Pembahasan Kedua
Kelimat · hlm. 320
Terdiri dari lima nükte yang menjadi tumpuan kebahagiaan dan kesengsaraan manusia.
[Karena manusia diciptakan dalam ahsan-i taqwîm (sebaik-baik bentuk) dan diberi kepadanya potensi yang teramat menghimpun; ia dilemparkan ke suatu medan ujian di mana ia dapat naik dan dapat jatuh menembus maqam-maqam, martabat-martabat, derajat, dan derqat (tingkat-tingkat terendah) yang terbentang dari esfel-i sâfilîn hingga a'lâ-yi illiyyîn, dari bumi hingga arasy, dari zarah hingga matahari; dan ia dikirim ke dunia ini sebagai mukjizat kudrat, buah penciptaan, lagi keajaiban seni, dengan terbukanya di hadapannya dua jalan yang menuju penurunan tak terhingga dan pendakian tak terhingga. Maka rahasia pendakian dan penurunan manusia yang dahsyat ini akan kami paparkan dalam "Lima Nükte".]
Nükte Pertama
Manusia membutuhkan dan berhubungan dengan sebagian besar jenis makhluk alam semesta. Kebutuhannya tersebar ke seluruh penjuru alam, keinginannya terulur hingga keabadian... Sebagaimana ia menginginkan sekuntum bunga, ia pun menginginkan seluruh musim semi. Sebagaimana ia menghasratkan sebuah taman, ia pun menghasratkan surga yang abadi. Sebagaimana ia rindu memandang seorang sahabat, ia pun rindu memandang Sang Jamîl Dzul-Jalâl. Sebagaimana untuk mengunjungi seorang kekasih yang berada di kediaman lain ia perlu membuka pintu kediaman itu; demikian pula, untuk mengunjungi sembilan puluh sembilan persen kekasihnya yang telah berpindah ke barzakh, dan untuk selamat dari perpisahan abadi, ia membutuhkan untuk berlindung ke hadirat Sang Qadîr Mutlak — Yang akan menutup pintu dunia yang besar ini dan membuka pintu akhirat yang merupakan padang perhimpunan penuh keajaiban, Yang akan mengangkat dunia dan menegakkan akhirat di tempatnya. Maka bagi manusia dalam keadaan seperti ini, yang dapat menjadi Sembahan hakiki hanyalah: Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Rahîm Dzul-Jamâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl — Yang kendali segala sesuatu di tangan-Nya, khazanah segala sesuatu di sisi-Nya, Yang mengawasi di samping segala sesuatu, hadir di setiap tempat, tersucikan dari tempat, terbebas dari ketidakberdayaan, mahasuci dari cacat, lagi mahatinggi dari kekurangan. Sebab yang dapat memenuhi hajat insani yang tak terhingga hanyalah pemilik kudrat yang tak terhingga dan ilmu yang meliputi. Maka yang layak disembah hanyalah Dia.
Maka wahai manusia! Jika engkau menghambakan diri hanya kepada-Nya, engkau memperoleh suatu kedudukan di atas seluruh makhluk. Jika engkau enggan dari ubudiyah, engkau menjadi hamba hina bagi makhluk-makhluk yang tak berdaya. Jika engkau bersandar pada keakuan dan kemampuanmu, meninggalkan tawakal dan doa, lalu terjerumus ke dalam keangkuhan dan pendakuan; maka ketika itu, dari sisi kebaikan dan pengadaan, engkau jatuh lebih rendah daripada lebah dan semut, lebih lemah daripada laba-laba dan lalat. Dari sisi keburukan dan perusakan; engkau menjadi lebih berat daripada gunung, lebih membahayakan daripada wabah.
Ya, wahai manusia! Pada dirimu ada dua sisi: yang pertama, sisi pengadaan, pengwujudan, kebaikan, hal positif, dan perbuatan. Yang lain; sisi perusakan, ketiadaan, keburukan, penafian, dan kepasifan. Dari segi sisi pertama; engkau lebih rendah daripada lebah dan burung pipit.. lebih lemah daripada lalat dan laba-laba. Dari segi sisi kedua; engkau melampaui gunung, bumi, dan langit. Engkau memikul suatu beban yang dari memikulnya mereka mengelak dan menampakkan ketidakberdayaan. Engkau mengambil suatu lingkaran yang lebih luas lagi lebih besar daripada mereka. Sebab tatkala engkau berbuat baik dan mengadakan, engkau hanya dapat berbuat baik dan mengadakan sekadar keluasanmu, sejauh jangkauan tanganmu, dan setingkat kemampuan kekuatanmu. Namun jika engkau berbuat buruk dan merusak, maka ketika itu keburukanmu meluas dan perusakanmu menyebar.
Misalnya: kekufuran adalah suatu keburukan, suatu perusakan, suatu ketiadaan pembenaran. Namun satu keburukan itu mengandung pelecehan terhadap seluruh alam semesta, penghinaan terhadap seluruh asma Ilahi, dan perendahan terhadap seluruh kemanusiaan. Sebab wujud-wujud ini memiliki maqam yang tinggi dan tugas yang penting. Karena mereka adalah surat-surat Rabbâni, cermin-cermin Subhâni, dan petugas-petugas Ilahi. Adapun kekufuran; sebagaimana ia menjatuhkan mereka dari maqam sebagai cermin, sebagai pengemban tugas, dan sebagai pengemban makna ke derqat sebagai mainan kesia-siaan dan kebetulan, ke materi fana yang cepat rusak dan berubah oleh perusakan kelenyapan serta perpisahan, dan ke martabat ketiadaan arti, ketiadaan nilai, serta kehampaan; demikian pula ia mengingkari sekaligus melecehkan asma Ilahi yang ukiran, manifestasi, dan keindahannya tampak di seluruh alam semesta dan di cermin-cermin wujud. Dan ia melemparkan pemilik martabat khilafah di bumi — yang dengan memikul amanah terbesar, dan sebagai mukjizat kudrat cemerlang yang bagaikan biji menghimpun perangkat sebuah pohon abadi serta menjadi kasidah hikmah yang tersusun indah dan memaklumkan dengan elok seluruh manifestasi asma kudus Ilahi, yang disebut kemanusiaan, yang mengungguli bumi, langit, dan gunung, serta memperoleh keutamaan atas para malaikat — ke suatu derqat yang lebih hina, lebih lemah, lebih tak berdaya, lagi lebih fakir daripada hewan fana yang paling hina lagi paling cepat lenyap. Dan ia menurunkannya ke derqat sekeping lukisan biasa yang tak bermakna, kacau-balau, lagi cepat rusak.
Kesimpulannya
Nafsu ammârah dapat melakukan kejahatan tak terhingga di sisi perusakan dan keburukan, namun kemampuannya di sisi pengadaan dan kebaikan teramat sedikit lagi parsial. Ya, ia merobohkan sebuah rumah dalam sehari, namun tak dapat membangunnya dalam seratus hari. Akan tetapi jika ia meninggalkan keakuan, memohon kebaikan dan pengwujudan dari taufik Ilahi, meninggalkan keburukan, perusakan, serta penyandaran pada nafsu, lalu — dengan beristigfar — menjadi hamba yang sempurna; maka ketika itu ia menjadi wadah bagi rahasia ayat:
يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
Potensi keburukan yang tak terhingga padanya berubah menjadi potensi kebaikan yang tak terhingga. Ia memperoleh nilai ahsan-i taqwîm, ia naik ke a'lâ-yi illiyyîn.
Maka wahai manusia yang lalai! Pandanglah karunia dan kemurahan Cenâb-ı Haq! Padahal — sementara menulis satu keburukan menjadi seribu dan menulis satu kebaikan hanya sekali atau tak menulisnya sama sekali adalah keadilan — Dia menulis satu keburukan sebagai satu, dan menulis satu kebaikan sepuluh, kadang tujuh puluh, kadang tujuh ratus, kadang tujuh ribu. Dan pahamilah dari nokta ini bahwa: masuk ke dalam Jahannam yang mengerikan itu adalah balasan amal, itulah keadilan itu sendiri. Namun masuk ke dalam surga adalah semata-mata karunia.
Nükte Kedua
Pada manusia ada dua wajah. Yang pertama, dari sisi keakuan, menghadap ke kehidupan dunia ini. Yang lain, dari sisi ubudiyah, memandang ke kehidupan abadi. Dari segi wajah pertama, ia adalah makhluk malang yang: modalnya hanya sebuah juz kehendak yang parsial bagaikan sehelai rambut dari ikhtiar, sebuah usaha yang lemah dari kemampuan, sebuah nyala yang cepat padam dari kehidupan, sepenggal waktu yang cepat berlalu dari umur, dan sebuah jasad kecil yang cepat lapuk dari keberadaan. Bersama keadaan itu ia berada sebagai satu individu yang lembut lagi lemah di antara individu-individu tak terhitung dari jenis-jenis tak terhingga yang terhampar di lapis-lapis alam semesta.
Dari segi wajah kedua, dan terutama dari sisi ketidakberdayaan dan kefakiran yang menghadap kepada ubudiyah, ia memiliki keluasan yang teramat besar dan kepentingan yang teramat besar. Sebab Sang Fâthir Yang Mahabijaksana telah menanamkan dalam hakikat maknawi manusia suatu ketidakberdayaan yang tak terhingga besarnya dan kefakiran yang tak terhingga luasnya. Agar ia menjadi cermin luas yang menghimpun manifestasi tak terhingga dari suatu Zat Yang kudrat-Nya adalah Qadîr Rahîm yang tak terhingga dan kekayaan-Nya adalah Ghanî Karîm yang tak terhingga.
Ya, manusia menyerupai sebutir biji. Sebagaimana kepada biji itu diberikan perangkat maknawi yang penting dari kudrat, dan program yang halus lagi berharga dari takdir. Agar ia bekerja di bawah tanah, lalu keluar dari alam sempit itu, masuk ke alam udara yang luas, memohon kepada Penciptanya dengan lisan potensi agar menjadi sebatang pohon, dan menemukan kesempurnaan yang layak bagi dirinya. Sekiranya biji itu, karena buruk perangainya, menghabiskan perangkat maknawi yang diberikan kepadanya untuk menarik sebagian zat berbahaya di bawah tanah; niscaya di tempat sempit itu, dalam waktu singkat, ia membusuk sia-sia lalu melapuk. Sekiranya biji itu menaati perintah penciptaan (emr-i tekvînî) dari:
فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوٰى
lalu menggunakan perangkat maknawinya dengan sebaik-baiknya; niscaya ia keluar dari alam sempit itu, dan dengan menjadi sebatang pohon besar nan berbuah, hakikat parsialnya yang mungil dan ruh maknawinya akan memperoleh rupa suatu hakikat menyeluruh yang besar. Maka persis seperti itu pula; ke dalam hakikat manusia telah dititipkan perangkat penting dari kudrat dan program-program berharga dari takdir. Sekiranya manusia, di alam bumi yang sempit ini, di bawah tanah kehidupan dunia, menghabiskan perangkat maknawinya untuk hawa nafsu; niscaya seperti biji yang rusak, demi kenikmatan parsial, dalam umur pendek, di tempat sempit, dan dalam keadaan penuh derita, ia membusuk lalu melapuk, memikulkan tanggung jawab maknawi ke atas ruhnya yang celaka, lalu ia pun berpindah pergi dari dunia ini.
Sekiranya ia mendidik biji potensi itu dengan air keislaman, dengan cahaya iman, di bawah tanah ubudiyah, seraya menaati perintah-perintah Al-Qur'an dan mengarahkan perangkat maknawinya kepada tujuan-tujuannya yang hakiki; niscaya ia akan menjadi sebutir biji berharga yang menghimpun perangkat sebuah pohon abadi dan hakikat yang lestari — yang akan mengeluarkan dahan dan ranting di alam mitsal dan barzakh, serta menjadi tumpuan kesempurnaan dan nikmat tak terhingga di alam akhirat dan surga — dan menjadi sebuah mesin yang berkilau serta buah yang penuh berkah lagi bercahaya dari pohon alam semesta ini.
Ya, adapun kemajuan hakiki adalah: kalbu, sir, ruh, akal, bahkan khayal dan seluruh daya lain yang diberikan kepada manusia memalingkan wajahnya kepada kehidupan abadi, dan masing-masing sibuk dengan suatu tugas ubudiyah khusus yang layak bagi dirinya. Adapun yang disangka kemajuan oleh ahli kesesatan — yaitu memasuki seluruh seluk-beluk kehidupan dunia dan mencicipi segala ragam kenikmatannya, bahkan yang paling rendah, dengan menundukkan seluruh perasaan halus, kalbu, dan akalnya kepada nafsu ammârah serta menjadikannya pembantu — itu bukanlah kemajuan, melainkan kejatuhan. Hakikat ini kulihat dalam sebuah peristiwa khayali, dalam suatu perumpamaan demikian:
Aku memasuki sebuah kota besar. Kulihat, di kota itu ada istana-istana besar. Aku memandang ke pintu sebagian istana; ada suatu daya tarik memikat perhatian bagai panggung sandiwara yang amat semarak lagi cemerlang, yang menghibur setiap orang. Kuperhatikan bahwa tuan istana itu telah datang ke pintu, sedang bermain dengan anjing dan membantunya bermain. Para nyonya bercakap-cakap manis dengan pemuda-pemuda liar. Gadis-gadis yang telah dewasa pun mengatur permainan anak-anak. Penjaga pintu juga mengambil gaya seorang aktor, seakan memerintah mereka. Ketika itu kupahami bahwa bagian dalam istana besar itu kosong-melompong. Seluruh tugas mulia terbengkalai. Akhlak mereka telah jatuh, hingga di pintu mereka mengambil rupa demikian.
Kemudian aku berlalu, dan kujumpai sebuah istana besar yang lain. Kulihat; di pintu ada seekor anjing setia yang menjulur, seorang penjaga pintu yang kasar, keras, lagi tenang, serta suasana yang redup. Aku heran. Mengapa yang itu begitu? Yang ini begini? Aku masuk ke dalam. Kulihat, bagian dalamnya sangat semarak... Lapis demi lapis, penghuni istana sibuk dengan tugas-tugas mulia yang berbeda-beda. Orang-orang di lapis pertama mengurus pengaturan dan penatalaksanaan istana. Di lapis atasnya, gadis-gadis dan anak-anak membaca pelajaran. Di atasnya lagi, para nyonya menyibukkan diri dengan seni-seni yang halus dan ukiran-ukiran yang indah. Di paling atas, kulihat sang tuan sibuk — demi menjamin ketenteraman rakyat dan demi kesempurnaan serta kemajuan dirinya sendiri — dengan tugas-tugas luhur yang khas baginya, seraya berkomunikasi dengan sang raja. Karena aku tak tampak oleh mereka, mereka tak berkata "Dilarang", maka aku dapat berkeliling. Kemudian aku keluar, dan kupandang. Di setiap penjuru kota itu ada dua macam istana ini. Aku bertanya, mereka menjawab: "Istana-istana yang pintunya semarak namun dalamnya kosong itu milik para pembesar orang kafir dan ahli kesesatan. Yang lain, milik para pembesar muslim yang terhormat." Kemudian di sebuah sudut kujumpai sebuah istana. Di atasnya kulihat tertera nama "Said". Aku heran. Kuperhatikan lebih saksama, seakan kulihat rupaku sendiri tertera di atasnya. Karena keheranan yang memuncak aku berteriak, lalu akalku pulih, dan aku pun tersadar.
Maka peristiwa khayali itu akan kutakwilkan untukmu. Semoga Allah menjadikannya kebaikan.
Adapun kota itu adalah kehidupan sosial umat manusia dan negeri peradaban insani. Masing-masing istana itu adalah seorang manusia. Adapun penghuni istana itu adalah: perasaan-perasaan halus (latîfe) seperti mata, telinga, kalbu, sir, ruh, dan akal pada manusia, serta hal-hal seperti nafsu, hawa, daya syahwat, dan daya amarah. Pada setiap manusia, tiap-tiap latîfe memiliki tugas ubudiyah yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki kelezatan dan penderitaan yang berbeda-beda. Adapun nafsu dan hawa, daya syahwat dan amarah, kedudukannya bagaikan penjaga pintu dan anjing. Maka menundukkan latîfe-latîfe yang tinggi itu kepada nafsu dan hawa, serta membuatnya melupakan tugas-tugas asasinya, sudah pasti adalah kejatuhan, bukan kemajuan. Sisi-sisi selebihnya dapat engkau takwilkan sendiri.
Nükte Ketiga
Manusia, dari sisi perbuatan dan amal serta dari segi usaha materi, adalah hewan yang lemah, makhluk yang tak berdaya. Lingkaran penguasaan dan kepemilikannya di sisi itu begitu sempit, hingga ia hanya menjangkau apa yang dapat diraih tangannya bila ia mengulurkannya. Bahkan, hewan-hewan jinak yang menyerahkan kendalinya ke tangan manusia pun telah mengambil bagian dari kelemahan, ketidakberdayaan, dan kemalasan manusia; sehingga tatkala dibandingkan dengan sesamanya yang liar, tampaklah perbedaan yang teramat besar (seperti kambing dan sapi jinak dibandingkan kambing dan sapi liar). Namun manusia itu, dari sisi kepasifan, penerimaan, doa, dan permohonan, adalah musafir mulia di penginapan dunia ini. Dan ia telah menjadi tamu seorang Yang Mahamulia (Karîm) yang telah membuka baginya khazanah rahmat yang tak terhingga. Dan Dia telah menundukkan baginya karya-karya-Nya yang tak terhitung nan menakjubkan serta para pelayan-Nya. Dan bagi kesenangan, penyaksian, dan pengambilan manfaat tamu itu, Dia telah membuka lagi menyiapkan suatu lingkaran yang demikian besar, hingga jari-jari lingkaran itu — yakni dari pusat hingga garis kelilingnya — seluas jangkauan mata, bahkan sejauh perginya khayal; sedemikian luas lagi panjang.
Maka jika manusia bersandar pada keakuannya, menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan angan-angannya, lalu bekerja demi sebagian kenikmatan sementara di tengah keresahan mencari nafkah; niscaya ia tenggelam lenyap di dalam lingkaran yang teramat sempit. Seluruh perangkat, alat, dan latîfe yang diberikan kepadanya akan mengadukannya, dan pada hari kebangkitan akan bersaksi melawannya serta menjadi penuntutnya. Namun jika ia mengetahui dirinya sebagai tamu, lalu menghabiskan modal umurnya dalam lingkaran izin Zat Yang Mahamulia — tempat ia bertamu — niscaya ia bekerja dengan baik demi kehidupan abadi yang panjang di dalam lingkaran yang demikian luas, lalu ia bernapas dan beristirahat. Kemudian ia dapat pergi hingga a'lâ-yi illiyyîn. Lagi pula seluruh perangkat dan alat yang diberikan kepada manusia ini, dengan rida, akan bersaksi di akhirat demi kebaikannya.
Ya, seluruh perangkat menakjubkan yang diberikan kepada manusia bukanlah untuk kehidupan dunia yang tak berarti ini; melainkan diberikan untuk suatu kehidupan kekal yang teramat penting. Sebab jika kita membandingkan manusia dengan hewan, kita melihat bahwa: manusia, dari segi perangkat dan alat, teramat kaya. Ia seratus derajat lebih unggul daripada hewan. Namun dalam kenikmatan kehidupan dunia dan dalam penghidupan hewaninya, ia jatuh seratus derajat lebih rendah. Sebab pada setiap kenikmatan yang ia rasakan, terdapat jejak suatu penderitaan. Penderitaan masa lampau, ketakutan masa depan, dan penderitaan lenyapnya setiap kenikmatan itu sendiri, merusak kesenangannya lalu meninggalkan jejak pada kenikmatannya. Namun hewan tidaklah demikian. Ia meraih kenikmatan tanpa penderitaan, dan merasakan kesenangan tanpa kepedihan. Tak ada penderitaan masa lampau yang menyakitinya, tak pula ketakutan masa depan yang mengusiknya. Ia hidup dengan tenang, berbaring, dan bersyukur kepada Penciptanya.
Dengan demikian manusia — yang diciptakan dalam rupa ahsan-i taqwîm — jika ia membatasi pikirannya pada kehidupan dunia; sementara ia dari segi modal seratus derajat lebih tinggi daripada hewan, ia justru jatuh seratus derajat lebih rendah daripada seekor hewan seperti burung pipit. Di tempat lain aku telah menjelaskan hakikat ini dengan sebuah perumpamaan. Karena munasabahnya datang, kuulangi lagi perumpamaan itu. Yaitu demikian:
Seorang lelaki memberi pelayannya sepuluh keping emas dan memerintahkan: "Buatkanlah sepasang pakaian dari kain istimewa ini." Kepada yang kedua ia memberi seribu keping emas, memasukkan ke saku pelayan itu sehelai catatan berisi beberapa perintah tertulis, lalu mengirimnya ke pasar. Pelayan pertama, dengan sepuluh keping emas, membeli sepasang pakaian sempurna dari kain terbaik. Adapun pelayan kedua berlaku dungu, memandang pelayan pertama, tanpa membaca catatan hitungan yang dimasukkan ke sakunya, ia memberikan seribu keping emas kepada seorang pemilik kedai untuk meminta sepasang pakaian. Pemilik kedai yang tak berperi itu pun memberinya sepasang pakaian dari kain yang paling lapuk. Pelayan malang itu datang ke hadapan tuannya, menerima teguran keras, dan merasakan azab yang mengerikan. Maka orang yang memiliki kesadaran sekecil apa pun tahu bahwa seribu keping emas yang diberikan kepada pelayan kedua bukanlah untuk membeli sepasang pakaian. Melainkan untuk suatu perniagaan yang penting.
Persis seperti itu pula: perangkat maknawi dan latîfe insani pada manusia, yang masing-masingnya seratus derajat lebih berkembang dibanding hewan. Misalnya; di mana mata manusia yang membedakan seluruh tingkat keindahan, dan indra pengecap lidah manusia yang membedakan seluruh cita rasa khas beraneka ragam makanan, dan akal manusia yang menembus seluruh seluk-beluk hakikat, dan kalbu manusia yang merindukan seluruh jenis kesempurnaan, beserta perangkat dan alat lainnya? Di mana pula alat-alat hewan yang teramat sederhana, yang hanya berkembang satu-dua tingkat? Hanya saja ada perbedaan sekian: hewan berkembang lebih pesat dalam suatu amal khas baginya (suatu perangkat khusus yang hanya ada pada hewan itu). Namun perkembangan itu bersifat khusus.
Kekayaan manusia dari segi perangkat berasal dari rahasia ini: dengan sebab akal dan pikiran, indra serta perasaan manusia memperoleh perkembangan dan pemekaran yang lebih besar. Dan dengan sebab banyaknya kebutuhan, timbullah beraneka ragam perasaan. Dan kepekaannya sangat beragam. Dan dengan sebab kemenghimpunan fitrahnya, ia menjadi tumpuan bagi hasrat-hasrat yang menghadap kepada maksud yang teramat banyak. Dan dengan sebab banyaknya tugas fitrinya, alat dan perangkatnya memperoleh pemekaran yang lebih besar. Dan karena ia diciptakan dalam fitrah yang berbakat bagi seluruh jenis ibadah, maka diberikan kepadanya potensi yang menghimpun benih-benih seluruh kesempurnaan. Maka kekayaan perangkat dan banyaknya modal sedemikian rupa, sudah pasti tidak diberikan untuk meraih kehidupan dunia yang sementara lagi tak berarti ini. Melainkan tugas asasi manusia semacam itu adalah: menunaikan tugas-tugasnya yang menghadap kepada maksud tak terhingga, memaklumkan ketidakberdayaan, kefakiran, dan kekurangannya dalam rupa ubudiyah, menyaksikan tasbih seluruh wujud dengan pandangan menyeluruh lalu bersaksi atasnya, melihat pertolongan Rahmâni di tengah nikmat-nikmat lalu bersyukur, dan menyaksikan mukjizat kudrat Rabbâni pada karya-karya-Nya lalu bertafakur dengan pandangan penuh ibrah.
Wahai manusia pemuja dunia, yang mencintai kehidupan dunia, lagi lalai dari rahasia ahsan-i taqwîm! Hakikat kehidupan dunia ini telah dilihat oleh Said Lama dalam sebuah peristiwa khayali. Dengarlah peristiwa perumpamaan ini, yang telah mengubahnya menjadi Said Baru:
Kulihat bahwa aku seorang musafir. Aku menempuh perjalanan yang panjang. Yakni aku sedang dikirim. Zat yang menjadi tuanku memberiku secara bertahap sejumlah uang dari enam puluh keping emas yang telah Ia khususkan bagiku. Aku pun membelanjakannya lalu tiba di sebuah penginapan yang teramat menghibur. Di penginapan itu, dalam satu malam, kubelanjakan sepuluh keping emas untuk judi dan sejenisnya, untuk hiburan, dan untuk jalan mengejar ketenaran. Pada pagi harinya tak sekeping uang pun tersisa di tanganku. Tak dapat kulakukan suatu perniagaan. Tak dapat kubeli suatu bekal untuk tempat yang kutuju. Hanya penderitaan, dosa, serta luka dan lebam, dan kepedihan yang timbul dari hiburan itu, yang tersisa di tanganku dari uang tersebut. Tiba-tiba, sementara aku dalam keadaan pilu itu, muncullah di sana seorang lelaki. Ia berkata kepadaku: "Engkau telah menyia-nyiakan seluruh modalmu. Engkau pun layak menerima tamparan. Engkau akan pergi ke tempat tujuanmu dengan tangan hampa sebagai orang pailit. Namun jika engkau berakal, pintu tobat terbuka. Setelah ini, dari lima belas keping emas yang tersisa yang akan diberikan kepadamu, setiap kali sebagian sampai ke tanganmu, simpanlah separuhnya sebagai cadangan. Yakni belilah beberapa hal yang akan engkau perlukan di tempat tujuanmu." Kulihat nafsuku tak rela. "Sepertiganya," katanya. Nafsuku pun tak menaatinya. Lalu "Seperempatnya," katanya. Kulihat nafsuku tak sanggup meninggalkan kebiasaan yang telah menjeratnya. Lelaki itu pun memalingkan wajahnya dengan geram lalu pergi.
Tiba-tiba keadaan itu berubah. Kulihat bahwa aku berada di dalam sebuah kereta api yang melaju kencang seakan terjun di dalam terowongan. Aku panik. Namun apa daya, tak dapat melarikan diri ke mana pun. Anehnya, di kedua sisi kereta api itu tampak bunga-bunga yang teramat memikat dan buah-buahan yang lezat. Aku pun, seperti orang canggung yang tak berakal, memandangnya lalu mengulurkan tanganku. Kuusahakan memetik bunga-bunga itu dan mengambil buah-buah itu. Namun bunga-bunga dan buah-buah itu berduri; saat kusentuh ia menusuk tanganku, membuatnya berdarah. Dengan melajunya kereta, karena berpisah darinya, ia mengoyak tanganku, lalu menjadi teramat mahal bagiku. Tiba-tiba seorang petugas di kereta itu berkata: "Berilah lima kuruş, akan kuberikan kepadamu bunga dan buah itu sebanyak yang engkau mau. Alih-alih lima kuruş, dengan terkoyaknya tanganmu engkau merugi seratus kuruş. Lagi pula ada hukuman, engkau tak boleh memetiknya tanpa izin." Tiba-tiba, karena resah kapankah terowongan ini berakhir, kujulurkan kepalaku lalu kupandang ke depan. Kulihat bahwa alih-alih pintu terowongan, tampaklah banyak lubang. Dari kereta yang panjang itu, orang-orang dilemparkan ke lubang-lubang itu. Kulihat sebuah lubang tepat di hadapanku. Di kedua sisinya tertancap dua batu nisan. Dengan penasaran kuperhatikan saksama. Kulihat di batu nisan itu tertulis nama "Said" dengan huruf-huruf besar. Karena sedih lagi heran, "Aduh!" kataku. Tiba-tiba kudengar suara zat yang menasihatiku di pintu penginapan tadi. Ia berkata: "Sudah pulihkah akalmu?" Kukatakan: "Ya, telah pulih, tetapi tak ada lagi kekuatan, tak ada jalan." Ia berkata: "Bertobatlah, bertawakallah." Kukatakan: "Telah kulakukan!" Aku pun tersadar... Said Lama telah lenyap. Kudapati diriku sebagai Said Baru.
Maka peristiwa khayali itu — semoga Allah menjadikannya kebaikan — satu-dua bagiannya akan kutakwilkan, sisi-sisi selebihnya takwilkanlah engkau sendiri.
Adapun perjalanan itu adalah perjalanan dari alam ruh, dari rahim ibu, dari masa muda, masa tua, kubur, barzakh, kebangkitan, melintasi jembatan, menuju arah keabadian yang kekal. Adapun enam puluh keping emas itu adalah umur enam puluh tahun; sebab tatkala aku melihat peristiwa ini, aku memperkirakan diriku berusia empat puluh lima tahun. Aku tak punya bukti, namun untuk membelanjakan separuh dari lima belas keping yang tersisa demi akhirat, seorang murid tulus Al-Qur'anul Hakîm telah membimbingku. Adapun penginapan itu, bagiku ternyata adalah Istanbul. Adapun kereta api itu adalah waktu. Setiap tahun adalah satu gerbong. Adapun terowongan itu adalah kehidupan dunia. Adapun bunga-bunga dan buah-buah berduri itu adalah kelezatan-kelezatan yang tak sah dan kesenangan-kesenangan yang haram; yang saat menjumpainya, penderitaan dalam membayangkan kelenyapannya mengoyak kalbu. Saat berpisah darinya, ia mengoyak-ngoyak. Ia pun menimpakan hukuman. Petugas kereta tadi berkata: "Berilah lima kuruş, akan kuberikan sebanyak yang engkau mau dari bunga dan buah itu." Takwilnya adalah: kesenangan dan kelezatan yang diraih manusia dengan usaha halal dalam lingkaran yang sah, cukup bagi kesukaannya. Ia tak menyisakan kebutuhan untuk masuk ke dalam yang haram. Bagian-bagian selebihnya dapat engkau takwilkan sendiri...
Nükte Keempat
Manusia di dalam alam semesta ini menyerupai seorang anak yang teramat lembut lagi manja. Pada kelemahannya ada kekuatan besar, dan pada ketidakberdayaannya ada kudrat besar. Sebab dengan kekuatan kelemahan itu dan kudrat ketidakberdayaan itulah wujud-wujud ini tunduk kepadanya. Sekiranya manusia memahami kelemahannya, lalu berdoa dengan lisan, keadaan, dan sikapnya, serta mengetahui ketidakberdayaannya lalu memohon pertolongan; niscaya — seiring menunaikan syukur atas penundukan itu — ia demikian berhasil meraih tujuannya dan berbagai maksud demikian tunduk kepadanya, sampai-sampai dengan kemampuan dirinya sendiri ia takkan berhasil meraih sepersepuluh dari sepersepuluhnya. Hanya saja kadang suatu tujuan yang tercapai dengan doa lisan keadaan ia sandarkan secara keliru kepada kemampuannya sendiri. Misalnya: kekuatan pada kelemahan anak ayam membuat induk ayam menerkam singa. Anak singa yang baru datang ke dunia, menundukkan singa buas nan lapar itu kepada dirinya, membiarkannya lapar dan dirinya sendiri kenyang. Maka inilah yang patut diperhatikan, suatu kekuatan pada kelemahan, dan suatu manifestasi rahmat yang layak disaksikan...
Sebagaimana seorang anak manja, dengan tangisnya, atau permintaannya, atau keadaannya yang pilu, demikian berhasil meraih tujuannya, dan orang-orang kuat demikian tunduk kepadanya, sampai-sampai dengan sedikit kekuatannya ia takkan mampu meraih satu dari seribu tujuan itu meski dengan seribu upaya. Maka karena kelemahan dan ketidakberdayaannya membangkitkan kasih sayang dan perlindungan terhadapnya, dengan jari mungilnya ia menundukkan para pahlawan kepada dirinya. Kini, jika anak semacam itu — dengan mengingkari kasih sayang itu dan menuduh perlindungan itu — dengan kesombongan dungu berkata "Aku menundukkan mereka dengan kekuatanku sendiri", sudah pasti ia akan menerima tamparan.
Maka manusia pun, jika dengan cara mengingkari rahmat Penciptanya dan menuduh hikmah-Nya, dalam rupa kekufuran nikmat, seperti Qârûn berkata:
اِنَّمَٓا اُوت۪يتُهُ عَلٰى عِلْمٍ
yakni: "Aku memperolehnya dengan ilmuku sendiri, dengan kemampuanku sendiri", sudah pasti ia menjadikan dirinya layak menerima tamparan azab. Maka kesultanan kemanusiaan yang tampak, kemajuan umat manusia, dan kesempurnaan peradaban ini; bukanlah dengan menarik, bukan dengan mengalahkan, bukan dengan pergulatan, melainkan ia ditundukkan baginya karena kelemahannya, ia diberi pertolongan karena ketidakberdayaannya, ia diberi anugerah karena kefakirannya, ia diberi ilham karena kejahilannya, ia diberi kemuliaan karena kebutuhannya. Dan sebab kesultanan itu bukanlah kekuatan dan kemampuan ilmiah, melainkan kasih sayang serta kelembutan Rabbâni, dan rahmat serta hikmah Ilahi, yang telah menundukkan segala sesuatu kepadanya. Ya, kepada manusia yang dikalahkan oleh serangga seperti kalajengking tak bermata dan ular tak berkaki; yang memakaikan sutra dari seekor ulat kecil dan menyuapkan madu dari seekor serangga berbisa; itu bukanlah kemampuannya, melainkan buah kelemahannya, yaitu penundukan Rabbâni dan anugerah Rahmâni.
Wahai manusia! Selama hakikatnya demikian; tinggalkanlah keangkuhan dan keakuan. Di hadirat uluhiyah, maklumkanlah ketidakberdayaan dan kelemahanmu dengan lisan permohonan pertolongan; kefakiran dan kebutuhanmu dengan lisan kerendahan dan doa, serta tunjukkanlah bahwa engkau seorang hamba. Dan ucapkanlah:
حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ
lalu naiklah.
Dan janganlah engkau berkata: "Aku ini bukan apa-apa; apa pentingnya aku sehingga alam semesta ini ditundukkan bagiku secara sengaja oleh Sang Hakîm Mutlak, dan diminta dariku suatu syukur menyeluruh?"
Sebab engkau, meskipun dari segi nafsu dan rupamu adalah bagaikan tiada. Namun dari segi tugas dan martabat, engkau adalah bagaikan: penyaksi yang cermat atas alam semesta yang megah ini, lisan penutur yang fasih bagi wujud-wujud yang penuh hikmah ini, penelaah yang paham atas kitab alam ini, penyaksi yang penuh takjub atas makhluk-makhluk yang bertasbih ini, dan kepala pekerja yang terhormat atas karya-karya yang beribadah ini.
Ya, wahai manusia! Engkau, dari segi jasmanimu yang nabati dan dari segi nafsu hewanimu; adalah sebuah juz yang kecil, sebuah bagian parsial yang hina, sebuah makhluk yang fakir, seekor hewan yang lemah, yang terombang-ambing di tengah gelombang seluruh wujud mengalir yang dahsyat. Namun dengan tarbiah keislaman yang bercahaya oleh cahaya iman — yang mengandung sinar kecintaan Ilahi — engkau menyempurna, dan dari sisi kemanusiaan, engkau adalah seorang sultan di dalam kehambaan, dan sesuatu yang menyeluruh di dalam keparsialan, sebuah alam di dalam kekecilan, dan seorang penyaksi yang maqamnya besar serta lingkaran pengawasannya luas di dalam kehinaan, sampai-sampai engkau dapat berkata: "Rabb-ku Yang Maha Penyayang telah menjadikan dunia sebuah rumah bagiku. Bulan dan matahari, Dia jadikan lampu bagi rumahku; dan musim semi, seikat bunga; dan musim panas, sehidangan nikmat; dan hewan, Dia jadikan pelayan bagiku. Dan tumbuhan, Dia jadikan perabot berhias bagi rumahku."
Kesimpulan perkataan: Jika engkau mendengarkan nafsu dan setan, engkau jatuh ke esfel-i sâfilîn. Jika engkau mendengarkan Al-Haq dan Al-Qur'an, engkau naik ke a'lâ-yi illiyyîn, menjadi sebuah takwim (kalender) yang indah bagi alam semesta.
Nükte Kelima
Manusia dikirim ke dunia ini sebagai seorang petugas dan tamu, diberikan kepadanya potensi yang teramat penting. Dan menurut potensi itu dititipkan kepadanya tugas-tugas yang penting. Dan untuk membuat manusia bekerja demi tujuan dan tugas-tugas itu, diberikan dorongan yang kuat dan ancaman yang dahsyat. Dasar-dasar tugas kemanusiaan dan ubudiyah yang telah kami jelaskan di tempat lain akan kami ringkas di sini. Agar rahasia "ahsan-i taqwîm" dapat dipahami.
Maka manusia, setelah datang ke alam semesta ini, memiliki ubudiyah dengan "dua sisi": sisi pertama; suatu ubudiyah dan tafakur dalam rupa kegaiban. Yang lain; suatu ubudiyah dan munajat dalam rupa kehadiran serta perbincangan langsung.
Sisi Pertama
adalah demikian: membenarkan dengan penuh ketaatan kesultanan rububiyah yang tampak di alam semesta, dan menyaksikannya dengan penuh takjub akan kesempurnaan serta keindahannya.
Kemudian, menjadi penyeru dan pemaklum yang mempertunjukkan karya-karya seni menakjubkan — yang tak lain adalah ukiran asma kudus Ilahi — kepada pandangan penuh ibrah satu sama lain.
Kemudian, menimbang permata asma Rabbâni — yang masing-masingnya bagaikan khazanah maknawi yang tersembunyi — dengan timbangan pemahaman, dan memberikan nilai dengan penuh penghargaan melalui kalbu yang pandai menilai.
Kemudian, menelaah lembaran-lembaran wujud, yakni helai-helai bumi dan langit — yang bagaikan surat-surat pena kudrat — lalu bertafakur dengan penuh takjub.
Kemudian, dengan menyaksikan penuh kekaguman hiasan-hiasan dan seni-seni halus pada wujud-wujud ini, mencintai makrifat Sang Fâthir Dzul-Jamâl-nya, dan merindukan untuk masuk ke hadirat Sang Pembuatnya Yang Mahasempurna (Shâni'-i Dzul-Kamâl) serta memperoleh perhatian-Nya.
Sisi Kedua
adalah maqam kehadiran dan penyapaan; yaitu ia beralih dari karya kepada Sang Pembuat karya, lalu ia melihat bahwa: Sang Pembuat Yang Mahaagung ingin memperkenalkan dan memberitahukan diri-Nya dengan mukjizat-mukjizat seni-Nya. Maka ia pun menyambutnya dengan iman dan makrifat.
Kemudian ia melihat bahwa: seorang Rabb Yang Maha Penyayang ingin membuat diri-Nya dicintai dengan buah-buah rahmat-Nya yang indah. Maka ia pun membuat dirinya dicintai oleh-Nya dengan memusatkan kecintaan dan mengkhususkan penghambaan kepada-Nya.
Kemudian ia melihat bahwa: Sang Pemberi Nikmat Yang Mahamulia (Mun'im-i Karîm) memelihara dirinya dengan nikmat-nikmat lezat yang materi dan maknawi. Maka ia pun — sebagai imbalannya — bersyukur dan memuji dengan perbuatannya, keadaannya, perkataannya, bahkan jika mampu, dengan seluruh indra dan perangkatnya.
Kemudian ia melihat bahwa: Sang Jalîl Yang Mahaindah menampakkan kebesaran, kesempurnaan, keagungan, dan keindahan-Nya di cermin-cermin wujud ini, lalu menarik perhatian. Maka ia pun — sebagai imbalannya — berkata "Allâhu Ekber, Subhânallâh", lalu bersujud dengan takjub dan cinta di dalam kefanaan diri.
Kemudian ia melihat bahwa: Sang Ghanî Mutlak memperlihatkan kekayaan dan khazanah-Nya yang tak terhingga di dalam kedermawanan yang mutlak. Maka ia pun — sebagai imbalannya — memohon dan meminta dengan kefakiran yang sempurna di dalam pengagungan dan pujian.
Kemudian ia melihat bahwa: Sang Fâthir Dzul-Jalâl itu telah menjadikan muka bumi bagaikan sebuah pameran. Dia mempertunjukkan seluruh karya seni antik-Nya di sana. Maka ia pun — sebagai imbalannya — menyambut dengan berkata "Mâsyâallah" seraya menghargai, "Bârekâllah" seraya memuji, "Subhânallâh" seraya takjub, dan "Allâhu Ekber" seraya mengagumi.
Kemudian ia melihat bahwa: Sang Wâhid Ahad meletakkan cap ketauhidan pada seluruh wujud dengan segel-segel-Nya yang tak dapat ditiru, dengan stempel-stempel yang khas bagi-Nya, dengan tanda-tanda yang khusus bagi-Nya, dengan firman-firman yang khas bagi-Nya di istana alam semesta ini, dan Dia mengukir ayat-ayat tauhid. Dan di segenap ufuk alam Dia menancapkan bendera wahdâniyah, lalu memaklumkan rububiyah-Nya. Maka ia pun — sebagai imbalannya — menyambut dengan pembenaran, dengan iman, dengan tauhid, dengan keyakinan, dengan kesaksian, dan dengan ubudiyah.
Maka dengan ibadah dan tafakur semacam ini ia menjadi manusia hakiki, dan menunjukkan bahwa dirinya berada dalam ahsan-i taqwîm. Dengan keberkahan iman ia menjadi khalifah bumi yang tepercaya, yang layak bagi amanah.
Wahai manusia lalai yang diciptakan dalam ahsan-i taqwîm namun dengan buruknya pilihan pergi ke arah esfel-i sâfilîn! Dengarkanlah aku. Aku pun sepertimu, dalam kemabukan masa muda, tatkala melihat dunia indah lagi elok di tengah kelalaian; pada saat aku tersadar dari kemabukan masa muda di pagi hari usia tua, betapa buruk kudapati wajah dunia yang tak menghadap ke akhirat — yang tadinya kusangka indah — dan betapa indah wajah hakikinya yang memandang akhirat. Pandanglah dua lembar hakikat yang tertulis pada halaman 219-220 Maqam Kedua Kelimat Ketujuh Belas itu, dan lihatlah engkau pun:
Lembar Pertama: menggambarkan hakikat dunia ahli kelalaian yang dulu kulihat melalui tirai kelalaian — seperti ahli kesesatan, namun tanpa mabuk.
Lembar Kedua: mengisyaratkan kepada hakikat dunia ahli hidayah dan kehadiran. Dalam bentuk apa dulu ia ditulis, dalam bentuk itu kubiarkan. Ia menyerupai syair, namun bukanlah syair.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُرَبِّ اشْرَحْ ل۪ى صَدْر۪ى ❊ وَيَسِّرْ ل۪ٓى اَمْر۪ى ❊ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَان۪ى ❊ يَفْقَهُوا قَوْل۪ىاَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ اللَّط۪يفَةِ اْلاَحَدِيَّةِ شَمْسِ سَمَٓاءِ اْلاَسْرَارِ وَ مَظْهَرِ اْلاَنْوَارِ وَ مَرْكَزِ مَدَارِ الْجَلاَلِ وَ قُطْبِ فَلَكِ الْجَمَالِ اَللّٰهُمَّ بِسِرِّه۪ لَدَيْكَ وَ بِسَيْرِه۪ٓ اِلَيْكَ اٰمِنْ خَوْف۪ى وَ اَقِلْ عُثْرَت۪ى وَ اَذْهِبْ حُزْن۪ى وَ حِرْص۪ى وَ كُنْ ل۪ى وَ خُذْن۪ٓى اِلَيْكَ مِنّ۪ى وَ ارْزُقْنِى الْفَنَٓاءَ عَنّ۪ى وَ لاَ تَجْعَلْن۪ى مَفْتُونًا بِنَفْس۪ى مَحْجُوبًا بِحِسّ۪ى وَاكْشِفْ ل۪ى عَنْ كُلِّ سِرٍّ مَكْتُومٍ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ ❊ وَ ارْحَمْن۪ى وَارْحَمْ رُفَقَٓائ۪ى وَ ارْحَمْ اَهْلِ اْلا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اٰم۪ينَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ وَ يَٓا اَكْرَمَ اْلاَكْرَم۪ينَ ❊وَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ