Risale-i NurKelimat

Kelimat Kedua Puluh

Kelimat · hlm. 235

[Terdiri dari Dua Maqam]

Maqam Pertama

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوا ِلاٰدَمَ فَسَجَدُٓوا اِلآَّ اِبْل۪يسَ ❊ اِنَّ اللّٰهَ يَاْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ❊ ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِىَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً ❊

Pada suatu hari, ketika aku membaca ayat-ayat ini, terhadap bisikan-bisikan (ilqâ') Iblis, dari limpahan faidh Al-Qur'an Al-Hakîm diilhamkanlah tiga nuktah. Adapun bentuk waswas itu demikian:

Ia berkata: "Kalian mengatakan: Al-Qur'an adalah mukjizat. Ia pun memiliki balâghah yang tak terhingga. Ia juga hidayah bagi seluruh manusia pada setiap waktu. Namun, apa gerangan maknanya mengulang-ulang secara gigih sebagian peristiwa parsial (juz'i) semacam ini dalam bentuk kisah sejarah? Menyebutkan suatu kejadian juz'i seperti penyembelihan seekor sapi dengan sifat-sifat yang seagung itu — bahkan menamai surah yang agung itu dengan 'Al-Baqarah' — apa pula relevansinya? Lalu, peristiwa sujud kepada Adam pun semata-mata suatu perkara gaib (amr gaib). Akal tak menemukan jalan kepadanya; ia baru dapat diserahkan dan diyakini setelah iman yang kuat. Padahal Al-Qur'an memberi pelajaran kepada seluruh ahli akal. Di banyak tempat ia berkata اَفَلاَ يَعْقِلُونَ, lalu menyerahkannya kepada akal. Lalu, hidayah apa pula yang terkandung dalam menerangkan dengan penuh perhatian sebagian keadaan alami batu-batu yang bersifat kebetulan?"

Adapun bentuk nuktah-nuktah yang diilhamkan itu demikian:

Nuktah Pertama

Di dalam Al-Qur'an Al-Hakîm terdapat banyak peristiwa juz'i, yang di balik masing-masingnya tersembunyi sebuah prinsip universal (dustûr kullî) dan yang ditampakkan sebagai ujung dari suatu hukum umum. Sebagaimana عَلَّمَ اٰدَمَ اْلاَسْمَٓاءَ كُلَّهَا — yakni pengajaran nama-nama (ta'lîm al-asmâ) yang menjadi mukjizat Nabi Adam demi kelayakan khilafah di hadapan para malaikat — adalah suatu peristiwa juz'i. Ia merupakan ujung dari suatu prinsip universal demikian: Kepada jenis manusia, dari sisi kemampuannya yang komprehensif untuk menampung (jâmi'iyyat al-isti'dâd), telah diajarkan ilmu-ilmu yang tak terhingga, sains-sains yang meliputi segala jenis makhluk di alam semesta, dan pengetahuan luas yang mencakup keadaan-keadaan (syu'ûn) dan sifat-sifat Sang Khâliq. Pengajaran ini telah memberi jenis manusia — bukan hanya atas para malaikat, bahkan atas langit, bumi, dan gunung-gunung — suatu keunggulan dalam mengemban perkara amanah terbesar (amânah kubrâ). Dan sebagaimana Al-Qur'an memahamkan bahwa manusia, dengan keseluruhan susunannya, adalah khalifah maknawi di bumi; demikian pula, peristiwa juz'i yang gaib — yakni sujudnya para malaikat kepada Adam berikut penolakan setan untuk sujud — sebagaimana ia adalah ujung dari suatu prinsip universal yang terlihat (masyhûd), demikian pula ia mengisyaratkan suatu hakikat yang amat besar. Yaitu demikian:

Al-Qur'an, dengan menyebutkan ketaatan dan kepatuhan para malaikat kepada sosok Adam serta kesombongan dan pembangkangan setan, memahamkan kepada jenis manusia bahwa sebagian besar jenis materi di alam semesta beserta wakil-wakil dan pengurus maknawi jenis-jenis itu telah ditundukkan kepadanya, dan bahwa semuanya telah disiapkan serta dipatuhkan bagi seluruh pemanfaatan indra manusia. Bersamaan dengan itu, ia mengingatkan bahwa zat-zat jahat (mavâdd syarîrah) yang merusak kesiapan jenis itu dan menyeretnya ke jalan-jalan sesat, berikut para wakil dan penghuni-penghuni jahatnya, membentuk penghalang yang betapa besar dan musuh yang betapa dahsyat di jalan menuju kesempurnaan (tarîq al-kamâlât) jenis manusia. Maka Al-Qur'an Al-Mu'jiz Al-Bayân, seraya berbicara dengan satu Adam Alaihissalâm mengenai suatu peristiwa juz'i, sesungguhnya sedang melakukan suatu percakapan yang luhur (mukâlamah ulwiyah) dengan seluruh alam semesta dan seluruh jenis manusia.

Nuktah Kedua

Karena Negeri Mesir adalah sepotong dari Sahara Besar yang berupa hamparan pasir, dan karena dengan limpahan faidh Sungai Nil yang penuh berkah (Nîl Mubârak) ia beralih menjadi ladang yang teramat subur — maka keberadaan suatu tempat penuh berkah yang bak surga di sisi padang pasir yang menyerupai neraka itu, telah menjadikan pertanian dan bercocok tanam sangat digemari oleh penduduknya, dan telah menetapkannya sedemikian rupa dalam watak mereka hingga mereka mengangkat pertanian menjadi suci, dan menjadikan "sapi" (baqar) serta lembu — alat pertanian itu — suci, bahkan hampir ke derajat sesembahan. Bahkan bangsa Mesir pada masa itu memberi lembu dan sapi suatu kesucian sampai ke derajat menyembahnya. Nah, pada masa itu Bani Israil pun tumbuh di negeri tersebut, dan bahwa mereka telah mengambil satu bagian dari didikan itu dapat dipahami dari peristiwa anak sapi (Ijl).

Maka Al-Qur'an Al-Hakîm, dengan risalah Nabi Mûsâ Alaihissalâm, memahamkan melalui penyembelihan seekor sapi bahwa Al-Qur'an telah memotong dan mematikan paham pemujaan sapi yang telah masuk ke dalam watak bangsa itu dan meresap ke dalam kesiapan (isti'dâd) mereka.

Maka dengan peristiwa juz'i ini, ia menerangkan dengan suatu i'jaz yang luhur bahwa sebuah prinsip universal senantiasa merupakan pelajaran hikmah yang, pada setiap waktu dan bagi setiap orang, amat diperlukan.

Berdasarkan hal ini ketahuilah: peristiwa-peristiwa juz'i yang di dalam Al-Qur'an Al-Hakîm disebutkan dalam bentuk sebagian kejadian sejarah, adalah ujung-ujung dari prinsip-prinsip universal. Bahkan, sebagai contoh atas tujuh kalimat Kisah Mûsâ yang disebut dan diulang di banyak surah, di dalam Risalah I'jâz Al-Qur'an dalam Lemaat telah kami terangkan bagaimana setiap bagian dari kalimat-kalimat juz'i itu mengandung suatu prinsip universal yang penting. Jika engkau mau, rujuklah risalah itu.

Nuktah Ketiga

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِىَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ اْلاَنْهَارُ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَٓاءُ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Ketika membaca ayat ini, si pembisik (müvesvis) berkata: "Apa maknanya, apa relevansinya, apa perlunya, membahas dan menerangkan sebagian keadaan fitri dan alami batu-batu — yang telah maklum dan lumrah bagi setiap orang — dalam wujud masalah-masalah yang paling penting dan paling besar?"

Terhadap waswas ini, dari faidh Al-Qur'an diilhamkan suatu nuktah demikian:

Ya, ada relevansinya dan ada perlunya. Bahkan ada suatu relevansi yang sedemikian besar, suatu makna yang sedemikian penting, dan suatu hakikat yang sedemikian agung dan diperlukan, sehingga hanya dengan i'jaz Al-Qur'an yang ringkas (îjâz mu'jiz) dan dengan karunia bimbingannya (lutf-u irsyâd) ia sedikit disederhanakan dan diringkas. Ya, îjâz — yang merupakan salah satu asas i'jaz Al-Qur'an — dan karunia bimbingan serta keindahan pemahaman (husn-u ifhâm) yang merupakan satu cahaya dari hidayah Al-Qur'an, keduanya menuntut agar terhadap kalangan awam yang membentuk mayoritas di antara para mukhatab Al-Qur'an, hakikat-hakikat universal serta prinsip-prinsip yang mendalam dan umum ditampilkan dengan wujud-wujud yang akrab dan parsial; dan agar terhadap kalangan awam yang pikirannya sederhana, hanya diperlihatkan ujung-ujung dari hakikat-hakikat yang agung itu serta bentuknya yang sederhana. Dan agar tasarruf-tasarruf Ilahiah yang luar biasa — yang terjadi di balik tabir kebiasaan dan di bawah permukaan tanah — diperlihatkan secara global (ijmâlî). Maka atas dasar rahasia inilah Al-Qur'an Al-Hakîm dengan ayat ini berkata demikian:

Wahai Bani Israil dan wahai Bani Adam! Apa gerangan yang menimpa kalian, sehingga hati kalian lebih membeku daripada batu dan lebih keras lagi? Tidakkah kalian melihat bahwa batu-batu raksasa yang teramat keras dan beku itu — yang membentuk suatu lapisan yang amat besar di bawah tanah — begitu tunduk dan patuh terhadap perintah-perintah Ilahi, dan begitu lunak serta siap-perintah di bawah pelaksanaan-pelaksanaan Rabbani? Betapa mudahnya tasarruf-tasarruf Ilahiah berlangsung dalam pembentukan pepohonan di udara; demikian pula, di bawah tanah, di dalam batu-batu yang keras dan tuli itu, dengan kemudahan dan keteraturan sedemikian rupa — seperti mengalirnya darah di dalam urat-urat — parit-parit air yang teratur

> (Hâsyiyah): Ya, menerangkan tiga tugas terpenting yang ditugaskan oleh Sang Fâthir Dzul-Jalâl kepada lapisan batu — batu fondasi istana yang megah dan bergerak yang bernama bumi — hanyalah layak bagi Al-Qur'an. Maka tugas pertamanya: sebagaimana tanah, dengan kudrat Rabbani, menjadi ibu bagi tumbuh-tumbuhan dan menumbuhkannya; demikian pula batu, dengan kudrat Ilahiah, menjadi pengasuh bagi tanah dan menumbuhkannya. Tugas kedua: berkhidmat pada peredaran teratur air-air, yang di tubuh bumi berkedudukan seperti peredaran darah. Tugas fitri ketiga: menjadi bendahara bagi kemunculan dan kelestarian mata air serta sungai, sumber-sumber (uyûn) dan aliran-aliran (enhâr), dengan suatu timbangan yang teratur. Ya, batu-batu, dengan segenap kekuatannya dan dengan mulut yang penuh, dalam wujud air kehidupan yang mereka alirkan, menuliskan dan menaburkan bukti-bukti keesaan (dalâil vahdâniyet) ke atas muka bumi.

dan urat-urat air, dengan kesempurnaan hikmah, mengalir tanpa menemui rintangan pada batu-batu itu. Dan sebagaimana cabang-cabang tumbuhan dan pepohonan menyebar dengan mudah di udara; demikian pula urat-urat halus dari akar-akar, dengan mudah dan tanpa terhalang, menyebar secara teratur dengan perintah Ilahi di dalam batu-batu di bawah tanah — semua ini diisyaratkan oleh Al-Qur'an. Ia mengajarkan suatu hakikat yang luas dengan ayat ini, dan dengan pelajaran itu ia memberikan makna berikut kepada hati-hati yang membatu, seraya secara simbolis (remzen) berkata:

Wahai Bani Israil dan wahai Bani Adam! Di dalam kelemahan dan ketidakberdayaan kalian, hati macam apa yang kalian bawa, sehingga hati itu dengan kekerasannya melawan perintah-perintah Zat yang sedemikian agung? Padahal lapisan yang teramat besar dari batu-batu keras raksasa itu, di hadapan perintah-perintah Zat itu, dengan kepatuhan yang sempurna menunaikan tugas-tugasnya yang halus di dalam kegelapan dengan sempurna. Mereka tidak menunjukkan pembangkangan. Bahkan batu-batu itu, bagi seluruh makhluk hidup yang berada di atas tanah, bersama air kehidupan dan sarana-sarana kehidupan lainnya, melakukan suatu tugas kebendaharaan sedemikian rupa, dan menjadi perantara pembagian dengan suatu keadilan sedemikian rupa, dan menjadi wasilah distribusi dengan suatu hikmah sedemikian rupa, sehingga di dalam tangan kudrat Sang Hakîm Dzul-Jalâl, ia bagai lilin lebah — bahkan bagai udara — begitu lunak, tanpa daya lawan, dan bersujud di hadapan keagungan kudrat-Nya. Sebab, seperti karya-karya teratur (masnûât muntazamah) dan tasarruf-tasarruf Ilahiah yang penuh hikmah dan inayah yang kita saksikan di atas tanah, hal yang sama juga berlangsung di bawah tanah. Bahkan, dari sisi hikmah, hikmah dan inayah Ilahiah bertajalli di sana dalam wujud yang lebih menakjubkan dan dari sisi keteraturan lebih menakjubkan lagi. Lihatlah! Betapa batu-batu raksasa yang paling keras dan tak berperasaan itu menunjukkan kelunakan seperti lilin lebah terhadap perintah-perintah penciptaan (evâmir tekwîniyah), dan betapa mereka tanpa daya lawan dan tanpa kekerasan terhadap air-air lembut yang menjadi petugas Ilahi, terhadap akar-akar halus, dan terhadap urat-urat bagai sutra itu. Bagaikan seorang pencinta, ia mencabik hatinya karena sentuhan yang lembut dan elok itu, dan menjadi tanah di jalan mereka.

Dan dengan وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ, ia memperlihatkan ujung dari suatu hakikat yang amat agung, yaitu: seperti dalam peristiwa "Thalab Ru'yah" (permintaan melihat), gunung yang masyhur itu terbelah dan batu-batunya berhamburan karena tajalli; demikian pula, di seluruh muka bumi, sebagian besar gunung — yang pada asalnya adalah batu-batu yang membeku dari air dan hampir berupa bongkahan tunggal — dengan tajalli-tajalli jalâliyah dalam wujud gempa atau sebagian peristiwa bumi, batu-batu dari puncak-puncak tinggi gunung itu, karena munculnya tajalli-tajalli jalâliyah yang mendatangkan rasa takut (khasyyah), pun berhamburan; sebagiannya remuk menjadi tanah, beralih menjadi sumber bagi tumbuh-tumbuhan; sebagian lain tetap menjadi batu, berguling menyebar ke lembah-lembah dan dataran, lalu berkhidmat dalam banyak urusan bak tempat tinggal bagi penghuni bumi, dan — demi sebagian hikmah dan manfaat yang tersembunyi — bersujud taat kepada kudrat dan hikmah Ilahiah, mengambil bentuk siap-perintah bagi ketentuan-ketentuan hikmah Subhâniyah. Sungguh, meninggalkan kedudukan yang tinggi itu karena khasyyah, memilih tempat-tempat yang rendah dengan penuh kerendahan hati, dan menjadi sebab bagi manfaat-manfaat penting itu, bukanlah kesia-siaan, tidak liar tak terkendali, dan bukan pula kebetulan; melainkan dengan tasarruf-tasarruf penuh hikmah dari Sang Hakîm Qadîr, di dalam ketidakteraturan yang tampak itu terdapat suatu keteraturan penuh hikmah yang tak tampak oleh pandangan lahir. Adapun bukti atas hal itu: manfaat-manfaat dan kegunaan yang berkaitan dengan batu-batu itu, serta kesempurnaan keteraturan dan keindahan seni dari "baju-baju" yang dikenakan pada tubuh gunung tempat mereka berguling — yang bertatah dan berhias dengan permata bunga dan buah — bersaksi atas hal itu secara pasti dan tanpa keraguan.

Maka engkau telah melihat betapa berharganya tiga ayat ini dari sudut pandang hikmah. Kini, lihatlah keindahan penuturan (letâfet-i beyân) Al-Qur'an dan i'jaz balâghah-nya: bagaimana ia memperlihatkan ujung-ujung dari hakikat-hakikat yang besar, luas, dan penting yang telah disebut itu di dalam tiga kalimat dengan tiga peristiwa yang masyhur dan tersaksikan; dan dengan mengingatkan tiga peristiwa lain sebagai bahan pelajaran (ibrah), ia melakukan suatu bimbingan yang lembut, suatu peringatan (zajr) yang tak tertahankan.

Misalnya: pada Kelimat kedua ia berkata: وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَٓاءُ

Dengan kalimat ini, seraya mengisyaratkan kepada batu yang — terhadap tongkat Nabi Mûsâ Alaihissalâm — terbelah dengan kerinduan yang sempurna lalu mengalirkan dua belas mata air dari dua belas matanya, ia memahamkan suatu makna dan secara maknawi berkata: Wahai Bani Israil! Terhadap satu mukjizat Mûsâ Alaihissalâm, batu-batu raksasa melunak dan terbelah — entah karena khasyyah, entah karena kegembiraan — sambil menangis mengalirkan air mata bagai aliran sungai. Maka dengan keinsafan macam apa kalian, terhadap seluruh mukjizat Musawi Alaihissalâm, berkeras kepala tak menangis, sementara mata kalian beku dan hati kalian mengeras?

Dan pada Kelimat ketiga ia berkata: وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ

Dengan kalimat ini, seraya mengingatkan peristiwa masyhur — yaitu terbelah dan berhamburannya gunung raksasa karena kedahsyatan tajalli jalâliyah yang terjadi dalam munajat Musawi Alaihissalâm di Bukit Thursina, dan bergulingnya batu-batu ke sekeliling karena khasyyah itu — ia mengajarkan suatu makna demikian: Wahai Kaum Mûsâ Alaihissalâm! Bagaimana kalian tidak takut kepada Allah? Padahal gunung-gunung yang terdiri dari batu-batu itu remuk dan berhamburan karena khasyyah kepada-Nya. Dan sementara kalian mengetahui serta menyaksikan bagaimana Jabal Thûr ditegakkan di atas kalian untuk pengambilan perjanjian (ahz-i mîtsâk), dan bagaimana gunung terbelah dalam peristiwa Thalab Ru'yah — dengan keberanian macam apa kalian tidak gemetar karena khasyyah kepada-Nya, malah membiarkan hati kalian dalam kekerasan dan kebekuan?

Dan pada Kelimat pertama ia berkata: وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ اْلاَنْهَارُ

Dengan kalimat ini, seraya mengingatkan sungai-sungai seperti Sungai Nil yang penuh berkah, Tigris, dan Eufrat yang memancar dari gunung-gunung, ia memahamkan betapa batu-batu, terhadap perintah-perintah penciptaan, menjadi tempat kemunculan (mazhar) dan ditundukkan dalam wujud yang menakjubkan dan bagai mukjizat. Dengan itu ia memberikan makna berikut kepada hati-hati yang terjaga: mustahil kiranya gunung-gunung itu menjadi sumber hakiki bagi sungai-sungai yang sedemikian besar. Sebab, andaikata gunung-gunung itu seluruhnya berubah menjadi air dan menjadi kolam-kolam berbentuk kerucut, ia hanya sanggup bertahan beberapa bulan saja untuk mengimbangi aliran sungai-sungai besar yang sedemikian deras dan banyak, tanpa kehilangan keseimbangan. Dan terhadap pengeluaran (masârif) yang sebanyak itu, air hujan yang umumnya meresap hanya sekitar satu meter ke dalam tanah, tak akan cukup sebagai pemasukan (vâridât). Artinya, pemancaran sungai-sungai ini bukanlah suatu urusan biasa, alami, dan kebetulan; melainkan dengan cara yang teramat menakjubkan, Sang Fâthir Dzul-Jalâl mengalirkannya semata dari perbendaharaan gaib (khazîne-i gayb).

Maka sebagai isyarat kepada rahasia ini, demi mengungkapkan makna ini, dalam hadis diriwayatkan: "Ke masing-masing dari tiga sungai itu, setiap waktu menetes satu tetes dari Surga, dan karenanya sungai-sungai itu penuh berkah." Dan dalam suatu riwayat disebutkan: "Sumber ketiga sungai ini adalah dari Surga." Hakikat riwayat ini demikian: karena sebab-sebab materi tak mampu menghasilkan pemancaran yang sebanyak itu, maka pastilah sumbernya berada di suatu alam gaib dan datang dari suatu perbendaharaan rahmat yang tersembunyi, sehingga keseimbangan antara pengeluaran dan pemasukan tetap terjaga.

Maka Al-Qur'an Al-Hakîm, dengan mengingatkan makna ini, mengajarkan pelajaran berikut, seraya berkata: Wahai Bani Israil dan wahai Bani Adam! Dengan kekerasan dan kebekuan hati kalian, kalian membangkang terhadap perintah-perintah Zat Dzul-Jalâl yang sedemikian agung, dan dengan kelalaian kalian memejamkan mata terhadap cahaya makrifat Sang Matahari Abadi (Syams-i Sermedî) yang sedemikian agung — Zat yang mengalirkan sungai-sungai raksasa seperti Sungai Nil yang penuh berkah, yang mengubah Mesir kalian menjadi bentuk surga, dari mulut batu-batu biasa yang beku, lalu memberikan mukjizat-mukjizat kudrat-Nya dan bukti-bukti keesaan-Nya (syavâhid-i vahdâniyet) ke dalam hati alam semesta dan ke otak bumi seukuran kekuatan, kemunculan, dan limpahan sungai-sungai besar itu, dan mengalirkannya ke hati serta akal jin dan manusia. Dan Zat yang menjadikan sebagian batu yang tak berperasaan dan beku sebagai mazhar bagi mukjizat-mukjizat kudrat-Nya dengan cara yang sedemikian menakjubkan

> (Hâsyiyah): Sebagaimana Sungai Nil yang penuh berkah keluar dari Jabal Qamar, demikian pula cabang terpenting Tigris keluar dari gua sebuah karang di distrik Müküs, Provinsi Van. Dan cabang penting Eufrat keluar dari kaki sebuah gunung di sekitar Diyadin. Bahwa asal gunung-gunung, secara penciptaan, adalah batu-batu yang membeku dari suatu materi cair, telah tetap secara sains. Salah satu tasbih Nabawi, سُبْحَانَ مَنْ بَسَطَ اْلاَرْضَ عَلٰى مَٓاءٍ جَمَدْ, menunjukkan secara pasti bahwa asal penciptaan bumi demikian: suatu materi seperti air, dengan perintah Ilahi, membeku menjadi batu; batu, dengan izin Ilahi, menjadi tanah. Lafaz "Arz" dalam tasbih itu berarti tanah. Artinya, air itu amat lunak; tak dapat dipijak di atasnya. Batu amat keras; tak dapat dimanfaatkan darinya. Karena itu Sang Hakîm Rahîm menghamparkan tanah di atas batu, dan menjadikannya tempat menetap bagi makhluk hidup.

sebagai mazhar bagi mukjizat-mukjizat kudrat-Nya — sebagaimana cahaya matahari menunjukkan matahari itu sendiri, demikian ia menunjukkan Sang Fâthir Dzul-Jalâl itu. Maka bagaimana kalian buta terhadap cahaya makrifat-Nya dan tidak melihat?

Maka lihatlah, balâghah macam apa yang dikenakan pada tiga hakikat ini. Dan perhatikanlah balâghah bimbingan (belâghat-i irsyâdiyah). Kekerasan dan kebekuan macam apa gerangan yang sanggup bertahan terhadap balâghah irsyad yang sepenuh bara ini, tanpa remuk?

Maka jika engkau telah memahami dari awal hingga ke sini, lihatlah suatu kilau i'jaz irsyadi (lem'a-i i'jâz) dari Al-Qur'an Al-Hakîm, dan bersyukurlah kepada Allah.

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم

اَللّٰهُمَّ فَهِّمْنَا اَسْرَارَ الْقُرْاٰنِ كَمَا تُحِبُّ وَ تَرْضٰى وَ وَفِّقْنَا لِخِدْمَتِهِ اٰم۪ينَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى مَنْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ الْحَك۪يمُ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ صَحْبِه۪ اَجْمَع۪ينَ

Maqam Kedua dari Kelimat Kedua Puluh

[Satu kilau i'jaz Al-Qur'an yang berkilauan pada wajah mukjizat para nabi]

Perhatikanlah dua pertanyaan dan dua jawaban di akhir.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍٍ اِلاَّ ف۪ى كِتَابٍ مُب۪ينٍٍ

Empat belas tahun silam (kini telah lewat lebih dari tiga puluh tahun), mengenai salah satu rahasia ayat ini, telah kutulis sebuah bahasan berbahasa Arab dalam tafsirku yang bernama Isyârât Al-I'jâz. Kini, dua saudaraku yang keinginannya kupandang penting memintaku menjelaskan bahasan itu sedikit dalam bahasa Turki. Maka aku pun, dengan bersandar pada taufik Allah dan berpegang pada faidh Al-Qur'an, berkata demikian:

Menurut satu pendapat, Kitab Mubîn adalah Al-Qur'an. Ayat mulia ini menerangkan bahwa segala sesuatu, yang basah dan yang kering, terdapat di dalamnya. Benarkah demikian? Ya, segala sesuatu terdapat di dalamnya. Namun tidak setiap orang dapat melihat segala sesuatu di dalamnya. Sebab ia terdapat dalam derajat-derajat yang berbeda. Kadang berupa biji-bijinya, kadang inti-intinya, kadang ringkasan-ringkasannya, kadang prinsip-prinsipnya, kadang tanda-tandanya; entah secara terang (sarâhaten), entah dengan isyarat, entah dengan rumus (remzen), entah dengan samar (ibhâmen), entah dalam bentuk peringatan. Namun sesuai kebutuhan, dan dengan cara yang selaras dengan maksud Al-Qur'an, serta dalam kesesuaian dengan tuntutan kedudukan (iktizâ-yı makâm), ia diungkapkan dengan salah satu dari cara-cara itu. Sebagai contoh:

Buah dari kemajuan manusia di bidang seni dan sains — keajaiban-keajaiban seni dan keanehan-keanehan sains seperti pesawat terbang, listrik, kereta api, dan telegraf — telah muncul dan menempati kedudukan terbesar dalam kehidupan materi manusia. Tentu Al-Qur'an Al-Hakîm, yang berbicara kepada seluruh jenis manusia, tak akan membiarkan hal-hal itu terabaikan. Ya, ia tak membiarkannya. Ia telah mengisyaratkannya dengan dua sisi:

Sisi pertama: dalam wujud mukjizat para nabi...