Risale-i NurKelimat

Mukadimah

Kelimat · hlm. 465

Sebagaimana seandainya seseorang mendakwakan tentang sebuah istana atau sebuah kota: "Istana atau kota ini akan dihancurkan lalu dibangun dan diperbaiki kembali secara kukuh." Sudah pasti, terhadap dakwaannya itu muncul enam pertanyaan:

Yang pertama: "Mengapa ia akan dihancurkan? Adakah sebab dan pendorongnya?" Jika ia membuktikan "Ya, ada," maka datang pertanyaan kedua demikian: "Apakah tukang yang akan menghancurkan lalu memperbaikinya ini mampu? Dapatkah ia melakukannya?" Jika ia membuktikan "Ya, ia mampu," maka datang pertanyaan ketiga demikian: "Apakah penghancuran itu mungkin? Lalu, apakah ia akan dihancurkan?" Jika ia membuktikan "Ya" atas kemungkinan penghancuran dan kejadiannya; maka datang dua pertanyaan lagi kepadanya: "Gerangan, apakah perbaikan kembali istana atau kota yang ajaib ini mungkin? Jika mungkin, apakah ia akan diperbaiki?" Jika ia membuktikan "Ya" atas semua ini pula; maka pada saat itu, pada masalah ini tidak akan tersisa satu celah pun, satu lubang pun di sudut mana pun, yang dapat dimasuki oleh syak, ragu, dan was-was.

Maka sebagaimana perumpamaan ini; bagi penghancuran dan perbaikan istana dunia dan kota alam semesta ini terdapat pendorong. Pelaku dan tukangnya mampu. Penghancurannya mungkin dan akan terjadi. Perbaikannya mungkin dan akan terjadi. Maka masalah-masalah ini akan dibuktikan setelah Asas Pertama.

Asas Pertama

Ruh secara pasti kekal. Hampir seluruh dalil yang menunjukkan wujud malaikat dan makhluk ruhani pada Maksud Pertama, adalah dalil pula bagi masalah kita ini, yaitu kekekalan ruh. Menurutku masalah ini sedemikian pasti, sehingga penjelasan yang berlebih menjadi sia-sia. Ya, jarak antara kita dengan kafilah-kafilah arwah kekal yang tak terhingga — yang berada di alam barzakh, di alam arwah, dan menanti untuk pergi ke akhirat — sedemikian tipis dan pendek, sehingga tidak perlu ditunjukkan dengan burhan. Persentuhan para ahli kasyaf dan syuhud yang tak terbilang dengan mereka, bahkan penglihatan ahli kasyaf kubur atas mereka, bahkan percakapan sebagian orang awam dengan mereka, dan hubungan yang dijalin semua orang dengan mereka dalam mimpi yang benar — semuanya dalam rupa mutawatir yang berlipat ganda, hampir menjadi seperti ilmu manusia yang telah maklum. Akan tetapi pada zaman ini, karena pemikiran materialis membuat linglung setiap orang, maka pada perkara yang paling jelas pun ia memberi was-was pada benak. Maka untuk menghilangkan was-was demikian, dengan sebuah mukadimah, kami akan mengisyaratkan empat sumber dari sekian banyak sumber firasat kalbu dan keyakinan akal.