Mukadimah
Kelimat · hlm. 506
Transformasi zarah-zarah adalah getaran dan peredaran ayat-ayat penciptaan yang ditulis pena kudrat Sang Pelukis Azali di kitab alam semesta, pada saat penulisannya. Bukanlah suatu gerak mainan kebetulan yang kacau lagi tanpa makna sebagaimana disangka kaum Materialis dan Naturalis. Sebab seperti seluruh wujud, zarah-zarah, dan setiap zarah, pada awal geraknya berkata "Bismillah". Sebab ia mengangkat beban yang jauh melebihi kekuatannya, bagaikan sebuah biji sebesar butir gandum yang memikul beban sebesar pohon cemara raksasa di pundaknya... Dan pada akhir tugasnya ia berkata "Alhamdulillah". Sebab dengan menunjukkan suatu keindahan seni penuh hikmah yang membuat seluruh akal takjub, suatu keindahan ukiran yang bermanfaat, ia menunjukkan suatu karya bagaikan kasidah pujian bagi puji-pujian Sang Shâni' Dzul-Jalâl. Misalnya, perhatikanlah delima dan jagung.
Ya, transformasi zarah-zarah;
> (Catatan Kaki): Ini adalah catatan kaki bagi kalimat panjang tentang definisi transformasi zarah pada Maksud Kedua. Dalam Al-Qur'anul Hakîm, "Imâm Mubîn" dan "Kitâb Mubîn" disebutkan di banyak tempat. Ahli tafsir sebagian berkata "Keduanya satu"; sebagian berkata "Keduanya berbeda". Penjelasan tentang hakikatnya beragam. Ringkasnya: mereka berkata "Keduanya adalah gelar ilmu Ilahi". Namun dengan limpahan Al-Qur'an aku memperoleh keyakinan demikian: "Imâm Mubîn" adalah gelar bagi salah satu jenis ilmu dan perintah Ilahi yang memandang alam gaib lebih dari alam kesaksian. Yakni ia memandang masa lampau dan masa depan lebih dari masa kini. Yakni ia memandang asal, keturunan, akar, dan benih segala sesuatu lebih dari wujud lahiriahnya. Ia adalah sebuah daftar takdir Ilahi. Keberadaan daftar ini telah dibuktikan dalam Kelimat Kedua Puluh Enam, dan dalam catatan kaki Kelimat Kesepuluh. Ya, "Imâm Mubîn" ini adalah gelar bagi salah satu jenis ilmu dan perintah Ilahi. Yakni, karena pangkal, akar, dan asal benda-benda dengan keteraturan sempurna membuahkan wujud benda-benda secara teramat berseni, ia menunjukkan bahwa mereka ditata dengan sebuah daftar prinsip ilmu Ilahi; dan karena hasil, keturunan, dan benih benda-benda mengandung program serta daftar isi wujud yang akan datang, ia memberitahukan bahwa mereka adalah sebuah himpunan kecil perintah Ilahi. Misalnya: sebuah biji dapat dikatakan bagaikan miniatur kecil dari perintah penciptaan yang menata program dan daftar isi yang akan menata seluruh susunan pohon. Kesimpulannya, "Imâm Mubîn" bagaikan sebuah program dan daftar isi dari pohon penciptaan yang menjulurkan cabang-rantingnya ke sekeliling masa lampau, masa depan, dan alam gaib. "Imâm Mubîn" dalam makna ini adalah sebuah daftar, sebuah himpunan prinsip takdir Ilahi. Dengan imla dan hukum prinsip-prinsip itu, zarah-zarah digiring kepada khidmah dan geraknya dalam wujud benda-benda. Adapun "Kitâb Mubîn", ia memandang alam kesaksian lebih dari alam gaib. Yakni ia memandang masa kini lebih dari masa lampau dan masa depan, dan ia adalah gelar, daftar, kitab kudrat dan iradah Ilahi lebih dari ilmu dan perintah. Jika "Imâm Mubîn" adalah daftar takdir, "Kitâb Mubîn" adalah daftar kudrat. Yakni segala sesuatu menunjukkan kesempurnaan seni dan keteraturan pada wujud, hakikat, sifat, dan keadaannya, bahwa; wujud dikenakan dengan prinsip suatu kudrat sempurna dan undang-undang suatu iradah yang berlaku. Rupa-rupanya ditentukan dan ditetapkan; diberi suatu kadar tertentu, suatu bentuk khusus. Maka kudrat dan iradah itu memiliki sebuah himpunan undang-undang menyeluruh nan umum, sebuah daftar terbesar, yang menurutnya wujud khusus dan rupa tertentu setiap sesuatu dipotong, dijahit, dan dikenakan. Maka keberadaan daftar ini, seperti "Imâm Mubîn", telah dibuktikan dalam masalah takdir dan ikhtiar parsial. Lihatlah kebodohan ahli kelalaian, kesesatan, dan filsafat: mereka merasakan manifestasi, pantulan, dan contoh Lauh Mahfuzh kudrat Sang Pencipta serta kitab bijak iradah Rabbâni itu pada benda-benda. Sekali-kali tidak — mereka menamainya "Alam (Tabiat)", membutakannya. Maka dengan imla "Imâm Mubîn", yakni dengan hukum dan prinsip takdir, kudrat Ilahi menulis, mengadakan, lalu menggerakkan zarah-zarah rangkaian wujud — yang masing-masing sebuah ayat — di halaman misali zaman yang disebut "Lauh Mahwu-Itsbât", dalam pengadaan benda-benda. Maka gerak zarah-zarah; dari penulisan itu, dari penyalinan itu; adalah suatu getaran, suatu gerak dalam perpindahan wujud dari alam gaib ke alam kesaksian dan dari ilmu ke kudrat. Adapun "Lauh Mahwu-Itsbât", ia adalah sebuah daftar berubah dan papan tulis-hapus dari Lauh Mahfuzh Teragung yang tetap lagi kekal, di lingkaran kemungkinan, yakni pada benda-benda yang senantiasa menjadi wadah mati dan hidup, wujud dan fana; dan itulah hakikat zaman. Ya, sebagaimana segala sesuatu memiliki suatu hakikat, hakikat suatu sungai besar yang mengalir di alam semesta — yang kita sebut zaman — pun bagaikan halaman dan tinta penulisan kudrat di "Lauh Mahwu-Itsbât". لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ
adalah gerak dan getaran penuh makna yang timbul dari penulisan dan penggoresan kata-kata kudrat di "Lauh Mahwu-Itsbât" — yang merupakan hakikat dan halaman misali zaman yang mengalir — dengan menyalin dari "Kitâb Mubîn" (yang menjadi gelar kudrat dan iradah Ilahi, tumpuan tasarruf dalam pembentukan dan pengadaan benda pada masa kini dan alam kesaksian), di bawah prinsip dan imla "Imâm Mubîn" (yang menjadi gelar ilmu dan perintah Ilahi, tumpuan keteraturan pada asal lampau dan keturunan mendatang segala sesuatu, dari alam gaib).
NOKTA PERTAMA
Adalah Dua Mebhas.
Mebhas Pertama
Pada setiap zarah — baik dalam geraknya maupun dalam diamnya — dua cahaya tauhid bercahaya bagaikan dua matahari. Sebab sebagaimana dibuktikan secara ringkas pada Isyarat Pertama Kelimat Kesepuluh dan secara terperinci pada Kelimat Kedua Puluh Dua; jika setiap zarah bukanlah petugas Ilahi, tidak bergerak dengan izin dan tasarruf-Nya, dan tidak berubah dengan ilmu dan kudrat-Nya; ketika itu setiap zarah mesti memiliki suatu ilmu tak terhingga, suatu kudrat tak terbatas, suatu mata yang melihat segala sesuatu, suatu wajah yang memandang segala sesuatu, suatu perkataan yang menembus segala sesuatu. Sebab setiap zarah unsur bekerja secara teratur, atau dapat bekerja, di setiap tubuh makhluk hidup. Keteraturan benda-benda dan undang-undang pembentukannya saling berbeda. Jika tatanannya tak diketahui, ia tak dapat dikerjakan; sekalipun dikerjakan, ia tak dapat dibuat tanpa keliru. Padahal ia dibuat tanpa keliru. Maka zarah-zarah yang berkhidmah itu, entah bekerja dengan izin, perintah, ilmu, dan iradah pemilik ilmu yang meliputi, atau pada dirinya mesti ada suatu ilmu dan kudrat yang meliputi demikian. Ya, setiap zarah udara dapat masuk dan bekerja ke dalam tubuh setiap makhluk hidup, ke dalam setiap buah setiap bunga, ke dalam bangunan setiap daun. Padahal susunannya berbeda-beda bentuk, memiliki tatanan yang berlainan. Andaikan pabrik buah tin bagaikan mesin kain wol, maka pabrik buah delima akan bagaikan mesin gula, dan seterusnya.. program bangunan dan tubuh-tubuh itu berbeda satu sama lain. Kini zarah udara ini masuk atau dapat masuk ke dalam semuanya, lalu bekerja dan mengambil sikap secara teramat bijak lagi mahir tanpa keliru. Setelah tugasnya selesai, ia bangkit lalu pergi. Maka zarah bergerak dari udara yang bergerak, entah mesti mengetahui susunan dan bentuk rupa serta kadar yang dikenakan pada tumbuhan dan hewan, bahkan pada buah dan bunganya,
atau mereka mesti menjadi petugas dengan perintah dan iradah suatu Yang Maha Mengetahui; sebagaimana pula setiap zarah tanah yang diam, karena mungkin menjadi tumpuan dan sumber bagi benih seluruh tumbuhan berbunga dan pohon berbuah, maka benih mana pun yang datang, pada zarah itu — yakni pada segenggam tanah yang dari segi kesamaan bagaikan sebuah zarah — terdapat sebuah pabrik khusus baginya dan seluruh perangkat yang diperlukan bagi seluruh perlengkapan dan susunannya; sehingga pada zarah itu dan pada segenggam tanah yang menjadi pondok kecil zarah itu, mesti ada mesin dan pabrik maknawi yang teratur sebanyak jumlah jenis pepohonan, tumbuhan, bunga, dan buah; atau mesti ada suatu ilmu dan kudrat yang mukjizat, yang mengadakan segala sesuatu dari ketiadaan dan mengetahui segala sesuatu dari segala sesuatu dan segenap sisinya; atau tugas-tugas itu dikerjakan dengan perintah, izin, daya, dan kekuatan Sang Qadîr Mutlak, Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu.
Ya, sebagaimana seorang yang canggung, mentah, awam, biasa, lagi buta pergi ke Eropa; masuk ke seluruh pabrik dan bengkel, lalu bekerja secara mahir dengan keteraturan sempurna pada setiap seni dan setiap bangunan, membuat karya sedemikian rupa hingga teramat bijak, berseni, membuat setiap orang takjub. Orang yang berkesadaran sedikit pun tahu bahwa: orang itu tidak bekerja dengan dirinya sendiri. Melainkan seorang guru menyeluruh memberinya pelajaran dan menyuruhnya bekerja. Dan sebagaimana ada seorang buta, tak berdaya, tak dapat bangkit dari tempatnya, duduk di sebuah pondok sederhana. Padahal ke pondok itu diberikan sebutir batu kecil bagaikan sedirham, sepotong tulang, dan sekapas. Padahal jika dari pondok itu keluar berkilo-kilo gula, bergulung-gulung kain wol, ribuan permata, pakaian teramat berseni bertatah permata, makanan lezat; orang yang berakal sedikit pun tak akan berkata: "Orang itu adalah sebuah tuas atau seorang penjaga pintu miskin dari pabrik seorang mukjizat yang merupakan sumber mukjizat." Persis demikian pula: gerak dan khidmah zarah-zarah udara pada tumbuhan dan pepohonan, bunga dan buah — yang masing-masing sebuah surat Samadâni, sebuah karya seni antik Rabbâni, sebuah mukjizat kudrat, sebuah keajaiban hikmah — bergerak dengan perintah dan iradah Sang Shâni' Hakîm Dzul-Jalâl, Sang Fâthir Karîm Dzul-Jamâl; dan zarah-zarah tanah pun, yang masing-masing sebuah mesin dan bengkel tersendiri, sebuah percetakan tersendiri, sebuah khazanah tersendiri, sebuah barang antik tersendiri, dan sebuah maklumat tersendiri yang mengumumkan asma Sang Shâni' Dzul-Jalâl serta sebuah kasidah tersendiri yang menuturkan kesempurnaan-Nya — menjadi sumber dan tumpuan bagi bulir dan pohon benih-benih itu; dengan perintah, izin, iradah, dan kekuatan Sang Shâni' Dzul-Jalâl yang memiliki "Perintah Kun fayakûn" dan yang segala sesuatu tunduk pada perintah-Nya — adalah pasti bagaikan dua kali dua sama dengan empat. Âmannâ (kami beriman).
Mebhas Kedua
Adalah isyarat kecil kepada tugas dan hikmah dalam gerak zarah-zarah.
Ya, kaum Materialis yang akalnya telah jatuh ke matanya, dalam pandangan filsafat mereka yang berdasar kesia-siaan, menjadikan transformasi zarah yang terikat kebetulan itu sebagai dasar dari seluruh prinsip mereka, lalu menunjukkannya sebagai sumber bagi karya-karya Ilahi. Betapa bertentangan dengan akal penisbahan karya-karya yang dihias hikmah tak terhingga kepada sesuatu yang tanpa hikmah, tanpa makna, lagi kacau-balau — orang yang berkesadaran sedikit pun mengetahuinya.
Kini, dalam pandangan hikmah Al-Qur'anul Hakîm, transformasi zarah memiliki teramat banyak tujuan, hikmah, dan tugas. Dengan banyak ayat seperti وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪, Ia mengisyaratkan kepada hikmah dan tugasnya. Sebagai contoh kami mengisyaratkan beberapa:
Yang pertama
Untuk memperbarui dan menyegarkan tajalli pengadaan Cenâb-ı Wâjibul-Wujûd, dengan menjadikan setiap ruh bagaikan model, mengenakan setiap tahun sebuah tubuh baru dari mukjizat kudrat-Nya, menyalin dari setiap kitab tunggal seribu kitab berbeda dengan hikmah-Nya, menunjukkan satu hakikat tunggal dalam rupa yang berbeda-beda, memberi tempat dan menyiapkan lahan bagi kedatangan alam-alam, dunia-dunia, dan wujud golongan demi golongan — Sang Fâthir Dzul-Jalâl menggerakkan dan menugaskan zarah dengan kudrat-Nya.
Yang kedua
Sang Pemilik Kerajaan Dzul-Jalâl telah menciptakan dunia ini, terutama ladang muka bumi, dalam rupa suatu tanah milik. Yakni Ia menyiapkannya dalam rupa yang mampu bertunas dan memberi hasil-hasil yang segar. Agar Ia menanam dan memanen mukjizat kudrat-Nya yang tak terhingga di sana. Maka di ladang muka bumi itu, dengan menggerakkan zarah secara bijak lalu menugaskannya dalam lingkaran keteraturan, pada setiap abad, setiap musim, setiap bulan, bahkan setiap hari, bahkan setiap jam, Ia menunjukkan sebuah alam yang baru dari mukjizat kudrat-Nya, memberi hasil-hasil yang berbeda-beda kepada halaman muka bumi. Ia menampakkan hadiah-hadiah khazanah rahmat-Nya yang tak terhingga, dan contoh-contoh mukjizat kudrat-Nya yang tak terhingga, dengan gerak zarah.
Yang ketiga
Untuk menunjukkan ukiran tajalli asma Ilahi yang tak terhingga, guna mengungkapkan manifestasi asma itu, untuk menunjukkan ukiran tak terhingga di sebuah lahan terbatas, untuk menulis ayat-ayat tak terhingga yang akan mengungkapkan makna tak terhingga di sebuah halaman kecil — Sang Pelukis Azali menggerakkan zarah dengan hikmah sempurna lalu menugaskannya dengan keteraturan sempurna. Ya, hakikat hasil tahun lalu dan hasil tahun ini adalah satu. Namun makna-maknanya berbeda-beda. Dengan mengubah ketentuan-ketentuan i'tibârî (relatif), makna-maknanya berubah dan bertambah. Meskipun ketentuan i'tibârî dan ketetapan sementara diubah dan secara lahir menjadi fana, makna-makna indahnya terpelihara, tetap, dan kekal. Karena daun, bunga, dan buah pohon ini pada musim semi lalu tak memiliki ruh, maka yang serupa pada musim semi ini pada hakikatnya adalah yang sama. Hanya pada ketetapan i'tibârî ada perbedaan. Namun ketetapan i'tibârî itu, untuk mengungkapkan makna keadaan asma Ilahi yang tajallinya senantiasa diperbarui, yang di musim semi ini datang menggantikan mereka dengan ketetapan yang berbeda.
Yang keempat
Untuk menumbuhkan hal-hal yang sesuai — bagaikan hasil, hiasan, atau perlengkapan — bagi alam malakut yang teramat luas seperti alam mitsal yang tak terhingga, dan bagi alam-alam ukhrawi lain yang tak terbatas, di ladang dunia yang sempit ini, di bengkel dan ladang muka bumi — Sang Hakîm Dzul-Jalâl menggerakkan zarah; menjadikan alam semesta mengalir dan wujud berpindah-pindah, lalu di bumi kecil ini menumbuhkan teramat banyak hasil maknawi bagi alam-alam yang teramat besar itu. Ia mengalirkan suatu aliran tak terhingga dari khazanah kudrat-Nya yang tak terhingga dari dunia ke alam gaib, dan sebagiannya ke alam-alam akhirat.
Yang kelima
Untuk menunjukkan kesempurnaan Ilahi yang tak terhingga, manifestasi keindahan yang tak terbatas, tajalli keagungan yang tak berujung, dan tasbih Rabbâni yang tak berhingga, di bumi yang sempit lagi terbatas ini dan dalam waktu yang terbatas lagi sedikit — Ia menggerakkan zarah dengan hikmah dan kudrat sempurna, lalu menugaskannya dengan keteraturan sempurna; dalam waktu terbatas, di bumi terbatas, Ia membuat dilakukannya tasbih tak terhingga. Ia menunjukkan tajalli keindahan, keagungan, dan kesempurnaan-Nya yang tak terbatas. Ia mengadakan banyak hakikat gaib, banyak buah ukhrawi, dan dari identitas serta rupa kekal para fana, banyak ukiran misali dan banyak tenunan lauh yang bermakna. Maka yang menggerakkan zarah adalah suatu Zat yang menunjukkan maksud-maksud agung ini, hikmah-hikmah besar ini. Kalau tidak, mesti ada pada setiap zarah suatu otak bagaikan matahari.
Adapun transformasi zarah yang digerakkan dengan lima contoh ini, bahkan mungkin dengan lima ribu hikmah, para filsuf tak berakal itu menyangkanya tanpa hikmah, dan pada hakikatnya zarah-zarah yang berzikir dan bertasbih kepada Allah dalam dua gerak penuh kerinduan — yang satu enfüsî (batin), yang lain âfâqî (lahir) — bagaikan penari Mevlevi yang berputar, mereka sangka berputar dan bermain sendiri bagaikan orang linglung.
Maka dari sini dipahami bahwa: ilmu mereka bukanlah ilmu, melainkan kejahilan. Hikmah mereka adalah ketiadaan hikmah.
(Pada Nokta Ketiga akan disebutkan sebuah hikmah keenam yang panjang lagi.)
NOKTA KEDUA
Pada setiap zarah ada dua saksi benar bagi keberadaan dan keesaan Wâjibul-Wujûd. Ya, sebagaimana zarah — bersama ketidakberdayaan dan kebekuannya — bersaksi secara pasti bagi keberadaan Wâjibul-Wujûd dengan mengerjakan tugas-tugas besar secara berkesadaran dan memikul beban-beban besar; demikian pula ia bersaksi bagi keesaan Wâjibul-Wujûd dan ke-Ahad-an Zat yang memiliki kerajaan dan malakut, dengan menyesuaikan geraknya pada tatanan umum dalam geraknya, dan dengan memelihara tatanan khas setiap tempat yang dimasukinya, serta dengan menetap di setiap tempat bagaikan di kampung halamannya sendiri. Yakni, zarah itu milik siapa, seluruh tempat yang ia jelajahi pun milik-Nya. Maka zarah — karena ia tak berdaya, bebannya teramat berat tak terhingga, dan tugasnya teramat banyak tak terhingga — memberitahukan bahwa ia tegak dan bergerak dengan nama dan perintah Sang Qadîr Mutlak. Dan penyesuaian geraknya dengan cara yang mengetahui tatanan menyeluruh alam semesta, serta masuknya ke setiap tempat tanpa penghalang, menunjukkan bahwa ia bekerja dengan kudrat dan hikmah satu Yang Maha Mengetahui Mutlak.
Ya, sebagaimana seorang prajurit; di regunya, pletonnya, batalionnya, resimennya, divisinya, dan seterusnya, memiliki suatu pertalian di setiap lingkaran dan suatu tugas menurut pertalian itu; dan dengan mengetahui pertalian serta tugas itu ia menyesuaikan geraknya, mendapat latihan di bawah tatanan militer, sehingga ia tunduk pada perintah dan undang-undang satu panglima terbesar yang memimpin seluruh lingkaran itu. Demikian pula setiap zarah, karena memiliki suatu sikap yang sesuai, suatu pertalian bermaslahat, suatu tugas teratur, dan hasil bijak yang berbeda-beda dalam susunan-susunan yang satu di dalam yang lain — sudah pasti menempatkan zarah itu dalam susunan-susunan tersebut dengan cara yang memelihara seluruh pertalian dan tugasnya serta tak merusak hasil dan hikmahnya, adalah khas bagi suatu Zat yang seluruh alam semesta berada dalam genggaman tasarruf-Nya.
Misalnya: zarah yang menetap di biji mata Tevfik
> (Catatan Kaki): Ia adalah penulis pertama Nur.
— pengambilannya sikap yang sesuai terhadap saraf penggerak dan perasa, urat nadi dan pembuluh mata, dan adanya suatu pertalian, tugas, serta faedah dengan hikmah sempurna terhadap masing-masing di wajah, lalu di kepala dan badan, kemudian di keseluruhan susunan kemanusiaan — menunjukkan bahwa suatu Zat yang mengadakan seluruh anggota tubuh itu dapat menempatkan zarah itu di tempatnya. Dan terutama zarah-zarah yang datang untuk rezeki, zarah-zarah yang mengembara dalam kafilah rezeki, mengembara dengan keteraturan dan hikmah yang teramat menakjubkan, melewati tahap dan lapisan secara teratur, melangkah secara berkesadaran tanpa pernah bingung, hingga di tubuh makhluk hidup mereka disaring dengan empat penyaring, lalu untuk menolong anggota dan sel yang membutuhkan rezeki, mereka menaiki sel-sel darah merah lalu tiba menolong dengan suatu undang-undang kemurahan. Dari sini jelas terlihat bahwa: yang melewatkan dan menggiring zarah-zarah ini dari ribuan kediaman yang berbeda, sudah pasti dan pasti adalah Sang Razzâq Yang Mahamulia, Sang Khallâq Yang Maha Penyayang, yang bagi kudrat-Nya zarah dan bintang adalah setara bahu-membahu.
Dan setiap zarah bekerja dalam suatu ukiran seni sedemikian rupa sehingga: entah ia berkaitan dengan seluruh zarah, sekaligus penguasa dan yang dikuasai atas masing-masing dan keseluruhannya, lalu mengetahui dan mengadakan ukiran menakjubkan dan seni penuh hikmah itu — dan ini mustahil seribu kali. Atau ia adalah sebuah titik yang ditugaskan bergerak, yang keluar dari undang-undang takdir dan pena kudrat Sang Shâni' Hakîm. Sebagaimana misalnya batu-batu di kubah Ayasofya, jika tidak tunduk pada perintah dan seni arsiteknya; maka setiap batu mesti memiliki suatu keahlian dalam seni pertukangan seperti Mimar Sinan, dan mesti menjadi pemilik hukum, sekaligus dikuasai dan menguasai batu-batu lain, yakni berkata "Marilah, agar tak jatuh, tak runtuh, kita akan bersandar kepala-berkepala." Demikian pula: zarah-zarah pada karya-karya yang seribu kali lebih berseni, lebih menakjubkan, lagi lebih bijak daripada kubah Ayasofya, jika tidak tunduk pada perintah Sang Pembuat Alam Semesta; maka mesti diberikan kepada masing-masing sifat kesempurnaan sebanyak sifat Sang Pembuat Alam Semesta.
Mahasuci Allah! Karena para materialis zindik kafir tak menerima satu Wâjibul-Wujûd, mereka terpaksa — menurut mazhab mereka — menerima tuhan-tuhan batil sebanyak jumlah zarah. Maka dari sisi ini, seorang pengingkar kafir, betapa pun ia filsuf lagi alim, pada akhirnya berada dalam suatu kejahilan yang teramat besar, seorang yang paling jahil secara mutlak.
NOKTA KETIGA
Nokta ini adalah isyarat kepada hikmah agung keenam yang dijanjikan di akhir Nokta Pertama. Yaitu demikian:
Dalam catatan kaki jawaban Pertanyaan Kedua Kelimat Kedua Puluh Delapan telah dikatakan bahwa: salah satu dari ribuan hikmah transformasi zarah dan gerak zarah dalam tubuh makhluk hidup adalah menerangi zarah, dan menjadikan zarah hidup lagi bermakna agar menjadi zarah yang layak bagi bangunan alam ukhrawi. Seakan tubuh hewani, insani, bahkan nabati adalah bagaikan sebuah wisma tamu, sebuah barak, sebuah sekolah bagi mereka yang datang untuk mengambil pelajaran tarbiah; zarah-zarah mati masuk ke sana, lalu tercerahkan. Bagaikan menjadi wadah suatu pelatihan dan pengajaran, mereka memperoleh kehalusan. Dengan mengerjakan suatu tugas, mereka memperoleh kelayakan untuk menjadi zarah bagi alam kekekalan dan bagi negeri akhirat yang hidup dengan segenap bagiannya.
Pertanyaan
Dengan apa diketahui adanya hikmah ini dalam gerak zarah?
Jawabnya
Pertama, diketahui dengan hikmah Sang Shâni' yang tetap dengan seluruh keteraturan dan hikmah seluruh karya. Sebab suatu hikmah yang menyematkan hikmah menyeluruh pada sesuatu yang paling parsial, tak akan membiarkan gerak zarah — yang menunjukkan aktivitas terbesar dalam aliran alam semesta dan menjadi tumpuan ukiran penuh hikmah — tanpa hikmah. Dan suatu hikmah, suatu kekuasaan yang tak membiarkan makhluk terkecil tanpa upah, gaji, dan kesempurnaan dalam tugasnya, tak akan membiarkan petugas dan pelayannya yang paling banyak lagi mendasar tanpa cahaya dan upah.
Kedua
Diketahui bahwa gerak zarah bukan tanpa hikmah, melainkan digerakkan menuju sejenis kesempurnaan yang layak baginya — dengan Sang Shâni' Yang Mahabijaksana menggerakkan dan menugaskan unsur-unsur lalu menaikkannya ke derajat mineral (sebagai upah kesempurnaan bagi mereka) serta memberitahukan kepada mereka tasbih khas mineral; dan dengan menggerakkan serta menugaskan mineral lalu memberinya maqam martabat kehidupan tumbuhan; dan dengan menjadikan tumbuhan sebagai rezeki lalu menggerakkan serta menugaskannya lalu menganugerahkan kepada mereka martabat kehalusan hewan; dan dengan menugaskan zarah dalam hewan lalu menaikkannya ke derajat kehidupan insani melalui jalan rezeki; dan dengan menyaring zarah dalam tubuh manusia sedikit demi sedikit lalu memurnikan serta memuliakannya hingga memberi maqam di tempat paling halus dan lembut di otak dan kalbu.
Ketiga
Sebagian zarah di dalam tubuh makhluk hidup, seperti pada biji dan benih, menjadi wadah suatu cahaya, kehalusan, dan keistimewaan maknawi sedemikian rupa sehingga menjadi bagaikan ruh, bagaikan sultan bagi zarah-zarah lain dan bagi pohon raksasa itu. Maka naiknya sebagian zarah ke martabat ini di antara seluruh zarah sebuah pohon raksasa, karena terjadi dengan pohon itu melewati banyak masa dan mengerjakan tugas-tugas halus dalam lapisan kehidupannya, menunjukkan bahwa: dengan perintah Sang Shâni' Yang Mahabijaksana, dalam tugas fitrah, menurut jenis-jenis gerak zarah, atas perhitungan dan kehormatan asma yang bertajalli kepada mereka, mereka memperoleh masing-masing suatu kehalusan maknawi, suatu cahaya maknawi, suatu maqam, suatu pelajaran maknawi.
Kesimpulannya
Selama Sang Shâni' Yang Mahabijaksana menentukan bagi setiap sesuatu suatu titik kesempurnaan yang sesuai baginya dan suatu martabat limpahan wujud yang layak baginya, lalu memberi sesuatu itu suatu potensi untuk berupaya menuju titik kesempurnaan itu, lalu menggiringnya ke sana; dan selama hukum rububiyah ini berlaku pada seluruh tumbuhan dan hewan, ia berlaku pula pada benda mati, yang memberi tanah biasa suatu kemajuan ke derajat berlian dan martabat permata tinggi; maka pada hakikat ini tampak ujung suatu "Hukum Rububiyah" yang teramat agung.
Dan selama Sang Khâliq Yang Mahamulia itu memberi hewan yang Ia pekerjakan dalam hukum agung perkembangbiakan suatu kelezatan parsial bagaikan upah, dan memberi hewan yang dipekerjakan dalam khidmah Rabbâni lainnya seperti lebah dan bulbul suatu upah kesempurnaan, suatu maqam yang menjadi tumpuan kesukaan dan kelezatan; maka pada ini tampak ujung suatu "Hukum Kemurahan" yang teramat agung.
Dan selama hakikat setiap sesuatu memandang kepada tajalli salah satu nama Cenâb-ı Haq, bergantung padanya, menjadi cermin baginya; maka betapa pun indah sikap yang diambil sesuatu itu, ia demi kehormatan nama itu; nama itu menghendaki demikian. Sesuatu itu tahu atau tidak; sikap indah itu, dalam pandangan hakikat, adalah yang dituntut. Dan dari hakikat ini tampak ujung suatu "Hukum Penghiasan dan Keindahan" yang teramat agung.
Dan selama Sang Fâthir Yang Mahamulia, menurut tuntutan prinsip kemurahan, tidak menarik kembali maqam dan kesempurnaan yang Ia berikan kepada sesuatu tatkala masa dan umur sesuatu itu berakhir; melainkan mengekalkan buah, hasil, identitas maknawi, dan maknanya, serta ruhnya jika ia berruh. Misalnya: Ia mengekalkan makna dan buah kesempurnaan yang Ia anugerahkan kepada manusia di dunia. Bahkan syukur dan pujian atas buah-buah fana yang dimakan seorang mukmin yang bersyukur, Ia berikan lagi kepadanya dalam rupa sebuah buah surga yang berwujud. Dan pada hakikat ini tampak ujung suatu "Hukum Rahmat" yang teramat agung.
Dan selama Sang Khallâq Tak Bertara tidak berlebih-lebihan, tak melakukan pekerjaan sia-sia; bahkan pada musim gugur Ia menggunakan puing-puing materi makhluk yang telah selesai tugasnya lagi meninggal dalam karya-karya musim semi, menyisipkannya dalam bangunan mereka; sudah pasti dengan rahasia يَوْمَ تُبَدَّلُ اْلاَرْضُ غَيْرَ اْلاَرْضِ, dengan isyarat وَاِنَّ الدَّارَ اْلاٰخِرَةَ لَهِىَ الْحَيَوَانُ, adalah tuntutan hikmah bahwa batu, pohon, dan segala sesuatu dari zarah-zarah bumi — yang di dunia ini mengerjakan tugas-tugas penting dalam keadaan mati lagi tak berkesadaran — disisipkan dan digunakan dalam sebagian bangunan akhirat yang hidup lagi berkesadaran. Sebab membiarkan zarah-zarah dunia yang telah runtuh tetap di dunia, atau melemparkannya ke ketiadaan, adalah pemborosan. Dan dari hakikat ini tampak ujung suatu "Hukum Hikmah" yang teramat agung.
Dan selama teramat banyak karya, hal maknawi, dan buah dunia ini, serta tenunan amal, lembaran perbuatan, ruh, dan jasad para mukallaf seperti jin dan manusia dikirim ke pasar akhirat; sudah pasti zarah-zarah bumi yang berkhidmah dan menemani buah serta makna itu pun, setelah menyempurnakan diri menurut sisi tugasnya — yakni setelah berkali-kali berkhidmah dan menjadi wadah bagi cahaya kehidupan, dan setelah menjadi tumpuan tasbih kehidupan — adalah tuntutan keadilan dan hikmah bahwa zarah-zarah ini pun disisipkan dalam bangunan alam sana, di antara puing-puing dunia yang akan runtuh ini. Dan dari hakikat ini tampak ujung suatu "Hukum Keadilan" yang teramat agung.
Dan selama sebagaimana ruh menguasai jasad, demikian pula perintah penciptaan yang ditulis takdir pada materi mati menguasai materi itu. Materi itu dapat mengambil kedudukan dan tatanan menurut tulisan maknawi takdir. Misalnya: pada jenis-jenis telur, macam-macam nutfah, ragam-ragam biji, dan jenis-jenis benih, dari segi perintah penciptaan yang ditulis takdir secara berbeda-beda, mereka menjadi pemilik maqam dan cahaya yang berbeda-beda. Dan materi-materi itu, yang dari segi materi hakikatnya
> (Catatan Kaki 1): Ya, semuanya tersusun dari empat unsur. Mereka terbentuk dari materi seperti hidrogen, oksigen, nitrogen, dan karbon. Dari segi materi mereka dapat dianggap satu. Perbedaan mereka hanya pada tulisan maknawi takdir.
bagaikan satu, menjadi sumber bagi wujud yang tak terhingga beragamnya. Mereka menjadi pemilik maqam dan cahaya yang berbeda-beda. Maka jika sebuah zarah berkali-kali telah berada dan berkhidmah dalam khidmah kehidupan dan tasbih Rabbâni dalam kehidupan, adalah tuntutan keliputan ilmu bahwa hikmah makna-makna itu ditulis di dahi maknawi zarah itu dengan pena takdir yang tak menyia-nyiakan sesuatu pun. Dan pada ini tampak ujung suatu "Hukum Ilmu yang Meliputi" yang teramat agung.
Maka zarah-zarah
> (Catatan Kaki 2): Jawaban ini memandang kepada tujuh kata "Selama".
tidaklah terbengkalai.
Kesimpulan Perkataan
Tujuh hukum yang telah lewat — yakni Hukum Rububiyah, Hukum Kemurahan, Hukum Keindahan, Hukum Rahmat, Hukum Hikmah, Hukum Keadilan, Hukum Keliputan Ilmu — dan teramat banyak hukum agung lain, ujung-ujungnya yang tampak menunjukkan di belakangnya masing-masing sebuah Ismul-A'zham dan tajalli teragung Ismul-A'zham itu. Dan dari tajalli itu dipahami bahwa: seperti wujud lainnya, transformasi zarah di dunia ini pun beredar dengan timbangan ilmiah yang teramat peka, demi hikmah-hikmah yang teramat tinggi, di atas batas yang digariskan takdir, menurut perintah penciptaan yang diberikan kudrat. Seakan mereka bersiap pergi ke suatu alam tinggi yang lain
> (Catatan Kaki 3): Sebab dengan penyaksian, suatu aktivitas yang teramat dermawan — yakni menaburkan dan menyalakan cahaya kehidupan dengan teramat banyak di alam kasar lagi rendah ini, bahkan menyalakan cahaya kehidupan baru dengan banyak pada materi terhina dan tubuh yang membusuk, lalu menghaluskan, memoles, dan mengkilaukan materi kasar lagi hina itu dengan cahaya kehidupan — mengisyaratkan hampir dengan jelas bahwa: demi suatu alam lain yang teramat halus, tinggi, bersih, lagi hidup, alam kasar lagi mati ini dipoles, dilebur, dan diperindah dengan gerak zarah, dengan cahaya kehidupan. Seakan ia dihias untuk pergi ke suatu alam yang halus. Maka orang-orang berakal sempit yang tak dapat menampung kebangkitan manusia dalam akalnya, jika mengamati dengan cahaya Al-Qur'an, akan melihat bahwa: tampak suatu "Hukum Qayyûmiyah" yang meliputi, yang akan membangkitkan seluruh zarah bagaikan sebuah pasukan, dan dengan penyaksian ia bertasarruf.
Maka jika demikian, tubuh makhluk hidup adalah bagaikan sebuah sekolah, sebuah barak, sebuah wisma tarbiah bagi zarah-zarah pengembara itu. Dan bahwa demikian dapat dihukumi dengan suatu firasat yang benar.
KESIMPULANNYA
Sebagaimana dikatakan dan dibuktikan dalam Kelimat Pertama; segala sesuatu berkata "Bismillah". Maka seperti seluruh wujud, setiap zarah, setiap golongan zarah, dan setiap jamaah khususnya, dengan lisan keadaan berkata "Bismillah", lalu bergerak.
Ya, dengan rahasia tiga nokta yang telah lewat; setiap zarah, pada awal geraknya dengan lisan keadaan berkata بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ. Yakni: "Aku bergerak dengan nama, perhitungan, isim, izin, dan kekuatan Allah." Kemudian pada akhir geraknya, seperti setiap karya, setiap zarah, setiap golongannya, dengan lisan keadaan berkata اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ, sehingga pada ukiran sebuah makhluk berseni yang bagaikan kasidah pujian, ia menampakkan dirinya bagaikan ujung pena kecil kudrat. Bahkan masing-masing menampakkan dirinya bagaikan sebuah kepala jarum di atas karya-karya — yang bagaikan piringan sebuah fonograf maknawi, Rabbâni, agung, tak terhingga berkepala — yang berputar di atas karya-karya itu lalu membuatnya berbicara dengan kasidah tahmid Rabbâni dan membacakan senandung tasbih Ilahi.
دَعْوٰيهُمْ ف۪يهَا سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ ف۪يهَا سَلاَمٌ وَ اٰخِرُ دَعْوٰيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُرَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُاَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَكُونُ لَكَ رِضَٓاءً وَ لِحَقِّه۪ اَدَٓاءً وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ وَ اِخْوَانِه۪ وَ سَلِّمْ وَسَلِّمْنَا وَ سَلِّمْ د۪ينَنَا اٰم۪ينَ يَا رَبَّ الْعَالَم۪ينَ