Kelimat Kedua Puluh Empat
Kelimat · hlm. 337
[Kalimat ini adalah "Lima Cabang". Perhatikanlah Cabang Keempat. Berpeganglah pada Cabang Kelima, naiklah, dan petiklah buah-buahnya.]
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِاَللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ لَهُ اْلاَسْمَٓاءُ الْحُسْنٰى
Kami mengisyaratkan kepada lima cabang dari salah satu hakikat, di antara sekian banyak hakikat pohon bercahaya ayat mulia ini.
CABANG PERTAMA
Sebagaimana seorang sultan memiliki gelar-gelar yang berbeda-beda pada berbagai jawatan pemerintahannya, nama serta sifat yang berlainan pada lapisan-lapisan rakyatnya, dan nama serta lambang yang beragam pada tingkat-tingkat kesultanannya. Misalnya: di jawatan peradilan "hakim yang adil", di pemerintahan sipil "sultan", di ketentaraan "panglima tertinggi", di jawatan keilmuan "khalifah"... Jika engkau mengetahui nama dan gelar lainnya berdasarkan ini, engkau akan paham bahwa; seorang raja tunggal dapat memiliki seribu nama dan gelar pada jawatan-jawatan kesultanan dan tingkat-tingkat pemerintahannya. Seakan-akan hakim itu, dengan haisiat kepribadian maknawinya dan melalui teleponnya, ada dan hadir di setiap jawatan; ia berada di sana dan mengetahui. Dan pada setiap lapisan ia disaksikan dan mengawasi dengan undang-undangnya, peraturannya, wakilnya; ia terlihat dan melihat. Dan pada setiap tingkat ia mengatur serta melihat di balik tirai, dengan hukumnya, ilmunya, dan kekuatannya; ia mengurus dan mengawasi. Demikian pula:
Bagi Sultan Azal dan Abad, yakni Rabbul-'Âlamîn, pada tingkat-tingkat rububiyah-Nya terdapat keadaan dan nama yang berbeda-beda namun saling memandang; pada jawatan-jawatan uluhiyah-Nya terdapat nama dan tanda yang berlainan namun terlihat satu di dalam yang lain; pada pelaksanaan-Nya yang menampakkan kemegahan terdapat penjelmaan dan manifestasi yang berbeda-beda namun saling menyerupai; pada tasarruf kudrat-Nya terdapat gelar-gelar yang berlainan namun saling mengisyaratkan. Dan pada tajalli sifat-sifat-Nya terdapat zuhur-zuhur kudus yang berlainan namun saling menunjukkan. Dan pada manifestasi perbuatan-Nya terdapat tasarruf penuh hikmah yang beraneka ragam namun saling menyempurnakan. Dan pada seni-Nya yang berwarna-warni serta karya-Nya yang beragam terdapat rububiyah agung yang beraneka ragam namun saling memandang. Bersama itu, pada setiap alam alam semesta, pada setiap golongannya, tampak gelar salah satu nama dari asmâul-husnâ. Nama itu berkuasa di lingkaran tersebut. Nama-nama lain di sana tunduk kepadanya, bahkan berada di dalam cakupannya. Dan pada setiap lapisan makhluk, sedikit dan banyak, kecil dan besar, khusus dan umum, pada masing-masingnya terdapat suatu tajalli khusus, suatu rububiyah khusus, suatu manifestasi dengan nama yang khusus. Yakni, meskipun nama itu meliputi lagi umum bagi segala sesuatu, ia menghadap kepada suatu perkara dengan suatu maksud dan kepentingan sedemikian rupa; seakan-akan nama itu khusus hanya bagi perkara itu. Bersama itu pula, Sang Khâliq Dzul-Jalâl, meskipun dekat kepada segala sesuatu, memiliki tirai bercahaya yang hampir tujuh puluh ribu banyaknya. Misalnya: mulai dari tingkat parsial pada kemakhlukanmu, dari nama Khâliq yang bertajalli kepadamu, hingga ke tingkat terbesar dan gelar teragung yakni Khâliq seluruh alam semesta, engkau dapat mengiaskan betapa banyak tirai yang ada. Maka dengan syarat meninggalkan seluruh alam semesta di belakang, dari pintu kemakhlukan engkau sampai ke puncak nama Khâliq, lalu engkau mendekat ke lingkaran sifat.
Selama tirai-tirai itu memiliki jendela-jendela yang saling memandang. Dan nama-nama terlihat satu di dalam yang lain. Dan keadaan-keadaan saling memandang. Dan penjelmaan-penjelmaan saling masuk satu ke dalam yang lain. Dan gelar-gelar saling mengisyaratkan. Dan zuhur-zuhur saling menyerupai. Dan tasarruf-tasarruf saling membantu dan menyempurnakan. Dan berbagai tarbiah rububiyah saling menolong dan membantu. Maka sudah pasti diperlukan bahwa, jika seseorang mengenal Cenâb-ı Haq dengan satu nama, satu gelar, satu rububiyah, dan seterusnya.. hendaklah ia tidak mengingkari gelar, rububiyah, dan keadaan-Nya yang lain di dalamnya. Bahkan, jika ia tidak berpindah dari manifestasi setiap nama ke asma lainnya, ia merugi. Misalnya: jika ia melihat karya nama Qadîr dan Khâliq, namun tidak melihat nama 'Alîm, ia dapat terjatuh ke dalam kelalaian dan kesesatan naturalisme. Bahkan sudah semestinya, pandangannya senantiasa membaca lagi melihat di hadapannya هُوَ هُوَ اللّٰهُ. Telinganya mendengar lagi menyimak dari segala sesuatu قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ. Lisannya mengucapkan lagi memaklumkan لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُو بَرَابَرْ م۪يزَنَدْ عَالَمْ.
Maka Al-Qur'an yang Nyata, dengan firman اَللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ لَهُ اْلاَسْمَٓاءُ الْحُسْنٰى, mengisyaratkan kepada hakikat-hakikat yang telah kami sebutkan.
Jika engkau ingin menyaksikan hakikat-hakikat tinggi itu dari dekat, pergilah dan bertanyalah kepada laut yang berbadai, kepada bumi yang bergempa. Katakanlah: "Apa yang kalian ucapkan?" Sudah pasti engkau akan mendengar mereka mengucapkan "Yâ Jalîl, Yâ Jalîl, Yâ 'Azîz, Yâ Jabbâr". Kemudian bertanyalah kepada hewan-hewan kecil dan anak-anaknya yang diasuh dengan rahmat dan kasih sayang di dalam laut dan di atas muka bumi. Katakanlah: "Apa yang kalian ucapkan?" Sudah pasti mereka akan mengucapkan "Yâ Jamîl, Yâ Jamîl, Yâ Rahîm, Yâ Rahîm".
> (Catatan Kaki): Bahkan suatu hari aku memperhatikan kucing-kucing. Mereka hanya makan, bermain, lalu tidur. Terlintas dalam benakku: "Bagaimana mungkin hewan-hewan kecil tak bertugas ini disebut penuh berkah?" Kemudian pada malam hari aku berbaring hendak tidur. Kulihat, salah satu kucing itu datang, bersandar ke bantalku, mendekatkan mulutnya ke telingaku. Dengan jelas ia mengucapkan "Yâ Rahîm, Yâ Rahîm, Yâ Rahîm, Yâ Rahîm", seakan menolak keberatan serta penghinaan yang terlintas di benakku atas nama golongannya, lalu menamparkannya ke wajahku. Terlintas dalam akalku: "Apakah zikir ini khusus bagi individu ini, atau umum bagi golongannya? Dan apakah mendengarnya terbatas hanya pada seorang pengeritik lancang sepertiku, atau setiap orang yang memperhatikan dapat mendengarnya sampai suatu kadar?" Kemudian pada pagi hari aku menyimak kucing-kucing lain. Memang tak sejelas kucing itu, namun dengan kadar yang berbeda-beda mereka mengulang-ulang zikir yang sama. Pada mulanya di balik dengkurannya terbedakan "Yâ Rahîm". Lambat laun dengkuran dan dengungnya menjadi "Yâ Rahîm" yang sama. Ia menjadi zikir sendu nan fasih tanpa makhraj. Ia mengatupkan mulutnya, lalu menarik "Yâ Rahîm" dengan indah. Kuceritakan kepada saudara-saudara yang datang kepadaku. Mereka pun memperhatikan, lalu berkata: "Kami mendengarnya sampai suatu kadar." Kemudian terlintas dalam kalbuku: "Apakah gerangan sebab pengkhususan nama ini? Dan mengapa mereka berzikir dengan langgam manusia, bukan dengan lisan hewan?" Terlintas dalam kalbuku: Hewan-hewan ini, karena bagaikan anak kecil yang teramat manja lagi lembut dan menjadi teman akrab yang berbaur dengan manusia, sangat membutuhkan kasih sayang dan rahmat. Tatkala dibelai dan melihat penghargaan yang menyenangkannya, sebagai suatu pujian atas nikmat itu — berbeda dengan anjing — ia meninggalkan sebab-sebab lalu memaklumkan rahmat Khâliqnya Yang Maha Penyayang di alamnya sendiri; dengan seruan "Yâ Rahîm" ia mengingatkan manusia yang berada dalam tidur kelalaian, dan memperingatkan para pemuja sebab: dari siapa datang pertolongan, dan dari siapa rahmat dinantikan.
Simaklah langit. Bagaimana ia mengucapkan "Yâ Jalîl-i Dzul-Jamâl". Dan pasanglah telinga ke bumi. Bagaimana ia mengucapkan "Yâ Jamîl-i Dzul-Jalâl". Dan perhatikanlah hewan-hewan. Bagaimana mereka mengucapkan "Yâ Rahmân, Yâ Razzâq". Bertanyalah kepada musim semi. Lihatlah, betapa banyak asma akan engkau dengar seperti "Yâ Hannân, Yâ Rahmân, Yâ Rahîm, Yâ Karîm, Yâ Lathîf, Yâ 'Athûf, Yâ Mushawwir, Yâ Munawwir, Yâ Muhsin, Yâ Muzayyin". Dan bertanyalah kepada seorang manusia yang benar-benar manusia. Lihatlah, betapa ia membaca seluruh asmâul-husnâ dan asma itu tertulis di dahinya. Jika engkau pun memperhatikan, engkau dapat membacanya. Seakan-akan alam semesta adalah sebuah musika zikir yang agung. Nada terkecil, dengan berbaur ke dalam nada-nada yang paling gemuruh, memberikan suatu kelembutan yang megah. Dan demikianlah, kiaskanlah. Namun meskipun manusia menjadi wadah bagi seluruh asma, keragaman asma — yang membuahkan keragaman alam semesta dan perbedaan ibadah malaikat — telah menjadi sebab keragaman manusia pula sampai suatu kadar. Syariat para nabi yang berbeda-beda, tarekat para wali yang berlainan, meşrab (jalan rohani) para ashfiya yang beraneka ragam, muncul dari rahasia ini. Misalnya: pada Nabi Îsâ Alaihissalâm, bersama asma yang lain, nama Qadîr lebih dominan padanya. Pada ahli cinta, nama Wadûd; dan pada ahli tafakur, nama Hakîm, lebih berkuasa.
Maka sebagaimana jika seseorang sekaligus menjadi guru, perwira, juru tulis peradilan, dan inspektur pemerintahan sipil; ia memiliki di setiap jawatan suatu pertalian, suatu tugas, suatu khidmah, suatu gaji, suatu tanggung jawab, suatu kemajuan, dan — sebagai sebab ketidakberhasilannya — musuh serta pesaing. Dan di hadapan raja ia tampil dengan banyak gelar serta melihat. Dan dengan banyak lisan ia memohon pertolongan dari-Nya. Dan ia merujuk kepada banyak gelar atasannya. Dan untuk selamat dari keburukan musuh-musuh, ia meminta bantuan-Nya dengan berbagai cara. Demikian pula: manusia — yang menjadi wadah bagi banyak asma, dibebani banyak tugas, lagi terjangkiti banyak musuh — dalam munajat dan permohonan perlindungannya menyebut banyak nama. Sebagaimana kebanggaan jenis manusia dan — sungguh — manusia sempurna yang paling hakiki, yakni Muhammad al-'Arabî صلى الله عليه وسلم, dalam munajatnya yang bernama Jausyanul Kabîr, berdoa dengan seribu satu nama-Nya; ia memohon perlindungan dari api neraka. Maka dari rahasia inilah surah قُلْ اَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ❊ مَلِكِ النَّاسِ ❊ اِلٰهِ النَّاسِ ❊ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ memerintahkan permohonan perlindungan dengan tiga gelar, dan بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ menunjukkan permohonan pertolongan dengan tiga nama-Nya.
CABANG KEDUA
Menjelaskan dua rahasia yang mengandung kunci-kunci banyak rahasia.
Rahasia Pertama
"Mengapa para wali, sementara mereka bersepakat dalam pokok-pokok keimanan, sangat berselisih dalam penyaksian dan penyingkapan (kasyaf) mereka? Kadang penyingkapan mereka yang mencapai derajat penyaksian (syuhud) ternyata bertentangan dengan kenyataan dan berlawanan dengan kebenaran? Dan mengapa para ahli pikir dan nalar, masing-masing melihat serta menunjukkan hakikat dalam pikiran-pikiran yang mereka terima sebagai kebenaran dengan bukti yang pasti, dalam bentuk yang saling bertentangan? Mengapa satu hakikat masuk ke dalam banyak warna?"
Rahasia Kedua
"Mengapa para nabi terdahulu membiarkan sebagian rukun iman — seperti kebangkitan jasmani — dalam keadaan agak ringkas, tidak memberikan perincian seperti Al-Qur'an? Kemudian sebagian umat mereka di kemudian hari sampai mengingkari rukun-rukun yang ringkas itu? Dan mengapa sebagian wali yang benar-benar arif hanya maju dalam tauhid? Bahkan sementara mereka sampai ke derajat haqqal-yaqîn, sebagian rukun iman tampak amat sedikit dan ringkas dalam jalan rohani mereka. Bahkan karena itulah para pengikut mereka di kemudian hari tidak memberikan kepentingan yang semestinya kepada rukun-rukun iman itu; bahkan sebagian mereka menyimpang. Selama kesempurnaan hakiki diperoleh dengan tersingkapnya seluruh rukun iman; mengapa ahli hakikat sangat maju dalam sebagiannya dan sangat tertinggal dalam sebagian lainnya? Padahal Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم — yang menjadi wadah bagi tingkat teragung seluruh asma dan pemimpin seluruh nabi — dan Al-Qur'anul Hakîm — yang menjadi kepala paling bercahaya dari seluruh kitab suci — telah memerincikan seluruh rukun iman dengan cara yang jelas, dalam ungkapan yang amat sungguh-sungguh, dan dengan cara yang disengaja?"
Ya, karena pada hakikatnya kesempurnaan yang paling sempurna memang demikian. Maka hikmah rahasia-rahasia ini adalah: meskipun manusia menjadi wadah bagi seluruh asma dan berbakat bagi seluruh kesempurnaan. Akan tetapi, karena kemampuannya parsial, ikhtiarnya parsial, potensinya berbeda-beda, hasratnya berlainan, ia mencari hakikat di dalam ribuan tirai dan barzakh. Karena itu, dalam penyingkapan hakikat dan penyaksian kebenaran, barzakh-barzakh muncul di tengah jalan. Sebagian orang tak dapat melewati barzakh. Kemampuan berbeda-beda. Kemampuan sebagian orang tak dapat menjadi sumber bagi tersingkapnya sebagian rukun iman. Dan warna-warna manifestasi asma beragam menurut wadahnya, menjadi berlainan. Sebagian pribadi yang menjadi wadah tak dapat menjadi tumpuan bagi manifestasi sempurna suatu nama. Dan dari segi kemenyeluruhan dan keparsialan, kebayangan dan keasalan, manifestasi asma mengambil rupa yang berlainan. Sebagian potensi tak dapat melewati keparsialan dan tak dapat keluar dari bayangan. Dan menurut potensi, kadang suatu nama menjadi dominan, hanya menjalankan hukumnya sendiri. Pada potensi itu hukumnya menjadi berkuasa. Maka kepada rahasia yang mendalam dan hikmah yang luas ini, kami membuat beberapa isyarat dengan suatu perumpamaan yang penuh rahasia, luas, lagi sedikit bercampur dengan hakikat.
Misalnya: kita mengandaikan sekuntum bunga berukir yang bernama "Zühre" (bunga), setetes air bernyawa yang jatuh cinta kepada Bulan yang bernama "Katre" (tetes), dan setitik rembesan jernih yang memandang Matahari yang bernama "Reşha" (rembesan) — yang masing-masingnya memiliki suatu kesadaran, suatu kesempurnaan. Dan padanya ada kerinduan kepada kesempurnaan itu. Ketiga hal ini, di samping mengisyaratkan kepada banyak hakikat, mengisyaratkan pula kepada perjalanan (suluk) nafsu, akal, dan kalbu. Dan ia adalah perumpamaan bagi tiga lapisan ahli hakikat.
> (Catatan Kaki): Pada setiap lapisan pun ada tiga golongan. Ketiga contoh dalam perumpamaan itu memandang kepada tiga golongan di setiap lapisan, bahkan sembilan golongan. Bukan kepada tiga lapisan.
Yang pertama
adalah isyarat bagi ahli pikir, ahli wilayah (kewalian), dan ahli nubuwah.
Yang kedua
Mereka yang menuju hakikat dengan berupaya menyempurnakan diri melalui perangkat jasmani...
Dan mereka yang menuju hakikat dengan berjihad melalui penyucian nafsu dan penggunaan akal...
Dan mereka yang menuju hakikat dengan penjernihan kalbu, dengan iman dan penyerahan diri — itulah perumpamaan-perumpamaannya.
Yang ketiga
adalah perumpamaan yang mengisyaratkan kepada hikmah perbedaan tiga golongan yang berlainan potensi: yang tidak meninggalkan keakuan, tenggelam pada karya-karya lahir, lalu menuju hakikat hanya dengan penyimpulan (istidlal).. yang menuju pencarian hakikat dengan ilmu dan hikmah, akal dan makrifat.. dan yang menuju hakikat dengan cepat melalui iman dan Al-Qur'an, kefakiran dan ubudiyah.
Maka rahasia dan hikmah luas dalam kemajuan tiga lapisan ini akan kami tunjukkan sampai suatu kadar dengan sebuah perumpamaan, di bawah gelar "Zühre", "Katre", "Reşha". Misalnya: Matahari, dengan izin dan perintah Penciptanya, memiliki tiga macam tajalli, pantulan, dan pelimpahan: yang satu kepada bunga-bunga, yang satu kepada Bulan dan planet-planet, dan yang satu kepada benda-benda mengkilap seperti kaca dan air — itulah pantulan-pantulannya yang berbeda-beda.
Yang pertama ada tiga bentuk: Satu: tajalli dan pantulan menyeluruh nan umum, yaitu pelimpahannya kepada seluruh bunga sekaligus. Satu lagi: tajalli khusus, yaitu suatu pantulan khusus menurut tiap-tiap jenis. Satu lagi: tajalli parsial, yaitu suatu pelimpahan menurut kepribadian tiap-tiap bunga. Perumpamaan kami ini sesuai dengan pendapat bahwa; warna-warni indah bunga muncul dari peralihan pantulan tujuh warna dalam cahaya Matahari. Dan menurut pendapat ini, bunga-bunga pun adalah semacam cermin bagi Matahari.
Yang kedua: adalah cahaya dan limpahan yang diberikan Matahari kepada Bulan dan planet-planet, dengan izin Sang Fâthir Yang Mahabijaksana. Setelah limpahan dan cahaya menyeluruh nan luas ini, Bulan memanfaatkan cahaya — yang bagaikan bayangan cahaya itu — dari Matahari secara menyeluruh, kemudian menyampaikan dan melimpahkannya secara khusus kepada lautan, udara, dan tanah yang mengkilap, dan dalam rupa parsial kepada gelembung-gelembung laut, benda-benda bening di tanah, dan zarah-zarah udara.
Yang ketiga: Matahari, dengan perintah Ilahi, menjadikan udara dan permukaan lautan masing-masing sebuah cermin, lalu memiliki suatu pantulan yang jernih, menyeluruh, tanpa bayangan. Kemudian Matahari itu memberikan kepada gelembung-gelembung laut, tetes-tetes air, rembesan-rembesan udara, dan serpihan-serpihan kaca salju, masing-masing suatu pantulan parsial, suatu miniatur kecil dirinya.
Maka Matahari memiliki penghadapan dan pelimpahan kepada tiap-tiap bunga, dan — sebagai lawan Bulan — kepada tiap-tiap tetes dan tiap-tiap rembesan, melalui tiga sisi yang telah disebutkan itu dengan dua jalan masing-masing:
Jalan pertama: secara asali, langsung, tanpa barzakh, tanpa hijab. Jalan ini mewakili jalan kenabian.
Jalan kedua: barzakh-barzakh menjadi perantara. Kemampuan cermin dan berbagai wadah memasangkan suatu warna pada tajalli Matahari. Jalan ini mewakili jalan kewalian.
Maka "Zühre", "Katre", "Reşha", masing-masing pada jalan pertama dapat berkata: "Aku adalah cermin bagi Matahari seluruh alam." Namun pada jalan kedua ia tak dapat berkata demikian. Melainkan ia berkata: "Aku adalah cermin bagi matahariku sendiri, atau cermin bagi matahari yang bertajalli kepada jenisku." Sebab ia mengenal Matahari sedemikian rupa. Ia tak dapat melihat suatu Matahari yang memandang seluruh alam. Padahal matahari pribadi, jenis, atau golongannya itu tampak kepadanya di dalam barzakh sempit, di bawah suatu ikatan yang terbatas. Padahal ia tak dapat memberikan karya-karya Matahari yang mutlak — tanpa ikatan, tanpa barzakh — kepada matahari yang terikat itu. Sebab karya-karya megah seperti memanaskan dan menerangi seluruh muka bumi, menggerakkan kehidupan segenap tumbuhan dan hewan, serta memutar planet-planet di sekelilingnya; tak dapat ia berikan — dengan penyaksian kalbu — kepada Matahari yang ia lihat di dalam ikatan sempit dan barzakh terbatas itu. Melainkan, jika ketiga hal yang kita andaikan berkesadaran itu memberikan karya-karya menakjubkan itu kepada Matahari yang ia lihat di bawah ikatan itu; ia hanya dapat memberikannya dengan cara akli dan imani semata, serta dengan suatu penyerahan diri bahwa yang terikat itu adalah 'ain yang mutlak. Namun bagi "Zühre", "Katre", "Reşha" yang kita andaikan berakal seperti manusia itu, hukum-hukum ini — yakni penyandaran karya yang teramat besar kepada matahari mereka — bersifat akli, bukan penyaksian. Bahkan kadang hukum imani mereka berbenturan dengan penyaksian kejadian mereka. Dengan susah payah mereka baru dapat percaya.
Maka ke dalam perumpamaan yang terlampau sempit bagi hakikat ini — yang di sebagian sudutnya tampak anggota-anggota hakikat, dan yang bercampur dengan hakikat — kita bertiga pun harus masuk. Kita bertiga pun akan mengandaikan diri kita sebagai "Zühre", "Katre", "Reşha". Sebab kesadaran yang kita andaikan pada mereka tidaklah cukup. Kita harus menambahkan akal kita pula kepada mereka. Yakni, sebagaimana mereka memperoleh limpahan dari matahari materinya, kita pun harus memahami bahwa kita memperolehnya dari matahari maknawi kita.
Maka, wahai engkau sahabat yang tak melupakan dunia, yang tenggelam dalam materi, dan yang nafsunya memperoleh kepekatan! Jadilah engkau "Zühre". Sebagaimana bunga "Zühre" itu mengambil suatu warna yang terurai dari cahaya Matahari. Dan di dalam satu warna itu ia mencampurkan bayangan Matahari lalu mengenakan pada dirinya suatu rupa berhias. Sebab potensimu pun menyerupainya. Adapun filsuf terpelajar yang tenggelam dalam sebab-sebab seperti Said Lama, maka jadilah ia "Katre" yang jatuh cinta kepada Bulan; sebab Bulan memberinya bayangan cahaya yang ia peroleh dari Matahari, dan memberikan suatu cahaya kepada biji matanya. Ia pun bersinar dengan cahaya itu. Namun "Katre" itu, dengan cahaya itu, hanya melihat Bulan. Ia tak dapat melihat Matahari, melainkan ia dapat melihatnya dengan imannya. Adapun lelaki fakir yang mengetahui segala sesuatu langsung dari Cenâb-ı Haq dan menganggap sebab-sebab sebagai suatu tirai, maka jadilah ia "Reşha". Suatu "Reşha" yang pada zatnya fakir. Tak ada sesuatu pun padanya untuk ia sandari dan ia banggakan pada dirinya seperti "Zühre". Tak ada warna padanya untuk ia tampil dengannya. Ia pun tak mengenal hal-hal lain untuk ia hadapi. Ia memiliki suatu kejernihan murni yang langsung menyimpan bayangan Matahari di biji matanya. Kini, selama kita telah menggantikan ketiga hal ini, kita harus memandang diri kita sendiri. Apa yang ada pada kita? Apa yang akan kita perbuat?
Maka kita melihat bahwa: seorang Zat Yang Mahamulia, dengan anugerah-Nya, menghias, menerangi, dan mengasuh kita sedemikian rupa. Adapun manusia, ia memuja Sang Pemberi anugerah. Ia menginginkan kedekatan dengan Yang layak dipuja, dan meminta untuk melihat-Nya. Maka, masing-masing kita akan menempuh suluk menurut potensi kita, dengan daya tarik kecintaan itu. Wahai engkau yang serupa Zühre! Engkau pergi, tetapi pergilah sebagai bunga. Maka engkau pun pergi. Dengan terus maju, engkau sampai ke suatu tingkat yang menyeluruh. Seakan-akan engkau telah menggantikan seluruh bunga. Padahal Zühre adalah cermin yang pekat. Padanya tujuh warna dalam cahaya terurai dan terbias. Ia menyembunyikan pantulan Matahari. Engkau tak akan berhasil melihat wajah Matahari yang engkau cintai. Sebab warna-warna dan kekhususan yang terikat itu mencerai-beraikan, menutupi tirai, dan tak dapat menampakkannya. Dalam keadaan itu engkau tak dapat selamat dari perpisahan yang muncul akibat masuknya berbagai rupa dan barzakh ke tengah. Akan tetapi dengan satu syarat engkau dapat selamat, yaitu: engkau mengangkat kepalamu yang tenggelam dalam kecintaan kepada nafsumu sendiri, dan engkau menarik pandanganmu yang berlezat-lezat serta berbangga dengan keindahan nafsu, lalu engkau lemparkan ke wajah Matahari di langit. Dan wajahmu yang tertunduk ke tanah demi menarik rezeki, engkau palingkan ke Matahari di atas. Sebab engkau adalah cermin-Nya. Tugasmu adalah menjadi cermin. Sadar ataupun tidak, rezekimu akan datang dari arah tanah yang merupakan pintu khazanah rahmat. Ya, sebagaimana sekuntum bunga adalah cermin mungil bagi Matahari. Matahari raksasa ini pun, di lautan langit, adalah cermin sebesar tetes bagi sekilau cahaya yang bertajalli dari nama "Nûr" milik Matahari Azali. Wahai kalbu insani! Ketahuilah dari sini, cermin bagi Matahari mana engkau ini. Setelah engkau memenuhi syarat ini, engkau menemukan kesempurnaanmu. Namun engkau tak dapat melihat Matahari sebagaimana adanya pada hakikat sebenarnya. Engkau tak dapat memahami hakikat itu secara telanjang. Melainkan warna-warna sifat-sifatmu memberinya suatu warna, dan teropong pekatmu memasangkan suatu rupa. Dan kemampuanmu yang terikat mengambilnya di bawah suatu ikatan.
Kini engkau pula, wahai filsuf bijak yang masuk ke dalam Katre! Dengan teropong tetes-pikiranmu, dengan tangga filsafat, engkau telah naik hingga ke Bulan, engkau masuk ke Bulan. Lihatlah, Bulan pada zatnya pekat lagi bergelap. Tak ada cahaya padanya, tak pula kehidupan. Upayamu sia-sia, ilmumu tak berfaedah. Engkau dapat selamat dari kegelapan keputusasaan, dari keliaran kesendirian, dari gangguan roh-roh jahat, dan dari kengerian keliaran itu, dengan syarat-syarat ini: engkau meninggalkan malam naturalisme lalu menghadap kepada matahari hakikat, dan engkau yakin seyakin-yakinnya bahwa cahaya-cahaya malam ini adalah bayangan-bayangan sinar matahari siang. Setelah engkau memenuhi syarat ini, engkau menemukan kesempurnaanmu. Sebagai ganti Bulan yang fakir lagi gelap, engkau menemukan Matahari yang megah. Namun engkau pun, seperti sahabatmu yang tadi, tak dapat melihat Matahari secara jernih. Melainkan engkau dapat melihatnya di balik tirai-tirai yang diakrabi oleh akal dan filsafatmu, di belakang hijab-hijab yang ditenun oleh ilmu dan hikmahmu, dan di dalam suatu warna yang diberikan oleh kemampuanmu.
Maka sahabat ketigamu yang serupa Reşha, yang sekaligus fakir dan tak berwarna. Dengan panas Matahari ia cepat menguap, meninggalkan keakuannya, menaiki uap, naik ke udara. Materi pekat di dalamnya; menyala dengan api cinta, berubah menjadi cahaya dengan sinar. Ia berpegang lalu mendekat pada seberkas cahaya yang datang dari manifestasi sinar itu. Wahai engkau yang serupa Reşha! Selama engkau menjadi cermin langsung bagi Matahari, di tingkat mana pun engkau berada, engkau menemukan suatu lubang, suatu jendela untuk memandang secara jernih dengan cara 'ainal-yaqîn ke arah 'ain Matahari. Dan engkau tak akan mengalami kesulitan dalam memberikan karya-karya menakjubkan Matahari itu kepada-Nya. Engkau dapat memberikan sifat-sifat megah yang layak bagi-Nya tanpa ragu. Dalam memberikan karya-karya dahsyat dari kesultanan zatiah-Nya kepada-Nya, tak ada sesuatu pun yang dapat menahan tanganmu lalu memalingkanmu darinya. Baik sempitnya barzakh, ikatan kemampuan, maupun kecilnya cermin, tak akan membuatmu bingung; tak akan menyeretmu kepada lawan hakikat. Sebab, karena engkau memandang-Nya secara jernih, murni, dan langsung, engkau telah paham bahwa yang tampak di berbagai wadah dan yang disaksikan di berbagai cermin itu bukanlah Matahari, melainkan semacam manifestasinya, semacam pantulan berwarnanya. Meskipun pantulan-pantulan itu adalah gelar-gelar-Nya, ia tak dapat menampakkan seluruh karya megah-Nya.
Maka dalam perumpamaan yang bercampur dengan hakikat ini, melalui tiga jalan yang berbeda-beda demikian, ditempuhlah kesempurnaan. Dan mereka berlainan dalam keistimewaan kesempurnaan itu dan dalam perincian tingkat penyaksian. Namun pada hasil akhirnya, dalam meyakini kebenaran dan membenarkan hakikat, mereka bersepakat. Maka sebagaimana seorang manusia malam yang sama sekali belum pernah melihat Matahari. Ia hanya melihat suatu bayangannya di cermin Bulan. Ia tak dapat menampung dalam akalnya cahaya megah dan daya tarik dahsyat yang khas bagi Matahari. Melainkan ia berserah lalu bertaklid kepada orang-orang yang telah melihatnya. Demikian pula: orang yang — dengan warisan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم — tidak mencapai tingkat teragung dari nama-nama seperti Qadîr dan Muhyî, menerima kebangkitan agung dan kiamat besar secara taklid, lalu berkata: "Ini bukan perkara akli." Sebab hakikat kebangkitan dan kiamat adalah wadah bagi ismul-a'zam (nama teragung) dan bagi tingkat teragung sebagian asma. Siapa yang pandangannya tak naik ke sana, ia terpaksa bertaklid. Siapa yang pikirannya masuk ke sana, ia melihat kebangkitan dan kiamat semudah siang dan malam, musim dingin dan musim semi, lalu menerimanya dengan ketenteraman kalbu.
Maka dari rahasia inilah: Al-Qur'an menyebutkan kebangkitan dan kiamat pada tingkat teragung, dengan perincian tersempurna, dan Nabi kita صلى الله عليه وسلم — yang menjadi wadah bagi ismul-a'zam — mengajarkannya. Adapun para nabi terdahulu, karena tuntutan hikmah bimbingan, tidak mengajarkan kebangkitan kepada umat mereka — yang berada dalam keadaan agak sederhana lagi awal — pada derajat teragung dengan perincian yang paling luas. Dan dari rahasia inilah, sebagian ahli wilayah tidak melihat atau tidak dapat menunjukkan sebagian rukun iman pada tingkat teragungnya. Dan dari rahasia inilah, derajat para arif dalam makrifatullah sangat berbeda-beda. Masih banyak rahasia lain seperti ini yang tersingkap dari hakikat tersebut. Kini perumpamaan ini, karena ia sampai suatu kadar membuat hakikat terasa, dan karena hakikat itu amat luas lagi amat dalam, kami pun mencukupkan diri dengan perumpamaan. Kami tak akan masuk ke dalam rahasia-rahasia yang di atas batas dan di atas kemampuan kami.
CABANG KETIGA
Karena hadis-hadis mulia yang membahas tanda-tanda kiamat, kejadian akhir zaman, serta keutamaan dan pahala sebagian amal, tidak dipahami dengan baik, sebagian ahli ilmu yang mengandalkan akalnya menyebut sebagian hadis itu lemah atau palsu. Dan sebagian yang imannya lemah lagi keakuannya kuat, sampai kepada pengingkaran. Kini kami tak akan masuk ke perincian. Kami hanya akan menjelaskan "Dua Belas Asas".
Asas Pertama
adalah masalah yang telah kami jelaskan pada tanya jawab di akhir Kelimat Kedua Puluh. Ringkasnya demikian: Agama adalah suatu ujian, suatu percobaan. Ia memisahkan roh-roh tinggi dari roh-roh rendah. Maka ke depan, Ia akan membahas kejadian-kejadian yang akan dilihat semua orang dengan mata kepala dalam suatu cara sedemikian rupa sehingga; ia tak sepenuhnya tetap tak diketahui, tak pula menjadi sedemikian nyata sehingga setiap orang mau tak mau terpaksa membenarkannya. Ia akan membuka pintu bagi akal, tanpa mengambil ikhtiar dari tangannya. Sebab jika suatu tanda kiamat terlihat sepenuhnya pada derajat kenyataan yang jelas, dan setiap orang terpaksa membenarkannya; maka ketika itu suatu potensi seperti arang tinggal berdampingan dengan suatu potensi seperti berlian. Rahasia taklif dan hasil ujian menjadi sia-sia. Maka karena inilah, dalam banyak masalah seperti masalah Mahdi dan Sufyan, telah terjadi banyak perselisihan. Dan riwayat-riwayat pun sangat beragam, muncul hukum-hukum yang saling bertentangan.
Asas Kedua
Masalah-masalah keislaman memiliki tingkatan. Yang satu meminta bukti yang pasti, yang lain mencukupkan diri dengan dugaan kuat. Yang lain lagi hanya menginginkan penerimaan-penyerahan dan tidak menolak. Maka, pada masalah-masalah cabang yang bukan termasuk pokok-pokok keimanan, atau pada kejadian-kejadian zaman, pada masing-masingnya tidak dituntut keyakinan yang pasti dan bukti yang qath'i. Melainkan hanya tidak menolak dan tidak mengusiknya dengan penyerahan diri.
Asas Ketiga
Pada zaman Sahabat, banyak ulama Bani Israil dan Nasrani masuk Islam. Pengetahuan lama mereka pun ikut memeluk Islam bersama mereka. Sebagian pengetahuan terdahulu mereka yang bertentangan dengan kenyataan disangka sebagai milik keislaman.
Asas Keempat
Sebagian perkataan para perawi hadis mulia, atau makna-makna yang mereka simpulkan, dianggap berasal dari matan hadis. Padahal karena manusia tak lepas dari kesalahan, sebagian kesimpulan atau perkataan mereka yang bertentangan dengan kenyataan disangka hadis lalu dihukumi lemah.
Asas Kelima
Sesuai rahasia اِنَّ ف۪ى اُمَّت۪ى مُحَدَّثُونَ yakni مُلْهَمُونَ, sebagian makna yang datang melalui ilham para muhaddits yang diberi ilham — yaitu ahli kasyaf dan ahli wilayah — disangka hadis. Padahal ilham para wali — dengan sebab beberapa gangguan — dapat keliru. Maka dari jenis inilah dapat muncul sebagian hal yang bertentangan dengan hakikat.
Asas Keenam
Ada sebagian kisah yang telah masyhur di antara manusia yang menjadi bagaikan pepatah. Tidak dipandang makna hakikinya. Dipandang untuk maksud apa ia dibawakan. Maka dari jenis inilah, Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم membawakan sebagian kisah dan cerita yang telah dikenal di antara manusia, untuk suatu maksud bimbingan, dari jenis perumpamaan dan kiasan. Jika ada kekurangan pada makna hakiki masalah jenis ini, ia kembali kepada adat kebiasaan manusia dan merujuk kepada pengetahuan serta pendengaran umum.
Asas Ketujuh
Ada banyak sekali penyerupaan dan perumpamaan yang, dengan berlalunya masa atau dengan berpindahnya ilmu dari tangan ilmu ke tangan kejahilan, dianggap sebagai hakikat materi. Lalu jatuh ke dalam kesalahan. Misalnya: dua malaikat Allah yang menjadi pengawas hewan-hewan darat dan laut, dengan nama "Tsaur" dan "Hût" serta dalam wujud lembu dan ikan di alam mitsal, disangka seekor lembu jantan besar dan seekor ikan jasmani, lalu hadis pun diusik. Dan misalnya: suatu ketika di hadapan Nabi terdengar suara yang dalam. Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم bersabda: "Suara ini adalah suara sebuah batu yang telah menggelinding selama tujuh puluh tahun dan baru pada saat ini jatuh ke dasar Jahannam." Maka orang yang mendengar hadis ini, yang tak sampai kepada hakikatnya, menyimpang kepada pengingkaran. Padahal dua puluh menit setelah hadis itu, telah pasti bahwa: seseorang datang lalu berkata kepada Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم: "Munafik yang terkenal itu mati dua puluh menit yang lalu." Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم menerangkan dengan cara yang amat fasih bahwa munafik yang telah berusia tujuh puluh tahun itu, sebagai sebuah batu Jahannam, seluruh masa umurnya tak lain adalah kemerosotan, kejatuhan ke esfel-i sâfilîn kekufuran. Cenâb-ı Haq memperdengarkan suara itu pada saat kematiannya, lalu menjadikannya suatu tanda.
Asas Kedelapan
Cenâb-ı Hakîm Yang Mutlak, di negeri percobaan dan medan ujian ini, menyembunyikan banyak hal penting di tengah benda-benda yang banyak. Pada penyembunyian itu terkait banyak hikmah, banyak maslahat. Misalnya: Ia menyembunyikan Lailatul Qadar di dalam seluruh Ramadan; saat terkabulnya doa di dalam hari Jumat; wali-Nya yang diterima di antara manusia; ajal di dalam umur; dan waktu kiamat di dalam umur dunia. Sebab jika ajal manusia tertentu, hingga separuh umurnya ia akan berada dalam kelalaian mutlak, dan setelah separuhnya ia akan merasakan suatu kengerian bagaikan melangkah setapak demi setapak menuju tiang gantungan. Padahal maslahat menjaga keseimbangan akhirat dan dunia serta senantiasa berada di antara takut dan harap menuntut agar; setiap saat mungkin baginya untuk mati sekaligus untuk hidup. Dalam keadaan demikian, umur dua puluh tahun yang samar lebih diutamakan daripada umur seribu tahun yang tertentu. Maka kiamat pun adalah ajal dunia, yakni manusia terbesar ini. Sekiranya waktunya tertentu, seluruh abad pertama dan pertengahan akan tenggelam dalam kelalaian mutlak, dan abad-abad akhir akan tinggal dalam kengerian. Sebagaimana manusia dengan kehidupan pribadinya terkait dengan kelestarian rumah dan desanya. Demikian pula; dengan kehidupan sosial dan jenisnya, ia terkait dengan kelangsungan hidup bumi dan dunia. Al-Qur'an berfirman اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ. Ia berfirman "Kiamat itu dekat." Tidak datangnya kiamat setelah lewat sekian ribu tahun tak mencederai kedekatannya. Sebab kiamat adalah ajal dunia. Dibanding umur dunia, seribu atau dua ribu tahun adalah bagaikan satu-dua hari atau satu-dua menit dibanding satu tahun. Saat kiamat bukanlah semata ajal kemanusiaan sehingga ia dinisbahkan kepada umurnya lalu dipandang jauh. Maka karena inilah, Sang Hakîm Yang Mutlak menyembunyikan kiamat dalam ilmu-Nya sebagai salah satu dari lima perkara gaib. Maka dari rahasia penyamaran inilah, setiap abad, bahkan Abad Kebahagiaan (Asr-ı Saadet) yang berpandangan hakikat sekalipun, senantiasa takut akan kiamat. Bahkan sebagian mereka berkata: "Syarat-syaratnya nyaris telah muncul."
Maka manusia tak berperi yang tak mengetahui hakikat ini berkata: "Mengapa pikiran para Sahabat — yang berkalbu waspada lagi berpandangan tajam, yang menerima pelajaran perincian akhirat — seakan-akan jatuh menyimpang seribu tahun dari hakikat, sehingga mereka menyangka dekat pada masa mereka suatu hakikat yang akan datang seribu empat ratus tahun kemudian di masa depan dunia?"
Jawabnya
Karena para Sahabat, dengan memikirkan negeri akhirat melebihi siapa pun berkat limpahan pergaulan dengan kenabian, dengan mengetahui kefanaan dunia, dengan memahami hikmah Ilahi dalam penyamaran waktu kiamat, lalu senantiasa mengambil sikap menanti terhadap ajal dunia sebagaimana terhadap ajal pribadi, telah bersungguh-sungguh bekerja untuk akhirat mereka. Pengulangan Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم "Nantikanlah kiamat, tunggulah ia" adalah suatu bimbingan Nabi yang muncul dari hikmah ini. Bukanlah dengan hukum suatu wahyu tentang terjadinya pada waktu tertentu sehingga ia jauh dari hakikat. Sebab (langsung) berbeda, hikmah berbeda. Maka perkataan Nabi صلى الله عليه وسلم jenis ini muncul dari hikmah penyamaran. Dan dari rahasia inilah; tokoh-tokoh yang akan datang di akhir zaman seperti Mahdi dan Sufyan telah dinanti sejak lama, bahkan sejak zaman Tabiin, dan mereka pun berharap dapat menjumpainya. Bahkan sebagian ahli wilayah berkata "Mereka telah lewat." Maka ini pun, seperti kiamat, hikmah Ilahi menuntut agar; waktunya tidak tertentu. Sebab setiap zaman, setiap abad, membutuhkan makna "Mahdi" — yang akan menjadi tumpuan penguatan kekuatan maknawi dan penyelamat dari keputusasaan. Dalam makna ini, mesti ada bagian bagi setiap abad. Dan agar tidak mengikuti orang-orang jahat di tengah kelalaian dan tidak melepaskan kendali nafsu dalam ketidakpedulian, setiap abad mesti berhati-hati dan takut akan tokoh-tokoh dahsyat yang akan memimpin kemunafikan. Sekiranya ditentukan, maslahat bimbingan umum akan sia-sia.
Kini, perselisihan dan rahasia riwayat-riwayat tentang tokoh-tokoh seperti Mahdi adalah demikian: Para penafsir hadis menerapkan matan hadis pada penafsiran dan penyimpulan mereka. Misalnya: karena pusat kesultanan saat itu berada di Damaskus atau Madinah, mereka membayangkan kejadian-kejadian Mahdi atau Sufyan berada di tempat-tempat seperti Basrah, Kufah, Damaskus yang dekat dengan pusat kesultanan, lalu menafsirkannya demikian. Dan mereka membayangkan karya-karya besar yang berkaitan dengan pribadi maknawi tokoh-tokoh itu atau dengan jamaah yang mereka wakili, ada pada zat pribadi mereka, lalu menafsirkannya sedemikian rupa sehingga tokoh-tokoh luar biasa itu, tatkala muncul, seolah akan dikenali oleh seluruh manusia. Padahal kita telah berkata: Dunia ini adalah medan percobaan. Pintu bagi akal dibuka, tetapi ikhtiar tak diambil dari tangan. Maka tokoh-tokoh itu, bahkan Dajjal yang dahsyat itu pun, tatkala muncul, kebanyakan orang, bahkan ia sendiri, pada mulanya tak mengetahui bahwa dirinya Dajjal. Melainkan dengan ketelitian cahaya iman, tokoh-tokoh akhir zaman itu dapat dikenali.
Tentang Dajjal, yang termasuk tanda kiamat, dalam hadis mulia diriwayatkan: "Hari pertamanya seperti setahun, hari keduanya seperti sebulan, hari ketiganya seperti sepekan, hari keempatnya seperti hari-hari biasa. Tatkala ia muncul, dunia mendengarnya. Dalam empat puluh hari ia mengelilingi dunia." Manusia tak berperi menyebut riwayat ini mustahil. Sekali-kali tidak — mereka pergi kepada pengingkaran dan pembatalan riwayat ini. Padahal — sedangkan وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ — hakikatnya semestinya demikian: ia adalah isyarat kepada munculnya, dari arah utara, seorang tokoh yang akan memimpin suatu arus besar yang tersaring dari pikiran kufur kaum naturalis di utara — yang paling pekat dari alam kekufuran — dan yang akan mengingkari uluhiyah. Dan di dalam isyarat ini terdapat suatu rumus hikmah bahwa: di lingkaran yang dekat dengan kutub utara, sepanjang tahun adalah satu malam satu siang. Enam bulan malam, enam bulan siang. "Satu hari Dajjal seperti setahun." Itu isyarat kepada kemunculannya di dekat lingkaran itu. Maksud dari perkataan "Hari keduanya sebulan" adalah: semakin ke arah sini dari utara, kadang terjadi bahwa pada suatu bulan musim panas matahari tak terbenam. Ini pun isyarat kepada keluarnya Dajjal dari utara lalu menyerbu ke arah alam peradaban. Dengan menyandarkan "hari" kepada Dajjal, ia mengisyaratkan kepada isyarat ini. Semakin ke arah sini, dalam sepekan matahari tak terbenam. Semakin datang, terbit dan terbenamnya berlangsung tiga jam. Aku pernah berada di tempat seperti itu tatkala menjadi tawanan di Rusia. Dekat kami ada suatu tempat yang matahari tak terbenam selama sepekan. Orang-orang pergi ke sana untuk bertamasya. Adapun keterangan "Tatkala Dajjal muncul, seluruh dunia mendengarnya" telah dipecahkan oleh telegraf dan radio. Dan mengelilingi dunia dalam empat puluh hari telah dipecahkan oleh kereta api dan pesawat terbang yang menjadi kendaraannya. Kaum ateis yang dahulu memandang mustahil kedua keterangan ini, kini memandangnya biasa!..
Tentang Ya'jûj dan Ma'jûj serta Tembok (Sadd), yang termasuk tanda kiamat, karena telah kutulis agak terperinci dalam sebuah risalah, kuserahkan ke sana; di sini hanya kami katakan bahwa: Golongan-golongan yang dahulu memporak-porandakan perhimpunan manusia dengan nama Manchu dan Mongol serta menjadi sebab dibangunnya Tembok Cina, dalam riwayat disebutkan bahwa menjelang kiamat mereka akan kembali memporak-porandakan peradaban manusia dengan suatu pikiran seperti anarkisme. Sebagian kaum ateis berkata: "Di mana golongan-golongan yang membuat dan akan membuat sekian banyak keanehan ini?"
Jawabnya
Suatu wabah seperti belalang, pada suatu musim, terdapat dalam jumlah yang teramat banyak. Tatkala musim berubah, hakikat golongan-golongan yang banyak — yang merusak negeri itu — tersembunyi pada sebagian individu yang terbatas. Tatkala waktunya tiba lagi, dengan perintah Ilahi, dari individu-individu yang terbatas itu kerusakan yang sama dalam jumlah yang teramat banyak kembali dimulai. Seakan-akan hakikat kebangsaan mereka menipis, namun tak putus. Tatkala musimnya tiba lagi, ia muncul. Persis demikian pula: golongan-golongan yang suatu masa memorak-porandakan dunia, dengan izin Ilahi, tatkala musimnya tiba, golongan yang sama akan memorak-porandakan peradaban manusia. Namun para penggerak mereka menjelma dalam rupa yang lain. لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ
Asas Kesembilan
Hasil sebagian masalah keimanan memandang ke alam yang terikat lagi sempit ini. Sebagian lainnya memandang ke alam akhirat yang luas lagi mutlak. Karena sebagian hadis mulia tentang keutamaan dan pahala amal datang dalam gaya bahasa yang penuh balâghah untuk memberi pengaruh yang sesuai bagi anjuran (targhib) dan peringatan (tarhib), manusia yang tak teliti menyangkanya berlebih-lebihan. Padahal semua itu, karena merupakan kebenaran itu sendiri dan hakikat yang murni, tak ada penglebihan dan kepalsuan di dalamnya. Di antaranya, hadis yang paling mengusik benak orang-orang tak berperi adalah: لَوْ وُزِنَتِ الدُّنْيَا عِنْدَ اللّٰهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا شَرِبَ الْكَافِرُ مِنْهَا جُرْعَةَ مَاءٍ -atau sebagaimana sabda beliau- yang makna mulianya: "Sekiranya dunia di sisi Cenâb-ı Haq memiliki nilai seberat sayap seekor nyamuk, niscaya orang-orang kafir tak akan meminum darinya seteguk air pun." Hakikatnya demikian: ungkapan عِنْدَ اللّٰهِ bermakna dari alam kekekalan. Ya, selama sebuah cahaya sebesar sayap nyamuk dari alam kekekalan itu bersifat abadi, ia lebih banyak daripada suatu cahaya sementara yang memenuhi muka bumi. Maka maksudnya bukanlah menimbang dunia raksasa dengan sayap seekor nyamuk, melainkan bahwa dunia khusus yang tertampung dalam umur pendek setiap orang tak seimbang dengan suatu limpahan Ilahi dan anugerah Ilahi yang abadi sebesar sayap nyamuk dari alam kekekalan. Dan dunia memiliki dua wajah, bahkan tiga wajah. Yang satu, cermin bagi asma Cenâb-ı Haq. Yang lain memandang ke akhirat; ia adalah ladang akhirat. Yang lain memandang ke kefanaan, ke ketiadaan. Yaitu dunia ahli kesesatan yang kita kenal, yang tak diridai Ilahi. Maka maksudnya adalah isyarat bahwa bukanlah dunia raksasa — yang menjadi cermin asmâul-husnâ, surat-surat Samadâni, dan ladang akhirat itu — melainkan dunia para pemuja dunia yang bertentangan dengan akhirat serta menjadi sumber segala kesalahan dan mata air segala bencana, yang tak seimbang dengan satu zarah abadi yang diberikan kepada ahli iman di alam akhirat. Maka di manakah hakikat yang paling benar lagi sungguh-sungguh ini, dan di manakah makna yang dipahami oleh ahli kesesatan yang tak berperi itu? Di manakah makna yang mereka sangka paling berlebih-lebihan lagi paling palsu itu?
Dan misalnya: salah satu yang disangka berlebih-lebihan oleh ahli kesesatan yang tak berperi, bahkan yang mereka duga sebagai penglebihan dan kepalsuan yang mustahil, adalah riwayat-riwayat tentang pahala amal dan keutamaan sebagian surah. Misalnya: "Fatihah memiliki pahala sebanding Al-Qur'an." "Surah Ikhlas sepertiga Al-Qur'an", "Surah Iza Zulziletil-ardu seperempat", "Surah Qul yâ ayyuhal-kâfirûn seperempat", "Surah Yasin sepuluh kali sebanding Al-Qur'an" — demikian ada riwayatnya. Maka manusia yang tak berperi lagi tak teliti berkata: "Ini mustahil. Sebab di dalam Al-Qur'an ada Yasin dan surah-surah utama lainnya. Karena itu ia menjadi tak bermakna."
Jawabnya
Hakikatnya demikian: setiap huruf Al-Qur'anul Hakîm memiliki suatu pahala, ia adalah satu kebaikan. Dari karunia Ilahi, pahala huruf-huruf itu bertunas: kadang memberi sepuluh butir, kadang tujuh puluh, kadang tujuh ratus (seperti huruf-huruf Ayatul Kursi), kadang seribu lima ratus (seperti huruf-huruf Surah Ikhlas), kadang sepuluh ribu (seperti ayat-ayat yang dibaca pada Malam Berat dan yang bertepatan dengan waktu-waktu diterima), dan kadang tiga puluh ribu (misalnya seperti ayat-ayat yang dibaca pada Lailatul Qadar, laksana banyaknya biji apiun). Dan dengan isyarat bahwa malam itu sebanding seribu bulan, dipahami bahwa satu hurufnya pada malam itu memiliki tiga puluh ribu pahala. Maka Al-Qur'anul Hakîm, bersama pahalanya yang berlipat, sudah pasti tak dapat ditimbang dan tak akan pernah dapat ditimbang. Melainkan dengan pahala asalnya ia dapat ditimbang dengan sebagian surah.
Misalnya: kita andaikan sebuah ladang yang ditanami jagung, seribu biji telah ditanam. Jika kita andaikan sebagian bijinya memberi tujuh bulir, dan pada tiap bulir menjadi seratus butir, maka ketika itu satu biji tunggal setara dua pertiga seluruh ladang. Misalnya: yang satu memberi sepuluh bulir, pada tiap bulir memberi dua ratus butir, maka ketika itu satu biji tunggal setara dua kali lipat biji-biji di ladang asal. Dan demikianlah, kiaskanlah.
Kini kita bayangkan Al-Qur'anul Hakîm sebagai suatu ladang samawi yang bercahaya lagi kudus. Maka setiap hurufnya, dengan pahala asalnya, adalah bagaikan sebutir biji. Bulir-bulirnya tak diperhitungkan. Ia dapat ditimbang dengan surah-surah dan ayat-ayat yang diriwayatkan tentang keutamaannya, seperti Surah Yasin, Ikhlas, Fatihah, Qul yâ ayyuhal-kâfirûn, Iza Zulziletil-ardu. Misalnya: karena Al-Qur'anul Hakîm memiliki tiga ratus ribu enam ratus dua puluh huruf, Surah Ikhlas beserta basmalah adalah enam puluh sembilan huruf. Tiga kali enam puluh sembilan adalah dua ratus tujuh huruf. Maka setiap huruf Surah Ikhlas memiliki kebaikan mendekati seribu lima ratus. Maka jika huruf-huruf Surah Yasin dihitung, lalu dinisbahkan kepada jumlah seluruh huruf Al-Qur'anul Hakîm, dan diperhitungkan bahwa ia berlipat sepuluh kali, muncullah hasil demikian: setiap huruf Yasin yang mulia memiliki pahala kira-kira mendekati lima ratus. Yakni dapat dihitung sekian kebaikan. Maka jika engkau menerapkan yang lain berdasarkan ini, engkau akan paham betapa suatu hakikat yang lembut, indah, benar, lagi tanpa kepalsuan.
Asas Kesepuluh
Sebagaimana pada kebanyakan golongan makhluk, pada perbuatan dan amal manusia pun terdapat sebagian individu luar biasa. Individu-individu itu, jika maju dalam kebaikan, mereka menjadi kebanggaan jenisnya; jika tidak, mereka menjadi sumber kesialannya. Dan mereka tersembunyi. Mereka bagaikan suatu pribadi maknawi, suatu cita-cita ideal. Masing-masing individu lain berupaya menjadi individu itu, dan ada kemungkinan menjadinya. Maka individu luar biasa nan sempurna itu; bersifat mutlak, samar, lalu mungkin berada di mana saja. Dari segi kesamaran ini, secara logika ia dapat dihukumi menyeluruh dalam bentuk proposisi kemungkinan. Yakni, mungkin setiap amal memberikan hasil demikian.
Misalnya, "Barangsiapa mengerjakan dua rakaat salat pada waktu anu, ia setara satu haji." Maka dua rakaat salat pada sebagian waktu setara satu haji adalah hakikat. Pada setiap dua rakaat salat, makna ini mungkin secara menyeluruh. Maka riwayat jenis ini, kejadian sebenarnya tidaklah abadi dan menyeluruh. Sebab selama penerimaan memiliki syarat-syarat, ia keluar dari kemenyeluruhan dan keabadian. Melainkan ia entah bersifat sebenarnya sementara lagi mutlak, atau bersifat kemungkinan lagi menyeluruh. Maka kemenyeluruhan dalam hadis jenis ini adalah dari segi kemungkinan. Misalnya: "Gibah itu seperti pembunuhan." Yakni pada gibah terdapat suatu individu yang lebih membahayakan daripada racun pembunuh seperti pembunuhan. Misalnya: "Sepatah kata yang baik menggantikan suatu sedekah besar seperti membebaskan seorang budak." Kini, untuk targhib dan dorongan, adalah membangkitkan kesukaan kepada kebaikan dan kebencian dari keburukan, dengan menunjukkan secara nyata kemungkinan individu sempurna nan samar itu berada di mana saja secara mutlak. Dan pula, hal-hal alam kekal tak dapat ditimbang dengan ukuran alam ini. Yang terbesar di sini tak dapat setara dengan yang terkecil di sana. Karena pahala amal memandang ke alam itu, pandangan duniawi kita terlalu sempit baginya. Kita tak dapat menampungnya dalam akal kita. Misalnya: مَنْ قَرَاَ هٰذَا اُعْطِىَ لَهُ مِثْلُ ثَوَابِ مُوسٰى وَ هَارُونَ yakni: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ السَّمٰوَاتِ وَ رَبِّ اْلاَرَض۪ينَ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ ❊ وَلَهُ الْكِبْرِيَٓاءُ فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَ هُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ ❊ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ السَّمٰوَاتِ وَ رَبِّ اْلاَرَض۪ينَ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ ❊ وَلَهُ الْعَظَمَةُ فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَ هُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ ❊ وَلَهُ الْمُلْكُ رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ هُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ ❊
Riwayat-riwayat seperti inilah yang paling menarik perhatian orang-orang tak berperi lagi tak teliti. Hakikatnya demikian: dengan pandangan sempit dan pikiran pendek kita di dunia, sejauh mana kita membayangkan dan mengetahui pahala Nabi Mûsâ dan Hârûn Alaihimassalâm? Hakikat pahala yang akan diberikan Sang Rahîm Mutlak di alam keabadian, dalam kebahagiaan abadi, kepada seorang hamba-Nya yang berada dalam kebutuhan tak terhingga, sebagai imbalan satu wirid, dapat setara dengan pahala kedua zat itu — namun pahala mereka yang masuk ke dalam lingkaran ilmu dan dugaan kita. Misalnya: seorang badui liar yang sama sekali belum pernah melihat raja. Ia tak mengetahui kemegahan kesultanan. Ia membayangkan seorang raja bagaikan membayangkan seorang tuan tanah di suatu desa; dengan pikiran terbatasnya ia mengetahui raja hanya sebesar tuan tanah yang agak lebih besar. Bahkan di kalangan kita ada suatu golongan berhati polos yang dahulu berkata: "Apa yang dikerjakan raja di samping tungkunya dan di depan periuk bubur gandum yang ia masak sendiri, tuan tanah kami mengetahuinya." Yakni mereka membayangkan raja dalam keadaan yang teramat sempit lagi biasa, sampai-sampai membayangkannya memasak bubur gandumnya sendiri, bagaikan kemegahan seorang komandan kompi. Kini jika seseorang berkata kepada salah satu dari orang-orang itu: "Jika hari ini engkau mengerjakan pekerjaan ini untukku, akan kuberi engkau suatu kemegahan sebesar kemegahan raja yang engkau ketahui." Yakni, akan kuberi suatu pangkat sebesar komandan kompi. Perkataan itu benar. Sebab yang masuk ke dalam lingkaran pikiran sempitnya dari kemegahan raja, hanyalah suatu keagungan sebesar komandan kompi.
Maka dengan pandangan dunia, dengan pikiran sempit kita, kita tak dapat memikirkan hakikat-hakikat pahala yang menghadap ke akhirat bahkan sekadar badui itu pun. Ia bukanlah penimbangan dengan pahala hakiki Nabi Mûsâ dan Hârûn Alaihimassalâm yang tak kita ketahui — sebab kaidah penyerupaan mengiaskan yang tak diketahui kepada yang diketahui — melainkan pahala hakiki yang tak kita ketahui bagi satu wirid seorang hamba mukmin, sebagai imbalan pahala mereka yang kita ketahui dan masuk ke dalam dugaan kita. Dan pula, permukaan laut dan biji mata setetes air adalah setara dalam menangkap pantulan penuh Matahari. Perbedaannya pada mutu (keyfiyet). Hakikat pahala yang terpantul pada cermin roh Nabi Mûsâ dan Hârûn Alaihimassalâm yang bagaikan laut, adalah hakikat pahala yang sama yang diperoleh seorang hamba mukmin yang bagaikan setetes air dari satu ayat. Pada hakikat dan kuantitas keduanya satu. Adapun mutu, tunduk pada kemampuan. Dan kadang terjadi bahwa; sepatah kata tunggal, satu tasbih tunggal, membuka suatu khazanah kebahagiaan sedemikian rupa sehingga enam puluh tahun khidmah tak membukanya. Maka ada beberapa keadaan yang; satu ayat tunggal dapat memberi faedah sebanding Al-Qur'an. Dan limpahan Ilahi yang diperoleh Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم — yang menjadi wadah bagi ismul-a'zam — pada satu ayat, dapat sebanding seluruh limpahan seorang nabi. Jika dikatakan bahwa seorang mukmin yang — dengan warisan Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم — menjadi wadah bagi bayangan ismul-a'zam, menurut kemampuannya, dari segi kuantitas memperoleh pahala sebanding limpahan seorang nabi, itu tak akan bertentangan dengan hakikat. Dan pula, pahala dan keutamaan berasal dari alam cahaya. Suatu alam dari alam itu dapat tertampung dalam sebuah zarah. Sebagaimana sebutir zarah kecil dalam sebuah botol dapat tampak bersama bintang-bintang langit. Demikian pula, dalam suatu zikir atau suatu ayat yang memperoleh kebeningan dengan niat murni, dapat tertampung pahala dan keutamaan bercahaya bagaikan langit.
Hasil Perkataan
Wahai engkau yang tak berperi, tak teliti, lemah imannya, kuat filsafatnya, mementingkan diri, lagi tukang kritik! Perhatikanlah "Sepuluh Asas" ini. Kemudian, dengan berdalih pada suatu riwayat yang engkau lihat bertentangan dengan hakikat dan berlawanan dengan kenyataan, janganlah engkau mengulurkan jari keberatanmu yang akan mencederai hadis mulia dan — secara tak langsung — tingkat kemaksuman Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم! Sebab, pertama-tama, sepuluh lingkaran "Sepuluh Asas" itu akan memalingkanmu dari pengingkaran. "Jika ada kekurangan hakiki, ia milik kami" kata mereka, ia tak dapat kembali kepada hadis. "Jika ia tidak hakiki, itu milik keburukan pemahamanmu" kata mereka. Kesimpulannya: untuk pergi kepada pengingkaran dan penolakan, perlu mendustakan dan membatalkan "Sepuluh Asas" ini. Kini jika engkau memiliki keinsafan, setelah memikirkan "Sepuluh Usul" ini dengan ketelitian yang sempurna, janganlah engkau bangkit mengingkari suatu hadis yang akalmu lihat bertentangan dengan hakikat! Katakanlah "Ia entah memiliki suatu tafsir, atau suatu takwil, atau suatu tabir", lalu jangan mengusiknya.
Asas Kesebelas
Sebagaimana Al-Qur'anul Hakîm memiliki mutasyabihat; ia membutuhkan takwil atau meminta penyerahan mutlak. Hadis pun memiliki kesulitan seperti mutasyabihat Al-Qur'an. Kadang ia membutuhkan tafsir dan tabir yang teramat teliti. Kalian dapat mencukupkan diri dengan contoh-contoh yang telah lewat.
Ya, sebagaimana orang yang terjaga menakwilkan mimpi orang yang tidur. Demikian pula: kadang seorang yang tidur mendengar perkataan orang-orang terjaga yang berbicara di sampingnya, namun ia memberi makna dan menakwilkannya dalam suatu cara yang ia terapkan pada alam mimpinya sendiri. Demikian pula: wahai engkau manusia tak berperi yang ditidurkan dalam tidur kelalaian dan filsafat! Rahasia مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى dan تَنَامُ عَيْن۪ى وَلاَ يَنَامُ قَلْب۪ى — janganlah engkau ingkari dalam mimpimu apa yang dilihat oleh zat yang menjadi wadah hukum itu, yang benar-benar terjaga lagi bangun; melainkan takwilkanlah ia. Ya, jika seekor nyamuk menggigit seseorang dalam tidurnya, kadang ia menganggapnya suatu hakikat mimpi bagaikan menerima luka dalam peperangan dahsyat. Jika ia ditanya, ia akan berkata "Sungguh aku terluka. Meriam dan senapan ditembakkan kepadaku." Orang-orang yang duduk di sampingnya menertawakan penderitaannya dalam tidur. Maka pandangan kelalaian yang berselimut tidur dan pikiran filsafat ini, sudah pasti tak dapat menjadi batu uji bagi hakikat-hakikat kenabian.
Asas Kedua Belas
Pandangan kenabian, tauhid, dan iman; karena memandang kepada keesaan, akhirat, dan uluhiyah, ia melihat hakikat menurut itu. Pandangan ahli filsafat dan hikmah; memandang kepada kemajemukan, sebab-sebab, dan alam, ia melihat menurut itu. Titik pandang keduanya sangat berjauhan. Maksud terbesar ahli filsafat, di dalam maksud para ahli Ushuluddin dan ulama Ilmu Kalam, adalah sedemikian kecil lagi tak berarti hingga tak terlihat.
Maka karena itulah, dalam perincian hakikat wujud dan keadaannya yang halus, ahli hikmah telah maju jauh. Namun dalam ilmu-ilmu tinggi Ilahi dan ukhrawi yang merupakan hikmah hakiki, mereka sedemikian tertinggal hingga lebih tertinggal daripada mukmin yang paling sederhana. Orang-orang yang tak memahami rahasia ini menyangka para muhaqqiq Islam tertinggal dibanding para filsuf. Padahal orang-orang yang akalnya telah turun ke matanya, yang tenggelam dalam kemajemukan, tak berhak sama sekali untuk dapat menyusul mereka yang — dengan warisan kenabian — sampai kepada maksud-maksud tinggi nan kudus.
Dan pula, suatu perkara, tatkala dipandang dengan dua pandangan, menunjukkan dua hakikat yang berbeda. Keduanya dapat menjadi hakikat. Tak ada satu pun hakikat qath'i sains yang dapat mengusik hakikat kudus Al-Qur'an. Tangan pendek sains tak dapat mencapai ujung jubah-Nya yang tersucikan lagi mahatinggi. Sebagai contoh, kami sebutkan satu misal:
Misalnya, jika Bumi dipandang dengan pandangan ahli hikmah, hakikatnya demikian: ia berputar mengelilingi Matahari bagaikan sebuah planet menengah di antara bintang-bintang tak terhingga. Suatu makhluk kecil dibanding bintang-bintang. Namun tatkala dipandang dengan pandangan ahli Al-Qur'an — sebagaimana dijelaskan dalam Kelimat Kelima Belas — hakikatnya demikian: karena manusia yang menjadi buah alam adalah suatu mukjizat kudrat yang paling menghimpun, paling indah, paling tak berdaya, paling mulia, paling lemah, lagi paling lembut, maka bumi yang menjadi buaian dan tempat tinggalnya — meskipun secara materi kecil lagi hina dibanding langit — secara maknawi dan seni telah menjadi kalbu dan pusat seluruh alam semesta.. galeri dan pameran seluruh mukjizat seni-Nya.. wadah dan titik fokus seluruh tajalli asma-Nya.. tempat perhimpunan dan cermin bagi aktivitas Rabbâni yang tak terhingga.. pusat dan pasar bagi penciptaan penuh kedermawanan dari jenis-jenis kecil tak terhingga khususnya tumbuhan dan hewan.. tempat pameran dalam ukuran kecil bagi karya-karya di alam-alam akhirat yang teramat luas.. bengkel yang bekerja cepat bagi tenunan-tenunan abadi.. tempat peniruan yang cepat berubah bagi pemandangan-pemandangan kekal.. dan ladang sempit lagi sementara serta tempat pengasuhan bagi biji-biji taman abadi yang cepat berbulir.
Maka dari keagungan maknawi dan kepentingan seni Bumi inilah, Al-Qur'anul Hakîm menyetarakan Bumi — yang bagaikan buah kecil dari sebuah pohon besar dibanding langit — dengan seluruh langit, bagaikan menyetarakan kalbu kecil dengan tubuh besar. Ia meletakkannya pada satu daun timbangan, dan seluruh langit pada satu daun timbangan, lalu berulang kali berfirman رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ. Maka kiaskanlah masalah lainnya pada ini, dan pahamilah bahwa: hakikat filsafat yang tak berjiwa lagi suram tak dapat berbenturan dengan hakikat Al-Qur'an yang cemerlang lagi berjiwa. Karena titik pandangnya berbeda-beda, ia tampak berbeda-beda.
CABANG KEEMPAT
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِى السَّمٰوَاتِ وَمَنْ فِى اْلاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَٓابُّ وَكَث۪يرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَث۪يرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَٓاءُ
Kami hanya akan menunjukkan satu permata dari khazanah ayat yang besar lagi luas ini. Yaitu demikian: Al-Qur'anul Hakîm menegaskan bahwa: dari arasy hingga bumi, dari bintang-bintang hingga lalat-lalat, dari malaikat hingga ikan-ikan, dari planet-planet hingga zarah-zarah, segala sesuatu bersujud, beribadah, memuji, dan bertasbih kepada Cenâb-ı Haq. Namun ibadah mereka berbeda-beda, beragam, menurut asma yang menjadi wadahnya dan menurut kemampuannya. Kami akan menjelaskan salah satu jenis keragaman ibadah mereka dengan suatu perumpamaan. Misalnya: وَ لِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى Tatkala seorang Pemilik Kerajaan yang agung membangun sebuah kota besar atau sebuah istana megah, zat itu mempekerjakan dan menggunakan empat macam pekerja dalam pembangunannya:
Macam pertama
adalah para hamba dan budak milik-Nya. Macam ini tak memiliki gaji ataupun upah. Melainkan pada setiap amal yang mereka kerjakan dengan perintah tuan mereka, mereka memiliki suatu kelezatan yang teramat halus dan kesukaan yang menyenangkan. Apa pun yang dikatakan tentang pujian dan sifat tuan mereka, ia menambah kelezatan dan kesukaan mereka. Mereka menganggap penautan diri kepada tuan mereka yang kudus sebagai suatu kehormatan besar, lalu mencukupkan diri dengannya. Dan mereka menemukan kelezatan maknawi pula dari memandang berbagai pekerjaan atas nama, atas perhitungan, dan dengan pandangan tuan itu. Mereka tak membutuhkan upah, pangkat, dan gaji.