Bagian keempat
Kelimat · hlm. 368
adalah manusia. Manusia yang menjadi semacam pelayan di istana alam semesta ini, sekaligus menyerupai malaikat dan menyerupai hewan. Ia menyerupai malaikat dalam ubudiyah menyeluruh, dalam cakupan pengawasan, dalam keluasan makrifat, dalam penyeruan rububiyah. Bahkan manusia lebih menghimpun. Namun karena manusia memiliki suatu nafsu yang jahat lagi berselera, berbeda dengan malaikat, ia menjadi wadah bagi kemajuan dan kemerosotan yang teramat penting. Dan manusia menyerupai hewan karena pada amalnya ia mencari suatu bagian bagi nafsunya dan suatu bagian bagi zatnya. Maka manusia memiliki dua gaji: yang satu; parsial, hewani, disegerakan. Yang kedua; malaikati, menyeluruh, ditangguhkan. Kini, tugas manusia beserta gajinya, kemajuan dan kemerosotannya, telah sebagian dijelaskan pada Kelimat-Kelimat sebanyak dua puluh tiga yang telah lewat. Khususnya pada Kelimat Kesebelas dan Kedua Puluh Tiga telah lebih banyak dijelaskan. Karena itu di sini kami meringkasnya dan menutup pintu. Dengan memohon kepada Yang Maha Penyayang dari segala penyayang agar membukakan bagi kami pintu-pintu rahmat dan menyertakan taufik-Nya bagi penyempurnaan Kalimat ini, seraya memohon ampunan atas kekurangan dan kesalahan kami, kami pun mengakhirinya.
CABANG KELIMA
Cabang Kelima memiliki "Lima Buah".
Buah Pertama
Wahai nafsuku yang memuja diri, wahai sahabatku yang memuja dunia! Kecintaan adalah salah satu sebab wujud alam semesta ini. Ia pula pengikat alam semesta ini. Ia pula cahayanya, ia pula kehidupannya. Karena manusia adalah buah alam semesta yang paling menghimpun, maka suatu kecintaan yang akan menguasai alam semesta telah ditanamkan ke dalam kalbunya yang menjadi biji buah itu. Maka yang layak bagi kecintaan tak terhingga demikian, dapat menjadi pemilik suatu kesempurnaan tak terhingga. Maka wahai nafsu dan wahai sahabat! Dua perangkat yang akan menjadi alat bagi rasa takut dan kecintaan telah ditanamkan dalam fitrah manusia. Bagaimanapun, kecintaan dan rasa takut itu akan menghadap entah kepada makhluk atau kepada Sang Khâliq. Padahal takut kepada makhluk adalah suatu bencana yang pedih. Kecintaan kepada makhluk pun adalah suatu musibah yang penuh bala. Sebab engkau takut kepada mereka yang tak mengasihanimu atau tak menerima permohonanmu. Dalam keadaan demikian, rasa takut adalah suatu bala yang pedih. Adapun kecintaan; sesuatu yang engkau cintai entah tak mengenalmu, lalu pergi tanpa berpamit "sampai jumpa" — seperti masa mudamu dan hartamu — atau ia menghinakanmu karena kecintaanmu. Tidakkah engkau melihat bahwa pada cinta-cinta majasi, sembilan puluh sembilan dari seratus mengeluhkan kekasihnya? Sebab memuja kekasih-kekasih duniawi yang bagaikan berhala dengan batin kalbu yang menjadi cermin Sang Samad, adalah berat di mata kekasih-kekasih itu; ia merasa terbebani, lalu menolak. Sebab fitrah menolak dan membuang sesuatu yang tak fitri lagi tak layak. (Cinta-cinta syahwati di luar pembahasan kita.)
Maka sesuatu yang engkau cintai entah tak mengenalmu, atau menghinakanmu, atau tak menemanimu. Ia berpisah denganmu bertentangan dengan kehendakmu. Selama demikian; arahkanlah rasa takut dan kecintaan ini kepada Zat sedemikian rupa sehingga rasa takutmu menjadi suatu kerendahan yang lezat. Kecintaanmu menjadi suatu kebahagiaan tanpa kehinaan. Ya, takut kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl-mu bermakna menemukan jalan menuju kasih sayang rahmat-Nya lalu berlindung kepadanya. Rasa takut adalah suatu cambuk; ia melemparkan ke pangkuan rahmat-Nya. Telah dimaklumi bahwa seorang ibu, misalnya, menakut-nakuti anaknya lalu menariknya ke dadanya. Rasa takut itu teramat lezat bagi anak itu. Sebab kasih sayang menariknya ke dada. Padahal kasih sayang seluruh ibu adalah sekilau cahaya rahmat Ilahi. Maka pada takut kepada Allah terdapat suatu kelezatan agung. Selama takut kepada Allah memiliki kelezatan demikian, dapat dimaklumi betapa tak terhingga kelezatan yang terdapat pada kecintaan kepada Allah. Dan orang yang takut kepada Allah, selamat dari rasa takut lain yang penuh kekerasan hati dan bala. Dan karena atas perhitungan Allah, kecintaan yang ia berikan kepada makhluk pun tak menjadi berpisah lagi pedih.
Ya, manusia pertama-tama mencintai nafsunya. Kemudian kerabatnya, kemudian bangsanya, kemudian makhluk hidup, kemudian alam semesta, dunia. Ia terkait dengan masing-masing lingkaran ini. Ia dapat berlezat dengan kelezatan mereka dan menderita dengan penderitaan mereka. Padahal di alam yang porak-poranda dan dalam perputaran angin ini, karena tak ada satu pun yang tinggal tetap pada keadaannya, kalbu insan yang malang setiap saat terluka. Bersama benda-benda yang dipegang tangannya, benda-benda itu pergi lalu mengoyak tangannya, bahkan memutuskannya. Ia senantiasa tinggal dalam penderitaan, atau mabuk dengan kelalaian. Selama demikian, wahai nafsu! Jika engkau berakal, kumpulkanlah seluruh kecintaan itu, berikanlah kepada pemilik hakikinya, selamatlah dari bala-bala ini. Kecintaan tak terhingga ini khusus bagi pemilik kesempurnaan dan keindahan yang tak terhingga. Tatkala engkau memberikannya kepada pemilik hakikinya, ketika itu engkau dapat mencintai segala sesuatu tanpa penderitaan, atas nama-Nya dan dari segi ia adalah cermin-Nya. Maka kecintaan ini semestinya tak dicurahkan langsung kepada alam semesta. Kalau tidak, sementara kecintaan adalah nikmat yang paling lezat, ia menjadi siksa yang paling pedih.
Tinggal satu sisi, dan yang terpenting pun adalah itu, yaitu, wahai nafsu! Engkau mencurahkan kecintaanmu kepada nafsumu sendiri. Engkau menjadikan nafsumu sembahan dan kekasih bagi dirimu. Engkau mengorbankan segala sesuatu bagi nafsumu, seakan engkau memberikan semacam rububiyah. Padahal sebab kecintaan entah kesempurnaan — sebab kesempurnaan dicintai pada zatnya. Atau manfaat, atau kelezatan, atau kebaikan, atau kecintaan diberikan di bawah sebab seperti itu. Kini wahai nafsu! Dalam beberapa Kalimat kami telah membuktikan dengan pasti bahwa; hakikat asalmu diadon dari kekurangan, cacat, kefakiran, dan ketidakberdayaan; sebagaimana gelap menunjukkan cemerlangnya cahaya menurut kadar kegelapannya, demikian pula dari segi kelawanan, engkau menjadi cermin bagi kesempurnaan, keindahan, kudrat, dan rahmat Sang Fâthir Dzul-Jalâl dengan sifat-sifat itu. Maka wahai nafsu! Engkau semestinya bukan mencintai nafsumu, melainkan memusuhinya, atau mengasihaninya, atau — setelah menjadi jiwa yang tenang (muthmainnah) — menyayanginya. Jika engkau mencintai nafsumu (sebab nafsumu adalah sumber kelezatan dan manfaat, dan engkau pun terpikat pada nikmat kelezatan dan manfaat), janganlah engkau mengutamakan kelezatan dan manfaat nafsu yang bagaikan zarah itu di atas kelezatan dan manfaat yang tak terhingga. Janganlah menjadi seperti kunang-kunang. Sebab ia menenggelamkan seluruh sahabat dan benda yang ia cintai ke dalam keliaran kegelapan, lalu mencukupkan diri dengan sekilau cahaya kecil pada dirinya. Sebab bersama kelezatan dan manfaat nafsimu, engkau semestinya mencintai Sang Kekasih Azali yang; kepada kecintaan, nikmat, dan perhatian-Nya tunduk seluruh wujud dan alam semesta yang engkau terkait dengannya, yang manfaatnya engkau manfaatkan, dan yang kebahagiaannya membuatmu berbahagia. Agar engkau berlezat dengan kebahagiaanmu sendiri sekaligus kebahagiaan mereka semua. Dan agar engkau memperoleh suatu kelezatan tak terhingga dari kecintaan kepada Kesempurnaan Mutlak.
Sebenarnya, kecintaanmu yang kuat kepada nafsumu — yang ada pada dirimu — adalah kecintaan zatiah kepada zat-Nya, yang engkau salahgunakan lalu curahkan kepada zatmu sendiri. Maka koyakkanlah "aku" (ene) dalam nafsumu, tampakkanlah "Dia" (Hû); dan seluruh kecintaanmu yang berserak ke alam semesta adalah suatu kecintaan yang diberikan kepada asma dan sifat-Nya. Engkau telah menyalahgunakannya, dan engkau pun menanggung hukumannya. Sebab hukuman suatu kecintaan tak sah yang tak dicurahkan pada tempatnya adalah suatu musibah tanpa kasih sayang. Suatu Kekasih Azali yang; dengan nama Rahmân Rahîm menyiapkan bagimu suatu tempat tinggal yang menghimpun seluruh hasratmu seperti surga yang dihiasi bidadari bagi hawa nafsu jasmanimu; dan dengan asma-Nya yang lain menyediakan bagimu di surga itu anugerah abadi yang akan memuaskan hasrat roh, kalbu, sir, akal, dan seluruh latîfe-mu; dan yang pada tiap-tiap nama-Nya terdapat banyak khazanah maknawi anugerah dan kemurahan — sudah pasti, sezarah kecintaan-Nya dapat menjadi pengganti alam semesta. Alam semesta tak dapat menjadi pengganti bagi setitik tajalli kecintaan-Nya yang parsial. Maka dengarkanlah firman azali yang diucapkan Sang Kekasih Azali itu melalui Kekasih-Nya, dan ikutilah: اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُون۪ى يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ
Buah Kedua
Wahai nafsu! Ubudiyah bukanlah mukadimah bagi ganjaran yang akan datang, melainkan hasil dari nikmat yang telah lalu. Ya, kita telah mengambil upah kita. Sesuai dengan itu, kita bertugas dengan khidmah dan ubudiyah. Sebab, wahai nafsu! Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang mengenakan padamu wujud yang merupakan kebaikan murni, karena telah memberimu suatu lambung yang berselera, telah meletakkan seluruh makanan di hadapanmu di dalam suatu hidangan nikmat dengan nama Razzâq. Kemudian, karena telah memberimu suatu kehidupan yang berkepekaan, kehidupan itu pun seperti lambung meminta rezeki. Seluruh inderamu seperti mata dan telinga, adalah bagaikan tangan-tangan; Ia telah meletakkan di hadapan tangan-tangan itu suatu hidangan nikmat seluas muka bumi. Kemudian, karena telah memberimu kemanusiaan yang meminta banyak rezeki dan nikmat maknawi, Ia telah membuka bagimu suatu hidangan nikmat seluas alam kerajaan dan malakut di hadapan lambung kemanusiaan itu, sekadar jangkauan tangan akal. Kemudian, karena telah memberimu keislaman dan iman yang merupakan kemanusiaan terbesar, yang meminta nikmat tak terhingga lagi bergizi dengan buah-buah rahmat tak terhingga, Ia telah membukakan bagimu suatu hidangan nikmat, kebahagiaan, dan kelezatan yang mencakup lingkaran asmâul-husnâ dan sifat-sifat kudus beserta lingkaran kemungkinan. Kemudian, dengan memberimu kecintaan yang merupakan cahaya iman, Ia telah menganugerahkan kepadamu suatu hidangan nikmat, kebahagiaan, dan kelezatan yang tak berujung. Yakni, dari segi jasmanimu engkau adalah suatu juz yang kecil, lemah, tak berdaya, hina, terikat, lagi terbatas. Dengan anugerah-Nya engkau berpindah dari suatu juz parsial menjadi suatu keseluruhan menyeluruh yang bercahaya. Sebab dengan memberi kehidupan Ia mengeluarkanmu dari keparsialan menuju semacam kemenyeluruhan, dengan memberi kemanusiaan menuju kemenyeluruhan hakiki, dengan memberi keislaman menuju suatu kemenyeluruhan luhur lagi bercahaya, dan dengan memberi makrifat dan kecintaan menuju suatu cahaya yang meliputi.
Maka wahai nafsu! Engkau telah mengambil upah ini. Engkau dibebani suatu khidmah yang lezat, penuh nikmat, nyaman, lagi ringan seperti ubudiyah. Padahal engkau bermalas-malasan pula terhadapnya. Sekiranya engkau mengerjakannya setengah-setengah pun, seakan upah-upah lama tak mencukupimu, engkau meminta hal-hal yang teramat besar secara memaksa. Dan engkau pun bermanja-manja seraya berkata "Mengapa doaku tak dikabulkan?" Ya, hakmu bukanlah kemanjaan, melainkan permohonan. Cenâb-ı Haq menganugerahkan surga dan kebahagiaan abadi semata-mata dengan karunia dan kemurahan-Nya. Engkau, senantiasa berlindunglah kepada rahmat dan kemurahan-Nya. Bersandarlah kepada-Nya, dan dengarkanlah firman ini: قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِه۪ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Jika engkau berkata: "Bagaimana aku dapat menyambut nikmat-nikmat menyeluruh nan tak terhingga ini dengan syukurku yang terbatas lagi parsial?"
Jawabnya: Dengan suatu niat menyeluruh, dengan suatu keyakinan tak terhingga... Misalnya: sebagaimana seseorang masuk ke hadapan seorang raja dengan sebuah hadiah senilai lima kuruş, lalu ia melihat bahwa hadiah-hadiah yang masing-masing bernilai jutaan, telah datang dari orang-orang terpandang, dan tersusun di sana. Terlintas dalam kalbunya: "Hadiahku bukan apa-apa, apa yang harus kuperbuat?" Seketika ia berkata: "Wahai tuanku! Seluruh hadiah berharga ini kupersembahkan kepadamu atas namaku. Sebab engkau layak baginya. Sekiranya aku memiliki kemampuan, akan kuhadiahkan kepadamu semisalnya." Maka raja yang sama sekali tak memiliki kebutuhan dan yang menerima hadiah sebagai tanda derajat kesetiaan dan penghormatan rakyatnya, menerima niat serta hasrat besar nan menyeluruh si malang itu, dan kelayakan keyakinannya yang indah lagi tinggi, sebagai hadiah yang paling besar. Persis demikian pula: seorang hamba yang tak berdaya, dalam salatnya berkata "Attahiyyâtu lillâh". Yakni: Seluruh hadiah ubudiyah yang dipersembahkan seluruh makhluk kepada-Mu dengan kehidupan mereka, kupersembahkan seluruhnya kepada-Mu atas perhitunganku sendiri. Sekiranya aku mampu, akan kupersembahkan kepada-Mu penghormatan sebanyak mereka. Dan Engkau layak bagi mereka, bahkan bagi yang lebih banyak lagi. Maka niat dan keyakinan ini adalah suatu syukur menyeluruh yang teramat luas. Biji-biji dan benih-benih tumbuhan adalah niat-niat mereka.
Dan misalnya: sebuah melon di dalam kalbunya berniat seribu niat dalam rupa biji-biji: "Wahai Penciptaku! Aku ingin memaklumkan ukiran asmâul-husnâ-Mu di banyak tempat di bumi." Karena Cenâb-ı Haq mengetahui bagaimana hal-hal yang akan datang itu akan datang, Ia menerima niat mereka sebagai ibadah sebenarnya. "Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya." Ia mengisyaratkan kepada rahasia ini. Dan hikmah bertasbih dengan bilangan tak terhingga seperti سُبْحَانَكَ وَ بِحَمْدِكَ عَدَدَ خَلْقِكَ وَ رِضَاءَ نَفْسِكَ وَ زِنَةِ عَرْشِكَ وَ مِدَادِ كَلِمَاتِكَ وَ نُسَبِّحُكَ بِجَم۪يعِ تَسْب۪يحَاتِ اَنْبِيَائِكَ وَ اَوْلِيَائِكَ وَ مَلٰئِكَتِكَ dipahami dari rahasia ini. Dan sebagaimana seorang perwira mempersembahkan total khidmah seluruh prajuritnya kepada raja atas namanya. Demikian pula: manusia — yang menjadi perwira bagi makhluk, panglima bagi hewan dan tumbuhan, yang layak menjadi khalifah bagi wujud-wujud bumi, dan yang menganggap dirinya wakil bagi setiap orang di alam khususnya sendiri — berkata اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَع۪ينُ. Ia mempersembahkan seluruh ibadah dan permohonan pertolongan makhluk kepada Sembahan Yang Mahaagung atas namanya. Dan ia berkata سُبْحَانَكَ بِجَم۪يعِ تَسْبِيحَاتِ جَم۪يعِ مَخْلُوقَاتِكَ وَ بِاَلْسِنَةِ جَم۪يعِ مَصْنُوعَاتِكَ. Ia membuat seluruh wujud berbicara atas perhitungannya. Dan ia berkata اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ ذَرَّاتِ الْكَائِنَاتِ وَ مُرَكَّبَاتِهَا. Ia membawakan salawat atas nama segala sesuatu. Sebab segala sesuatu terkait dengan Cahaya Ahmadî صلى الله عليه وسلم. Maka pahamilah hikmah bilangan tak terhingga dalam tasbih dan salawat.
Buah Ketiga
Wahai nafsu! Jika engkau menginginkan amal ukhrawi tak terhingga dalam umur yang pendek, dan jika engkau ingin melihat setiap menit umurmu bermanfaat sebesar seumur hidup, dan jika engkau menyukai mengubah adat menjadi ibadah dan kelalaian menjadi kehadiran, ikutilah Sunnah Saniyyah. Sebab tatkala engkau menerapkan amal pada suatu tindakan syar'i, ia memberi semacam kehadiran. Ia menjadi semacam ibadah. Ia memberi banyak buah ukhrawi. Misalnya: engkau membeli sesuatu. Pada saat engkau menerapkan ijab dan kabul yang syar'i, jual beli biasa itu memperoleh hukum suatu ibadah. Terkenangnya hukum syar'i itu memberi suatu gambaran wahyu. Itu pun, dengan memikirkan Sang Pembuat Syariat, memberi suatu penghadapan Ilahi. Itu pun memberi suatu kehadiran. Maka dengan menerapkan amal pada Sunnah Saniyyah, umur fana ini akan memberi buah-buah kekal, dan diperoleh faedah-faedah yang akan menjadi tumpuan bagi kehidupan abadi. Dengarkanlah firman: فَاٰمِنُوا بِاللّٰهِ وَرَسُولِهِ النَّبِىِّ اْلاُمِّىِّ الَّذ۪ى يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمَاتِه۪ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ Berupayalah menjadi suatu wadah menyeluruh bagi limpahan tajalli tiap-tiap nama asmâul-husnâ yang manifestasinya menyebar di dalam hukum-hukum syariat dan Sunnah Saniyyah...
Buah Keempat
Wahai nafsu! Janganlah engkau memandang ahli dunia, khususnya ahli kefasikan, khususnya ahli kekufuran, lalu tertipu oleh hiasan lahiriah serta kelezatan tak sah yang memperdaya, lalu meniru mereka. Sebab jika engkau meniru mereka, engkau tak dapat menjadi seperti mereka. Engkau akan sangat jatuh. Engkau pun tak dapat menjadi hewan. Sebab akal di kepalamu akan menjadi alat yang membawa sial. Ia akan senantiasa memukul kepalamu. Misalnya: sebagaimana jika ada sebuah istana, di ruangan besarnya terdapat sebuah lampu listrik besar. Lampu-lampu listrik kecil yang bercabang dari listrik itu dan terhubung dengannya, terbagi ke ruangan-ruangan kecil. Kini jika seseorang memutar sakelar lampu listrik besar itu lalu memadamkan cahayanya, seluruh ruangan terjatuh ke dalam kegelapan yang dalam dan suatu keliaran. Dan di istana lain terdapat lampu-lampu listrik kecil di setiap ruangan yang tak terhubung dengan lampu listrik besar. Jika pemilik istana itu memutar sakelar lampu listrik besar lalu memadamkannya, cahaya masih dapat tersedia di ruangan-ruangan lain. Ia dapat mengerjakan urusannya dengan itu, dan para pencuri tak dapat mengambil manfaat.
Maka wahai nafsuku! Istana pertama adalah seorang muslim. Nabi صلى الله عليه وسلم adalah lampu listrik besar itu di dalam kalbunya. Jika ia melupakannya — kita berlindung kepada Allah — jika ia mengeluarkannya dari kalbunya, ia tak dapat lagi menerima nabi mana pun. Bahkan tak ada tempat bagi kesempurnaan apa pun yang dapat tinggal di dalam rohnya, bahkan ia tak mengenal Rabbnya pula. Seluruh ruangan dan latîfe dalam hakikatnya terjatuh ke dalam kegelapan, dan di dalam kalbunya terjadi suatu perusakan dan keliaran yang dahsyat. Gerangan barang apa yang dapat engkau peroleh untuk diakrabi sebagai imbalan perusakan dan keliaran ini? Manfaat apa yang engkau temukan lalu engkau perbaiki kerugian perusakan itu dengannya? Padahal orang-orang asing menyerupai istana kedua itu, yang meskipun mereka mengeluarkan cahaya Nabi صلى الله عليه وسلم dari kalbu mereka, menurut mereka sebagian cahaya masih dapat tinggal atau mereka sangka dapat tinggal. Iman semacam kepada Nabi Mûsâ dan Îsâ Alaihimassalâm serta keyakinan semacam kepada Khâliq mereka — yang akan menjadi tumpuan bagi kesempurnaan akhlak maknawi mereka — dapat tinggal.
Wahai nafsu ammârah! Jika engkau berkata: "Aku ingin menjadi hewan, bukan orang asing." Telah berkali-kali kukatakan kepadamu: "Engkau tak dapat menjadi seperti hewan. Sebab karena ada akal di kepalamu, akal itu memukulkan penderitaan masa lampau dan ketakutan masa depan ke wajah, mata, dan kepalamu dengan tamparannya, lalu memukulmu. Ia mencampurkan seribu penderitaan ke dalam satu kelezatan. Adapun hewan meraih kelezatan indah tanpa penderitaan, lalu bersenang-senang. Maka pertama-tama keluarkan dan buanglah akalmu, kemudian jadilah hewan. Dan lihatlah tamparan pendidikan كَاْلاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ."
Buah Kelima
Wahai nafsu! Sebagaimana telah berulang kali kami katakan; karena manusia adalah buah pohon penciptaan, ia adalah makhluk yang membawa suatu biji kalbu — yang seperti buah adalah yang terjauh, paling menghimpun, memandang keseluruhan, dan menyimpan di dalamnya sisi kesatuan keseluruhan — dan yang wajahnya memandang ke kemajemukan, kefanaan, dan dunia. Adapun ubudiyah adalah suatu benang penyambung yang memalingkan wajahnya dari kefanaan menuju kekekalan, dari makhluk menuju Al-Haqq, dari kemajemukan menuju keesaan, dari ujung menuju awal, atau suatu titik penyambung di antara awal dan ujung. Sebagaimana suatu buah berkesadaran nan berharga yang akan menjadi biji, jika ia memandang makhluk bernyawa di bawah pohon, membanggakan keindahannya, melemparkan dirinya ke tangan mereka, atau lalai lalu jatuh, ia akan jatuh ke tangan mereka, terberai, lenyap sia-sia seperti satu buah biasa. Sekiranya buah itu menemukan titik sandarannya, lalu dapat memikirkan bahwa biji di dalamnya — di samping memegang sisi kesatuan seluruh pohon — akan menjadi perantara bagi kelestarian pohon dan keberlangsungan hakikatnya, maka ketika itu satu biji tunggal di dalam satu buah tunggal menjadi wadah bagi suatu hakikat menyeluruh nan abadi, dalam suatu umur yang kekal. Demikian pula: manusia, jika ia tenggelam dalam kemajemukan, terbenam di dalam alam semesta, lalu terpesona oleh kecintaan dunia, tertipu senyum benda-benda fana, lalu melemparkan diri ke pelukan mereka, sudah pasti ia jatuh ke dalam kerugian tak terhingga. Ia jatuh sekaligus ke dalam kefanaan, ke dalam yang fana, dan ke dalam ketiadaan. Ia pun secara maknawi mengeksekusi dirinya sendiri. Sekiranya ia mendengar pelajaran-pelajaran iman dari lisan Al-Qur'an dengan telinga kalbu lalu mengangkat kepalanya, menghadap kepada keesaan, ia dapat naik ke arasy kesempurnaan dengan mikraj ubudiyah. Ia menjadi seorang manusia yang kekal.
Wahai nafsuku! Selama hakikatnya demikian, dan selama engkau termasuk millat Ibrâhîm Alaihissalâm, katakanlah secara Ibrâhîmi لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ. Dan palingkanlah wajahmu kepada Sang Kekasih Yang Kekal, dan menangislah sepertiku demikian: (Bait-bait berbahasa Persia di sini, karena telah tertulis pada maqam kedua Kelimat Ketujuh Belas, tidak ditulis di sini.)