PEMBAHASAN KEDUA DARI TITIK KEDUA
Kelimat · hlm. 602
Tatkala wakil ahli kesesatan tak menemukan apa pun untuk berpegang dan membangun kesesatannya, serta terpaksa berdiam, ia berkata demikian:
"Aku memandang kebahagiaan dunia, kelezatan hidup, kemajuan peradaban, dan kesempurnaan seni terletak — menurutku — pada tidak memikirkan akhirat, tidak mengenal Allah, cinta dunia, kebebasan, dan bersandar pada diri sendiri; karena itu, dengan bantuan setan, aku telah dan terus menggiring kebanyakan manusia ke jalan ini."
Jawaban
Kami pun, atas nama Al-Qur'an, berkata: Wahai manusia yang malang! Sadarkanlah dirimu! Jangan dengarkan wakil ahli kesesatan! Jika engkau mendengarkannya, kerugianmu demikian besar, sehingga ruh, akal, dan kalbu bergidik membayangkannya. Di hadapanmu ada dua jalan:
Yang satu
Jalan celaka yang ditunjukkan wakil ahli kesesatan.
Yang lain
Jalan bahagia yang diterangkan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana. Maka engkau telah melihat dan memahami banyak perbandingan kedua jalan itu di banyak Kalimat, khususnya di Kumpulan Kelimat Kecil. Kini, sesuai kesempatan, lihat dan pahamilah kembali seperseribu dari perbandingan itu. Demikian:
Jalan syirik, kesesatan, kefasikan, dan kesia-siaan menjatuhkan manusia hingga derajat serendah-rendahnya. Ia membebankan beban terberat yang tak terhingga di atas pinggang lemah manusia di tengah derita yang tak terhingga. Sebab jika manusia tidak mengenal Allah dan tidak bertawakal kepada-Nya, maka ketika itu manusia menjadi laksana seekor hewan fana yang teramat lemah, teramat membutuhkan, fakir, sasaran musibah tak terhingga, penuh derita dan duka. Ia senantiasa memikul derita perpisahan dari segala yang ia cintai dan kaitkan diri dengannya, lalu akhirnya meninggalkan seluruh kekasihnya yang kekal dalam perpisahan pedih, dan pergi sendirian ke kegelapan kubur. Dan sepanjang hidupnya, dengan ikhtiar yang teramat parsial, kuasa yang kecil, hidup yang teramat singkat, umur yang pendek, dan pikiran yang redup, ia berjuang sia-sia melawan derita dan angan tak terhingga, serta bekerja tanpa hasil demi meraih keinginan dan maksud yang tak terhingga. Dan padahal ia tak sanggup memikul wujud dirinya sendiri, ia memikulkan beban dunia raksasa di pinggang dan kepalanya yang malang. Sebelum pergi ke neraka pun ia telah merasakan azab neraka.
Ya, agar tak merasakan derita pedih dan azab maknawi yang dahsyat ini, ahli kesesatan — dengan semacam membekukan rasa melalui mabuk kelalaian — sementara tak merasakannya. Namun ketika ia akan merasakannya, yakni ketika dekat ke kubur, ia tiba-tiba merasakannya. Sebab jika ia tidak menjadi hamba hakiki bagi Allah, ia akan menyangka dirinya pemilik atas dirinya. Padahal dengan ikhtiar yang parsial dan kuasa yang kecil itu, ia tak dapat mengatur wujudnya di dunia yang penuh badai ini. Dari mikroba yang membahayakan hidupnya hingga gempa bumi, ia memandang ribuan golongan musuh menyerang hidupnya. Dalam kengerian rasa takut yang pedih, setiap saat ia memandang pintu kubur yang tampak dahsyat baginya. Dan dalam keadaan ini, karena sebagai manusia ia berkaitan dengan jenis manusia dan dunia, tetapi tak membayangkan dunia dan manusia berada dalam pengaturan sebuah Dzat Yang Hakîm, Alîm, Qadîr, Rahîm, lagi Kerim, melainkan menyerahkannya kepada kebetulan dan tabiat, maka keadaan dunia dan manusia senantiasa mengganggunya. Bersama deritanya sendiri, ia memikul pula derita manusia lain. Gempa, wabah, topan, kelaparan, kefanaan, dan kesirnaan dunia menyiksanya dalam rupa musibah yang teramat mengganggu lagi gelap.
Dan manusia dalam keadaan ini tidaklah layak dikasihani dan disayangi. Sebab ia sendirilah yang menimpakan keadaan dahsyat ini pada dirinya. Sebagaimana dikatakan dalam perbandingan keadaan dua saudara yang masuk ke sumur di Kelimat Kedelapan; sebagaimana seseorang yang, di taman indah, jamuan indah, di tengah sahabat-sahabat indah, tak puas dengan kelezatan dan hiburan yang bersih, manis, terhormat, menyenangkan, lagi halal, lalu demi kelezatan haram dan kotor ia meminum arak yang buruk lagi najis, lalu mabuk, membayangkan dirinya di tengah musim dingin, di tempat kotor, bahkan di antara binatang buas, lalu menggigil, berteriak, dan menjerit — betapa ia tak layak dikasihani. Sebab ia membayangkan sahabat-sahabat terhormat lagi mulianya sebagai binatang buas, lalu menghina mereka. Dan ia membayangkan makanan lezat serta wadah bersih di jamuan itu sebagai batu kotor lagi najis, lalu mulai memecahkannya. Dan ia membayangkan kitab-kitab terhormat serta surat-surat bermakna di majelis itu sebagai ukiran tak bermakna lagi hina, lalu merobek dan menginjaknya, dan seterusnya… Sungguh, pribadi semacam ini tak layak dikasihani, melainkan layak ditampar.
Demikian pula: dengan mabuk kekufuran dan gila kesesatan yang lahir dari keburukan ikhtiarnya, ia menyangka rumah tamu dunia Sang Pembuat Yang Mahabijaksana ini sebagai mainan kebetulan dan tabiat; dan ia membayangkan berlalunya ciptaan yang memperbarui kilau asma Ilahi ke alam gaib — karena tugasnya telah usai seiring berlalunya waktu — sebagai ketiadaan dan pemusnahan; dan ia mengkhayalkan suara-suara tasbih sebagai jeritan kesirnaan dan perpisahan abadi; dan ia membayangkan lembar-lembar wujud yang merupakan surat-surat Shamadâni ini sebagai sesuatu yang tak bermakna lagi campur aduk; dan ia membayangkan pintu kubur yang membuka jalan ke alam rahmat sebagai mulut kegelapan ketiadaan; dan ia mengkhayalkan ajal — yang sesungguhnya undangan pertemuan dengan kekasih hakiki — sebagai giliran perpisahan dari seluruh kekasih; maka ia sekaligus menjerumuskan dirinya ke azab pedih yang dahsyat, sekaligus mengingkari, mendustakan, dan menghina segenap wujud, asma Allah, serta surat-surat-Nya; karena itu, sebagaimana ia tak layak dikasihani dan disayangi, ia pun layak menerima azab yang keras. Dari sisi mana pun ia tak layak dikasihani.
Maka wahai ahli kesesatan dan kesia-siaan yang celaka! Terhadap kejatuhan dahsyat ini, dan terhadap keputusasaan yang menghancurkan, kesempurnaan mana, ilmu mana, kemuliaan mana, peradaban mana, dan kemajuan mana yang dapat kalian hadapkan? Di mana kalian dapat menemukan hiburan hakiki yang teramat dibutuhkan ruh manusia? Dan tabiat mana yang kalian andalkan, sebab mana, sekutu mana, penemuan mana, bangsa mana, sesembahan batil mana yang kalian sandari — yang kalian sandarkan padanya jejak-jejak Ilahi dan karunia-karunia rabbâni — yang dapat menyelamatkan kalian dari kegelapan maut yang bagi kalian merupakan pemusnahan abadi, lalu melewatkan kalian dengan selamat dari batas kubur, batas barzakh, batas mahsyar, dan jembatan sirat, serta menyampaikan kalian kepada kebahagiaan abadi? Padahal karena kalian tak dapat menutup pintu kubur, kalian pasti menjadi penempuh jalan ini. Penempuh semacam ini bersandar pada Dzat yang seluruh lingkaran agung dan batas-batas luas ini berada di bawah perintah dan pengaturan-Nya.
Dan lagi, wahai ahli kesesatan dan kelalaian yang celaka! Sesuai rahasia kaidah "Buah dari kecintaan yang tidak halal adalah menanggung azab tanpa belas kasih," kalian telah menyalurkan secara tidak halal — kepada diri sendiri dan dunia — bakat kecintaan dan makrifat serta perkakas syukur dan ibadah yang mestinya disalurkan kepada Dzat, sifat, dan asma Allah; karena itu kalian menanggung hukuman yang setimpal. Sebab kalian memberikan kepada diri kalian kecintaan yang menjadi hak Allah. Kalian menanggung bala tak terhingga dari diri kalian yang kalian jadikan kekasih. Sebab kalian tak dapat memberikan ketenangan hakiki kepada kekasih kalian itu. Dan kalian tak menyerahkannya dengan tawakal kepada Sang Qadîr Mutlak yang menjadi kekasih hakiki, sehingga kalian senantiasa menanggung derita. Dan kalian memberikan kepada dunia kecintaan yang menjadi hak asma dan sifat Allah, serta membagi-bagikan jejak seni-Nya kepada sebab-sebab alam; kalian pun menanggung balanya. Sebab sebagian dari kekasih tak terhingga kalian itu tak mengucap selamat tinggal, melainkan memunggungi kalian, meninggalkan, lalu pergi. Sebagian tak mengenal kalian sama sekali; kalaupun mengenal, ia tak mencintai kalian. Kalaupun mencintai, ia tak memberi manfaat apa pun. Kalian senantiasa menanggung azab dari perpisahan tak terhingga dan kesirnaan yang tak berpengharapan untuk kembali.
Maka inilah wajah dalam dan hakikat dari apa yang disebut ahli kesesatan sebagai "kebahagiaan hidup, kesempurnaan insan, kebaikan peradaban, dan kelezatan kebebasan". Kesia-siaan dan mabuk hanyalah tabir yang sementara tak membuatnya terasa. Katakanlah: "Cih bagi akal mereka!"
Adapun jalan cahaya Al-Qur'an: Ia mengobati seluruh luka yang diderita ahli kesesatan dengan hakikat-hakikat iman. Ia mencerai-beraikan seluruh kegelapan jalan pertama. Ia menutup seluruh pintu kesesatan dan kebinasaan. Demikian:
Ia mengobati kelemahan dan kefakiran manusia dengan tawakal kepada Sang Qadîr Rahîm. Ia menyerahkan beban hidup dan wujud kepada kudrat dan rahmat-Nya, sehingga manusia tak lagi memikulnya sendiri, melainkan menemukan kedudukan nyaman seakan-akan ia menaiki hidup dan dirinya. Ia memberitahukan bahwa manusia bukanlah "hewan yang berbicara", melainkan seorang insan hakiki dan tamu terhormat Sang Rahmân. Dengan menunjukkan bahwa dunia adalah rumah tamu Sang Rahmân, bahwa segenap wujud di dunia adalah cermin asma Ilahi, dan bahwa ciptaan adalah surat-surat Shamadâni yang senantiasa diperbarui, ia mengobati dengan indah luka manusia yang lahir dari kefanaan dunia, kesirnaan segala sesuatu, dan cinta yang fana, serta menyelamatkannya dari kegelapan waham. Dan ia menunjukkan maut serta ajal sebagai pendahuluan pertemuan dan perjumpaan dengan para kekasih yang telah menuju alam barzakh dan berada di alam kekal. Demikianlah ia mengobati luka kematian yang oleh ahli kesesatan dianggap perpisahan abadi dari seluruh kekasih. Dan ia membuktikan bahwa perpisahan itu justru perjumpaan. Dan dengan membuktikan bahwa kubur adalah pintu yang membuka ke alam rahmat, negeri kebahagiaan, taman surga, dan negeri cahaya Sang Rahmân, ia melenyapkan ketakutan manusia yang paling dahsyat, serta menunjukkan bahwa perjalanan barzakh yang paling pedih, keras, lagi menyesakkan itu justru perjalanan yang paling lezat, akrab, lagi menyenangkan. Ia menutup mulut naga dengan kubur, lalu membuka pintu ke taman indah. Yakni ia menunjukkan bahwa kubur bukanlah mulut naga, melainkan pintu yang membuka ke taman rahmat.
Dan ia berkata kepada orang beriman: "Jika ikhtiarmu parsial, serahkan urusanmu kepada kehendak menyeluruh Pemilikmu. Jika kuasamu kecil, bersandarlah pada kudrat Sang Qadîr Mutlak. Jika hidupmu sedikit, pikirkan hidup yang kekal. Jika umurmu pendek, engkau memiliki umur yang abadi, jangan risau. Jika pikiranmu redup, masuklah ke bawah matahari Al-Qur'an, dan pandanglah dengan cahaya iman: sebagai ganti pikiranmu yang laksana kunang-kunang, setiap ayat Al-Qur'an memberimu cahaya laksana bintang. Dan jika engkau memiliki angan dan derita tak terhingga, maka pahala tak terhingga dan rahmat tak terbatas menantimu. Dan jika engkau memiliki keinginan serta maksud tak terhingga, jangan gelisah memikirkannya. Semua itu tak muat di dunia ini. Tempatnya adalah negeri lain, dan pemberinya pun Dzat lain."
Dan ia berkata: "Wahai manusia! Engkau bukan pemilik dirimu. Engkau adalah milik sebuah Dzat Dzul-Jalâl, Sang Qadîr yang kudratnya tak terhingga, Sang Rahîm yang rahmatnya tak terbatas. Kalau begitu, jangan memikul hidupmu sendiri dan menanggung susah; sebab yang memberi hidup adalah Dia, dan yang mengaturnya pun Dia. Dan dunia bukanlah tak bertuan, sehingga engkau memikulkan beban dunia di kepalamu lalu risau memikirkan keadaannya; sebab pemiliknya Mahabijaksana, Mahatahu. Engkau pun tamu; jangan ikut campur secara berlebihan, jangan mengacau. Dan manusia, hewan, serta segenap wujud tidaklah dibiarkan lepas; melainkan mereka petugas yang bertugas. Mereka berada dalam pandangan Sang Hakîm Rahîm. Jangan memikirkan derita dan kesulitan mereka lalu menderitakan ruhmu. Dan jangan melampaui kasih Sang Khâliq Rahîm mereka. Dan seluruh sesuatu yang memusuhimu — dari mikroba hingga wabah, topan, kelaparan, dan gempa — kendalinya berada di tangan Sang Rahîm Hakîm itu. Dia Mahabijaksana, tak berbuat sia-sia. Dia Maha Penyayang, kasih-Nya melimpah. Pada setiap perbuatan-Nya ada semacam kelembutan."
Dan ia berkata: "Alam ini memang fana, tetapi ia menyiapkan bekal bagi sebuah alam yang kekal. Ia memang sirna lagi sementara, tetapi ia memberikan buah-buah kekal, menampakkan kilau asma kekal sebuah Dzat yang kekal. Dan kelezatannya memang sedikit, deritanya banyak; tetapi kasih Sang Rahmân lagi Rahîm adalah kelezatan hakiki tanpa kesirnaan. Adapun derita, dari sisi pahala, menghasilkan kelezatan maknawi. Selama lingkaran yang halal sudah cukup bagi seluruh kelezatan, kesenangan, dan kenikmatan ruh, kalbu, dan nafsu, janganlah masuk ke lingkaran yang haram. Sebab satu kelezatan di lingkaran itu kadang mengandung seribu derita. Dan ia menjadi sebab hilangnya kasih Rahmâni yang merupakan kelezatan hakiki lagi kekal."
Dan sebagaimana diterangkan di jalan kesesatan, ia menjatuhkan manusia hingga serendah-rendah kerendahan, sehingga tiada peradaban dan filsafat yang dapat menemukan obatnya, dan tiada kemajuan manusia maupun kesempurnaan sains yang dapat mengeluarkan manusia dari sumur kegelapan yang dalam itu; padahal Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, dengan iman dan amal saleh, mengangkat manusia dari kejatuhan ke serendah-rendah kerendahan itu ke setinggi-tinggi ketinggian, dan membuktikan pengangkatannya dengan dalil-dalil pasti, serta memenuhi sumur dalam itu dengan anak-anak tangga kemajuan maknawi dan perkakas kesempurnaan ruhani.
Dan ia teramat memudahkan dan meringankan perjalanan manusia yang panjang, penuh badai, lagi bergejolak menuju keabadian. Ia menunjukkan sarana yang dapat menempuh jarak seribu, bahkan lima puluh ribu tahun, dalam sehari.
Dan dengan mengenalkan Dzat Dzul-Jalâl — Sang Sultan azali dan abadi — ia memberi manusia kedudukan sebagai hamba petugas dan tamu yang bertugas. Ia menjamin perjalanan manusia dengan penuh kenyamanan, baik di rumah tamu dunia maupun di kedudukan barzakh dan ukhrawi. Sebagaimana seorang petugas lurus dari seorang raja berkelana dan melintas dengan mudah melalui batas-batas setiap wilayah kerajaan itu, dengan sarana perjalanan cepat seperti pesawat, kapal, dan kereta; demikian pula seorang manusia yang terikat kepada Sultan azali dengan iman dan taat dengan amal saleh, melintasi kedudukan-kedudukan rumah tamu dunia, lingkaran alam barzakh, alam mahsyar, dan seluruh alam luas setelah kubur, dengan kecepatan kilat dan buraq. Hingga ia menemukan kebahagiaan abadi. Dan Al-Qur'an membuktikan hakikat ini secara pasti, serta menunjukkannya kepada para asfiya dan wali.
Dan lagi, hakikat Al-Qur'an berkata: "Wahai orang beriman! Bakat kecintaan tak terhingga yang ada padamu, jangan berikan kepada nafsu ammârah yang buruk, cacat, jahat, lagi membahayakanmu. Jangan jadikan ia kekasih, dan jangan jadikan hawanya sebagai sesembahan. Melainkan berikanlah bakat kecintaan tak terhingga itu kepada sebuah Dzat yang layak bagi kecintaan tak terhingga; yang dapat mengaruniaimu tak terhingga; yang membahagiakanmu tak terhingga di masa depan; yang membahagiakan pula seluruh pribadi yang engkau kaitkan diri dengannya dan yang kebahagiaannya membahagiakanmu, dengan karunia-Nya; yang memiliki kesempurnaan tak terhingga; yang teramat suci, luhur, tersucikan, tanpa cacat, tanpa kekurangan, tanpa kesirnaan, pemilik keindahan; yang seluruh asma-Nya teramat indah; yang pada setiap nama-Nya terdapat banyak cahaya kebaikan dan keindahan; yang surga dengan seluruh keindahan dan nikmatnya menampakkan keindahan rahmat-Nya dan rahmat keindahan-Nya; yang seluruh kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan di alam raya yang dicintai lagi disenangi ini mengisyaratkan, menunjukkan, dan menjadi tanda bagi keindahan dan kesempurnaan-Nya — jadikanlah Dzat itu kekasih dan sesembahan…"
Dan ia berkata: "Wahai manusia! Bakat kecintaan bagi asma dan sifat-Nya, jangan berikan kepada segenap wujud yang tak kekal; jangan sebarkan kepada makhluk yang tak berguna. Sebab jejak dan makhluk itu fana. Namun asma'ul husna — yang ukiran dan kilaunya tampak pada jejak dan ciptaan itu — kekal lagi abadi. Dan pada masing-masing asma dan sifat itu terdapat ribuan tingkat karunia dan keindahan, serta ribuan lapis kesempurnaan dan kecintaan. Pandanglah nama Rahmân saja: surga adalah sekilau darinya, kebahagiaan abadi sekilau cahayanya, dan seluruh rezeki serta nikmat di dunia setetes darinya."
Maka perhatikanlah perbandingan ini, yang mengisyaratkan hakikat ahli kesesatan dan ahli iman dari sisi hidup dan tugas mereka, pada ayat لَقَدْ خَلَقْنَا اْلاِنْسَانَ ف۪ٓى اَحْسَنِ تَقْو۪يمٍ ❊ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ اَسْفَلَ سَافِل۪ينَ ❊ اِلاَّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ serta ayat yang mengisyaratkan hasil dan akibat mereka, فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَٓاءُ وَ اْلاَرْضُ. Betapa luhur lagi mukjizat keduanya mengungkapkan perbandingan yang telah kami terangkan. Ayat pertama, karena hakikat yang diungkapkannya secara mukjizat lagi ringkas telah diterangkan secara terperinci di Kelimat Kesebelas, kami serahkan ke sana. Adapun ayat kedua, hanya akan kami tunjukkan dengan sebuah isyarat kecil betapa luhur hakikat yang diungkapkannya. Demikian:
Ayat ini, dengan makna kesesuaian (mefhum-u muvafık), berfirman demikian: "Dengan matinya ahli kesesatan, langit dan bumi tidak menangisi mereka." Dan dengan makna sebaliknya (mefhum-u muhalif), ia menunjukkan: "Dengan perginya ahli iman dari dunia, langit dan bumi menangisi mereka." Yakni: karena ahli kesesatan mengingkari tugas langit dan bumi, tak mengetahui maknanya, menggugurkan nilainya, tak mengenal Pembuatnya, serta menghina dan memusuhinya, maka sudah pasti langit dan bumi bukan menangisi mereka, melainkan mengutuk mereka dan bergembira dengan binasanya mereka. Dan dengan makna sebaliknya ia berkata: "Langit dan bumi menangis dengan matinya ahli iman." Sebab ahli iman mengetahui tugas langit dan bumi, membenarkan hakikat sejatinya, memahami dengan iman makna yang diungkapkannya, dan berkata "Betapa indah mereka dibuat, betapa indah mereka berkhidmah." Ia memberi mereka nilai yang layak dan menghormatinya. Ia mencintai mereka dan asma yang mereka menjadi cerminnya, atas nama Allah. Maka karena rahasia inilah, langit dan bumi bersedih laksana menangis atas kepergian ahli iman.
SEBUAH PERTANYAAN PENTING
Kalian berkata: "Kecintaan bukanlah perkara ikhtiar. Lagi pula, karena kebutuhan fitri, aku mencintai makanan lezat dan buah-buahan. Aku mencintai ayah, ibu, dan anak-anakku. Aku mencintai istri hidupku. Aku mencintai sahabat dan handai taulanku. Aku mencintai para nabi dan wali. Aku mencintai hidupku dan masa mudaku. Aku mencintai musim semi, hal-hal indah, dan dunia. Bagaimana mungkin aku tak mencintai semua ini? Bagaimana aku dapat menyerahkan seluruh kecintaan ini kepada Dzat, sifat, dan asma Allah? Apa maksudnya ini?"
Jawaban
Simaklah "Empat Nuktah".
NUKTAH PERTAMA
Kecintaan memang bukan perkara ikhtiar. Namun dengan ikhtiar, wajah kecintaan dapat berpaling dari satu kekasih ke kekasih lain. Misalnya: dengan menunjukkan keburukan seorang kekasih, atau dengan menunjukkan bahwa ia hanyalah tabir atau cermin bagi kekasih lain yang sungguh layak dicintai, wajah kecintaan dapat dipalingkan dari kekasih majasi kepada kekasih hakiki.
NUKTAH KEDUA
Kami tidak berkata "jangan cintai" mereka yang engkau sebutkan. Melainkan kami berkata: cintailah mereka atas nama Allah dan demi kecintaan kepada-Nya. Misalnya: mencintai makanan lezat dan buah indah dari sisi bahwa ia adalah karunia Allah dan pemberian Sang Rahmân lagi Rahîm itu, adalah mencintai nama "Rahmân" dan "Mun'im", dan itu adalah syukur maknawi. Yang menunjukkan bahwa kecintaan ini bukan semata atas nama nafsu melainkan atas nama Rahmân, ialah: mencari rezeki dalam lingkaran halal dengan penuh qanaah, serta makan dengan penuh tafakur dan syukur.
Dan menghormati serta mencintai ayah dan ibu atas nama hikmah dan rahmat yang membekali mereka dengan kasih sayang dan mendidikmu melalui tangan mereka yang penuh kasih, adalah bagian dari kecintaan kepada Allah. Tanda bahwa kecintaan dan penghormatan itu demi Allah ialah: memberikan kecintaan, kasih, dan sayang yang lebih besar ketika mereka telah tua, tak lagi memberimu manfaat apa pun, dan menyusahkan serta memberatkanmu. Ayat اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَٓا اَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَٓا اُفٍّ yang menyeru anak kepada penghormatan dan kasih sayang dalam lima tingkat, menunjukkan betapa penting hak orang tua dalam pandangan Al-Qur'an dan betapa buruk kedurhakaan terhadap mereka. Selama seorang ayah tak menginginkan siapa pun selain anaknya menjadi lebih baik daripada dirinya; sebagai balasannya, anak pun tak dapat menuntut hak terhadap ayahnya. Berarti, antara orang tua dan anak, secara fitrah, tiada sebab perselisihan. Sebab perselisihan lahir dari kedengkian; sedang pada ayah tiada kedengkian terhadap anaknya. Atau perselisihan lahir dari kezaliman; sedang anak tak memiliki hak untuk menuntut ayahnya. Meski ia memandang ayahnya berbuat salah, ia tak boleh mendurhakainya. Berarti, anak yang mendurhakai ayahnya dan menyakitinya adalah binatang buas yang gagal menjadi manusia.
Dan mencintai serta menjaga anak-anak dengan kasih dan sayang yang sempurna, karena mereka hadiah dari Dzat Yang Rahîm lagi Kerim, adalah menjadi hak Allah pula. Tanda bahwa kecintaan itu atas nama Allah ialah: kesabaran dan syukur ketika mereka wafat, bukan jeritan putus asa. Yakni berkata "Ia adalah makhluk yang disenangi, milik yang diserahkan Khâliqku ke dalam pengawasanku; kini hikmah menuntut, Ia mengambilnya dariku, membawanya ke tempat yang lebih baik. Jika aku memiliki satu bagian lahiriah atas milik itu, maka seribu bagian hakiki menjadi hak Khâliqnya," lalu berserah dengan berkata "Hukum itu milik Allah."
Dan sahabat serta handai taulan: jika mereka menjadi kekasih Allah karena iman dan amal saleh, maka sesuai rahasia "Cinta karena Allah", kecintaan itu pun menjadi hak Allah.
Dan cintailah istri hidupmu dari sisi bahwa ia hadiah yang lembut lagi menyenangkan dari rahmat Ilahi. Namun jangan kaitkan kecintaanmu pada kecantikan rupanya yang cepat pudar. Melainkan kecantikan wanita yang paling memikat lagi manis adalah keindahan perangainya di dalam kelembutan dan kehalusan yang khas kewanitaan. Dan keindahannya yang paling berharga lagi manis adalah kasih sayangnya yang luhur, tulus, lagi bercahaya. Keindahan kasih dan perangai ini berlangsung hingga akhir hayat, bahkan bertambah. Dan hak penghormatan makhluk lembut nan lemah itu terjaga dengan kecintaan itu. Jika tidak, dengan pudarnya kecantikan rupa, ia akan kehilangan haknya justru pada saat ia paling membutuhkannya.
Dan mencintai para nabi dan wali, dari sisi bahwa mereka hamba Allah yang diterima, adalah atas nama dan demi Allah, dan dari sudut pandang itu ia menjadi hak-Nya.
Dan mencintai serta menjaga hidup, dari sisi bahwa ia modal paling berharga yang Allah berikan kepada manusia — yang mendatangkan hidup kekal, sebuah simpanan, dan khazanah perkakas kesempurnaan kekal — lalu memperkerjakannya dalam khidmah Allah, maka kecintaan itu pun, dari satu sisi, menjadi hak Sang Ma'bûd.
Dan menghargai, mencintai, serta menggunakan dengan baik kelembutan dan keindahan masa muda, dari sudut pandang bahwa ia nikmat Allah yang lembut, manis, lagi indah, adalah semacam kecintaan halal yang penuh syukur.
Dan mencintai musim semi dengan penuh tafakur, dari sisi bahwa ia lembaran ukiran terindah dari asma Allah yang bercahaya dan galeri seni Sang Pembuat Yang Mahabijaksana yang paling berhias lagi gemerlap, adalah mencintai asma Allah.
Dan mencintai dunia dari sisi bahwa ia ladang akhirat, cermin asma Ilahi, surat-surat Allah, dan rumah tamu sementara-Nya — dengan syarat nafsu ammârah tidak mencampurinya — menjadi hak Allah.
Kesimpulannya
Cintailah dunia dan makhluk di dalamnya dengan makna huruf (mana-yı harfi). Jangan cintai dengan makna nama (mana-yı ismi). Katakanlah "Betapa indah ia dibuat." Jangan katakan "Betapa indah ia." Dan jangan beri celah bagi kecintaan lain untuk masuk ke lubuk kalbumu. Sebab lubuk kalbu adalah cermin Ash-Shamad dan khusus bagi-Nya. Ucapkanlah اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ وَ حُبَّ مَا يُقَرِّبُنَا اِلَيْكَ.
Maka seluruh kecintaan yang kami sebutkan, jika demikian keadaannya, sekaligus memberi kelezatan tanpa derita, sekaligus — dari satu sisi — menjadi pertemuan tanpa kesirnaan. Ia sekaligus menambah kecintaan kepada Allah. Ia kecintaan yang halal. Ia sekaligus kelezatan yang merupakan syukur. Ia sekaligus kecintaan yang merupakan tafakur.
Misalnya: sebagaimana seorang raja agung, {(Catatan kaki): Suatu ketika dua pemimpin kabilah masuk ke hadapan seorang raja, dan berada dalam keadaan sebagaimana yang dituliskan.} jika mengaruniaimu sebuah apel, maka pada apel itu ada dua kecintaan dan dua kelezatan: yang pertama, apel dicintai karena ia apel, dan padanya ada kelezatan khas apel sebesar apel. Kecintaan ini bukan milik raja. Melainkan orang yang melahap apel itu di hadapan raja, mencintai apel dan mengasihi nafsunya, bukan mencintai raja. Kadang terjadi, raja tak menyukai kecintaan yang memuja nafsu itu, dan justru membencinya. Lagi pula kelezatan apel itu parsial. Dan ia sirna; setelah apel dimakan, kelezatan itu pun hilang, tinggal penyesalan. Adapun kecintaan kedua: kelembutan agung raja yang ditunjukkan melalui apel di dalam apel itu. Seakan-akan apel itu contoh dan wujud kelembutan agung raja — demikianlah orang yang meletakkannya di kepalanya menampakkan bahwa ia mencintai raja. Dan pada buah yang menjadi sampul kelembutan itu ada sebuah kelezatan yang mengungguli kelezatan seribu apel. Maka kelezatan ini adalah syukur itu sendiri. Dan kecintaan ini adalah kecintaan penuh hormat kepada raja.
Persis seperti itu: jika seluruh nikmat dan buah dicintai karena zatnya semata, dan hanya dinikmati kelezatan materialnya dengan lalai, maka kecintaan itu bersifat nafsani. Kelezatan itu pun sementara lagi penuh derita. Namun jika ia dicintai dari sisi bahwa ia buah kelembutan rahmat dan karunia Allah, serta dinikmati dengan penuh selera dalam rupa menghargai derajat kelembutan karunia itu; maka ia sekaligus syukur maknawi, sekaligus kelezatan tanpa derita…
NUKTAH KETIGA
Kecintaan kepada asma Allah memiliki tingkatan: sebagaimana telah kami terangkan, kadang seseorang mencintai asma melalui kecintaan kepada jejaknya. Kadang ia mencintai asma dari sisi bahwa ia merupakan gelar kesempurnaan Ilahi. Kadang manusia — karena kemenyeluruhan kuiditasnya — membutuhkan dan merindukan asma dari sisi kebutuhannya yang tak terhingga, lalu mencintainya karena kebutuhan itu. Misalnya: tatkala engkau merasakan kebutuhan lemah untuk menolong seluruh kerabat, fakir, lemah, dan makhluk membutuhkan yang engkau sayangi, lalu seseorang datang dan berbuat baik kepada mereka sekehendakmu; betapa gelar pemberi nikmat dan nama mulia Dzat itu menyenangkan hatimu, betapa engkau mencintai Dzat itu dengan gelar tersebut. Demikian pula: pikirkanlah nama Rahmân dan Rahîm Allah saja — yang membahagiakan seluruh nenek moyang, kerabat, dan handai taulanmu yang beriman, yang engkau cintai dan sayangi, dengan beragam nikmat di dunia dan beragam kelezatan di surga serta dalam kebahagiaan abadi, dengan menampakkan mereka kepadamu dan dirimu kepada mereka — betapa nama "Rahmân" dan gelar "Rahîm" itu layak dicintai, dan betapa ruh manusia membutuhkan kedua nama itu, engkau pun dapat mengiaskannya. Dan engkau memahami betapa tepatnya ucapan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى رَحْمَانِيَّتِهِ وَ عَلٰى رَح۪يمِيَّتِهِ.
Dan perhatikanlah betapa ruhmu membutuhkan dan merindukan nama "Hakîm" dan gelar "Murabbi" dari Dzat yang menata, mengatur, dan memelihara dengan hikmah sempurna dunia serta makhluk di dalamnya — yang laksana sebuah rumah bagimu, dan segenap wujud di dalamnya laksana perabot akrab dan hiasan yang disenangi rumah itu — yang engkau kaitkan diri dengannya dan yang kekacauannya menyedihkanmu. Dan perhatikanlah betapa ruhmu membutuhkan nama "Wâris, Bâ'its" serta gelar "Bâqî, Kerim, Muhyî, dan Muhsin" dari Dzat yang, pada saat kematian, menyelamatkan seluruh manusia yang engkau cintai dan yang kesirnaannya menyedihkanmu, dari kegelapan ketiadaan, lalu menempatkan mereka di tempat yang lebih indah daripada dunia ini.
Maka karena kuiditas manusia luhur dan fitrahnya menyeluruh, ia secara fitri membutuhkan seribu satu asma Ilahi, dengan ribuan macam kebutuhan, pada banyak tingkat dari setiap nama. Kebutuhan yang berlipat adalah kerinduan. Kerinduan yang berlipat adalah kecintaan. Kecintaan yang berlipat adalah asyik (isyk). Sesuai kesempurnaan ruh, tingkat-tingkat kecintaan tersingkap sesuai tingkat-tingkat asma. Dan kecintaan kepada seluruh asma — karena asma itu gelar dan kilau Dzat Dzul-Jalâl — berbalik menjadi kecintaan zati. Kini, sebagai contoh saja, dari seribu satu asma, hanya akan kami terangkan satu tingkat dari ribuan tingkat nama "Adl", "Hakem", "Haq", dan "Rahîm". Demikian:
Jika engkau hendak memandang nama "Rahmân lagi Rahîm" dan "Haq" di dalam hikmah dan keadilan, pada lingkaran teragung, pandanglah perumpamaan ini: Andaikan pada sebuah pasukan terdapat empat ratus golongan berbeda; setiap golongan menyukai pakaian yang berbeda, rezeki yang berbeda, senjata yang berbeda untuk digunakan dengan nyaman, dan obat yang berbeda untuk penyakitnya; padahal seluruh empat ratus golongan itu tidak dipisah-pisahkan ke dalam regu dan seksi tersendiri, melainkan bercampur satu sama lain — lalu seorang raja tunggal nan tak bertara, dengan kasih dan sayangnya, dengan kuasanya yang luar biasa, dengan ilmu serta cakupannya yang mukjizat, dan dengan keadilan serta hikmahnya yang luar biasa, memberikan sendiri kepada masing-masing pakaian, rezeki, obat, dan senjata yang layak, tanpa bantuan siapa pun, tanpa keliru dan tanpa lupa terhadap satu pun — engkau pun memahami betapa berkuasa, penyayang, adil, lagi mulianya raja itu. Sebab jika dalam satu batalion terdapat prajurit dari sepuluh bangsa, memberi pakaian dan bekal yang berbeda kepada masing-masing amat sulit, sehingga terpaksa mereka semua dibekali dengan satu cara, apa pun bangsanya.
Demikian pula: jika engkau hendak melihat kilau nama "Haq dan Rahmân lagi Rahîm" di dalam keadilan dan hikmah Allah, pandanglah pada musim semi bala tentara tumbuhan dan hewan yang tersusun dari empat ratus ribu bangsa, yang kemahnya terpasang di muka bumi. Seluruh bangsa dan golongan itu, meski bercampur satu sama lain, masing-masing memiliki pakaian yang berbeda, rezeki yang berbeda, senjata yang berbeda, cara hidup yang berbeda, latihan yang berbeda, dan masa purnatugas yang berbeda; padahal mereka tak memiliki kuasa untuk menyediakan kebutuhannya dan tak memiliki lidah untuk memintanya — maka saksikanlah dan lihatlah gelar "Haq", "Rahmân", "Razzâq", "Rahîm", dan "Kerim" di dalam lingkaran hikmah dan keadilan, dengan timbangan dan keteraturan. Betapa Ia memelihara, mengatur, dan mengurus tanpa keliru terhadap satu pun, tanpa lupa, dan tanpa tertukar.
Maka mungkinkah jari pihak lain mencampuri sebuah urusan yang dikerjakan dengan keteraturan dan timbangan yang meliputi lagi mencengangkan ini? Selain Wâhid Ahad, Sang Hakîm Mutlak, lagi Sang Qadîr atas segala sesuatu — sesuatu apa yang dapat mengulurkan tangan ke seni, pengaturan, rububiyah, dan pengurusan ini? Sebab mana yang dapat menyisip?
NUKTAH KEEMPAT
Engkau berkata: Apa hasil dan faedah dari beragam kecintaanku yang berbeda-beda terhadap makanan, nafsu, istri, ayah dan ibu, anak, sahabat, wali, nabi, hal-hal indah, musim semi, dan dunia (jika sesuai cara yang diperintahkan Al-Qur'an)?
Jawaban
Untuk menerangkan seluruh hasilnya, perlu ditulis sebuah kitab besar. Kini hanya akan diisyaratkan satu-dua hasil secara ringkas. Pertama, akan diterangkan hasil-hasil yang segera tampak di dunia. Kemudian akan disebutkan hasil-hasil yang tampak di akhirat. Demikian:
Sebagaimana telah diterangkan, kecintaan yang bersifat lalai dan atas nama nafsu — dalam cara ahli kelalaian dan ahli dunia — banyak mengandung bala, derita, dan kesulitan di dunia. Kesenangan, kelezatan, dan ketenangannya sedikit. Misalnya: kasih sayang, karena kelemahan, menjadi musibah penuh derita. Kecintaan, karena perpisahan, menjadi kepedihan penuh bala. Kelezatan, karena kesirnaan, menjadi minuman beracun. Adapun di akhirat, karena tidak atas nama Allah, semua itu adakalanya tak berfaedah, atau menjadi azab (jika telah masuk ke yang haram).
Pertanyaan
Bagaimana kecintaan kepada para nabi dan wali bisa tak berfaedah?
Jawaban
Sebagaimana kecintaan kaum Trinitas kepada Nabi Isa 'alaihissalam dan kecintaan kaum Rafidhah kepada Ali radhiyallahu 'anhu menjadi tak berfaedah.
Jika kecintaan-kecintaan itu sesuai cara yang ditunjukkan Al-Qur'an, atas nama Allah, dan demi kecintaan kepada Sang Rahmân, maka ia memiliki hasil yang indah, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun di dunia: kecintaan kepada makanan lezat dan buah indah adalah nikmat tanpa derita dan kelezatan yang merupakan syukur itu sendiri.
Adapun kecintaan kepada nafsu
ialah mengasihaninya, mendidiknya, dan mencegahnya dari hawa yang membahayakan. Ketika itu, nafsu tak menaikimu dan tak menawanmu pada hawanya. Melainkan engkaulah yang menaiki nafsumu. Engkau menggiringnya bukan kepada hawa, melainkan kepada petunjuk Ilahi.
Kecintaan kepada istri hidupmu,
selama dibangun di atas keindahan perangai, sumber kasih sayang, dan hadiah rahmat — jika engkau mencintai dan menyayangi istri itu dengan tulus, ia pun menghormati dan mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Semakin kalian menua, keadaan itu semakin bertambah, dan engkau melewatkan hidupmu dengan bahagia. Sebaliknya, jika kecintaan kepada kecantikan rupa bersifat nafsani, kecintaan itu cepat rusak, dan merusak pula pergaulan yang baik.
Kecintaan kepada ayah dan ibu,
karena atas nama Allah, sekaligus menjadi ibadah, dan semakin mereka menua, engkau semakin menambah penghormatan dan kecintaan. Dengan perasaan yang paling luhur dan kesungguhan yang paling jantan, mendambakan panjang umur mereka dan mendoakan kelanggengan mereka, lalu mencium tangan mereka dengan penuh penghormatan tulus — supaya melalui mereka aku memperoleh lebih banyak pahala — adalah memperoleh kelezatan ruhani yang luhur. Sebaliknya, jika bersifat nafsani dan duniawi, maka ketika mereka menua dan menjadi beban bagimu, dengan perasaan yang paling rendah lagi hina engkau merasa jengkel atas keberadaan mereka, bahkan mengharapkan kematian orang-orang terhormat yang menjadi sebab hidupmu — sebuah derita ruhani yang liar lagi menyedihkan.
Adapun kecintaan kepada anak
kecintaan kepada makhluk yang disenangi lagi akrab, yang Allah amanatkan ke dalam pengawasan dan didikanmu, adalah kecintaan yang membahagiakan dan sebuah nikmat. Engkau tak akan berlebihan menderita atas musibah mereka, dan tak akan menjerit putus asa atas kematian mereka. Sebagaimana telah lalu, karena Khâliq mereka Mahabijaksana lagi Maha Penyayang, engkau berkata "Kematian itu sebuah kebahagiaan bagi mereka." Dan terhadap dirimu, engkau memikirkan rahmat Dzat yang menganugerahkan mereka kepadamu, lalu selamat dari derita perpisahan.
Adapun kecintaan kepada sahabat
selama demi Allah, maka perpisahan bahkan kematian sahabat-sahabat itu tak menghalangi persahabatan dan persaudaraan kalian, sehingga engkau memetik manfaat dari kecintaan maknawi dan ikatan ruhani itu. Dan kelezatan perjumpaan menjadi abadi. Jika tidak demi Allah, maka kelezatan sehari perjumpaan menghasilkan derita seratus hari perpisahan.
{(Catatan kaki): Perjumpaan sedetik demi Allah adalah setahun. Jika demi dunia, maka setahun adalah sedetik.}
Adapun kecintaan kepada para nabi dan wali:
alam barzakh — yang bagi ahli kelalaian tampak sebagai belantara gelap yang menakutkan — tampak bagimu sebagai kediaman yang bercahaya oleh wujud para bercahaya itu; karena itu, pergi ke alam itu tak memberi rasa takut dan ngeri, melainkan justru memberi rasa cenderung dan rindu; ia tak melenyapkan kelezatan hidup dunia. Sebaliknya, jika kecintaan kepada mereka sejenis kecintaan ahli peradaban kepada tokoh-tokoh terkenal, maka dengan memikirkan kefanaan dan kesirnaan insan-insan kamil itu serta membusuknya mereka di kubur terbesar yang bernama masa silam, ia justru menambah satu duka pada hidupnya yang penuh derita. Yakni ia berpikir "Aku pun akan pergi ke kubur yang membusukkan insan-insan kamil seperti itu," lalu memandang pekuburan dengan pandangan cemas, dan berkeluh "Ah!" Adapun dalam pandangan pertama: ia memikirkan bahwa mereka meninggalkan busana jasad di masa silam, sedang diri mereka bermukim dengan penuh kenyamanan di alam barzakh yang menjadi ruang masa depan; lalu ia memandang pekuburan dengan penuh keakraban.
Dan kecintaan kepada hal-hal indah,
selama demi Pembuatnya, dalam rupa "Betapa indah ia dibuat" — kecintaan itu, meski merupakan tafakur yang lezat, membuka jalan bagi zauk pencinta keindahan kepada khazanah tingkat keindahan yang lebih tinggi, lebih suci, dan seribu kali lebih indah; ia membuatnya memandang. Sebab ia mengalihkan dari karya-karya indah itu kepada keindahan perbuatan Ilahi. Darinya kepada keindahan asma, darinya kepada keindahan sifat, darinya membuka jalan bagi kalbu menuju keindahan tak tertandingi Dzat Dzul-Jalâl. Maka kecintaan dalam rupa ini sekaligus lezat, sekaligus ibadah, sekaligus tafakur.
Adapun kecintaan kepada masa muda
selama engkau mencintainya dari sisi bahwa ia nikmat indah Allah; sudah pasti engkau menyalurkannya dalam ibadah, tidak menenggelamkan dan membunuhnya dalam kesia-siaan. Kalau begitu, ibadah yang engkau peroleh di masa muda itu adalah buah kekal dari masa muda yang fana itu. Semakin engkau menua, engkau memperoleh buah-buah kekal berupa kebaikan masa muda, sekaligus selamat dari bahaya dan keliaran masa muda. Dan engkau memikirkan bahwa di masa tua engkau memperoleh taufik ibadah yang lebih besar dan kelayakan yang lebih besar bagi rahmat Ilahi. Engkau tak akan — seperti ahli kelalaian — menyesali dan menangisi masa muda dengan keluhan "Aduhai, masa mudaku telah pergi" selama lima puluh tahun, sebagai ganti lima-sepuluh tahun kelezatan masa muda. Sebagaimana salah seorang dari mereka berkata: لَيْتَ الشَّبَابَةَ يَعُودُ يَوْمًا فَاُخْبِرُهُ بِمَا فَعَلَ الْمَش۪يبُ Yakni: "Andai masa mudaku kembali sehari, akan kuberitakan kepadanya, sambil mengadu, apa yang ditimpakan masa tua ke atas kepalaku."
Adapun kecintaan kepada galeri berhias seperti musim semi:
selama dari sisi menyaksikan seni Ilahi. Dengan berlalunya musim semi itu, kelezatan menyaksikannya tak lenyap. Sebab musim semi laksana sepucuk surat berhias keemasan, engkau dapat menyaksikan makna yang diberikannya setiap saat. Khayalmu dan waktu, keduanya laksana gulungan film, sambil melanggengkan kelezatan tontonan itu bagimu, sekaligus memperbarui makna dan keindahan musim semi itu untukmu. Ketika itu, kecintaanmu tak menjadi penuh sesal, derita, dan sementara; melainkan penuh kelezatan dan kesenangan.
Adapun kecintaan kepada dunia
selama atas nama Allah. Ketika itu, segenap wujud dunia yang dahsyat menjadi laksana teman akrab bagimu. Karena engkau mencintainya dari sisi ladang akhirat, engkau dapat memetik dari segala sesuatunya sebuah modal dan buah yang berfaedah bagi akhirat. Musibah-musibahnya tak menakutkanmu, dan kesirnaan serta kefanaannya tak menyesakkanmu. Engkau melewatkan masa tinggalmu di rumah tamu itu dengan penuh kenyamanan. Sebaliknya, jika engkau mencintainya seperti ahli kelalaian, telah seratus kali kami katakan kepadamu: engkau akan tenggelam dan binasa dalam sebuah kecintaan yang menyesakkan, menekan, mencekik, terhukum kefanaan, lagi tanpa hasil.
Maka sebagian kekasih ini, tatkala sesuai cara yang ditunjukkan Al-Qur'an, telah kami tunjukkan hanya seperseratus kelembutannya dari masing-masing. Dan jika tidak sesuai jalan yang ditunjukkan Al-Qur'an, telah kami isyaratkan satu dari seratus mudaratnya. Kini, jika engkau hendak mendengar dan memahami hasil-hasil yang diisyaratkan oleh ayat-ayat terang Al-Qur'an Yang Mahabijaksana bagi kekasih-kekasih itu di negeri kekal, di alam akhirat, maka kami akan menunjukkan secara ringkas seperseratus faedah dari hasil-hasil ukhrawi kecintaan halal semacam itu, melalui sebuah Mukadimah dan sembilan "Isyarat":