Kelimat Kedua Puluh Lima — Risalah Mukjizat Al-Qur'an
Kelimat · hlm. 376
Selama di tangan ada suatu mukjizat abadi seperti Al-Qur'an, mencari bukti lain terasa berlebihan bagi akalku. Selama di tangan ada suatu bukti hakikat seperti Al-Qur'an, apakah akan datang beban ke hatiku untuk mematahkan para pengingkar?
PERINGATAN
(Pada awal Kalimat ini kami berniat menulis lima syu'lah. Namun menjelang akhir Syu'lah Pertama, kami terpaksa menulis dengan teramat cepat guna mencetaknya dengan huruf lama. Bahkan sebagian hari kami menulis dua puluh sampai tiga puluh halaman dalam dua-tiga jam. Karena itu kami menulis tiga syu'lah secara ringkas lagi global, dan dua syu'lah untuk sementara kami tinggalkan. Kami mengharap dari saudara-saudara kami agar memandang kekurangan, kelemahan, kerumitan, dan kesalahan yang menjadi milikku dengan pandangan penuh keinsafan dan pemaafan.)
Kebanyakan ayat dalam Risalah Mukjizat Al-Qur'an ini masing-masing adalah ayat-ayat yang entah menjadi sasaran kritik kaum ateis, atau mengalami keberatan dari ahli sains, atau terpapar waswas dan syubhat setan-setan jin dan manusia. Maka "Kelimat Kedua Puluh Lima" ini telah menerangkan hakikat dan nukta ayat-ayat itu dalam suatu cara sedemikian rupa sehingga terbukti dengan kaidah-kaidah keilmuan bahwa titik-titik yang disangka kekurangan oleh ahli kesesatan dan sains, justru adalah kilauan i'jaz dan sumber kesempurnaan balâghah Al-Qur'an. Agar tak menimbulkan kemuakan, jawaban pasti diberikan tanpa menyebutkan syubhat mereka. Seperti وَ الشَّمْسُ تَجْر۪ى ❊ وَ الْجِبَالَ اَوْتَادًا. Hanya pada Maqam Pertama Kelimat Kedua Puluh, syubhat atas tiga-empat ayat disebutkan. Dan meskipun Risalah Mukjizat Al-Qur'an ini ditulis dengan teramat ringkas lagi tergesa, namun dari segi ilmu balâghah dan ilmu-ilmu bahasa Arab, ia telah dijelaskan dalam cara yang teramat alim, dalam, lagi kuat hingga membuat para ulama takjub. Memang tak setiap pembahasannya dipahami sepenuhnya dan dimanfaatkan oleh setiap orang yang teliti. Namun di taman itu setiap orang memiliki bagian yang penting. Karena disusun dalam keadaan yang teramat tergesa lagi kalut, meskipun ada kekurangan dalam ungkapan dan redaksinya, dari segi ilmu ia telah menerangkan hakikat masalah-masalah yang teramat penting.
Said Nursî