Mukadimah
Kelimat · hlm. 467
Sebagaimana dibuktikan dalam Hakikat Keempat Kelimat Kesepuluh; suatu keindahan yang abadi, kekal, lagi tiada tara, sudah pasti menghendaki keabadian dan kekekalan sang pemuja yang menjadi cerminnya. Dan suatu kesempurnaan seni yang abadi lagi tanpa cacat, menuntut kelangsungan sang penyeru yang memikirkannya. Dan suatu rahmat dan karunia yang tak terhingga, menghendaki kelangsungan kenikmatan bagi para pensyukur yang membutuhkannya. Maka sang pemuja yang menjadi cermin itu, sang penyeru pemikir itu, sang pensyukur yang membutuhkan itu; yang pertama-tama adalah ruh insani. Kalau demikian, di jalan keabadian yang abadi; ia akan menemani keindahan, kesempurnaan, dan rahmat itu, dan akan tetap kekal.
Dan sebagaimana dibuktikan dalam Hakikat Keenam Kelimat Kesepuluh; jangankan ruh manusia, bahkan lapisan makhluk yang paling sederhana pun tidak diciptakan untuk kefanaan; melainkan memperoleh sejenis kekekalan. Bahkan sekuntum bunga yang tak berruh lagi tak penting sekalipun, jika lenyap dari wujud lahiriah, ia memperoleh sejenis kekekalan dalam seribu wajah. Sebab rupanya tetap kekal dalam ingatan-ingatan yang tak terhingga. Undang-undang pembentukannya tetap kekal dan berlangsung dalam ratusan bijinya. Oleh karena undang-undang pembentukan dan gambar rupa bunga itu — yang menyerupai sepotong kecil ruh — dikekalkan oleh Sang Mahabijaksana lagi Maha Pemelihara, dipelihara dengan keteraturan yang sempurna di tengah revolusi yang bergejolak, di dalam biji-biji sekecil partikel, dan tetap kekal. Sudah pasti, ruh insani — yang memiliki hakikat yang sangat menyeluruh lagi sangat tinggi, yang telah dikenakan wujud lahiriah, yang merupakan hukum amri yang berkesadaran, berkehidupan, lagi bercahaya — jika engkau tidak memahami betapa pasti kekekalan, keterikatannya dengan keabadian, dan kaitannya dengan kelanggengan, maka bagaimana engkau dapat berkata "Aku manusia yang berkesadaran"? Ya, tentang suatu Zat Yang Mahabijaksana Dzul-Jalâl, Zat Maha Pemelihara Yang Tak Bermula lagi Tak Berakhir — yang menyimpan dan memelihara rancangan serta undang-undang pembentukan sebatang pohon besar — yang menyerupai sejenis ruh — di dalam biji terkecil laksana sebuah titik; adakah dikatakan "Bagaimana Ia memelihara ruh orang-orang yang wafat?"
SUMBER PERTAMA
Bersifat internal (anfusi). Yakni, jika setiap orang memperhatikan kehidupan dan dirinya, ia akan memahami adanya suatu ruh yang kekal. Ya, setiap ruh, berapa tahun pun ia hidup, sekalipun telah mengganti tubuh sebanyak itu, secara nyata ia tetap kekal sebagaimana adanya. Kalau demikian, oleh karena jasad datang dan berlalu. Maka menjadi telanjang sepenuhnya dengan kematian pun tidak memengaruhi kekekalan ruh, dan tidak merusak hakikatnya. Hanya saja, selama masa hidup, ruh secara bertahap mengganti pakaian jasadnya. Adapun dalam kematian, ia menanggalkannya sekaligus. Dengan firasat yang sangat pasti, bahkan dengan penyaksian, terbukti bahwa jasad tegak dengan ruh. Kalau demikian, ruh tidak tegak dengannya. Melainkan karena ruh tegak dan berkuasa dengan dirinya sendiri; maka sekehendaknya jasad terurai dan terhimpun, itu tidak mengganggu kemandirian ruh. Melainkan jasad adalah rumah dan sarang ruh, bukan pakaiannya. Bahkan pakaian ruh adalah suatu selubung halus dan tubuh mitsali yang sampai derajat tertentu tetap kukuh dan sesuai dengan kehalusan ruh. Kalau demikian, pada saat kematian ruh tidak menjadi telanjang sepenuhnya, ia keluar dari sarangnya lalu mengenakan tubuh mitsalinya.
SUMBER KEDUA
Bersifat eksternal (afaqi). Yakni, suatu putusan berdasarkan pengalaman yang lahir dari penyaksian yang berulang, peristiwa yang beragam, dan hubungan yang berkali-kali. Ya, jika kekekalan satu ruh saja setelah kematian dipahami, maka hal itu meniscayakan kekekalan seluruh jenis ruh secara menyeluruh. Sebab dalam ilmu mantik telah pasti bahwa: suatu sifat esensial (zati), jika terlihat pada satu individu saja; maka diputuskan pula wujud sifat itu pada seluruh individu. Sebab ia esensial. Jika esensial, ia terdapat pada setiap individu. Padahal jangankan satu individu, bahkan tanda-tanda yang menunjukkan kekekalan arwah — yang bersandar pada penyaksian yang tak terhingga, tak terbilang, dan tak terhitung — sedemikian pasti, sehingga sebagaimana bagi kita "Dunia Baru," yakni Amerika, ada dan di sana terdapat manusia; tak sedikit pun wahm terlintas atas wujud manusia-manusia itu. Demikian pula tak diragukan lagi bahwa: kini di alam malakut dan alam arwah, arwah manusia-manusia yang telah mati dan wafat sangatlah banyak dan berhubungan dengan kita. Hadiah-hadiah maknawi kita pergi kepada mereka, dan limpahan-limpahan bercahaya mereka pun datang kepada kita.
Dan dengan firasat yang pasti, secara batin dapat dirasakan bahwa: setelah manusia mati, terdapat suatu sisi yang mendasar yang tetap kekal. Sisi itu adalah ruh. Adapun ruh tidak terkena penghancuran dan peleburan. Sebab ia sederhana (basit), memiliki kesatuan. Sedangkan penghancuran, peleburan, dan kerusakan adalah keadaan benda-benda yang majemuk dan tersusun. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya; kehidupan menjamin sejenis kesatuan dalam kemajemukan, menjadi sebab bagi sejenis kekekalan. Berarti kesatuan dan kekekalan adalah asas pada ruh, yang darinya menjalar ke kemajemukan. Kefanaan ruh, atau dengan penghancuran dan peleburan — sedangkan kesatuan tidak memberi celah agar ia masuk, dan kesederhanaan tidak menyisakan (susunan) untuk dirusak. Atau dengan pemusnahan (i'dam) — sedangkan rahmat tak terhingga Sang Maha Pemurah Mutlak tidak mengizinkan dan kemurahan-Nya yang tak berhingga tidak membiarkan, untuk mengambil kembali nikmat wujud yang telah Ia berikan dari ruh insani yang sangat merindukan dan layak akan nikmat wujud itu.
SUMBER KETIGA
Ruh adalah suatu hukum amri yang berkehidupan, berkesadaran, bercahaya, dikenakan wujud lahiriah, menyeluruh, berhakikat, dan berbakat untuk memperoleh kemenyeluruhan. Padahal hukum-hukum amri yang paling lemah pun memperoleh ketetapan dan kekekalan. Sebab jika diperhatikan, pada seluruh jenis yang mengalami perubahan terdapat suatu hakikat tetap, yang bergulir di tengah seluruh perubahan, revolusi, dan tahapan kehidupan, mengganti rupa, tanpa mati, tetap hidup, dan tetap kekal. Maka setiap pribadi insani, dengan kemenyeluruhan hakikatnya, kesadarannya yang menyeluruh, dan gambaran-gambarannya yang umum, meskipun ia satu pribadi, ia berkedudukan sebagai suatu jenis. Undang-undang yang datang dan berlaku pada suatu jenis, berlaku pula pada pribadi insani itu. Oleh karena Sang Pencipta Dzul-Jalâl telah menciptakan manusia sebagai cermin yang menyeluruh, dengan ubudiyah yang menyeluruh dan hakikat yang tinggi. Hakikat ruhani pada setiap individu, sekalipun mengganti rupa ratusan ribu kali, dengan izin Rabbani tidak akan mati, akan tetap hidup dan pergi sebagaimana ia datang. Kalau demikian, ruh — yang merupakan hakikat berkesadaran dan unsur berkehidupan dari pribadi insani itu — pun, dengan perintah, izin, dan pengekalan Allah, senantiasa kekal.
SUMBER KEEMPAT
Jika diperhatikan undang-undang yang berkuasa pada jenis-jenis yang — sampai derajat tertentu menyerupai ruh, karena keduanya datang dari alam amri dan iradah, sehingga dari sisi sumber sesuai dengan ruh, tetapi tidak memiliki wujud inderawi — dan jika diperhatikan hukum-hukum itu, terlihat bahwa: seandainya hukum amri itu dikenakan wujud lahiriah, niscaya ia menjadi ruh bagi jenis-jenis itu. Padahal hukum itu senantiasa kekal. Senantiasa terus-menerus lagi tetap. Tak ada perubahan dan revolusi yang memengaruhi kesatuan hukum-hukum itu, tak merusaknya. Misalnya: Jika sebatang pohon tin mati dan terurai; undang-undang pembentukannya, yang berkedudukan sebagai ruhnya, tetap kekal tanpa mati di dalam bijinya yang kecil laksana partikel. Maka oleh karena hukum-hukum amri yang paling rendah dan lemah pun berkaitan dengan kekekalan dan kelangsungan demikian. Sudah pasti ruh insani mestilah berkaitan — bukan hanya dengan kekekalan — melainkan dengan keabadian yang abadi. Sebab ruh pun, dengan nas Al-Qur'an, dengan firman yang mulia قُلِ الرُّوحُ مِنْ اَمْرِ رَبّ۪ى, adalah suatu hukum berkesadaran dan undang-undang berkehidupan yang datang dari alam amri, yang kepadanya kudrat azali telah mengenakan wujud lahiriah. Berarti sebagaimana undang-undang tak berkesadaran yang datang dari sifat Iradah dan dari alam amri, senantiasa atau kebanyakan tetap kekal. Persis demikian pula, ruh — yang merupakan sejenis saudara mereka dan seperti mereka merupakan manifestasi sifat Iradah serta datang dari alam amri — memperoleh kekekalan dengan lebih pasti dan lebih layak. Sebab ia berwujud, memiliki hakikat lahiriah. Lagi pula ia lebih kuat dan lebih tinggi dari mereka. Sebab ia berkesadaran. Lagi pula ia lebih langgeng dan lebih berharga dari mereka. Sebab ia berkehidupan.
Asas Kedua
Bagi kebahagiaan abadi terdapat pendorong (muktezi), dan Sang Pelaku Dzul-Jalâl yang akan memberi kebahagiaan itu pun berkuasa. Lagi pula, kehancuran alam, kematian dunia, adalah mungkin. Lagi pula ia akan terjadi. Menghidupkan kembali alam dan kebangkitan, adalah mungkin. Lagi pula ia akan terjadi. Maka enam masalah ini akan kami jelaskan satu per satu dengan cara yang ringkas, yang akan meyakinkan akal. Sebenarnya dalam Kelimat Kesepuluh telah disebutkan burhan-burhan hingga derajat yang mengangkat kalbu ke tingkat iman yang sempurna. Adapun di sini, kami hanya akan membahas dengan cara penjelasan Said Lama dalam "Risalah Nokta," yang akan meyakinkan dan membungkam akal semata.
Ya, pendorong bagi kebahagiaan abadi itu ada. Burhan pasti yang menunjukkan wujud pendorong itu adalah suatu firasat yang tersaring dari "Sepuluh Sumber dan Poros."
POROS PERTAMA
Jika diperhatikan, pada keseluruhan alam semesta ini terdapat suatu tatanan yang paling sempurna, suatu keteraturan yang disengaja. Pada setiap sisi terlihat percikan ikhtiar dan kilau maksud. Bahkan pada setiap sesuatu terdapat cahaya maksud, pada setiap urusan sinar iradah, pada setiap gerak kilau ikhtiar, pada setiap susunan nyala hikmah — yang dengan kesaksian buah-buahnya menarik perhatian pandangan. Maka seandainya tidak ada kebahagiaan abadi, niscaya tatanan yang mendasar ini hanya tinggal sebagai suatu rupa lemah yang khayali. Ia menjadi suatu tatanan yang dusta lagi tanpa asas. Makna, ikatan, dan nisbat — yang merupakan ruh tatanan dan keteraturan — menjadi sia-sia belaka. Berarti yang menjadikan tatanan sebagai tatanan adalah kebahagiaan abadi. Kalau demikian, tatanan alam mengisyaratkan kepada kebahagiaan abadi.
POROS KEDUA
Pada penciptaan alam semesta terlihat suatu hikmah yang sempurna. Ya, hikmah Ilahi — yang merupakan gambaran inayah azali — dengan lisan pemeliharaan maslahat dan penetapan hikmah yang ditunjukkannya pada keseluruhan alam semesta, mengumumkan kebahagiaan abadi. Sebab seandainya tidak ada kebahagiaan abadi, niscaya mesti mengingkari — dengan pembangkangan — hikmah-hikmah dan manfaat-manfaat yang secara nyata tetap ada di alam semesta ini. Oleh karena Hakikat Kesepuluh Kelimat Kesepuluh telah menunjukkan hakikat ini laksana matahari, maka di sini kami meringkasnya, cukup dengan merujuk kepadanya.
POROS KETIGA
Ketiadaan kesia-siaan dan ketiadaan pemborosan dalam penciptaan makhluk — yang terbukti dengan kesaksian akal, hikmah, penelitian, dan pengalaman — mengisyaratkan kepada kebahagiaan abadi. Dalil bahwa tidak ada pemborosan dalam fitrah dan tidak ada kesia-siaan dalam penciptaan, adalah bahwa Sang Pencipta Dzul-Jalâl memilih dan menyeleksi, dalam penciptaan segala sesuatu, jalan yang paling pendek, sisi yang paling dekat, rupa yang paling ringan, dan cara yang paling indah; dan terkadang Ia menugaskan satu hal dengan seratus tugas, serta menggantungkan seribu buah dan tujuan pada satu hal yang halus. Oleh karena tidak ada pemborosan dan tidak ada kesia-siaan, sudah pasti akan ada kebahagiaan abadi. Sebab ketiadaan yang tanpa kembali menjadikan segala sesuatu sia-sia, segala sesuatu menjadi terbuang. Ketiadaan pemborosan pada seluruh fitrah — dan khususnya pada manusia, dengan kesaksian ilmu Anatomi — menunjukkan bahwa: bakat-bakat maknawi yang tak terhingga, serta harapan, pikiran, dan kecenderungan yang tak berhingga pada manusia, tidak akan disia-siakan pula. Kalau demikian, kecenderungan mendasar untuk menyempurna pada manusia menunjukkan wujud suatu kesempurnaan, dan kecenderungan kepada kebahagiaan itu mengumumkan secara pasti bahwa ia adalah calon bagi kebahagiaan abadi. Jika tidak demikian, niscaya perkara-perkara maknawi mendasar yang membentuk hakikat sejati manusia itu, harapan-harapan luhur itu — berlawanan dengan makhluk-makhluk yang penuh hikmah — menjadi terbuang lagi sia-sia, mengering, dan lenyap tanpa guna. Oleh karena hakikat ini telah dibuktikan dalam Hakikat Kesebelas Kelimat Kesepuluh, maka kami meringkasnya.
POROS KEEMPAT
Pada banyak jenis, bahkan pada siang dan malam, musim dingin dan musim semi, dan pada udara angkasa, bahkan pada pribadi-pribadi manusia — tubuh-tubuh yang diganti selama masa hidup, dan sejenis kiamat yang menyerupai kebangkitan melalui tidur yang menyerupai kematian — memberi rasa dan mengabarkan secara isyarat akan terjadinya suatu kiamat besar. Ya, misalnya: laksana roda-roda jam mingguan kita yang menghitung detik, menit, jam, dan hari; hari, tahun, umur manusia, dan perputaran dunia pada jam besar Allah yang disebut dunia — saling menjadi mukadimah, saling mengabarkan, berputar dan bekerja. Sebagaimana mereka mengerjakan pagi setelah malam, dan musim semi setelah musim dingin; demikian pula mereka mengabarkan secara isyarat bahwa subuh kebangkitan akan keluar dari bengkel itu, dari jam raksasa itu, setelah kematian.
Bagi seorang pribadi, dalam masa umurnya terdapat banyak jenis kiamat yang menimpanya. Sebagaimana ia melihat tanda-tanda kebangkitan dengan sejenis kematian setiap malam dan sejenis kebangkitan setiap pagi, demikian pula dengan kesepakatan (para ahli) ia telah mengganti seluruh partikelnya dalam lima enam tahun, bahkan dalam setahun ia telah melihat dua kali tiruan kiamat dan kebangkitan secara bertahap. Lagi pula pada jenis hewan dan tumbuhan, ia menyaksikan lebih dari tiga ratus ribu kebangkitan dan kiamat jenis pada setiap musim semi. Maka tanda-tanda dan isyarat kebangkitan sebanyak ini, serta alamat dan simbol kebangkitan sebanyak ini, sudah pasti berkedudukan sebagai tetesan kiamat besar, mengisyaratkan kepada kebangkitan itu. Suatu Pencipta Yang Mahabijaksana melakukan kiamat jenis pada jenis-jenis demikian — yakni menghidupkan kembali seluruh akar tumbuhan dan sebagian hewan persis di musim semi, serta mengembalikan sebagian hal lain seperti daun, bunga, dan buah — bukan dengan zatnya melainkan dengan serupanya — lalu melakukan sejenis kebangkitan; hal ini dapat menjadi dalil atas kiamat pribadi di dalam kiamat umum pada setiap pribadi insani.
Sebab satu pribadi manusia berkedudukan sebagai suatu jenis bagi yang lain. Sebab cahaya pikiran memberi keluasan sedemikian rupa pada harapan dan pemikiran manusia, sehingga meliputi masa lampau dan masa depan. Sekalipun ia menelan dunia, ia tidak kenyang. Pada jenis-jenis lain, hakikat individu bersifat parsial, nilainya pribadi, pandangannya terbatas, kesempurnaannya terkurung, kelezatan dan deritanya sesaat. Adapun manusia, hakikatnya tinggi, nilainya mahal, pandangannya umum, kesempurnaannya tak terhingga, kelezatan dan derita maknawinya sebagian bersifat abadi. Kalau demikian, secara nyata, kiamat dan kebangkitan yang berulang dalam berbagai bentuk pada jenis-jenis lain, mengisyaratkan dan mengabarkan bahwa dalam kiamat besar yang umum ini, setiap pribadi insani akan dibangkitkan dengan dikembalikan sebagaimana zatnya. Oleh karena hal ini telah dibuktikan dalam Hakikat Kesembilan Kelimat Kesepuluh dengan kepastian sekadar dua tambah dua sama dengan empat, maka di sini kami meringkasnya.
POROS KELIMA
Bakat-bakat tak terbatas yang tertanam dalam jauhar ruh manusia, dan kesiapan-kesiapan tak terkurung yang terpendam dalam bakat-bakat itu, dan kecenderungan-kecenderungan tak terhingga yang lahir dari kesiapan-kesiapan itu, dan harapan-harapan tak berkesudahan yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan itu, dan pikiran serta gambaran insani tak berbatas yang terlahir dari harapan-harapan tak berkesudahan itu — para ahli tahkik melihat bahwa semuanya mengulurkan tangan kepada kebahagiaan abadi yang berada di balik alam kasat mata ini, menatapkan matanya kepadanya, dan berpaling ke arah itu. Maka fitrah yang tak pernah berdusta, dan kecenderungan yang pasti, kuat, lagi tak tergoyahkan kepada kebahagiaan abadi dalam fitrah itu, memberi suatu firasat yang pasti kepada nurani tentang terwujudnya kebahagiaan abadi. Oleh karena Hakikat Kesebelas Kelimat Kesepuluh telah menunjukkan hakikat ini terang laksana siang, maka kami meringkasnya.
POROS KEENAM
Rahmat Sang Pencipta Dzul-Jamâl dari makhluk-makhluk ini — yang bernama "Ar-Rahman Ar-Rahim" — menunjukkan kebahagiaan abadi. Ya, adalah keharusan rahmat itu — yang menjadikan nikmat sebagai nikmat, yang membebaskan nikmat dari menjadi bencana, dan yang menyelamatkan makhluk dari rintihan yang lahir akibat perpisahan abadi — agar tidak menyayangkan kebahagiaan abadi dari manusia. Sebab jika kebahagiaan abadi — yang merupakan kepala, pemimpin, tujuan, dan hasil dari seluruh nikmat — tidak diberikan, jika dunia tidak dihidupkan kembali dalam rupa akhirat setelah ia mati, niscaya seluruh nikmat berubah menjadi bencana. Perubahan itu, dengan sendirinya, secara nyata, dan dengan kesaksian seluruh alam semesta, meniscayakan pengingkaran wujud rahmat Ilahi yang pasti lagi tersaksikan. Padahal rahmat adalah suatu hakikat tetap yang lebih cemerlang daripada matahari. Lihatlah nikmat cinta, kasih sayang, dan akal — yang merupakan manifestasi dan jejak halus rahmat. Seandainya engkau mengandaikan bahwa kehidupan insani akan berujung pada perpisahan abadi dan pemisahan tak berakhir; niscaya engkau melihat bahwa: cinta yang halus itu menjadi musibah terbesar. Kasih sayang yang lezat itu menjadi penyakit terbesar. Akal yang bercahaya itu menjadi bencana terbesar. Berarti rahmat — karena ia rahmat — tidak dapat mengeluarkan perpisahan abadi menghadapi cinta yang sejati. Oleh karena Hakikat Kedua Kelimat Kesepuluh telah menunjukkan hakikat ini dengan cara yang sangat indah, maka di sini kami meringkasnya.
POROS KETUJUH
Seluruh kehalusan, keindahan, kesempurnaan, tarikan, kerinduan, dan kasih sayang yang terlihat dan diketahui di alam semesta ini; masing-masingnya adalah suatu makna, suatu kandungan, suatu kata maknawi, yang dengan sendirinya, secara nyata, menunjukkan kepada kalbu dan menghunjamkan ke mata akal manifestasi kelembutan dan kasih sayang Sang Pencipta Dzul-Jalâl alam semesta ini, serta kilau karunia dan kemurahan-Nya. Oleh karena di alam ini terdapat suatu hakikat. Secara nyata terdapat rahmat yang sejati. Oleh karena terdapat rahmat yang sejati, maka akan ada kebahagiaan abadi. Hakikat Keempat Kelimat Kesepuluh, bersama Hakikat Kedua, telah menerangi hakikat ini laksana siang.
POROS KEDELAPAN
Nurani manusia, yang merupakan fitrah berkesadarannya, memandang dan menunjukkan kepada kebahagiaan abadi. Ya, siapa yang mendengarkan nuraninya yang terjaga, ia akan mendengar suara "Keabadian! Keabadian!" Seandainya seluruh alam semesta diberikan kepada nurani itu, ia tidak akan dapat memenuhi tempat kebutuhannya akan keabadian. Berarti nurani itu diciptakan untuk keabadian. Berarti tarikan dan gejolak nurani ini hanya dapat terjadi dengan tarikan suatu tujuan yang sejati dan suatu hakikat yang memikat. Penutup Hakikat Kesebelas Kelimat Kesepuluh telah menunjukkan hakikat ini.
POROS KESEMBILAN
Kabar dari Muhammad al-Arabi Alaihissalâtu Vassalâm صلى الله عليه وسلم — yang benar (sadik), yang dibenarkan (masduk), lagi dipercaya (musaddak). Ya, perkataan Zat itu صلى الله عليه وسلم telah membuka pintu-pintu kebahagiaan abadi, dan firman-firman beliau صلى الله عليه وسلم adalah jendela-jendela menuju kebahagiaan abadi. Sebenarnya beliau telah menggenggam di tangannya ijmak seluruh nabi (Alaihimussalam) dan kemutawatiran seluruh wali, dan dengan segenap kekuatannya seluruh dakwaannya — setelah tauhid Ilahi — berpusat pada titik kebangkitan dan kebahagiaan ini. Gerangan, adakah sesuatu yang dapat mengguncang kekuatan ini? Hakikat Kedua Belas Kelimat Kesepuluh telah menunjukkan hakikat ini dengan cara yang sangat jelas.
POROS KESEPULUH
Kabar-kabar pasti dari Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat — yang selama tiga belas abad memelihara i'jaznya dengan tujuh sisi, dan yang merupakan mukjizat dengan empat puluh macam i'jaz sebagaimana dibuktikan dalam Kelimat Kedua Puluh Lima. Ya, kabar Al-Qur'an itu sendiri adalah penyingkap kebangkitan jasmani, dan kunci bagi tilsim alam yang rumit ini serta simbol hikmah alam semesta ini. Lagi pula, burhan-burhan akal yang pasti yang dikandung Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat itu — yang berulang kali memerintahkan tafakur dan meletakkannya di hadapan pandangan — jumlahnya ribuan. Di antaranya: ayat وَ قَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا yang mengandung suatu kias perumpamaan, dan ayat قُلْ يُحْي۪يهَا الَّذ۪ٓى اَنْشَاَهَٓا اَوَّلَ مَرَّةٍ, serta ayat وَ مَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيدِ yang mengisyaratkan kepada dalil keadilan — dengan banyak sekali ayat semacam ini, Al-Qur'an telah meletakkan di hadapan pandangan manusia banyak teropong yang memperlihatkan kebahagiaan abadi dalam kebangkitan jasmani. Ringkasan kias perumpamaan dalam ayat وَ قَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا dan قُلْ يُحْي۪يهَا الَّذ۪ٓى اَنْشَاَهَٓا اَوَّلَ مَرَّةٍ — yang dijelaskan Al-Qur'an dengan ayat-ayat lain — telah kami jelaskan dalam risalah "Nokta" demikian:
Wujud manusia, tatkala berpindah dari tahap ke tahap, mengalami revolusi-revolusi yang ajaib lagi teratur. Perpindahannya dari nutfah ke 'alaqah, dari 'alaqah ke mudghah, dari mudghah ke tulang dan daging, dari tulang dan daging ke penciptaan baru, yakni ke rupa manusia, tunduk pada kaidah-kaidah yang sangat halus. Masing-masing tahap itu memiliki undang-undang khusus, tatanan tertentu, dan gerakan teratur sedemikian rupa, sehingga laksana kaca, menunjukkan di bawahnya kilau suatu maksud, iradah, ikhtiar, dan hikmah. Maka Sang Pencipta Yang Mahabijaksana yang membuat wujud itu dengan cara demikian, setiap tahun mengganti wujud itu laksana sehelai pakaian. Untuk pergantian dan kelangsungan wujud itu, dibutuhkan suatu susunan agar partikel-partikel baru datang menggantikan bagian-bagian yang terurai dan bekerja. Maka sel-sel tubuh itu, karena runtuh dengan suatu undang-undang Ilahi yang teratur, untuk diperbaiki lagi dengan suatu undang-undang Rabbani yang teratur, membutuhkan suatu benda halus bernama rezeki; yang menurut kadar kebutuhan yang berbeda-beda pada organ-organ tubuh, dibagi dan didistribusikan oleh Sang Maha Pemberi Rezeki yang sejati dengan suatu undang-undang khusus.
Sekarang lihatlah keadaan benda halus yang dikirim Sang Maha Pemberi Rezeki lagi Mahabijaksana itu, engkau akan melihat bahwa: partikel-partikel benda itu, laksana suatu kafilah, meskipun berserakan di udara, di tanah, dan di air, tiba-tiba — seolah telah menerima perintah bergerak — berhimpun dengan suatu keadaan yang menyiratkan gerak yang disengaja. Seolah-olah setiap partikel dari mereka bertugas untuk pergi ke suatu tempat tertentu dengan suatu tugas, lalu berhimpun dengan sangat teratur. Dan dari perjalanannya terlihat bahwa, dengan suatu undang-undang khusus dari Sang Pelaku Yang Berkehendak, mereka digiring lalu masuk dari alam benda beku ke alam kelahiran, yakni ke alam makhluk hidup. Kemudian dengan tatanan tertentu, gerakan teratur, dan kaidah khusus, mereka masuk sebagai rezeki ke dalam suatu tubuh; setelah dimasak di empat dapur di dalam tubuh itu, setelah melewati empat revolusi yang ajaib, dan setelah disaring melalui empat saringan, mereka tersebar ke seluruh penjuru tubuh, lalu terbagi menurut kadar kebutuhan organ-organ yang berbeda-beda, dengan inayah Sang Maha Pemberi Rezeki yang sejati dan dengan undang-undang-Nya yang teratur. Maka partikel mana pun dari partikel-partikel itu yang engkau perhatikan dengan pandangan hikmah, engkau akan melihat bahwa: kebetulan yang buta, ketaksengajaan yang tanpa undang-undang, alam yang tuli, dan sebab-sebab yang tak berkesadaran, sama sekali tidak dapat ikut campur pada partikel yang digiring dengan penglihatan, keteraturan, pendengaran, dan pengetahuan itu. Sebab masing-masing, mulai dari unsur sekeliling hingga sel tubuh, tahap mana pun yang dimasukinya, ia beramal seolah dengan ikhtiar sesuai undang-undang tertentu tahap itu, masuk dengan teratur. Lapisan mana pun yang ditujunya, ia melangkah dengan sedemikian teratur, sehingga secara nyata terlihat seolah ia berjalan dengan perintah Sang Penggiring Yang Mahabijaksana. Maka demikianlah, dari tahap ke tahap yang teratur, dari lapisan ke lapisan, tanpa menyimpang dari tujuan dan maksudnya, hingga ke tempatnya yang layak — misalnya ke biji mata Tevfik — dengan perintah Rabbani ia masuk, duduk, dan bekerja. Maka dalam keadaan ini, yakni manifestasi rububiyah dalam rezeki menunjukkan bahwa: sejak semula partikel-partikel itu telah tertentu, telah ditugaskan, telah dicalonkan bagi tempat-tempat itu. Seolah pada dahi dan kening masing-masingnya tertulis "Ini akan menjadi rezeki sel anu" — adanya suatu keteraturan demikian mengisyaratkan bahwa rezeki setiap orang tertulis di dahinya dengan pena takdir, dan namanya tertulis di atas rezekinya.
Gerangan mungkinkah bahwa: Sang Pencipta Dzul-Jalâl yang mengatur dengan rububiyah sedemikian, dengan kudrat yang tak terhingga dan hikmah yang meliputi, yang telah menggenggam seluruh makhluk dari partikel hingga bintang-bintang beredar dalam genggaman tasarruf-Nya, serta memutarnya dalam lingkaran keteraturan dan timbangan; tidak melakukan atau tidak mampu melakukan "Penciptaan yang lain"! Maka banyak sekali ayat Al-Qur'an meletakkan penciptaan pertama yang penuh hikmah ini di hadapan pandangan manusia. Ia memperumpamakan penciptaan lain dalam kebangkitan dan kiamat dengannya, lalu menghilangkan anggapan mustahil. Ia berkata: قُلْ يُحْي۪يهَا الَّذ۪ٓى اَنْشَاَهَٓا اَوَّلَ مَرَّةٍ Yakni: "Zat yang menciptakan kalian dari ketiadaan dengan cara yang sedemikian penuh hikmah, Dialah yang akan menghidupkan kalian di akhirat."
Dan Ia berkata: وَهُوَ الَّذ۪ى يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُع۪يدُهُ وَهُوَ اَهْوَنُ عَلَيْهِ Yakni: "Pengembalian dan penghidupan kalian dalam kebangkitan, lebih mudah dan lebih ringan daripada penciptaan kalian di dunia." Sebagaimana para prajurit satu batalyon, jika bubar untuk beristirahat, lalu dipanggil dengan sebuah terompet, maka berhimpunnya mereka dengan mudah di bawah panji batalyon jauh lebih mudah dan lebih ringan daripada membentuk batalyon baru. Demikian pula: partikel-partikel mendasar yang telah menjalin keakraban dan hubungan dalam suatu tubuh melalui pembauran, akan berkata "Labbaik" kepada perintah Sang Pencipta Dzul-Jalâl dengan sangkakala Malaikat Israfil Alaihissalâm, lalu berhimpun; secara akal itu lebih mudah dan lebih mungkin daripada penciptaan pertama. Lagi pula, mungkin tidak perlu seluruh partikel berhimpun. Bagian-bagian mendasar dan partikel-partikel asli — yang berkedudukan sebagai bibit dan benih, yang dalam hadis disebut "Acbüzzeneb" (tulang ekor) — adalah asas dan pondasi yang cukup bagi penciptaan kedua. Sang Pencipta Yang Mahabijaksana membangun tubuh insani di atasnya.
Ringkasan kias keadilan yang diisyaratkan oleh ayat ketiga, yaitu ayat وَ مَا رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَب۪يدِ dan ayat-ayat semisalnya, adalah demikian:
Kita banyak melihat di alam bahwa: manusia-manusia yang zalim, fasik, lagi bengis menjalani umur dalam kesenangan dan kenyamanan yang sempurna, sementara orang-orang yang terzalimi lagi beragama menjalani umur dalam kesukaran dan kehinaan yang sangat. Kemudian datang kematian, menyamakan keduanya. Seandainya penyamaan ini tak berujung, tidak memiliki akhir, niscaya terlihatlah kezaliman. Padahal keadilan dan hikmah Ilahi — yang kesuciannya dari kezaliman terbukti dengan kesaksian alam semesta — sama sekali tidak menerima kezaliman ini; sehingga dengan sendirinya meniscayakan suatu tempat berkumpul yang lain, agar yang pertama melihat hukumannya dan yang kedua melihat balasannya. Agar manusia yang kacau lagi malang ini memperoleh siksa dan pahala yang sesuai bakatnya, lalu menjadi penyandar keadilan murni, manifestasi hikmah Rabbani, dan seorang saudara besar bagi makhluk-makhluk alam yang penuh hikmah. Ya, negeri dunia ini tidak memadai bagi bersemainya bakat-bakat tak terhingga yang terpendam dalam ruh manusia. Berarti ia akan dikirim ke alam lain. Ya, jauhar manusia besar. Kalau demikian, ia calon bagi keabadian. Hakikatnya tinggi, kalau demikian kejahatannya pun besar. Ia tidak menyerupai makhluk-makhluk lain. Keteraturannya pun penting. Ia tidak dapat tanpa keteraturan, tidak dapat dibiarkan terbengkalai, tidak dapat disia-siakan, tidak dapat terhukum dengan kefanaan mutlak, tidak dapat lari ke ketiadaan murni. Neraka telah membuka mulutnya menantinya. Adapun surga telah membuka pelukan kasihnya menjaganya. Oleh karena Hakikat Ketiga Kelimat Kesepuluh telah memperlihatkan perumpamaan kedua kita ini dengan sangat indah, maka di sini kami meringkasnya.
Maka sebagai contoh, kiaskanlah pula ayat-ayat lain — yang mengandung banyak sekali burhan halus akal seperti dua ayat mulia ini — dan telitilah. Maka sepuluh sumber dan sepuluh poros ini menghasilkan suatu firasat yang pasti dan suatu burhan yang qat'i; dan firasat yang sangat mendasar serta burhan yang sangat kuat itu, sebagaimana menunjukkan secara pasti kepada wujud pendorong dan penuntut kebangkitan serta kiamat; demikian pula kebanyakan asma husna Sang Pencipta Dzul-Jalâl — seperti Hakîm, Rahîm, Hafîz, dan Âdil, sebagaimana dibuktikan secara pasti dalam Kelimat Kesepuluh — menuntut datangnya kebangkitan dan kiamat serta wujud kebahagiaan abadi, dan menunjukkan secara pasti kepada terwujudnya kebahagiaan abadi. Berarti pendorong kebangkitan dan kiamat sedemikian kuat, sehingga tak dapat menjadi sumber syak dan ragu apa pun.
Asas Ketiga
Sang Pelaku berkuasa. Ya, sebagaimana pendorong kebangkitan tak diragukan lagi ada. Zat yang akan melakukan kebangkitan pun berkuasa sampai derajat akhir. Tak ada kekurangan pada kudrat-Nya. Hal terbesar dan terkecil, dibanding dengan-Nya, adalah sama. Menciptakan satu musim semi semudah menciptakan sekuntum bunga. Ya, suatu Mahakuasa yang alam ini — dengan seluruh matahari, bintang, alam, partikel, dan jauharnya — bersaksi dengan lisan tak terhingga atas keagungan dan kudrat-Nya. Adakah suatu wahm dan was-was memiliki hak untuk menganggap kebangkitan jasmani mustahil bagi kudrat itu? Ya, secara nyata suatu Mahakuasa Dzul-Jalâl yang di dalam alam ini menciptakan pada setiap abad suatu dunia baru yang teratur, bahkan pada setiap tahun menciptakan suatu alam baru yang beredar lagi teratur, bahkan pada setiap hari membuat suatu alam baru yang teratur; senantiasa menciptakan dan mengganti dunia-dunia serta alam-alam yang berlalu di permukaan langit dan bumi, satu demi satu, dengan kesempurnaan hikmah; menggantungkan alam-alam teratur sebanyak bilangan abad, tahun, bahkan hari pada tali zaman, lalu memperlihatkan keagungan kudrat-Nya; dan menyematkan bunga musim semi raksasa — yang dihiasi dengan ukiran ratusan ribu jenis kebangkitan — pada kepala bola bumi laksana sekuntum bunga, lalu menampakkan kesempurnaan hikmah dan keindahan seni-Nya; gerangan adakah dikatakan tentang Zat demikian: "Bagaimana Ia akan mendatangkan kiamat, bagaimana Ia akan mengganti dunia ini dengan akhirat"? Ayat mulia ini mengumumkan kesempurnaan kudrat Sang Mahakuasa ini, bahwa tak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya, bahwa hal terbesar tak lebih berat bagi kudrat-Nya daripada hal terkecil, dan bahwa individu-individu tak terhingga semudah satu individu bagi kudrat itu: مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ Hakikat ayat ini telah kami jelaskan secara global dalam Penutup Kelimat Kesepuluh, dan secara terperinci dalam "Risalah Nokta" serta Surat Kedua Puluh. Sehubungan dengan maqam ini, kami jelaskan sedikit dalam bentuk tiga masalah:
Maka kudrat Ilahi bersifat zati. Kalau demikian, kelemahan tak dapat menyusupinya. Lagi pula ia berkaitan dengan sisi malakut segala sesuatu. Kalau demikian, penghalang-penghalang tak dapat menyusupinya. Lagi pula nisbatnya bersifat undang-undang. Kalau demikian, yang parsial sama dengan yang menyeluruh, dan yang kecil berkedudukan sebagai yang besar. Maka ketiga masalah ini akan kami buktikan.