ISYARAT KELIMA
Kelimat · hlm. 586
Perbandingan dan pengutamaan ini bukanlah antara Allah dengan selain-Nya; melainkan Ia memiliki dua macam manifestasi dan sifat:
Yang pertama: Pengaturan-Nya dengan rahasia Wâhidiyah, di bawah tabir perantara dan sebab, dalam rupa sebuah hukum umum.
Yang kedua: Pengaturan-Nya dengan rahasia Ahadiyah, tanpa tabir, secara langsung, dengan perhatian khusus. Maka karunia, penciptaan, dan kebesaran-Nya yang langsung dengan rahasia Ahadiyah, lebih besar, lebih indah, dan lebih tinggi daripada jejak karunia, penciptaan, dan kebesaran-Nya yang tampak melalui manifestasi perantara dan sebab. Misalnya: sebagaimana seorang raja — namun raja yang wali — yang kita andaikan seluruh pegawai dan panglimanya semata-mata tabir, sedang seluruh hukum dan tindakan berada di tangannya. Pengaturan dan tindakan raja itu ada dua macam. Yang pertama: perintah dan tindakan yang ia berikan melalui sebuah hukum umum, dalam rupa pegawai dan panglima lahiriah, sesuai kemampuan kedudukan. Yang kedua: karunia dan tindakan agungnya yang langsung — bukan melalui hukum umum, dan tanpa menjadikan pegawai lahiriah sebagai tabir — yang dapat disebut lebih indah lagi lebih tinggi. Demikian pula: Sang Sultan azali dan abadi, Khâliq alam raya, memang menjadikan perantara dan sebab sebagai tabir bagi tindakan-Nya, dan menampakkan keagungan rububiyah-Nya. Namun Ia meninggalkan sebuah telepon khusus di dalam kalbu hamba-hamba-Nya; agar mereka meninggalkan sebab di belakang, dan menghadap langsung kepada-Nya, dengan mewajibkan ubudiyah khusus dan berfirman "Ucapkanlah اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ," lalu Ia memalingkan wajah mereka dari alam raya kepada diri-Nya.
Maka makna اَحْسَنُ الْخَالِق۪ينَ اَرْحَمُ الرَّاحِم۪ينَ اَللّٰهُ اَكْبَرُ juga memandang makna ini.
Jawaban bagi pertanyaan bagian kedua sang wakil adalah dengan "Lima Ramz":
"
RAMZ PERTAMA
Dalam pertanyaan dikatakan: "Jika sesuatu tidak memiliki lawan, bagaimana ia dapat memiliki kesempurnaan?"
Jawaban
Sang penanya ini tidak mengetahui kesempurnaan hakiki. Ia hanya menyangka kesempurnaan nisbi. Padahal keutamaan, kelebihan, dan keunggulan yang memandang selain diri dan lahir karena perbandingan dengan selain diri, bukanlah hakiki, melainkan nisbi lagi lemah. Jika yang selain itu lenyap dari pandangan, semua itu pun runtuh. Misalnya: kelezatan dan keutamaan nisbi kehangatan berlaku karena pengaruh dingin. Kelezatan nisbi makanan berlaku karena pengaruh derita lapar. Jika keduanya lenyap, keduanya pun berkurang. Padahal kelezatan, kecintaan, kesempurnaan, dan keutamaan hakiki ialah yang tidak dibangun di atas pengandaian yang lain, yang ada pada dirinya sendiri, dan yang pada dirinya merupakan hakikat yang tetap. Keutamaan-keutamaan pada dirinya sendiri — seperti "lezatnya wujud, lezatnya kehidupan, lezatnya kecintaan, lezatnya makrifat, lezatnya iman, lezatnya kekekalan, lezatnya rahmat, lezatnya kasih sayang, indahnya cahaya, indahnya penglihatan, indahnya ucapan, indahnya kedermawanan, indahnya perangai, indahnya rupa, kesempurnaan Dzat, kesempurnaan sifat, dan kesempurnaan perbuatan" — ada atau tiada yang lain, keutamaan-keutamaan itu tak berubah.
Maka seluruh kesempurnaan Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Fâthir Dzul-Jamâl, lagi Sang Khâliq Dzul-Kamâl adalah hakiki lagi zati; yang selain dan yang lain tak memengaruhinya. Mereka hanya dapat menjadi tempat manifestasi.
RAMZ KEDUA
Sayyid Syarif al-Jurjani berkata dalam "Syarh al-Mawâqif": "Sebab kecintaan itu adakalanya kelezatan, atau manfaat, atau kesamaan (yakni kecenderungan sejenis), atau kesempurnaan. Sebab kesempurnaan dicintai karena zatnya sendiri." Yakni, apa pun yang engkau cintai, engkau cintai adakalanya karena kelezatan, atau manfaat, atau kesamaan jenis seperti kecenderungan kepada anak, atau karena ia sebuah kesempurnaan. Jika karena kesempurnaan, maka tak diperlukan sebab atau tujuan lain. Ia dicintai karena zatnya. Misalnya: pada zaman dahulu, manusia-manusia pemilik kesempurnaan dicintai oleh setiap orang; meski tiada kepentingan apa pun terhadap mereka, mereka dicintai dengan penuh kekaguman.
Maka seluruh kesempurnaan Allah, segala tingkat asma'ul husna-Nya, dan seluruh keutamaan-Nya, karena merupakan kesempurnaan hakiki, dicintai karena zatnya. Semua itu "dicintai karena zatnya sendiri". Dzat Dzul-Jalâl — Sang Mahbûb dengan haq lagi Kekasih Hakiki — mencintai kesempurnaan hakiki-Nya serta keindahan sifat dan asma-Nya dengan cara yang layak bagi diri-Nya. Ia juga mencintai seni, ciptaan, dan keindahan makhluk-Nya yang menjadi tempat manifestasi dan cermin kesempurnaan itu. Ia mencintai para nabi dan wali-Nya, terutama Kekasih Termulia-Nya صلى الله عليه وسلم yang menjadi Penghulu para Rasul dan Sultan para Wali. Yakni, dengan mencintai keindahan-Nya sendiri, Ia mencintai Kekasih-Nya صلى الله عليه وسلم yang menjadi cermin keindahan itu. Dan dengan mencintai asma-Nya, Ia mencintai Kekasih-Nya صلى الله عليه وسلم yang menjadi tempat manifestasi menyeluruh dan pemilik kesadaran atas asma itu, beserta saudara-saudaranya. Dan dengan mencintai seni-Nya, Ia mencintai Kekasih-Nya صلى الله عليه وسلم yang menjadi penyeru dan penunjuk seni itu, beserta yang serupa dengannya. Dan dengan mencintai ciptaan-Nya, Ia mencintai Kekasih-Nya صلى الله عليه وسلم yang berkata terhadap ciptaan itu "Mâsyâallah, Bârakallah, betapa indah ia dibuat," serta menghargai dan mengaguminya, beserta orang-orang di belakangnya. Dan dengan mencintai keindahan makhluk-Nya, Ia mencintai Kekasih Termulia-Nya صلى الله عليه وسلم yang menghimpun keseluruhan keindahan akhlak itu, beserta pengikut dan saudara-saudaranya.
RAMZ KETIGA
Seluruh kesempurnaan di segenap alam raya adalah ayat-ayat kesempurnaan sebuah Dzat Dzul-Jalâl dan isyarat keindahan-Nya. Bahkan, dibanding kesempurnaan hakiki-Nya, seluruh kebaikan, kesempurnaan, dan keindahan di alam raya adalah bayangan yang lemah. Kami akan mengisyaratkan secara ringkas lima hujjah bagi hakikat ini.
Hujjah Pertama
Sebagaimana sebuah istana yang sempurna, megah, bercorak, lagi berhias dengan sendirinya menunjukkan sebuah keahlian dan ketukangan yang sempurna. Dan perbuatan sempurna berupa ketukangan dan pengukiran itu secara niscaya menunjukkan seorang pelaku, tukang, dan arsitek yang sempurna, beserta gelar dan nama seperti "pengukir dan pelukis." Dan nama-nama sempurna itu, tak diragukan lagi, menunjukkan sifat pelaku yang sempurna lagi berseni. Dan kesempurnaan seni serta sifat itu dengan sendirinya menunjukkan kesempurnaan bakat dan kemampuan sang tukang. Dan kesempurnaan bakat serta kemampuan itu secara niscaya menunjukkan kesempurnaan Dzat sang tukang dan ketinggian hakikatnya.
Demikian pula: istana alam ini, karya yang sempurna lagi berhias ini, dengan sendirinya menunjukkan perbuatan-perbuatan yang berada pada puncak kesempurnaan. Sebab kesempurnaan pada karya berasal dari kesempurnaan perbuatan itu dan menunjukkannya. Adapun kesempurnaan perbuatan secara niscaya menunjukkan seorang Pelaku yang sempurna dan kesempurnaan asma Pelaku itu — yakni, dibanding karya-karya-Nya, kesempurnaan nama-nama seperti pengatur, pelukis, hakîm, rahîm, dan penghias. Adapun kesempurnaan nama dan gelar, tanpa ragu menunjukkan kesempurnaan sifat Pelaku itu. Sebab jika sifat tak sempurna, maka nama dan gelar yang lahir dari sifat tak dapat sempurna. Dan kesempurnaan sifat itu dengan sendirinya menunjukkan kesempurnaan keadaan zati (syu'ûnât). Sebab asal sifat adalah keadaan zati itu. Dan kesempurnaan keadaan zati, dengan ilmul-yaqin, menunjukkan kesempurnaan Dzat pemilik keadaan itu — kesempurnaan yang sedemikian layak, sehingga cahaya kesempurnaan itu, meski melewati tabir keadaan, sifat, asma, perbuatan, dan karya, masih menampakkan sedemikian banyak kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan di alam raya ini.
Maka setelah wujud kesempurnaan zati hakiki hingga derajat ini tetap dengan bukti pasti, betapa lagi tersisa arti bagi kesempurnaan nisbi yang memandang selain diri dan berupa keunggulan atas yang serupa dan yang berlawanan — betapa ia menjadi pudar, engkau pun memahaminya…
Hujjah Kedua
Tatkala alam raya dipandang dengan mata pelajaran, nurani dan kalbu merasakan dengan firasat jujur bahwa pihak yang memperindah, menghias, dan menyulam alam raya sedemikian rupa dengan beragam kebaikan, memiliki keindahan dan kesempurnaan yang tak terhingga, sehingga Ia berbuat demikian.
Hujjah Ketiga
Telah maklum bahwa seni yang seimbang, teratur, sempurna, lagi indah bersandar pada sebuah rancangan yang teramat indah. Dan rancangan yang sempurna lagi indah menunjukkan sebuah ilmu yang sempurna lagi indah, sebuah pikiran yang indah, dan sebuah bakat ruhani yang indah. Berarti, keindahan maknawi ruhlah yang tampak dalam seninya melalui perantaraan ilmu.
Maka alam raya ini, dengan kebaikan materialnya yang tak terhingga, adalah pancaran sebuah kebaikan maknawi lagi ilmiah. Dan kebaikan serta kesempurnaan ilmiah dan maknawi itu sudah pasti merupakan kilau-kilau sebuah keindahan dan kesempurnaan sermedi yang tak terhingga.
Hujjah Keempat
Telah maklum bahwa pemberi cahaya haruslah bercahaya, penerang haruslah bercahaya, karunia lahir dari kekayaan, dan kelembutan tampak dari yang lembut. Selama demikian, maka memberikan sedemikian banyak kebaikan dan keindahan kepada alam raya, serta memberikan beragam kesempurnaan kepada segenap wujud — sebagaimana cahaya menunjukkan matahari — menunjukkan sebuah keindahan sermedi.
Selama segenap wujud, laksana sungai besar, mengalir berlalu di muka bumi dengan gemerlap kesempurnaan. Sebagaimana sungai itu gemerlap oleh kilau matahari, demikian pula aliran wujud ini gemerlap sesaat oleh kilau kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan, lalu berlalu. Karena yang datang di belakang menampakkan kilau dan gemerlap yang sama, dipahami bahwa: sebagaimana kilau dan keindahan pada gelembung air yang mengalir bukanlah dari dirinya sendiri, melainkan kilau keindahan cahaya sebuah matahari; demikian pula kebaikan dan kesempurnaan yang gemerlap sesaat dalam aliran alam raya ini adalah pancaran keindahan asma sebuah Mentari Sermedi.
نَعَمْ تَفَانِى الْمِرْاٰتِ زَوَالُ الْمَوْجُودَاتِ مَعَ تَجَلِّى الدَّائِمِ مَعَ الْفَيْضِ الْمُلاَزِمِ مِنْ اَظْهَرِ الظَّوَاهِرِ اَنَّ الْجَمَالَ الظَّاهِرَ لَيْسَ مُلْكَ الْمَظَاهِرِ مِنْ اَفْصَحِ تِبْيَانٍ مِنْ اَوْضَحِ بُرْهَانٍ لِلْجَمَالِ الْمُجَرَّدِ ِلْلاِحْسَانِ الْمُجَدَّدِ لِلْوَاجِبِ الْوُجُودِ لِلْبَاقِى الْوَدُودِ
Hujjah Kelima
Telah maklum bahwa jika tiga atau empat orang yang datang dari jalan berbeda mengatakan satu peristiwa yang sama, itu menunjukkan kepastian terjadinya peristiwa itu hingga derajat mutawatir yang menghasilkan keyakinan.
Maka seluruh ahli kasyaf, zauk, syuhud, dan musyahadah — dari beragam tingkatan para muhaqqiq, dari beragam tarekat para wali, dari beragam mazhab para asfiya, dan dari beragam pandangan para hukama hakiki yang teramat berbeda dalam masyrab, mazhab, bakat, dan zaman — telah bersepakat dengan kasyaf, zauk, dan syuhud bahwa: kebaikan dan kesempurnaan yang terlihat pada tempat-tempat manifestasi alam raya dan pada cermin-cermin wujud adalah manifestasi kesempurnaan satu Dzat Wâjib al-Wujûd dan kilau keindahan asma-Nya.
Maka ijmak mereka adalah hujjah pasti yang tak tergoyahkan.
Kukira, pada ramz ini, wakil ahli kesesatan terpaksa menutup telinganya dan lari agar tak mendengar. Memang, kepala-kepala yang gelap, laksana kelelawar, tak sanggup memandang cahaya-cahaya ini. Maka setelah ini, kami tak akan terlalu memperhatikan mereka.
RAMZ KEEMPAT
Kelezatan, kebaikan, dan keindahan sesuatu lebih memandang tempat-tempat manifestasinya daripada memandang yang serupa dan yang berlawanan. Misalnya: kedermawanan adalah sifat yang indah lagi menyenangkan. Dzat yang dermawan memperoleh sebuah kelezatan yang seribu kali lebih menyenangkan daripada kelezatan nisbi yang ia peroleh dari keunggulan atas dermawan lain, yakni melalui kelezatan dan kegembiraan orang-orang yang ia muliakan. Demikian pula pemilik kasih dan sayang memperoleh sebuah kelezatan hakiki sekadar ketenteraman makhluk yang ia sayangi. Misalnya: kelezatan yang diperoleh seorang ibu melalui kasih sayang dari kebahagiaan dan ketenteraman anak-anaknya demikian kuat, sehingga membawanya rela mengorbankan ruhnya demi kenyamanan mereka. Bahkan kelezatan kasih sayang itu membuat seekor ayam menyerang singa demi melindungi anak-anaknya.
Maka selama kelezatan, kebaikan, kebahagiaan, dan kesempurnaan hakiki dalam sifat-sifat luhur tidak memandang yang setara dan yang berlawanan, melainkan memandang tempat manifestasi dan yang berkaitan dengannya; maka sudah pasti keindahan dalam rahmat Dzat Dzul-Jamâl wal-Kamâl — Yang Hayy, Qayyûm, Hannân, Mannân, Rahîm, lagi Rahmân — memandang mereka yang dirahmati. Sekadar derajat kebahagiaan, kenikmatan, dan kegembiraan mereka yang menjadi tempat rahmat-Nya, khususnya mereka yang di surga kekal menjadi tempat beragam rahmat dan kasih sayang-Nya yang tak terhingga, Dzat Yang Rahmân lagi Rahîm itu memiliki makna-makna luhur, suci, indah, lagi tersucikan — yang diungkapkan dengan keadaan yang layak bagi-Nya — berupa semacam kecintaan dan kasih. Ia memiliki keadaan yang teramat tersucikan lagi suci yang disebut "kelezatan suci, cinta suci, kegembiraan suci, kesukacitaan suci" — yang tak dapat kami sebutkan karena tiada izin syar'i — yang di banyak tempat telah kami buktikan bahwa masing-masing tak terhingga derajat lebih tinggi, luhur, suci, lagi tersucikan daripada cinta, kegembiraan, dan kesukacitaan yang kita saksikan di alam raya dan kita rasakan di antara segenap wujud. Jika engkau hendak memandang sekilau dari makna-makna itu, pandanglah melalui teropong perumpamaan berikut:
Misalnya: sebagaimana seorang dermawan, mulia, lagi pengasih menghamparkan jamuan indah bagi mereka yang teramat miskin, lapar, dan membutuhkan, di atas kapalnya yang indah yang tengah berlayar. Ia sendiri pun mengawasi dari atasnya. Betapa kenikmatan penuh syukur para fakir itu, kelezatan penuh terima kasih orang-orang lapar itu, dan kepuasan penuh pujian mereka yang membutuhkan itu menggembirakan dan menyenangkan hati sang dermawan, betapa itu menyenangkannya, engkau pun memahaminya.
Maka jika kegembiraan seorang manusia — yang bukan pemilik hakiki sebuah meja kecil dan hanya menjadi petugas pembagi — sudah demikian; maka engkau dapat mengiaskan makna-makna kecintaan yang suci dan hasil-hasil rahmat yang tak sanggup kami ungkapkan, yang menjadi milik Sang Rahmân lagi Rahîm — yang melayarkan jin, manusia, dan hewan di lautan angkasa alam, menaikkan mereka ke atas bumi raksasa yang menjadi bahtera rabbâni, menghamparkan di wajahnya sebuah meja yang menghimpun beragam makanan tak terhingga, mengundang seluruh makhluk hidup ke jamuan itu laksana sarapan kecil, serta — beserta itu — membuka jamuan hakiki di negeri kekal yang abadi lagi sermedi, dengan menjadikan surga-surga, masing-masing, sebagai meja nikmat yang menghimpun kelezatan dan kelembutan tak terhingga, dalam waktu tak terhingga, bagi hamba-hamba-Nya yang tak terhingga, yang teramat membutuhkan, lagi teramat merindukan.
Dan misalnya: seorang tukang ahli lagi pecinta seni yang gemar menunjukkan kepiawaiannya, setelah menciptakan sebuah karya seni seperti fonograf yang berbicara indah tanpa piringan, ia memasangnya, mencobanya, dan menampilkannya. Jika ia menampilkan hasil yang dipikirkan dan diinginkan sang seniman dengan cara yang paling sempurna; betapa bangga sang penciptanya, betapa senang ia, betapa itu menyenangkannya. Ia berkata kepada dirinya sendiri "Bârakallah."
Maka jika seorang manusia kecil, dengan sebuah seni kecil yang semata lahiriah tanpa penciptaan, demikian senang oleh indahnya kerja sebuah fonograf; maka gerangan, Sang Pembuat Dzul-Jalâl, yang menciptakan alam raya raksasa laksana sebuah musik dan fonograf, dan menciptakan bumi serta seluruh makhluk hidup di dalamnya, terutama kepala manusia, dalam rupa fonograf rabbâni dan musika Ilahi sedemikian rupa, sehingga hikmah manusia menggigit jari karena takjub di hadapan seni itu.
Maka karena seluruh ciptaan itu menampakkan hasil-hasil yang dituntut darinya pada derajat tertinggi dan dalam rupa yang teramat indah, dan karena ketaatan mereka terhadap perintah penciptaan — yang diungkapkan dengan ibadah khusus, tasbih khusus, dan penghormatan tertentu — serta terwujudnya maksud-maksud rabbâni yang dituntut darinya, maka makna-makna suci dan keadaan tersucikan yang tak dapat kami ungkapkan dengan kata kebanggaan, kepuasan, dan kegembiraan itu demikian tinggi lagi suci, sehingga seandainya seluruh akal manusia bersatu menjadi satu akal, ia tetap tak sanggup mencapai hakikatnya dan meliputinya.
Dan misalnya: seorang hakim penegak keadilan yang mencintai penunaian haq dan memperoleh kenikmatan darinya, betapa ia senang dan memperoleh kelezatan dari menunaikan hak-hak mereka yang terzalimi, dari ucapan syukur mereka, dan dari menghukum para penzalim sehingga membalaskan dendam yang terzalimi. Maka engkau dapat mengiaskan makna-makna suci yang lahir dari manifestasi agung keadilan dan hikmah Sang Hakîm Mutlak, Sang Âdil dengan haq, lagi Sang Qahhâr Dzul-Jalâl — bukan hanya pada jin dan manusia, melainkan pada segenap wujud — dalam menunaikan haq, yakni memberikan hak wujud dan hak hidup kepada segala sesuatu, menjaga wujud dan hidupnya dari para pelampau batas, menahan dan menghentikan wujud-wujud yang dahsyat dari pelampauan, khususnya dalam pengadilan jin dan manusia di padang mahsyar dan negeri akhirat.
Maka sebagaimana ketiga contoh ini, pada masing-masing dari seribu satu asma Ilahi terdapat banyak tingkat kebaikan, keindahan, keutamaan, dan kesempurnaan, sebagaimana pula terdapat banyak tingkat kecintaan, kebanggaan, kemuliaan, dan kebesaran. Maka dari sinilah, para wali muhaqqiq yang menjadi tempat manifestasi nama "Wadûd" berkata: "Ragi seluruh alam raya adalah kecintaan. Gerak seluruh wujud berlangsung dengan kecintaan. Hukum tarikan, daya tarik, dan gravitasi pada segenap wujud berasal dari kecintaan." Salah seorang mereka berkata:
فَلَكْ مَسْتْ مَلَكْ مَسْتْ نُجُومْ مَسْتْ سَمٰوَاتْ مَسْتْ شَمْسْ مَسْتْ قَمَرْ مَسْتْ زَم۪ينْ مَسْتْ عَنَاصِرْ مَسْتْ نَبَاتْ مَسْتْ شَجَرْ مَسْتْ بَشَرْ مَسْتْ سَرَاسَرْ ذ۪ى حَيَاتْ مَسْتْ هَمَه ذَرَّاتِ مَوْجُودَاتْ بَرَابَرْ مَسْتْ دَرْمَسْتَسْتْ
Yakni: Dalam manifestasi kecintaan Ilahi, dan dari khamar kecintaan itu, setiap orang mabuk sesuai bakatnya. Telah maklum bahwa setiap kalbu mencintai pihak yang memberinya karunia, mencintai kesempurnaan hakiki, dan tergila-gila pada keindahan yang luhur. Ia lebih mencintai lagi pihak yang memberikan karunia kepada orang-orang yang ia cintai dan sayangi bersama dirinya. Gerangan — sebagaimana telah kami terangkan — bukankah dipahami betapa Sang Jamîl Dzul-Jalâl, Mahbûb Dzul-Kamâl, pemilik seribu satu asma yang pada setiap namanya terdapat ribuan khazanah karunia, yang membahagiakan seluruh yang kita cintai dengan karunia-Nya, yang menjadi sumber ribuan kesempurnaan dan poros ribuan tingkat keindahan — betapa layak Ia dicintai dan dirindukan, dan betapa pantas seluruh alam raya mabuk lagi mabuk kepayang oleh kecintaan-Nya?
Maka dari rahasia inilah sebagian wali yang menjadi tempat manifestasi nama "Wadûd" berkata: "Kami tidak menginginkan surga. Sekilau cahaya kecintaan Ilahi cukup bagi kami selamanya."
Dan dari sinilah, sebagaimana disebut dalam hadis: "Sekejap memandang keindahan Ilahi di surga mengungguli seluruh kelezatan surga."
Maka kesempurnaan kecintaan yang tak terhingga ini terwujud dalam lingkaran wâhidiyah dan ahadiyah, melalui asma dan makhluk Dzat Dzul-Jalâl sendiri. Berarti, kesempurnaan yang disangka ada di luar lingkaran itu bukanlah kesempurnaan.
RAMZ KELIMA
Terdiri atas lima titik
Titik Pertama
Wakil ahli kesesatan berkata: "Di dalam hadis-hadis kalian, dunia dilaknat, disebut dengan nama 'bangkai'. Seluruh ahli wilayah dan ahli hakikat pun menghina dunia. Mereka berkata 'ia fana, kotor.' Padahal engkau menjadikannya bukti dan tempat manifestasi seluruh kesempurnaan Ilahi, dan membicarakannya dengan penuh cinta?"
Jawaban
Dunia memiliki tiga wajah
Wajah pertama
Memandang asma Allah. Ia menampakkan ukiran-ukirannya. Dengan makna huruf (mana-yı harfi), ia menjadi cermin bagi asma itu. Wajah dunia ini adalah surat-surat Shamadâni yang tak terhingga. Wajah ini teramat indah. Ia layak dicintai, bukan dibenci.
Wajah kedua
Memandang akhirat. Ia adalah ladang akhirat, persemaian surga, taman rahmat. Wajah ini pun indah seperti wajah pertama. Ia layak dicintai, bukan dihina.
Wajah ketiga
Wajah yang memandang hawa nafsu manusia, yang menjadi tabir kelalaian, dan menjadi tempat permainan hawa nafsu ahli dunia. Wajah ini buruk. Sebab ia fana, sirna, penuh derita, lagi menipu. Maka penghinaan yang tersebut dalam hadis dan kebencian ahli hakikat tertuju pada wajah ini.
Adapun pembicaraan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana tentang alam raya dan segenap wujud dengan penuh penghargaan dan pujian, tertuju pada dua wajah pertama. Dunia yang disukai para sahabat dan para wali Allah lainnya adalah dua wajah pertama.
Kini, mereka yang menghina dunia ada empat golongan:
Yang pertama
Ahli makrifat, yang menghinanya karena ia menghalangi makrifat, kecintaan, dan ibadah kepada Allah.
Yang kedua
Ahli akhirat, yang — adakalanya karena urusan darurat dunia menghalanginya dari amal ukhrawi, atau karena dengan iman sekuat penyaksian ia memandang dunia buruk dibanding kesempurnaan dan kebaikan surga. Ya, sebagaimana seorang tampan pun tampak buruk bila dibandingkan dengan Nabi Yusuf 'alaihissalam; demikian pula betapa pun berharga kebaikan dunia, bila dibandingkan dengan kebaikan surga, ia laksana ketiadaan.
Yang ketiga
Menghina dunia karena ia tak dapat meraihnya. Penghinaan ini bukan lahir dari kebencian terhadap dunia, melainkan dari kecintaan kepadanya.
Yang keempat
Menghina dunia karena dunia datang ke tangannya, tetapi tak menetap, ia berlalu. Ia pun marah. Untuk menghibur diri, ia menghina, katanya "ia kotor." Penghinaan ini pun lahir dari kecintaan kepada dunia. Padahal penghinaan yang diterima ialah yang lahir dari cinta akhirat dan cinta makrifatullah.
Berarti, penghinaan yang diterima adalah dua golongan pertama. Semoga Allah menjadikan kami dari mereka. Âmîn, dengan kehormatan Penghulu para Rasul صلى الله عليه وسلم.
Mauqif Ketiga
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Mauqif Ketiga ini adalah "Titik Kedua". Ia terdiri atas dua pembahasan.