Kelimat Ketiga Puluh
Kelimat · hlm. 491
Sebuah "elif", sebuah "titik", yang terdiri dari "Ene" (keakuan) dan "zarah".
Kalimat ini adalah dua maksud. Maksud Pertama membahas hakikat dan hasil "Ene"; Maksud Kedua membahas gerak dan tugas "zarah".
Maksud Pertama
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ اِنَّا عَرَضْنَا اْلاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلاِنْسَانُ اِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً
Kami akan mengisyaratkan satu permata saja dari khazanah besar ayat ini. Yaitu demikian:
Salah satu individu, salah satu wajah dari sekian sisi amanah — yang langit, bumi, dan gunung mengelak dan takut memikulnya — adalah "Ene". Ya, Ene sejak zaman Adam hingga kini adalah biji dari sebuah pohon Thûbâ bercahaya yang menjulurkan cabang dan rantingnya ke sekeliling alam kemanusiaan, sekaligus biji dari sebuah pohon zaqqum yang dahsyat. Sebelum masuk ke hakikat agung ini, kami akan menerangkan sebuah mukadimah yang akan memudahkan pemahamannya. Yaitu demikian:
Ene, sebagaimana ia adalah kunci bagi asma Ilahi yang merupakan khazanah tersembunyi, demikian pula ia adalah kunci bagi tilsam alam semesta yang rumit; ia adalah teka-teki penyingkap kesulitan, tilsam yang menakjubkan. Dengan diketahuinya hakikat Ene itu, teka-teki aneh dan tilsam menakjubkan yang berupa Ene itu pun terbuka, dan ia membuka pula tilsam alam semesta serta khazanah alam wujub. Mengenai masalah ini, dalam sebuah risalah Arab kami yang bernama "Syemme" kami telah membahas demikian: Kunci alam ada di tangan manusia dan tergantung pada dirinya. Sementara pintu-pintu alam semesta tampak terbuka secara lahir, pada hakikatnya ia tertutup. Cenâb-ı Haq, dari segi amanah, telah memberi manusia suatu kunci bernama "Ene" sedemikian rupa sehingga ia membuka seluruh pintu alam; dan Ia telah memberi suatu keakuan bertilsam sedemikian rupa sehingga dengannya ia menyingkap khazanah tersembunyi Sang Pencipta Alam Semesta. Namun Ene, ia sendiri pun adalah suatu teka-teki yang teramat rumit dan suatu tilsam yang sukar dibuka. Sekiranya hakikat sebenarnya dan rahasia penciptaannya diketahui, sebagaimana ia sendiri terbuka, alam semesta pun terbuka. Yaitu demikian:
Sang Shâni' Yang Mahabijaksana telah memberikan ke tangan manusia, sebagai amanah, suatu Ene yang menghimpun isyarat dan contoh yang akan menunjukkan serta memperkenalkan hakikat sifat dan keadaan rububiyah-Nya. Agar Ene itu menjadi suatu satuan pembanding, sehingga sifat rububiyah dan keadaan uluhiyah dapat diketahui. Namun satuan pembanding tak perlu menjadi suatu wujud hakiki. Melainkan, seperti garis-garis khayali dalam ilmu ukur, suatu satuan pembanding dapat dibentuk dengan andaian dan pengertian. Keberadaan hakikinya tak diperlukan dengan ilmu dan penetapan.
PERTANYAAN
Mengapa makrifat sifat dan asma Cenâb-ı Haq bergantung pada keakuan?
JAWABNYA
Karena sesuatu yang mutlak lagi meliputi tak memiliki batas dan ujung, maka ia tak dapat diberi suatu bentuk, dan tak dapat dihukumi untuk diberi suatu rupa dan ketentuan di atasnya, serta tak dapat dipahami apa hakikatnya. Misalnya: suatu cahaya abadi tanpa kegelapan, tak dapat diketahui dan tak dapat dirasakan. Tatkala ditarik suatu batas dengan kegelapan hakiki atau khayali, ketika itu ia dapat diketahui. Maka sifat dan asma Cenâb-ı Haq seperti ilmu dan kudrat, Hakîm dan Rahîm; karena meliputi, tak berbatas, tak bersekutu, maka ia tak dapat dihukumi, tak dapat diketahui apa adanya, dan tak dapat dirasakan. Maka karena ia tak memiliki ujung dan batas hakiki, perlu ditarik suatu batas khayali lagi andaian. Dan itu pun dilakukan oleh keakuan. Ia membayangkan pada dirinya suatu rububiyah khayali, suatu kepemilikan, suatu kudrat, suatu ilmu; ia menarik suatu batas. Dengannya ia meletakkan suatu batas khayali bagi sifat-sifat yang meliputi. Ia membuat suatu pembagian, "Sampai sini milikku, setelah itu milik-Nya." Dengan ukuran-ukuran kecil pada dirinya, sedikit demi sedikit ia memahami hakikat sifat-sifat itu. Misalnya: dengan rububiyah khayali di lingkaran kepemilikannya, ia memahami rububiyah Penciptanya di lingkaran kemungkinan; dan dengan kepemilikan lahiriahnya, ia memahami kepemilikan hakiki Penciptanya, lalu berkata: "Sebagaimana aku memiliki rumah ini, demikian pula Sang Pencipta adalah pemilik alam semesta ini." Dan dengan ilmu parsialnya ia memahami ilmu-Nya; dan dengan karya seni kecilnya yang diusahakan, ia memahami penciptaan seni Sang Shâni' Dzul-Jalâl. Misalnya: ia berkata, "Sebagaimana aku membuat dan menata rumah ini, demikian pula seseorang telah membuat dan menata rumah dunia ini." Dan seterusnya... Ribuan keadaan, sifat, dan perasaan penuh rahasia yang akan memperkenalkan dan menunjukkan seluruh sifat dan keadaan Ilahi sampai suatu kadar, tersimpan di dalam Ene.
Maka Ene, bagaikan cermin, satuan pembanding, alat penyingkap, dan makna harfî; yakni yang maknanya tidak pada dirinya sendiri melainkan menunjukkan makna selainnya — adalah sehelai benang berkesadaran dari tali tebal wujud insani, sehelai tali halus dari jubah hakikat kemanusiaan, dan sebuah "elif" dari kitab kepribadian keinsanan; yang "elif" itu memiliki "dua wajah". Yang satu memandang kepada kebaikan dan wujud. Dengan wajah itu ia hanya menerima limpahan. Ia menerima Pemberi, ia tak dapat mengadakan sendiri. Pada wajah itu ia bukan pelaku, tangannya pendek dari pengadaan. Wajah yang satu lagi memandang kepada keburukan dan menuju ketiadaan. Pada wajah itu ia adalah pelaku, pemilik perbuatan. Dan hakikatnya bersifat harfî; ia menunjukkan makna selainnya. Rububiyahnya khayali. Wujudnya sedemikian lemah lagi tipis sehingga pada dirinya sendiri ia tak dapat menanggung dan memikul sesuatu pun. Melainkan ia adalah sejenis timbangan — seperti termometer dan barometer yang memberitahukan derajat dan kadar sesuatu — suatu timbangan yang memberitahukan sifat-sifat Wâjibul-Wujûd yang mutlak, meliputi, lagi tak berbatas.
Maka orang yang mengetahui, meyakini hakikatnya dalam bentuk ini, dan bergerak menurutnya, ia masuk ke dalam kabar gembira قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰيهَا. Ia menunaikan amanah dengan sebenarnya, dan dengan teropong Ene itu ia melihat apa itu alam semesta dan apa tugas yang diembannya; dan tatkala pengetahuan âfâqî (dari luar) datang ke jiwa, ia menemukan seorang pembenar di dalam Ene. Ilmu-ilmu itu tinggal sebagai cahaya dan hikmah. Ia tak berubah menjadi kegelapan dan kesia-siaan. Tatkala Ene menunaikan tugasnya dengan cara demikian, ia meninggalkan rububiyah khayali dan kepemilikan andaian yang berupa satuan pembanding itu. Ia berkata: لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ لَهُ الْحُكْمُ وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. Ia mengenakan ubudiyah hakikinya. Ia naik ke maqam "ahsan-i taqwîm".
Sekiranya Ene itu melupakan hikmah penciptaannya, meninggalkan tugas fitrinya, lalu memandang dirinya dengan makna ismî, meyakini dirinya sebagai pemilik; ketika itu ia berkhianat dalam amanah, ia masuk ke bawah وَ قَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰيهَا. Maka dari sisi keakuan inilah — yang melahirkan seluruh kemusyrikan, keburukan, dan kesesatan — langit, bumi, dan gunung menjadi ngeri, takut akan suatu kemusyrikan andaian. Ya, sementara Ene adalah sebuah "elif" tipis, sehelai benang, sebuah garis andaian, jika hakikatnya tak diketahui, ia bertunas di bawah tanah penyelubungan; ia kian lama kian menebal. Ia menyebar ke seluruh bagian wujud insani. Bagaikan seekor naga raksasa, ia menelan wujud insani. Seluruh manusia itu, dengan segenap latîfe-nya, hampir seluruhnya menjadi Ene. Kemudian keakuan jenis pun, dari segi fanatisme jenis dan kebangsaan, memberi kekuatan kepada keakuan itu; lalu Ene, dengan bersandar pada keakuan jenis, menentang perintah Sang Shâni' Dzul-Jalâl bagaikan setan. Kemudian, dengan cara mengiaskan segala sesuatu kepada dirinya, ia mengiaskan setiap orang bahkan segala sesuatu kepada dirinya, lalu membagi kerajaan Cenâb-ı Haq kepada mereka dan kepada sebab-sebab. Ia jatuh ke dalam kemusyrikan yang teramat besar. Ia menampakkan makna اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظ۪يمٌ. Ya, sebagaimana seseorang yang mencuri empat puluh keping uang dari harta negara dapat menelan pencuriannya dengan menerima setiap temannya yang hadir mengambil sedirham; demikian pula orang yang berkata "Aku memiliki diriku sendiri" terpaksa berkata dan meyakini "Segala sesuatu memiliki dirinya sendiri".
Maka Ene, dalam keadaannya yang khianat ini, berada dalam kejahilan mutlak. Meskipun ia mengetahui ribuan cabang ilmu, ia adalah orang yang paling jahil dengan kejahilan berlapis. Sebab tatkala indra dan pikirannya membawa cahaya-cahaya makrifat alam semesta, karena ia tak menemukan pada jiwanya suatu bahan untuk membenarkan, menerangi, dan melanggengkannya, cahaya-cahaya itu padam. Segala yang datang terwarnai oleh warna-warna dalam jiwanya. Sekiranya hikmah murni datang, ia mengambil rupa kesia-siaan mutlak pada jiwanya. Sebab warna Ene dalam keadaan ini adalah syirik dan penafian, pengingkaran Allah. Sekiranya seluruh alam semesta terisi ayat-ayat yang cemerlang; suatu titik gelap dalam Ene itu memadamkannya dalam pandangan, tak menunjukkannya. Dalam Kelimat Kesebelas telah dijelaskan dengan cara yang teramat pasti betapa hakikat kemanusiaan dan keakuan dalam hakikat kemanusiaan itu — dari segi makna harfî — adalah suatu timbangan yang teramat peka, suatu ukuran yang tepat, suatu daftar isi yang meliputi, suatu peta yang sempurna, suatu cermin yang menghimpun, dan suatu takwim nan kalender indah bagi alam semesta. Rujuklah ke sana. Karena mencukupkan diri dengan perincian dalam Kalimat itu, kami memendekkan dan mengakhiri mukadimah. Jika engkau telah memahami mukadimah, marilah, kita masuk ke hakikat.
Maka lihatlah: Di alam kemanusiaan, sejak zaman Adam hingga kini, dua arus besar, dua rangkaian pikiran; di setiap penjuru dan di setiap lapisan kemanusiaan telah menjulurkan cabang dan ranting, bagaikan dua pohon raksasa... Yang satu, rangkaian kenabian dan agama; yang lain, rangkaian filsafat dan hikmah, datang dan pergi. Setiap kali kedua rangkaian itu berpadu dan bersatu — yakni tatkala rangkaian filsafat masuk ke dalam rangkaian agama lalu menaatinya dan mengabdi kepadanya — alam kemanusiaan menjalani suatu kebahagiaan dan kehidupan sosial yang cemerlang. Setiap kali keduanya berpisah, seluruh kebaikan dan cahaya berkumpul di sekitar rangkaian kenabian dan agama, sementara keburukan dan kesesatan berhimpun di sekitar rangkaian filsafat. Kini kita mesti menemukan sumber dan dasar kedua rangkaian ini.
Maka rangkaian filsafat yang tak menaati rangkaian agama itu, yang mengambil rupa pohon zaqqum, menyebarkan kegelapan syirik dan kesesatan ke sekelilingnya. Bahkan pada cabang daya akal, ia menyerahkan ke tangan akal manusia buah-buah Dahriyyah, Materialis, Naturalis. Dan pada cabang daya amarah, ia melemparkan ke atas kepala manusia para Namrûd, Fir'aun, Syaddâd
> (Catatan Kaki): Ya, sebagaimana yang membesarkan para Namrûd dan Fir'aun serta menyusui dan mengasuh mereka adalah filsafat-filsafat lama Mesir dan Babil kuno — yang telah naik ke derajat sihir atau, karena bersifat khusus, dianggap sihir di sekelilingnya — demikian pula rawa filsafat naturalis itulah yang menanamkan tuhan-tuhan dalam kepala Yunani kuno dan melahirkan berhala-berhala. Ya, manusia yang tak melihat cahaya Allah karena tirai alam, memberi uluhiyah kepada segala sesuatu lalu menjadikannya penguasa atas dirinya sendiri.
Dan pada cabang daya syahwat hewani, ia membuahkan serta menumbuhkan tuhan-tuhan, berhala-berhala, dan orang-orang yang mendakwakan uluhiyah. Adapun sumber pohon zaqqum itu, beserta rangkaian kenabian — yang bagaikan pohon Thûbâ ubudiyah — cabang-cabang berkahnya di kebun bumi: pada cabang daya akal ia menumbuhkan buah para nabi, rasul, wali, dan shiddiqin; pada cabang daya penolak (dâfi'ah) ia memberi buah para hakim yang adil dan para raja bagaikan malaikat; dan pada cabang daya penarik (jâzibah) ia menumbuhkan buah orang-orang berbudi luhur, bermuka elok nan suci, serta para dermawan lagi mulia; dan menunjukkan bahwa manusia adalah buah teristimewa alam semesta ini — pohon itu beserta sumbernya berada pada kedua sisi Ene. Maka kami akan menerangkan dua wajah Ene sebagai suatu biji pokok yang menjadi sumber dan tumpuan bagi kedua pohon itu. Yaitu demikian:
Satu wajah Ene dipegang oleh kenabian dan berjalan; wajah yang lain dipegang oleh filsafat dan datang.
Wajah pertama, yaitu wajah kenabian
adalah sumber ubudiyah murni. Yakni Ene mengetahui dirinya sebagai hamba. Ia mengabdi kepada selainnya, ia memahami. Hakikatnya harfî. Yakni ia membawa makna selainnya, ia memahaminya. Wujudnya mengikut. Yakni ia meyakini bahwa ia tegak dengan wujud orang lain dan mantap dengan pengadaan-Nya. Kepemilikannya khayali. Yakni ia mengetahui bahwa dengan izin pemiliknya, ia memiliki suatu kepemilikan lahiriah lagi sementara. Hakikatnya bayangan. Yakni ia adalah bayangan yang mungkin lagi miskin yang membawa manifestasi suatu hakikat yang benar lagi wajib. Adapun tugasnya adalah suatu khidmah penuh kesadaran sebagai ukuran dan timbangan bagi sifat dan keadaan Penciptanya. Maka para nabi, dan ashfiya serta wali dalam rangkaian kenabian, memandang Ene dengan wajah ini, melihatnya demikian, memahami hakikatnya. Mereka menyerahkan seluruh kerajaan kepada Sang Pemilik Kerajaan, dan menghukumi bahwa: Sang Pemilik Dzul-Jalâl itu tak memiliki sekutu dan tandingan, baik dalam kerajaan, rububiyah, maupun uluhiyah-Nya; Ia tak membutuhkan penolong dan menteri; kunci segala sesuatu ada di tangan-Nya; Ia Mahakuasa atas segala sesuatu. Sebab-sebab adalah tirai lahiriah; alam (naturalisme) adalah syariat fitri-Nya, himpunan undang-undang-Nya, dan penggaris kudrat-Nya. Maka wajah bercahaya nan indah ini menjadi bagaikan biji yang hidup lagi bermakna, yang darinya Sang Khâliq Dzul-Jalâl menciptakan sebuah pohon Thûbâ ubudiyah, yang cabang-cabang berkahnya menghiasi setiap penjuru alam kemanusiaan dengan buah-buah bercahaya. Ia menyingkirkan seluruh kegelapan masa lampau, dan menunjukkan bahwa masa lampau yang panjang itu bukanlah kuburan raksasa, suatu negeri ketiadaan sebagaimana dilihat filsafat, melainkan — untuk melompat ke masa depan dan kebahagiaan abadi — suatu tumpuan cahaya bagi ruh-ruh yang telah pergi, suatu mikraj bercahaya bertingkat-tingkat, dan suatu taman cahaya nan kebun bagi ruh-ruh yang telah meninggalkan beban beratnya, menjadi bebas, lalu berpindah pergi dari dunia.
Adapun wajah kedua
dipegang oleh filsafat. Adapun filsafat, ia memandang Ene dengan makna ismî. Yakni ia berkata, "Ene menunjukkan kepada dirinya sendiri." Maknanya pada dirinya sendiri, ia bekerja atas perhitungannya sendiri, ia menghukumi. Ia menganggap wujudnya asli lagi zati. Yakni ia berkata, "Pada zatnya ia memiliki suatu wujud dengan sendirinya." Ia mengklaim memiliki hak hidup, dan pada lingkaran penguasaannya ia pemilik hakiki. Ia menyangkanya suatu hakikat yang tetap. Ia mengetahui tugasnya sebagai suatu penyempurnaan diri yang lahir dari kecintaan pada dirinya sendiri, dan seterusnya.. Mereka membangun jalan mereka di atas banyak dasar yang rusak.
Betapa dasar-dasar itu tanpa dasar lagi lapuk, telah kami buktikan dengan pasti dalam risalah-risalah lain kami, khususnya dalam Kalimat, terutama Kelimat Kedua Belas dan Kedua Puluh Lima. Bahkan individu-individu paling sempurna dan para jenius rangkaian filsafat itu, seperti Plato dan Aristoteles, Ibnu Sînâ dan Fârâbî, memberi hukum yang firauni seraya berkata: "Puncak tujuan kemanusiaan adalah 'menyerupai Wâjib', yakni menyerupai Wâjibul-Wujûd." Mereka mencambuk keakuan, membiarkannya berlari bebas di lembah-lembah syirik, lalu membuka medan bagi banyak golongan syirik seperti pemuja sebab, pemuja berhala, pemuja alam, pemuja bintang. Mereka menutup pintu ketidakberdayaan, kelemahan, kefakiran, kebutuhan, kekurangan, dan cacat yang tertanam dalam dasar kemanusiaan, lalu menutup jalan ubudiyah. Terpaku pada alam, tak dapat sepenuhnya keluar dari syirik, mereka tak menemukan pintu syukur yang luas.
Adapun kenabian: mereka menghukumi secara ubudiyah bahwa tujuan kemanusiaan dan tugas keinsanan adalah — di samping berakhlak dengan akhlak Ilahi dan berhias dengan tabiat yang baik — mengetahui ketidakberdayaan diri lalu berlindung kepada kudrat Ilahi, melihat kelemahan diri lalu bersandar pada kekuatan Ilahi, melihat kefakiran diri lalu bertumpu pada rahmat Ilahi, melihat kebutuhan diri lalu memohon pertolongan dari kekayaan Ilahi, melihat cacat diri lalu beristigfar kepada ampunan Ilahi, dan melihat kekurangan diri lalu menjadi pelantun tasbih bagi kesempurnaan Ilahi.
Maka karena filsafat yang tak menaati agama telah tersesat jalannya demikian, Ene mengambil kendalinya sendiri ke tangannya, lalu berlari kepada setiap jenis kesesatan. Maka di atas kepala Ene dengan wajah ini bertunaslah sebuah pohon zaqqum yang menutupi lebih dari separuh alam kemanusiaan.
Maka pada cabang daya syahwat hewani pohon itu, buah-buah yang diberikannya kepada pandangan manusia adalah berhala-berhala dan tuhan-tuhan. Sebab dalam dasar filsafat, kekuatan dipuji. Bahkan salah satu prinsipnya adalah "Hukum bagi yang menang".
> (Catatan Kaki 1): Prinsip kenabian berkata "Kekuatan ada pada kebenaran, kebenaran tidak pada kekuatan", ia memutus kezaliman dan menegakkan keadilan.
Ia berkata: "Pada yang menang ada kekuatan. Pada kekuatan ada kebenaran." Ia secara maknawi menepuk tangan atas kezaliman, memberanikan para zalim, dan menggiring para tiran kepada dakwaan uluhiyah. Dan dengan menisbahkan keindahan pada karya dan keelokan pada ukiran kepada karya dan ukiran itu sendiri — tanpa menisbahkannya kepada manifestasi keindahan tersucikan Sang Shâni' dan Sang Pelukis — ia berkata "Alangkah indahnya ia" sebagai ganti "Alangkah indah ia dibuat". Ia menjadikannya bagaikan berhala yang layak disembah. Dan karena ia memuji suatu keindahan palsu, sombong, pamer, lagi riya yang dijual kepada setiap orang, ia menepuk tangan atas para pelaku riya, dan menjadikan yang bagaikan berhala itu sebagai sesembahan bagi para penyembahnya
> (Catatan Kaki 2): Yakni yang bagaikan berhala itu, demi tampak menyenangkan bagi hawa nafsu para penyembahnya dan meraih perhatian mereka, menunjukkan suatu keadaan bagaikan ibadah dengan pameran riya.
Pada cabang daya amarah pohon itu, ia menumbuhkan buah para Namrûd, Fir'aun, Syaddâd kecil-besar di atas kepala manusia malang. Pada cabang daya akal, ia memberi buah seperti Dahriyyah, Materialis, Naturalis ke otak alam kemanusiaan; ia memecah otak manusia menjadi seribu keping.
Kini untuk menerangi hakikat ini, sebagai contoh dari ribuan penimbangan antara hasil-hasil yang lahir dari dasar-dasar rusak jalan filsafat dan hasil-hasil yang lahir dari dasar-dasar benar rangkaian kenabian, kami sebutkan tiga-empat misal.
Misalnya
Di mana prinsip kenabian dalam kehidupan pribadi, yang dengan kaidah تَخَلَّقُوا بِاَخْلاَقِ اللّٰهِ — "Bersifatlah dengan akhlak Ilahi, menghadaplah kepada Cenâb-ı Haq dengan penuh kerendahan, ketahuilah ketidakberdayaan, kefakiran, dan cacatmu, lalu jadilah hamba di hadirat-Nya" — dan di mana prinsip pamer filsafat, yang dengan kaidah "menyerupai Wâjib adalah puncak kesempurnaan kemanusiaan" berkata "Berupayalah menyerupai Wâjibul-Wujûd"? Ya, di mana hakikat kemanusiaan yang diadon dengan ketidakberdayaan, kelemahan, kefakiran, dan kebutuhan yang tak terhingga? Dan di mana hakikat Wâjibul-Wujûd yang Mahakuasa, Mahakuat, Mahakaya, lagi Mahatak-butuh secara tak terhingga?..
Misal Kedua
Di mana prinsip tolong-menolong, hukum kemurahan, undang-undang penghormatan dalam kehidupan sosial dari hasil-hasil prinsip kenabian — yang mulai dari matahari dan bulan hingga tumbuhan digerakkan untuk menolong hewan, hewan untuk menolong manusia, bahkan zarah-zarah makanan digerakkan untuk menolong dan membantu sel-sel tubuh? Dan di mana prinsip pertikaian dalam kehidupan sosial dari prinsip-prinsip filsafat — yang lahir dari penyalahgunaan fitrah oleh sebagian manusia zalim nan buas dan hewan liar? Ya, mereka menerima prinsip pertikaian sedemikian mendasar lagi menyeluruh sehingga menghukumi secara dungu "Kehidupan adalah suatu pertikaian".
Misal Ketiga
Di mana prinsip pemersatu tauhid dari hasil-hasil tinggi kenabian tentang tauhid Ilahi, yaitu prinsip berharga اَلْوَاحِدُ لاَ يَصْدُرُ اِلاَّ عَنِ الْوَاحِدِ, yakni "Setiap yang memiliki kesatuan hanya akan terbit dari yang satu. Selama pada segala sesuatu dan pada seluruh benda ada suatu kesatuan, maka ia adalah pengadaan satu Zat tunggal"? Dan di mana prinsip filsafat sesat yang bersimbah syirik, yaitu salah satu prinsip keyakinan filsafat lama اَلْوَاحِدُ لاَ يَصْدُرُ عَنْهُ اِلاَّ الْوَاحِدُ — "Dari yang satu hanya terbit yang satu", yakni "Dari suatu zat, hanya satu yang dapat terbit dengan sendirinya. Benda-benda lain terbit darinya melalui perantara" — yang menunjukkan Wâjibul-Wujûd Yang Mahakaya mutlak dan Sang Qadîr Mutlak seakan tak berdaya lagi membutuhkan perantara, memberi sejenis kongsi rububiyah kepada seluruh sebab dan perantara, memberi Sang Khâliq Dzul-Jalâl suatu makhluk bernama "akal pertama", lalu membagi kerajaan-Nya kepada sebab dan perantara, sehingga membuka jalan bagi suatu syirik yang teramat besar? Jika para Isyrâqiyyûn yang merupakan bagian tertinggi dari para filsuf berbuat kacau demikian, engkau dapat mengiaskan betapa kacau yang akan diperbuat bagian bawah seperti Materialis dan Naturalis.
Misal Keempat
Di mana prinsip hikmah yang merupakan kebenaran murni dari prinsip bijak kenabian, yang dengan rahasia وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪: "Jika hasil dan hikmah setiap sesuatu, setiap makhluk hidup bagi dirinya sendiri adalah satu, maka hasil-hasil yang menghadap kepada Sang Shâni'-nya, hikmah-hikmah yang memandang kepada Sang Fâthir-nya, adalah ribuan. Setiap sesuatu, bahkan sebuah buah, memiliki hikmah dan hasil sebanyak buah-buah sebuah pohon"? Dan di mana prinsip hikmah palsu tanpa hikmah dari filsafat, yang dengan berkata "Hasil setiap makhluk hidup memandang kepada dirinya sendiri, atau berkaitan dengan manfaat manusia" melihat suatu hikmah tanpa hikmah dalam suatu kesia-siaan yang teramat tak bermakna, bagaikan menggantungkan sebuah hasil, sebuah buah sekecil biji sawi pada sebatang pohon sebesar gunung? Karena hakikat ini telah ditunjukkan sampai suatu kadar dalam Hakikat Kesepuluh Kelimat Kesepuluh, kami memendekkannya. Maka kepada empat misal ini engkau dapat mengiaskan ribuan misal. Sebagiannya telah kami isyaratkan dalam sebuah risalah bernama "Lemaat".
Maka dari dasar-dasar rusak dan hasil-hasil buruk filsafat inilah, para jenius dari kalangan filsuf Islam seperti Ibnu Sînâ dan Fârâbî, karena terpesona oleh kemegahan lahiriahnya lalu tertipu dan masuk ke jalan itu, hanya dapat meraih derajat seorang mukmin biasa. Bahkan seorang Hujjatul-Islam seperti Imam Al-Ghazâlî pun tak memberi mereka derajat itu.
Dan para imam Mu'tazilah dari kalangan ulama mutakallim yang mendalam, karena terpesona oleh hiasan lahiriahnya lalu bersentuhan serius dengan jalan itu dan menjadikan akal sebagai hakim, hanya dapat naik ke derajat seorang mukmin fasik lagi ahli bid'ah. Dan para tokoh sastrawan Islam yang termasyhur, seperti Abul-Alâ al-Maarri yang dikenal dengan pesimismenya dan Umar Khayyam yang tersifati dengan tangisan yatimnya, karena berlezat dengan kelezatan jalan itu yang membelai nafsu ammârah, telah menerima tamparan penghinaan dan pengkafiran dari ahli hakikat dan kesempurnaan; mereka menerima tamparan pendidikan yang menghardik: "Kalian berbuat tak beradab, kalian masuk ke kezindikan, kalian menumbuhkan para zindik."
Dan salah satu dari dasar-dasar rusak jalan filsafat adalah: sementara Ene pada zatnya adalah suatu hakikat yang lemah bagaikan udara, karena pandangan sial filsafat memandangnya dari segi makna ismî, seakan-akan Ene yang bagaikan uap itu mencair, kemudian dari segi kebiasaan dan sebab tenggelam dalam materi seakan-akan mengeras. Kemudian dengan kelalaian dan pengingkaran, keakuan itu membeku. Kemudian dengan pembangkangan, ia mengeruh, kehilangan kebeningannya. Kemudian kian lama kian menebal lalu menelan pemiliknya. Ia membengkak dengan pikiran jenis manusia. Kemudian, dengan mengiaskan manusia lain bahkan sebab-sebab kepada dirinya dan jiwanya, ia memberi mereka — meskipun mereka tak menerima dan berlepas diri — masing-masing suatu kefiraunan. Maka ketika itu ia mengambil sikap menentang perintah Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Ia berkata مَنْ يُحْيِى الْعِظَامَ وَ هِىَ رَم۪يمٌ. Ia menuduh Sang Qadîr Mutlak dengan ketidakberdayaan bagaikan menantang. Bahkan ia mencampuri sifat-sifat Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Yang tak sesuai dengan seleranya dan tak menyenangkan kefiraunan nafsu ammârahnya, ia entah menolak, mengingkari, atau menyelewengkannya. Di antaranya:
Suatu golongan filsuf menyebut Cenâb-ı Haq "mûjib bi-dzâtihî (wajib bertindak menurut zatnya)", menafikan ikhtiar-Nya; mereka mendustakan kesaksian tak terhingga seluruh alam semesta yang membuktikan ikhtiar-Nya. Mahasuci Allah! Sementara seluruh wujud dari zarah hingga matahari menunjukkan ikhtiar Sang Shâni' dengan ketentuan, keteraturan, hikmah, dan timbangannya, mata filsafat buta ini tak melihatnya. Dan sebagian filsuf, dengan berkata "Ilmu Ilahi tak berkaitan dengan hal-hal parsial", menafikan keliputan agung ilmu Ilahi, lalu menolak kesaksian benar seluruh wujud. Dan filsafat memberi pengaruh kepada sebab, menyerahkan pengadaan ke tangan alam. Sebagaimana dibuktikan dengan pasti dalam Kelimat Kedua Puluh Dua; tak melihat cap cemerlang yang khas bagi Sang Pencipta Segala Sesuatu pada setiap sesuatu, ia memberi sumber-pengadaan kepada alam yang tak berdaya, mati, tak berkesadaran, buta, dan yang kedua tangannya berada di tangan dua yang buta yaitu kebetulan dan kekuatan, lalu menisbahkan sebagian wujud — yang mengungkapkan ribuan hikmah tinggi dan masing-masing bagaikan surat Samadâni — kepadanya. Dan sebagaimana dibuktikan dalam Kelimat Kesepuluh, tak menemukan pintu kebangkitan dan akhirat yang ditunjukkan Cenâb-ı Haq dengan seluruh asma-Nya, alam semesta dengan seluruh hakikatnya, rangkaian kenabian dengan seluruh penelitiannya, dan kitab-kitab samawi dengan seluruh ayatnya, mereka menafikan kebangkitan, lalu menisbahkan suatu keazalian kepada ruh-ruh.
Maka kiaskanlah masalah lainnya kepada khurafat-khurafat ini. Ya, para setan, seakan dengan paruh dan cakar Ene, telah mengangkat akal para filsuf tak beragama ke udara, melemparkannya ke lembah-lembah kesesatan, lalu mencerai-beraikannya. Ene di alam kecil, bagaikan alam (naturalisme) di alam besar, adalah salah satu thâghût.
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللّٰهُ سَم۪يعٌ عَل۪يمٌ
Sebuah kejadian misali yang kutulis dalam bentuk setengah bersyair di "Lemaat", berupa suatu perjalanan khayali untuk menerangi hakikat yang telah lewat, kini munasabahnya datang untuk kusebutkan maknanya di sini. Yaitu demikian:
Delapan tahun sebelum penulisan risalah ini, di Istanbul, pada Ramadan yang Mulia, pada suatu saat ketika Said Lama — yang berhubungan dengan jalan filsafat — akan berubah menjadi Said Baru; tatkala aku memikirkan tiga jalan yang diisyaratkan di akhir Al-Fâtihah dengan صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّٓالّ۪ينَ, aku melihat suatu kejadian khayali, suatu peristiwa misali, suatu peristiwa yang menyerupai mimpi demikian:
Kulihat diriku di sebuah padang yang teramat luas. Seluruh muka bumi diliputi lapisan awan yang gelap, menyesakkan, lagi mencekik. Tak ada angin sepoi, tak ada cahaya, tak ada air kehidupan.. tak satu pun ada. Kubayangkan setiap penjuru penuh dengan binatang buas, makhluk berbahaya lagi menyeramkan. Terlintas dalam kalbuku: "Di sisi lain bumi ini ada cahaya, angin sepoi, air kehidupan. Aku mesti pergi ke sana." Kulihat aku digiring tanpa kehendak. Aku masuk ke sebuah gua bagaikan terowongan di dalam bumi. Lambat laun aku mengembara di dalam bumi. Kulihat: sebelum aku, di jalan bawah tanah itu banyak orang telah pergi. Mereka tercekik dan tinggal di setiap penjuru. Kulihat jejak kaki mereka. Sesekali kudengar suara sebagian mereka, kemudian suara itu terputus.
Wahai sahabat yang ikut serta dalam perjalanan khayaliku dengan khayalnya! Bumi itu adalah alam (tabiat) dan filsafat naturalis. Adapun terowongan adalah jalan yang dibuka ahli filsafat dengan pikiran mereka untuk membuka jalan menuju hakikat. Jejak kaki yang kulihat adalah milik para tokoh masyhur seperti Plato dan Aristoteles
> (Catatan Kaki): Jika engkau berkata: "Siapa engkau, sehingga tampil menentang para tokoh masyhur ini? Engkau bagaikan seekor lalat lalu ikut campur dalam terbangnya para elang?" Aku pun berkata: "Selama aku memiliki seorang guru azali seperti Al-Qur'an, aku tak wajib memberi para elang itu — yang merupakan murid filsafat bersimbah kesesatan dan akal bersimbah waham — nilai sebesar sayap lalat pun di jalan hakikat dan makrifat. Sejauh mana aku lebih rendah dari mereka, guru mereka pun seribu kali lebih rendah dari guruku. Berkat himmah guruku, bahan yang menenggelamkan mereka tak membasahi kakiku pun. Ya, seorang prajurit kecil dari seorang raja besar, yang mengemban undang-undang dan perintahnya, dapat melihat pekerjaan lebih besar daripada seorang marsekal besar dari seorang raja kecil."
Suara yang kudengar adalah milik para jenius seperti Ibnu Sînâ dan Fârâbî. Ya, sebagian perkataan dan kaidah Ibnu Sînâ kulihat di beberapa tempat. Kemudian sama sekali terputus. Ia tak dapat maju lebih jauh. Berarti ia tercekik. Bagaimanapun, untuk menyelamatkanmu dari penasaran, kutunjukkan sebuah sudut hakikat di balik khayal. Kini aku kembali ke perjalananku.
Lambat laun kulihat dua hal diberikan ke tanganku. Yang satu, sebuah listrik; ia menyingkirkan kegelapan alam bawah tanah itu. Yang lain, dengan sebuah alat, batu-batu besar bagaikan gunung dipecahkan lalu dibukakan jalan bagiku. Dibisikkan ke telingaku: "Listrik dan alat ini diberikan kepada kalian dari khazanah Al-Qur'an." Bagaimanapun, lama aku berjalan demikian. Kulihat aku telah keluar ke sisi lain. Kulihat sebuah alam dalam musim semi yang teramat indah, matahari tanpa awan, angin sepoi yang menyegarkan ruh, air lezat yang menghidupkan, seluruh penjuru dalam kegembiraan. "Alhamdulillah," kataku.
Kemudian kulihat aku tak memiliki diriku sendiri. Seseorang sedang mengujiku. Lagi dalam keadaan pertama, di padang luas itu, di bawah awan yang mencekik, kulihat lagi diriku. Kali ini seorang penggiring menggiringku di jalan lain. Kali ini bukan di bawah bumi, melainkan aku pergi untuk memotong permukaan bumi dengan berjalan lalu menyeberang ke sisi lain. Dalam perjalanan itu kulihat keajaiban yang tak terlukiskan. Laut memarahiku, badai mengancamku, segala sesuatu menimbulkan kesulitan bagiku. Namun aku lewat lagi dengan sarana perjalanan yang diberikan kepadaku dari Al-Qur'an, aku mengalahkannya. Lambat laun kulihat jenazah para pengembara di setiap penjuru. Yang menuntaskan perjalanan itu hanya satu dari seribu. Bagaimanapun... Aku selamat dari awan itu, menyeberang ke sisi lain bumi, lalu berjumpa dengan matahari yang indah. Sambil menghirup angin sepoi yang menyegarkan ruh, "Alhamdulillah," kataku. Aku mulai menyaksikan alam yang bagaikan surga itu.
Kemudian kulihat: seseorang tak membiarkanku di sana. Seakan hendak menunjukkan jalan lain kepadaku, ia membawaku lagi seketika ke padang dahsyat itu. Kulihat: tampak beberapa hal seperti pesawat, mobil, dan keranjang dalam berbagai bentuk, bagaikan lift yang turun dari atas. Menurut kekuatan dan potensi, jika seseorang melompat ke atasnya, ia ditarik ke atas. Aku pun melompat ke salah satunya. Kulihat, dalam sekejap ia mengangkatku ke atas awan. Aku naik ke atas gunung-gunung hijau nan indah lagi berhias. Lapisan awan itu tak sampai ke separuh gunung. Angin sepoi terhalus, air terlezat, cahaya termanis tampak di setiap penjuru. Kulihat: kediaman-kediaman bercahaya bagaikan lift itu ada di setiap penjuru. Bahkan dalam dua perjalananku dan di sisi lain bumi telah kulihat, namun tak kupahami. Kini aku paham bahwa itu adalah manifestasi ayat-ayat Al-Qur'anul Hakîm.
Maka jalan pertama yang diisyaratkan dengan وَلاَ الضَّٓالّ۪ينَ adalah jalan mereka yang terpaku pada alam dan mengusung pikiran naturalis; padanya kalian telah merasakan betapa banyak kesulitan untuk menyeberang ke hakikat dan cahaya. Jalan kedua yang diisyaratkan dengan غَيْرِ الْمَغْضُوبِ adalah jalan para pemuja sebab dan mereka yang memberi pengadaan serta pengaruh kepada perantara, seperti para filsuf Masysyâ'iyyûn; yang membuka jalan ke hakikatul-hakâik dan makrifat Wâjibul-Wujûd hanya dengan akal dan pikiran. Adapun jalan ketiga yang diisyaratkan dengan اَلَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ adalah jalan bercahaya ahli Al-Qur'an yang merupakan ahli jalan lurus; suatu jalan samawi, Rahmâni, lagi bercahaya yang terpendek, ternyaman, terselamat, dan terbuka bagi setiap orang.
Maksud Kedua
[Tentang transformasi zarah-zarah]
Ia akan mengisyaratkan kepada satu zarah dari khazanah ayat ini.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِوَقَالَ الَّذ۪ينَ كَفَرُوا لاَ تَاْت۪ينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلٰى وَ رَبّ۪ى لَتَاْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ لاَ يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوَاتِ وَلاَ فِى اْلاَرْضِ وَلآَ اَصْغَرُ مِنْ ذٰلِكَ وَلآَ اَكْبَرُ اِلاَّ ف۪ى كِتَابٍ مُب۪ينٍ
[Ia menunjukkan sebuah permata seukuran satu miskal zarah, yakni yang ada di dalam peti kecil zarah, dari khazanah teramat besar ayat ini, dan membahas sedikit tentang gerak dan tugas zarah. Maksud ini terdiri dari sebuah "Mukadimah" dan "Tiga Nokta".]