Masalah Ketiga
Kelimat · hlm. 488
Penghidupan alam yang akan mati adalah mungkin. Sebab sebagaimana dibuktikan dalam Asas Kedua; tak ada kekurangan pada kudrat. Pendorongnya pun sangat kuat. Adapun masalahnya termasuk hal-hal yang mungkin. Jika suatu masalah yang mungkin memiliki pendorong yang sangat kuat, dan jika tak ada kekurangan pada kudrat Sang Pelaku; maka ia dapat dipandang bukan sekadar mungkin, melainkan dalam rupa pasti terjadi.
SEBUAH NUKTAH BERSIMBOL
Jika diperhatikan alam semesta ini, terlihat bahwa: di dalamnya terdapat dua unsur yang terulur ke segala arah dan berakar. Baik-buruk, indah-jelek, manfaat-mudarat, sempurna-cacat, cahaya-kegelapan, hidayah-kesesatan, nur-nar, iman-kufur, taat-durhaka, takut-cinta; dengan jejak dan buahnya, hal-hal yang berlawanan saling berbenturan di alam semesta ini. Senantiasa mengalami perubahan dan pergantian. Roda-rodanya berputar laksana bengkel bagi hasil suatu alam lain. Sudah pasti kedua unsur yang saling berlawanan itu — dahan dan hasilnya — akan pergi menuju keabadian; berpusat lalu terpisah satu sama lain. Pada saat itu ia akan tampak dalam rupa Surga-Neraka. Oleh karena alam kekekalan akan dibuat dari alam kefanaan ini. Sudah pasti unsur-unsur mendasarnya akan pergi menuju kekekalan dan keabadian. Ya, Surga-Neraka adalah dua buah dari dahan pohon penciptaan yang terulur dan condong ke arah keabadian, dan dua hasil dari rangkaian alam semesta ini, dan dua gudang dari aliran peristiwa ini, dan dua telaga dari makhluk-makhluk yang mengalir dan bergelombang menuju keabadian, dan dua tempat manifestasi kelembutan dan kemurkaan; sehingga ketika tangan kudrat mengguncang alam semesta dengan suatu gerakan yang dahsyat, kedua telaga itu akan terisi dengan bahan-bahan yang sesuai.
Rahasia Nuktah Bersimbol ini adalah demikian
Sang Mahabijaksana Yang Azali, dengan tuntutan inayah sermedi dan hikmah azali, telah menciptakan dunia ini untuk menjadi tempat percobaan, medan ujian, cermin bagi asma husna-Nya, dan lembaran bagi pena takdir dan kudrat-Nya. Adapun percobaan dan ujian menjadi sebab bagi pertumbuhan. Pertumbuhan itu menjadi sebab bagi tersingkapnya bakat. Tersingkapnya bakat itu menjadi sebab bagi tampaknya kesiapan. Tampaknya kesiapan itu menjadi sebab bagi munculnya hakikat-hakikat nisbi. Munculnya hakikat-hakikat nisbi itu menjadi sebab bagi Sang Pencipta Dzul-Jalâl menampakkan ukiran manifestasi asma husna-Nya, dan mengubah alam semesta menjadi rupa surat-surat Samadani. Maka dengan rahasia ujian dan rahasia taklif inilah, jauhar arwah yang tinggi laksana intan tersaring dan terpisah dari benda arwah yang rendah laksana batu bara.
Maka untuk hikmah-hikmah yang halus lagi tinggi seperti rahasia-rahasia yang tersebut ini — dan banyak lagi yang tak kita ketahui — karena Ia menghendaki alam dalam rupa demikian, maka Ia menghendaki pula perubahan dan pergantian alam ini demi hikmah-hikmah itu. Demi perubahan dan pergantian, Ia mencampur lawan-lawan satu sama lain dengan hikmah, dan mempertemukannya. Dengan mencampur mudarat ke dalam manfaat, memasukkan keburukan ke dalam kebaikan, menghimpun kejelekan dengan keindahan, lalu meremasnya laksana adonan — Ia menundukkan alam semesta ini kepada undang-undang pergantian dan perubahan, serta kaidah transformasi dan penyempurnaan.
Tatkala majelis ujian ditutup. Waktu percobaan berakhir. Asma husna melaksanakan putusannya. Pena takdir menuliskan surat-suratnya dengan sempurna. Kudrat menyempurnakan ukiran seninya. Makhluk menunaikan tugasnya. Ciptaan menyelesaikan khidmahnya. Setiap sesuatu mengungkapkan maknanya. Dunia menumbuhkan bibit-bibit akhirat. Bumi memamerkan dan memperlihatkan seluruh mukjizat kudrat dan seluruh keajaiban seni Sang Pencipta Yang Mahakuasa. Alam kefanaan ini menyematkan pada pita zaman lembaran-lembaran yang membentuk pemandangan-pemandangan abadi. Maka hikmah sermedi dan inayah azali Sang Pencipta Dzul-Jalâl itu menuntut hakikat-hakikat seperti: hasil-hasil ujian itu, hakikat manifestasi asma husna itu, hakikat surat-surat pena takdir itu, asal dari ukiran seni bercontoh itu, manfaat dan tujuan tugas-tugas makhluk itu, upah khidmah ciptaan itu, dan hakikat makna kata-kata kitab alam semesta itu, serta bersemainya benih-benih bakat, terbukanya suatu mahkamah agung, diperlihatkannya pemandangan mitsali yang diambil dari dunia, terobeknya tabir sebab-sebab lahiriah, dan penyerahan segala sesuatu langsung kepada Sang Pencipta Dzul-Jalâl. Dan karena Ia menuntut hakikat-hakikat tersebut, maka untuk menyelamatkan alam semesta dari gejolak perubahan dan kefanaan, dari transformasi dan kelenyapan, serta untuk mengekalkannya, Ia menghendaki penyaringan lawan-lawan itu, dan menghendaki pemisahan sebab-sebab perubahan serta bahan-bahan perselisihan. Sudah pasti Ia akan mendatangkan kiamat dan menyaring demi hasil-hasil itu. Maka dengan hasil penyaringan ini, Neraka mengambil rupa yang abadi lagi dahsyat, dan golongan-golongannya memperoleh ancaman وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ. Surga mengenakan rupa yang abadi lagi megah, dan penghuni serta sahabatnya memperoleh sapaan سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِد۪ينَ. Sebagaimana dibuktikan dalam Pertanyaan Kedua Maqam Pertama Kelimat Kedua Puluh Delapan; Sang Mahabijaksana Yang Azali, dengan kudrat-Nya yang sempurna, memberi penghuni kedua rumah itu suatu wujud yang abadi lagi tetap, yang tak akan terkena peleburan, perubahan, penuaan, dan kepunahan. Sebab sebab-sebab perubahan yang menimbulkan kepunahan tak akan ditemukan.