Risale-i NurKata-Kata Kecil

Kalimat Keempat (Dördüncü Söz)

Kata-Kata Kecil · hlm. 9

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

اَلصَّلٰوةُ عِمَادُ الدّ۪ينِ

Kalau kamu ingin memahami — sepasti dua kali dua sama dengan empat — betapa berharga dan pentingnya salat, betapa murah dan sedikitnya biaya untuk memperolehnya, dan betapa gila serta ruginya orang yang tidak salat; lihatlah kisah perumpamaan kecil ini:

Suatu masa, seorang penguasa besar mengutus dua orang pelayannya — dengan memberi masing-masing dua puluh empat keping emas — untuk tinggal di sebuah lahan perkebunannya yang khusus lagi indah, sejauh dua bulan perjalanan. Dan ia memerintahkan mereka: "Gunakan uang ini untuk biaya jalan dan tiket. Dan belilah beberapa barang yang diperlukan untuk tempat tinggal kalian di sana. Pada jarak satu hari perjalanan ada sebuah stasiun. Di sana ada mobil, ada kapal, ada kereta api, ada juga pesawat terbang. Naiklah sesuai modal kalian "

Setelah menerima pelajaran itu, kedua pelayan itu pun berangkat. Yang satu beruntung: sampai ke stasiun ia hanya mengeluarkan sedikit uang. Tapi di dalam pengeluaran itu ia memperoleh sebuah perniagaan yang begitu indah dan disukai tuannya, sehingga modalnya naik dari satu menjadi seribu. Sedangkan pelayan yang satunya celaka; karena hidupnya tak keruan, sampai ke stasiun ia menghabiskan dua puluh tiga keping emasnya. Ia menghambur-hamburkannya untuk judi dan semacamnya, sehingga lenyap; tersisa satu keping emas saja. Kawannya berkata kepadanya: "Hai, tukarkanlah keping emasmu ini dengan sebuah tiket. Supaya kamu tidak berjalan kaki dan kelaparan di jalan yang panjang ini. Lagi pula tuan kita itu pemurah; mungkin sekali ia berbelas kasih dan mengampuni kesalahan yang telah kamu perbuat. Kamu pun akan dinaikkan ke pesawat. Dalam sehari kita sampai di tempat tinggal kita. Kalau tidak, kamu terpaksa berjalan kaki, kelaparan, dan sendirian menempuh padang pasir selama dua bulan." Nah, andaikan orang ini keras kepala, tidak mau menukarkan satu-satunya keping emasnya dengan sebuah tiket yang berkedudukan sebagai kunci harta karun, dan malah menghabiskannya demi foya-foya untuk sebuah kelezatan sementara; bukankah orang yang paling tak berakal pun memahami betapa ia sangat tak berakal, sangat rugi, lagi sangat celaka?

Nah, wahai orang yang tidak salat, dan wahai diriku yang tidak menyukai salat!

Penguasa itu adalah Rabb kita, Khalik kita. Kedua pelayan yang melakukan perjalanan itu adalah: yang satu, orang yang taat beragama, yang mengerjakan salatnya dengan penuh semangat; dan yang satunya, manusia-manusia lalai yang tidak salat. Dua puluh empat keping emas itu adalah umur pada setiap hari yang dua puluh empat jam. Lahan perkebunan yang khusus itu adalah Surga. Stasiun itu adalah kubur. Dan perjalanan itu adalah perjalanan manusia menuju kubur, menuju kebangkitan, menuju keabadian. Sesuai amalnya, sesuai kekuatan takwanya, mereka menempuh jalan panjang itu dalam derajat yang berbeda-beda. Sebagian ehl-i takva (orang-orang yang bertakwa) menempuh jalan seribu tahun dalam sehari, seperti kilat. Sebagian lagi menempuh jarak lima puluh ribu tahun dalam sehari, seperti khayal. Qur'an-ı Azîmüşşan (Al-Qur'an yang agung kemuliaannya) mengisyaratkan hakikat ini melalui dua ayat-Nya. Tiket itu adalah salat. Satu jam saja cukup untuk salat lima waktu beserta wudunya. Nah, orang yang menghabiskan dua puluh tiga jamnya untuk kehidupan dunia yang begini pendek, lalu tidak menyisihkan satu jam saja untuk kehidupan abadi yang begitu panjang — betapa besar kerugiannya, betapa ia menzalimi dirinya sendiri, betapa ia bertindak bertentangan dengan akal. Sebab, kalau akal bisa menerima orang yang menyerahkan separuh hartanya untuk sebuah judi lotre yang diikuti seribu orang — padahal kemungkinan menangnya hanya satu perseribu; lalu ia tidak mau menyerahkan satu dari dua puluh empat bagian hartanya untuk sebuah khazanah abadi yang keuntungannya telah dipastikan dengan kemungkinan sembilan puluh sembilan persen — bukankah orang yang menyangka dirinya berakal itu seharusnya memahami betapa ia bertindak bertentangan dengan akal dan hikmah, betapa jauh ia telah jatuh dari akal?

Padahal di dalam salat ada ketenangan yang besar bagi ruh, bagi kalbu, dan bagi akal. Lagi pula, bagi tubuh pun salat bukanlah pekerjaan yang berat. Selain itu, amal-amal duniawi lain yang mubah dari orang yang salat, dengan niat yang baik, memperoleh kedudukan ibadah. Dengan begitu, seluruh modal umurnya bisa ia jadikan milik akhirat. Dari satu sisi, ia menjadikan umurnya yang fana itu kekal .