Mukadimah
Kelimat · hlm. 413
Banyak sekali ayat Al-Qur'an, seperti وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍٍ اِلاَّ ف۪ى كِتَابٍ مُب۪ينٍٍ (dan tiada sesuatu yang basah maupun kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata), menegaskan bahwa segala sesuatu telah tertulis sebelum wujudnya dan setelah wujudnya. Dan ayat-ayat Al-Qur'an besar kudrat yang disebut alam semesta ini pun membenarkan hukum Qur'ani ini dengan ayat-ayat tekwiniyahnya — seperti tatanan, timbangan, keteraturan, penggambaran, penghiasan, dan pemilahan. Ya, surat-surat tersusun dan ayat-ayat seimbang kitab alam semesta ini bersaksi bahwa segala sesuatu tertulis.
Adapun dalil bahwa segala sesuatu ditakdirkan dan tertulis sebelum wujudnya adalah seluruh benih, biji, ukuran, dan rupa; masing-masing adalah saksi. Sebab setiap benih dan biji adalah suatu kotak halus yang keluar dari bengkel "Kâf-Nûn" (Kün), yang kepadanya dititipkan suatu fihrist kecil yang digambar dengan takdir; sehingga kudrat, menurut geometri takdir itu, mempekerjakan partikel dan membangun mukjizat-mukjizat kudrat yang besar di atas benih kecil itu. Berarti seluruh peristiwa yang akan menimpa pohon itu berkedudukan tertulis di dalam bijinya. Sebab benih secara materiil sederhana, satu sama lain serupa; secara materiil tak ada apa pun.
Dan ukuran teratur setiap sesuatu memperlihatkan takdir dengan jelas. Ya, makhluk hidup mana pun yang dipandang, terlihat memiliki suatu ukuran, bentuk, dan rupa — seolah keluar dari suatu cetakan yang sangat penuh hikmah lagi berseni; sehingga untuk mengambil ukuran, rupa, dan bentuk itu, mestilah ada suatu cetakan materiil yang luar biasa lagi sangat berkelok-kelok, atau kudrat azali memotong dan mengenakan rupa serta bentuk itu dengan suatu cetakan maknawi ilmiah lagi seimbang yang datang dari takdir. Misalnya: pandanglah dengan saksama pohon dan hewan itu; partikel-partikel yang beku, tuli, buta, tak berkesadaran, dan serupa satu sama lain, bergerak dalam pertumbuhannya. Pada batas-batas tertentu yang berkelok, ia seolah mengenali, melihat, dan mengetahui tempat buah dan manfaat, lalu berhenti. Kemudian di tempat lain ia mengubah jalannya seolah mengejar suatu tujuan besar. Berarti partikel bergerak dengan ukuran maknawi yang datang dari takdir dan dengan perintah maknawi ukuran itu.
Oleh karena pada benda materiil yang terlihat pun terdapat manifestasi takdir sedemikian, sudah pasti rupa yang dikenakan benda seiring berlalunya zaman dan keadaan yang lahir dari gerakannya pun tunduk pada suatu keteraturan takdir. Ya, pada sebuah biji terdapat dua manifestasi takdir: satu, secara jelas mengabarkan dan mengisyaratkan "Kitab Mubin" yang merupakan gelaran iradah dan perintah tekwiniyah; satu lagi, secara teoretis mengabarkan dan menyiratkan "Imam Mubin" yang merupakan gelaran perintah dan ilmu Ilahi. Takdir yang jelas adalah keadaan, kondisi, dan bentuk materiil pohon yang terkandung dalam biji itu, yang kelak terlihat mata. Adapun yang teoretis adalah tahapan, keadaan, bentuk, gerakan, dan tasbih yang akan dilalui pohon — yang akan diciptakan dari biji itu — selama masa hidupnya; yakni tahapan, keadaan, bentuk, dan perbuatan yang berubah dari waktu ke waktu, yang disebut riwayat hidup; masing-masing memiliki suatu ukuran takdiri yang teratur laksana dahan dan daun pohon itu. Oleh karena pada benda yang paling hina dan sederhana pun terdapat manifestasi takdir demikian, sudah pasti ini mengungkapkan bahwa seluruh benda tertulis sebelum wujudnya, dan dipahami dengan sedikit kesaksamaan.
Kini, adapun dalil bahwa riwayat hidup setiap sesuatu tertulis setelah wujudnya adalah: seluruh buah di alam yang mengabarkan "Kitab Mubin" dan "Imam Mubin", serta seluruh daya ingat pada manusia yang mengabarkan dan mengisyaratkan "Lauhul Mahfuz" — masing-masing adalah saksi dan tanda. Ya, setiap buah, seluruh takdir kehidupan pohon tertulis di dalam bijinya yang berkedudukan sebagai kalbunya. Riwayat hidup manusia beserta sebagian peristiwa masa lampau alam tertulis dalam daya ingatnya dengan cara sedemikian, sehingga seolah tangan kudrat, dengan pena takdir, menyalin suatu sertifikat kecil dari lembaran amal manusia ke dalam daya sekecil biji sawi ini, lalu memberikannya ke tangan manusia dan meletakkannya di saku otaknya. Agar pada waktu perhitungan Ia mengingatkan dengannya. Dan agar ia tenteram bahwa: di tengah kekacauan kefanaan dan kelenyapan ini terdapat banyak cermin, yang padanya Sang Mahakuasa lagi Mahabijaksana menggambar dan mengekalkan identitas yang lenyap. Dan demi kekekalan terdapat banyak lembaran, yang padanya Sang Maha Pemelihara lagi Maha Mengetahui menuliskan makna yang fana.
Kesimpulan: Oleh karena kehidupan tumbuhan yang merupakan derajat kehidupan paling sederhana dan paling rendah pun tunduk sedemikian pada tatanan takdir, sudah pasti kehidupan insani yang merupakan derajat kehidupan tertinggi digambar dengan mistar takdir dan ditulis dengan penanya beserta seluruh perinciannya. Ya, sebagaimana tetesan mengabarkan awan, percikan memperlihatkan sumber air, sertifikat dan dompet mengisyaratkan wujud suatu buku besar; demikian pula buah, nutfah, benih, biji, rupa, dan bentuk — yang berkedudukan sebagai percikan, tetesan, sertifikat, dan dompet dari takdir jelas berupa keteraturan materiil dan takdir teoretis berupa keteraturan maknawi serta kehidupan pada makhluk hidup yang kita saksikan — dengan jelas memperlihatkan buku iradah dan perintah tekwiniyah yang disebut "Kitab Mubin", serta Lauhul Mahfuz yang merupakan diwan ilmu Ilahi yang disebut "Imam Mubin".
Hasil maksud: Oleh karena secara nyata kita melihat bahwa pada masa pertumbuhan setiap makhluk hidup, partikel-partikelnya berjalan ke batas-batas berkelok lalu berhenti, mengubah jalannya, dan di ujung batas-batas itu membuahkan suatu hikmah, manfaat, dan maslahat; dengan jelas ukuran lahiriah benda itu digambar dengan pena takdir. Maka takdir jelas yang tersaksikan itu memperlihatkan bahwa keadaan maknawi makhluk hidup itu pun memiliki batas-batas teratur lagi berbuah yang digambar dengan pena takdir. Kudrat adalah sumber, takdir adalah mistar (penggaris). Kudrat menuliskan kitab makna itu di atas mistar itu. Oleh karena kita mengetahui secara pasti bahwa terdapat batas-batas berbuah dan ujung-ujung penuh hikmah yang digambar dengan pena takdir materiil dan maknawi, sudah pasti keadaan dan tahapan yang akan dilalui setiap makhluk hidup selama masa hidupnya digambar dengan pena takdir itu. Sebab riwayat hidupnya berlangsung dengan suatu keteraturan dan timbangan; ia mengubah rupa, mengambil bentuk. Oleh karena pena takdir berkuasa demikian pada seluruh makhluk hidup, sudah pasti riwayat hidup manusia — buah paling sempurna alam, khalifah bumi, dan pengemban amanah terbesar — lebih daripada segala sesuatu tunduk pada undang-undang takdir.
Jika engkau berkata: "Takdir telah mengikat kita demikian. Ia menghapus kebebasan kita. Bukankah iman kepada takdir memberi suatu beban dan kesempitan bagi kalbu dan ruh yang rindu akan keluasan dan pengembaraan?"
Jawaban: Sekali-kali dan sama sekali tidak!.. Ia tidak memberi kesempitan; sebaliknya ia memberi suatu keringanan tak terhingga, kenyamanan, keharuman, serta suatu kegembiraan dan cahaya yang menjamin keamanan. Sebab jika manusia tidak beriman kepada takdir, ia terpaksa memikul beban seberat dunia di pundak ruhnya yang malang, dalam suatu kebebasan parsial di lingkaran kecil dan kemerdekaan sementara. Sebab manusia berkaitan dengan seluruh alam semesta. Ia memiliki maksud dan tuntutan tak terhingga. Karena kudrat, iradah, dan kebebasannya tak mencukupi satu dari sejuta, dapat dipahami betapa dahsyat lagi menakutkan beban kesempitan maknawi yang ia tanggung. Maka iman kepada takdir mencampakkan seluruh beban itu ke kapal takdir, lalu memberi kenyamanan sempurna serta medan bagi pengembaraan bebas ruh dan kalbu dalam kesempurnaannya, dengan kemerdekaan sempurna. Ia hanya menghapus kebebasan parsial nafsu ammarah, serta mematahkan kefiraunan, pengakuan rububiyah, dan tindakan sesuka hatinya. Iman kepada takdir begitu lezat lagi membahagiakan sehingga tak dapat digambarkan. Kami hanya akan mengisyaratkan kelezatan dan kebahagiaan itu dengan perumpamaan berikut. Yaitu demikian:
Dua orang pergi ke ibu kota kerajaan seorang raja. Mereka masuk ke istana khusus raja itu yang penuh keajaiban. Yang satu tak mengenal raja; ia ingin bertempat tinggal di sana secara merampas lagi mencuri. Akan tetapi ia melihat beban menyusahkan yang dituntut kebun dan istana itu — seperti pengaturan, pengelolaan, pemasukan, menjalankan mesin, dan memberi makanan hewan-hewan ajaib — lalu ia terus-menerus menderita. Kebun yang laksana surga itu menjadi laksana neraka baginya. Ia mengasihani segala sesuatu, tak dapat mengelolanya, menghabiskan waktu dengan penyesalan. Kemudian pencuri tak beradab itu dicampakkan ke penjara sebagai hukuman. Orang kedua mengenal raja, mengetahui dirinya sebagai tamu raja. Ia meyakini bahwa seluruh pekerjaan di kebun dan istana itu berlangsung dengan suatu tatanan undang-undang, dan bahwa segala sesuatu bekerja dengan suatu aturan dengan kemudahan yang sempurna. Ia menyerahkan kesukaran dan beban kepada undang-undang raja, lalu dengan kesenangan sempurna memanfaatkan seluruh kelezatan kebun laksana surga itu; dengan bersandar pada rahmat raja dan keindahan undang-undang pengelolaannya, ia memandang baik segala sesuatu, dan menjalani hidup dengan kelezatan serta kebahagiaan yang sempurna. Maka pahamilah rahasia مَنْ اٰمَنَ بِالْقَدَرِ اَمِنَ مِنَ الْكَدَرِ (Barangsiapa beriman kepada takdir, ia aman dari kegundahan).