Risale-i NurKelimat

Kelimat Kedua Puluh Satu

Kelimat · hlm. 261

[Terdiri dari Dua Maqam]

Maqam Pertama

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

اِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِن۪ينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Pada suatu masa, seorang yang besar dari sisi usia, jasad, dan pangkat berkata kepadaku: "Shalat itu baik. Namun mengerjakannya lima kali setiap hari, setiap hari, terlalu banyak. Karena tak kunjung habis, ia menimbulkan kejenuhan."

Setelah lewat waktu yang cukup lama dari ucapan sosok itu, aku mendengarkan nafsuku. Kudengar ia mengucapkan kata-kata yang sama, dan kupandang ia — kulihat bahwa dengan telinga kemalasan ia mengambil pelajaran yang sama dari setan. Saat itu aku paham: sosok itu mengucapkan kata-kata itu seakan atas nama seluruh nafsu ammârah, atau ia dibuat mengucapkannya. Maka saat itu aku pun berkata: "Karena nafsuku adalah ammârah, dan siapa yang tak memperbaiki nafsunya tak dapat memperbaiki orang lain, maka aku akan memulai dari nafsuku sendiri."

Aku berkata: Wahai nafsu! Terhadap ucapanmu itu — yang kau ucapkan di dalam kebodohan ganda (cehl-i mürekkeb), di atas kasur kemalasan, dalam tidur kelalaian — dengarlah dariku "lima peringatan".

Peringatan Pertama

Wahai nafsuku yang celaka! Apakah umurmu abadi? Adakah engkau punya sertifikat pasti bahwa engkau akan tetap hidup sampai tahun depan, bahkan sampai esok? Yang menimbulkan kejenuhan padamu adalah praduga keabadian (tevehhüm-ü ebediyet). Karena kesenangan, engkau bermanja-manja seakan akan tinggal abadi di dunia. Andaikata engkau paham bahwa umurmu sedikit dan berlalu sia-sia, tentu menyisihkan satu dari dua puluh empat bagiannya untuk suatu khidmat yang indah, menyenangkan, nyaman, dan penuh rahmat — yang menjadi tumpuan kebahagiaan kehidupan abadi yang hakiki — jangankan menimbulkan kejenuhan, malah menjadi sebab bangkitnya kerinduan yang serius dan kenikmatan yang menyenangkan.

Peringatan Kedua

Wahai nafsuku pemuja perut (syikem-perver)! Apakah setiap hari, setiap hari, engkau makan roti, minum air, menghirup udara — apakah semua itu menimbulkan kejenuhan padamu? Karena tidak — sebab, karena kebutuhannya berulang, engkau bukan jenuh melainkan menikmati — maka shalat, yang menarik dan mendatangkan makanan bagi hatimu (yang menjadi sahabatmu di rumah jasadku), air kehidupan bagi ruhku, dan udara sepoi bagi latîfah Rabbaniyah-ku, tak sepatutnya menjenuhkanmu. Ya, makanan dan kekuatan bagi suatu hati yang terpapar dan tertimpa kesedihan serta derita yang tak terhingga, sekaligus terpikat dan bergelora pada kenikmatan serta harapan yang tak terhingga, hanya dapat diperoleh dengan mengetuk pintu Sang Rahîm Yang Mahamulia — yang berkuasa atas segala sesuatu — melalui permohonan (niyâz). Ya, air kehidupan bagi suatu ruh yang berkaitan dengan sebagian besar makhluk yang pergi dengan meratapkan perpisahan (vâveylâ-yı firâk) di dunia fana ini dengan kecepatan penuh, hanya dapat diminum dengan menghadap — melalui shalat — ke mata air rahmat Sang Ma'bûd Yang Kekal, Sang Kekasih Yang Abadi, yang menggantikan segala sesuatu. Ya, suatu rahasia insani yang berakal (zîsyuur) dan suatu latîfah Rabbaniyah yang bercahaya — yang secara fitri menginginkan keabadian, yang diciptakan untuk keabadian, yang menjadi cermin bagi suatu Zat yang Azali dan Abadi, dan yang teramat halus dan lembut — di tengah keadaan-keadaan duniawi yang membeku, menghimpit, menyesakkan, fana, gelap, dan mencekik ini, tentu amat membutuhkan bernapas, dan hanya dapat bernapas melalui jendela shalat.

Peringatan Ketiga

Wahai nafsuku yang tak sabar! Apakah memikirkan hari ini beban ibadah di hari-hari lampau, kesukaran shalat, dan derita musibah, lalu menjadi resah karenanya — dan membayangkan hari ini tugas ibadah, khidmat shalat, dan derita musibah di hari-hari mendatang, lalu menunjukkan ketidaksabaran — apakah itu suatu tindakan yang berakal? Dalam ketidaksabaran ini, perumpamaanmu bagai seorang panglima dungu demikian: sayap kanan pasukan musuh telah bergabung dengan pasukannya sendiri di sayap kanan dan menjadi kekuatan baru baginya; namun ia malah mengirim sebagian besar kekuatannya ke sayap kanan, sehingga melemahkan pusat (markaz). Dan di sayap kiri, padahal tak ada tentara musuh dan belum pula datang, ia mengirim kekuatan besar, lalu memberi perintah "Tembak!" Ia menjatuhkan pusat dari seluruh kekuatannya. Musuh memahami keadaan itu, menyerbu pusat, lalu meluluhlantakkannya. Ya, engkau menyerupainya. Sebab, beban hari-hari lampau kini telah beralih menjadi rahmat; deritanya hilang, kelezatannya tinggal. Bebannya bergabung dengan karamah, dan kesukarannya beralih menjadi pahala. Maka darinya sepatutnya bukan kejenuhan yang diambil, melainkan kerinduan baru, kenikmatan segar, dan usaha yang serius untuk melanjutkan. Adapun hari-hari mendatang, selama ia belum datang — memikirkannya dari sekarang lalu jenuh dan lemah semangat, sama saja dengan kegilaan orang yang hari ini berteriak dan menjerit karena lapar dan haus yang baru akan terjadi di hari-hari itu. Selama hakikatnya demikian, jika engkau berakal, dalam hal ibadah pikirkanlah hanya hari ini, dan katakanlah: "Satu jam darinya kupergunakan untuk suatu khidmat yang menyenangkan, indah, dan luhur — yang upahnya amat besar dan bebannya amat ringan." Saat itu kelesuanmu yang pahit beralih menjadi semangat yang manis.

Maka wahai nafsuku yang tak sabar! Engkau dibebani tiga kesabaran. Satu: sabar dalam ketaatan. Satu: sabar menahan diri dari maksiat. Yang lain: sabar menghadapi musibah. Jika engkau berakal, jadikanlah hakikat yang tampak dalam perumpamaan pada peringatan ketiga ini sebagai penuntun. Katakanlah dengan gagah "Yâ Shabûr", lalu pikullah tiga kesabaran itu di atas bahumu. Kekuatan sabar yang Allah berikan kepadamu, jika tak kau hamburkan ke jalan yang salah, dapat mencukupi setiap kesukaran dan setiap musibah; maka bertahanlah dengan kekuatan itu.

Peringatan Keempat

Wahai nafsuku yang dungu! Apakah tugas ubudiyah ini tanpa hasil, atau upahnya sedikit, sehingga ia menjenuhkanmu? Padahal jika seseorang memberimu beberapa keping uang atau menakut-nakutimu, ia dapat mempekerjakanmu sampai petang, dan engkau bekerja tanpa lesu. Apakah shalat — yang akan menjadi makanan dan kekayaan bagi hatimu yang lemah dan fakir di rumah penginapan dunia ini, menjadi bekal dan cahaya di kuburmu yang pasti menjadi tempat tinggalmu, menjadi sertifikat dan surat pembebasan (berat) di Mahsyar yang pasti menjadi mahkamahmu, serta menjadi cahaya dan Buraq di Jembatan Shirâth yang mau tak mau harus kau lewati — apakah ia tanpa hasil, atau upahnya sedikit? Jika seseorang menjanjikanmu hadiah seratus lira, ia dapat mempekerjakanmu seratus hari. Padahal ia bisa saja mengingkari janji; namun engkau memercayainya dan bekerja tanpa lesu. Maka apakah engkau tak memikirkan bahwa, jika suatu Zat — yang mustahil mengingkari janji — menjanjikanmu upah bagai surga dan hadiah bagai kebahagiaan abadi, lalu dalam waktu yang amat singkat mempekerjakanmu dalam tugas yang amat indah — sedang engkau tak berkhidmat, atau berkhidmat dengan enggan bagai kerja paksa, atau dengan jenuh dan setengah-setengah, lalu menuduh-Nya ingkar janji dan meremehkan hadiah-Nya — engkau berhak atas pendisiplinan yang keras dan siksa yang dahsyat? Padahal di dunia, karena takut penjara, engkau berkhidmat tanpa lesu dalam pekerjaan yang paling berat; maka apakah rasa takut akan penjara abadi bagai neraka tak memberimu semangat untuk suatu khidmat yang paling ringan dan lembut?

Peringatan Kelima

Wahai nafsuku pemuja dunia! Apakah kelesuanmu dalam ibadah dan kelalaianmu dalam shalat berasal dari banyaknya kesibukan duniawi, atau karena engkau tak menemukan waktu akibat sibuk dengan derita mencari nafkah? Apakah engkau diciptakan semata untuk dunia, sehingga seluruh waktumu kau curahkan untuknya? Engkau tahu bahwa dari sisi kesiapan (isti'dâd) engkau di atas seluruh hewan, dan bahwa dari sisi kemampuan menyiapkan kebutuhan hidup duniawi engkau tak menyamai seekor burung pipit. Dari itu mengapa engkau tak paham bahwa tugas aslimu bukanlah berjuang bagai hewan, melainkan — bagai manusia sejati — berusaha demi kehidupan kekal yang hakiki? Bersama itu, kebanyakan yang kau sebut "kesibukan duniawi" adalah kesibukan sia-sia (malayani) yang bukan urusanmu, yang kau campuri secara berlebihan. Engkau meninggalkan yang paling perlu, lalu — seakan berumur ribuan tahun — menghabiskan waktu dengan pengetahuan yang paling tak berguna. Misalnya, engkau menghabiskan waktu berhargamu dengan hal-hal tak bernilai seperti: bagaimana keadaan cincin-cincin di sekeliling Zuhal (Saturnus), dan berapa jumlah ayam di Amerika? — seakan engkau memperoleh suatu kesempurnaan dari ilmu kosmografi dan statistik.

Jika engkau berkata: "Yang menghalangiku dari shalat dan ibadah serta membuatku lesu bukanlah hal-hal tak berguna semacam itu, melainkan urusan-urusan wajib dari derita mencari nafkah." Maka aku pun berkata kepadamu: Andaikata engkau bekerja dengan upah harian seratus kurus; lalu datang seseorang berkata: "Mari, galilah tempat ini sepuluh menit, engkau akan menemukan sebutir intan dan zamrud senilai seratus lira." Lalu engkau menjawab: "Tidak, aku tak mau datang. Sebab, upah harianku sepuluh kurus akan berkurang, nafkahku akan menyusut" — tentu engkau tahu betapa alasan itu adalah dalih yang gila. Persis seperti itu; engkau bekerja di kebunmu ini demi nafkahmu. Jika engkau meninggalkan shalat fardu, seluruh buah usahamu hanya terbatas pada nafkah duniawi yang tak penting dan tak berkah. Namun jika waktu istirahat dan bernapasmu kau curahkan untuk shalat — yang menjadi tumpuan ketenangan ruh dan pernapasan hati — maka bersama nafkah duniawi yang penuh berkah, engkau menemukan dua tambang maknawi yang menjadi sumber penting bagi nafkah ukhrawi dan bekal akhiratmu:

Tambang pertama

Dari setiap tumbuhan dan pohon yang kau tumbuhkan di kebunmu

> (Hâsyiyah): Maqam ini adalah pelajaran bagi seseorang di sebuah kebun, sehingga diterangkan dengan gaya ini.

— berbunga maupun berbuah — dengan niat yang baik, engkau mengambil satu bagian dari tasbihnya.

Tambang kedua

Dan siapa pun yang memakan hasil dari kebun ini — hewan atau manusia; sapi atau lalat; pembeli atau pencuri — ia menjadi sedekah bagimu. Namun dengan syarat: engkau bertasarruf atas nama Sang Razzâq Hakiki dan dalam lingkup izin-Nya, serta memandang dirimu sebagai petugas distribusi yang memberikan harta-Nya kepada makhluk-Nya...

Maka lihatlah, betapa besar kerugian yang ditanggung orang yang meninggalkan shalat, betapa penting kekayaan yang ia hilangkan; ia kehilangan dua hasil dan dua tambang itu — yang memberi semangat besar pada usaha dan menjamin kekuatan maknawi besar dalam amal — lalu bangkrut. Bahkan, semakin tua ia semakin jenuh berkebun, lesu datang. Ia berkata "Apa urusanku". Ia akan berkata: "Toh aku sudah akan pergi dari dunia. Untuk apa aku menanggung sebanyak ini kesukaran?" lalu ia melemparkan dirinya ke kemalasan. Namun orang yang pertama berkata: "Aku akan berusaha lebih banyak pada nafkah halal bersama ibadah yang lebih banyak. Agar aku mengirim lebih banyak cahaya ke kuburku, dan menyiapkan lebih banyak bekal bagi akhiratku."

Kesimpulan

Wahai nafsu! Ketahuilah bahwa hari kemarin telah lepas dari tanganmu. Adapun esok, engkau tak memegang sertifikat bahwa engkau memilikinya. Maka ketahuilah bahwa umurmu yang hakiki adalah hari yang sedang kau jalani. Setidaknya, lemparkanlah satu jam dari harimu — bagai uang cadangan — ke sebuah masjid atau ke atas sajadah, yang menjadi peti tabungan ukhrawi bagi masa depan hakiki. Dan ketahuilah: setiap hari yang baru adalah pintu suatu alam yang baru bagimu dan bagi setiap orang. Jika engkau tak menunaikan shalat, maka alam harimu itu berlalu dalam keadaan gelap dan porak-poranda, dan ia bersaksi memberatkanmu di Alam Mitsâl. Sebab, setiap orang, pada setiap harinya, memiliki suatu alam khusus dari alam ini. Dan keadaan alam itu tunduk pada hati dan amal orang itu. Sebagaimana sebuah istana megah yang terlihat di cerminmu bergantung pada warna cermin: jika hitam, ia tampak hitam; jika merah, ia tampak merah. Dan ia bergantung pula pada keadaan cermin itu: jika kaca cermin itu rata, ia memperlihatkan istana dengan indah; jika tidak, ia memperlihatkannya buruk, menampakkan hal-hal yang paling halus menjadi kasar. Demikian pula, dengan hati, akal, amal, dan sanubarimu, engkau mengubah bentuk alammu sendiri. Engkau dapat membuatnya bersaksi memberatkanmu atau meringankanmu. Jika engkau menunaikan shalat, lalu dengan shalatmu itu menghadap kepada Sang Shâni' Dzul-Jalâl dari alammu itu; maka seketika alam yang memandangmu itu bercahaya. Bagaikan shalat adalah lampu listrik dan niat shalat adalah sentuhan pada saklarnya, ia menyibak kegelapan alam itu, dan memperlihatkan bahwa perubahan serta gerak di dalam kekacauan duniawi yang porak-poranda itu adalah keteraturan penuh hikmah dan tulisan kudrat yang bermakna. Ia menaburkan ke hatimu satu cahaya dari ayat yang penuh cahaya: اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ. Dengan pantulan cahaya itu, ia menerangi alam harimu, dan membuatnya bersaksi meringankanmu dengan cahaya.

Jangan sekali-kali berkata: "Di mana shalatku, di mana hakikat shalat ini?" Sebab, seperti sebutir biji kurma yang mensifati pohonnya sendiri layaknya pohon kurma — bedanya hanya global dan terperinci — demikian pula shalat seorang mukmin biasa seperti aku dan engkau — meski ia tak merasakannya — memiliki satu bagian dari cahaya ini, satu rahasia dari hakikat ini, seperti shalat seorang wali besar — meski kesadarannya tak terkait dengannya. Namun penyingkapan dan pencahayaannya berbeda-beda menurut derajat. Sebagaimana dari sebutir biji kurma sampai ke pohon kurma yang sempurna terdapat banyak tingkatan; demikian pula dalam derajat shalat terdapat lebih banyak tingkatan lagi. Namun di seluruh tingkatan itu, asas hakikat yang bercahaya itu tetap ada.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَنْ قَالَ اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدّ۪ينِ وَعَلٰٓى اٰلِه۪ وَصَحْبِه۪ اَجْمَع۪ينَ

Maqam Kedua dari Kelimat Kedua Puluh Satu

[Mengandung lima obat bagi lima luka hati.]

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

رَبِّ اَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاط۪ينِ ❊ وَاَعُوذُ بِكَ رَبِّ اَنْ يَحْضُرُونِ

Wahai engkau yang tertimpa penyakit waswas! Tahukah engkau waswasmu menyerupai apa? Ia menyerupai musibah. Semakin kau beri perhatian, ia membengkak; jika tak kau pedulikan, ia padam. Jika kau pandang besar, ia membesar; jika kau pandang kecil, ia mengecil. Jika kau takuti, ia memberat dan membuatmu sakit; jika tak kau takuti, ia meringan dan tersembunyi. Jika kau tak mengetahui hakikatnya, ia bertahan dan menetap; jika kau mengetahui hakikatnya dan mengenalinya, ia pergi. Maka dari sekian banyak jenis waswas yang menyusahkan itu, hanya lima wajah yang sering terjadi akan kuterangkan. Semoga menjadi obat bagimu dan bagiku. Sebab, waswas ini adalah sesuatu yang diundang oleh kebodohan dan diusir oleh ilmu; jika kau tak mengenalinya, ia datang; jika kau mengenalinya, ia pergi.

Wajah Pertama — Luka Pertama

Setan mula-mula melemparkan keraguan (syubhat) ke hati. Jika hati tak menerimanya, keraguan itu beralih menjadi caci (syatm). Ia menggambarkan ke arah khayal sebagian ingatan kotor bagai cacian dan keadaan buruk yang menyalahi adab. Ia membuat hati berkata "Aduh", lalu menjatuhkannya ke putus asa. Orang yang berwaswas menyangka bahwa hatinya berlaku su'ul adab terhadap Rabbnya. Ia merasakan gemetar dan gelisah yang dahsyat. Untuk lepas dari itu, ia lari dari kehadiran (huzur) dan ingin tenggelam dalam kelalaian. Obat luka ini adalah demikian:

Lihatlah wahai orang malang yang berwaswas! Jangan panik. Sebab yang terlintas di benakmu itu bukanlah caci, melainkan khayalan (tahayyül). Sebagaimana mengkhayalkan kekufuran bukanlah kekufuran; demikian pula mengkhayalkan caci bukanlah caci. Sebab menurut logika, khayalan bukanlah hukum (keputusan), sedang caci adalah suatu hukum. Bersama itu, kata-kata buruk itu bukanlah kata-kata hatimu. Sebab hatimu justru sedih dan menyesal karenanya. Melainkan ia datang dari bisikan setani (lümme-i syaithânî) yang dekat dengan hati. Bahaya waswas adalah praduga bahaya (tevehhüm-ü zarar). Yakni, dengan mempraduga ia berbahaya, hati menjadi terganggu. Sebab ia mempraduga suatu khayalan tak berhukum sebagai hakikat. Dan ia menisbahkan pekerjaan setan ke hatinya sendiri; ucapan setan disangkanya ucapan hati. Ia menganggapnya bahaya, lalu jatuh ke bahaya. Memang itulah yang diinginkan setan.

Wajah Kedua ialah demikian

Makna-makna, ketika keluar dari hati, masuk ke khayal dalam keadaan telanjang dari rupa; di sana ia mengenakan rupa. Adapun khayal, setiap saat menenun berbagai rupa di bawah suatu sebab. Ia meninggalkan rupa dari hal yang ia beri perhatian di sepanjang jalan. Makna mana pun yang lewat, entah ia kenakan padanya, entah ia sangkutkan, entah ia lumurkan, entah ia jadikan tabir. Jika makna-makna itu suci dan bersih, sedang rupa-rupa itu kotor dan hina, maka tak ada pengenaan, melainkan hanya persentuhan (temas). Orang yang berwaswas mengacaukan persentuhan dengan pengenaan (telebbüs). Ia berkata: "Aduh! Betapa rusak hatiku. Kehinaan ini, kerendahan nafsu ini, mengusirku." Setan mengambil banyak manfaat dari urat ini. Obat luka ini adalah demikian:

Dengarlah wahai orang malang! Sebagaimana najis yang ada di kedalaman perutmu tak memengaruhi dan tak merusak thaharah lahir — yang menjadi wasilah adab bersih shalatmu; demikian pula, berdekatannya makna-makna suci dengan rupa yang kotor tak menimbulkan mudarat. Misalnya, engkau merenungkan ayat-ayat Ilahiah. Tiba-tiba suatu penyakit, atau rasa lapar, atau suatu dorongan bagai buang air, dengan keras menyentuh perasaanmu. Tentu khayalmu akan melihat dan memandang perkakas pengobatan penyakit dan pemenuhan hajat itu, lalu menenun rupa-rupa rendah yang sesuai dengannya; dan makna-makna yang datang akan lewat di tengah-tengahnya. Bagi yang lewat, tak ada masalah, tak ada kekotoran, tak ada mudarat, dan tak ada bahaya. Adapun satu-satunya bahaya ialah pemusatan pandangan (hasr-ı nazar) dan praduga bahaya.

Wajah Ketiga ialah demikian

Di antara benda-benda terdapat sebagian hubungan tersembunyi (münasebat-ı hafiyah). Bahkan di dalam hal-hal yang sama sekali tak kau duga terdapat benang-benang hubungan. Entah ia ada dengan sendirinya, entah khayalmu — sesuai kesibukan yang ia geluti — telah membuat benang-benang itu dan mengikatnya satu sama lain. Dari rahasia hubungan inilah, kadang melihat sesuatu yang suci mengingatkan pada sesuatu yang kotor. Sebagaimana diterangkan dalam Ilmu Bayan: "Pertentangan (zıddiyet), yang di luar menjadi sebab kejauhan, di dalam khayal menjadi sebab kedekatan." Yakni, perantara bagi berkumpulnya rupa dua hal yang bertentangan adalah suatu hubungan khayali. Ingatan yang datang lewat hubungan ini disebut asosiasi pikiran (tedâi-yi efkâr). Misalnya: ketika engkau sedang shalat, dalam munajat, di hadapan Ka'bah, dalam kehadiran Ilahi, sedang merenungkan ayat-ayat — asosiasi pikiran ini menangkapmu lalu menyeretmu ke hal-hal sia-sia yang paling jauh dan hina. Jika kepalamu tertimpa asosiasi pikiran semacam ini, jangan sekali-kali panik. Melainkan, pada saat engkau sadar, kembalilah. Jangan berhenti sibuk meneliti sambil berkata "Aduh, kesalahan apa yang kuperbuat". Agar hubungan lemah itu tak memperoleh kekuatan dengan perhatianmu. Sebab, semakin engkau menunjukkan kesedihan dan memberi perhatian, ingatan lemahmu itu beralih menjadi kebiasaan (malakah), menjadi penyakit khayali. Jangan takut, ia bukan penyakit kalbu. Ingatan jenis ini umumnya tak disengaja (ihtiyârsız). Terutama pada orang yang peka dan mudah gelisah, ia lebih dominan. Setan banyak menjalankan tambang waswas jenis ini. Obat luka ini adalah demikian:

Asosiasi pikiran umumnya tak disengaja; di dalamnya tak ada pertanggungjawaban. Dan dalam asosiasi terdapat kedekatan (mücâveret); tak ada persentuhan dan percampuran. Karena itu, sifat-sifat pikiran tak menular satu sama lain, tak saling merugikan. Sebagaimana setan dan malaikat ilham berdekatan di sisi-sisi hati, dan sebagaimana kedekatan orang durjana dengan orang saleh serta tinggalnya mereka di satu tempat tak menimbulkan mudarat; demikian pula, khayalan kotor yang tak kau inginkan, yang datang karena dorongan asosiasi pikiran lalu masuk ke tengah pikiran-pikiranmu yang bersih, tak menimbulkan mudarat — kecuali jika ia disengaja, atau engkau sibuk berlebihan dengannya karena praduga bahaya. Dan kadang hati lelah; pikiran menghibur dirinya dengan sesuatu secara acak. Setan menemukan peluang, lalu menaburkan dan menyeret hal-hal kotor di hadapannya.

Wajah Keempat

Suatu waswas yang lahir dari pencarian bentuk terbaik suatu amal, yang semakin diperkeras dengan sangkaan takwa, keadaannya justru semakin menjadi-jadi. Bahkan sampai ke suatu derajat di mana orang itu, ketika mencari yang lebih utama dari amalnya, malah jatuh ke yang haram. Kadang mencari suatu sunnah membuatnya meninggalkan suatu wajib. Ia berkata: "Apakah amalku sudah sah?" lalu ia mengulanginya. Keadaan ini berlanjut. Ia jatuh ke putus asa yang sangat. Setan mengambil manfaat dari keadaannya ini, lalu melukainya. Luka ini punya dua obat:

Obat pertama

Waswas semacam ini layak bagi kaum Mu'tazilah. Sebab mereka berkata: "Perbuatan dan benda yang menjadi objek taklif, pada zatnya sendiri, dari sisi akhirat, entah memiliki husn (kebaikan) — lalu berdasarkan husn itu diperintahkan; entah memiliki qubh (keburukan) — lalu berdasarkan qubh itu dilarang. Artinya, pada benda, husn dan qubh dari sudut akhirat dan hakikat adalah zâtî; perintah dan larangan Ilahi mengikutinya." Menurut mazhab ini, pada setiap amal yang dikerjakan manusia datang waswas demikian: "Apakah amalku telah dikerjakan dalam bentuk yang indah menurut nafs al-amr (kenyataan sebenarnya)?" Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah — mazhab yang hak — berkata: Allah memerintahkan sesuatu, lalu ia menjadi baik (hasan); Ia melarang, lalu ia menjadi buruk (qabih). Artinya, dengan perintah terwujud kebaikan, dengan larangan terwujud keburukan. Husn dan qubh bergantung pada pengetahuan mukalaf dan menetap menurutnya. Adapun husn dan qubh ini bukan pada wajah yang lahiriah dan menghadap dunia, melainkan pada wajah yang menghadap akhirat. Misalnya, engkau menunaikan shalat atau berwudhu. Padahal pada nafs al-amr ada suatu sebab yang merusak shalat dan wudhumu; namun engkau sama sekali tak mengetahuinya. Maka shalat dan wudhumu sekaligus sah dan baik. Mu'tazilah berkata: "Pada hakikatnya ia buruk dan rusak. Namun ia diterima darimu, karena engkau bodoh, tak mengetahui, dan punya uzur." Maka menurut mazhab Ahlus Sunnah, terhadap amal yang kau kerjakan sesuai lahir syariat, jangan berwaswas dengan berkata: "Apakah sudah sah?" Melainkan katakanlah: "Apakah sudah diterima?" Jangan menyombong, jangan jatuh ke ujub.

Obat kedua

Dalam agama tak ada kesempitan (harec). لاَ حَرَجَ فِى الدّ۪ينِ Selama empat mazhab adalah hak, dan selama menyadari kekurangan yang berujung pada istighfar lebih diutamakan — bagi orang yang berwaswas seperti ini — daripada memandang baik amal yang berujung pada kesombongan; yakni, bagi orang berwaswas semacam ini, memandang amalnya berkekurangan lalu beristighfar lebih utama daripada memandang amalnya indah lalu jatuh ke kesombongan. Selama demikian, buanglah waswas itu. Katakanlah kepada setan: Keadaan ini adalah suatu kesempitan. Menyadari hakikat keadaan itu sulit. Ia menyalahi kemudahan (yüsr) dalam agama. Ia bertentangan dengan asas اَلدّ۪ينُ يُسْرٌ ❊ لاَ حَرَجَ فِى الدّ۪ينِ. Tentu amalku semacam ini sesuai dengan salah satu mazhab yang hak. Itu cukup bagiku. Bahkan, setidaknya, dengan mengakui ketidakberdayaanku bahwa aku tak mampu menunaikan ibadah dengan cara yang layak, hal itu menjadi wasilah bagi permohonan yang penuh kerendahan hati — berlindung pada rahmat Ilahiah dengan istighfar dan tadharru' — agar kekuranganku diampuni dan amalku yang berkekurangan diterima.

WAJAH KELIMA

Waswas yang datang dalam bentuk keraguan pada masalah-masalah imani. Orang malang yang berwaswas kadang mengacaukan pengkhayalan (tahayyül) dengan penalaran (taakkul). Yakni, ia mempraduga suatu keraguan yang datang ke khayal sebagai keraguan yang masuk ke akal, lalu menyangka keyakinannya telah cacat. Kadang ia menyangka suatu keraguan yang ia praduga sebagai suatu syak yang merusak iman. Kadang ia menyangka suatu keraguan yang ia bayangkan (tasavvur) sebagai keraguan yang masuk ke pembenaran akli. Kadang ia menyangka pemikiran (tefekkür) tentang suatu perkara kufur sebagai kekufuran itu sendiri. Yakni, ia menyangka gerak, penelitian, dan penalaran netral dari daya pikirnya dalam rangka memahami sebab-sebab kesesatan sebagai lawan iman. Maka karena sangkaan-sangkaan ini — yang merupakan bekas tanaman setani — ia terkejut, lalu berkata: "Aduh! Hatiku rusak, imanku cacat." Karena keadaan-keadaan itu umumnya tak disengaja, dan karena ia tak mampu memperbaikinya dengan ikhtiar juz'inya, ia jatuh ke putus asa. Obat luka ini adalah demikian:

Sebagaimana mengkhayalkan kekufuran bukanlah kekufuran; demikian pula mempraduga kekufuran (tevehhüm-ü küfür) bukanlah kekufuran. Sebagaimana membayangkan kesesatan bukanlah kesesatan; demikian pula memikirkan kesesatan bukanlah kesesatan. Sebab, baik pengkhayalan, praduga, pembayangan, maupun pemikiran, semuanya berbeda dan terpisah dari pembenaran akli (tasdik-ı aklî) dan keyakinan kalbu (iz'an-ı kalbî). Semuanya sampai derajat tertentu bebas. Ia tak begitu mendengarkan ikhtiar juz'i. Ia tak begitu masuk ke bawah taklif agama. Adapun pembenaran dan keyakinan tidaklah demikian; keduanya tunduk pada suatu timbangan. Dan sebagaimana pengkhayalan, praduga, pembayangan, dan pemikiran bukanlah pembenaran dan keyakinan; demikian pula ia tak terhitung sebagai keraguan dan kebimbangan. Namun jika ia diulang-ulang tanpa perlu hingga menjadi keadaan yang menetap, maka saat itu suatu jenis keraguan yang hakiki dapat lahir darinya. Dan dengan berdalih "penalaran netral" atau "atas nama keinsafan", ia terus-menerus memihak pihak lawan, hingga sampai ke suatu keadaan di mana tanpa sengaja ia memihak pihak lawan. Keberpihakan pada kebenaran yang wajib atasnya pun patah. Ia pun jatuh ke bahaya. Suatu keadaan yang akan menjadi wakil tak diminta (vekil-i fuzulî) bagi lawan atau setan, menetap di benaknya.

Yang terpenting dari waswas jenis ini adalah: orang yang berwaswas mengacaukan kemungkinan zâtî (imkân-ı zâtî) dengan kemungkinan zihnî (imkân-ı zihnî). Yakni, jika ia memandang sesuatu mungkin pada zatnya, ia mempraduga hal itu mungkin pula secara zihni dan meragukan secara akal. Padahal termasuk kaidah Ilmu Kalam: kemungkinan zâtî tidak menyalahi keyakinan ilmi dan tidak bertentangan dengan keharusan zihni. Misalnya: pada menit ini, tenggelamnya Laut Hitam ke bumi adalah mungkin pada zatnya, dan dengan kemungkinan zâtî itu ia terbayangkan. Padahal kita menghukumi dengan yakin bahwa laut itu ada di tempatnya, kita mengetahuinya tanpa ragu. Dan kemungkinan (ihtimâl) serta imkân-ı zâtî itu tak memberi kita syak, tak mendatangkan keraguan, tak merusak keyakinan kita. Misalnya: matahari, pada zatnya, mungkin saja hari ini tak terbenam atau esok tak terbit. Padahal kemungkinan ini tak merugikan keyakinan kita, tak mendatangkan keraguan. Maka seperti itu pula: praduga-praduga yang datang dari sisi imkân-ı zâtî terhadap hakikat-hakikat imani — seperti terbenamnya kehidupan dunia dan terbitnya kehidupan akhirat — tak merugikan keyakinan imani. Dan kaidah masyhur لاَ عِبْرَةَ ِلْلاِحْتِمَالِ الْغَيْرِ النَّاشِئِ عَنْ دَل۪يلٍ — yakni: "Kemungkinan yang tak lahir dari suatu dalil sama sekali tak berarti" — termasuk kaidah yang ditetapkan baik dalam ushuluddin maupun ushul fikih.

Jika engkau berkata: "Waswas yang sedemikian merugikan dan mengganggu para mukmin ini, berdasarkan hikmah apa ia menjadi bala bagi kami?"

Jawaban: Dengan syarat tak berlebihan dan tak menguasai, asal waswas itu menjadi sebab kewaspadaan (teyakkuz), pendorong pencarian, dan wasilah keseriusan. Ia membuang sikap acuh, menolak kelalaian. Karena itu Sang Hakîm Mutlak, di negeri ujian ini, di medan perlombaan ini, sebagai suatu cambuk dorongan bagi kita, menyerahkan waswas ke tangan setan. Ia memukulkannya ke kepala manusia. Seandainya ia menyakiti berlebihan, hendaknya diadukan kepada Sang Hakîm Rahîm, hendaknya diucapkan «A'ûdzu billâhi minasy-syaithânir-rajîm».