KELIMAT KEDUA PULUH TUJUH
Kelimat · hlm. 762
480 Menafsirkan suatu hakikat penting ayat yang bermakna ayat وَلَوْ رَدُّوهُ اِلَى الرَّسُولِ وَ اِلٰٓى اُولِى اْلاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذ۪ينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَ لَوْلاَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ اِلاَّ قَل۪يلاً (Dan seandainya mereka mengembalikannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, tentu orang-orang yang menyimpulkannya akan mengetahuinya; dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya atas kalian, tentu kalian mengikuti setan kecuali sedikit) tentang ijtihad. Dan ia memberitahukan batas mereka yang melampaui batas di zaman ini dengan berbicara tentang ijtihad, serta menjelaskan dengan indah rahasia perbedaan mazhab. Ia membuktikan betapa keliru mereka yang berkata "Di zaman ini kita dapat berijtihad seperti zaman dahulu." Dalam lampiran kalimat ini, di samping membuktikan dengan cara cemerlang lagi pasti martabat para Sahabat mulia yang lebih tinggi dari para wali, ia membuktikan secara pasti bahwa para Sahabat adalah pribadi-pribadi paling mumtaz di antara manusia setelah para Nabi, dan bahwa mereka tak tersusul.