Risale-i NurKelimat

Bagian kedua

Kelimat · hlm. 245

ialah: ia mengisyaratkannya dalam bentuk sebagian peristiwa sejarah. Sebagai contoh:

قُتِلَ اَصْحَابُ اْلاُخْدُودِ ❊ اَلنَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ❊ اِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ ❊ وَهُمْ عَلٰى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِن۪ينَ شُهُودٌ ❊ وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ اِلآَّ اَنْ يُؤْمِنُوا بِاللّٰهِ الْعَز۪يزِ الْحَم۪يدِ ❊

Demikian pula: فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ ❊ وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِه۪ مَا يَرْكَبُونَ

> (Hâsyiyah-1): Kalimat ini mengisyaratkan kereta api. Ia telah menaklukkan Alam Islam ke bawah penawanan. Orang-orang kafir mengalahkan Islam dengannya.

— dengan ayat-ayat semacam ini ia mengisyaratkan kereta api. Demikian pula اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ مَثَلُ نُورِه۪ كَمِشْكَاةٍ ف۪يهَا مِصْبَاحٌ اَلْمِصْبَاحُ ف۪ى زُجَاجَةٍ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ

> (Hâsyiyah-2): Kalimat يَكَادُ زَيْتُهَا يُض۪ٓىءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلٰى نُورٍ menyinari rumus itu.

لاَ شَرْقِيَّةٍ وَلاَ غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُض۪ٓىءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلٰى نُورٍ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُورِه۪ مَنْ يَشَٓاءُ

— ayat ini, bersama mengisyaratkan banyak cahaya dan rahasia, juga mengisyaratkan listrik. Adapun bagian kedua ini — karena banyak orang bergulat dengannya, karena ia sangat membutuhkan ketelitian dan penjelasan, dan karena jumlahnya banyak — maka untuk sekarang aku mencukupkan diri dengan ayat-ayat yang mengisyaratkan kereta api dan listrik ini, dan tidak akan membuka pintu itu.

Adapun bagian pertama, ia mengisyaratkan dalam wujud mukjizat para nabi. Maka kami pun akan menyebutkan beberapa contoh sebagai perumpamaan dari bagian itu.

Mukaddimah

Maka Al-Qur'an Al-Hakîm, sebagaimana ia mengutus para nabi sebagai pemuka dan imam bagi jemaah-jemaah manusia dari sisi kemajuan maknawi; demikian pula, di tangan masing-masing nabi itu Ia memberikan sebagian keajaiban dari sisi kemajuan materi manusia, lalu menjadikan mereka pemimpin kerja (ustabaşı) dan guru bagi manusia. Ia memerintahkan manusia untuk mengikuti mereka secara mutlak. Maka sebagaimana ia mendorong manusia untuk mengambil manfaat dari para nabi dengan membahas kesempurnaan maknawi mereka; demikian pula pembahasan tentang mukjizat mereka mengisyaratkan suatu dorongan untuk mencapai padanan-padanan mukjizat itu dan menirunya. Bahkan dapat dikatakan: seperti kesempurnaan maknawi, kesempurnaan dan keajaiban materi pun pertama kali dihadiahkan oleh tangan mukjizat kepada jenis manusia. Maka bahtera (safînah) yang menjadi salah satu mukjizat Nabi Nûh Alaihissalâm, dan jam (saat) yang menjadi salah satu mukjizat Nabi Yûsuf Alaihissalâm, yang pertama kali menghadiahkannya kepada manusia adalah tangan mukjizat. Suatu isyarat lembut atas hakikat ini: sebagian besar tukang, dalam setiap keahlian, mengambil seorang nabi sebagai pir (guru pelindung). Misalnya para pelaut mengambil Nabi Nûh Alaihissalâm, para pembuat jam mengambil Nabi Yûsuf Alaihissalâm, para penjahit mengambil Nabi Idrîs Alaihissalâm.

Maka karena para ahli tahkik dan ilmu balâghah telah sepakat bahwa setiap ayat Al-Qur'an memiliki banyak wajah bimbingan dan berbagai sisi hidayah; maka ayat-ayat mukjizat para nabi — yang merupakan ayat-ayat paling gemilang dari Al-Qur'an Al-Mu'jiz Al-Bayân — bukanlah sekadar cerita sejarah, melainkan mengandung banyak makna bimbingan (maânî-i irsyâdiyah). Ya, dengan menyebutkan mukjizat para nabi, ia menggambarkan batas terjauh dari sains dan seni manusia. Ia menunjuk ke tujuan-tujuannya yang paling maju. Ia menetapkan sasaran-sasarannya yang paling akhir. Ia menepuk punggung manusia dengan tangan dorongan (dest-i teşvîk) dan mengarahkannya ke tujuan itu. Sebagaimana masa lampau adalah gudang benih dan cermin peristiwa masa depan; demikian pula masa depan adalah ladang masa lampau dan cermin keadaannya. Kini sebagai contoh, dari sumber yang amat luas itu kami hanya akan menerangkan beberapa contoh:

Misalnya: ayat yang menerangkan penundukan udara sebagai salah satu mukjizat Nabi Sulaimân Alaihissalâm: وَ لِسُلَيْمٰنَ الرّ۪يحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ — ia berkata: "Nabi Sulaimân, dalam sehari menempuh jarak dua bulan dengan terbang di udara." Maka dalam hal ini ia mengisyaratkan bahwa terbuka jalan bagi manusia untuk menempuh jarak sedemikian di udara. Maka wahai manusia! Selama jalan terbuka bagimu, capailah martabat ini dan dekatilah. Allah, dengan lisan ayat ini, secara maknawi berkata: "Wahai manusia! Karena seorang hamba-Ku meninggalkan hawa nafsunya, Kunaikkan ia ke udara. Kalian pun, jika meninggalkan kemalasan nafsu dan memanfaatkan dengan baik sebagian hukum kebiasaan-Ku (kavânîn-i âdet), niscaya kalian pun dapat menaikinya."

Dan ayat yang menerangkan salah satu mukjizat Nabi Mûsâ Alaihissalâm: فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا dan seterusnya... Ayat ini mengisyaratkan bahwa dari perbendaharaan rahmat yang tersembunyi di bawah bumi, dengan alat-alat sederhana pun dapat diambil manfaat. Bahkan di tempat sekeras batu, dengan sebatang tongkat, air kehidupan dapat ditarik. Maka ayat ini, dengan makna ini, berkata kepada manusia: "Air kehidupan, yang merupakan faidh paling lembut dari rahmat, dapat kalian temukan dengan sebatang tongkat. Maka ayo, berusahalah, temukanlah!" Allah, dengan lisan rumzi ayat ini, secara maknawi berkata: "Wahai manusia! Selama Kuberikan ke tangan seorang hamba-Ku yang bertawakal kepada-Ku sebatang tongkat, yang dengannya ia menarik air kehidupan di mana pun ia mau — jika engkau pun bersandar pada hukum-hukum rahmat-Ku, niscaya engkau dapat memperoleh alat yang serupa atau mendekati itu; maka ayo, lakukanlah!" Maka salah satu kemajuan penting manusia ialah penemuan sebuah alat yang, di kebanyakan tempat, bila dipukulkan memancarkan air. Ayat ini menggambarkan batas akhir dan tujuannya yang lebih jauh dari itu. Sebagaimana ayat sebelumnya telah menetapkan titik-titik akhir yang jauh lebih maju daripada pesawat terbang masa kini.

Dan misalnya, mengenai salah satu mukjizat Nabi 'Îsâ Alaihissalâm: وَاُبْرِئُ اْلاَكْمَهَ وَاْلاَبْرَصَ وَاُحْيِى الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِ — sebagaimana Al-Qur'an secara terang mendorong manusia untuk mengikuti akhlak luhur Nabi 'Îsâ Alaihissalâm, demikian pula ia secara rumzi menganjurkan (tergîb) seni tinggi dan kedokteran Rabbani yang ada di tangannya. Maka ayat ini mengisyaratkan: "Bagi penyakit yang paling kronis pun dapat ditemukan obat. Maka wahai manusia dan wahai Bani Adam yang tertimpa musibah! Janganlah putus asa. Setiap penyakit — apa pun ia — obatnya mungkin ada. Carilah, temukanlah. Bahkan kepada kematian pun mungkin diberikan semburat warna kehidupan sementara." Allah, dengan lisan isyarat ayat ini, secara maknawi berkata: "Wahai manusia! Kepada seorang hamba-Ku yang meninggalkan dunia demi Aku, Kuberikan dua hadiah. Satu, obat bagi penyakit-penyakit maknawi; satu lagi, obat bagi penyakit-penyakit materi... Maka hati-hati yang mati dihidupkan dengan cahaya hidayah, dan orang-orang sakit yang seakan mati pun disembuhkan dengan nafas dan obatnya. Engkau pun, di apotek hikmah-Ku (eczahâne-i hikmet), dapat menemukan obat bagi setiap penyakitmu. Berusahalah, temukanlah! Sungguh, jika engkau mencari, engkau akan menemukannya."

Maka ayat ini menggambarkan batas kedokteran manusia yang jauh melampaui kemajuan masa kini, mengisyaratkannya, dan mendorong ke arahnya.

Dan misalnya, mengenai Nabi Dâwûd Alaihissalâm: وَاَلَنَّا لَهُ الْحَد۪يدَ ❊ وَاٰتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ dan mengenai Nabi Sulaimân Alaihissalâm: وَاَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ — ayat-ayat ini mengisyaratkan bahwa pelunakan besi (telyîn-i hadîd) adalah salah satu nikmat Ilahiah terbesar, yang dengannya Ia memperlihatkan keutamaan seorang nabi besar. Ya, pelunakan besi — yakni melunakkan besi bagai adonan, melebur tembaga, serta menemukan dan mengeluarkan barang tambang — adalah asal dan induk, dasar dan sumber, seluruh industri materi manusia. Maka ayat ini mengisyaratkan: "Kepada seorang rasul besar, seorang khalifah bumi yang besar, sebagai suatu mukjizat besar dan nikmat besar, ialah pelunakan besi — melunakkannya bagai adonan, menipiskannya bagai kawat, dan meleburkan tembaga — yang menjadi tumpuan bagi kebanyakan industri umum." Karena kepada seorang rasul yang sekaligus khalifah — yakni penguasa maknawi sekaligus materi — Ia berikan hikmah pada lisannya dan seni pada tangannya. Maka sebagaimana ia secara terang mendorong kepada hikmah pada lisan itu, tentu ada pula isyarat anjuran kepada seni pada tangan itu. Allah, dengan lisan isyarat ayat ini, secara maknawi berkata:

"Wahai Bani Adam! Kepada seorang hamba-Ku yang menaati perintah-perintah taklif-Ku, Kuberikan pada lisan dan hatinya suatu hikmah sedemikian rupa hingga ia dapat memilah segala sesuatu dengan kejelasan sempurna dan memperlihatkan hakikatnya; dan Kuberikan pada tangannya suatu seni sedemikian rupa hingga ia mengubah besi bagai lilin lebah ke segala bentuk, lalu memperoleh kekuatan penting bagi kekhalifahan dan kerajaannya. Selama hal ini mungkin dan diberikan, dan selama ia penting, dan selama dalam kehidupan sosial kalian sangat membutuhkannya — jika kalian pun menaati perintah-perintah penciptaan-Ku, hikmah dan seni itu dapat pula diberikan kepada kalian. Dengan berjalannya waktu kalian akan mencapainya dan mendekatinya." Maka kemajuan manusia yang paling jauh di bidang seni dan perolehan kekuatan materi yang paling penting, adalah dengan pelunakan besi dan peleburan tembaga. Di dalam ayat, tembaga diungkapkan dengan kata "qithr". Ayat-ayat ini mengarahkan pandangan seluruh jenis manusia kepada hakikat ini, dan dengan keras mengingatkan manusia zaman dahulu — serta orang-orang malas masa kini — yang tak menghargai betapa pentingnya hakikat ini...

Dan misalnya: ayat yang menunjukkan peristiwa menakjubkan ketika Nabi Sulaimân Alaihissalâm, untuk mendatangkan singgasana Balqis ke sisinya, seorang menterinya yang ahli ilmu jalb berkata: "Akan kuhadirkan singgasana itu ke hadapanmu sebelum engkau mengejapkan mata" — ayat ini: قَالَ الَّذ۪ى عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ اَنَا اٰت۪يكَ بِه۪ قَبْلَ اَنْ يَرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ dan seterusnya... Ia mengisyaratkan: dari jarak yang jauh, menghadirkan sesuatu — baik wujudnya maupun rupanya — adalah mungkin. Dan memang nyata: Nabi Sulaimân Alaihissalâm, yang dimuliakan dengan kerajaan bersama kerasulan, telah dianugerahi oleh Allah — sebagai suatu mukjizat — kemampuan untuk mengetahui sendiri seluruh penjuru kerajaannya yang luas tanpa susah payah, melihat keadaan rakyatnya, dan mendengar keluhan mereka, demi menopang kemaksuman dan keadilannya. Artinya, siapa yang bertawakal kepada Allah dan — seperti Sulaimân Alaihissalâm dengan lisan kemaksuman — memohon kepada-Nya, lalu dengan lisan kesiapan (lisân-ı istidâd) memohon kepada Allah dan berlaku selaras dengan hukum kebiasaan serta inayah-Nya, maka baginya dunia dapat menjelma menjadi bagai sebuah kota. Artinya, singgasana Balqis, ketika masih di Yaman, telah hadir di Syam — dengan wujudnya sendiri atau rupanya — dan terlihat. Tentu, bersama rupa orang-orang di sekitar singgasana itu, suara-suara mereka pun terdengar. Maka pada penghadiran rupa dan suara dari jarak yang jauh, ia mengisyaratkan dengan cara yang megah, dan secara maknawi berkata:

"Wahai ahli kerajaan! Jika kalian ingin menegakkan keadilan yang sempurna, maka seperti Sulaimân, berusahalah untuk melihat dan memahami permukaan bumi dengan segala penjurunya. Sebab seorang hâkim yang menegakkan keadilan, seorang raja yang menyayangi rakyat, dengan naik ke derajat mampu mengetahui seluruh penjuru kerajaannya kapan pun ia mau, akan terbebas dari tanggung jawab maknawi, atau dapat menegakkan keadilan yang sempurna." Allah, dengan lisan rumzi ayat ini, secara maknawi berkata: "Wahai Bani Adam! Kepada seorang hamba-Ku Kuberikan kerajaan yang luas, dan demi menegakkan keadilan sempurna di kerajaan luas itu, Kuberi ia ketersingkapan langsung atas keadaan dan peristiwa bumi. Dan karena Kuberikan secara fitri kepada setiap manusia kemampuan untuk menjadi khalifah di bumi, tentu — sesuai kemampuan itu — hikmah-Ku menuntut Kuberikan pula kesiapan untuk melihat, memandang, dan memahami permukaan bumi. Jika secara pribadi ia tak mencapai titik itu, secara jenis ia dapat mencapainya. Jika secara materi ia tak sampai, seperti para ahli wilayah, secara maknawi ia dapat sampai. Maka kalian dapat mengambil manfaat dari nikmat besar ini. Ayo, kutunggu kalian — dengan syarat tidak melupakan tugas ubudiyah — berusahalah sedemikian rupa hingga kalian mengubah permukaan bumi menjadi sebuah taman yang setiap sudutnya terlihat oleh kalian masing-masing dan setiap suara di setiap sudutnya terdengar oleh kalian. Dengarkanlah firman Rahmani dalam هُوَ الَّذ۪ى جَعَلَ لَكُمُ اْلاَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا ف۪ى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِه۪ وَاِلَيْهِ النُّشُورُ." Maka ayat ini secara rumzi memperlihatkan batas terjauh dari seni halus manusia berupa penghadiran rupa dan suara, dan mengisyaratkan suatu dorongan.

Dan misalnya: ayat-ayat yang menerangkan bahwa Nabi Sulaimân Alaihissalâm menundukkan jin, setan, dan arwah jahat, mencegah kejahatannya, serta mempekerjakannya dalam urusan yang bermanfaat: مُقَرَّن۪ينَ فِى اْلاَصْفَادِ dan seterusnya... وَمِنَ الشَّيَاط۪ينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلاً دُونَ ذٰلِكَ dan seterusnya... Ia berkata: jin — penghuni bumi terpenting yang berakal setelah manusia — dapat menjadi pelayan bagi manusia. Kontak dengan mereka dapat terjalin. Setan pun terpaksa meninggalkan permusuhan, mau tak mau dapat berkhidmat, karena Allah telah menundukkan mereka kepada seorang hamba yang tunduk pada perintah-Nya. Allah, dengan lisan rumzi ayat ini, secara maknawi berkata: "Wahai manusia! Kepada seorang hamba-Ku yang menaati-Ku, Kutundukkan jin, setan, dan makhluk-makhluk jahat mereka. Jika engkau pun tunduk pada perintah-Ku, banyak makhluk — bahkan jin dan setan sekalipun — dapat tunduk kepadamu."

Maka pada hal-hal seperti komunikasi dengan arwah dan jin (celb-i ervâh) yang muncul dari kepekaan luar biasa manusia — hasil peleburan seni dan sains — sebagaimana spiritisme, ayat ini menggambarkan batas terjauhnya dan menetapkan bentuk-bentuknya yang paling bermanfaat, sekaligus membuka jalannya. Namun bukan seperti sekarang — ditundukkan dan dipermainkan oleh jin dan setan serta arwah jahat yang kadang menamakan diri "arwah orang mati" — melainkan menundukkan mereka dengan tilsim-tilsim Qur'ani, dan selamat dari kejahatan mereka.

Dan ayat-ayat mengenai penghadiran (celb) serta penundukan ifrit oleh Nabi Sulaimân Alaihissalâm yang mengisyaratkan penjelmaan arwah (temessül-ü ervâh), serta sebagian ayat seperti فَاَرْسَلْنَٓا اِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا, bersama mengisyaratkan penjelmaan makhluk-makhluk ruhani (rûhânî), juga mengisyaratkan penghadiran arwah. Namun penghadiran arwah yang baik (ervâh-ı tayyibah) yang diisyaratkan itu bukanlah seperti yang dilakukan orang-orang beradab masa kini — dalam bentuk gurauan, dengan menistakan arwah yang berada di suatu alam yang amat serius dengan mainan-mainan, memanggilnya ke tempat mereka dan ke mainan-mainan — melainkan, secara serius dan demi maksud yang serius, seperti sosok-sosok macam Muhyiddîn Ibn 'Arabî — seperti sebagian ahli wilayah yang dapat berjumpa arwah kapan mereka mau — menjalin hubungan dengan mereka, pergi ke tempat mereka dan mendekati alam mereka sampai derajat tertentu, lalu memperoleh manfaat maknawi dari keruhanian mereka. Kepada hal inilah ayat-ayat mengisyaratkan, dan di dalam isyarat itu terkandung suatu dorongan; dan ia menggambarkan batas terjauh dari jenis seni dan ilmu-ilmu tersembunyi (fünûn-u hafiyah) ini serta memperlihatkan bentuknya yang paling indah.

Dan misalnya: mengenai mukjizat-mukjizat Nabi Dâwûd Alaihissalâm, اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِىِّ وَاْلاِشْرَاقِ ❊ يَا جِبَالُ اَوِّب۪ى مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَاَلَنَّا لَهُ الْحَد۪يدَ dan عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ menunjukkan bahwa Allah telah memberi tasbih Nabi Dâwûd Alaihissalâm suatu kekuatan, suara yang tinggi, dan lantunan yang merdu, sehingga gunung-gunung tergerak dalam kekhusyukan dan — bagai fonograf raksasa, bagai manusia — mengelilingi sang zâkir dalam lingkaran horizontal, membentuk suatu lingkaran, lalu bertasbih. Mungkinkah ini, benarkah ini hakikat?

Ya, ini hakikat. Setiap gunung yang bergua dapat berbicara dengan setiap manusia dan dengan lisan manusia bagai burung beo. Sebab, melalui gema (aks-i sadâ), berkatalah engkau di hadapan gunung "Alhamdulillah". Gunung pun akan berkata "Alhamdulillah" persis sepertimu. Karena Allah telah menganugerahkan kemampuan ini kepada gunung, tentu kemampuan itu dapat dikembangkan, dan benih itu dapat bertunas.

Maka karena Allah memberi Nabi Dâwûd Alaihissalâm — bersama kerasulan — kekhalifahan bumi dengan cara yang istimewa, maka sebagai suatu mukjizat yang layak bagi kerasulan yang luas dan kerajaan yang agung itu, Ia mengembangkan benih kemampuan itu sedemikian rupa hingga gunung-gunung yang amat besar, bagai seorang prajurit, seorang murid, seorang salik, mengikuti Nabi Dâwûd dan — dengan lisannya, dengan perintahnya — bertasbih kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Apa pun yang diucapkan Nabi Dâwûd Alaihissalâm, mereka pun mengulanginya. Sebagaimana kini, dengan banyaknya dan sempurnanya sarana komunikasi dan alat penghubung, seorang panglima yang megah dapat membuat pasukan besarnya yang tersebar di gunung-gunung mengucapkan "Allâhu Akbar" dalam satu saat, membuat gunung-gunung raksasa itu berbicara dan bergemuruh. Maka selama seorang panglima manusia dapat membuat gunung berbicara secara majasi melalui lisan penghuninya, tentu seorang panglima megah dari Allah dapat membuatnya berbicara secara hakiki dan menyuruhnya bertasbih. Bersama itu, telah kami terangkan dalam Kelimat-Kelimat terdahulu bahwa setiap gunung memiliki sosok maknawi (syahs-ı maknawi) dan memiliki tasbih serta ibadah yang sesuai baginya. Artinya, sebagaimana setiap gunung bertasbih dengan lisan manusia melalui rahasia gema, demikian pula ia memiliki tasbih tersendiri kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl dengan lisan-lisan khasnya.

Dengan kalimat وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً ❊ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ, kalimat-kalimat ini memperlihatkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Nabi Dâwûd dan Sulaimân Alaihimessalâm lisan jenis-jenis burung serta lidah kesiapan mereka — yakni untuk apa mereka berguna. Ya, selama itu hakikat, dan selama permukaan bumi adalah hidangan Rahman yang digelar demi kehormatan manusia — maka kebanyakan hewan dan burung yang mengambil manfaat dari hidangan itu dapat ditundukkan dan dijadikan pelayan bagi manusia. Sebagaimana yang terkecil di antara mereka, lebah madu dan ulat sutra, dipekerjakan — dengan ilham Ilahi dibukakan jalan pemanfaatan yang besar — dan merpati dipekerjakan dalam sebagian urusan, dan burung seperti beo dibuat berbicara, sehingga menambahkan hal-hal indah kepada keindahan peradaban manusia. Demikian pula, jika lidah kesiapan burung dan hewan lain diketahui, ada banyak golongan mereka yang — seperti hewan ternak saudara mereka — dapat dipekerjakan dalam suatu urusan penting. Misalnya: terhadap serbuan wabah belalang, jika lidah burung jalak yang memusnahkan belalang dengan memakannya diketahui dan geraknya diatur, betapa bermanfaatnya ia dapat dipekerjakan tanpa upah dalam suatu khidmat.

Maka pemanfaatan dan penundukan jenis burung semacam ini, dan membuat benda mati berbicara seperti telepon dan fonograf, serta pemanfaatan burung — ayat ini menggambarkan batas terjauhnya, menetapkan sasaran terjauhnya, menunjuk dengan jari ke bentuknya yang paling megah, dan mendorong ke arahnya. Maka Allah, dengan lisan rumzi ayat-ayat ini, secara maknawi berkata:

Wahai manusia! Kepada seorang sejenis kalian yang menjadi hamba sempurna bagi-Ku, demi menopang kemaksuman kenabiannya dan keadilan sempurna kerajaannya, Kutundukkan makhluk-makhluk agung di kerajaan-Ku, Kubuat mereka berbicara, dan banyak dari tentara serta hewan-Ku Kuberikan sebagai pelayan baginya. Maka karena kepada masing-masing kalian pun telah Kutitipkan amanah terbesar yang langit, bumi, dan gunung menolak memikulnya, dan Kuberi kalian kesiapan menjadi khalifah bumi — maka siapa yang memegang kendali makhluk-makhluk ini, kepada-Nya kalian harus tunduk, agar makhluk-makhluk di kerajaan-Nya pun tunduk kepada kalian, dan agar kalian dapat memperolehnya atas nama Zat yang di tangan-Nya kendali mereka, lalu naik ke maqam yang layak bagi kesiapan kalian...

Maka selama hakikatnya demikian: sebagai ganti menjalankan fonograf yang bagai hiburan tak bermakna, bermain dengan merpati, menjadi tukang pos surat, membuat beo berbicara — berusahalah pada suatu hiburan yang suci (eğlence-i masûmâne) yang paling indah, paling tinggi, paling luhur, sehingga gunung-gunung menjadi fonograf raksasa bagimu bagai Dâwûd, dan dengan sentuhan angin sepoi, dari pepohonan dan tumbuhan sampai kepadamu nada-nada zikir bagai dawai musik, dan gunung memperlihatkan hakikatnya sebagai keajaiban makhluk yang bertasbih dengan ribuan lidah, dan kebanyakan burung — bagai Hudhud Sulaimani — mengenakan rupa sahabat karib atau pelayan yang patuh. Sehingga ia menghiburmu, sekaligus dengan penuh kerinduan menggiringmu ke kesempurnaan yang kau siap mencapainya, dan tidak menjatuhkanmu — seperti hiburan-hiburan lain — dari maqam yang dituntut oleh kemanusiaan.

Dan misalnya: mengenai salah satu mukjizat Nabi Ibrâhîm Alaihissalâm, ayat قُلْنَا يَا نَارُ كُون۪ى بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلٰٓى اِبْرَاه۪يمَ mengandung tiga isyarat halus:

Pertama: Api pun, seperti sebab-sebab alami lainnya, tidak bergerak dengan kehendaknya sendiri, dengan tabiatnya, secara membuta. Melainkan ia menjalankan suatu tugas di bawah perintah, sehingga ia tak membakar Nabi Ibrâhîm Alaihissalâm, karena kepadanya diperintahkan untuk tidak membakar.

Kedua: Ada suatu derajat api yang membakar dengan dinginnya. Yakni, ia menimbulkan efek bagai pembakaran. Allah, dengan lafaz سَلاَمًا

> (Hâsyiyah): Suatu tafsir berkata: andaikata Ia tak berfirman سَلاَمًا, tentu api itu membakar dengan dinginnya.

berkata kepada dinginnya: "Engkau pun, seperti panas, janganlah membakar dengan dinginmu." Artinya, api pada derajat itu menimbulkan efek seakan membakar dengan dinginnya. Ia sekaligus api dan sekaligus dingin (berd). Ya, dalam ilmu fisika ada suatu derajat api dalam keadaan nâr-ı beyza (bara putih) yang tak menyebarkan panas ke sekelilingnya dan menarik panas sekelilingnya ke dirinya, sehingga dengan dingin semacam itu ia membekukan benda-benda cair seperti air di sekelilingnya, dan secara maknawi membakar dengan dinginnya. Maka zamharir adalah salah satu jenis api yang membakar dengan dinginnya. Maka tentu, di dalam Neraka yang mencakup seluruh derajat dan seluruh jenis api, keberadaan "Zamharir" adalah suatu keniscayaan.

Ketiga: Sebagaimana ada suatu zat maknawi seperti iman — bagai baju besi seperti Islam — yang mencegah pengaruh api Neraka dan memberi keamanan; demikian pula ada suatu zat materi yang mencegah pengaruh api dunia. Sebab Allah, dari tuntutan Nama Al-Hakîm, karena dunia ini adalah negeri hikmah (dâr-ül hikmet), menjalankan pelaksanaan-Nya di balik tabir sebab. Maka seperti tubuh Nabi Ibrâhîm, bajunya pun tak dibakar api, dan Ia memberinya keadaan tahan terhadap api. Sebagaimana Ia tak membakar Ibrâhîm, bajunya pun tak dibakar. Maka dengan rumus isyarat ini, ayat ini secara maknawi berkata: "Wahai Umat Ibrâhîm! Jadilah bagai Ibrâhîm, agar baju materi dan maknawi kalian menjadi baju besi terhadap musuh terbesar kalian, yakni api — baik di sini maupun di sana. Kenakanlah iman pada ruh kalian, sebagaimana ia menjadi baju besi terhadap api Neraka; demikian pula ada sebagian zat yang Allah simpan dan siapkan bagi kalian di bumi, yang menjaga kalian dari kejahatan api. Carilah, keluarkanlah, kenakanlah." Maka salah satu kemajuan dan penemuan penting manusia ialah menemukan sebuah zat yang tak dibakar api, dan mengenakan baju yang tahan api. Adapun ayat ini, di hadapannya, lihatlah betapa luhur, lembut, indah, dan tak akan terkoyak sampai akhir zaman "hullah" (pakaian kehormatan) yang ditenun di kilang "Hanîfan Musliman" yang ia perlihatkan.

Dan misalnya: وَعَلَّمَ اٰدَمَ اْلاَسْمَٓاءَ كُلَّهَا — ia berkata: "Mukjizat terbesar Nabi Adam Alaihissalâm dalam dakwa kekhalifahan agung, adalah pengajaran nama-nama (ta'lîm al-asmâ)." Maka sebagaimana mukjizat nabi-nabi lain masing-masing mengisyaratkan suatu keajaiban khusus dari keajaiban manusia; demikian pula mukjizat Nabi Adam Alaihissalâm — bapak seluruh nabi dan pembuka divan kenabian — mengisyaratkan, hampir secara terang, kepada puncak dan sasaran terjauh dari seluruh kesempurnaan dan kemajuan manusia. Allah — Jalla Jalâluhu — dengan lisan isyarat ayat ini, secara maknawi berkata: "Wahai Bani Adam! Karena kepada bapak kalian telah Kuajarkan seluruh nama sebagai hujah atas keunggulannya dalam dakwa kekhalifahan di hadapan para malaikat, maka kalian pun — karena kalian adalah anak-cucunya dan pewaris kesiapannya — hendaklah mempelajari seluruh nama dan memperlihatkan kelayakan kalian atas keunggulan atas seluruh makhluk pada martabat amanah terbesar. Sebab, jalan terbuka bagi kalian untuk pergi ke maqam-maqam tertinggi di antara seluruh makhluk di alam semesta, dan agar makhluk-makhluk besar seperti bumi tunduk kepada kalian. Ayo, majulah ke depan, dan berpeganglah pada salah satu Nama-Ku, lalu naiklah. Namun bapak kalian pernah sekali tertipu setan, lalu jatuh sementara dari maqam bagai surga ke permukaan bumi. Maka janganlah kalian pun, dalam kemajuan kalian, mengikuti setan lalu menjadikannya wasilah kejatuhan dari langit hikmah Ilahiah ke kesesatan naturalisme (tabîat dalâleti). Dari waktu ke waktu angkatlah kepala kalian, perhatikanlah al-Asmâ' al-Husnâ-Ku, lalu jadikanlah sains dan kemajuan kalian sebagai tangga untuk naik ke langit itu. Sehingga kalian naik ke nama-nama Rabbani-Ku, yang merupakan sumber dan hakikat sains serta kesempurnaan kalian, lalu dengan teropong nama-nama itu, dengan hati kalian, kalian memandang Rabb kalian."

Suatu nuktah penting dan rahasia terpenting: Ayat menakjubkan ini, dalam mengungkapkan seluruh kesempurnaan ilmiah, kemajuan sains, dan keajaiban buatan yang dicapai manusia dari sisi kemampuannya yang komprehensif dengan sebutan "ta'lîm al-asmâ", mengandung suatu rumus luhur demikian: setiap kesempurnaan, setiap ilmu, setiap kemajuan, setiap sains, memiliki suatu hakikat tinggi yang bersandar pada suatu Nama Ilahi. Dengan bersandar pada Nama itu — yang memiliki banyak tabir, tajalli yang beraneka, dan lingkup yang bermacam — maka sains, kesempurnaan, dan seni itu mencapai kesempurnaannya, menjadi hakikat. Jika tidak, ia hanyalah bayangan yang kurang dan setengah jadi.

Misalnya: geometri (hendese) adalah suatu sains. Hakikat dan titik puncaknya ialah sampai kepada Nama Al-'Adl dan Al-Muqaddir dari Allah, lalu menyaksikan tajalli-tajalli penuh hikmah dari Nama itu, dengan segala keagungannya, di cermin geometri.

Misalnya: kedokteran (tıb) adalah suatu sains sekaligus seni. Puncak dan hakikatnya ialah bersandar pada Nama Asy-Syâfî dari Sang Hakîm Mutlak, lalu melihat tajalli-tajalli penuh kasih-Nya pada obat-obatan di apotek terbesar-Nya, yakni permukaan bumi. Maka dengan itu kedokteran mencapai kesempurnaannya, menjadi hakikat.

Misalnya: Hikmat Al-Asyyâ (filsafat/hikmah benda) yang membahas hakikat wujud — dengan melihat tajalli terbesar Nama "Al-Hakîm" dari Allah — Jalla Jalâluhu — secara mengatur dan mendidik pada benda-benda, pada manfaat dan maslahatnya, lalu sampai kepada Nama itu dan bersandar padanya — maka hikmah ini menjadi hikmah sejati. Jika tidak, ia beralih menjadi khurafat dan kesia-siaan, atau membuka jalan kesesatan seperti filsafat naturalis.

Maka inilah tiga contoh bagimu... Qiaskanlah kesempurnaan dan sains-sains lain pada tiga contoh ini.

Maka Al-Qur'an Al-Hakîm, dengan ayat ini, menepuk punggung manusia dengan tangan dorongan ke titik-titik tertinggi, batas terjauh, dan martabat terakhir — tempat yang dalam kemajuannya sekarang manusia amat tertinggal — lalu dengan jarinya menunjuk martabat-martabat itu seraya berkata: "Ayo, majulah ke depan!" Untuk sekarang, kami mencukupkan diri dengan permata ini dari perbendaharaan agung ayat ini, lalu menutup pintu itu.

Dan misalnya: penutup divan kenabian, yang bagi dakwa risalahnya seluruh mukjizat para nabi berkedudukan sebagai satu mukjizat, pemuka para nabi, kebanggaan alam semesta, yang secara terperinci menjadi mazhar bagi seluruh nama yang secara global diajarkan kepada Nabi Adam Alaihissalâm dengan segala tingkatannya — yang dengan mengangkat jari ke atas dengan jalâl membelah bulan, dan dengan menurunkannya ke bawah dengan jamâl mengalirkan air bagai kautsar dari sepuluh jarinya, yang dibenarkan dan dikuatkan dengan seribu mukjizat — yakni Muhammad صلى الله عليه وسلم. Maka salah satu wajah i'jaz yang paling gemilang dari Al-Qur'an Al-Hakîm — mukjizat terbesarnya — ialah kefasihan (cezâlet) dalam penuturan tentang hak dan hakikat, balâghah dalam pengungkapannya, keluasan makna, keluhuran dan kelezatan uslubnya, yang diungkapkan oleh ayat: قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَاْتُوا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لاَ يَاْتُونَ بِمِثْلِه۪ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَه۪يرًا dan banyak ayat mubîn lainnya — mengalihkan pandangan jin dan manusia ke wajah i'jaz yang paling jelas dan gemilang dari mukjizat abadi ini. Ia menyentuh urat nadi seluruh jin dan manusia. Dengan membangkitkan kerinduan para sahabatnya dan kekerasan hati para musuhnya, dengan suatu dorongan yang agung dan anjuran yang keras, ia menggiring kawan dan lawan untuk menirunya — yakni membuat tandingannya dan menyerupakan kalamnya dengannya. Dan ia meletakkan mukjizat itu di hadapan pandangan seluruh manusia dengan cara sedemikian rupa, seakan tujuan tunggal kedatangan manusia ke dunia ini ialah menjadikan mukjizat itu sasaran dan pedoman, lalu dengan sadar berjalan menuju tujuan penciptaan manusia dengan memandangnya.

Kesimpulan: Mukjizat nabi-nabi lain Alaihimussalâm masing-masing mengisyaratkan suatu keajaiban seni, dan mukjizat Nabi Adam Alaihissalâm mengisyaratkan — bersama asas-asas seni — daftar ringkas ilmu dan sains, keajaiban dan kesempurnaan, seraya mendorong. Adapun mukjizat terbesar Ahmadi صلى الله عليه وسلم, yakni Al-Qur'an Al-Mu'jiz Al-Bayân, memperlihatkan secara terperinci kemazharan atas hakikat ta'lîm al-asmâ; memperlihatkan dengan jelas sasaran-sasaran benar dari ilmu dan sains yang hak dan hakiki, serta kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia menggiring manusia ke sana dengan banyak dorongan yang agung. Dan ia menggiring serta mendorong dengan cara yang membuat kita memahami: "Wahai manusia! Tujuan tertinggi dari alam semesta ini ialah ubudiyah menyeluruh manusia terhadap tajalli rububiyah; dan sasaran terjauh manusia ialah mencapai ubudiyah itu dengan ilmu dan kesempurnaan." Dan ia mengungkapkannya dengan cara yang mengisyaratkan: "Tentu, jenis manusia pada akhir zaman akan tercurah pada ilmu dan sains. Ia akan mengambil segenap kekuatannya dari ilmu. Hukum dan kekuatan akan berpindah ke tangan ilmu." Dan karena Al-Qur'an Al-Mu'jiz Al-Bayân berulang kali mengedepankan kefasihan dan balâghah Qur'ani, ia secara rumzi memahamkan: "Ilmu dan sains yang paling gemilang, yakni balâghah dan cezâlet, dengan segala jenisnya akan mengambil bentuk yang paling digemari pada akhir zaman. Bahkan manusia, untuk menerimakan pikirannya kepada sesama dan menjalankan keputusannya atas sesama, akan mengambil senjatanya yang paling tajam dari kefasihan penuturan, dan kekuatannya yang paling tak tertahankan dari balâghah ungkapan."

Kesimpulan: Kebanyakan ayat Al-Qur'an, masing-masing adalah kunci suatu perbendaharaan kesempurnaan dan pembuka suatu simpanan ilmu.

Jika engkau mau sampai ke langit Al-Qur'an dan ke bintang-bintang ayatnya, jadikanlah dua puluh Kalimat yang telah lalu sebagai tangga dua puluh anak tangga

> (Hâsyiyah-1): Bahkan tiga puluh tiga Kalimat, tiga puluh tiga Surat (Mektub), tiga puluh satu Kilau (Lem'a), dan tiga belas Sinar (Şua), adalah tangga seratus dua puluh anak tangga.

lalu naiklah. Dengannya lihatlah: betapa gemilang Al-Qur'an bagai matahari. Lihatlah bagaimana ia menaburkan cahaya jernih dan menyebarkan sinar gemilang ke atas hakikat-hakikat Ilahiah dan hakikat-hakikat makhluk yang mungkin (mümkinât)...

Hasil (Natîjah): Selama ayat-ayat tentang para nabi memiliki suatu gaya penuturan yang — bersama mengisyaratkan keajaiban kemajuan manusia masa kini — juga menggambarkan batasnya yang lebih jauh; dan selama telah pasti bahwa setiap ayat menunjuk kepada banyak makna, bahkan disepakati; dan selama ada perintah-perintah mutlak untuk mengikuti dan meneladani para nabi — maka dapat dikatakan bahwa ayat-ayat yang telah lalu itu, bersama menunjuk makna-makna sarihnya, juga secara isyarat menunjuk kepada hal-hal penting dari seni dan sains manusia, sekaligus mendorong ke arahnya.

Dua pertanyaan penting dan dua jawaban penting

Yang pertama

Jika engkau berkata: "Selama Al-Qur'an turun untuk manusia, mengapa ia tidak menerangkan secara jelas keajaiban peradaban yang paling penting di mata manusia? Ia hanya mencukupkan diri dengan rumus tersembunyi, isyarat samar, isyarat ringan, dan peringatan lemah?"

Jawaban: Karena hak keajaiban peradaban manusia dalam pembahasan Qur'ani hanya sebatas itu. Sebab tugas asli Al-Qur'an ialah mengajarkan kesempurnaan dan keadaan (syuûnât) lingkup rububiyah, serta tugas dan keadaan lingkup ubudiyah. Maka hak keajaiban manusia itu dalam dua lingkup tersebut hanyalah suatu rumus lemah, suatu isyarat ringan. Sebab, jika keajaiban itu menuntut haknya dari lingkup rububiyah, maka ia hanya memperoleh hak yang amat sedikit. Misalnya, pesawat manusia

> (Hâsyiyah-2): Ketika menulis masalah yang serius ini, tanpa sengaja penaku mengalihkan uslubnya ke gurauan lembut ini. Maka aku pun membiarkan penaku bebas. Kuharap kelembutan uslub tak mencederai keseriusan masalah.

berkata kepada Al-Qur'an: "Beri aku hak bicara, beri aku suatu tempat di antara ayat-ayatmu." Tentu, pesawat-pesawat dari lingkup rububiyah itu — yakni planet-planet, Bumi, Bulan — atas nama Al-Qur'an akan berkata: "Di sini engkau dapat mengambil tempat seukuran jasadmu." Jika kapal selam manusia meminta tempat dari ayat-ayat Qur'ani; maka kapal-kapal selam dari lingkup itu — yakni bumi dan bintang-bintang yang berenang di samudra udara yang meliputi dan di lautan eter — akan berkata kepadanya: "Di sisi kami, tempatmu amat kecil sampai tak terlihat." Jika lampu-lampu listrik yang berkilau bagai bintang meminta hak bicara dan ingin masuk ke ayat-ayat; maka lampu-lampu listrik dari lingkup itu — yakni kilat, meteor, dan bintang-bintang serta pelita yang menghiasi langit — akan berkata: "Sekadar cahayamu engkau dapat masuk ke pembahasan." Jika keajaiban peradaban meminta haknya dari sisi kehalusan seni dan menuntut maqam dari ayat-ayat; maka seekor lalat pun akan berkata kepada mereka: "Diamlah! Hak kalian tak sebanding satu sayapku. Sebab, seluruh seni halus dan perangkat rumit dalam diri kalian yang diperoleh dengan sebagian ikhtiar juz'i manusia, jika dikumpulkan, tak akan semenakjubkan seni halus dan perangkat rumit dalam tubuh kecilku. Ayat اِنَّ الَّذ۪ينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللّٰهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ dan seterusnya membungkam kalian."

Jika keajaiban itu pergi ke lingkup ubudiyah dan menuntut haknya dari lingkup itu; maka ia menerima jawaban demikian: "Hubungan kalian dengan kami amat sedikit, dan kalian tak mudah masuk ke lingkup kami. Sebab program kami ialah: dunia adalah rumah penginapan. Manusia akan singgah sebentar di dalamnya, dan ia tamu yang bertugas banyak, yang wajib menyiapkan bekal bagi kehidupan abadi dalam umur yang singkat. Urusan yang paling penting dan paling mendesak akan didahulukan. Padahal kalian, umumnya, memandang dunia fana ini sebagai tempat menetap abadi, dan di balik tabir kelalaian, dengan cinta dunia, memperlihatkan suatu bentuk yang tergarap. Maka bagian kalian dari ubudiyah — yang tegak di atas asas cinta kepada kebenaran dan memikirkan akhirat — amatlah sedikit. Namun jika di belakang atau di antara kalian terdapat para seniman terhormat dan penemu terilhami — yang membentuk minoritas — yang berkhidmat semata demi ibadah berharga, demi manfaat hamba-hamba Allah, kemaslahatan umum, ketenteraman bersama, dan kesempurnaan kehidupan sosial; maka bagi sosok-sosok peka itu, rumus dan isyarat Qur'ani ini — untuk mendorong usaha dan menghargai seni mereka — sungguh cukup dan memadai."

Jawaban atas pertanyaan kedua

Jika engkau berkata: "Kini setelah penelitian ini keraguanku hilang, dan aku membenarkan bahwa di dalam Al-Qur'an, bersama hakikat-hakikat lain, terdapat isyarat dan rumus kepada keajaiban peradaban masa kini, bahkan yang lebih jauh. Segala yang diperlukan bagi kebahagiaan dunia dan akhirat manusia terdapat di dalamnya sesuai kadarnya. Namun mengapa Al-Qur'an tidak menyebutkannya secara jelas? Agar orang-orang kafir yang keras kepala pun terpaksa membenarkan, dan hati kami pun tenang?"

Jawaban: Agama adalah suatu ujian. Taklif Ilahi adalah suatu pencobaan. Agar ruh-ruh tinggi terpisah dari ruh-ruh rendah di medan perlombaan. Sebagaimana api diberikan pada suatu tambang, agar intan terpisah dari batu bara, emas dari tanah; demikian pula taklif Ilahiah di negeri ujian ini adalah suatu cobaan dan penggiringan ke perlombaan, agar permata tinggi terpisah dari zat rendah di tambang kesiapan manusia... Selama Al-Qur'an turun demi penyempurnaan manusia dalam bentuk cobaan dan perlombaan di negeri ujian ini; tentu ia hanya akan mengisyaratkan perkara-perkara gaib masa depan yang duniawi dan akan terlihat semua orang, serta membuka pintu bagi akal sekadar membuktikan hujahnya. Jika ia menyebutkannya secara jelas, rahasia taklif rusak. Ia akan menjadi sejelas menulis "Lâ ilâhe illallâh" dengan terang di langit dengan bintang-bintang. Saat itu setiap orang mau tak mau akan membenarkan. Tak ada lagi perlombaan, ujian pun sia-sia. Ruh bagai batu bara dan ruh bagai intan

> (Hâsyiyah): Abu Jahal yang terlaknat dan Abu Bakar Ash-Shiddîq akan tampak setara. Rahasia taklif akan hilang.

akan tinggal setara...

Kesimpulan: Al-Qur'an Al-Hakîm itu bijaksana. Ia memberi setiap sesuatu suatu maqam sesuai nilainya. Maka Al-Qur'an, seribu tiga ratus tahun silam, melihat buah dan kemajuan manusia yang tersembunyi dan gaib di dalam kegelapan masa depan, lalu memperlihatkannya dalam bentuk yang lebih indah daripada yang kita lihat dan akan kita lihat. Artinya, Al-Qur'an adalah kalam suatu Zat yang melihat seluruh zaman dan segala sesuatu di dalamnya dalam satu saat.

Maka inilah satu kilau i'jaz Al-Qur'an yang berkilauan pada wajah mukjizat para nabi...

اَللّٰهُمَّ فَهِّمْنَا اَسْرَارَ الْقُرْاٰنِ وَ وَفِّقْنَا لِخِدْمَتِهِ فِى كُلِّ اٰنٍ وَ زَمَانٍ

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ وَ كَرِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا وَ مَوْلٰينَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَ نَبِيِّكَ وَ رَسُولِكَ النَّبِىِّ اْلاُمِّىِّ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ اَصْحَابِه۪ وَ اَزْوَاجِه۪ وَ ذُرِّيَّاتِه۪ وَ عَلَى النَّبِيّ۪نَ وَ الْمُرْسَل۪ينَ وَ الْمَلٰٓئِكَةِ الْمُقَرَّب۪ينَ وَ اْلاَوْلِيَٓاءِ وَ الصَّالِح۪ينَ ❊ اَفْضَلَ صَلاَةٍ وَ اَزْكٰى سَلاَمٍ وَ اَنْمٰى بَرَكَاتٍ بِعَدَدِ سُوَرِ الْقُرْاٰنِ وَ اٰيَاتِه۪ وَ حُرُوفِه۪ وَ كَلِمَاتِه۪ وَ مَعَانِيه۪ وَ اِشَارَاتِه۪ وَ رُمُوزِه۪ وَ دَلاَلاَتِه۪ وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا وَ الْطُفْ بِنَا يَٓا اِلٰهَنَا يَا خَالِقَنَا بِكُلِّ صَلاَةٍ مِنْهَا بِرَحْمَتِكَ يَٓا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ ❊ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ ❊ اٰم۪ينَ