Risale-i NurKelimat

MUKADIMAH

Kelimat · hlm. 619

Allah, dengan uluhiyah-Nya yang agung, rahmat-Nya yang indah, rububiyah-Nya yang besar, kelembutan-Nya yang mulia, kudrat-Nya yang agung, dan hikmah-Nya yang halus, telah melengkapi dan menghias wujud manusia yang kecil ini dengan sedemikian banyak indra dan perasaan, sedemikian banyak anggota dan perkakas, beragam alat, serta beragam latîfah dan maknawiyat; supaya — melalui beragam alat yang banyak itu — Ia dapat merasakan, memberitahukan, mengecapkan, dan mengenalkan kepada manusia beragam nikmat-Nya yang tak terhingga, beragam karunia-Nya, dan tingkatan rahmat-Nya. Dan supaya, melalui alat-alat itu, Ia memberitahukan, menimbangkan, dan mencintakan kepada manusia beragam manifestasi tak terhingga dari seribu satu asma-Nya. Dan sebagaimana setiap alat serta perkakas yang teramat banyak pada manusia itu memiliki khidmah dan ubudiyah tersendiri, ia pun memiliki kelezatan, derita, tugas, dan pahala tersendiri. Misalnya mata: ia menyaksikan keindahan pada rupa dan beragam mukjizat kudrat yang indah di alam penglihatan. Tugasnya ialah syukur kepada Pembuatnya dengan pandangan pelajaran. Kelezatan dan derita khusus bagi penglihatan telah maklum, tak perlu diterangkan. Misalnya telinga: ia merasakan beragam suara, alunan lembut, dan kelembutan rahmat Allah di alam pendengaran. Ia memiliki ubudiyah tersendiri, kelezatan tersendiri, dan pahala tersendiri. Misalnya indra penciuman: ia merasakan kelembutan rahmat pada golongan aroma. Ia memiliki tugas syukur dan kelezatan tersendiri. Sudah pasti ia pun memiliki pahala. Misalnya indra perasa pada lidah: ia menjalankan tugas dengan beragam syukur maknawi melalui pengenalan seluruh rasa makanan, dan seterusnya… Seluruh perkakas manusia, serta latîfah besar lagi penting seperti kalbu, akal, dan ruh, memiliki tugas, kelezatan, dan derita tersendiri seperti itu.

Maka Allah, Sang Hakîm Mutlak, sudah pasti akan memberikan kepada masing-masing perkakas yang Ia perkerjakan pada manusia ini upah yang layak. Hasil-hasil segera di dunia dari beragam kecintaan yang telah diterangkan itu dirasakan setiap orang dengan nuraninya dan dibuktikan dengan firasat jujur. Adapun hasil-hasilnya di akhirat, wujud dan terjadinya secara pasti — sebagaimana secara ringkas telah dibuktikan dengan dua belas hakikat gemilang lagi pasti di Kelimat Kesepuluh dan enam asas terang di Kelimat Kedua Puluh Sembilan — secara terperinci tetap dengan pasti melalui ayat-ayat terang Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, yaitu اَصْدَقُ الْكَلاَمِ وَاَبْلَغُ النِّظَامِ كَلاَمُ اللّٰهِ الْمَلِكِ الْعَز۪يزِ الْعَلاَّمِ, dengan penegasan, isyarat, ramz, dan tandanya. Tak perlu mendatangkan bukti yang lebih panjang. Memang di Kelimat-Kelimat lain, serta di makam kedua yang berbahasa Arab dari Kelimat Kedua Puluh Delapan tentang surga, dan di Kelimat Kedua Puluh Sembilan, telah berlalu banyak bukti.