Bagian ketiga para pekerja
Kelimat · hlm. 367
adalah tumbuhan dan benda mati. Karena mereka tak memiliki ikhtiar, mereka tak memiliki gaji. Amal mereka murni karena Allah, dan dengan kehendak, nama, perhitungan, daya, serta kekuatan Cenâb-ı Haq. Namun dari cara berjalan tumbuhan terasa bahwa, pada tugas penyerbukan dan pembiakan serta pengasuhan buah, mereka memiliki semacam kelezatan. Namun mereka sama sekali tak menjadi wadah bagi penderitaan. Karena hewan berikhtiar, bersama kelezatan ia memiliki penderitaan pula. Karena pada amal benda mati dan tumbuhan tak masuk ikhtiar, karya mereka pun lebih sempurna daripada amal hewan yang memiliki ikhtiar. Di antara pemilik ikhtiar, amal mereka yang tercerahkan oleh wahyu dan ilham seperti lebah, lebih sempurna daripada amal mereka yang mengandalkan sebagian ikhtiarnya.
Di ladang muka bumi, setiap golongan tumbuhan bertanya, berdoa kepada Sang Fâthir Yang Mahabijaksana dengan lisan keadaan dan bahasa potensi: "Wahai Rabb kami! Berilah kami kekuatan agar kami menancapkan bendera golongan kami di setiap penjuru muka bumi lalu memaklumkan kesultanan rububiyah-Mu dengan lisan kami, dan berilah kami taufik untuk beribadah kepada-Mu di setiap sudut masjid bumi ini, dan berilah kami suatu peredaran dan kemampuan mengembara untuk memamerkan ukiran asmâul-husnâ-Mu dan seni-seni indah nan antik-Mu dengan lisan kami sendiri di setiap penjuru galeri bumi." Sang Fâthir Yang Mahabijaksana menerima doa maknawi mereka lalu memberi biji-biji suatu golongan sayap-sayap halus; mereka terbang pergi ke setiap arah. Atas nama golongan mereka, mereka membuat asma Ilahi dibaca (seperti biji kebanyakan tumbuhan berduri dan sebagian bunga kuning). Dan kepada sebagian, Ia memberikan daging yang indah yang diperlukan atau disukai manusia. Ia menjadikan manusia pelayannya, lalu menanamnya ke setiap arah. Kepada sebagian golongan, Ia memberikan suatu daging di atas tulang keras yang tak tercerna, yang akan ditelan hewan, sehingga hewan menyebarkannya ke banyak arah. Kepada sebagian, Ia memberikan kait-kait kecil, lalu ia menempel pada setiap yang menyentuhnya. Dengan pergi ke tempat-tempat lain, mereka menancapkan bendera golongannya, memamerkan seni antik Sang Pembuat Yang Mahaagung. Dan kepada sebagian, Ia memberikan suatu kekuatan bagaikan senapan berpeluru seperti tumbuhan yang disebut mentimun pahit, sehingga tatkala waktunya tiba, buahnya yang berupa timun kecil jatuh, lalu melemparkan biji-bijinya beberapa meter jauhnya bagaikan tembakan peluru, lalu menanamnya. Mereka berupaya membuat zikir dan tasbih Sang Fâthir Dzul-Jalâl diucapkan dengan lisan yang banyak, dan demikianlah, kiaskanlah...
Sang Fâthir Yang Mahabijaksana lagi Sang Qadîr Yang Maha Mengetahui, dengan keteraturan yang sempurna, telah menciptakan segala sesuatu dengan indah, melengkapinya dengan indah, mengarahkannya kepada tujuan-tujuan yang indah, membebaninya dengan tugas-tugas yang indah, membuatnya melakukan tasbih yang indah, membuatnya beribadah dengan indah. Wahai manusia! Jika engkau manusia, janganlah engkau campurkan alam, kebetulan, kesia-siaan, dan kesesatan ke dalam pekerjaan-pekerjaan indah ini; jangan engkau buruk-rupakan, jangan engkau buruk-lakukan, jangan engkau menjadi buruk.