Risale-i NurKelimat

Masalah Pertama

Kelimat · hlm. 486

Kematian alam semesta ini mungkin. Sebab jika suatu hal termasuk dalam undang-undang penyempurnaan, maka pada hal itu pasti ada pertumbuhan dan perkembangan. Jika ada pertumbuhan dan perkembangan, maka padanya pasti ada umur fitri. Jika ada umur fitri, maka padanya pasti ada ajal fitri. Dengan penelitian dan pengkajian yang sangat luas, terbukti bahwa hal-hal semacam itu tak dapat menyelamatkan diri dari cengkeraman kematian. Ya, sebagaimana manusia adalah suatu alam kecil, ia tak dapat selamat dari keruntuhan. Alam pun adalah suatu manusia besar, ia pun tak dapat selamat dari cengkeraman kematian. Ia pun akan mati, lalu dihidupkan; atau tidur, lalu membuka mata dengan subuh kebangkitan. Dan sebagaimana sebatang pohon hidup — yang merupakan salinan kecil alam semesta — tak dapat menyelamatkan kepalanya dari penghancuran dan peleburan. Demikian pula, rangkaian alam semesta yang bercabang dari pohon penciptaan tak dapat menyelamatkan diri dari penghancuran dan penguraian, demi perbaikan dan pembaruan. Seandainya sebelum ajal fitri dunia, dengan izin iradah azali, tidak datang suatu penyakit dari luar atau suatu peristiwa yang menghancurkan menimpa kepalanya, dan seandainya Sang Pencipta Yang Mahabijaksana pun tidak merusaknya sebelum ajal fitri, maka pastilah — bahkan menurut perhitungan ilmiah — akan datang suatu hari ketika: makna dan rahasia ayat اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ ❊ وَاِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ ❊ وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ ❊ اِذَا السَّمَٓاءُ انْفَطَرَتْ ❊ وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ ❊ وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ bermanifestasi dengan izin Sang Mahakuasa Yang Azali, lalu manusia besar yang bernama dunia itu memulai sakaratnya, dengan suatu rintihan yang ajaib dan suara yang dahsyat memenuhi angkasa, lalu berteriak dan mati; kemudian dengan perintah Ilahi ia akan dihidupkan kembali.

SEBUAH MASALAH BERSIMBOL HALUS

Sebagaimana air membeku dengan merugikan dirinya sendiri. Es mencair dengan merugikan es. Inti menguat dengan merugikan kulit. Lafal menebal dengan merugikan makna. Ruh melemah demi jasad. Jasad menghalus demi ruh. Demikian pula: dunia yang merupakan alam pekat, demi akhirat yang merupakan alam halus, menjadi bening dan halus dengan bekerjanya mesin kehidupan. Kudrat Sang Pencipta, dengan suatu aktivitas yang sangat menakjubkan menaburkan cahaya kehidupan pada bagian-bagian yang pekat, beku, padam, lagi mati — itu adalah suatu simbol kudrat bahwa: demi alam halus, Ia melelehkan, membakar, menyinari alam pekat ini dengan cahaya kehidupan, dan menguatkan hakikatnya. Ya, hakikat, betapa pun lemahnya, tak akan mati, tak akan lenyap seperti rupa. Melainkan ia berjalan dan berpindah di antara keindividuan dan rupa-rupa. Hakikat tumbuh, berkembang, dan kian meluas. Adapun kulit dan rupa menua, menghalus, terpecah-pecah, lalu diperbarui dengan lebih indah agar sesuai dengan perawakan hakikat yang tetap lagi telah tumbuh. Dalam hal tambah dan kurang, hakikat dan rupa berbanding terbalik. Yakni: sekadar menebalnya rupa, hakikat menghalus. Sekadar menghalusnya rupa, hakikat memperoleh kekuatan sebanding dengan itu. Maka undang-undang ini mencakup seluruh benda yang termasuk dalam undang-undang penyempurnaan. Berarti pastilah akan datang suatu masa ketika: alam kasat mata — yang merupakan kulit dan rupa dari hakikat teragung alam semesta — akan terpecah dengan izin Sang Pencipta Dzul-Jalâl. Kemudian ia akan diperbarui dalam rupa yang lebih indah. Rahasia ayat يَوْمَ تُبَدَّلُ اْلاَرْضُ غَيْرَ اْلاَرْضِ akan terwujud.

Kesimpulannya: Kematian dunia mungkin, bahkan tak diragukan lagi bahwa ia mungkin.