Masalah Ketiga yaitu
Kelimat · hlm. 483
Nisbat kudrat bersifat undang-undang. Yakni, ia memandang sama antara yang banyak dan yang sedikit, yang besar dan yang kecil. Masalah yang pelik ini akan kami dekatkan ke benak dengan beberapa perumpamaan.
Maka di alam semesta, "kebeningan," "kesejajaran," "keseimbangan," "keteraturan," "ketercerabutan," dan "ketaatan" adalah perkara-perkara yang menjadikan yang banyak setara dengan yang sedikit, dan yang besar setara dengan yang kecil.
Perumpamaan Pertama
Menunjukkan rahasia "kebeningan." Misalnya: gambar dan pantulan matahari — yang merupakan limpahan manifestasi matahari — memperlihatkan identitas yang sama di permukaan laut dan pada setiap tetes laut. Seandainya bola bumi tersusun dari pecahan-pecahan kaca yang berbeda-beda menghadap matahari tanpa tabir; niscaya pantulan matahari pada setiap pecahan dan pada seluruh permukaan bumi adalah satu, tanpa berdesak, tanpa terbagi, tanpa berkurang. Seandainya matahari adalah pelaku yang berkehendak, dan memberi limpahan cahaya serta gambar pantulannya dengan iradahnya; niscaya limpahan yang diberikannya ke seluruh permukaan bumi tidak akan lebih berat daripada limpahan yang diberikannya ke satu partikel.
Perumpamaan Kedua
Adalah rahasia "kesejajaran." Misalnya: Seandainya pada titik pusat suatu lingkaran besar yang tersusun dari individu-individu hidup (yakni manusia), di tangan individu di pusat itu terdapat sebatang lilin, dan di tangan individu-individu di lingkaran keliling terdapat cermin masing-masing; maka limpahan dan pantulan yang diberikan titik pusat kepada cermin-cermin di keliling itu, nisbatnya satu, tanpa berdesak, tanpa terbagi, tanpa berkurang.
Perumpamaan Ketiga
Adalah rahasia "keseimbangan." Misalnya: Seandainya ada suatu timbangan yang sejati, sangat peka, lagi sangat besar; pada kedua sisinya, apa pun yang diletakkan — dua matahari, dua bintang, dua gunung, dua telur, atau dua partikel — dengan kekuatan yang sama, satu sisi timbangan besar lagi peka itu dapat naik ke langit dan yang lain turun ke bumi.
Perumpamaan Keempat
Adalah rahasia "keteraturan." Misalnya: Kapal yang paling besar dapat diputar semudah sebuah mainan yang paling kecil.
Perumpamaan Kelima
Adalah rahasia "ketercerabutan." Misalnya: Suatu hakikat yang tercerabut dari keindividuan, memandang dan masuk ke seluruh bagiannya — dari yang terkecil hingga yang terbesar — tanpa berkurang, tanpa terbagi. Kekhususan-kekhususan lahiriah tak dapat ikut campur dan mengacaukannya. Ia tak mengubah pandangan hakikat tercerabut itu. Misalnya: seekor ikan sekecil jarum memiliki hakikat tercerabut itu seperti ikan paus. Seekor mikroba mengemban hakikat kehewanan seperti seekor badak.
Perumpamaan Keenam
Menunjukkan rahasia "ketaatan." Misalnya: Seorang panglima, sebagaimana menggerakkan seorang prajurit dengan perintah "Maju," dengan perintah yang sama pula ia menggerakkan satu pasukan.
Hakikat rahasia ketaatan dalam perumpamaan ini adalah demikian: Di alam semesta, berdasarkan pengalaman, setiap sesuatu memiliki suatu titik kesempurnaan. Sesuatu itu memiliki kecenderungan kepada titik itu. Kecenderungan yang berlipat menjadi kebutuhan. Kebutuhan yang berlipat menjadi kerinduan. Kerinduan yang berlipat menjadi tarikan. Dan tarikan, kerinduan, kebutuhan, kecenderungan — adalah benih dan tunas kepatuhan terhadap perintah-perintah tekwini Allah pada hakikat segala sesuatu. Kesempurnaan mutlak hakikat-hakikat mumkin adalah wujud mutlak. Kesempurnaan khususnya adalah suatu wujud khusus yang mengeluarkan bakatnya dari daya ke perbuatan. Maka ketaatan seluruh alam semesta kepada perintah "Kun" adalah laksana ketaatan satu partikel yang berkedudukan sebagai satu prajurit. Dalam ketaatan dan kepatuhan mumkin terhadap perintah azali "Kun" yang datang dari iradah azali, terkandung sekaligus dan bersama-sama kecenderungan, kebutuhan, gairah, dan tarikan — yang juga merupakan manifestasi iradah. Air yang halus, ketika menerima perintah membeku dengan kecenderungan yang lembut, lalu menghancurkan besi, menunjukkan kekuatan rahasia ketaatan.