Risale-i NurKelimat

Pembahasan Pertama

Kelimat · hlm. 310

Dari ribuan keindahan iman, hanya lima yang akan kami paparkan dalam "Lima Nokta".

Nokta Pertama

Manusia, dengan cahaya iman, naik ke a'lâ-yi illiyyîn (puncak tertinggi); ia memperoleh suatu nilai yang layak bagi surga. Dan dengan kegelapan kekufuran, ia jatuh ke esfel-i sâfilîn (serendah-rendahnya); ia masuk ke dalam keadaan yang menjadikannya layak bagi neraka. Karena iman menautkan manusia kepada Sang Pembuatnya Yang Mahaagung (Shâni'-i Dzul-Jalâl); iman adalah suatu penautan (intisâb). Maka dengan itu, manusia memperoleh nilai dari segi seni Ilahi yang tampak padanya dan ukiran-ukiran asma Rabbâni. Kekufuran memutus penautan itu. Dengan pemutusan itu, seni Rabbâni tersembunyi. Nilainya pun hanya tinggal dari segi materinya belaka. Adapun materi, karena ia adalah kehidupan hewani yang fana, yang lenyap, lagi sementara, maka nilainya nyaris tiada.

Rahasia ini akan kami jelaskan dengan sebuah perumpamaan. Misalnya: sebagaimana pada karya-karya seni buatan manusia, nilai materi dan nilai seninya berbeda-beda. Kadang keduanya setara, kadang materi lebih berharga, dan kadang terjadi bahwa pada suatu materi seharga besi lima kuruş terdapat seni senilai lima lira. Bahkan kadang, suatu karya seni antik — sementara ia bernilai satu juta — materinya tidak berharga lima kuruş sekalipun. Maka karya seni antik semacam itu, apabila dibawa ke pasar para pedagang barang antik, lalu dinisbahkan kepada seniman ulung nan piawai dari masa silam dan disebut-sebut namanya serta dipamerkan bersama seninya, niscaya terjual seharga satu juta. Namun apabila dibawa ke pasar para pandai besi yang kasar, ia hanya laku seharga besi lima kuruş.

Demikianlah manusia adalah karya antik Cenâb-ı Haq (Allah Yang Mahatinggi) semacam itu, dan mukjizat kudrat-Nya yang paling halus lagi paling lembut, yang telah Dia ciptakan sebagai wadah bagi manifestasi seluruh asma-Nya, sebagai tempat bergantung ukiran-ukiran-Nya, dan dalam rupa suatu miniatur alam semesta.

Apabila cahaya iman masuk ke dalamnya, seluruh ukiran penuh makna di atasnya terbaca dengan cahaya itu. Mukmin itu membacanya dengan kesadaran, dan dengan penautan itu ia pun membuat orang lain membacanya. Yakni: dengan makna-makna seperti "Aku adalah karya buatan Sang Pembuat Yang Mahaagung, makhluk-Nya, wadah rahmat dan kemurahan-Nya", tampaklah seni Rabbâni pada manusia. Maka iman — yang tak lain adalah penautan kepada Sang Pembuat — menampakkan seluruh jejak seni pada manusia. Nilai manusia terwujud menurut seni Rabbâni itu, dan dari segi ia menjadi cermin bagi Zat Yang Mahasamad. Dengan demikian manusia yang tampak tak berarti ini, dari segi itu, menjadi mukhâthab Ilahi (yang diajak bicara oleh Allah) di atas seluruh makhluk, dan menjadi tamu Rabbâni yang layak bagi surga.

Namun apabila kekufuran — yang tak lain adalah pemutusan penautan — masuk ke dalam diri manusia, maka ketika itu seluruh ukiran asma Ilahi yang penuh makna itu jatuh ke dalam kegelapan, tak terbaca. Sebab, apabila Sang Pembuat dilupakan, sisi-sisi maknawi yang menghadap kepada-Nya pun tak dapat dipahami. Ia seakan jatuh terjungkal kepalanya ke bawah. Kebanyakan seni luhur yang penuh makna dan ukiran maknawi yang tinggi itu tersembunyi. Adapun bagian yang tersisa lagi terlihat oleh mata, ia dinisbahkan kepada sebab-sebab yang rendah, kepada alam, dan kepada kebetulan, hingga akhirnya jatuh runtuh. Yang tadinya masing-masing sebutir berlian gemerlap, kini menjadi sekeping kaca yang pudar. Bobotnya hanya tinggal pada materi hewani. Adapun tujuan dan buah materi — sebagaimana telah kami katakan — hanyalah menjalani satu kehidupan parsial dalam umur yang teramat pendek, dalam keadaan sebagai hewan yang paling lemah, paling membutuhkan, lagi paling penuh derita. Lalu ia pun membusuk dan lenyap. Demikianlah kekufuran meruntuhkan hakikat kemanusiaan semacam itu, mengubahnya dari berlian menjadi arang.

Nokta Kedua

Sebagaimana iman adalah cahaya yang menerangi manusia, membuatnya membaca seluruh surat-surat Samadâni yang tertulis di atasnya, demikian pula ia menerangi alam semesta. Ia menyelamatkan masa lampau dan masa depan dari kegelapan. Rahasia ini akan kami jelaskan dengan sebuah perumpamaan yang kulihat dalam sebuah peristiwa mengenai salah satu rahasia ayat mulia:

اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ

Yaitu demikian

Dalam sebuah peristiwa khayali kulihat: ada dua gunung tinggi, saling berhadapan. Di atasnya terbentang sebuah jembatan yang mengerikan. Di bawah jembatan itu ada jurang yang teramat dalam. Aku berada di atas jembatan itu. Dunia pun, di seluruh penjurunya, dikuasai kegelapan yang pekat lagi tebal. Aku memandang ke sisi kananku; dalam kegelapan tak terhingga kulihat — yakni kubayangkan — sebuah kuburan raksasa. Aku memandang ke sisi kiriku; seakan-akan aku melihat sedang disiapkannya badai-badai dahsyat, huru-hara, dan malapetaka di tengah gelombang-gelombang kegelapan yang mengerikan. Aku memandang ke bawah jembatan; kukira aku melihat suatu jurang yang teramat dalam. Menghadapi kegelapan mengerikan ini aku hanya punya sebuah lampu saku yang redup. Kugunakan ia, dan dengan cahayanya yang setengah-setengah aku memandang. Tampaklah kepadaku suatu keadaan yang amat mengerikan. Bahkan di ujung jembatan di hadapanku dan di sekelilingnya tampak naga-naga, singa-singa, dan binatang-binatang buas yang begitu menyeramkan, sampai-sampai aku berkata: "Andai saja lampu saku ini tak kumiliki, andai aku tak melihat kedahsyatan ini!" Ke arah mana pun kuputar lampu itu, aku menerima kengerian serupa. "Aduh! Lampu ini menjadi bencana bagi kepalaku," kataku. Aku pun marah kepadanya; lampu saku itu kubantingkan ke tanah hingga pecah. Seolah pecahnya lampu itu — seakan aku menyentuh sakelar lampu listrik raksasa yang menerangi dunia — maka seketika kegelapan itu tersibak. Setiap penjuru dipenuhi cahaya lampu itu. Ia memperlihatkan hakikat segala sesuatu. Kulihat: jembatan yang tadi kulihat itu ternyata sebuah jalan raya di tempat yang amat teratur, di tengah dataran. Dan kuburan raksasa yang kulihat di sisi kananku ternyata — dari ujung ke ujung — adalah majelis-majelis ibadah, khidmah, percakapan, dan zikir di bawah pimpinan orang-orang bercahaya di tengah taman-taman hijau nan indah; itulah yang kudapati. Dan jurang-jurang serta puncak-puncak berbadai lagi penuh huru-hara yang kusangka di sisi kiriku itu ternyata — di balik gunung-gunung yang elok, menawan, lagi memikat — terdapat sebuah tempat jamuan raksasa, sebuah taman rekreasi yang indah, dan sebuah tempat peristirahatan yang tinggi; itulah yang samar-samar kulihat. Dan makhluk-makhluk yang kusangka binatang buas dan naga yang mengerikan itu ternyata adalah hewan-hewan jinak nan ramah seperti unta, sapi, domba, dan kambing; itulah yang kulihat. Sambil berkata "Elhamdülillâhi alâ nûr-il îmân (segala puji bagi Allah atas cahaya iman)", aku membaca ayat mulia:

اَللّٰهُ وَلِىُّ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّورِ

lalu aku pun tersadar dari peristiwa itu.

Maka kedua gunung itu adalah: awal kehidupan dan akhir kehidupan.. yakni alam bumi dan alam barzakh. Adapun jembatan itu adalah jalan kehidupan. Sisi kanan itu adalah masa lampau. Sisi kiri adalah masa depan. Adapun lampu saku itu adalah keakuan manusia (ananiyah) yang mementingkan diri, yang bersandar pada pengetahuannya sendiri, dan yang tak mendengarkan wahyu samawi. Adapun benda-benda yang disangka binatang buas itu adalah peristiwa-peristiwa alam dan makhluk-makhluk-Nya yang menakjubkan. Maka orang yang bersandar pada keakuannya, yang jatuh ke dalam kegelapan kelalaian, yang terjangkiti kegelapan kesesatan; ia serupa dengan keadaanku yang pertama dalam peristiwa itu: dengan pengetahuan yang cacat lagi berlumur kesesatan — yang setara dengan lampu saku itu — ia melihat masa lampau dalam rupa kuburan raksasa dan di dalam kegelapan yang berlumur ketiadaan. Ia menampakkan masa depan sebagai belantara liar yang penuh badai lagi bergantung pada kebetulan. Dan ia memperkenalkan peristiwa-peristiwa serta wujud-wujud — yang masing-masing adalah petugas taat nan tunduk di bawah perintah Sang Hakîm Rahîm (Yang Mahabijaksana lagi Maha Penyayang) — sebagai binatang-binatang buas yang membahayakan. Ia menjadikannya wadah bagi hukum ayat:

وَالَّذ۪ينَ كَفَرُٓوا اَوْلِيَٓاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ اِلَى الظُّلُمَاتِ

Namun apabila hidayah Ilahi menjumpainya, iman masuk ke dalam kalbunya, kefiraunan nafsunya patah, dan ia mendengarkan Kitabullah, maka ia akan serupa dengan keadaanku yang kedua dalam peristiwa itu. Ketika itu seketika alam semesta memperoleh warna siang, terisi penuh dengan cahaya Ilahi. Alam pun membaca ayat:

اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ

Ketika itu masa lampau bukanlah kuburan raksasa, melainkan dengan mata kalbu ia melihat bahwa setiap abad adalah jamaah ruh-ruh suci yang menunaikan tugas ubudiyah di bawah pimpinan seorang nabi atau seorang wali; dan setelah menuntaskan tugas kehidupannya, mereka pun terbang ke maqam-maqam yang tinggi seraya berkata "Allâhu Ekber", lalu berpindah ke arah masa depan. Ia memandang ke sisi kirinya, dan dengan cahaya iman itu, dari kejauhan ia samar-samar mengenali suatu jamuan Rahmâni yang telah digelar di istana-istana kebahagiaan di taman-taman surga, di balik sebagian perubahan barzakhi dan ukhrawi yang menjulang bagai gunung. Dan ia mengetahui bahwa peristiwa-peristiwa seperti badai, gempa, dan wabah adalah petugas-petugas yang tunduk. Ia memandang peristiwa-peristiwa seperti badai musim semi dan hujan sebagai — yang secara lahir kasar namun secara maknawi teramat lembut — tempat bergantungnya hikmah-hikmah. Bahkan ia memandang kematian sebagai mukadimah kehidupan abadi, dan kubur sebagai pintu kebahagiaan abadi. Adapun sisi-sisi selebihnya, kiaskanlah engkau sendiri. Terapkanlah hakikat ini pada perumpamaannya...

Nokta Ketiga

Iman itu sekaligus cahaya dan kekuatan. Ya, orang yang meraih iman hakiki dapat menantang alam semesta, dan menurut kadar kekuatan imannya ia dapat selamat dari tekanan berbagai peristiwa. Ia berkata "Tevekkeltü alallâh (aku bertawakal kepada Allah)", lalu di atas bahtera kehidupan ia berlayar dengan penuh ketenteraman di tengah gelombang peristiwa yang sebesar gunung. Ia menitipkan seluruh bebannya ke tangan kudrat Sang Qadîr Mutlak, melintasi dunia dengan tenang, dan beristirahat di barzakh. Kemudian, untuk masuk ke dalam kebahagiaan abadi, ia dapat terbang ke surga. Namun jika ia tidak bertawakal, beban-beban dunia bukannya menerbangkannya, melainkan menyeretnya ke esfel-i sâfilîn. Maka iman meniscayakan tauhid, tauhid meniscayakan penyerahan diri (taslîm), penyerahan diri meniscayakan tawakal, dan tawakal meniscayakan kebahagiaan dua negeri. Namun jangan salah paham. Tawakal bukanlah menolak sebab-sebab sama sekali. Melainkan ia adalah: mengetahui sebab-sebab sebagai tirai tangan kudrat lalu menghormatinya; dan menganggap upaya menempuh sebab-sebab sebagai semacam doa perbuatan; lalu memohon akibat-akibat hanya dari Cenâb-ı Haq, mengetahui hasil-hasilnya berasal dari-Nya, dan bersyukur kepada-Nya.

Perumpamaan orang yang bertawakal dan yang tidak bertawakal serupa dengan kisah ini:

Suatu ketika ada dua orang yang memikul beban berat di pinggang dan di kepala mereka, membeli tiket lalu naik ke sebuah kapal besar. Yang seorang, begitu naik, meletakkan bebannya ke atas kapal, duduk di atasnya, dan mengawasinya. Yang lain, karena ia bodoh sekaligus sombong, tidak menurunkan bebannya ke lantai. Dikatakan kepadanya: "Turunkanlah bebanmu yang berat itu ke kapal, dan beristirahatlah." Ia berkata: "Tidak, aku tak akan menurunkannya. Nanti ia hilang. Aku ini kuat. Akan kujaga hartaku di pinggang dan di kepalaku." Dikatakan lagi kepadanya: "Bahtera sultan nan aman yang mengangkat kita dan kalian ini lebih kuat, ia menjaga jauh lebih baik. Nanti kepalamu pusing, lalu engkau jatuh ke laut bersama bebanmu. Lagi pula engkau akan makin kehabisan tenaga. Punggungmu yang telah bungkuk dan kepalamu yang tak berakal itu takkan sanggup menahan beban yang kian lama kian berat ini. Kapten pun, apabila melihatmu dalam keadaan begini, ia akan mengusirmu sambil berkata 'orang ini gila,' atau ia akan memerintahkan 'penjarakan dia,' seraya berkata 'ia pengkhianat, ia menuduh kapal kita, ia mengejek kita.' Lagi pula engkau akan menjadi bahan tertawaan semua orang. Sebab di mata orang-orang yang teliti, dengan kesombonganmu yang menampakkan kelemahan, dengan keangkuhanmu yang menampakkan ketidakberdayaan, dan dengan kepura-puraanmu yang menampakkan riya serta kehinaan, engkau telah menjadikan dirimu bahan olok-olok orang banyak. Semua orang menertawakanmu." Setelah dikatakan demikian, sadarlah akal si malang itu. Ia menurunkan bebannya ke lantai, lalu duduk di atasnya. "Oh!.. Semoga Allah rida kepadamu. Aku telah selamat dari kepayahan, dari penjara, dan dari cemoohan," katanya.

Maka wahai manusia yang tak bertawakal! Engkau pun, seperti orang ini, sadarkanlah akalmu, dan bertawakallah. Agar engkau selamat dari mengemis kepada seluruh alam, dari gemetar di hadapan setiap peristiwa, dari membanggakan diri, dari menjadi bahan cemoohan, dari kesengsaraan ukhrawi, dan dari penjara tekanan duniawi.

Nokta Keempat

Iman menjadikan manusia benar-benar manusia. Bahkan menjadikan manusia seorang sultan. Maka tugas asasi manusia adalah iman dan doa. Adapun kekufuran menjadikan manusia seekor binatang buas yang teramat tak berdaya.

Dari ribuan dalil masalah ini, cukuplah perbedaan cara datangnya hewan dan manusia ke dunia menjadi dalil yang jelas dan bukti yang pasti baginya. Ya, bahwa kemanusiaan menjadi kemanusiaan hanyalah dengan iman — hal itu ditunjukkan oleh perbedaan antara kedatangan manusia dan hewan ke dunia. Sebab hewan, ketika datang ke dunia, ia datang — yakni dikirim — dalam keadaan telah sempurna menurut potensinya, seakan-akan ia telah matang di suatu alam yang lain. Dalam dua jam, atau dua hari, atau dua bulan, ia mempelajari seluruh syarat kehidupannya, hubungannya dengan alam semesta, dan hukum-hukum kehidupannya, lalu ia pun menjadi terampil. Kemampuan hidup dan keterampilan amali yang diperoleh manusia dalam dua puluh tahun, dapat diperoleh oleh hewan seperti burung pipit dan lebah dalam dua puluh hari — yakni diilhamkan kepadanya. Maka tugas asasi hewan bukanlah menyempurnakan diri dengan belajar, bukan pula maju dengan mengumpulkan makrifat, dan bukan pula meminta pertolongan lalu berdoa dengan menampakkan ketidakberdayaannya. Melainkan tugasnya adalah beramal menurut potensinya, berbuat, dan menunaikan ubudiyah perbuatan.

Adapun manusia, ketika datang ke dunia, ia membutuhkan untuk mempelajari segala sesuatu, jahil terhadap hukum-hukum kehidupan, bahkan dalam dua puluh tahun pun ia tak sepenuhnya menguasai syarat-syarat kehidupan. Bahkan ia membutuhkan untuk belajar hingga akhir umurnya; ia dikirim ke dunia dalam keadaan yang sangat tak berdaya lagi lemah, hingga baru dalam satu-dua tahun ia dapat berdiri di atas kakinya. Baru dalam lima belas tahun ia dapat membedakan yang merugikan dan yang bermanfaat. Dengan bantuan kehidupan sosial umat manusia, barulah ia dapat menarik manfaat dan menjauhi kerugian. Maka tugas fitri manusia adalah menyempurnakan diri dengan belajar, dan menunaikan ubudiyah dengan doa. Yakni: mengetahui, "Dengan rahmat siapakah aku diurus sedemikian bijaksana? Dengan kemurahan siapakah aku dididik sedemikian penuh kasih? Dengan karunia siapakah aku dipelihara dan diurus sedemikian lembut?" Dan dengan lisan ketidakberdayaan serta kefakiran, memohon kepada Sang Pemenuh Segala Hajat (Qâdhil-Hâjât) mengenai hajat-hajatnya — yang seribu di antaranya pun tak terjangkau oleh tangannya sendiri — yakni meminta dan berdoa. Yakni: terbang dengan kedua sayap ketidakberdayaan dan kefakiran menuju maqam ubudiyah yang tertinggi.

Maka manusia datang ke alam ini untuk menyempurnakan diri melalui ilmu dan doa. Dari segi hakikat dan potensi, segala sesuatu bergantung pada ilmu. Dan dasar, sumber, cahaya, serta ruh dari seluruh ilmu hakiki adalah makrifatullah, dan asas dari asasnya adalah iman billâh.

Lagi pula manusia — karena dengan ketidakberdayaannya yang tak terhingga ia terpapar bencana yang tak terhingga dan terjangkiti serbuan musuh yang tak terhitung, dan bersama kefakirannya yang tak terhingga ia terjerat hajat yang tak terhingga serta membutuhkan tuntutan yang tak terhingga — maka tugas fitri asasinya, setelah iman, adalah "doa". Adapun doa adalah asas ubudiyah. Sebagaimana seorang anak kecil, untuk meraih suatu maksud dan keinginan yang tak terjangkau oleh tangannya, ia entah menangis atau meminta. Yakni ia berdoa entah dengan lisan ketidakberdayaan perbuatan atau perkataan. Lalu ia pun berhasil meraih maksudnya. Demikian pula: manusia, di tengah seluruh alam makhluk hidup, adalah bagaikan seorang anak yang lembut, halus, lagi manja. Di hadirat Sang Rahmân Rahîm, ia mesti entah menangis dengan kelemahan dan ketidakberdayaannya, atau berdoa dengan kefakiran dan kebutuhannya. Agar berbagai maksudnya ditundukkan baginya, atau agar ia menunaikan syukur atas penundukan itu. Kalau tidak, seperti anak bodoh nan nakal yang meraung-raung karena seekor lalat; dengan berkata "Aku menundukkan dengan kekuatanku sendiri hal-hal menakjubkan yang tak mungkin ditundukkan ini, yang seribu derajat lebih kuat darinya, dan dengan pikiran serta siasatku kubuat ia menaatiku", lalu terjerumus ke dalam kekufuran nikmat — selain bertentangan dengan fitrah asali kemanusiaan, hal itu juga menjadikan dirinya layak menerima azab yang pedih.

Nokta Kelima

Sebagaimana iman meniscayakan doa sebagai sarana yang pasti, dan fitrah insani menuntutnya dengan sangat, demikian pula Cenâb-ı Haq berfirman — yang maknanya "Kalau bukan karena doa kalian, apa arti kalian?" — dalam ayat:

قُلْ مَا يَعْبَؤُا بِكُمْ رَبّ۪ى لَوْلاَ دُعَٓاؤُكُمْ

Dan Dia memerintahkan pula

اُدْعُون۪ٓى اَسْتَجِبْ لَكُمْ

Jika engkau berkata: "Berkali-kali kami berdoa, namun tak dikabulkan. Padahal ayat itu bersifat umum, ia menyatakan bahwa ada jawaban bagi setiap doa."

Jawabnya: Memberi jawaban itu satu hal, mengabulkan itu hal lain. Bagi setiap doa ada pemberian jawaban; namun mengabulkan, dan memberikan tepat apa yang diminta, tunduk pada hikmah Cenâb-ı Haq. Misalnya: seorang anak yang sakit memanggil: "Wahai Dokter! Lihatlah aku." Dokter menjawab: "Labbaik".. "Apa yang engkau inginkan?" Anak itu berkata: "Berilah aku obat ini." Adapun dokter: ia entah memberikan tepat yang diminta, atau memberikan yang lebih baik demi kemaslahatannya, atau — karena ia tahu obat itu membahayakan penyakitnya — ia tidak memberikannya sama sekali. Demikianlah Cenâb-ı Haq, karena Dia Sang Hakîm Mutlak yang hadir lagi menyaksikan, Dia menjawab doa hamba. Dengan kehadiran dan jawaban-Nya, Dia mengubah kengerian keliaran dan kesendirian menjadi keakraban. Namun bukan menurut kesewenangan hawa nafsu dan keinginan manusia, melainkan menurut tuntutan hikmah Rabbâni; Dia entah memberikan yang diminta, atau yang lebih utama darinya, atau tidak memberikan sama sekali.

Lagi pula, doa adalah suatu ubudiyah. Adapun ubudiyah, buahnya bersifat ukhrawi. Sedangkan maksud-maksud duniawi adalah waktu-waktu bagi jenis doa dan ibadah itu. Maksud-maksud itu bukanlah tujuannya. Misalnya: salat dan doa istisqa (memohon hujan) adalah suatu ibadah. Ketiadaan hujan adalah waktu bagi ibadah itu. Bukanlah ibadah dan doa itu untuk mendatangkan hujan. Sekiranya ia dilakukan semata dengan niat itu; doa dan ibadah itu — karena menjadi tak ikhlas — tak layak dikabulkan. Sebagaimana terbenamnya matahari adalah waktu bagi salat magrib. Demikian pula gerhana matahari dan gerhana bulan adalah waktu bagi dua ibadah khusus yang disebut salat kusuf dan salat khusuf. Yakni, karena tertutupnya ayat-ayat bercahaya siang dan malam menjadi sebab bagi pemakluman suatu keagungan Ilahi, maka Cenâb-ı Haq mengundang hamba-hamba-Nya kepada suatu ibadah pada waktu itu. Bukanlah salat itu untuk tersingkapnya gerhana bulan dan matahari (yang saat mulai serta lama berlangsungnya telah tertentu menurut perhitungan ahli falak). Persis seperti itu pula; ketiadaan hujan adalah waktu bagi salat istisqa. Dan datangnya bencana serta menyerangnya hal-hal yang membahayakan adalah waktu-waktu khusus bagi sebagian doa; ketika itu manusia menyadari ketidakberdayaannya, lalu dengan doa dan permohonan ia berlindung ke hadirat Sang Qadîr Mutlak. Sekiranya doa telah banyak dipanjatkan namun bencana tak juga tersingkir, tak boleh dikatakan: "Doa tak dikabulkan." Melainkan mesti dikatakan: "Waktu doa belum usai." Sekiranya Cenâb-ı Haq dengan karunia dan kemurahan-Nya mengangkat bencana itu; maka itu cahaya di atas cahaya.. ketika itu waktu doa berakhir, ia pun usai. Maka doa adalah suatu rahasia ubudiyah.

Adapun ubudiyah mestilah murni karena Allah semata (livechillâh). Cukuplah manusia menampakkan ketidakberdayaannya, lalu berlindung kepada-Nya dengan doa. Ia tak boleh mencampuri rububiyah-Nya. Ia mesti menyerahkan pengaturan kepada-Nya. Ia mesti percaya pada hikmah-Nya. Ia tak boleh menuduh rahmat-Nya. Ya, pada hakikatnya — sebagaimana ditetapkan oleh penjelasan ayat-ayat yang terang — seluruh wujud, sebagaimana masing-masingnya bertasbih secara khusus, beribadah secara khusus, dan bersujud secara khusus, demikian pula dari seluruh alam semesta menuju hadirat Ilahi terdapat suatu doa. Entah dengan lisan potensi. (Seperti doa-doa seluruh tumbuhan; masing-masing dengan lisan potensinya memohon suatu rupa dari Sang Fayyâdh Mutlak dan meminta suatu kewadahan yang tersingkap bagi asma-Nya.) Atau dengan lisan kebutuhan fitri. (Yaitu doa-doa seluruh makhluk hidup untuk hajat-hajat mendesak yang di luar kemampuan mereka; masing-masing dengan lisan kebutuhan fitri itu meminta kepada Sang Jawwâd Mutlak sebagian tuntutan sebagai semacam rezeki demi kelangsungan hidupnya.) Atau ia adalah suatu doa dengan lisan keterpaksaan; yaitu setiap yang bernyawa yang terdesak; ia berdoa dengan perlindungan yang pasti, ia berlindung kepada seorang pelindung yang tak dikenalnya, bahkan ia menghadap kepada Rabb-nya Yang Maha Penyayang. Ketiga jenis doa ini, selama tak ada penghalang, senantiasa dikabulkan.

Adapun jenis keempat, yang paling masyhur, adalah doa kita. Ini pun terbagi dua bagian: yang pertama, perbuatan dan keadaan; yang lain, kalbu dan lisan. Misalnya: menempuh sebab-sebab adalah suatu doa perbuatan. Berhimpunnya sebab-sebab; bukanlah untuk mengadakan akibat, melainkan untuk mengambil suatu sikap yang diridai — dengan lisan keadaan — guna memohon akibat itu dari Cenâb-ı Haq. Bahkan membajak tanah adalah mengetuk pintu khazanah rahmat. Doa perbuatan jenis ini, karena menghadap kepada nama dan gelar Sang Jawwâd Mutlak, maka pada mayoritas mutlaknya ia mendapat pengabulan. Bagian kedua; berdoa dengan lisan dan dengan kalbu. Yakni meminta sebagian tuntutan yang tak terjangkau oleh tangan. Sisi terpenting, tujuan terindah, dan buah termanis darinya adalah ini: "Orang yang berdoa memahami bahwa: ada Zat Yang mendengar bisikan-bisikan kalbunya, Yang tangan-Nya menjangkau segala sesuatu, Yang dapat memenuhi setiap keinginannya, Yang mengasihi ketidakberdayaannya, Yang menolong kefakirannya."

Maka wahai manusia yang tak berdaya, dan wahai insan yang fakir! Janganlah engkau lepaskan dari tanganmu suatu sarana seperti doa — yang merupakan kunci khazanah rahmat dan tumpuan suatu kekuatan yang tak habis-habisnya — maka berpeganglah padanya, naiklah ke puncak kemanusiaan yang tertinggi. Bagaikan seorang sultan, ambillah seluruh doa alam semesta ke dalam doamu. Bagaikan seorang hamba yang menyeluruh dan wakil yang umum, ucapkanlah:

اِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ

Jadilah engkau sebuah takwim (kalender) yang indah bagi alam semesta.