Risale-i NurKelimat

Kelimat Keenam

Kelimat · hlm. 485

perumpamaan ini, jika secara nyata terlihat pada kekuatan dan perbuatan mumkin — yang cacat, terbatas, lemah, lagi tak memiliki pengaruh sejati; sudah pasti, dibanding dengan kudrat azali yang tak terhingga, tak bermula, tak berakhir, yang menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan murni, yang membuat seluruh akal terpana, dan yang bermanifestasi dengan jejak-jejak keagungan-Nya — tak diragukan lagi segala sesuatu adalah sama. Tak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya (jangan lengah). Kudrat itu tak dapat ditimbang dan tak dapat dibandingkan dengan timbangan-timbangan kecil keenam rahasia ini. Ia disebutkan hanya untuk mendekatkan ke pemahaman dan menghilangkan anggapan mustahil.

Hasil dan ringkasan Asas Ketiga

Oleh karena kudrat azali tak terhingga. Lagi pula ia keharusan zati bagi Zat Yang Mahasuci. Lagi pula sisi malakut segala sesuatu — yang tanpa noda, tanpa tabir — berpaling kepadanya. Lagi pula ia berhadapan dengannya. Lagi pula ia berada dalam keseimbangan dari sisi kemungkinan yang berupa kesetaraan dua sisi. Lagi pula ia tunduk kepada tatanan fitrah — yang merupakan syariat fitri terbesar — dan kepada undang-undang kebiasaan Allah. Lagi pula sisi malakut tercerabut lagi murni dari penghalang-penghalang dan kekhususan-kekhususan. Sudah pasti hal terbesar, seperti hal terkecil, tak akan terlalu bermanja dan tak akan menolak kudrat itu. Kalau demikian, menghidupkan seluruh makhluk berjiwa dalam kebangkitan tak lebih berat bagi kudrat daripada menghidupkan seekor lalat di musim semi. Kalau demikian, firman مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ tanpa berlebihan, benar, lagi haq. Kalau demikian, dakwaan kita bahwa "Sang Pelaku berkuasa, dan pada sisi itu tak ada penghalang apa pun" telah terbukti secara pasti.

Asas Keempat

Sebagaimana ada pendorong bagi kiamat dan kebangkitan, dan Sang Pelaku yang akan mendatangkan kebangkitan pun berkuasa. Demikian pula: dunia ini memiliki kelayakan bagi kiamat dan kebangkitan. Maka dalam dakwaan kita bahwa "tempat ini layak" terdapat empat masalah.

Yang pertama: Kemungkinan kematian alam dunia ini.

Yang kedua: Terjadinya kematian itu.

Yang ketiga: Kemungkinan perbaikan dan penghidupan kembali dunia yang telah hancur lagi mati itu dalam rupa akhirat.

Yang keempat: Terjadinya perbaikan dan penghidupan yang mungkin itu.