PEMBAHASAN KEEMPAT
Kelimat · hlm. 417
Jika engkau berkata: "Pada Pembahasan Pertama engkau membuktikan bahwa segala sesuatu takdir itu indah, baik; keburukan yang datang darinya pun baik, kejelekan pun indah. Padahal musibah dan bencana di negeri dunia ini membantah putusan itu."
Jawaban
Wahai nafsuku dan sahabatku yang merasakan suatu derita hebat akibat hebatnya kasih sayang! Bahwa wujud adalah kebaikan murni dan ketiadaan adalah keburukan murni, ditunjukkan oleh: kembalinya seluruh keindahan dan kesempurnaan kepada wujud, dan bahwa asas seluruh maksiat, musibah, dan kekurangan adalah ketiadaan. Oleh karena ketiadaan adalah keburukan murni, keadaan yang berujung pada ketiadaan atau menyiratkan ketiadaan pun mengandung keburukan. Karena itu kehidupan — cahaya wujud yang paling cemerlang — bergulir dalam berbagai keadaan lalu memperoleh kekuatan. Ia masuk ke keadaan yang beragam lalu tersaring, mengambil beragam kondisi lalu membuahkan hasil yang dituntut, dan masuk ke berbagai tahapan lalu memperlihatkan dengan indah ukiran asma Sang Pemberi Kehidupan. Maka dari hakikat inilah, pada makhluk hidup datang beberapa keadaan dalam rupa derita, musibah, kesukaran, dan bencana; sehingga dengan keadaan itu cahaya wujud diperbarui pada kehidupan mereka, kegelapan ketiadaan menjauh, dan kehidupan mereka tersaring. Sebab berhenti, diam, bisu, malas, istirahat, dan kemonotonan — masing-masing adalah suatu ketiadaan dalam kondisi dan keadaan. Bahkan kelezatan terbesar pun turun menjadi nihil dalam kemonotonan.
Kesimpulan
Oleh karena kehidupan memperlihatkan ukiran asma husna, segala sesuatu yang menimpa kehidupan adalah kebaikan. Misalnya: seorang zat yang sangat kaya, sangat berseni, lagi mahir dalam banyak seni; untuk memperlihatkan karya seni dan kekayaannya yang berharga, ia mengenakan pada seorang miskin sederhana — dengan imbalan upah, untuk menunaikan tugas model selama satu jam — sebuah baju bertatah lagi berseni yang ia buat; lalu ia mengerjakannya di atasnya, memberinya berbagai kondisi, dan menggantinya. Dan untuk memperlihatkan segala jenis seninya, ia memotong, mengganti, memanjangkan, memendekkannya. Gerangan, dapatkah si miskin berupah itu berkata kepada zat itu: "Engkau menyusahkanku. Dengan menyuruhku membungkuk dan bangun engkau memberi kondisi, dan dengan memotong serta memendekkan baju yang memperindahku engkau merusak keindahanku"? Dapatkah ia berkata: "Engkau berbuat tanpa kasih sayang, tanpa keinsafan"? Maka seperti itu pula, Sang Pencipta Dzul-Jalâl, Sang Fâthir tiada tara; untuk memperlihatkan ukiran asma husna, memutar baju wujud — yang Ia kenakan pada makhluk hidup dengan bertatah indra serta kehalusan batin seperti mata, telinga, akal, dan kalbu — dalam berbagai keadaan, dan menggantinya dalam berbagai kondisi. Kondisi berupa derita dan musibah, untuk memperlihatkan hukum sebagian asma-Nya, di dalam kilau hikmah terdapat sebagian sinar rahmat, dan di dalam sinar rahmat itu terdapat keindahan-keindahan yang halus.
--
Penutup (Hâtime)
[Lima fasal yang membungkam nafsu Said Lama yang durhaka, membanggakan diri, sombong, ujub, lagi riya, dan memaksanya tunduk.]
Fasal Pertama
Oleh karena benda ada dan berseni, sudah pasti ada tukangnya. Sebagaimana dibuktikan secara sangat pasti dalam Kelimat Kedua Puluh Dua: jika segala sesuatu bukan milik satu Zat, maka setiap benda menjadi sesulit dan seberat seluruh benda. Jika segala sesuatu milik satu Zat, maka seluruh benda menjadi semudah satu benda. Oleh karena bumi dan langit dibuat serta diciptakan seseorang, sudah pasti Zat yang sangat penuh hikmah lagi sangat berseni itu tak akan menyerahkan makhluk hidup — yang merupakan buah, hasil, dan tujuan bumi serta langit — kepada yang lain lalu merusak pekerjaan. Ia tak akan menyerahkan seluruh pekerjaan penuh hikmah-Nya kepada tangan lain lalu menjadikannya sia-sia dan nihil, dan tak akan menyerahkan syukur serta ibadah mereka kepada yang lain.
Fasal Kedua
Wahai nafsuku yang sombong! Engkau menyerupai pohon anggur. Jangan berbangga! Pohon itu tak menggantung tandan-tandannya sendiri; yang lain yang menggantungkannya padanya.
Fasal Ketiga
Wahai nafsuku yang riya! Jangan menyombongkan diri dengan "Aku telah berkhidmah kepada agama." Berdasarkan rahasia اِنَّ اللّٰهَ لَيُؤَيِّدُ هٰذَا الدّ۪ينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ (Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan orang yang fasik): oleh karena engkau belum tersucikan, boleh jadi engkau mesti mengetahui dirimu sebagai orang fasik itu. Ketahuilah khidmah dan ubudiyahmu sebagai syukur atas nikmat yang lalu, tugas fitrah, kewajiban penciptaan, dan hasil seni; bebaskanlah dirimu dari ujub dan riya!
Fasal Keempat
Jika engkau menginginkan ilmu hakikat dan hikmah yang sejati; raihlah makrifat Allah. Sebab seluruh hakikat makhluk adalah sinar nama Al-Haq, manifestasi asma-Nya, dan penampakan sifat-Nya. Hakikat setiap benda dan setiap manusia — materiil dan maknawi, jauhar dan aradh — bersandar pada cahaya suatu nama dan berpegang pada hakikatnya. Jika tidak, ia hanyalah suatu rupa tanpa hakikat lagi tak penting. Di akhir Kelimat Kedua Puluh, pembahasan sekilas tentang rahasia ini telah lewat. Wahai nafsu! Jika engkau rindu akan kehidupan dunia ini dan lari dari kematian, ketahuilah dengan pasti bahwa: keadaan yang engkau sangka kehidupan hanyalah menit yang sedang engkau alami. Sebelum menit itu, seluruh zamanmu dan benda-benda dunia di dalam zaman itu, pada menit itu telah mati. Setelah menit itu, seluruh zamanmu dan isinya, pada menit itu adalah ketiadaan, nihil. Berarti kehidupan materiil yang engkau andalkan hanyalah satu menit. Bahkan sebagian ahli tahkik berkata, "Ia adalah sepersepuluh (detik), bahkan suatu saat yang mengalir." Maka dari rahasia inilah sebagian ahli kewalian menghukumi ketiadaan dunia dari sisi keduniaannya. Oleh karena demikian, tinggalkanlah kehidupan materiil nafsani. Naiklah ke derajat kehidupan kalbu, ruh, dan sir; lihatlah, betapa luas lingkaran kehidupan mereka. Masa lampau dan masa depan yang bagimu mati, bagi mereka hidup, berkehidupan, lagi maujud. Wahai nafsuku! Oleh karena demikian, engkau pun menangislah seperti kalbuku, berteriaklah, dan katakanlah: "Aku fana, aku tak menginginkan yang fana. Aku lemah, aku tak menginginkan yang lemah. Aku menyerahkan ruhku kepada Ar-Rahman, aku tak menginginkan yang lain. Aku menginginkan, tetapi aku menginginkan seorang kekasih yang kekal. Aku partikel, tetapi aku menginginkan suatu Matahari yang abadi. Aku nihil di dalam nihil, tetapi aku menginginkan seluruh makhluk ini sekaligus."
Fasal Kelima
Fasal ini, karena datang dalam bahasa Arab, ditulis dalam bahasa Arab. Dan fasal berbahasa Arab ini mengisyaratkan salah satu dari tiga puluh tiga martabat tafakur dalam zikir "Allahu Akbar".
اَللّٰهُ اَكْبَرُ اِذْ هُوَ الْقَد۪يرُ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ الْكَر۪يمُ الرَّح۪يمُ الْجَم۪يلُ النَّقَّاشُ اْلاَزَلِىُّ الَّذ۪ى مَا حَق۪يقَةُ هٰذِهِ الْكَائِنَاتِ كُلاًّ وَ جُزْءً وَ صَحَائِفَ وَ طَبَقَاتٍ وَ مَا حَقَائِقُ هٰذِهِ الْمَوْجُودَاتِ كُلِّيًًّا وَ جُزْئِيًّا وَ وُجُودًا وَ بَقَاءً اِلاَّ خُطُوطُ قَلَمِ قَضَائِهِ وَ قَدَرِهِ وَ تَنْظ۪يمِهِ وَ تَقْد۪يرِهِ بِعِلْمٍ وَ حِكْمَةٍ وَ نُقُوشُ پَرْكَارِ عِلْمِهِ وَ حِكْمَتِهِ وَ تَصْو۪يرِهِ وَ تَدْبِيرِهِ بِصُنْعٍ وَ عِنَايَةٍ وَ تَزْي۪ينَاتُ يَدِ بَيْضَاءِ صُنْعِهِ وَ عِنَايَتِهِ وَ تَزْيِينِهِ وَ تَنْوِيرِهِ بِلُطْفٍ وَ كَرَمٍ وَ اَزَاه۪يرُ لَطَائِفِ لُطْفِهِ وَ كَرَمِهِ وَ تَوَدُّدِهِ وَ تَعَرُّفِهِ بِرَحْمَةٍ وَ نِعْمَةٍ وَ ثَمَرَاتُ فَيَّاضِ رَحْمَتِهِ وَ نِعْمَتِهِ وَ تَرَحُّمِهِ وَ تَحَنُّنِهِ بِجَمَالِ وَ كَمَالِ وَ لَمَعَاتِ تَجَلِّيَاتِ جَمَالِهِ وَ كَمَالِهِ بِشَهَادَةِ تَفَانِيَةِ الْمَرَايَا وَ سَيَّالِيَّةِ الْمَظَاهِرِ مَعَ بَقَاءِ الْجَمَالِ الْمُجَرَّدِ
السَّرْمَدِىِّ الدَّائِمِ التَّجَلّ۪ى وَ الظُّهُورِ عَلٰى مَرِّ الْفُصُولِ وَ الْعُصُورِ وَ الدُّهُورِ وَ الدَّائِمِ اْلاِنْعَامِ عَلٰى مَرِّ اْلاَنَامِ وَ اْلاَيَّامِ وَ اْلاَعْوَامِ نَعَمْ فَاْلاَثَرُ الْمُكَمَّلُ يَدُلُّ لِذ۪ى عَقْلٍ عَلَى الْفِعْلِ الْمُكَمَّلِ ثُمَّ الْفِعْلُ الْمُكَمَّلُ يَدُلُّ لِذ۪ى فَهْمٍ عَلَى اْلاِسْمِ الْمُكَمَّلِ ثُمَّ اْلاِسْمُ الْمُكَمَّلُ يَدُلُّ بِالْبَدَاهَةِ عَلَى الْوَصْفِ الْمُكَمَّلِ ثُمَّ الْوَصْفُ الْمُكَمَّلُ يَدُلُّ بِالضَّرُورَةِ عَلَى الشَّاْنِ الْمُكَمَّلِ ثُمَّ الشَّاْنُ الْمُكَمَّلُ يَدُلُّ بِالْيَق۪ينِ عَلٰى كَمَالِ الذَّاتِ بِمَا يَل۪يقُ بِالذَّاتِ وَ هُوَ الْحَقُّ الْيَق۪ينُ
نَعَمْ تَفَانِى الْمِرْاٰةِ زَوَالُ الْمَوْجُودَاتِ مَعَ التَّجَلِّى الدَّائِمِ مَعَ الْفَيْضِ الْمُلاَزِمِ مِنْ اَظْهَرِ الظَّوَاهِرِ اَنَّ الْجَمَالَ الظَّاهِرَ لَيْسَ مُلْكَ الْمَظَاهِرِ مِنْ اَفْصَحِ تِبْيَانٍ مِنْ اَوْضَحِ بُرْهَانٍ لِلْجَمَالِ الْمُجَرَّدِ لِْلاِحْسَانِ الْمُجَدَّدِ لِلْوَاجِبِ الْوُجُودِ لِلْبَاقِى الْوَدُودِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مِنَ اْلاَزَلِ اِلَى اْلاَبَدِ عَدَدَ مَا فِى عِلْمِ اللّٰهِ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ وَ سَلِّمْ
--
Zeyl (Lampiran)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
[Lampiran kecil ini memiliki kepentingan yang besar. Ia bermanfaat bagi setiap orang.]
Jalan-jalan yang sampai kepada Allah sangatlah banyak. Seluruh jalan yang haq diambil dari Al-Qur'an. Akan tetapi sebagian tarekat lebih pendek, lebih selamat, dan lebih umum daripada yang lain. Di antara jalan-jalan itu, dengan pemahamanku yang terbatas, jalan yang kumanfaatkan dari Al-Qur'an adalah jalan "Ketidakmampuan, Kefakiran, Kasih Sayang, dan Tafakur" (acz, fakr, syafkat, tafakkur). Ya, ketidakmampuan pun, seperti asyik (cinta), bahkan suatu jalan yang lebih selamat, yang melalui jalan ubudiyah sampai kepada kekasihan (mahbubiyah). Kefakiran pun mengantar kepada nama Ar-Rahman. Kasih sayang pun, seperti asyik, bahkan suatu jalan yang lebih tajam lagi lebih luas, yang mengantar kepada nama Ar-Rahim. Tafakur pun, seperti asyik, bahkan suatu jalan yang lebih kaya, lebih cemerlang, lagi lebih luas, yang mengantar kepada nama Al-Hakim. Jalan ini, tidak seperti jalan-jalan tersembunyi berupa sepuluh langkah "Latâif-i Aşere", dan tidak pula seperti langkah-langkah yang ditapaki ke tujuh martabat "Nüfûs-u Seb'a" pada jalan jahri; melainkan hanya terdiri dari "Empat Langkah". Ia lebih merupakan hakikat dan syariat daripada tarekat. Jangan disalahpahami: maksudnya adalah melihat ketidakmampuan, kefakiran, dan cacat diri di hadapan Allah. Bukan melakukannya atau memperlihatkannya kepada orang. Adapun wirid jalan pendek ini adalah: mengikuti sunnah, mengerjakan yang fardu, meninggalkan dosa besar. Dan terutama mengerjakan salat dengan menyempurnakan rukun, serta menunaikan tasbih setelah salat.
Kepada Langkah Pertama, ayat فَلاَ تُزَكُّوٓا اَنْفُسَكُمْ (Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian) mengisyaratkan. Kepada Langkah Kedua, ayat وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذ۪ينَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰيهُمْ اَنْفُسَهُمْ (Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri) mengisyaratkan.
Kepada Langkah Ketiga, ayat مَٓا اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ وَمَٓا اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ (Kebaikan apa pun yang menimpamu adalah dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu adalah dari dirimu sendiri) mengisyaratkan.
Kepada Langkah Keempat, ayat كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ (Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya) mengisyaratkan. Penjelasan singkat empat langkah ini adalah:
Pada Langkah Pertama
Sebagaimana diisyaratkan ayat فَلاَ تُزَكُّوٓا اَنْفُسَكُمْ (Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian): tidak menyucikan nafsu. Sebab manusia, menurut watak dan fitrahnya, mencintai nafsunya. Bahkan pertama-tama dan secara langsung ia hanya mencintai dirinya, mengorbankan segala sesuatu demi nafsunya. Ia memuji nafsunya dengan cara yang layak bagi Ma'bud. Ia menyucikan dan membebaskan nafsunya dari cela dengan penyucian yang layak bagi Ma'bud. Sekuat mungkin ia tak memandang cacat layak bagi dirinya dan tak menerimanya. Ia membelanya dengan hebat laksana menyembah nafsunya. Bahkan dengan mencurahkan perangkat dan bakat — yang dititipkan dalam fitrahnya dan diberikan untuk pujian serta tasbih kepada Ma'bud yang hakiki — kepada nafsunya, ia memperoleh rahasia مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهُ هَوٰيهُ (orang yang menjadikan ilahnya adalah hawa nafsunya). Ia melihat dirinya, mengandalkan dirinya, mengagumi dirinya. Maka pada martabat ini, pada langkah ini, penyucian dan pembersihannya adalah: tidak menyucikannya, tidak membebaskannya (dari cela).
Pada Langkah Kedua
Sebagaimana ayat وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذ۪ينَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰيهُمْ اَنْفُسَهُمْ (Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri) memberi pelajaran: (nafsu) telah melupakan dirinya, tak tahu tentang dirinya. Jika ia memikirkan kematian, ia menyerahkannya kepada orang lain. Jika ia melihat kefanaan dan kelenyapan, ia tak mengambilnya untuk dirinya. Dan pada maqam beban serta khidmah melupakan nafsu, tetapi pada maqam menerima upah serta menikmati kesenangan memikirkan nafsu dengan hebat — inilah tuntutan nafsu ammarah. Pada maqam ini penyucian, pembersihan, dan pendidikannya adalah kebalikan keadaan itu. Yakni tidak melupakan (diri) di dalam melupakan nafsu. Yakni melupakan dalam kesenangan dan syahwat, dan memikirkan dalam kematian serta khidmah.
Pada Langkah Ketiga
Sebagaimana ayat مَٓا اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ وَمَٓا اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ (Kebaikan apa pun yang menimpamu adalah dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu adalah dari dirimu sendiri) memberi pelajaran: tuntutan nafsu adalah senantiasa menganggap kebaikan dari dirinya, lalu masuk ke kebanggaan dan ujub. Pada langkah ini: hanya melihat cacat, kekurangan, ketidakmampuan, dan kefakiran pada nafsunya; lalu memahami bahwa seluruh keindahan dan kesempurnaannya adalah nikmat yang dianugerahkan Sang Fâthir Dzul-Jalâl kepadanya, lalu bersyukur sebagai ganti kebanggaan dan memuji sebagai ganti memuji diri. Pada martabat ini penyuciannya, dengan rahasia قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰيهَا (Sungguh beruntung orang yang menyucikannya), adalah: mengetahui kesempurnaannya dalam ketidaksempurnaan, kudratnya dalam ketidakmampuan, kekayaannya dalam kefakiran.
Pada Langkah Keempat
Sebagaimana ayat كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ (Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya) memberi pelajaran: nafsu mengetahui dirinya bebas, mandiri, dan maujud dengan sendirinya. Ia mendakwakan sejenis rububiyah darinya. Ia mengemban suatu pembangkangan penuh permusuhan terhadap Ma'budnya. Maka dengan menyadari hakikat berikut, ia terbebas darinya. Hakikatnya demikian: setiap sesuatu, pada dirinya sendiri dengan makna isim, adalah fana, hilang, baru, lagi tiada. Akan tetapi dengan makna harfi, dari sisi mencerminkan asma Sang Pencipta Dzul-Jalâl dan dari segi bertugas, ia adalah saksi, tersaksikan, ditemukan, lagi maujud. Pada maqam ini penyucian dan pembersihannya adalah: pada wujudnya terdapat ketiadaan, dan pada ketiadaannya terdapat wujud. Yakni jika ia mengetahui dirinya lalu memberi wujud (kepada dirinya), ia berada di dalam kegelapan ketiadaan sebesar alam semesta. Yakni jika ia mengandalkan wujud pribadinya lalu lalai dari Sang Pengada Hakiki; laksana kunang-kunang, suatu cahaya wujud pribadinya berada dan tenggelam di dalam kegelapan ketiadaan serta perpisahan yang tak terhingga. Akan tetapi ketika ia meninggalkan keakuan, dan melihat bahwa nafsunya dengan sendirinya adalah nihil serta merupakan suatu cermin manifestasi Sang Pengada Hakiki, ia memperoleh seluruh makhluk dan suatu wujud yang tak terhingga. Sebab siapa yang menemukan Zat Yang Wajibul Wujud — yang seluruh makhluk menjadi manifestasi kilau asma-Nya — ia menemukan segala sesuatu.
Penutup (Hâtime)
Penjelasan empat langkah dalam jalan ketidakmampuan, kefakiran, kasih sayang, dan tafakur ini telah lewat dalam dua puluh enam Kalimat tentang ilmu hakikat, hakikat syariat, dan hikmah Al-Qur'an. Hanya di sini kami akan mengisyaratkan secara singkat satu dua poin. Yaitu demikian:
Ya, jalan ini lebih pendek. Sebab ia empat langkah. Ketidakmampuan, jika menarik tangannya dari nafsu, langsung menyerahkannya kepada Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Padahal asyik — jalan yang paling tajam — menarik tangan dari nafsu, tetapi berpegang pada kekasih majasi. Setelah menemukan kelenyapannya, barulah ia pergi kepada Kekasih Hakiki. Lagi pula jalan ini lebih selamat. Sebab tak ada dakwaan nafsu yang melampaui batas lagi melambung tinggi. Sebab ia tak menemukan pada nafsunya selain ketidakmampuan, kefakiran, dan cacat, sehingga melampaui batasnya. Lagi pula jalan ini lebih umum dan merupakan jalan raya terbesar. Sebab ia tak terpaksa — seperti ahli wahdatul wujud — menyangka alam semesta terhukum kepada peniadaan demi memperoleh hudur yang senantiasa, lalu berhukum "Lâ maujûde illâ Hû"; atau — seperti ahli wahdatusy syuhud — membayangkan alam semesta terpenjara dalam penjara pelupaan mutlak demi hudur yang senantiasa, lalu terpaksa berkata "Lâ meşhûde illâ Hû". Melainkan, karena Al-Qur'an dengan sangat jelas membebaskan (alam semesta) dari peniadaan dan pemenjaraan, ia pun berpaling dari itu, dan dengan memberhentikan makhluk dari khidmah atas nama diri mereka sendiri lalu mempekerjakannya atas nama Sang Fâthir Dzul-Jalâl, serta menggunakannya dalam tugas mencerminkan dan menjadi manifestasi asma husna-Nya, ia memandang mereka dengan pandangan makna harfi; lalu terbebas dari kelalaian mutlak dan masuk ke hudur yang senantiasa; menemukan suatu jalan kepada Allah pada segala sesuatu.
Kesimpulan
Yaitu memberhentikan makhluk dari khidmah atas nama makhluk, lalu tidak memandangnya dengan makna isim.
--