Risale-i NurKelimat

PEMBAHASAN PERTAMA

Kelimat · hlm. 596

Sesuai rahasia وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪: Dari setiap sesuatu terdapat banyak sisi yang laksana jendela menghadap Allah. Seluruh hakikat segenap wujud, seluruh hakikat alam raya, bersandar pada asma Ilahi. Hakikat setiap sesuatu bersandar pada satu nama atau banyak nama. Sifat dan seni pada segala sesuatu pun, masing-masing, bersandar pada sebuah nama. Bahkan ilmu hikmah yang hakiki bersandar pada nama "Hakîm", ilmu kedokteran yang hakiki pada nama "Syâfî", ilmu geometri pada nama "Muqaddir", dan demikian seterusnya — setiap ilmu bersandar pada sebuah nama dan berakhir padanya; demikian pula seluruh ilmu, kesempurnaan manusia, dan hakikat tingkatan insan kamil, bersandar pada asma Ilahi. Bahkan sebagian wali muhaqqiq berkata: "Hakikat sejati segala sesuatu adalah asma Ilahi. Adapun kuiditas segala sesuatu adalah bayangan hakikat itu." Bahkan pada satu benda hidup saja, secara lahir dapat terlihat kilau ukiran sekitar dua puluh asma Ilahi. Hakikat yang halus, dalam, teramat besar, lagi luas ini akan kami dekatkan kepada pemahaman melalui sebuah perumpamaan. Kami akan menganalisisnya dengan mengayaknya melalui dua-tiga ayakan yang berbeda. Betapa pun panjang kami terangkan, ia tetap ringkas. Janganlah bosan. Demikian:

Sebagaimana seorang penggambar dan pemahat yang teramat ahli hendak membuat rupa dan patung sekuntum bunga yang teramat indah serta seorang jelita nan rupawan dari jenis manusia yang lembut; pertama-tama ia menentukan bentuk umum kedua hal itu dengan beberapa garis. Penentuan ini dengan sebuah penataan, dilakukan dengan sebuah pengukuran. Bersandar pada geometri, ia menentukan batas. Penataan dan pengukuran ini menunjukkan bahwa ia dilakukan dengan hikmah dan ilmu; sehingga perbuatan menata dan membatasi berputar dengan jangka ilmu dan hikmah. Kalau begitu, di balik penataan dan pembatasan, makna ilmu dan hikmah berkuasa. Kalau begitu, jangka ilmu dan hikmah akan menampakkan dirinya. Maka ia pun menampakkan diri, lalu di dalam batas-batas itu ia mulai menggambar hal-hal seperti mata, telinga, hidung, daun, dan rumbai-rumbai halus. Kini kita melihat: anggota-anggota yang ditentukan oleh gerak jangka di dalamnya jatuh dengan penuh seni dan perhatian. Kalau begitu, di balik pihak yang memutar jangka ilmu dan hikmah itu, ada makna kreasi dan perhatian yang berkuasa, dan akan menampakkan diri. Maka dari itulah ia menunjukkan kelayakan bagi kebaikan dan hiasan. Kalau begitu, yang memperkerjakan kreasi dan perhatian adalah kehendak memperindah dan maksud menghias. Kalau begitu, keduanya berkuasa sehingga ia mulai menghias dan menerangi. Ia menampakkan keadaan tersenyum dan memberikan corak kehidupan. Sudah pasti yang memperkerjakan makna memperindah dan menerangi ini adalah makna kelembutan dan kedermawanan. Ya, kedua makna itu demikian berkuasa padanya, sehingga bunga itu seakan-akan kelembutan yang berwujud, dan patung itu kedermawanan yang berjasad. Kini, yang memperkerjakan dan menggerakkan makna kedermawanan dan kelembutan ini adalah makna "keinginan mengenalkan dan mencintakan diri". Yakni, makna memperkenalkan diri dengan kepiawaian dan membuat makhluk mencintai dirinya, berkuasa di baliknya. Memperkenalkan dan mencintakan diri ini sudah pasti berasal dari kecenderungan kasih dan kehendak memberi nikmat. Selama rahmat dan kehendak memberi nikmat berkuasa di baliknya, maka ia akan memenuhi patung itu dengan beragam nikmat, menghiasnya, dan menyematkan rupa bunga itu pada sebuah hadiah. Maka ia pun memenuhi tangan, pangkuan, dan saku patung itu dengan nikmat-nikmat berharga, serta menyematkan rupa bunga itu pada perhiasan permata. Berarti, yang memperkerjakan rahmat dan kehendak memberi nikmat ini adalah kasih dan sayang. Yakni, makna "iba dan kasih sayang" menggerakkan rahmat dan nikmat. Dan yang menggerakkan makna kasih dan sayang pada Dzat yang mandiri lagi tak membutuhkan siapa pun, serta mendorongnya untuk menampakkannya, sudah pasti adalah keindahan dan kesempurnaan maknawi pada Dzat itu, yang ingin menampakkan diri. Dan kecintaan — bagian termanis dari keindahan itu — serta rahmat — bagian termanis darinya — ingin tampak melalui cermin seni, dan ingin memandang diri mereka melalui mata para perindu. Yakni, keindahan dan kesempurnaan (karena dicintai karena zatnya) lebih dari segalanya mencintai diri mereka sendiri. Mereka sekaligus keindahan dan kecintaan. Dari titik inilah bersatunya keindahan dan cinta. Selama keindahan mencintai dirinya, ia ingin memandang dirinya di cermin. Maka nikmat yang menyenangkan dan buah yang indah, yang diletakkan pada patung dan disematkan pada rupa itu, membawa — sesuai kemampuan masing-masing — sekilau dari keindahan maknawi itu. Mereka menampakkan kilau-kilau itu, baik kepada pemilik keindahan maupun kepada yang lain.

Demikian pula

Sang Pembuat Yang Mahabijaksana membatasi bentuk surga dan dunia, langit dan bumi, tumbuhan dan hewan, jin dan manusia, malaikat dan ruhani, serta segala sesuatu — yang menyeluruh maupun parsial — dengan kilau asma-Nya; Ia menatanya, memberinya ukuran tertentu. Dengannya Ia membacakan nama "Muqaddir, Munazzim, Musavvir". Ia menentukan batas bentuk umumnya dengan cara yang menunjukkan nama "Alîm, Hakîm". Kemudian dengan pena ilmu dan hikmah, Ia mulai menggambar sesuatu di dalam batas itu, dengan cara yang menunjukkan makna kreasi dan perhatian serta nama "Sâni' dan Kerim". Kemudian dengan tangan seni dan kuas perhatian, Ia memberikan warna kebaikan dan hiasan pada anggota-anggota rupa itu — jika ia seorang manusia atau sekuntum bunga, maka pada mata, telinga, daun, rumbainya. Jika ia bumi, maka pada mineral, tumbuhan, dan hewannya. Jika ia surga, maka pada taman, istana, dan bidadarinya Ia memberikan warna kebaikan dan hiasan — dan seterusnya. Kiaskanlah yang lain. Dan Ia menghias serta menerangi sedemikian rupa, sehingga makna kelembutan dan kedermawanan demikian berkuasa padanya, sehingga wujud yang berhias dan ciptaan yang bercahaya itu seakan-akan menjadi kelembutan yang berwujud dan kedermawanan yang berjasad. Ia membacakan nama "Latîf dan Kerim". Kemudian yang mendorong kelembutan dan kedermawanan itu kepada kilau ini, sudah pasti adalah keinginan mengenalkan dan mencintakan diri — yakni keadaan mencintakan diri kepada makhluk hidup dan mengenalkan diri kepada yang berkesadaran — yang membacakan nama "Wadûd dan Ma'rûf" di balik nama "Latîf, Kerim", dan terdengar dari bahasa keadaan ciptaan. Kemudian wujud berhias dan makhluk indah itu Ia hias dengan buah yang lezat dan hasil yang disenangi, mengubahnya dari hiasan menjadi nikmat, dari kelembutan menjadi rahmat. Ia membacakan nama "Mun'im dan Rahîm", dan menampakkan kilau kedua nama itu di balik tabir lahiriah. Kemudian yang mendorong Sang Rahîm lagi Kerim ini kepada kilau tersebut — pada Dzat Yang Mandiri secara mutlak — sudah pasti adalah keadaan iba dan kasih, yang membacakan dan menampakkan nama "Hannân dan Rahmân". Dan yang mendorong makna iba dan kasih itu kepada kilau, sudah pasti adalah keindahan dan kesempurnaan zati yang ingin menampakkan diri. Ia membacakan nama "Jamîl", dan nama "Wadûd serta Rahîm" yang terkandung dalam nama Jamîl. Sebab keindahan dicintai karena zatnya. Pemilik keindahan dan keindahan itu mencintai diri sendiri. Ia sekaligus keindahan dan kecintaan. Kesempurnaan pun dicintai karena zatnya, dicintai tanpa sebab. Ia sekaligus pencinta dan yang dicintai.

Selama sebuah keindahan pada puncak kesempurnaan dan sebuah kesempurnaan pada puncak keindahan dicintai pada derajat tertinggi, layak bagi kecintaan dan kerinduan; maka sudah pasti ia ingin menampakkan diri dengan memandang dan menampakkan kilau serta manifestasinya di cermin-cermin, sesuai kemampuan cermin itu. Berarti, keindahan zati dan kesempurnaan zati pada Dzat Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Jamâl, lagi Sang Qadîr Dzul-Kamâl, menuntut iba dan kasih, dan mendorong nama "Rahmân dan Hannân" kepada manifestasi. Adapun iba dan kasih, dengan menampakkan rahmat dan nikmat, mendorong nama "Rahîm dan Mun'im" kepada kilau. Adapun rahmat dan nikmat, menuntut keadaan mengenalkan dan mencintakan diri, lalu mendorong nama "Wadûd dan Ma'rûf" kepada manifestasi. Ia menampakkannya pada sebuah tabir ciptaan; adapun mengenalkan dan mencintakan diri, menggerakkan makna kelembutan dan kedermawanan. Ia membacakan nama "Latîf dan Kerim" pada sebagian tabir ciptaan. Adapun keadaan kelembutan dan kedermawanan, menggerakkan perbuatan menghias dan menerangi. Ia membacakan nama "Muzayyin dan Munawwir" dengan bahasa kebaikan dan cahaya ciptaan. Dan keadaan menghias serta memperindah itu menuntut makna kreasi dan perhatian. Ia membacakan nama "Sâni' dan Muhsin" dengan wajah indah ciptaan. Dan kreasi serta perhatian itu menuntut sebuah ilmu dan hikmah. Ia membacakan nama "Alîm dan Hakîm" dengan anggota ciptaan yang teratur lagi penuh hikmah. Adapun ilmu dan hikmah itu menuntut perbuatan menata, menggambar, dan membentuk. Ia membacakan dan menampakkan nama "Musavvir dan Muqaddir" dengan susunan dan bentuk ciptaan.

Maka Sang Pembuat Dzul-Jalâl telah membuat seluruh ciptaan-Nya sedemikian rupa, sehingga kebanyakannya, khususnya yang hidup, membacakan banyak asma Ilahi. Seakan-akan Ia mengenakan pada setiap ciptaan-Nya, satu di atas yang lain, dua puluh baju yang berbeda, membalutnya dengan dua puluh tabir. Pada setiap baju, setiap tabir, Ia menuliskan asma-Nya yang berbeda-beda. Misalnya: sebagaimana ditunjukkan dalam perumpamaan, pada penciptaan lahiriah semata dari sekuntum bunga indah dan seorang jelita rupawan dari jenis manusia yang kedua, terdapat banyak halaman. Kiaskanlah ciptaan lain yang besar lagi menyeluruh pada dua contoh parsial itu.

Halaman pertama

Susunan yang menunjukkan bentuk dan ukuran umum, yang menyebut nama "Yâ Musavvir, yâ Muqaddir, yâ Munazzim".

Halaman kedua

Bentuk sederhana bunga dan manusia yang terbentuk dari tersingkapnya anggota-anggota yang berbeda pada rupa mereka; pada halaman itu tertulis banyak nama seperti "Alîm, Hakîm".

Halaman ketiga

Dengan memberikan kebaikan dan hiasan yang berbeda-beda pada anggota kedua makhluk itu, pada halaman itu tertulis banyak nama seperti "Sâni' dan Bâri'".

Halaman keempat

Diberikan kepada kedua ciptaan itu hiasan dan kebaikan sedemikian rupa, seakan-akan kelembutan dan kedermawanan berwujud dan menjelma menjadi keduanya. Halaman itu menyebut dan membaca banyak nama seperti "Yâ Latîf, yâ Kerim".

Halaman kelima

Dengan menyematkan buah lezat pada bunga itu, dan anak yang disenangi serta perangai yang indah pada sang jelita; halaman itu membacakan nama seperti "Yâ Wadûd, yâ Rahîm, yâ Mun'im".

Halaman keenam

Pada halaman pemberian nikmat dan karunia itu terbaca nama seperti "Yâ Rahmân, yâ Hannân".

Halaman ketujuh

Pada nikmat dan hasil itu tampak kilau kebaikan dan keindahan sedemikian rupa, sehingga ia layak bagi syukur murni yang teradon dengan kerinduan dan kasih sejati, serta kecintaan yang tulus. Pada halaman itu tertulis dan terbaca nama "Yâ Jamîl Dzul-Kamâl, yâ Kâmil Dzul-Jamâl".

Maka jika sekuntum bunga indah dan seorang manusia jelita saja, dalam rupa material lagi lahiriah semata, sudah menampakkan sedemikian banyak asma; gerangan, engkau dapat mengiaskan betapa luhur dan menyeluruh asma yang dibacakan oleh seluruh bunga, segenap makhluk hidup, serta wujud-wujud besar lagi menyeluruh.

Dan engkau dapat mengiaskan betapa banyak asma suci nan bercahaya seperti "Hayy, Qayyûm, dan Muhyî" yang dibaca dan dibacakan oleh manusia melalui sisi ruh, kalbu, dan akalnya, serta melalui halaman kehidupan dan latîfah-latîfahnya.

Maka, surga adalah sekuntum bunga. Golongan bidadari pun sekuntum bunga. Muka bumi pun sekuntum bunga. Musim semi pun sekuntum bunga. Langit pun sekuntum bunga; bintang-bintang adalah ukiran keemasan bunga itu. Matahari pun sekuntum bunga; tujuh warna dalam cahayanya adalah warna-warna berukir bunga itu. Alam adalah seorang manusia yang indah lagi besar; sebagaimana manusia adalah alam kecil. Golongan bidadari, jemaah ruhani, jenis malaikat, golongan jin, dan jenis manusia, masing-masing telah digambar, ditata, dan diciptakan laksana seorang pribadi yang indah. Dan masing-masing, secara keseluruhan maupun setiap individunya sendiri, sebagaimana menampakkan asma Sang Pembuat Dzul-Jamâl-nya, adalah cermin-cermin tersendiri bagi keindahan, kesempurnaan, rahmat, dan kecintaan-Nya. Dan ia adalah saksi jujur bagi keindahan, kesempurnaan, rahmat, dan kecintaan-Nya yang tak terhingga. Dan ia adalah ayat serta tanda bagi keindahan, kesempurnaan, rahmat, dan kecintaan itu. Maka beragam kesempurnaan yang tak terhingga ini terwujud dalam lingkaran wâhidiyah dan ahadiyah. Berarti, kesempurnaan yang disangka ada di luar lingkaran itu bukanlah kesempurnaan.

Maka pahamilah bahwa hakikat segala sesuatu bersandar dan bertumpu pada asma Ilahi, bahkan hakikat sejati adalah kilau asma itu, dan bahwa segala sesuatu berzikir serta bertasbih kepada Pembuatnya dengan banyak sisi dan banyak lisan. Ketahuilah salah satu makna وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪, dan ucapkanlah سُبْحَانَ مَنِ اخْتَفٰى بِشِدَّةِ ظُهُورِه۪. Dan pahamilah sebuah rahasia dalam zikir serta pengulangan di akhir ayat-ayat, seperti وَ هُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ ❊ وَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّح۪يمُ ❊ وَ هُوَ الْعَل۪يمُ الْقَد۪يرُ.

Jika engkau tak dapat membaca asma pada sekuntum bunga dan tak dapat melihatnya dengan jelas; pandanglah surga, perhatikan musim semi, tataplah wajah bumi. Pada surga, musim semi, dan bumi — bunga-bunga besar rahmat itu — engkau dapat membaca dengan jelas asma yang tertulis, dan engkau akan memahami serta melihat kilau dan ukiran-ukirannya.