menyuruh kita mengerjakan sejenis salat dengan latihan, kesukaran, penggerakan, dan berlari.

Dan setahun sekali Ia meminta puasa dari nafsu kita, sebulan saja. Kita mengasihani nafsu kita, maka sebagai kafarat Ia menyuruh kita berpuasa paksa selama lima tahun. Dari harta yang Ia berikan sendiri, Ia meminta zakat, sepersepuluh atau seperempat puluh. Dengan kekikiran kita berbuat zalim, kita mencampurkan yang haram, kita tak memberi dengan kehendak kita. Maka Ia pun mengambil dari kita zakat yang menumpuk, dan menyelamatkan kita dari yang haram pula. Amal adalah sejenis balasan. Balasan adalah sejenis amal. Amal saleh ada dua: yang satu positif lagi ikhtiari, yang lain negatif lagi terpaksa. Seluruh derita dan musibah adalah amal saleh; tetapi bersifat negatif lagi terpaksa. Hadis memberi hiburan. Umat yang berdosa ini berwudu dengan darahnya. Ia bertobat secara perbuatan. Adapun balasan segeranya: seperlima umat ini, empat juta, ia keluarkan (sebagai syahid); dengan derajat kewalian dan martabat kesyahidan Ia memberi gelar gazi, menghapus dosa. Majelis mitsali yang agung ini memuji perkataan ini. Aku pun seketika terbangun, atau baru saja tertidur dalam keadaan jaga. Menurutku jaga adalah mimpi, dan mimpi adalah sejenis jaga. Di sana adalah utusan zaman, di sini adalah Said Nursî...

Jika kejahilan mengambil majaz ke tangannya, ia menjadikannya hakikat

Jika majaz jatuh dari tangan ilmu ke tangan kejahilan, ia berubah menjadi hakikat, dan membuka pintu-pintu khurafat. Di masa kecilku aku melihat gerhana bulan. Aku bertanya kepada ibuku. Ia berkata: "Ular telah menelannya." Aku berkata: "Mengapa ia terlihat?" Ia berkata: "Di sana ular menjadi setengah tembus pandang demikian." Maka suatu majaz demikian disangka hakikat: orbit Matahari dan Bulan, pada titik potongnya yang bernama ra's dan zeneb (kepala dan ekor), dengan terhalangnya oleh Bumi, dengan perintah Ilahi bulan pun gerhana. Dua busur khayali disebut "dua naga", dengan suatu perumpamaan khayali, nama pun menjadi yang dinamai. Adapun naga adalah ular.

Berlebih-lebihan adalah celaan terselubung

Sifatilah apa pun yang engkau sifati sebagaimana adanya. Berlebih-lebihan dalam pujian, menurutku, adalah celaan terselubung. Kebaikan yang melebihi kebaikan Ilahi bukanlah kebaikan...

Kemasyhuran adalah zalim

Kemasyhuran adalah seorang lalim; ia menjadikan milik orang lain sebagai milik pemiliknya. Dalam lelucon Hoca Nasreddin yang masyhur, zakatnya — yakni sepersepuluhnya — adalah milik hakikinya... Rustam dari Sistan, khayal kebesarannya merampas kebanggaan Iran selama satu abad. Khayal termasyhur itu membengkak dengan perampasan dan rampasan.. bercampur khurafat, ia mencampakkan jenis manusia.

Mereka yang menyangka agama dan kehidupan dapat dipisahkan adalah sebab kecelakaan

Kesalahan Turki Muda itu: ia tak mengetahui bahwa agama pada kita adalah asas kehidupan. Ia menyangka bangsa dan keislaman terpisah. Ia mengira peradaban itu abadi lagi berkuasa. Ia memandang kebahagiaan hidup ada di dalamnya. Kini zaman telah menunjukkan bahwa susunan peradaban itu{(Catatan): Suatu isyarat gaib yang sempurna. Peradaban zalim tak beragama yang sedang sekarat memandang ini.}rusak lagi berbahaya; pengalaman yang pasti telah menunjukkan ini kepada kita. Agama adalah kehidupan bagi kehidupan, sekaligus cahayanya dan asasnya. Dengan menghidupkan agama, terjadilah penghidupan bangsa ini. Islam telah memahami ini... Berbeda dengan agama lain, kadar kemajuan bangsa berbanding lurus dengan kadar berpegangnya pada agama kita. Kemunduran bangsa terjadi sebanding dengan pengabaiannya. Suatu hakikat sejarah, yang telah dilupakan darinya...

Kematian tidak sedahsyat yang disangka

Ia adalah wahm kesesatan yang menjadikan kematian dahsyat. Kematian adalah penggantian pakaian, atau perpindahan tempat. Ia keluar dari penjara ke taman. Siapa yang menginginkan kehidupan mesti menginginkan kesyahidan. Al-Qur'an mengisyaratkan kepada kehidupan syahid. Setiap syahid yang belum mengecap sakratulmaut, mengetahui dan melihat dirinya hidup. Akan tetapi ia menemukan kehidupan barunya lebih suci. Ia menyangka dirinya belum mati. Perhatikanlah, nisbatnya terhadap orang-orang mati menyerupai ini: dua orang berjalan-jalan di sebuah taman indah yang menghimpun segala jenis kelezatan dalam mimpi. Yang satu tahu bahwa itu mimpi; ia tak mengambil kelezatan. Itu tak menyenangkannya, bahkan ia menyesal. Yang lain tahu bahwa itu alam jaga; ia mengambil kelezatan hakiki, dan bagi baginya menjadi hakiki. Mimpi telah menjadi bayangan alam mitsal, dan alam mitsal telah menjadi bayangan barzakh. Karena itu pedoman mereka saling menyerupai.

Politik adalah setan di alam pikiran; mesti dimintakan perlindungan darinya!

Politik peradaban mengorbankan minoritas demi kenyamanan mayoritas. Bahkan minoritas yang zalim menjadikan mayoritas awam sebagai korban bagi dirinya. Keadilan Al-Qur'an: ia tak dapat memandang sia-sia nyawa dan darah satu orang tak berdosa, dan tak dapat mengorbankannya — jangankan demi mayoritas, bahkan demi seluruh jenis manusia... Ayat مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ (Barangsiapa membunuh satu jiwa tanpa jiwa lain) meletakkan dua rahasia agung di hadapan pandangan. Yang satu: keadilan murni. Kaidah agung ini: bahwa individu dengan jamaah, pribadi dengan jenis manusia — bagaimana kudrat memandangnya sama; keadilan Ilahi memandang keduanya dengan satu pandangan. Suatu sunah yang abadi. Pribadi tunggal mengorbankan haknya sendiri. Akan tetapi haknya tak boleh dikorbankan bahkan demi seluruh manusia. Pembatalan haknya, penumpahan darahnya, dan lenyapnya kesuciannya, adalah semisal dan setara dengan pembatalan hak seluruh jenis dan kesucian seluruh manusia. Rahasia keduanya: seorang egois, di jalan ketamakan dan hawa nafsu, jika ia membunuh seorang tak berdosa, seandainya ia mampu dan hawa nafsunya menghalangi, ia akan menghancurkan dunia dan memusnahkan anak Adam.

Kelemahan memberanikan musuh. Allah menguji hamba-Nya. Hamba tak dapat menguji Allah-nya.

Wahai engkau yang takut lagi lemah! Ketakutan dan kelemahanmu sia-sia, dan merugikan dirimu; ia memberanikan dan menarik pengaruh dari luar. Wahai engkau yang penuh was-was! Suatu maslahat yang pasti tak dikorbankan demi mudarat yang khayali. Yang mesti bagimu adalah bertindak; hasilnya milik Allah. Urusan-Nya tak dicampuri. Allah menyeret hamba-Nya ke medan ujian. "Jika engkau berbuat begini, maka Aku berbuat begini," firman-Nya. Adapun hamba sama sekali tak dapat menguji Allah-nya. Jika ia berkata "Semoga Rabbku memberi taufik, dan aku mengerjakan ini," ia melampaui batas. Setan berkata kepada Isa: "Oleh karena segala sesuatu Dia yang membuat; takdir itu satu, tak berubah. Jatuhkanlah dirimu dari gunung. Apa yang akan Ia perbuat padamu?" Isa berkata: "Wahai terkutuk! Hamba tak dapat menguji dan mengujikan Rabbnya!."

Jangan berlebih-lebihan pada hal yang kausukai

Obat suatu penyakit menjadi penyakit bagi penyakit lain. Penawarnya menjadi racun. Jika obat melampaui batas, ia mendatangkan penyakit, membunuh.

Mata kekerasan kepala melihat malaikat sebagai setan

Pekerjaan kekerasan kepala adalah ini: jika setan menolong seseorang, ia menyebutnya "malaikat", dan membacakan rahmat pula untuknya. Jika ia melihat malaikat di pihak lawan, ia menyangkanya setan yang berganti pakaian, lalu memusuhi dan mengutuk.

Setelah menemukan yang haq, jangan memunculkan perselisihan demi yang lebih haq

Wahai pencari hakikat, oleh karena pada yang haq ada kesepakatan, dan pada yang lebih haq ada perselisihan. Terkadang yang haq lebih haq daripada yang lebih haq. Dan yang baik dapat lebih baik daripada yang lebih baik.

Islam adalah kedamaian dan perdamaian; ia tak menghendaki pertikaian dan permusuhan di dalam

Wahai Dunia Islam! Hidupmu ada dalam persatuan. Jika engkau menginginkan persatuan, pedomanmu mesti ini: sebagai ganti "Dialah kebenaran (Hüvel Hak)", mesti "Ia adalah suatu kebenaran (Hüve Hakkun)". Sebagai ganti "Dialah yang baik (Hüvel Hasen)", mesti "Dialah yang lebih baik (Hüvel Ahsen)"... Setiap muslim mesti berkata kepada jalan dan mazhabnya sendiri: "Inilah yang haq, aku tak mengusik yang lain. Jika yang lain indah, punyakulah yang terindah." Ia tak boleh berkata: "Inilah yang haq, yang lain batil." Atau: "Hanya punyaku yang indah; yang lain salah dan buruk." Mentalitas monopoli datang dari cinta diri, lalu menjadi penyakit, dan dari sini keluar pertikaian. Berbilangnya penyakit dan obat adalah haq, maka yang haq pun berbilang. Beragamnya kebutuhan dan makanan adalah haq, maka yang haq pun beragam. Bertambahnya bakat dan pendidikan adalah haq, maka yang haq pun bertambah. Suatu benda tunggal, sekaligus racun dan penawar. Menurut dua watak yang berbeda, dalam masalah-masalah cabang, hakikat tidaklah tetap, melainkan nisbi dan majemuk; watak-watak mukalaf memberinya suatu bagian, lalu menurutnya terjadi kenyataan dan penyusunan. Setiap pemilik mazhab menghukumi secara mutlak-terbuka. Ia menyerahkan penentuan batas mazhabnya kepada kecenderungan wataknya; fanatisme mazhabi menjadi sebab penyamarataan. Komitmen pada penyamarataan menjadi sebab pertikaian. Sebelum Islam, pada lapisan-lapisan manusia terdapat jurang yang dalam dan kesenjangan yang ajaib; pada suatu masa hal itu menghendaki berbilangnya nabi, beragamnya syariat, dan bermacam-macam mazhab. Islam melakukan suatu revolusi pada manusia, manusia pun mendekat, syariat mempersatukan, Nabi menjadi tunggal. Tingkatan tidak menjadi satu; maka mazhab pun berbilang. Ketika satu pendidikan telah mencukupi, mazhab-mazhab pun bersatu...

Pada penciptaan dan penghimpunan hal-hal berlawanan terdapat suatu hikmah besar. Di tangan kudrat, matahari dan partikel adalah sama.

Wahai saudara yang kalbunya terjaga! Manifestasi kekuasaan berasal dari penghimpunan hal-hal berlawanan; tahukah engkau rahasia derita di dalam kelezatan, keburukan di dalam kebaikan, kejelekan di dalam keindahan, mudarat di dalam manfaat, bencana di dalam nikmat, api di dalam cahaya? Agar hakikat-hakikat nisbi memperoleh ketetapan, agar pada satu benda ada banyak benda,

agar ia memperoleh wujud dan terlihat. Dengan kecepatan gerak, sebuah titik menjadi garis. Kecepatan pemutaran menjadikan sepercik cahaya suatu lingkaran cahaya. Tugas hakikat-hakikat nisbi: di dunia, bulir-bulir menjadi tangkai. Lumpur alam semesta, ikatan tatanannya, jalinan ukirannya — itulah yang membentuknya. Di akhirat, perkara-perkara nisbi ini menjadi hakikat. Tingkatan pada panas menjadi sebab masuknya dingin. Derajat pada keindahan adalah masuknya keburukan. Sebab menjadi illat. Cahaya berutang kepada kegelapan, kelezatan berutang kepada derita; kesehatan tak ada tanpa penyakit. Jika tak ada Surga, barangkali Neraka tak menyiksa. Ia tak ada tanpa dingin membeku... Jika tak ada dingin membeku, ia pun tak dapat membakar. Sang Pencipta Yang Tak Pernah Sirna memperlihatkan hikmah-Nya dalam penciptaan hal-hal berlawanan. Keagungan-Nya pun tampak... Sang Qadîr Yang Tak Pernah Sirna memperlihatkan kekuasaan-Nya dalam penghimpunan hal-hal berlawanan. Kebesaran-Nya pun tampak. Oleh karena kudrat Ilahi itu menjadi keharusan zati bagi Zat Yang Azali, dan keniscayaan yang lahir darinya; maka padanya tak ada lawan, kelemahan tak dapat menyusup, padanya tak ada tingkatan, nisbatnya kepada segala sesuatu adalah satu, tak ada sesuatu pun yang berat.

Matahari telah menjadi ceruk lampu bagi cahaya kudrat itu. Bagi cahaya ceruk ini, permukaan laut adalah cermin, dan mata embun-embun adalah cermin masing-masing. Permukaan laut yang luas memperlihatkan matahari; tetesan di keningnya pun memperlihatkannya, mata kecil embun bersinar laksana bintang. Ia memegang identitas yang sama; embun dan laut menjadi satu dalam pandangan matahari, keduanya mewakili kudrat; biji mata embun adalah matahari kecil. Dan matahari yang megah ini pun adalah embun kecil; biji matanya adalah cahaya yang datang dari matahari kudrat, ia menjadi bulan bagi kudrat itu. Langit adalah suatu lautan; dengan suatu nafas Rahman, di keningnya beriak, tetesan yang merupakan bintang dan matahari. Kudrat bermanifestasi, menaburkan kilau-kilau bercahaya pada tetesan itu. Setiap matahari adalah setetes, setiap bintang adalah embun, setiap kilau adalah pantulan. Matahari yang laksana tetesan itu adalah suatu pantulan kecil dari limpahan manifestasi. Kilau kecil itu menjadikan kacanya bening, bersinar laksana mutiara. Di dalam mata halus bintang yang laksana embun itu, ia membuat suatu tempat bagi kilau; kilau menjadi pelita, matanya menjadi kaca, lampunya bercahaya.

Jika engkau memiliki keutamaan, biarlah ia tersembunyi di dalam debu, agar ia tumbuh berkembang

Wahai pemilik keistimewaan yang masyhur! Jangan menzalimi dengan menonjolkan diri. Jika engkau tinggal di balik tabir ketersembunyian, engkau memberi kebaikan dan keberkahan kepada saudara-saudaramu. Kemungkinan dan kebolehjadian bahwa engkau muncul dari bawah setiap saudara, dan bahwa itu adalah engkau, menarik pandangan hormat bagi masing-masing. Jika engkau menonjolkan diri lalu keluar dari balik tabir, sementara di bawah tabir engkau pemberi kemuliaan, di atasnya engkau menjadi zalim. Sementara di sana engkau matahari, di sini engkau membuat bayangan. Engkau menjatuhkan saudara-saudaramu dari pandangan hormat. Berarti penonjolan diri dan pengkhususan adalah perkara-perkara yang zalim, jika ia sahih dan benar demikian, engkau pun melihatnya demikian. Apalagi memperoleh pengkhususan kemasyhuran dengan kepura-puraan dan riya yang dusta? Inilah suatu rahasia agung, bahwa hikmah Ilahi dan tatanan yang terindah itu menutupi seorang individu luar biasa di dalam jenisnya sendiri dengan tabir, dengan itu memberinya nilai, dan menjadikannya dipandang baik. Inilah contohnya bagimu: wali di antara manusia, ajal di antara umur, telah menjadi tak diketahui dan tersembunyi. Ada satu saat yang tersembunyi di hari Jumat, jika engkau berdoa ia dikabulkan. Ada malam Lailatulqadar yang tersebar di Ramadan, dan iksir isim a'zam yang tersembunyi di dalam asma husna. Keagungan contoh-contoh ini, dan rahasia yang indah itu, tampak dalam ketersamaran, dan terbukti dalam ketersembunyian. Misalnya: dalam ketersamaran ajal ada suatu keseimbangan; setiap menit engkau memegang keadaan apa pun yang engkau ambil. Dua timbangan takut dan harap, khidmah akhirat dan dunia; sangkaan akan kekekalan memberi kelezatan umur. Umur dua puluh tahun yang samar lebih baik daripada umur seribu tahun yang ujungnya tertentu. Sebab jika separuhnya telah lewat, setiap kali suatu jam datang, seolah engkau melangkah menuju tiang gantungan; sedikit demi sedikit bersedih.. wahm pun tak memberi hiburan, engkau pun tak menjadi tenang...

Merasa lebih dari rahmat dan murka Allah adalah suatu kesalahan

Tak boleh berahmat lebih dari rahmat Allah. Tak boleh bermurka lebih dari murka Allah. Kalau demikian, serahkanlah urusan kepada Sang Mahaadil lagi Maha Penyayang itu. Kasih sayang yang berlebih adalah derita, murka yang berlebih adalah tercela...

Pemborosan adalah pintu kefasikan, kefasikan adalah pintu kesengsaraan

Wahai saudaraku yang boros! Dari sisi gizi, dua suap adalah sama; sesuap seharga satu kurus, sesuap seharga sepuluh kurus. Baik sebelum masuk ke mulut maupun setelah lewat tenggorokan, keduanya menjadi setara. Hanya di mulut, itu pun dalam beberapa detik, ia memberi kenikmatan pada indra perasa yang tak sadar. Ada suatu perbedaan cita rasa, indra perasa itu senantiasa menipunya; ia adalah penjaga pintu dan pengawas bagi tubuh dan lambung. Pengaruhnya negatif, bukan positif! Tugasnya hanya membelai dan menyenangkan penjaga pintu! Engkau memberi kenikmatan pada yang tak sadar itu, lalu mengacaukannya dalam tugas aslinya; memberi sebelas kurus sebagai ganti satu kurus, menjadi pekerjaan setan. Pemborosan yang paling fasik, penghamburan yang paling sakit, adalah suatu bentuk, suatu ragam; jangan berhasrat pada pekerjaan ini...

Indra perasa adalah operator telegraf; jangan tersesatkan dengan pemanjaan rasa

{(Catatan): Ini adalah benih Risalah Iktisad. Barangkali ia telah membaca Risalah Iktisad yang sepuluh halaman itu dalam sepuluh baris sebelum wujudnya.}Hikmah dan inayah rububiyah Ilahi telah menjadikan mulut dan hidung sebagai dua pusat, dan meletakkan pos perbatasan serta para pembawa kabar di dalamnya. Di alam kecil ini Ia meletakkan pembuluh darah sebagai telepon, saraf sebagai telegraf. Ia menugaskan indra perasa sebagai inayah bagi telepon penciuman dan telegraf. Sang Maha Pemberi Rezeki yang hakiki meletakkan di atas rezeki suatu daftar menu dari rahmat: rasa, warna, dan aroma. Maka ketiga indra ini, dari sisi Sang Maha Pemberi Rezeki itu, masing-masing adalah pengumuman, undangan, dan izin, sekaligus penyeru yang dengannya orang yang membutuhkan dan pembeli ditarik. Ia memberi hewan-hewan pemakan rezeki alat berupa rasa, penglihatan, dan penciuman. Dan

Ia menghiasi makanan dengan aneka hiasan; menghibur hati yang lalai, menarik yang tak acuh dengan menggugah. Ketika makanan masuk ke mulut, seketika indra perasa menarik telegraf ke segenap penjuru tubuh. Telepon penciuman memberitahukan jenis makanan yang datang, dan ragamnya pula. Para pemakan rezeki yang kebutuhannya berbeda-beda bertindak menurutnya, bersiap menurutnya, atau datang jawaban penolakan. Dan ia mencampakkan ke luar pintu, meludahi wajahnya. Oleh karena indra perasa ditugaskan oleh inayah untuk ini; jangan menyesatkannya dengan kelezatan, jangan menipunya dengan pemanjaan rasa. Kemudian ia pun melupakan apa itu selera yang benar, datanglah suatu selera palsu; menimpa kepalanya. Kesalahannya mendatangkan hukuman berupa penyakit dan berbagai illat. Kelezatan hakiki keluar dari selera hakiki, selera yang benar keluar dari kebutuhan yang benar. Dalam kelezatan yang mencukupi ini, raja dan pengemis adalah sama. Kelezatan itu setara, baik sedinar maupun sedirham; ia mengubah derita menjadi obat.

Sebagaimana niat, cara pandang pun mengubah kebiasaan menjadi ibadah

Perhatikanlah titik ini; bagaimana dengan niat kebiasaan mubah menjadi ibadah... Demikian pula dengan cara pandang, sains-sains alam menjadi makrifat Ilahi... Penelitian pun menjadi tafakur, yakni jika dengan pandangan harfi, dari segi seni, sebagai ganti "Betapa indah" berkata "Betapa indah Sang Pencipta membuatnya, bagaimana Ia menciptakannya". Jika engkau memandang alam semesta dari sudut ini, ukiran Sang Pelukis Azali, dengan tatanan dan hikmahnya, sepercik maksud dan kesempurnaan, menerangi keraguan. Ilmu-ilmu alam semesta berbalik menjadi makrifat Ilahi. Jika dengan makna isim, dari sudut natur, engkau memandang "bagaimana ia terjadi pada dirinya sendiri"; jika engkau memandang alam semesta demikian, lingkaran sains menjadi lingkaran kejahilan. Hakikat-hakikat yang malang, tangan-tangan tak bernilai menjadikannya tak bernilai. Saksinya banyak...

Pada zaman demikian, izin syar'i tak membiarkan kita bebas dalam kemewahan

Setiap kali kelezatan memanggil, mesti berkata "Seolah aku telah makan". Orang yang menjadikan "seolah aku telah makan" sebagai pedoman, tak memakan sebuah masjid.{(Catatan): Di Istanbul ada sebuah masjid bernama "Seolah Aku Telah Makan". Orang yang berkata "Seolah aku telah makan" membangunnya dengan uang yang ia selamatkan dari hawa nafsunya.}Dahulu kebanyakan muslim, secara umum, tidak kelaparan. Ada sedikit kebebasan memilih dalam kemewahan. Adapun kini, kebanyakan telah jatuh dalam kelaparan. Tak tersisa izin syar'i untuk bermewah-mewah. Penghidupan mayoritas besar dan kebanyakan orang tak berdosa adalah sederhana. Mengikuti mereka dengan kesederhanaan gizi seribu kali lebih utama daripada menyerupai minoritas yang boros, atau sebagian orang fasik, dalam kemewahan gizi...

Ada kalanya ketiadaan nikmat adalah nikmat

Ingatan adalah suatu nikmat. Akan tetapi pada orang yang tak berakhlak, di masa musibah, kelupaan lebih utama baginya. Kelupaan pun suatu nikmat. Ia hanya menyuruh menanggung derita setiap hari, dan melupakan derita yang telah menumpuk.

Pada setiap musibah ada suatu sisi nikmat

Wahai orang yang tertimpa musibah! Di dalam musibah terkandung suatu nikmat. Perhatikanlah, dan lihatlah. Sebagaimana pada setiap benda ada suatu derajat panas, pada setiap musibah ada suatu derajat nikmat. Pikirkanlah yang lebih besar. Dengan melihat derajat nikmat pada yang kecil, bersyukurlah banyak kepada Allah. Jika tidak, jika engkau ketakutan dengan membesar-besarkan, dan meniup dengan "aduh aduh", ia justru membengkak sebaliknya. Ia membengkak lalu menakutkan. Jika engkau khawatir pula, yang satu menjadi dua. Gambarnya di kalbu berbalik menjadi hakikat; ia mengambil pelajaran dari hakikat. Kemudian ia berbalik, mulai menampar kalbumu...

Jangan tampak besar, engkau akan mengecil

Wahai engkau yang keakuannya berlipat, kepalanya pun sombong! Ketahuilah timbangan ini: bagi setiap orang, sudah pasti dalam masyarakat manusia, dalam bangunan sosial, ada suatu jendela bernama martabat, untuk melihat dan terlihat. Jika jendela itu lebih tinggi dari perawakan nilainya, ia akan meregang dengan kesombongan, memanjang. Jika jendela itu lebih rendah dari perawakan himmahnya, ia akan membungkuk dengan ketawaduan, merendah. Pada orang-orang sempurna, ukuran kebesaran adalah kekecilan. Pada orang-orang yang kurang, timbangan kekecilan adalah kebesaran...

Jika tempat suatu perangai berubah, hakikatnya pun berubah

Suatu perangai.. tempatnya berbeda, wajahnya satu. Kadang raksasa, kadang malaikat, kadang saleh, kadang celaka; contohnya adalah ini: Suatu sifat yang dianggap harga diri pada orang lemah terhadap yang kuat, jika ada pada yang kuat, menjadi kesombongan dan kecongkakan. Suatu sifat yang dianggap ketawaduan pada yang kuat terhadap yang lemah, jika ada pada yang lemah, menjadi kehinaan dan riya. Seorang pemimpin, jika di kedudukannya, kesungguhannya adalah kewibawaan; kerendahan hatinya adalah kehinaan. Jika di rumahnya, kerendahan hatinya adalah ketawaduan, kesungguhannya adalah kesombongan. Jika pada seseorang yang berbicara untuk dirinya sendiri: toleransi adalah kesetiaan; pengorbanan adalah suatu perangai, suatu amal saleh. Jika pada seseorang yang berbicara mewakili orang lain: toleransi adalah pengkhianatan; pengorbanan adalah suatu sifat, suatu amal celaka. Tawakal dalam menata sebab-sebab awal adalah kemalasan. Penyerahan pada titik hasil adalah tawakal syar'i. Rida terhadap buah usaha dan bagiannya adalah kepuasan yang terpuji, dan kekuatan bagi kecenderungan berusaha. Mencukupkan diri dengan harta yang ada bukanlah kepuasan yang disukai; melainkan kerendahan himmah. Contohnya lebih banyak. Al-Qur'an menyebut amal saleh dan takwa secara mutlak. Dalam ketersamarannya ia menyiratkan pengaruh kedudukan. Ijaznya adalah suatu perincian. Diamnya adalah perkataan yang luas.

"Kebenaran mengungguli" pada zatnya, dan akibat pun yang dimaksud

Wahai sahabat! Pada suatu ketika seorang penanya berkata: "Oleh karena 'kebenaran mengungguli' adalah haq, mengapa yang kafir mengungguli yang muslim; kekuatan mengungguli kebenaran?" Aku berkata: Pandanglah empat poin! Kesulitan ini pun terpecahkan. Poin pertama: setiap perantara suatu kebenaran tak mesti berupa kebenaran. Demikian pula, setiap perantara suatu kebatilan tak mesti berupa kebatilan. Hasilnya: suatu perantara yang haq mengungguli perantara yang batil. Karenanya, suatu kebenaran dikalahkan oleh suatu kebatilan. Itu terjadi sementara, dengan perantara. Bukan pada zatnya, dan bukan selamanya. Akan tetapi akibat dari segala akibat, ia tetap milik kebenaran. Kekuatan memiliki suatu hak, suatu rahasia penciptaan. Poin kedua: sekalipun wajib setiap sifat muslim adalah muslim, secara lahiriah itu tak senantiasa terwujud lagi tetap. Demikian pula: tak mesti setiap sifat kafir adalah kafir dan lahir dari kekufurannya. Tak mesti setiap sifat fasik adalah fasik dan lahir dari kefasikannya, dan tak senantiasa tetap demikian. Berarti suatu sifat kafir yang bersifat muslim mengungguli sifat tak-syar'i pada seorang muslim. Dengan perantara, kafir itu pun mengunggulinya. Lagi pula di dunia, hak kehidupan bersifat menyeluruh lagi umum. Rahmat umum itu memiliki suatu manifestasi bermakna, suatu rahasia hikmah; kekufuran tak menghalanginya. Poin ketiga: dari dua sifat kesempurnaan Zat Dzul-Jalâl itu, dua manifestasi syar'i; dari sifat iradah datang kehendak dan takdir, yaitu syariat tekwini... Dari sifat Kalam datang syariat yang masyhur. Terhadap perintah-perintah syar'i (tasyri'i) ada ketaatan dan pembangkangan,

bagaimana adanya. Demikian pula terhadap perintah-perintah tekwini ada ketaatan dan pembangkangan. Yang pertama umumnya melihat balasan dan pahalanya di negeri akhirat. Yang kedua umumnya menerima balasan dan hukumannya di negeri dunia. Misalnya: sebagaimana balasan kesabaran adalah kemenangan, hukuman kemalasan adalah kesengsaraan. Demikian pula, pahala usaha adalah kekayaan. Pada keteguhan pun balasannya adalah kemenangan. Hukuman racun adalah suatu penyakit, pahala penawar adalah suatu kesehatan. Terkadang dua perintah syariat berhimpun pada satu hal. Bagi masing-masing ada satu sisi... Berarti ketaatan pada perintah tekwini adalah suatu kebenaran. Ketaatan mengungguli pembangkangan terhadap perintah itu, yang merupakan suatu keadaan batil. Jika suatu kebenaran menjadi perantara bagi suatu kebatilan, dan ia menang atas suatu kebatilan yang telah menjadi perantara bagi kebenaran; maka dengan perantara, suatu kebenaran dikalahkan oleh suatu kebatilan. Akan tetapi bukan pada zatnya. Berarti "kebenaran mengungguli" bermakna "pada zatnya". Dan akibat pun yang dimaksud, kaidah pertimbangan (haysiyet) yang dituju. Poin keempat: suatu kebenaran tinggal dalam potensi, atau tinggal tanpa kekuatan, atau tercampur. Ia pun perlu diberi suatu penyingkapan atau suatu kekuatan baru. Untuk menjadikannya murni dan bercahaya, kebatilan sementara dijadikan berkuasa atasnya, agar diketahui berapa kadar keperluan bagi lantakan kebenaran, agar ia keluar murni lagi bersih. Pada permulaan, di dunia, jika kebatilan menang, ia tetap tak memenangkan perang. "Akibat baik bagi orang bertakwa" menghantamnya dengan suatu pukulan! Maka kebatilan kalah. Rahasia "kebenaran mengungguli" menghantamnya dengan hukuman; maka kebenaran pun menang.

Sebagian kaidah sosial

Jika engkau menginginkan pedoman dalam struktur sosial: keadilan tanpa kesetaraan bukanlah keadilan yang sejati. Adapun keserupaan penuh adalah sebab penting bagi pertentangan. Sedangkan kesepadanan adalah asas saling-topang. Kekerdilan jiwa adalah sumber kesombongan. Kelemahan kalbu adalah tambang kecongkakan. Ketidakmampuan telah menjadi sumber pertentangan. Adapun keingintahuan adalah guru bagi ilmu. Kebutuhan adalah ustaz bagi kemajuan. Kesempitan adalah guru perempuan bagi kefasikan. Berarti sumber kefasikan adalah kesempitan. Adapun tambang kesempitan adalah: keputusasaan dan sangka buruk, kesesatan pikiran, kegelapan kalbu, dan pemborosan jasad.

Wanita keluar dari sarangnya dan menyesatkan manusia, mereka mesti kembali ke sarangnya

اِذَا تَاَنَّثَ الرِّجَالُ السُّفَهَاءُ بِالْهَوَسَاتِ ❊ اِذًا تَرَجَّلَ النِّسَاءُ النَّاشِزَاتُ بِالْوَقَاحَاتِ

{(Catatan): Ini adalah asas Risalah Tesettür (Hijab). Suatu mahkamah yang dua puluh tahun kemudian menjadikannya sebab penghukuman penulisnya, telah menjadikan dirinya dan para hakimnya terhukum lagi terhina selamanya.}

Peradaban tanpa mim (mimsiz medeniyet — "deniyet", kehinaan) telah menerbangkan kaum wanita dari sarangnya, mematahkan kehormatan mereka, dan menjadikan mereka barang murahan. Syariat Islam mengundang mereka dengan rahmat ke sarang lama mereka. Kehormatan mereka ada di sana, kenyamanan mereka ada di rumah, dalam kehidupan keluarga. Kebersihan adalah hiasan mereka. Kemegahan mereka adalah keindahan akhlak; keindahan wajah mereka adalah kesucian; kesempurnaan mereka adalah kasih sayang; hiburan mereka adalah anak-anak. Sekian banyak sebab kerusakan, mesti ada ketetapan yang sekukuh besi agar ia bertahan. Setiap kali seorang wanita cantik masuk ke suatu majelis persaudaraan, riya dengan persaingan, dan iri hati dengan keegoisan, menggerakkan urat-urat! Hawa nafsu yang tertidur seketika terbangun. Kebebasan yang tersingkap pada kaum wanita menjadi sebab tersingkapnya akhlak buruk pada manusia secara seketika. Pada ruh manusia beradab yang telah menjadi berangasan ini, peran gambar-gambar yang disebut potret itu — jenazah-jenazah kecil, mayat-mayat yang tersenyum — sangatlah besar; dan dahsyat pula pengaruhnya.

{(Catatan): Sebagaimana memandang seorang wanita mati dengan pandangan nafsani menunjukkan kehinaan nafsu yang dahsyat. Demikian pula, memandang gambaran indah seorang mayat wanita malang yang membutuhkan rahmat, dengan pandangan penuh syahwat, memadamkan perasaan-perasaan luhur ruh.}

Patung dan gambar yang terlarang: entah kezaliman yang membatu, entah riya yang menjelma, entah hawa nafsu yang membeku. Atau ia adalah tilsim: ia menarik arwah-arwah keji itu.

Keluasan tasarruf kudrat menolak para perantara dan penolong

Sang Qadîr Dzul-Jalâl; dari sisi keluasan pengaruh tasarruf kudrat-Nya, matahari kita menjadi laksana partikel. Tasarruf-Nya yang agung dalam satu jenis, jaraknya luas. Ambillah gravitasi antara dua partikel;

pergilah dan letakkanlah ia di samping gravitasi antara Matahari dari segala matahari dan galaksi. Bawalah seorang malaikat yang bebannya sebutir salju ke samping seorang malaikat yang laksana matahari, yang menggenggam matahari. Letakkanlah seekor ikan sebesar jarum berdampingan dengan ikan paus. Bayangkanlah sekaligus manifestasi luas Sang Qadîr Azali Dzul-Jalâl, dan kesempurnaan penciptaan-Nya dari yang terkecil hingga yang terbesar. Gravitasi dan undang-undang, laksana para perantara yang mengalir, adalah perkara-perkara konvensional; bahwa mereka adalah nama bagi manifestasi kudrat dan tasarruf hikmah.. hanya itulah maknanya. Ia tak memiliki makna lain; pikirkanlah sekaligus, engkau akan tahu dengan niscaya bahwa: sebab-sebab hakiki, perantara-perantara semisal, para penolong, dan para sekutu, masing-masing adalah perkara batil, khayalan mustahil, di hadapan kudrat itu.. Kehidupan adalah kesempurnaan bagi wujud,

kedudukannya besar lagi penting; atas dasar ini aku berkata: mengapa bumi kita, alam kita, tak menjadi taat lagi tunduk laksana hewan? Burung-burung hewani semacam ini milik Sang Sultan Azali tersebar dengan berlimpah di medan angkasa ini, megah lagi penuh keindahan. Ia melepasnya di kebun penciptaan-Nya lalu memutarnya; nyanyian pada yang itu, gerakan pada yang ini; ucapan itu adalah tasbih, keadaan itu adalah ibadah, bagi Sang Qadim Yang Tak Pernah Lenyap, Sang Hakim Yang Tak Pernah Sirna. Bumi kita sangat menyerupai hewan, memperlihatkan jejak kehidupan. Seandainya — secara pengandaian mustahil — ia mengecil sebesar telur, sangat mungkin ia menjadi seekor hewan mungil. Seekor makhluk kecil bulat, jika membesar sebesar bumi, sangat dekat kemungkinannya ia pun menjadi demikian. Jika alam kita mengecil sebesar manusia; jika bintang-bintangnya berubah menjadi rupa partikel, boleh jadi ia berubah menjadi hewan berkesadaran, dan akal pun menemukan ruang.

Berarti alam dengan rukun-rukunnya masing-masing adalah hamba yang bertasbih, yang taat lagi tunduk kepada Sang Pencipta Yang Tak Pernah Lenyap, Sang Qadîr Yang Tak Pernah Sirna. Besar secara kuantitas tak selalu mesti besar secara kualitas; sebab lebih fasih sebuah jam sebesar biji sawi daripada sebuah jam yang gambarnya sebesar Ayasofya. Penciptaan seekor lalat lebih menakjubkan daripada gajah, makhluk tanpa cela itu. Seandainya dengan pena kudrat, di atas satu partikel tunggal, dengan jauhar-jauhar tunggal eter, dituliskan suatu Al-Qur'an — yang kekecilan halamannya menunjukkan kebesaran seni — ia setara dalam kefasihan dengan suatu Al-Qur'an Mulia yang dituliskan dengan bintang-bintang di halaman langit. Seni Sang Pelukis Azali di setiap tempat penuh keindahan dan kesempurnaan. Di setiap tempat demikian. Pada derajat kesempurnaan, kesatuan pada pena mengumumkan tauhid. Ambillah perkataan yang penuh makna ini dengan kesaksamaan yang baik!

Malaikat adalah suatu umat; mereka ditugaskan dengan syariat fitri

Syariat Ilahi ada dua. Keduanya datang dari dua sifat, dua manusia menjadi mukhatab sekaligus mukalaf. Syariat tekwini yang datang dari sifat iradah: ia adalah syariat yang menata keadaan dan gerakan alam — yang merupakan manusia teragung — yang tidak bersifat ikhtiari. Kehendak Rabbani itu, dengan istilah yang keliru, disebut pula natur. Adapun syariat yang datang dari sifat Kalam: ia adalah syariat yang menata perbuatan manusia — yang merupakan alam terkecil — yang bersifat ikhtiari. Kedua syariat terkadang berhimpun di satu tempat. Malaikat Ilahi, suatu umat yang agung, sekaligus bala tentara Subhani, telah menjadi pengemban yang patuh dan pekerja yang mewakili bagi syariat pertama. Sebagian mereka adalah hamba yang bertasbih. Sebagian lagi tenggelam (dalam ibadah), yaitu para muqarrabin Arasy.

Semakin benda menghalus, semakin kehidupan menguat

Kehidupan adalah asas; benda tunduk kepadanya, dan tegak dengannya. Jika engkau menimbang indra kelima seekor makhluk mikroskopis dengan indra manusia, engkau akan melihat: sejauh mana manusia lebih besar darinya, sejauh itu pula indranya lebih rendah dari indra makhluk itu. Makhluk itu mendengar suara saudaranya, dan melihat rezekinya. Seandainya ia membesar sebesar manusia, indranya menakjubkan; kehidupannya memancarkan cahaya; penglihatannya laksana kilat, suatu cahaya samawi. Manusia bukanlah suatu makhluk hidup dari sebongkah benda mati. Melainkan ia adalah suatu sel insani yang hidup, tersusun dari miliaran sel yang hidup. اِنَّ اْلاِنْسَانَ كَصُورَةِ ﴿يٰسٓ﴾ كُتِبَتْ ف۪يهَا سُورَةُ ﴿يٰسٓ﴾ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِق۪ينَ

Materialisme adalah suatu wabah maknawi

Materialisme adalah suatu wabah maknawi; ia menjangkitkan pada manusia suatu demam yang dahsyat.{(Catatan): Mengisyaratkan Perang Umum yang lampau.}Dan ia seketika menghantamkan suatu murka Ilahi; sugesti dan peniruan, sebanding dengan keluasan kemampuan berkritik, wabah itu pun meluas dan menyebar. Sugestinya ia ambil dari sains, peniruannya dari peradaban. Kebebasan memberi kritik, dari kesombongannya keluarlah kesesatan.

Pada wujud tak ada kemalasan. Orang yang menganggur bekerja atas nama ketiadaan di dalam wujud.

Yang paling malang, tersempit, lagi menderita adalah orang yang menganggur; sebab kemalasan adalah ketiadaan di dalam wujud, kematian di dalam kehidupan. Adapun usaha adalah kehidupan bagi wujud, dan keterjagaan bagi kehidupan, sudah pasti!

Riba adalah mudarat mutlak bagi Islam

Riba memberi kemalasan, memadamkan gairah berusaha. Adapun manfaat pintu-pintu riba dan wadah-wadahnya, yaitu bank-bank ini, setiap saat adalah bagi bagian manusia yang paling buruk; yaitu orang-orang kafir. Manfaat pada orang kafir adalah bagi bagian yang paling buruk; yaitu orang-orang zalim. Manfaat pada orang zalim setiap saat adalah bagi bagian yang paling buruk; yaitu orang-orang fasik. Ia adalah mudarat mutlak bagi Dunia Islam. Kesejahteraan seluruh manusia secara mutlak tidaklah dituntut dalam pandangan syar'i; sebab seorang kafir harbi tak terhormat lagi tak terlindungi; darahnya sia-sia setiap saat.

{(Catatan): Maqam ini yang ditulis tiga puluh lima tahun yang lalu, memperlihatkan corak seolah ditulis tahun ini. Berarti ia adalah sejenis kabar gaib yang ditulis dengan keberkahan Ramadan.}

Al-Qur'an melindungi dirinya sendiri dan melanggengkan kedaulatannya

Aku melihat seseorang yang terjangkit keputusasaan, sakit karena pesimisme. Ia berkata: Ulama berkurang, kuantitas maupun kualitasnya. Kami takut suatu saat agama kami padam. Aku berkata: Sebagaimana alam semesta tak dapat dipadamkan, iman keislaman pun tak dapat padam. Demikian pula, selama syiar-syiar Islam, menara-menara agama, tempat-tempat ibadah Ilahi, dan tanda-tanda syar'i — yang berkedudukan laksana paku yang tertancap di permukaan bumi setiap saat — tak dipadamkan, maka keislaman akan bersinar dari saat ke saat!..

Setiap tempat ibadah telah menjadi seorang guru, dengan tabiatnya memberi pelajaran kepada watak-watak. Setiap tanda pun telah menjadi seorang ustaz; lisan keadaannya membisikkan sugesti diniyah; tanpa salah, tanpa lupa. Setiap syiar adalah seorang guru bijaksana, senantiasa memberi pelajaran ruh Islam kepada pandangan. Dengan berlalunya abad-abad, ia menjadi sebab kelangsungan zaman. Seolah cahaya-cahaya keislaman menjelma di dalam syiarnya. Seolah air jernih keislaman mengeras di dalam tempat-tempat ibadahnya. Masing-masing adalah tiang iman. Seolah hukum-hukum keislaman menjelma di dalam tanda-tandanya. Seolah rukun-rukun keislaman membatu di dalam alam-alamnya. Masing-masing adalah tiang intan. Dengannya bumi dan langit bertaut. Terlebih lagi Al-Qur'an ini, sang khatib yang penjelasannya penuh mukjizat; ia senantiasa mengulang suatu khutbah azali. Di penjuru dunia Islam tak tersisa satu desa pun, dan tak satu tempat pun, yang tak mendengar tuturnya dan tak mendengar pengajarannya.

Dengan rahasia اِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (Sesungguhnya Kami-lah yang memeliharanya), menjadi penghafal adalah suatu martabat yang sangat besar. Adapun membacanya adalah ibadah bagi jin dan manusia. Di dalamnya ada pengajaran dan penyegaran ingatan akan hal-hal yang disepakati. Dengan berulangnya zaman, masalah-masalah nazari berbalik menjadi hal-hal yang disepakati, lalu menjadi hal-hal yang jelas. Ia tak perlu penjelasan lagi. Hal-hal daruri agama, keluar dari yang nazari, telah menjadi daruri. Maka penyegaran ingatan sudah mencukupi. Peringatan sudah memadai. Al-Qur'an setiap saat adalah penyembuh. Kepada peringatan dan penyegaran ingatan, kebangkitan Islam ini dan keterjagaan sosial ini memberi masing-masingnya: dalil dan timbangan yang bersifat umum. Oleh karena kehidupan sosial telah bermula dalam Islam; iman setiap orang tidak terbatas pada dalil yang khusus baginya; nurani menjadi sandaran.

Bahkan ia bersandar pula pada sebab-sebab yang tak terbatas di kalbu jamaah. Bahkan ini bahan perhatian: suatu mazhab yang lemah, dengan berlalunya zaman, sulit dibatalkan. Apalagi Islam, yang bersandar pada dua asas yang kukuh laksana wahyu dan fitrah; dan sedemikian berkuasa dengan berpengaruh di sekian banyak abad!.. Dengan asas-asasnya yang kokoh dan karya-karyanya yang nyata, ia telah menyatu dengan separuh bumi, telah menjadi suatu ruh fitri; bagaimana ia akan masuk gerhana.. ia telah keluar dari gerhana sekarang! Akan tetapi sayang, sebagian kafir yang dungu, orang-orang penuh sofisme, setiap kali menemukan peluang, mengusik asas-asas kukuh istana yang tinggi ini. Mereka menggoyahkannya. Asas-asas tak dapat diusik, tak dapat dipermainkan; hendaklah ketidakberagamaan kini diam! Si tak tahu malu itu telah bangkrut. Cukuplah percobaan kekufuran dan dusta. Pos terdepan dunia Islam menghadapi dunia kekufuran ini adalah universitas itu (dârülfünun). Dengan ketidakpedulian dan kelalaian, sang musuh natur bak ular

membuka celah di belakang garis depan, ketidakberagamaan menyerbu, bangsa pun cukup terguncang. Pos terdepan itu adalah surga yang bercahaya dengan ruh keislaman. Ia mesti paling teguh, paling waspada, atau ia jangan menjadi sempit, jangan menipu Islam. Tempat iman adalah kalbu; adapun otak menjadi cermin pantulan cahaya iman. Terkadang ia mujahid, terkadang tukang sapu. Jika was-was di otak dan banyak kemungkinan tak masuk ke dalam kalbu, iman dan nurani tak terguncang. Jika tidak — menurut sangkaan sebagian orang, jika iman ada di otak — maka bagi haqqul-yaqin yang merupakan ruh iman, kemungkinan-kemungkinan yang banyak menjadi musuh yang tak kenal ampun. Kalbu dan nurani adalah tempat iman. Firasat dan ilham adalah dalil iman. Suatu indra keenam adalah jalan iman... Pikiran dan otak adalah penjaga iman.

Lebih daripada mengajarkan yang nazari, ada kebutuhan akan penyegaran ingatan akan yang disepakati

Hal-hal daruri agama dan hal-hal yang disepakati secara syar'i telah lahir di kalbu; dengan peringatan hadirnya, dengan penyegaran ingatan kesadarannya. Yang dituju pun tercapai. Ungkapan berbahasa Arab{(Catatan): Ia merasakan suatu peristiwa yang datang sepuluh tahun kemudian, dan berusaha menghadapinya.}menjadikan penyegaran ingatan dan peringatan lebih luhur. Karena itu khutbah Jumat berbahasa Arab, memperingatkan yang daruri, menyegarkan yang disepakati, dan cara penyegarannya menjadi mencukupi. Mengajarkan yang nazari bukanlah maksud di dalamnya. Lagi pula pada wajah keesaan Islam, ungkapan Arab ini adalah suatu ukiran kesatuan; ia tak menerima penggandaan.

Hadis berkata kepada ayat: Menyusulmu mustahil!

Jika engkau menimbang hadis dengan ayat, engkau akan melihat dengan jelas bahwa manusia yang paling fasih, penyampai wahyu itu pun, tak mencapai balaghah ayat. Ia pun tak menyerupainya. Berarti: tak setiap ucapan yang datang dari lisan Ahmadi صلى الله عليه وسلم setiap saat dapat menjadi ucapan-Nya (firman Allah).

Dengan Ijaz Menjelaskan I'jaz Al-Qur'an

Pada suatu ketika aku bermimpi bahwa aku berada di kaki Gunung Ararat. Tiba-tiba gunung itu meletus, menyebarkan batu-batu sebesar gunung ke alam, mengguncang dunia. Tiba-tiba seorang lelaki muncul di sisiku. Ia berkata: Jelaskanlah dengan ijaz, ringkaslah dengan ijaz, jenis-jenis i'jaz Al-Qur'an yang engkau ketahui! Masih dalam mimpi aku memikirkan takwilnya, aku berkata: Ledakan di sini adalah perumpamaan bagi suatu revolusi pada manusia. Adapun dalam revolusi, sudah pasti hidayah Al-Furqan akan meninggi di segala penjuru dan menjadi berkuasa. Waktu penjelasan i'jaznya pun akan datang! Sebagai jawaban kepada penanya itu aku berkata: I'jaz Al-Qur'an

bermanifestasi dari tujuh sumber menyeluruh, dan tersusun dari tujuh unsur. Sumber Pertama: keluwesan lisan dari kefasihan lafal; kilau penjelasan yang lahir sekaligus dari kekukuhan susunan, balaghah makna, keindahan mafhum, keunggulan kandungan, dan keajaiban gaya. Dengan semua itu berpadu, dalam watak i'jaznya, suatu ukiran penjelasan yang ajaib, suatu seni lisan yang menakjubkan. Pengulangannya tak pernah membosankan manusia. Adapun Unsur Kedua: asas-asas gaib dalam urusan-urusan alam, dari rahasia gaib dari hakikat-hakikat Ilahi, gaib yang samawi. Suatu perbendaharaan ilmu gaib yang mengandung sekaligus urusan gaib yang hilang di masa lampau, dan keadaan yang tersembunyi di masa depan. Lisan alam gaib, yang rukun-rukunnya berbicara dengan alam kasat mata, dengan simbol dan penjelasannya, yang sasarannya jenis manusia, adalah sepercik cahaya i'jaz...

Adapun Sumber Ketiga: terdapat suatu kemenyeluruhan yang luar biasa dari lima sisi. Pada lafalnya, maknanya, hukumnya, ilmunya, dan timbangan maksud-maksudnya. Lafalnya mengandung kemungkinan yang sangat luas; dan banyak wajah, yang masing-masing dipandang baik oleh balaghah, sahih secara bahasa Arab, dan dipandang layak oleh rahasia tasyri'. Pada maknanya: jalan-jalan para wali, cita rasa para arif, mazhab para salik, jalan para ahli kalam, metode para hukama — i'jaz penjelasannya meliputi sekaligus dan mengandung semuanya. Keluasan pada penunjukannya, kelapangan pada maknanya. Jika engkau memandang dari jendela ini, engkau akan melihat betapa luas medannya! Cakupan pada hukumnya: syariat yang luar biasa ini disimpulkan darinya. Cara penjelasannya mengandung sekaligus seluruh kaidah kebahagiaan dua negeri, seluruh sebab keamanan, seluruh ikatan kehidupan sosial, sarana pendidikan, dan hakikat keadaan...

Ketenggelaman pada ilmunya: ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu Ilahi, padanya tingkatan penunjukan dan isyarat dengan simbol, ia menghimpun taman-taman di dalam pagar surah-surahnya. Pada maksud dan tujuannya: keseimbangan, keteraturan, kesesuaian dengan kaidah-kaidah fitrah, kesatuan; ia memelihara sepenuhnya dan menjaga timbangannya. Maka pada cakupan lafal, keluasan makna, kandungan hukum, ketenggelaman ilmu, dan keseimbangan tujuan — terdapat kemenyeluruhan yang penuh keagungan!.. Adapun Unsur Keempat: kepada derajat pemahaman setiap abad, martabat kesusastraannya, dan kepada setiap lapisan di setiap abad, sebanding dengan derajat bakat dan martabat kemampuan, ia memberi suatu limpahan bercahaya. Pintunya terbuka bagi setiap abad, bagi setiap lapisan di setiap abad. Seolah setiap saat, di setiap tempat, firman Rahmani itu turun baru.

Semakin zaman menua, Al-Qur'an semakin muda. Simbolnya pun makin terang, dan seruan Ilahi itu mengoyak tabir natur dan sebab-sebab. Cahaya tauhid menyembur dari setiap ayat setiap saat. Ia mengangkat tabir kasat mata dari atas yang gaib. Keluhuran seruannya mengundang perhatian pandangan manusia. Ia adalah lisan gaib; dengan alam kasat mata, Dia sendiri yang berbicara. Dari unsur ini keluar kesegaran luar biasa, suatu cakupan bak samudra! Bagi keakraban benak, di hadapan akal manusia, ada tanazul (kerendahan) Ilahi. Keragaman dalam gaya Tanzil adalah keramahannya, kekasih jin dan manusia. Adapun Sumber Kelima: dalam periwayatan dan kisahnya, dalam kabar yang benar, dari titik-titik mendasar, suatu gaya indah yang penuh makna, laksana saksi yang hadir. Dengan meriwayatkan, ia menyadarkan manusia dengannya. Yang diriwayatkannya adalah ini: kabar orang-orang terdahulu, keadaan orang-orang terakhir, rahasia neraka dan surga.

Hakikat-hakikat gaib, rahasia-rahasia kasat mata, misteri-misteri Ilahi, kisah tentang ikatan-ikatan alam — kisah yang nyata, yang tak ditolak oleh kenyataan, tak didustakan oleh logika. Jika logika tak menerimanya, ia pun tak dapat menolaknya. (Kisah) kitab-kitab samawi yang menjadi dambaan dunia. Pada titik-titik yang disepakati ia meriwayatkan dengan membenarkan. Pada tempat-tempat yang diperselisihkan ia membahas dengan meluruskan. Munculnya urusan-urusan periwayatan demikian dari seorang "Ummi" adalah keajaiban zaman... Adapun Unsur Keenam: ia mengandung dan mendirikan Din Islam. Islam, tak ada yang mampu (menandingi) semisalnya, tidak masa lampau, tidak masa depan; carilah dalam zaman dan tempat!.. Bumi kita, pada orbit tahunan dan hariannya, benang samawi inilah yang menggenggam dan memutarnya. Ia menekan bumi, dan menaikinya pula. Ia tak membiarkan pemberontakan.

Adapun Sumber Ketujuh: enam cahaya yang keluar dari enam sumber ini berpadu sekaligus. Dari sini keluar suatu keindahan, dari sana datang suatu firasat, suatu perantara bercahaya. Dari ini keluar suatu cita rasa; cita rasa i'jaz diketahui, tetapi lisan kita tak mencapai ungkapannya. Pikiran pun terbatas; bintang-bintang samawi itu terlihat tetapi tak tergenggam. Selama tiga belas abad ada kecenderungan menantang pada musuh-musuh Al-Qur'an, dan gairah meniru terbangun pada para pencinta Al-Qur'an. Inilah suatu burhan i'jaz... Dengan dua kecenderungan yang kuat ini, telah tertulis di medan, jutaan kitab berbahasa Arab, datang ke perpustakaan wujud. Jika Tanzil dibandingkan dengannya dalam suatu timbangan, maka jangankan orang bijak yang tiada tara, bahkan orang paling awam, dengan mata dan telinga, akan berkata: Ini adalah insani, sedangkan yang itu adalah samawi!

Dan ia akan menghukumi pula: Yang ini tak menyerupainya, tak dapat setara martabatnya. Kalau demikian, entah ia di bawah semua (kitab manusia); tetapi kebatilannya jelas maklum. Kalau demikian, ia di atas semua. Kandungannya sekian lama, dengan pintu terbuka, diwakafkan kepada manusia; ia mengundang arwah dan benak kepada dirinya! Manusia bertasarruf padanya, menjadikannya miliknya. Namun dengan kandungannya ia tak pernah menentang Al-Qur'an, dan tak akan pernah dapat menentang; masa ujiannya telah berlalu. Ia tak menyerupai kitab-kitab lain, tak dapat dibandingkan dengannya; sebab turunnya dalam dua puluh tahun secara berangsur, sesuai kebutuhan; terpisah-pisah, terputus-putus, suatu hikmah Rabbani. Sebab-sebab turunnya beragam, berbeda-beda. Pada satu masalah, pertanyaan-pertanyaan berulang, berbeda-beda. Peristiwa-peristiwa hukumnya berbilang, berubah-ubah. Masa turunnya beragam, terpisah-pisah.

Keadaan penerimaannya beragam, berbeda-beda. Golongan mukhatabnya berbilang, berjauhan. Tujuan bimbingannya bertahap, berbeda-beda. Bangunannya, penjelasannya, jawabannya, dan seruannya bersandar pada asas-asas ini. Bersama itu ia telah memperlihatkan kesempurnaan keluwesan, keselamatan, kesesuaian, dan saling-topang; saksinya adalah: ilmu Bayan dan Maânî. Pada Al-Qur'an ada suatu sifat khas yang tak ada pada perkataan lain. Jika engkau mendengar suatu perkataan (Al-Qur'an), engkau melihat pemilik perkataan yang sejati di belakangnya, atau engkau menemukannya di dalamnya. Gayanya adalah cermin insani. Wahai penanya mitsali! Engkau meminta ijaz, aku pun telah mengisyaratkan. Jika engkau menginginkan perincian, itu di luar batasku!.. Lalat tak dapat menjelajahi langit. Sebab dari empat puluh jenis i'jaznya, hanya satu saja, yaitu kekukuhan susunannya; penjelasannya tak muat dalam Isyârâtu'l-İ'câz. Seratus halaman tafsirku tak mencukupinya. Ilham ruhani sepertimu lebih (mampu). Aku memohon darimu perincian dan penjelasannya!

اُولاَشْمَازْ دَسْتِ أَدَبِ غَرْبَ هَوَسْبَارِ هَوَاكَارِ دَهَادَارِدَأْبِ أَدَبْ أَبَدْ مُدَّتْ قُرْآنِ ضِيَابَارِ شِفَاكَارِ هُدَادَارْ Suatu keadaan yang menyenangkan cita rasa luhur manusia-manusia yang sempurna, tak menyenangkan pemilik hasrat kekanak-kanakan dan watak fasik. Ia tak menghibur mereka. Berdasarkan hikmah ini, orang yang benar-benar terpelihara dalam cita rasa rendah, fasik, nafsani, dan syahwani, tak mengenal cita rasa ruhani.

Kesusastraan masa kini yang menetes dari Eropa, dengan pandangan bak novel, tak dapat melihat kehalusan keluhuran dan keistimewaan keagungan yang ada dalam Al-Qur'an, dan tak dapat mengecapnya. Ia tak dapat menyetel batu ujinya kepadanya. Pada kesusastraan ada tiga medan jelajah; ia berkeliling di dalamnya, tak dapat keluar: entah cinta dan keindahan, entah kepahlawanan dan keberanian, entah penggambaran hakikat. Maka kesusastraan liar, pada titik kepahlawanan, tak berlaku memihak kebenaran. Melainkan dengan menyanjung kebengisan jenis manusia yang zalim, ia membisikkan rasa pemujaan kekuatan. Pada titik keindahan dan cinta, ia tak mengenal cinta hakiki. Ia menyuntikkan cita rasa penggugah syahwat pada jiwa-jiwa. Dalam penggambaran hakikat, ia tak memandang alam semesta dalam rupa seni Ilahi, tak dapat melihatnya dalam rupa celupan Rahmani. Melainkan ia memandangnya dari titik natur, lalu menggambarkannya, dan tak dapat keluar darinya.

Karena itu sugestinya menjadi cinta natur. Ia menanamkan rasa penyembahan materi ke kalbu pula, dan orang tak dapat murah menyelamatkan diri darinya. Adapun terhadap derita ruh yang datang darinya, yang lahir dari kesesatan, kesusastraan yang telah menjadi tak beradab itu adalah penenang dan pembius; ia tak memberi manfaat hakiki. Ia hanya menemukan satu obat, yaitu novel-novelnya. Suatu makhluk hidup yang mati laksana kitab, suatu mayat yang bergerak laksana sinema! Mayat tak dapat memberi kehidupan. Dan laksana teater yang bak tanâsukh, laksana hantu-hantu dari kubur luas yang disebut masa lampau, dengan tiga jenis novel ini ia sama sekali tak malu. Ia meletakkan lidah pendusta di mulut manusia, memasang mata fasik di wajah manusia, mengenakan pakaian pelacur pada dunia, dan tak mengenal keindahan yang murni.

Jika ia memperlihatkan matahari, ia mengingatkan pembaca pada seorang aktris cantik berambut pirang. Secara lahiriah ia berkata: "Kefasikan itu buruk, tak pantas bagi manusia." Ia memperlihatkan akibat yang berbahaya. Padahal ia menggambarkan kefasikan dengan begitu menggoda, sehingga air liur menetes, akal tak dapat menjadi penguasa. Ia membangkitkan selera, menggugah hawa nafsu, indra tak lagi mendengar perkataan. Adapun adab (kesusastraan) dalam Al-Qur'an tak mencampurkan hawa nafsu. Ia memberi rasa memihak kebenaran, cinta keindahan murni, cita rasa pemujaan keindahan, gairah pemujaan hakikat; dan ia tak menipu. Ia tak memandang alam semesta dari sisi natur; melainkan membahasnya dari titik seni Ilahi, celupan Rahmani, dan tak membingungkan akal. Ia membisikkan cahaya makrifat Sang Pencipta. Ia memperlihatkan ayat-Nya pada setiap sesuatu. Keduanya memberi suatu kesedihan yang lembut, tetapi keduanya tak saling menyerupai.

Adapun adab ala Eropa memberi suatu kesedihan muram yang lahir dari kehilangan sahabat dan ketiadaan pelindung; ia tak dapat memberi kesedihan yang luhur. Sebab ia adalah rasa sedih muram yang diilhamkan dari natur yang tuli dan kekuatan yang buta. Ia mengenal alam sebagai padang kebiadaban, tak memperlihatkan yang lain. Ia memperlihatkannya demikian, dan menahan yang bersedih, meletakkannya tanpa pelindung di tengah orang-orang liar, tak menyisakan harapan sedikit pun. Dengan gejolak perasaan yang ia berikan pada dirinya, kian lama ia sampai ke keingkaran, membuka jalan hingga ke penihilan agama, sulit untuk kembali, bahkan barangkali tak dapat kembali lagi. Adapun adab Al-Qur'an: ia memberi suatu kesedihan yang penuh kerinduan, bukan kesedihan yatim. Ia datang dari perpisahan dengan sahabat, bukan dari ketiadaan sahabat.

Pandangannya pada alam semesta, sebagai ganti natur yang buta, adalah suatu seni Ilahi yang berkesadaran lagi penuh rahmat; itulah bahasannya, ia tak membahas natur. Sebagai ganti kekuatan yang buta, suatu kudrat Ilahi yang penuh inayah dan hikmah menjadi bahan penjelasannya. Karena itu alam semesta tak mengenakan rupa padang kebiadaban. Melainkan dalam pandangan mukhatab yang bersedih, ia menjadi suatu perkumpulan sahabat. Di segala penjuru ada saling-jawab, di segala sisi ada saling-cinta; ia tak memberinya kesempitan. Di setiap sudut ada keakraban, ia meletakkan yang bersedih di dalam perkumpulan itu; ia memberi suatu kesedihan penuh kerinduan, suatu rasa luhur, bukan kesedihan muram. Keduanya memberi suatu gairah pula: dengan gairah yang diberikan adab liar itu, nafsu jatuh dalam gejolak, hawa nafsu terbentang; ia tak dapat memberi kesenangan pada ruh. Adapun gairah Al-Qur'an: ruh jatuh dalam gejolak, ia memberi gairah keluhuran. Maka berdasarkan rahasia ini, Syariat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم tak menghendaki hiburan sia-sia.

Ia mengharamkan sebagian alat hiburan, dan mengizinkan sebagian sebagai halal.. Berarti alat yang memberi kesedihan Qur'ani atau gairah Tanzil tak berbahaya. Jika ia memberi kesedihan yatim atau gairah nafsani, alat itu haram. Ia berbeda menurut pribadi, setiap orang tak menyerupai yang lain.

Dahan-dahan mempersembahkan buah atas nama rahmat

Dahan-dahan pohon penciptaan, di segala penjuru, secara lahiriah mengulurkan buah nikmat ke tangan makhluk hidup. Pada hakikatnya adalah suatu tangan rahmat, suatu tangan kudrat, yang mengulurkan buah dan dahan itu kepada kalian di dalamnya. Ciumlah tangan rahmat itu dengan syukur. Sucikanlah tangan kudrat itu dengan rasa terima kasih...

Penjelasan tiga jalan yang diisyaratkan di akhir Al-Fatihah

Wahai saudara yang penuh harap! Ambillah khayalmu, dan mari bersamaku. Kita berada di suatu tanah, kita memandang sekeliling; tak seorang pun melihat kita. Di atas gunung-gunung tinggi yang laksana tiang-tiang tenda, terhampar suatu lapisan awan gelap, dan ia pun menutupi wajah tanah kita. Ia menjadi atap yang membeku, tetapi permukaan bawahnya terbuka, permukaan itu melihat matahari. Kita berada di bawah awan, kegelapan menghimpit kita. Kesempitan mencekik; ketiadaan udara membunuh. Kini bagi kita ada tiga jalan: ada suatu alam bercahaya, pernah sekali kujelajahi tanah majazi ini. Ya, aku pernah datang ke sini, aku menempuhnya dengan tiga cara yang berbeda. Jalan pertama: kebanyakan orang menempuhnya; yaitu mengelilingi dunia, ia menyeret kita ke pengembaraan. Kita pun di jalan, berjalan kaki demikian. Lihatlah lautan pasir gurun itu, betapa ia memancarkan amarah, mengancam kita! Lihatlah ombak gunung lautan itu! Ia pun marah kepada kita. Alhamdulillah, kita naik ke permukaan yang satunya; kita melihat wajah matahari. Akan tetapi kesukaran yang kita tanggung hanya kita yang tahu. Ah! Kita kembali lagi ke sini, tanah kebiadaban ini, atap awan yang gelap. Yang kita perlukan adalah: suatu alam bercahaya yang menyegarkan mata di kalbu. Jika engkau memiliki keberanian yang luar biasa; kita masuk bersama ke jalan yang penuh bahaya ini. Jalan kedua kita: kita menembus natur bumi, kita menyeberang ke sisi sana. Atau kita menempuh suatu terowongan fitri dengan gemetar. Pada suatu ketika aku menjelajahi jalan ini dan menyeberang, tanpa manja lagi penuh doa.

Akan tetapi pada waktu itu ada suatu benda di tanganku yang akan melelehkan dan merobek tanah natur. Al-Qur'an, dalil mukjizat dari jalan ketiga itu, telah memberikannya kepadaku. Saudaraku, jangan tinggalkan aku di belakang, jangan takut sama sekali! Lihatlah, di sana ada gua-gua bak terowongan, aliran-aliran bawah tanah menanti kita berdua. Mereka akan menyeberangkan kita. Janganlah natur dan kebekuannya yang dahsyat itu menakutimu sama sekali. Sebab di balik wajah muram ini ada wajah tersenyum dari Pemilik yang penuh kasih. Aku merasakannya dengan cahaya benda Qur'ani yang laksana radium itu. Nah, cerahlah matamu! Kita keluar ke alam bercahaya, lihatlah tanah yang penuh keindahan ini, angkasa yang halus lagi manis ini. Hai, angkatlah kepalamu! Lihatlah, ia menjulang ke langit, mengoyak awan, meninggalkannya di bawah. Ia mengundang kita.

Ternyata pohon Tuba itu adalah Al-Qur'an. Dahan-dahannya terulur ke segala penjuru. Kita pun mesti bergantung pada dahan yang terjulur ini, agar ia mengangkat kita ke sana. Pohon samawi itu; suatu perumpamaannya di bumi adalah syariat yang bercahaya. Berarti tanpa menanggung kesukaran, dengan jalan itu kita keluar ke alam bercahaya ini, tanpa kesukaran menghimpit kita. Oleh karena kita telah keliru; kita kembali ke tempat lama, kita menemukan jalan yang benar. Lihatlah, jalan ketiga kita; sang elang yang berdiri di atas gunung-gunung itu, dan membacakan suatu azan kepada seluruh dunia. Lihatlah sang muazin teragung, Muhammad al-Hasyimi صلى الله عليه وسلم, ia mengundang manusia ke alam cahaya di atas cahaya. Ia mewajibkan salat dengan permohonan. Lihatlah gunung-gunung hidayah ini, ia telah mengoyak awan. Lihatlah gunung-gunung syariat ini, ia menjulang ke langit. Betapa ia menghiasi wajah dan mata tanah kita. Maka kita mesti keluar dari sini dengan pesawat himmah. Cahaya dan angin sepoi ada di sana, cahaya dan keindahan ada di sana. Inilah Uhud Tauhid, gunung yang mulia itu. Inilah Judi Keislaman, gunung keselamatan itu. Inilah Jabalul-Qamar berupa Al-Qur'an yang bercahaya; air jernih Nil mengalir dari sumber yang megah itu. Minumlah air lezat itu!..

فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِق۪ينَوَ اٰخِرُ دَعْوٰينَا اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ Wahai sahabat! Kini keluarkan khayal dari kepala, masukkan akal ke kepala! Dua jalan pertama adalah jalan orang yang dimurkai dan orang yang sesat; bahayanya sangat banyak, musim dingin abadi menggantikan musim gugur... Satu dari seratus selamat; seperti Plato dan Socrates. Jalan ketiga: mudah, dan dekat lagi lurus. Yang lemah dan yang kuat sama. Setiap orang menempuh jalan itu. Yang paling nyaman adalah ini: menjadi syahid atau gazi. Maka kita masuk ke kesimpulan. Ya, kejeniusan sains: dua jalan pertama adalah jalan dan mazhabnya. Akan tetapi hidayah Qur'ani: adalah jalan ketiga, jalan lurusnya menyampaikan kita. اَللّٰهُمَّ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ ❊ صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ❊ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَالضَّٓالّ۪ينَ اٰم۪ينَ

Seluruh derita hakiki ada dalam kesesatan, seluruh kelezatan ada dalam iman

Suatu hakikat yang megah, yang telah mengenakan pakaian khayal

Wahai kawan seperjalanan yang sadar! Jika engkau ingin melihat perbedaan sempurna antara jalan bercahaya sirat mustaqim dan jalan gelap orang yang dimurkai serta orang yang sesat, wahai yang mulia, mari ambillah wahmmu, naiklah ke atas khayal, kini kita pergi bersama ke kegelapan ketiadaan. Kita ziarahi kubur teragung itu, kota yang penuh mayat itu. Suatu Qadîr Azali, dengan tangan kudrat-Nya sendiri, menggenggam kita dari benua kegelapan ini, mengeluarkan, menaikkan kita ke atas wujud ini, dan mengirim kita ke dunia ini; kota tanpa kelezatan ini. Kini kita telah datang ke alam wujud ini, padang yang mengerikan itu. Mata kita pun terbuka, kita memandang ke enam arah; pertama-tama kita memandang ke depan dengan penuh harap belas. Akan tetapi bencana dan derita menyerbu di hadapan kita laksana musuh. Kita takut, kita mundur. Kita memandang ke kanan dan kiri, ke unsur-unsur natur, kita menanti pertolongan darinya. Akan tetapi kita melihat bahwa kalbu mereka keras, tanpa kasih sayang. Mereka mengasah gigi, memandang dengan marah; tak mendengar manja, tak mendengar permohonan! Laksana orang yang terdesak, kita mengangkat pandangan putus asa ke atas. Dengan penuh permohonan pertolongan kita memandang benda-benda langit; kita melihatnya sangat mengancam lagi menakutkan. Seolah mereka menjadi bola meriam, keluar dari sarangnya, dan melesat dengan sangat cepat di angkasa; entah bagaimana mereka tak saling bertabrakan. Jika salah satunya secara kebetulan salah jalan — na'uzubillah — alam kasat mata ini akan meledak nyalinya. Itu bergantung pada kebetulan; dari sini pun tak datang kebaikan.

Kita palingkan pandangan putus asa dari sisi itu, kita jatuh dalam keheranan yang menyakitkan. Kepala kita menunduk, kita bersembunyi di dada kita, kita memandang nafsu kita. Kita menelaahnya. Kita mendengar: dari nafsu kita yang malang datang jeritan ribuan kebutuhan. Keluar rintihan ribuan kefakiran. Ketika menanti hiburan, kita justru ketakutan. Dari sini pun tak datang kebaikan. Dengan penuh perlindungan kita masuk ke nurani kita; kita memandang ke dalamnya, kita menanti suatu jalan keluar. Aduh! Kita pun tak menemukannya; kitalah yang mesti memberi pertolongan. Sebab di dalamnya tampak ribuan harapan, keinginan yang bergejolak, perasaan yang menggelegak, terulur ke alam semesta. Kita gemetar dari masing-masingnya, tak dapat menolong sama sekali. Harapan-harapan itu terjepit di antara wujud dan ketiadaan; satu sisinya terulur ke azali, satu sisinya ke abadi. Sedemikian luasnya; jika ia menelan dunia, nurani itu pun tak kenyang.

Maka di jalan yang menyakitkan ini, ke mana pun kita menuju, kita menemukan suatu bencana. Sebab jalan orang yang dimurkai dan orang yang sesat memang demikian. Kebetulan dan kesesatan memandang di jalan itu. Pandangan itu yang kita pasang, maka kita jatuh dalam keadaan ini. Kini pun keadaan kita: kita sejenak melupakan awal dan akhir, Sang Pencipta dan kebangkitan. Ia lebih buruk daripada Neraka, lebih membakar darinya, menghimpit ruh kita. Sebab dari enam arah yang kita tuju itu, kita telah mengambil suatu keadaan sedemikian. Keadaan itu tersusun dari ketakutan dan kedahsyatan, dari kelemahan dan gemetar, dari kegelisahan dan kebiadaban, dari keyatiman dan keputusasaan — suatu keadaan yang membakar nurani.

Kini kita mengambil suatu front menghadapi setiap arah, kita berusaha menolaknya. Pertama, kita merujuk kepada kudrat kita; aduh, kita melihatnya lemah tak berdaya. Kedua: kita berpaling agar kebutuhan pada nafsu diam. Aduh, kita melihatnya tak henti berteriak. Ketiga: dengan memohon pertolongan, kita berteriak memanggil seorang penyelamat; tak seorang pun mendengar, tak ada yang menjawab. Kita pun menyangka: setiap benda adalah musuh kita, setiap benda asing bagi kita. Tak satu benda pun memberi hiburan pada kalbu kita; tak memberi keamanan, tak memberi kelezatan hakiki. Keempat: setiap kali kita memandang benda-benda langit, mereka memberi pandangan ketakutan dan kedahsyatan. Dan datang suatu kebiadaban yang mengganggu nurani: membakar akal, memunculkan wahm! Maka wahai saudara! Jalan kesesatan ini, hakikatnya adalah demikian. Kegelapan dalam kekufuran, kita lihat sempurna di jalan ini. Kini mari saudaraku, kita kembali ke ketiadaan itu.

Kita datang lagi. Kali ini jalan kita adalah sirat mustaqim, jalan iman. Dalil dan imam kita adalah inayah dan Al-Qur'an, sang elang yang terbang menembus zaman. Maka rahmat dan inayah Sang Sultan Azali, ketika menghendaki kita, kudrat mengeluarkan kita, dengan karunia menaikkan kita ke atas hukum kehendak: melukis di atas tahapan-tahapan. Kini Ia membawa kita, dengan kasih sayang mengenakan jubah wujud ini, menganugerahkan kepada kita martabat amanah. Tandanya adalah permohonan dan salat. Zaman dan tahapan ini, di jalan panjang kita, masing-masing adalah tempat singgah manja. Untuk memudahkan jalan kita, Ia memberi suatu surat perintah dari takdir, di halaman kening kita.

Ke mana pun kita datang, golongan mana pun yang kita tumpangi, kita melihat sambutan yang penuh persaudaraan. Kita memberi dari harta kita, kita mengambil dari harta mereka. Kecintaan perdagangan; mereka memberi kita makan, menghias kita dengan hadiah, dan mengantar kita pula. Kita terus datang, dan tibalah kita, kita berada di pintu dunia, kita mendengar suara. Lihatlah, kita masuk ke tanah ini; kita menjejakkan kaki ke alam kasat mata: kota-cermin Rahman, rumah gaduh manusia. Kita tak mengetahui apa pun; dalil dan imam kita adalah kehendak Rahman. Wakil dalil kita adalah mata kita yang jelita. Kita membuka mata, kita melepaskannya ke dalam dunia. Terlintaskah kedatangan kita yang pertama? Kita menjadi asing lagi yatim; musuh kita banyak, kita tak mengenal pelindung kita. Kini dengan cahaya iman, menghadapi musuh-musuh itu, kita memiliki suatu tiang yang kokoh,

titik sandar dan pelindung kita, yang menolak musuh. Ia adalah iman kepada Allah, yang merupakan cahaya ruh kita, cahaya kehidupan kita, ruh bagi ruh kita. Maka kalbu kita tenang, tak peduli pada musuh, bahkan tak mengenal musuh. Di jalan kita yang pertama, ketika masuk ke nurani; kita mendengar darinya ribuan jerit dan rintihan. Dari sana kita jatuh ke bencana. Sebab harapan, keinginan, bakat, dan perasaan senantiasa menghendaki keabadian. Kita tak tahu jalannya, kita tak tahu jalan; darinya rintihan dan permohonan. Akan tetapi alhamdulillah, kini di kedatangan kita, kita menemukan titik pertolongan, yang senantiasa memberi kehidupan pada bakat dan harapan; hingga keabadian yang abadi ia menerbangkan mereka. Ia menunjukkan jalan bagi mereka; dari titik itu bakat meminta pertolongan, meminum air kehidupan, dan berlari menuju kesempurnaannya; titik pertolongan itu, simbol yang menggugah gairah dan manja.

Kutub kedua iman: yaitu pembenaran kebangkitan, kebahagiaan abadi; jauhar kerang itu adalah iman, burhannya adalah Al-Qur'an.. suatu rahasia bagi nurani insani. Kini angkatlah kepalamu, pandanglah alam semesta ini, berbicaralah dengannya. Di jalan kita yang pertama ia tampak sangat menakutkan. Kini pun ia tersenyum ke segala penjuru, dengan permohonan dan suara yang jelita. Tidakkah engkau melihat: mata kita telah menjadi laksana lebah; ia terbang ke segala penjuru. Alam semesta adalah kebun, di segala penjuru ada bunga, setiap bunga memberinya suatu air yang lezat. Ia memberi keakraban, hiburan, dan kecintaan. Ia pun mengambil dan membawanya; menjadikannya madu kesaksian. Ia mengalirkan madu di dalam madu, sang elang yang penuh rahasia. Setiap kali pandangan kita hinggap pada gerakan benda-benda langit, bintang, atau matahari, mereka memberikan hikmah Sang Pencipta ke tangan mereka. Ia mengambil ragi pelajaran dan manifestasi rahmat, lalu terbang.

Seolah Matahari ini berbicara dengan kita: Ia berkata: "Wahai saudara-saudara kami! Jangan gelisah dengan kebiadaban, selamat datang, ahlan wa sahlan, sungguh mulia kedatangan kalian. Rumah ini milik kalian; aku hanyalah pembawa cahaya yang jelita. Aku pun seperti kalian; tetapi seorang pelayan yang murni tanpa dosa, patuh. Zat Yang Ahad lagi Samad, yang dengan rahmat semata menjadikanku tunduk penuh cahaya bagi khidmah kalian. Dariku panas dan cahaya; dari kalian salat dan permohonan." Hai, lihatlah bulan! Bintang-bintang dan lautan, masing-masing dengan lisan khususnya: "Ahlan wa sahlan, selamat datang!" berkata. "Selamat datang, tidakkah kalian mengenal kami?" Pandanglah dengan rahasia tolong-menolong, dengarkanlah dengan simbol tatanan. Masing-masing berkata: "Kami pun para pelayan, cermin masing-masing bagi rahmat Dzul-Jalâl; janganlah bersedih sama sekali, jangan gelisah dari kami."

Teriakan gempa dan jeritan peristiwa janganlah menakuti kalian sama sekali, dan janganlah memberi was-was. Sebab di dalamnya ada senandung zikir, dengungan tasbih, gemuruh manja dan permohonan. Zat Dzul-Jalâl yang mengirim kalian kepada kami, telah menggenggam tali kekang semua ini di tangan-Nya. Mata iman membaca ayat rahmat di wajah mereka, masing-masing adalah suatu suara. Wahai mukmin yang kalbunya terjaga! Kini biarlah mata kita beristirahat sejenak; sebagai gantinya kita serahkan telinga kita yang peka ke tangan mubarak iman, kita kirim ke dunia. Biarlah ia mendengar suatu alunan yang lezat. Di jalan kita yang pertama, suara-suara yang disangka ratapan umum dan jerit kematian itu, kini di jalan kita menjadi alunan dan salat, suara dan permohonan, awal tasbih masing-masing. Dengarkanlah dengungan di udara, cericit burung, senandung hujan, gemuruh laut, gelegar guruh, ketukan batu; masing-masing adalah alunan yang bermakna...

Nyanyian udara, teriakan guruh, alunan ombak, masing-masing adalah zikir keagungan. Gemericik hujan, kicau burung, masing-masing adalah tasbih rahmat, suatu majaz bagi hakikat. Suara-suara pada benda, masing-masing adalah suara wujud: "Aku pun ada," kata mereka. Alam semesta yang diam itu, seketika mulai berbicara: "Jangan menyangka kami beku, wahai manusia yang banyak bicara!." Ia menyuruh burung-burung berbicara, entah karena kelezatan nikmat, entah karena turunnya rahmat. Dengan suara-suara berbeda, dengan mulut-mulut kecilnya, mereka menyambut rahmat, ia turun di atas nikmat, terbang dengan syukur. Secara simbol mereka berkata: "Wahai saudara-saudara alam semesta! Betapa indah keadaan kami: kami dipelihara dengan kasih sayang, kami senang dengan keadaan kami." Dengan paruh runcingnya mereka menaburkan suara yang penuh manja ke angkasa. Seolah seluruh alam semesta adalah suatu musik yang luhur, cahaya iman mendengar zikir dan tasbihnya. Sebab hikmah menolak wujud kebetulan, dan tatanan mengusir kesepakatan yang penuh wahm.

Wahai kawan seperjalanan! Kini kita keluar dari alam mitsal ini, kita turun dari wahm khayali, kita berdiri di medan akal, kita menimbang, kita menghamparkan jalan-jalan. Jalan kita yang pertama yang menyakitkan, jalan orang yang dimurkai dan sesat, memberi nurani — hingga ke lubuk terdalamnya — suatu rasa sakit dan suatu derita yang hebat. Kesadaran memperlihatkannya. Kita telah menjadi lawan kesadaran. Untuk selamat, kita terdesak lagi membutuhkan; entah ia ditenangkan, entah ia tak dirasakan; jika tidak, kita tak tahan, jerit dan rintihan tak henti. Adapun hidayah adalah penyembuh; hawa nafsu adalah pembatalan rasa. Ini pun menghendaki hiburan, kelalaian, kesibukan, dan hiburan sia-sia. Hawa nafsu yang penyihir.

Agar ia menipu nurani, meninabobokan ruh, agar derita tak dirasakan. Jika tidak, derita yang menyakitkan itu membakar nurani; jerit tak tertahankan, derita keputusasaan tak terpikul. Berarti sejauh mana seseorang jatuh jauh dari sirat mustaqim, sejauh itu pula keadaan ini berpengaruh, membuat nurani berteriak. Di dalam setiap kelezatan ada deritanya, suatu jejak. Berarti kemilau peradaban yang bercampur hawa nafsu, hiburan, dan kefasikan, adalah obat palsu bagi kesempitan dahsyat yang datang dari kesesatan ini, racun yang meninabobokan. Wahai sahabatku yang mulia! Di jalan kita yang kedua, jalan bercahaya itu, kita merasakan suatu keadaan; dengan keadaan itu kehidupan menjadi tambang kelezatan. Derita menjadi kelezatan. Dengannya kita mengetahui bahwa — pada derajat yang berbeda, sebanding dengan kekuatan iman — ia memberi suatu keadaan pada ruh. Jasad berlezat dengan ruh, ruh berlezat dengan nurani.

Suatu kebahagiaan yang segera terkandung dalam nurani; suatu surga maknawi terpendam dalam kalbu. Adapun berpikir adalah menggali; kesadaran adalah lambang rahasia. Kini sejauh mana kalbu disadarkan, nurani digerakkan, dan ruh diberi rasa; kelezatan makin bertambah, dan apinya berbalik menjadi cahaya, musim dinginnya menjadi musim panas. Di nurani terbuka pintu-pintu surga, dunia menjadi suatu surga. Di dalamnya ruh kita terbang melukis, menjadi elang yang jelita, mengibaskan salat dan permohonan. Wahai sahabat seperjalananku yang mulia! Kini kita berpamitan kepada Allah. Mari, kita berdoa bersama, lalu kita berpisah untuk berjumpa lagi... اَللّٰهُمَّ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَق۪يمَ اٰم۪ينَ

--

Jawaban bagi Gereja Anglikan

Pada suatu ketika, seorang musuh Islam yang tak kenal ampun, seorang penipu politik, seorang pendeta penuh was-was yang ingin menonjolkan dirinya, dengan niat tipu daya dalam rupa pengingkaran — pada suatu masa yang menyakitkan ketika ia mencekik leher kami dengan cakarnya — dengan suatu pertanyaan yang penuh cemooh menanyakan empat hal kepada kami. Ia meminta enam ratus kata. Terhadap cemoohnya, semestinya berkata "Cih!" ke wajahnya; terhadap tipu dayanya, semestinya diam dengan merajuk; dan terhadap pengingkarannya, semestinya memberi suatu jawaban membungkam laksana palu godam. Aku tak menjadikannya mukhatab. Bagi seorang yang memihak kebenaran, kami memiliki jawaban demikian. Ia berkata pada yang pertama: "Apa agama Muhammad صلى الله عليه وسلم?" Aku berkata: Itulah Al-Qur'an. Enam rukun iman, lima rukun Islam, adalah maksud pokok Al-Qur'an. Ia berkata pada yang kedua: "Apa yang telah ia berikan kepada pikiran dan kehidupan?" Aku berkata: "Kepada pikiran tauhid, kepada kehidupan keistikamahan. Saksiku untuk ini: فَاسْتَقِمْ كَمَٓا اُمِرْتَ ❊ قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ (Maka beristikamahlah engkau sebagaimana diperintahkan... Katakanlah, Dialah Allah Yang Esa)." Ia berkata pada yang ketiga: "Bagaimana ia mengobati penyakit-penyakit masa kini?" Aku berkata: "Dengan keharaman riba dan kewajiban zakat. Saksiku untuk ini: يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبَوا (Allah memusnahkan riba). Dan وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَوا ❊ وَاَق۪يمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَكٰوةَ (Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba... Dan tegakkanlah salat serta tunaikanlah zakat)." Ia berkata pada yang keempat: "Dengan pandangan apa ia memandang revolusi manusia?" Aku berkata: Usaha adalah asas pokok. Kekayaan manusia tak terhimpun pada orang zalim, tak tersimpan di tangan mereka. Saksiku untuk ini: لَيْسَ ِلْلاِنْسَانِ اِلاَّ مَا سَعٰى ❊ وَالَّذ۪ينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا ف۪ى سَب۪يلِ اللّٰهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَل۪يمٍ (Tidaklah bagi manusia melainkan apa yang diusahakannya... Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak lalu tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka kabarkanlah kepada mereka azab yang pedih).

--

(Seratus masyaallah bagi jawaban ini.)

Konferans

Ini adalah suatu konferansi yang diberikan pada bulan November 1950 di Universitas Ankara, di hadapan para profesor, anggota parlemen kami, tamu-tamu kami dari Pakistan, dan mahasiswa berbagai fakultas, dalam suatu majelis yang berlangsung hingga tengah malam di Masjid Fakultas, dan didengarkan dengan minat serta perhatian yang besar.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ اَجْمَع۪ينَ

Saudara-saudaraku yang berharga, yang haus akan air kehidupan iman dan keislaman!

Pertama: Aku mengakui bahwa, dari segi berdiri di mimbar tempat konferansi ini diberikan, tak ada bedanya aku dengan kalian. Aku adalah salah seorang saudara kalian. Lagi pula konferansi ini adalah suatu pelajaran yang sangat bermanfaat, yang sangat kubutuhkan. Mukhatabnya adalah diriku sendiri. Sebagai suatu penelaahan pelajaranku, aku akan membacakannya kepada kalian, saudara-saudaraku yang mubarak. Segala cacat berasal dariku. Segala kesempurnaan dan keindahan berasal dari karya-karya Risalah Nur yang kumanfaatkan. Jika tak ada halangan yang menimpa kita, dari konferansi-konferansi diniyah yang akan kita lanjutkan seminggu sekali, yang pertama hari ini berkenaan dengan iman. Sebab sebagaimana dinyatakan Bedîüzzaman Said Nursî di Majelis Nasional Pertama, "Hakikat tertinggi di alam semesta adalah iman; setelah iman adalah salat." Karena itu kami memandang tepat agar konferansi kita berkenaan dengan Al-Qur'an, Iman, dan Nabi kita Rasul Mulia (Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم). Yang kedua, insya Allah, akan berkenaan dengan salat dan ibadah.

Kami mencari suatu karya yang akan mengajarkan tema-tema ini kepada kami. Akhirnya kami memilih "Risalah Nur" — suatu karya diniyah yang paling terpercaya, yang mengajarkan kebutuhan hayati dan abadi kami ini dengan cara yang sesuai pemahaman abad kita lagi meyakinkan, dan yang selama hampir setengah abad memperoleh kepercayaan serta keamanan yang besar. Kini, dengan menjelaskan mengapa konferansi pertama kami berkenaan dengan tema iman, kami akan memberikan keterangan yang sangat singkat mengenai karya ini dan penulisnya. Yaitu demikian:

Pada abad ini, musuh-musuh agama dan Islam, pertama-tama meletakkan rencana melemahkan dan meruntuhkan asas-asas iman pada butir pertama rancangan mereka. Terutama dalam dua puluh lima tahun ini, dalam suatu keadaan yang tak pernah terlihat dalam sejarah, secara munafik dan di balik aneka topeng, tindakan makar terhadap rukun-rukun iman sangatlah dahsyat, dan diterapkan berbagai bentuk yang menghancurkan.

Padahal suatu keraguan atau pengingkaran yang lahir pada salah satu rukun iman, jauh lebih mencelakakan dan merugikan daripada kelalaian pada cabang-cabang agama. Karena itulah, kini pekerjaan yang paling penting adalah mengubah iman taklidi menjadi iman tahkiki, lalu menguatkan iman, meneguhkan iman, menyelamatkan iman. Menyibukkan diri dengan asas-asas iman lebih daripada segala sesuatu telah menjadi suatu keharusan pasti, kebutuhan mendesak, bahkan keterpaksaan. Sebagaimana demikian di Turki, demikian pula di seluruh dunia Islam.

Ya, berusaha memperbaiki dan menghias kamar-kamar sebuah bangunan yang pondasinya telah dirusak, seberapa besar manfaat yang dapat menjamin bangunan itu tidak runtuh? Berusaha mengambil tindakan dengan mengobati dahan dan daun sebatang pohon yang akarnya diupayakan untuk dibusukkan, dapatkah memberi manfaat bagi kehidupan pohon itu?..

Manusia adalah suatu bangunan laksana istana; pondasinya adalah rukun-rukun iman. Manusia adalah suatu pohon; akarnya adalah asas-asas iman. Yang paling penting dari rukun-rukun iman adalah Iman kepada Allah. Kemudian Kenabian dan Kebangkitan. Karena itu, ilmu yang pertama-tama diusahakan seorang manusia untuk diraih adalah ilmu iman. Asas ilmu-ilmu, raja dan sultan ilmu-ilmu, adalah ilmu iman.

Iman tidaklah sekadar suatu pembenaran global. Iman memiliki banyak martabat. Suatu iman taklidi, terutama di hadapan badai kesesatan dan penyimpangan zaman ini, cepat padam. Adapun iman tahkiki adalah suatu kekuatan yang tak tergoyahkan, tak terpadamkan. Seseorang yang meraih iman tahkiki, sekalipun iman dan keislamannya terpapar badai ketidakberagamaan yang dahsyat, badai-badai itu terhukum menjadi tak berpengaruh di hadapan kekuatan iman ini. Seseorang yang memperoleh iman tahkiki, bahkan para filsuf yang paling tak beragama pun tak dapat menjatuhkannya ke dalam was-was atau keraguan.

Maka berdasarkan hakikat-hakikat ini, kami pun memandang pasti perlu dan harus untuk membaca dengan keteguhan, kelangsungan, dan kesaksamaan suatu karya yang menghimpun hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman — yang dengan mengajarkan iman tahkiki, menguatkan iman, dan membawa manusia kepada kebahagiaan serta keselamatan abadi. Jika tidak, jatuh ke dalam musibah duniawi dan ukhrawi yang dahsyat di zaman ini adalah suatu hakikat yang tak diragukan. Karena itu, satu-satunya jalan keselamatan kami adalah berpegang pada suatu tafsir Al-Qur'an yang tinggi, yang menafsirkan ayat-ayat imani Al-Qur'an yang Mahabijaksana serta ayat-ayat yang memandang abad ini.

Kini, bahwa suatu pertanyaan "Adakah karya demikian di abad ini?" telah lahir di dalam diri kalian, dapat dipahami dari wajah kalian yang mengungkapkan suatu gejolak bercahaya.

Ya, kami mencari dengan sangat saksama dan teliti untuk menemukan suatu karya yang sepenuhnya memenuhi kebutuhan kami ini. Akhirnya kami sampai pada keyakinan bahwa karya yang akan menjadi rehber Qur'ani dan mursyid yang paling sempurna bagi pemuda Turki, seluruh kaum muslimin, dan umat manusia, adalah karya-karya Risalah Nur milik Bedîüzzaman Said Nursî. Bersama kami, ratusan ribu orang yang menyelamatkan imannya dengan Risalah Nur pun menjadi saksi atas hakikat ini.

Ya, kami menetapkan sebagai asas bahwa penulis suatu karya Qur'ani yang akan menunaikan tugas bimbingan menyeluruh lagi umum di abad kedua puluh ini, mesti memiliki hususiyat-hususiyat berikut. Dan kami melihat bahwa hususiyat-hususiyat ini sepenuhnya ada pada Risalah Nur dan penulisnya, Bedîüzzaman Said Nursî. Yaitu demikian:

Yang pertama: Penulis hanya menjadikan Al-Qur'an yang Mahabijaksana sebagai ustaznya...

Yang kedua: Al-Qur'an yang Mahabijaksana adalah suatu kitab suci yang menghimpun ilmu-ilmu hakiki. Ia adalah suatu khutbah azali yang menyeru seluruh lapisan manusia di segala abad. Karena itu, agar dalam menafsirkan Al-Qur'an hakikat diungkapkan dengan murni sehingga menjadi tafsir yang sejati, mufasir mesti tidak berada di bawah pengaruh jalan dan mazhabnya sendiri, dan tidak tercampuri hawa nafsunya. Dan pula, untuk menetapkan hakikat-hakikat Al-Qur'an yang tampak dengan tersingkapnya makna-maknanya, mestilah mufasir itu seorang allamah yang mahir di setiap bidang, memiliki pikiran yang luas, pandangan yang halus, dan keikhlasan yang sempurna; sekaligus memiliki kejeniusan yang sangat tinggi, ijtihad yang mendalam lagi menembus, dan suatu kekuatan suci...

Yang ketiga: Tafsir Al-Qur'an itu ditulis dengan keikhlasan yang sempurna; yakni penulisnya tidak menjadikan kemanfaatan materiil atau maknawi apa pun sebagai tujuan selain rida Allah, dan keadaan luhur ini telah tersaksikan dalam peristiwa-peristiwa hidup penulis...

Yang keempat: Salah satu mukjizat terbesar Al-Qur'an adalah memelihara kemudaan dan kesegarannya. Dan ia memiliki suatu sisi yang memenuhi kebutuhan setiap abad, seolah diturunkan pada abad itu.

Maka, dalam suatu tafsir yang lahir di abad ini; sisi Al-Qur'an yang Mahabijaksana yang memandang abad kita disingkapkan, lalu dijelaskan dan dibuktikan dengan suatu gaya yang dapat dimanfaatkan setiap lapisan, dari awam hingga khawas...

Yang kelima: Mufasir mengajarkan hakikat Al-Qur'an dan iman dengan membuktikannya melalui dalil dan hujah yang tak terbantahkan. Yakni, ia menjadikan pembuktian (positivisme, isbatiyecilik) sebagai asas...

Yang keenam: Hakikat-hakikat Qur'ani yang diajarkannya menerangi dan memuaskan akal, kalbu, ruh, dan nurani, menundukkan nafsu, serta sedemikian kuat, sangat fasih, menembus, dan berpengaruh, hingga membungkam setan sekalipun...

Yang ketujuh: Ia membebaskan dari perangai-perangai buruk seperti keakuan, kesombongan, ujub, dan egoisme — yang juga menghalangi pemahaman hakikat — lalu menganugerahkan akhlak yang tinggi lagi indah seperti ketawaduan dan kerendahan hati...

Yang kedelapan: Seorang allamah yang menafsirkan Al-Qur'an Mulia mesti mengikuti sunnah Rasul Mulia Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم, beramal dengan ilmunya menurut mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta memiliki zuhud dan takwa yang tertinggi, keikhlasan yang tertinggi, keteguhan yang tertinggi dalam berkhidmah kepada agama, kejujuran dan kesetiaan serta pengorbanan yang tertinggi, dan hemat serta kepuasan yang tertinggi.

Ringkasnya: mufasir itu, dengan risalah-risalah Qur'aninya, adalah suatu pribadi hâdim Al-Qur'an yang memperoleh manifestasi takwa dan ubudiyah tertinggi kerasulan Ahmadiyah (صلى الله عليه وسلم), serta — dengan kekuatan sucinya — kilau kewalian Ahmadiyah (صلى الله عليه وسلم)...

Yang kesembilan: Mufasir, dalam menjelaskan masalah-masalah Qur'ani dan syar'i, mesti seorang mufasir yang memiliki keberanian dan ketegaran Islami — yang tidak mengindahkan tekanan dan siksaan ini atau itu, tidak memberi fatwa di bawah pengaruh apa pun, dan dengan suatu kekuatan iman yang meremehkan kematian serta menantang dunia, mengatakan hakikat tanpa gentar.

Dan pula, di suatu masa yang dahsyat ketika rencana hukuman mati diterapkan dan tak satu risalah diniyah pun diizinkan disebarkan, mestilah ia — dengan menulis dan menyebarkan asas-asas Qur'ani dan syar'i yang justru menjadi sasaran pemusnahan dan pemadaman — telah menjadi seorang mursyid yang sempurna, rehber Islam yang paling sempurna di abad ini, dan mufasir agung Al-Qur'an yang terpercaya.

Maka di zaman ini, bahwa sembilan syarat dan hususiyat yang tersebut di atas sepenuhnya ada pada penulis Said Nursî dan pada karya-karyanya, Risalah-risalah Nur, telah tetap dengan ijmak, tawatur, dan kesepakatan para ulama Islam yang hakiki lagi mendalam. Dan pula ia maklum serta dibenarkan oleh umat Islam yang sedang bangkit ini, oleh Eropa dan Amerika. Maka, wahai sahabat! Kami mencari suatu tafsir Al-Qur'an demikian, dan menginginkan seorang mufasir demikian.

Saudara-saudaraku yang berharga! Di abad yang dahsyat demikian, masalah terbesar manusia adalah: perkara menyelamatkan atau kehilangan iman. Perang-perang dunia telah menyadarkan manusia, memperingatkan kefanaan kehidupan dunia, dan membangunkan rasa untuk hidup dalam suatu alam yang kekal, dalam kebahagiaan abadi. Sudah pasti, untuk dapat memenangkan perkara yang sedemikian besar di zaman yang membingungkan lagi menipu ini, kita mesti sangat saksama dalam menemukan seorang pembela perkara.{(Catatan kaki): Bahwa di zaman ini pembela perkara demikian adalah Risalah Nur, disaksikan oleh jutaan orang yang menyelamatkan imannya dengan Risalah Nur.}Karena itu kami akan sedikit memperluas penelitian kami. Yaitu demikian:

Karya-karya yang dihasilkan para jenius Ilmu Kalam Islam sebelum abad kita, para imam agung agama kita, dan para mufasir jenius Al-Qur'an yang Mahabijaksana, adalah berharga hingga tak mungkin dinilai. Zat-zat itu adalah matahari-matahari Islam. Akan tetapi zaman ini tidak seperti zaman zat-zat agung itu hidup.

Di zaman dahulu, kesesatan datang dari kejahilan. Melenyapkannya mudah. Di zaman ini, kesesatan — serangan terhadap Al-Qur'an, Islam, dan iman — datang dari sains, filsafat, dan ilmu. Menghilangkannya sukar. Di zaman dahulu, bagian kedua ini ditemukan satu dari seribu; dari yang ditemukan pun, hanya satu dari seribu yang dapat diluruskan dengan bimbingan. Sebab mereka itu tidak tahu, sekaligus menyangka dirinya tahu.

Dan telah kalian maklumi bahwa di abad-abad sebelumnya, ilmu-ilmu positif belum semaju abad kedua puluh. Kalau demikian, untuk dapat meruntuhkan dari akar ketidakberagamaan dan materialisme yang telah menyebar ke dunia di abad ini, menunjukkan jalan kebenaran, membawa manusia ke sirat mustaqim, dan menyelamatkan iman — sudah pasti hanya dapat dilakukan di abad ini dengan menyingkapkan sisi Al-Qur'an yang Mahabijaksana yang memandang abad ini, lalu menafsirkannya dalam bentuk yang dapat dimanfaatkan semua orang.

Maka Bedîüzzaman Said Nursî memperoleh keberhasilan menyingkapkan hakikat-hakikat yang dibutuhkan abad ini dalam Al-Qur'an Mulia, lalu menafsirkan dan menjelaskannya dalam Risalah-risalah Nur dengan cara yang dapat dimanfaatkan setiap orang sesuai kemampuannya. Karena itulah dicapai keyakinan bahwa Risalah Nur adalah suatu mahakarya yang tak ada bandingnya.

Dan lagi, karena keistimewaan Risalah Nur inilah, jutaan orang yang bahagia dari umat Islam yang mubarak ini, dengan lebih mengutamakan dan merasakan kebutuhan yang lebih, membaca Risalah Nur dengan kerinduan dan kecintaan yang besar di tengah tekanan yang berlangsung bertahun-tahun.

Dan karena Risalah Nur ditulis di masa kebutuhan; ia telah memperlihatkan kepada mata bahwa ia berkembang seluas Turki dan Dunia Islam, serta memperoleh suatu keistimewaan yang memperhatikan dunia...

Saudara-saudaraku yang berharga! Ketika Said Nursî berada di Istanbul empat puluh tahun yang lalu, ia membuat suatu pengumuman luar biasa: "Siapa pun boleh menanyakan apa pun yang diinginkannya." Atas itu, para alim dan allamah masyhur pada masa itu pergi berbondong-bondong ke bilik Bedîüzzaman, dan pertanyaan-pertanyaan tersulit lagi terumit mengenai segala jenis ilmu dan berbagai tema yang mereka ajukan, dijawab Bedîüzzaman dengan benar tanpa ragu.

Membuat pengumuman tanpa batas demikian — yakni tanpa membuat batasan "dalam ilmu atau tema ini atau itu, siapa pun boleh bertanya apa pun" — lalu senantiasa berhasil pada akhirnya; ini tak pernah terlihat dalam sejarah manusia, dan seorang jenius Islam pemilik ilmu yang seluas lagi setinggi ini belum pernah muncul hingga kini. (Kecuali Masa Kebahagiaan.)

Bahkan pada masa itu, ketika Syekh Bahit Efendi yang masyhur, salah seorang pemimpin Universitas al-Azhar Mesir, datang ke Istanbul untuk suatu perjalanan; para ulama Islam yang tak mampu membungkam Bedîüzzaman Said Nursî — yang datang dari antara bebatuan terjal Kurdistan dan berada di Istanbul — meminta kepada Syekh Bahit agar guru muda ini (Bedîüzzaman) dibungkam. Syekh Bahit menerima tawaran ini dan mencari medan untuk berdebat. Dan pada suatu waktu salat, ketika keluar dari Masjid Ayasofya lalu duduk di "kedai teh", Syekh Bahit Efendi yang menganggap ini sebagai kesempatan, berkata kepada Bedîüzzaman Said Nursî: مَا تَقُولُ فِى حَقِّ اْلاَوْرُوبَا وَ الْعُثْمَانِيَّةِ Yakni: "Apa pendapat Anda tentang Eropa dan Negara Utsmani? Apa pikiran Anda?" Maksud Syekh Bahit Efendi dari pertanyaan ini bukanlah untuk menguji ilmu Bedîüzzaman Said Nursî yang laksana samudra tak berkeraguan dan percikan api kecerdasannya. Ia bermaksud memahami keluasan pandangannya tentang masa depan dan wawasan politiknya dalam pengelolaan dunia.

Terhadap ini, jawaban yang diberikan Bedîüzzaman adalah demikian: اِنَّ اْلاَوْرُوبَا حَامِلَةٌ بِاْلاِسْلاَمِيَّةِ فَسَتَلِدُ يَومًا مَا وَ اِنَّ الْعُثْمَانِيَّةَ حَامِلَةٌ بِاْلاَوْرُوبَائِيَّةِ فَسَتَلِدُ اَيْضًا يَوْمًا مَا Yakni: Eropa mengandung suatu Negara Islam, dan Negara Utsmani mengandung suatu Negara Eropa. Suatu hari akan datang keduanya melahirkannya.

Terhadap jawaban ini, Syekh Bahit Hazretleri berkata: "Pemuda ini tak dapat didebat; aku pun sependapat. Akan tetapi mengungkapkannya dengan cara yang sedemikian ringkas lagi fasih, hanya khas bagi Bedîüzzaman." Sebagaimana dikatakan Bedîüzzaman, kedua kutub kabar itu pun terbukti. Satu dua tahun kemudian, di masa Meşrutiyet, dengan mengambil banyak adat asing yang bertentangan dengan syiar Islam lalu perlahan menanamkannya di Turki; dan kini, dengan minat baik yang diperlihatkan di Eropa terhadap Al-Qur'an dan Islam, terutama dengan penerimaan Islam secara berbondong-bondong oleh bangsa Jerman yang bahagia — peristiwa-peristiwa demikian sepenuhnya membenarkan kabar itu.

Maka para ulama besar Islam dan para masyayikh mulia, melalui banyak pengalaman dan pengujian, sampai pada keyakinan demikian: apa pun yang dikatakan Bedîüzzaman adalah hakikat. Karya-karya Bedîüzzaman adalah ilham kalbu, yang memperoleh pembenaran dan penghargaan mayoritas ulama.

Ahli ilmu, ahli tasawuf, ahli sekolah dan sains, hanya mengambil limpahan dan manfaat dari karya-karya Bedîüzzaman. Ya, seorang zat yang setengah ummi — yang memiliki pendidikan tiga bulan, yang selama empat puluh tahun tak menyibukkan diri dengan kitab selain Al-Qur'an Mulia, yang saat menulis karyanya (seratus tiga puluh berbahasa Turki, lima belas berbahasa Arab) tidak merujuk kitab apa pun sebagaimana disaksikan para juru tulisnya yang masih hidup, yang bahkan tak memiliki perpustakaan — dengan suatu pengumuman yang tiada tara, berhasil dalam seluruh perdebatan yang dilakukannya di usia muda dengan para alim tinggi dan mursyid besar dalam berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu modern; yang membenarkan masalah-masalah yang disepakati dan meluruskan yang diperselisihkan; yang dibenarkan para allamah dengan "Tak ada pertanyaan yang tak dapat dijawab Bedîüzzaman"; dan yang menolak dari akar serangan sebagian filsuf Eropa yang dungu lagi penuh niat buruk terhadap ayat-ayat mutasyabih dan hadis-hadis syarif — dengan membuktikan melalui karyanya bahwa ayat dan hadis itu masing-masing adalah mukjizat — lalu menyelamatkan sebagian ahli ilmu yang terjatuh dalam wahm, dan menggagalkan serangan terhadap Islam; seorang penulis seperti Said Nursî — sudah pasti tak dapat diragukan bahwa ia adalah mufasir Al-Qur'an yang jenius, ilmunya bersifat anugerah (wahbi) lagi luas, dan Risalah-risalah Nur karyanya adalah suatu mahakarya luar biasa yang layak dibaca seumur hidup.

Saudara-saudaraku yang waspada! Sangat perlu bahwa kita begitu saksama dalam memilih suatu karya yang akan menjamin keselamatan kehidupan abadi kita dan dunia Islam, serta menerangi dan membimbing kita sehingga menjaga kita dari kesesatan. Sebab di zaman ini, dengan aneka tipuan, di balik tabir, mereka berusaha menyesatkan pemuda Islam.

Ketika suatu karya hendak dibaca atau suatu perkataan hendak didengar, pertama-tama mesti mempertimbangkan suatu kaidah pokok مَنْ قَالَ وَ لِمَنْ قَالَ وَ لِمَا قَالَ وَ ف۪يمَا قَالَ yakni: Siapa yang mengatakan? Kepada siapa dikatakan? Untuk apa dikatakan? Dalam kedudukan apa dikatakan? Ya, sumber keluhuran, keindahan, dan kekuatan tingkatan suatu perkataan adalah empat hal ini: pembicara, mukhatab, maksud, dan kedudukan. Jika tidak, tak setiap kitab yang jatuh ke tangan mesti dibaca, tak setiap perkataan mesti didengar. Misalnya: betapa besar perbedaan antara perintah "Maju" yang diberikan seorang panglima kepada suatu pasukan, dengan kata "Maju" seorang prajurit? Yang pertama menggerakkan suatu pasukan besar. Yang kedua, sekalipun perkataan yang sama, barangkali tak dapat menggerakkan satu prajurit pun.

Maka, karena empat asas ini, dan karena ratusan ribu orang yang menyimpan kecintaan besar terhadap Said Nursî di kalbu mereka — dengan kecintaan memberi perhatian besar bahkan pada keadaan terkecil ustaz mereka, ingin mempelajari dan mengikutinya — maka sebagian saudara kami di sini dengan mendesak meminta agar diberikan keterangan tentang kehidupan, karya, jalan, dan mazhab ustaz kami.

Akan tetapi, kami tak akan dapat sepenuhnya mengungkapkan kehidupan, karya, dan tabiat seorang zat seperti Bedîüzzaman. Karena hakikat ini telah diakui pula oleh para sastrawan ahli ilmu yang berpandangan tajam, maka khidmah ini jauh di atas kemampuan kami. Dan kepada saudara-saudara kami yang ingin memperoleh keterangan tentang Bedîüzzaman, kami sampaikan bahwa hal itu hanya mungkin dengan membaca Kulliyat Risalah Nur secara saksama lagi berkelanjutan.

Saudara-saudaraku yang mulia! Pada pribadi maknawi Risalah Nur — yang memiliki inayah dan kudrat yang akan menjamin kebahagiaan serta keselamatan abadi tanah air dan bangsa yang mubarak ini serta dunia Islam, dan karenanya perdamaian serta keselamatan umum di muka bumi — telah terhimpun dan berpadu kekuatan-kekuatan yang sangat kokoh berikut:

1 - Hakikat keislaman, suatu kekuatan tinggi dan ustaz seluruh kesempurnaan... 2 - Keberanian imani. Yakni tidak merendahkan diri, tidak sewenang-wenang dan sombong terhadap orang-orang malang... 3 - Kemuliaan Islam, kemuliaan dan kehormatan yang diberikan Islam kepada manusia, faktor terpenting bagi kemajuan dan ketinggian...

Wahai sahabat! Ada suatu hadis syarif yang bermakna: "Alim-alim yang sejati adalah alim-alim yang mengatakan kebenaran tanpa gentar di hadapan penguasa yang zalim." Maka kami hanya dapat mempercayai perkataan dan karya seorang allamah yang demikian dan bertakwa.

Adapun di abad kita, Risalah Nur — yang dengan peristiwa hidupnya dan karyanya menjadi contoh nyata bagi hadis syarif ini — tampak jelas. Penulisnya, Bedîüzzaman, adalah seorang mujahid yang sepenuhnya mengikuti sunnah mulia Rasul Mulia (Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم) dalam perjuangan diniyahnya, dalam khidmah dan ubudiyahnya kepada Al-Qur'an. Rasul Mulia (Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم) Efendi kita, dalam Perang Badar yang merupakan peristiwa politik terbesar dunia, mengimami para sahabat mulia dalam salat berjamaah secara bergantian. Yakni beliau mengutamakan suatu kebaikan seperti "salat berjamaah" — yang tidak wajib dan terutama di masa perang boleh ditinggalkan — di atas peristiwa politik terbesar dunia. Suatu pahala kecil pun tak beliau tinggalkan bahkan di tengah kedahsyatan medan perang.

Bedîüzzaman, dalam Perang Rusia yang diikutinya sebagai komandan resimen sukarelawan, di medan perang, di garis penembak, menulis Tafsir Işârâtu'l-İ'câz berbahasa Arab yang masyhur — tafsir sebagian Al-Qur'an. Dan karya agung ini memperoleh penghargaan dan pujian para alim terbesar di Dunia Islam; mereka mengakui bahwa mereka tak mampu memahaminya sepenuhnya dan tak pernah melihat tafsir demikian — yang mengungkapkan serta membuktikan nukat terhalus dan masalah terdalam Al-Qur'an Mulia, serta i'jaznya yang tiada tara dan balaghah serta kefasihannya yang luar biasa tinggi. Bahkan saat mengungkapkan nukat sebuah huruf, di garis tembak, meriam musuh pun tak dapat memalingkan benaknya darinya; gemuruh dan kedahsyatan perang tak dapat menghalanginya.

Di suatu masa yang gelap lagi dahsyat, ketika azan Muhammadi (صلى الله عليه وسلم) dilarang dan bid'ah dipaksakan kepada semua orang, para Murid Nur tidak membaca azan buatan itu, dan dengan gagah berani menjaga diri terhadap bid'ah demikian, tidak masuk ke dalam bid'ah.

Di masa kekejaman ketika iman dan Islam diupayakan untuk dilenyapkan, dan seorang alim pun tak dapat menyebarkan satu karya diniyah bahkan secara sembunyi-sembunyi, Bedîüzzaman — di tempat-tempat pengasingannya, di tengah pengintaian dan tekanan para penguasa lalim yang zalim — secara sembunyi-sembunyi menulis dan menyebarkan seratus tiga puluh karya imani. Bersama itu, setelah tidur yang sangat sedikit di malam hari, ia berdoa untuk keselamatan dan kebaikan bangsa-bangsa Islam yang merintih di bawah perbudakan, berlindung dan memohon ke hadirat Ilahi.

Ya, Hazret-i Üstad sepenuhnya meneladani Sunnah Mulia Rasul Mulia Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم Efendi kita.

Keadaan Bedîüzzaman ini pun menjadi teladan bagi seluruh mujahid Islam dan seluruh kaum muslimin. Yakni, ia melakukan jihad bersama ubudiyah dan takwa sekaligus; tidak melakukan satu lalu mengabaikan yang lain. Bahkan digiring ke penjara-penjara dengan rencana para musuh agama yang lalim, ditempatkan dalam pengasingan mutlak di kamar yang sangat dingin, dan berada di tengah derita serta gemetar akibat dingin yang hebat dan penyakit, serta ketakberdayaan usia tua — itu pun tak memberi kekurangan pada tulisannya.

Siddiq al-Akbar (Radiyallahu Anhu) berkata: "Biarlah tubuhku di Neraka membesar sedemikian, sehingga tak tersisa tempat bagi ahli iman." Bedîüzzaman, untuk memperoleh sepercik dari tabiat yang sangat luhur ini, naik ke puncak pengorbanan dengan berkata: "Aku siap masuk Neraka demi menyelamatkan iman beberapa orang." Dan bahwa ia demikian — seorang hâdim Al-Qur'an dan Islam yang berkorban lagi ikhlas — telah tetap dengan kesaksian delapan puluh tahun hidupnya.

Bahwa demi khidmah kepada Al-Qur'an, iman, dan Islam, Bedîüzzaman mengorbankan harga dirinya, kehormatannya, ruhnya, nafsunya, dan hidupnya; kesabaran, ketahanan, dan keseimbangan yang sangat besar yang diperlihatkannya terhadap sekian banyak kezaliman dan siksaan yang menimpanya serta musibah yang menjeratnya — masing-masing berkedudukan sebagai saksi yang benar.

Bedîüzzaman, demi khidmah kepada Al-Qur'an, iman, dan Islam, mengorbankan kenyamanan duniawinya, tidak mengumpulkan kekayaan pribadi duniawi, dan menjalani umur dengan zuhud, takwa, riadah, hemat, dan kepuasan, serta memutus hubungannya dengan dunia.

Sebagai bagian dari ini, demi kesejahteraan dan kebahagiaan kaum muslimin, untuk mewakafkan seluruh menit umurnya semata bagi khidmah iman dan sepenuhnya berhasil dalam keikhlasan, ia mengasingkan diri dari dunia dan tetap membujang. Ya, Bedîüzzaman — yang berkorban sedemikian dari segala sesuatu demi khidmah iman dan Islam, namun bersama itu semua juga menjadi suatu pengecualian dalam ubudiyah, zuhud, dan takwa — naik ke maqam seorang fedai Islam yang bersejarah dan hâdim Al-Qur'an yang ikhlas.

Bedîüzzaman memiliki suatu ketenangan, kejujuran dan kesetiaan, keteguhan dan ketegaran, serta keikhlasan sedemikian dalam perkara Risalah Nur, sehingga kezaliman dan kesewenangan musuh agama yang begitu hebat, serangan dan tekanan yang begitu banyak, dan bersama itu keberadaannya di tengah kekurangan materiil, tak dapat memalingkannya dari perkaranya, dan tak dapat menimbulkan keraguan sekecil apa pun.

Said Nursî, di masa mudanya yang ia sebut "Said Lama", sangat maju dalam filsafat. Dengan limpahan Al-Qur'an yang Mahabijaksana, ia jauh melampaui para filsuf hakiki Barat seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan para hukama jenius Timur seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Farabi dalam filsafat dan hikmah; dan ia mendakwakan bahwa tak ada penyelamat dan rehber hakiki selain Al-Qur'an, serta membuktikannya dalam karya-karya Risalah Nur. Jika ada yang meragukan hakikat-hakikat ini, Üstad dapat menghilangkan keraguannya secara langsung sebelum berpulang ke akhirat.

Said Nursî memilih jalan khidmah kepada Al-Qur'an dan iman, dan berkhidmah semata demi rida Allah, tanpa menjadikan kemanfaatan materiil atau maknawi apa pun, atau maqam-maqam maknawi seperti kesalehan dan kewalian, sebagai maksud dan tujuan. Maqam tinggi yang diberikan kepada pribadinya oleh para ahli ilmu berpandangan tajam di kalangan seluruh kaum muslimin — seperti "penyelamat politik dan diniyah yang kemunculannya dinanti" — ditolak Bedîüzzaman dengan keras; ia meyakini dan menyatakan bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan Al-Qur'an dan seorang kawan belajar para Murid Risalah Nur.

Ketika kami pergi berkunjung dua hari lalu bersama sebagian sahabat kami yang kini ada di antara kita, kepada seorang alim terhormat yang telah berkhidmah dua puluh lima tahun di Kementerian Pertahanan Nasional, ia berkata tentang Bedîüzzaman Hazretleri: "Untuk dapat memahami zat seperti apa Bedîüzzaman, cukuplah membaca Kulliyat Risalah Nur dengan saksama lagi teguh. Sebagai suatu contoh bagi kalian, dari segi kemampuan duniawinya saja aku berkata: Bedîüzzaman, dengan pribadi maknawi Risalah Nur, memiliki kemampuan dan inayah untuk mengelola — bukan hanya satu negara, melainkan seandainya pengelolaan bangsa-bangsa di muka bumi diserahkan kepadanya — mengelola mereka dalam keselamatan dan kebahagiaan." Ya, Bedîüzzaman adalah keajaiban penciptaan. Akan tetapi selama dua puluh lima tahun ia melarang dirinya dan para muridnya dari politik; ia tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi.

Pada masa-masa Bedîüzzaman menulis Risalah Nur dan saat ia dipekerjakan dalam khidmah Qur'ani; kecerdasannya, kecerdikannya, akalnya, logikanya, benaknya, khayalnya, ingatannya, perenungannya, firasatnya, kepekaan dan pemahamannya, kecepatan tangkapnya, serta indra ruhani, kalbi, dan nuraninya, perasaannya, dan kehalusan maknawinya yang tiada tara — adalah dalil nyata bahwa ia dipekerjakan; bahwa ia berkhidmah kepada Al-Qur'an bukan dengan kehendak dan seleranya sendiri, melainkan dengan inayah Ilahi — hal ini dibenarkan dan dipandang baik oleh para ahli ilmu dan ahli kalbu yang berpandangan tajam.

Almarhum Abdülaziz Çâviş, salah seorang ulama utama di Mesir, menerbitkan artikel di media Mesir tentang bahwa Bedîüzzaman adalah kecerdasan abad ini dan memiliki kecerdasan yang luar biasa dahsyat.

Almarhum Şeyhülislâm Mustafa Sabri Efendi, seorang alim besar lagi tegar, melindungi Risalah Nur di Mesir dan menempatkannya pada kedudukan tertinggi di Universitas al-Azhar.

Risalah Nur adalah pedang intan Islam yang sangat tajam. Suatu dalil bagi hakikat-hakikat ini adalah: Bedîüzzaman menyampaikan hakikat tanpa gentar kepada para penguasa dan panglima zalim dengan meremehkan kematian, dan — menghadapi kekuatan ketidakberagamaan yang menyelimuti dunia — menyebarkan hakikat Al-Qur'an dan iman dengan mengorbankan dirinya di masa kesewenangan yang paling pekat, serta berkhidmah kepada hakikat suci ini dengan mengorbankan nyawa.

Seorang jaksa penuntut, dalam surat dakwaannya: "Bedîüzzaman, dengan tenaganya yang bertambah seiring menuanya, melanjutkan aktivitas diniyahnya." Mahkamah Denizli, dalam laporan ahli: "Ya, pada Said Nursî ada suatu tenaga, tetapi tenaga ini tidak ia curahkan untuk mendirikan tarekat atau organisasi, melainkan dicapai keyakinan bahwa ia mencurahkannya untuk menjelaskan hakikat Al-Qur'an dan berkhidmah kepada agama." demikian dinyatakan.

Salah seorang wakil pemerintah lama yang anti-agama (saat pembahasan undang-undang antidemokratik di Majelis Nasional): "Kami tak dapat menghalangi aktivitas diniyah Bedîüzzaman Said Nursî selama dua puluh lima tahun." demikian ia berkata.

Kami pun berkata: Ya, Said Nursî Hazretleri adalah seorang zat yang dinamis dan penuh tenaga yang tiada tara. Bahwa Bedîüzzaman adalah manusia luar biasa, bahkan para penentangnya yang merupakan musuh agama pun membenarkan dan menghargai di dalam kalbu mereka.

Said Nursî, ketika sesekali menganugerahkan nikmat membacakan Risalah Nur kepada seorang muridnya, berkata: "Ini adalah pelajaranku. Aku membacanya untuk diriku sendiri. Risalah ini telah kubaca hingga kini barangkali seratus kali. Akan tetapi kini aku merasa butuh dan rindu membacanya lagi seolah baru melihatnya."

Dan ia pula berkata: "Aku tidak menulis kitab untuk orang lain. Aku menulis untuk diriku sendiri. Obat-obat yang kutemukan dalam Al-Qur'an ini, siapa pun yang menginginkannya boleh membacanya." Ya, Bedîüzzaman meyakini dan berkata: "Aku membutuhkan pelajaran, pendidikan, dan perbaikan nafsuku." Jika seorang zat seperti Bedîüzzaman berkata demikian, biarlah dikiaskan betapa kita membutuhkan karya-karya ini.

Bedîüzzaman Said Nursî sepanjang hidupnya lari dari nama, kemasyhuran, dan penghormatan, serta merasa cukup tanpa manusia. Dalam suatu karya berbahasa Arab, ia berkata tentang kemasyhuran: "Kemasyhuran adalah riya itu sendiri, dan madu beracun yang membunuh kalbu. Ia menjadikan manusia sebagai hamba dan budak bagi manusia. Yakni, orang yang menginginkan nama dan kemasyhuran, demi membuat orang menyukai dan mencintainya, berlaku riya dan menjilat kepada manusia. Ia mengambil sikap kepura-puraan. Jika engkau jatuh dalam bencana dan musibah itu, ucapkanlah اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّٓا اِلَيْهِ رَاجِعُونَ (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)."

Meskipun Üstad demikian lari dari kemasyhuran secara perbuatan dan keadaan, entah hikmah apa, manusia — seolah ada suatu dorongan Ilahi — berlari kepadanya dengan memohon pertolongan, dan berbondong-bondong kepadanya. Dan tabiat suci yang murni haq ini menjadi hâdim bagi suatu karya sejagat seperti Risalah Nur...

Bedîüzzaman sejak usia kecil merasa cukup tanpa hadiah tanpa imbalan dari orang-orang. Ia menjadikan tidak menerima hadiah sebagai jalannya. Bahkan di masa-masa pengasingan dari penjara ke penjara, dari negeri ke negeri, di tengah keterpaksaan yang dibebankan usia tua, ia tak melanggar pedoman istiğna (kecukupan diri) delapan puluh tahun ini. Jika seorang murid terdekatnya menghadiahkan sesuap makanan, ia memberi imbalannya; jika tidak memberi imbalan, hatinya tak nyaman.

Sebagai salah satu sebab mengapa ia tidak menerima hadiah, ia berkata: "Zaman ini tidak seperti zaman dahulu. Jika di zaman dahulu ada sepuluh tangan yang menyelamatkan iman, kini turun menjadi satu. Jika sebab yang menggiring kepada ketidakberimanan dahulu sepuluh, kini naik menjadi seratus. Maka di zaman demikian, untuk berkhidmah kepada iman, aku tidak menjulurkan tangan kepada dunia, aku meninggalkan dunia. Aku tak akan menjadikan khidmah imanku sebagai alat bagi apa pun." Hazret-i Üstad, jika seseorang bersusah payah untuk pribadinya atau melakukan suatu khidmah untuknya, ia memberi imbalan berupa upah atau pemberian. Jika tidak, hal itu memberatkan ruhnya, tak menyenangkannya.

Bedîüzzaman Said Nursî, dalam khidmahnya kepada Al-Qur'an, Iman, dan Agama, selama bertahun-tahun berada di bawah pengintaian, pengusutan, pengejaran, dan penyelidikan yang terus-menerus. Bahwa ia berkhidmah kepada Islam semata-mata demi rida Ilahi, semata-mata demi hakikat, dan tidak menjadikan khidmah Qur'aninya sebagai alat bagi apa pun, telah terbukti pula dalam berbagai mahkamah.

Seandainya pada hakikat-hakikat tersebut, dan pada keluhuran serta hakikat tinggi yang dilihat dan disebarkan oleh orang-orang pemihak kebenaran yang melihat kebenaran dalam Bedîüzzaman dan karyanya, terdapat hal terkecil yang bertentangan — sudah pasti dalam dua puluh lima tahun ini akan diumumkan ke dunia oleh musuh-musuh agama dengan tambahan terbesar, gembar-gembor, dan teriakan.

Sebagaimana pula, ketika ia digiring ke mahkamah dengan hasutan musuh-musuh agama yang lalim melalui fitnah dan tuduhan penuh, ia dipertontonkan di halaman pertama surat kabar dengan tambahan seratus kali lipat; ketika terbukti pada akhir penyelidikan dan pengadilan bahwa tak ada kejahatan apa pun, dan ia dibebaskan, mereka diam — ini adalah salah satu dari sekian banyak dalil nyata hakikat ini.

Bedîüzzaman sangat penuh kasih sayang kepada saudara-saudara seagamanya. Bahwa ia menderita karena derita mereka, tersiksa karena kepedihan para fedai mujahid Islam yang memberikan nyawa demi kemerdekaan dan kebebasan di dunia Islam, dan sangat menderita di saat serangan terhadap Al-Qur'an dan Islam; dan bahwa karena pengaruh kepedihan-kepedihan pahit demikian ia sering tak dapat memakan sepotong sup yang memang sangat sedikit ia makan — telah sering terlihat dan masih terlihat.

Kebanyakan harinya berlalu dengan penyakit dan kesempitan. Sebagaimana ditulis seorang murid Nur: "Wahai ustazku yang penuh kasih, yang demi kesejahteraan dan kebahagiaan abadi Umat Islam tidak melihat kenyamanan di dunia! Penyakit-penyakitmu yang berlangsung terus bukanlah jasmani. Selama kesewenangan dan kezaliman yang diterapkan pada agama kita belum berakhir, selama dunia Islam belum selamat, deritamu tak akan reda." Ya, kami pun sependapat.

Akan tetapi kepedihan yang menyakitkan itu sama sekali tak menjatuhkan Bedîüzzaman ke dalam keputusasaan; sebaliknya, ia menggiringnya kepada suatu jihad diniyah, doa, dan ubudiyah yang menyeluruh, sehingga ia berkata: "Satu-satunya jalan keselamatan adalah berpegang pada Al-Qur'an." dan ia berpegang. Dengan menuliskan obat-obat yang ia temukan dalam Al-Qur'an, ia menghasilkan karya-karya Risalah Nur yang di zaman ini menjadi penyelamat Islam dan penyandar kebahagiaan umat manusia.

Kekuatan dan kemegahan duniawi musuh-musuh agama yang bengis sama sekali tak dapat menjatuhkan Bedîüzzaman ke dalam kemalasan. Dengan beriman bahwa "Tugasku adalah khidmah kepada Al-Qur'an. Memenangkan atau mengalahkan adalah milik Allah," ia tak pernah surut dari aktivitas sesaat pun. Ya, Hazret-i Üstad memiliki suatu himmah yang begitu agung, sehingga kezaliman dahsyat yang diterapkan padanya terhukum menjadi tak berpengaruh di hadapan himmah ini.

Bedîüzzaman menyaksikan makhluk-makhluk di bumi dan langit dengan keheranan dan penghargaan. Ia sering berjalan-jalan di padang dan gunung, terutama di musim semi. Di tempat-tempat pesiar itu ia berada dalam kesibukan benak, tafakur yang halus, dan hudur yang senantiasa. Ia menyaksikan pohon, tumbuhan, dan bunga dengan pandangan ibrah, seraya berkata مَا شَٓاءَ اللّٰهُ بَارَكَ اللّٰهُ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِق۪ينَ "Betapa indah mereka diciptakan"; ia membaca kitab alam semesta. Seperti seluruh anggota dan indranya, ia pun senantiasa menjalankan matanya atas nama Allah dan dalam lingkaran izin-Nya. Matanya adalah penelaah kitab besar alam semesta ini dan penonton mukjizat seni Rabbani di alam ini. Dan ia berkedudukan laksana seekor lebah mubarak bagi bunga-bunga rahmat di kebun bola bumi ini.

Üstad tawaduk dalam kehidupan pribadinya, berwibawa saat bertugas. Ia berada pada martabat yang menjadi teladan dalam ketawaduan dan kerendahan hati. Dalam hal ini ia berkata: "Ketika seorang prajurit sedang berjaga, sekalipun panglima tertinggi datang, ia tak akan meletakkan senjatanya. Aku adalah seorang pelayan dan prajurit Al-Qur'an. Saat bertugas, siapa pun yang muncul di hadapanku, aku berkata 'Inilah yang haq', aku tak menundukkan kepalaku."

Ringkasnya kami sampaikan: Bedîüzzaman adalah mufasir Al-Qur'an yang hakiki lagi luar biasa, yang memiliki keikhlasan yang sempurna. Sekaligus ia hâdim Al-Qur'an yang pahlawan lagi tiada tara, yang telah sampai pada keikhlasan yang paling sempurna. Sebagai penulis Risalah Nur; ia adalah seorang mutakallim agung, seorang allamah yang sangat mendalam lagi kokoh dalam ilmu, cermat lagi teliti; sekaligus ustaz ilmu Logika yang tinggi lagi tiada tara. Karyanya bernama Ta'likat adalah suatu mahakarya dalam Logika. Sekaligus ia seorang jenius yang mumtaz, pemihak kebenaran, dan pelihat hakikat; seorang filsuf pemuja hakikat dari filsafat lurus yang berdamai dengan Al-Qur'an; seorang sosiolog, psikolog, dan pedagog yang tiada tara; sekaligus seorang penulis dan sastrawan yang tinggi, tiada tara, lagi jenius, yang senantiasa menyenandungkan hakikat.

Karena Said Nursî selama bertahun-tahun berada di bawah kesewenangan dan pembatasan yang hebat sehingga tak diperkenalkan, dan karena ia sendiri menutupi serta menyembunyikan kesempurnaan pribadinya, boleh jadi ada yang tak mengetahui masing-masing sifat tersebut. Baik sifat-sifat ini maupun keterangan kami tentang hususiyat Risalah Nur, adalah putusan yang memiliki kekuatan kesepakatan dan ijmak sebagian ulama hakiki dan ahlullah di zaman pemuja hakikat dan keutamaan ini. Dan ia adalah keyakinan pasti kami pula.

Dalil kami yang paling terpercaya, paling utama, dan paling hakiki atas bahwa Bedîüzzaman memiliki ilmu dan sifat demikian, adalah Bedîüzzaman Said Nursî sendiri. Siapa yang ragu, hendaklah ia membaca Risalah Nur. Ya, hakikat-hakikat teragung yang kami sebutkan dan akan kami sebutkan ini, kami ungkapkan dan umumkan kepada seluruh dunia Islam dan seluruh alam kemanusiaan. Ya, selama seribu tahun dunia keislaman dan kemanusiaan menantikan suatu karya seperti Risalah Nur.

Bedîüzzaman Said Nursî dapat menulis karya yang istimewa dalam banyak ilmu. Akan tetapi ia berkata "Zaman ini adalah zaman menyelamatkan iman," dan mengkhususkan seluruh himmah, usaha, dan hidupnya untuk menulis dan menyebarkan ilmu-ilmu iman.

Ya, Hazret-i Üstad, dengan menyebarkan ilmu-ilmu iman, menghidupkan dan menyinari dunia Islam dan alam kemanusiaan. Semoga Allah rida selamanya kepada ustaz agung itu, dan memberinya umur panjang. Amin, amin, amin...

Risalah Nur adalah suatu tafsir yang tinggi lagi cemerlang, yang merupakan mukjizat maknawi Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat di abad ini. Ya, Risalah Nur adalah penakluk dan kekasih kalbu, sultan ruh, guru akal, pendidik dan penyuci nafsu. Salah satu hususiyat Risalah Nur adalah pembahasan pada halaman 129 jilid pertama Mektubat berikut: "Dalam sebagian Kalimat, tentang perbedaan antara jalan ulama ilmu Kalam dan jalan hakiki yang diambil dari Al-Qur'an, kami mengatakan suatu perumpamaan; misalnya: untuk mendatangkan air, sebagian menggali dari tempat jauh, di bawah gunung, dengan pipa (küngân), lalu mendatangkan air. Sebagian lagi menggali sumur di setiap tempat, lalu mengeluarkan air. Bagian pertama sangat menyukarkan. Ia tersumbat, terputus. Akan tetapi yang mampu menggali sumur dan mengeluarkan air di setiap tempat, menemukan air di setiap tempat tanpa susah payah... Persis demikian pula: ulama ilmu Kalam memutus sebab-sebab di ujung alam dengan kemustahilan rantai (tasalsul) dan lingkaran (daur), lalu dengan itu membuktikan wujud Yang Wajibul Wujud. Ditempuh suatu jalan yang panjang. Adapun jalan hakiki Al-Qur'an yang Mahabijaksana: ia menemukan air di setiap tempat, mengeluarkannya. Setiap ayatnya, laksana tongkat Musa, ke mana pun dipukulkan, memancarkan air kehidupan. Ia menyuruh segala sesuatu membaca pedoman وَ ف۪ى كُلِّ شَيْءٍ لَهُ اٰيَةٌ تَدُلُّ عَلٰٓى اَنَّهُ وَاحِدٌ (Dan pada segala sesuatu terdapat ayat baginya yang menunjukkan bahwa Dia Esa).

Dan lagi, iman bukan hanya dengan ilmu.. dalam iman ada bagian bagi banyak kehalusan batin. Sebagaimana suatu makanan jika masuk ke lambung, makanan itu terbagi dan terdistribusi ke berbagai saraf dengan cara yang berbeda. Masalah-masalah imani yang datang dengan ilmu pun, setelah masuk ke lambung akal, sesuai derajatnya, ruh, kalbu, sir, nafsu, dan demikian seterusnya.. kehalusan batin mengambil bagiannya masing-masing, menghisapnya. Jika tak ada bagian bagi mereka, ia kurang." Maka Risalah Nur menemukan air di setiap tempat, mengeluarkannya. Ia memendekkan jalan panjang yang dulu ditempuh, dan menjadikannya lurus lagi selamat.

Para hukama lama, untuk sebagian hukum syar'i dan akidah imani, berkata: "Ini adalah naql (riwayat), kami beriman, akal tak sampai kepadanya." Padahal di abad ini akal berkuasa. Adapun Bedîüzzaman Said Nursî berkata: "Seluruh hukum syar'i dan hakikat imani adalah aklî (rasional). Aku siap membuktikan bahwa ia rasional." dan ia membuktikannya dalam Risalah Nur.

Dalam Risalah Nur terdapat kesusastraan, balaghah, dan ijaz yang istimewa; suatu gaya yang tiada tara, memikat, lagi orisinal. Ya, Bedîüzzaman memiliki gaya yang khas bagi dirinya. Gayanya tak dapat ditimbang dan dibandingkan dengan gaya lain. Jika di sebagian tempat karyanya dijumpai suatu titik yang disangka kurang sesuai menurut kaidah sastra atau gaya lain, di sana terdapat suatu nukat yang sangat halus, suatu isyarat, atau suatu makna atau hikmah yang halus. Dan cara penjelasan itu sepenuhnya sesuai di sana. Akan tetapi para alim pun mengakui bahwa mereka tak langsung memahami kehalusan yang halus itu. Karena itu, hususiyat dan kehalusan dalam karya Bedîüzzaman tak dapat langsung ditangkap oleh mereka yang tak banyak menyibukkan diri dengan Risalah Nur.

Penyair besar kami, kebanggaan kesusastraan kami, almarhum Mehmed Âkif, dalam suatu majelis sastrawan berkata: "Para Victor Hugo, Shakespeare, dan Descartes, dalam kesusastraan dan filsafat, boleh jadi menjadi murid Bedîüzzaman."

Para sastrawan dan penyair menangisi kefanaan dan perpisahan, meratapi kematian. Mereka menggambarkan musim gugur dengan kesedihan. Bahkan para sastrawan Arab yang masyhur di dunia berkata dalam makna "Seandainya tak ada perpisahan, kematian tak akan menemukan jalan datang untuk mengambil ruh kami": لَوْلاَ مُفَارَقَةُ اْلاَحْبَابِ مَا وَجَدَتْ لَهَا الْمَنَايَا اِلٰى اَرْوَاحِنَا سُبُلاً

Adapun Bedîüzzaman berkata: "Kefanaan, perpisahan, dan ketiadaan di alam semesta bersifat lahiriah. Pada hakikatnya tak ada perpisahan, ada pertemuan. Tak ada kefanaan dan ketiadaan, ada pembaruan. Dan setiap sesuatu di alam semesta memperoleh sejenis kekekalan. Kematian adalah pergi dari alam fana ini ke alam yang kekal. Kematian, bagi ahli hidayah dan ahli Al-Qur'an, adalah sarana untuk berjumpa dengan sahabat lama yang telah pergi ke alam sana. Sekaligus sarana untuk masuk ke tanah air hakiki mereka. Sekaligus suatu undangan dari penjara dunia ke taman surga. Sekaligus suatu giliran untuk menerima upah dari karunia Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sebagai imbalan khidmahnya. Sekaligus suatu pembebasan dari beban tugas hidup. Sekaligus suatu istirahat dari pelatihan ubudiyah dan ujian. Seandainya Azrail Alaihissalâm datang hari ini, aku akan menyambutnya dengan tersenyum seraya berkata 'Selamat datang, dengan gembira'." demikian ia berkata.

Bedîüzzaman, ketika menyelamatkan manusia dari kefasikan dan kesesatan dengan Risalah Nur, tidak menempuh cara memberi ketakutan dan kedahsyatan. Dengan memperlihatkan seratus derita di dalam suatu kelezatan yang tidak sah, ia mengalahkan perasaan (nafsani). Ia menjaga kalbu dan ruh dari dikalahkan perasaan. Dalam Risalah Nur, dengan perbandingan-perbandingan, ia membuktikan bahwa dalam kekufuran dan kesesatan terdapat suatu benih pohon zaqqum Neraka yang bahkan di dunia menyiksakan azab Neraka; dan bahwa dalam iman, Islam, dan ibadah terdapat suatu benih Surga, kelezatan yang lezat, dan buah-buah Surga yang bahkan di dunia menganugerahkan sejenis pahala.

Risalah Nur menghapus kemunafikan, perpecahan, perselisihan, fitnah, dan kerusakan; lalu menegakkan persaudaraan, ukhuwah diniyah, saling-topang, dan tolong-menolong. Salah satu asas jalan Risalah Nur pun adalah ini. Risalah Nur membebaskan dari akhlak buruk seperti kesombongan, keangkuhan, pamer diri, dan kehinaan; lalu menganugerahkan akhlak indah seperti ketawaduan, kerendahan hati, kemuliaan, dan kewibawaan.

Risalah Nur membuat seorang manusia yang benar-benar manusia menyadari kelemahan dan kefakirannya. Bedîüzzaman berkata: "Manusia, dengan memahami kelemahan dan kefakirannya, menjadi muslim dan hamba yang sempurna."

Mereka yang berkata atau melakukan "Mari kita tempuh pula pendidikan modern untuk mengalahkan orang-orang tak beragama ini," akan sampai ke tujuan mereka dengan menelaah Risalah Nur secara berkelanjutan lagi teguh; dan inilah satu-satunya jalan. Dan dengan demikian pula, pengetahuan sekolah pun berubah menjadi makrifat Ilahi.

Wahai saudara-saudaraku yang berjiwa kesatria, cucu-cucu suatu bangsa yang selama seribu tahun mengibarkan panji Islam! Kaum muslimin di zaman ini dan abad-abad mendatang, serta kita, membutuhkan suatu rehber — tafsir Al-Qur'an yang Mahaagung — yang dengan pelajaran iman tahkiki, memajukan dan meninggikan kita dalam martabat-martabat iman. Yang mendidik kaum muslimin yang bukan penakut, melainkan berani, pahlawan, aktif, pemilik amal saleh, beragama, bertakwa, dan bersama itu mengorbankan kenyamanan serta kepentingan pribadi demi keselamatan iman dan Islam — muslim fedai dan mujahid — lalu membebaskan dari sikap "apa peduliku". Yang di hadapan serangan, siksaan, dan kemungkinan kematian, dengan keberanian yang datang dari kekuatan iman tahkiki, tak pernah surut dari front Al-Qur'an dan Islam; yang berkata "Jika mati aku syahid, jika hidup aku pelayan Al-Qur'an" dan tak jatuh dalam keputusasaan — mendidik hâdim-hâdim Islam yang jujur dan ikhlas seperti para murid Nur, yang berkhidmah semata demi rida Allah; melahirkan muslim-muslim yang mulia demikian.

Ya, abad ini sangat memerlukan suatu tafsir Al-Qur'an yang, seperti Risalah Nur, menjalankan akal, pikiran, dan logika; menerangi ruh, kalbu, dan nurani. Menyadarkan kaum muslimin dan manusia; memberi kebangkitan, membebaskan dari kelalaian. Menunjukkan jalan Al-Qur'an yang merupakan Sirat Mustaqim. Menyadarkan akan hal-hal yang dilakukan bertentangan dengan Sunnah Mulia dan syiar Islam, lalu mengajarkan pengikutan sunnah Nabi (Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم) dan membangkitkan tekad untuk menghidupkannya.

Maka bahwa Risalah Nur adalah suatu tafsir Al-Qur'an yang memuat hususiyat demikian, telah tampak selama tiga puluh tahun dan tetap dengan pembenaran ahli hakikat. Dan pula, pembelaan para murid Risalah Nur yang digiring ke mahkamah dengan rencana musuh-musuh agama yang tak kenal ampun; dan keteguhan mereka dengan kesiddikan tanpa gentar dari siksaan yang mereka alami akibat intrik para zalim tersembunyi musuh Islam yang tak berperikemanusiaan saat berkhidmah kepada Islam — tanpa memikirkan diri mereka, yakni mengorbankan kesejahteraan pribadi demi kesejahteraan dan kebahagiaan Islam — serta perlawanan mereka terhadap kezaliman yang paling hebat, membentuk suatu dalil yang nyata.

Ya, dan selama dua puluh lima tahun, para pahlawan Nur, abang-abang kami yang mewakafkan seluruh dirinya untuk khidmah iman dengan Risalah Nur, dan yang meskipun berkali-kali mengalami serangan serta penggeledahan "musuh-musuh agama yang bengis", selama dua puluh lima tahun dalam pengasingan menjadi penyebar Risalah Nur — mereka adalah fedai iman dan Islam, teladan bagi kami.

Maka kami kaum muslimin mencari suatu tafsir Al-Qur'an demikian, menantikan seorang pembimbing demikian. Para murid Nur yang ikhlas itu, yang beriman "Allah adalah Maha Pemelihara. Aku berada di bawah inayah dan perlindungan-Nya. Apa pun yang menimpaku adalah kebaikan," lalu beramal. Mereka melakukan khidmah iman. Mereka pun berhati-hati agar tidak tertangkap musuh agama dan agar tidak kehilangan Risalah Nur yang mereka yakini lebih berharga dari nyawa. Mereka melanjutkan khidmah tanpa mempertimbangkan bahaya yang akan menimpa diri mereka. Ketika dicampakkan ke penjara dan disiksa, mereka tetap bertaut dengan ustaz mereka, Bedîüzzaman. Jika menemukan peluang secara diam-diam, mereka tetap menyibukkan diri dengan Risalah Nur. Bahkan ada murid yang menghafal sebagian Nur, berpikir "Barangkali aku dicampakkan ke penjara, mereka tak akan memberikan Risalah Nurku, aku terhalang bekerja."

Seorang murid Nur yang ikhlas, ketika dikeluarkan dari penjara; seolah penjara berbagai siksaan — cambuk dan falaka — itu menjadi baginya suatu sumber kekuatan dan tenaga, seolah menjadi cambuk untuk berlari dalam khidmah Nur dengan kesetiaan dan kewaspadaan; ia makin dekat kepada ustaznya dan bekerja untuk Nur lebih banyak dari sebelumnya, melakukan penyebaran.

Dalam peristiwa Afyon, ketika Bedîüzzaman di penjara, seorang murid Nur yang guru memberi jawaban gagah berani tentang Risalah Nur dan Üstad di kejaksaan, sehingga jaksa marah. Ia mengancam: "Kini akan kucampakkan engkau ke penjara." Guru fedai Islam itu menjawab: "Aku siap, segeralah kirim aku ke penjara."

Dan di mahkamah Afyon pula, dikeluarkan surat perintah penahanan atas seorang murid Nur, tetapi peradilan tak menemukannya. Murid itu mengetahuinya. Seperti saudara-saudara Nur yang lain, dengan berkata "Ketika ustaz dan saudara-saudaraku di penjara, bagaimana aku dapat tinggal di luar," ia menyerahkan diri ke kejaksaan dan masuk penjara.

Di penjara yang sama, seorang murid Nur dibebaskan karena kekeliruan. Ia pun, berpikir "Ustaz dan saudara-saudaraku masih di penjara. Dan ada Risalah Nur yang baru ditulis yang penyalinannya akan kuselesaikan," berkata kepada kepala penjara: "Aku baru boleh dibebaskan empat puluh hari lagi. Masa hukumanku belum selesai." Mereka menghitung dan ternyata benar demikian, lalu mengembalikannya ke penjara.

Saudara-saudaraku yang berpengertian, yang layak akan keutamaan kecintaan diniyah!

Said Nursî, jika melihat keterangan demikian yang diberikan tentang dirinya, akan berkata: "Mengapa mereka berbuat begini? Pribadiku tak penting. Nilai ada pada Risalah Nur yang menetes dari Al-Qur'an dan merupakan milik Al-Qur'an yang Mahabijaksana. Aku bukan apa-apa."

Dari segi hakikat Qur'ani dan cahaya-cahaya yang pribadi Üstad menjadi manifestasi dan cerminnya, dan dari segi pelajaran iman serta Islam yang ia sebarkan, dengan keikhlasan yang sempurna, dengan berkhidmah kepada Al-Qur'an dan agama secara umum lagi menyeluruh — maka penghargaan dan pujian terhadapnya tidak tinggal sebagai milik pribadinya secara makna harfi. Ia kembali kepada Al-Qur'an dan Islam. Ia atas nama dan hitungan Allah. Permusuhan dan serangan yang dilakukan musuh agama terhadapnya pun tertuju pada maksud khusus melenyapkan Al-Qur'an dan Islam yang khidmahnya diemban Bedîüzzaman.

Sebab karya-karya Risalah Nur sejagat itu — yang menghimpun hakikat Qur'ani dan imani — dianugerahkan kepadanya.

Maka para penentang dan musuh iman serta Islam yang bertopeng, tersembunyi, lagi munafik, yang mengetahui hakikat yang jelas ini, hampir setengah abad masih berusaha meruntuhkan pribadi Bedîüzzaman yang tak dapat mereka runtuhkan, dengan dusta dan teriakan. Maksud mereka: agar Risalah Nur tidak mendapat sambutan dan tersebar, agar iman dan Islam tidak berkembang. Padahal, setiap kali mengusik Said Nursî, Risalah Nur makin bersinar. Lingkaran penyebaran makin meluas. Peristiwa-peristiwa dalam dua puluh lima tahun, yang masing-masing menjadi contoh, tampak jelas.

Musuh-musuh Islam, di satu sisi melanjutkan propaganda dusta dan serangan mereka; di sisi lain berusaha menghalangi dari balik tabir suatu bentuk pembelaan para murid Nur — yang tersusun dari tulisan dan perkataan penuh penghargaan yang mengungkapkan rasa syukur yang lahir dari manfaat dan limpahan sesuai bakat mereka tentang ustaz dan Risalah Nur. Karena itu, dengan tampak tulus kepada sahabat-sahabat yang mereka anggap lugu, mereka membuat orang mengatakan hal-hal seperti "Kalian berlebihan." Maka dengan aneka fitnah yang licik, penuh tipu daya, dan penuh intrik demikian, mereka berusaha menakut-nakuti, menggentarkan, dan membungkam kami.

Ya, gerangan masuk akalkah: musuh-musuh agama membuat teriakan yang hanya berisi fitnah dan dusta, lalu kami diam dalam membela dengan cara mengungkapkan hakikat? Gerangan mungkinkah: para propagandis tak berperikemanusiaan yang melakukan ketidakadilan zalim lagi lalim terhadap Üstad Bedîüzzaman dengan permusuhan Islam, menyebarkan dusta mereka, lalu kami — dengan mengumumkan kebenaran Üstad dan Risalah Nur — tidak berusaha menggagalkan dusta ajaib mereka? Gerangan bukankah suatu kedunguan dan kepolosan: musuh-musuh bengis lagi lalim Al-Qur'an dan iman terus-menerus meninggikan suara dengan rekaan dalam menentang Bedîüzzaman yang berkhidmah membela dan menjaga Al-Qur'an, Islam, dan agama dengan Risalah Nur terhadap kekufuran mutlak; lalu kami diam dalam menjelaskan dan mengumumkan kebenaran, atau dengan sesuatu seperti "Diamlah sedikit" seolah membantu atau mendukung orang-orang tak beragama tersembunyi yang beraktivitas di balik tabir? Sekali-kali tidak, sama sekali tidak; kami tak akan diam, dan mereka tak akan dapat membungkam kami. Kami tak akan berhenti, dan mereka tak akan dapat menghentikan kami. Hingga nyawa ini keluar dari sangkar ini, hingga ruh ini berpisah dari jasad ini, hingga nafas ini pergi dari badan ini; kami akan membaca dan menyebarkan Risalah Nur. Kami akan mengungkapkan dan mengumumkan — menghadapi para pemfitnah dan musuh agama yang bengis — bahwa Risalah Nur adalah hakikat murni dan kebenaran itu sendiri, dan bahwa Bedîüzzaman Said Nursî sepenuhnya suci lagi bebas dari tuduhan yang dilontarkan.

Saudara-saudaraku yang berharga! Dalam sejarah Islam telah muncul zat-zat besar lagi tiada tara yang kedudukannya tertulis di halaman-halaman emas. Tafsir dan karya zat-zat yang tiada tara itu tak dapat dibandingkan dengan karya filsuf Eropa mana pun. Para penulis dan jenius Islam yang agung itu berkhidmah kepada Al-Qur'an dan Islam dengan sebenarnya dan dengan murni, tanpa berada bertahun-tahun di bawah perbudakan berat dan kesewenangan pekat suatu pemerintahan. Adapun Bedîüzzaman Said Nursî — suatu pribadi maknawi yang dibiarkan di bawah kesewenangan mutlak dan kezaliman terhebat serta perbudakan dahsyat yang tak ada bandingnya dalam sejarah, menghadapi musuh-musuh agama yang berusaha memusnahkan dirinya dan karyanya — telah berhasil dan menang dengan cara yang tak pernah terlihat dalam sejarah manusia, dalam jihad akbar diniyahnya yang dilakukan dengan sepenuhnya mengikuti sunnah Rasul Mulia (Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم) Efendi kita.

Menulis seratus tiga puluh karya imani seperti Bedîüzzaman secara sembunyi-sembunyi di bawah kesewenangan, tekanan, dan pembatasan yang hebat; sekaligus memiliki takwa dan ubudiyah yang kuat; dan bersama itu berperang sebagai fedai dengan pasukan sukarelawan di medan perang; dan bahkan di garis penembak menulis suatu tafsir Al-Qur'an yang menjelaskan nukat terhalus dan i'jaz luar biasa Al-Qur'an setiap kali menemukan kesempatan; dan pada saat yang sama menang dalam pergulatan nafsu serta menjadikan nafsunya pelayan agama; dan dengan hak kebebasannya dirampas, diasingkan ke suatu desa terpencil, dikepung dalam pengasingan mutlak, pengintaian, dan segala jenis azab, di bawah tekanan suatu kekuatan berkuasa yang meninggalkan jauh kezaliman Inkuisisi, di tengah siksaan sangat biadab para penjahat — dengan rahasia "Sırran tenevverat" (bercahaya secara tersembunyi) menyebarkan karya-karya seperti Risalah Nur di balik tabir; dan dengan demikian, sebagai seorang pelayan Sunnah Mulia Rasul Mulia Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم — sang "Penakluk" materiil dan maknawi jagat — dengan inayah Ilahi membawa maju dengan selamat suatu komunitas yang kini mencapai jutaan orang di jalan raya Al-Qur'an yang Mahabijaksana, dan dengan suatu karya seperti Risalah Nur menjadi sarana bagi terjaminnya bukan hanya dunia melainkan kebahagiaan abadi kaum mukmin dan umat manusia; terhimpunnya hususiyat-hususiyat tersebut pada pribadi maknawinya — kepada zat mana lagi dalam sejarah, gerangan, hal ini dianugerahkan selain penulis Risalah Nur, Bedîüzzaman Said Nursî?

Ya, saudara-saudaraku! Risalah Nur menyebarkan suatu cahaya hakikat, suatu burhan kebenaran, dan suatu pelita hakikat; ia mengajarkan hakikat Al-Qur'an dan iman yang akan menjamin kebahagiaan dua alam. Ia adalah suatu karunia Ilahi sedemikian, sehingga selama dua puluh lima tahun, setiap lapisan manusia — anak-anak dan orang tua, muda dan tua, wanita dan pria, guru, filsuf, mahasiswa, alim, sufi — menjadi pencinta Nur ini, laron Nur ini, pemuja Nur ini, sahabat Nur ini; mereka berlari kepada Nur ini, mencampakkan diri ke dada Nur ini, memohon pertolongan dari Nur ini. Suatu kelompok besar yang terdiri dari jutaan orang bahagia bercahaya dengan Nur ini, dan selamat dengan Nur ini.

Ya, saudara-saudaraku! Risalah Nur, tafsir hakiki Al-Qur'an yang Mahaagung — gudang mukjizat dan mukjizat terbesar — mengajarkan hakikat yang begitu menakjubkan, memikat, dahsyat, dan megah, serta membuktikan masalah-masalah, sehingga ia menjadi dan akan menjadi penyandar bagi perkembangan dan penaklukan iman serta Islam seluas benua.

Ya, Risalah Nur telah memberi kalbu suatu cinta dan kecintaan sedemikian, memberi ruh suatu wajd dan gejolak sedemikian, meyakinkan akal dan logika dengan cara sedemikian, dan menghasilkan ketenangan kalbu sedemikian, sehingga ia membuat jutaan murid Nur membacanya berkali-kali, menuliskannya, dan menelaahnya seumur hidup; serta selama bertahun-tahun ia seolah menyebarkan dirinya sendiri.

Saudara-saudaraku yang mulia! Komite-komite zindiq yang dikendalikan jari asing, demi memusnahkan Islam, di negeri-negeri Islam terutama di Turki, telah memutar intrik dengan aneka tipu daya, memutar roda pengkhianatan, melakukan kezaliman bengis lagi biadab, menerapkan rencana setan lagi keji, melakukan penyesatan; mengikuti metode iblisi lagi licik, membenturkan saudara dengan saudara, membuat dusta serta propaganda dan teriakan yang menipu, menaburkan benih fitnah, kerusakan, dan perpecahan — sehingga semua ini membuka luka-luka dalam pada tubuh Islam dan melakukan kehancuran besar.

Akan tetapi musibah-musibah itu, dengan pertolongan Allah, melalui perantaraan seorang zat yang meraih keikhlasan sempurna seperti Bedîüzzaman Said Nursî yang digerakkan dan dipekerjakan, dengan rahmat Ilahi menjadi sebab bagi lahirnya karya-karya Risalah Nur yang bersifat penolong, penyembuh, dikagumi jagat, lagi sejagat. Dan pada saat yang sama, ia menyadarkan kaum muslimin; menggiring mereka mencari jalan keselamatan. Ia menyadarkan dengan hebat akan kebutuhan mengambil pelajaran iman hakiki, berlindung kepada Allah, dan menaati perintah-Nya untuk menyelamatkan kehidupan akhirat yang abadi; dan memahamkan bahwa musibah-musibah itu memperingatkan kelalaian serta kesalahan dalam hal ini. Sebenarnya inilah hikmah bencana dan musibah yang menimpa manusia dan kaum mukmin.

Ya, muamalah dan kezaliman yang dilakukan orang-orang asing itu laksana binatang buas, juga mempercepat arus kemerdekaan, kebebasan, dan persatuan Islam di dunia Islam. Akhirnya ia menghasilkan pembentukan negara-negara Islam yang merdeka. Insya Allah Ta'ala, Republik-republik Islam Bersatu pun akan terwujud, dan Islam akan berkuasa lagi berdaulat atas dunia. Kami berharap dan bermunajat dengan kuat dari rahmat Ilahi.

Maka penulis Risalah Nur, Bedîüzzaman Said Nursî, adalah seorang mujahid Islam sedemikian; dan tulisannya, Risalah Nur, adalah suatu karya yang menyadarkan, menyelamatkan, luar biasa, lagi menaklukkan jagat sedemikian, sehingga ia mematahkan pinggang seluruh komite anti-agama itu, menggagalkan aktivitas berbahaya lagi keji tersebut, menghancurkan berkeping-keping batu-batu pondasi asas ketidakberagamaan dan memotongnya dari akar; serta mengembangkan penaklukan Islami dan imani dari kalbu ke kalbu di balik tabir, dan menyiapkan lahan bagi kedaulatan mutlak Al-Qur'an yang Mahaagung.

Ya, Risalah Nur memperbaiki kehancuran itu dengan hakikat intan Al-Qur'an dan dengan jalan terpendek lagi terlurus dalam Al-Qur'an Mulia, serta mengobati luka-luka itu dengan obat-obat di apotek terbesar Al-Qur'an yang Mahabijaksana, dan akan mengobatinya.

Dan pula, para mujahid dan alim Islam yang berpandangan tajam sepakat — dengan keyakinan pasti yang bersandar pada praktik dan penyaksian — bahwa satu-satunya jalan yang telah dan akan meratakan dengan tanah serta mengalahkan dengan kehancuran mutlak para imperialis dan penjajah biadab lagi barbar yang parasit, rakus, dan menghisap darah kaum muslimin tak berdosa — yang kekayaannya adalah darah bangsa yang membeku — serta budak-budak lalim, bengis, rakus, dan sewenang-wenang di dalam kita yang menjadi tawanan kepentingan pribadi belaka; adalah karya-karya Risalah Nur yang merupakan mukjizat maknawi Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat di abad ini.

Ya, sejarah manusia tak memperlihatkan suatu karya seperti Risalah Nur. Berarti dipahami bahwa: Risalah Nur adalah suatu tafsir Al-Qur'an yang tiada tara.

Ya, kepada Bedîüzzaman Said Nursî, bukan hanya dunia Islam, dunia Kristen pun berutang budi dan berterima kasih; sehingga karena keberhasilan dan kemenangan yang diperolehnya dalam jihad umum melawan ketidakberagamaan, bahkan Paus di Roma menulis surat ucapan selamat dan terima kasih resmi kepadanya.

Kini aku akan membacakan apa adanya beberapa bagian dari Kulliyat Risalah Nur — dari karya-karya tentang iman, Al-Qur'an, dan Nabi kita (Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم). Kalian akan memperoleh karya-karya ini dan membacanya seluruhnya. Ketika membaca, barangkali ada saudara kami yang meminta penjelasan. Akan tetapi dalam hal ini aku sampaikan bahwa ustaz kami Bedîüzzaman, ketika menganugerahkan kelembutan membacakan Risalah Nur kepada seorang murid Nur, tidak menjelaskannya, dan berkata: "Risalah Nur telah menjelaskan masalah-masalah imani sekadar keperluan. Guru Risalah Nur adalah Risalah Nur. Risalah Nur tak menyisakan kebutuhan mengambil pelajaran dari orang lain. Setiap orang memanfaatkannya sendiri sesuai bakatnya. Sekalipun akal kalian tak sepenuhnya memahami setiap masalah, ruh, kalbu, dan nurani kalian mengambil bagiannya. Berapa pun kalian manfaatkan, itu suatu keuntungan besar."

Jika penjelasan suatu risalah berbahasa Turki atau Arab yang dibaca ada di risalah lain, ia membawa risalah itu lalu membacanya. Para alim berpandangan tajam yang menangkap nukat-nukat sangat halus dalam Risalah Nur pun berkata: seorang alim boleh jadi memiliki ilmu tinggi, tetapi jika ketika membacakan Risalah Nur kepada jamaah ia masuk ke perincian dan menjelaskan dengan pengetahuan lamanya; penjelasan ini dapat menjadi tabir bagi pemahaman, pengaruh, dan penangkapan hakikat Risalah Nur yang sesuai pemahaman abad kita serta menjawab kebutuhannya. Karena itu, membacanya apa adanya dengan menyebutkan makna sebagian kata lebih berpengaruh dan lebih utama.

Saudara-saudara kami di Universitas Istanbul pun membaca demikian. Kami pun ringkasnya berkata: Risalah Nur sangat fasih dan ringkas. Nilai suatu perkataan ada pada ijaznya, pada kependekannya. Ketika suatu masalah imani dan Qur'ani diajarkan kepada umum, dalam pengajaran yang global terdapat limpahan dan manfaat yang lebih besar.

Wahai Ustaz kami Efendi kami! Seluruh manusia yang tahu berterima kasih akan memuliakan dan menghormati Risalah Nur dan Anda selamanya. Kami mencintai dan menghormati Risalah Nur — yang menyelamatkan iman kami dengan pelajaran iman tahkiki, yang bernilai sejagat lagi tak ternilai — dengan seluruh ruh dan jiwa kami, dengan seluruh keberadaan kami. Cinta dan kecintaan ini, penghormatan dan hormat ini, akan berpindah dari generasi ke generasi, dari abad ke abad, dari masa ke masa.

Ya, hakikat Qur'ani dalam Risalah Nur adalah suatu kekuatan sedemikian, sehingga di hadapan kudrat ini, pondasi kekufuran mutlak dan ketidakberagamaan akan porak-poranda; ia akan terguling ke lubang kehancuran dan binasa. Yang tersisa akan menemukan kejayaan dan keselamatan dengan cahaya iman dan Al-Qur'an.

Ya, kekuatan Qur'ani ini — yang sedemikian sehingga akan menyerakkan gunung dan batu laksana kapas, dan melelehkan besi serta granit laksana minyak — akan menenggelamkan dunia dalam cahaya dan kebahagiaan. Cahaya Al-Qur'an ini akan berkuasa lagi berdaulat atas dunia dalam keselamatan iman. وَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ

--

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِيَا اَللّٰهُ يَا رَحْمٰنُ يَا رَح۪يمُ يَا فَرْدُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَكَمُ يَا عَدْلُ يَا قُدُّوسُ Demi hak Isim A'zam, demi kehormatan Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat, dan demi kemuliaan Rasul Mulia Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم, jadikanlah orang-orang yang mencetak kumpulan ini dan para penolongnya yang mubarak memperoleh kebahagiaan abadi di surga yang tertinggi, amin. Dan jadikanlah mereka senantiasa berhasil dalam khidmah iman dan Al-Qur'an, amin. Dan tuliskanlah di buku kebaikan mereka seribu kebaikan bagi setiap huruf Kumpulan Sözler, amin. Dan anugerahkanlah keteguhan, kelangsungan, dan keikhlasan dalam menyebarkan Nur, amin. Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang! Bahagiakanlah seluruh Murid Risalah Nur di dua alam, amin. Jagalah dari kejahatan setan-setan manusia dan jin, amin. Dan ampunilah kesalahan Said yang lemah lagi malang ini, amin...

Atas nama seluruh Murid Nur

Said Nursî

--

Fihrist

Ini adalah suatu fihrist ringkas "Kumpulan Sözler" dari bagian-bagian Risalah Nur, yang merupakan sejenis tafsir ayat-ayat Al-Qur'an.