Kalimat Kelima (Beşinci Söz)
Kata-Kata Kecil · hlm. 11
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذ۪ينَ اتَّقَوْا وَالَّذ۪ينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Kalau kamu ingin melihat betapa mengerjakan salat dan tidak melakukan dosa-dosa besar adalah sebuah tugas kemanusiaan yang hakiki, dan sebuah hasil penciptaan manusia yang begitu fitri lagi serasi; lihat dan dengarkanlah kisah perumpamaan kecil ini:
Di masa mobilisasi perang, dalam sebuah batalion, ada dua orang prajurit yang berada bersama-sama: yang satu terlatih dan mencintai tugasnya; yang lain prajurit baru yang memanjakan hawa nafsunya. Prajurit yang mencintai tugasnya itu memperhatikan latihan dan perjuangan, dan sama sekali tidak memikirkan ransum serta jatah makanannya. Sebab ia telah memahami: memberinya makan, memberikan perlengkapannya, mengobatinya kalau ia sakit, bahkan — kalau perlu — sampai menyuapkan sesuap makanan ke mulutnya, adalah tugas negara. Dan tugasnya yang sesungguhnya adalah latihan dan perjuangan. Meski begitu, ia ikut juga bekerja di sebagian urusan ransum dan perlengkapan. Ia menjerang kuali, mencuci dan mengangkat dandang makanan. Kalau ia ditanya, "Sedang apa kamu?" — "Aku sedang menjalankan kerja bakti untuk negara," katanya. Ia tidak berkata, "Aku sedang bekerja untuk nafkahku."
Sedangkan prajurit baru si pemuja perut itu tidak memperhatikan latihan dan peperangan. "Itu urusan negara. Apa peduliku?" katanya. Ia terus-menerus memikirkan nafkahnya dan berkeliling mengejarnya: ia meninggalkan batalion, pergi ke pasar, lalu berjual beli. Suatu hari, kawannya yang terlatih itu berkata kepadanya:
— Saudaraku, tugasmu yang sesungguhnya adalah latihan dan peperangan. Kamu didatangkan ke sini untuk itu. Percayalah kepada raja. Ia tidak akan membiarkanmu lapar. Itu tugasnya. Lagi pula kamu lemah dan fakir; kamu tidak bisa memberi makan dirimu sendiri di semua tempat. Lagi pula ini masa perjuangan dan mobilisasi perang. Lagi pula nanti kamu dicap pembangkang, dan mereka akan menghukummu. Ya, ada dua tugas yang tampak di hadapan kita. Yang satu adalah tugas raja: memberi kita makan — kadang-kadang kita ikut menjalankan kerja baktinya. Yang satunya adalah tugas kita: latihan dan peperangan — raja membantu kita dengan berbagai kemudahan untuk itu.
Nah, kamu pasti paham betapa besar bahayanya kalau prajurit yang hidupnya tak keruan itu tidak mau mendengarkan sang pejuang terlatih itu!
Nah, wahai diriku yang malas! Medan perang yang bergolak itu adalah kehidupan dunia yang penuh hiruk-pikuk ini. Tentara yang terbagi ke dalam batalion-batalion itu adalah masyarakat manusia. Dan batalion itu adalah jamaah Islam abad ini. Kedua prajurit itu adalah: yang satu, Muslim bertakwa yang mengetahui dan mengerjakan kewajiban-kewajiban fardu agamanya, serta berjuang melawan nafsu dan setan supaya meninggalkan kebair (dosa-dosa besar) dan tidak melakukan dosa; yang satunya, orang fasik yang merugi, yang tenggelam dalam kecemasan mencari penghidupan — sampai pada derajat menuduh Rezzak-ı Hakikî (Sang Pemberi rezeki yang sebenarnya) — lalu meninggalkan kewajiban-kewajiban fardu dan melakukan dosa-dosa yang ia jumpai di jalan mencari penghidupan itu. Latihan dan pengajaran itu adalah ibadah — terutama salat. Dan peperangan itu adalah berjuang melawan nafsu dan hawa, melawan setan-setan dari kalangan jin dan manusia, lalu menyelamatkan kalbu dan ruhnya dari kebinasaan abadi, dari dosa-dosa dan akhlak-akhlak yang hina. Dan kedua tugas itu adalah: yang pertama, memberi kehidupan dan memeliharanya; yang kedua, menyembah dan memohon dengan merendah kepada Dzat yang memberi kehidupan dan memeliharanya, bertawakal kepada-Nya dan merasa aman bersama-Nya.
Ya, siapa yang telah memberi dan menciptakan kehidupan — mukjizat seni Samadani (seni Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Tempat Bergantung segala sesuatu) yang paling cemerlang dan keajaiban hikmah Rabbani itu — Dialah juga yang memelihara dan melanjutkan kehidupan itu dengan rezeki. Tidak mungkin selain Dia... Kamu mau bukti? Hewan yang paling lemah dan paling bodoh justru diberi makan paling baik (seperti ulat buah dan ikan-ikan). Makhluk yang paling tak berdaya dan paling ringkih justru memakan rezeki terbaik (seperti bayi-bayi dan anak-anak hewan). Ya, untuk memahami bahwa sarana rezeki yang halal bukanlah kemampuan dan kehendak, melainkan justru kelemahan dan ketidakberdayaan; cukuplah membandingkan ikan-ikan dengan rubah-rubah, bayi-bayi dengan binatang-binatang buas, dan pohon-pohon dengan hewan-hewan.
Artinya, orang yang meninggalkan salatnya karena kecemasan mencari penghidupan mirip prajurit tadi: meninggalkan latihan dan parit pertahanannya, lalu mengemis di pasar. Tapi, setelah mengerjakan salat, pergi sendiri mencari jatah makannya dari dapur rahmat Cenab-ı Rezzak-ı Kerim (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Sang Pemberi rezeki Yang Mahamulia) supaya tidak menjadi beban bagi orang lain — itu indah, itu sikap jantan, dan itu pun sebuah ibadah.
Lagi pula, fitrah manusia dan perangkat-perangkat maknawinya menunjukkan bahwa ia diciptakan untuk ibadah. Sebab, dari sisi amal dan kemampuan yang diperlukan bagi kehidupan dunianya, manusia tidak mampu menyusul seekor burung pipit yang paling rendah sekalipun. Tapi dari sisi ilmu, dari sisi menyadari kebutuhannya lalu memohon dengan merendah, dan dari sisi ibadah — yang semuanya diperlukan bagi kehidupan maknawi dan ukhrawinya — ia berkedudukan sebagai sultan dan komandan segala hewan.
Artinya, wahai diriku! Kalau kamu menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan utamamu dan terus-menerus bekerja untuknya, kamu hanya akan berkedudukan sebagai seorang prajurit bawahan dari seekor burung pipit yang paling rendah . Tapi kalau kamu menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan utamamu, lalu menjadikan kehidupan dunia ini sebagai sarana dan ladang baginya, lalu bekerja sesuai itu; saat itu kamu berkedudukan sebagai komandan besar segala hewan — dan di dunia ini kamu menjadi seorang hamba Cenab-ı Hak (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Yang Mahatinggi) yang dimanja lagi tekun bermunajat, seorang tamu-Nya yang dimuliakan lagi dihormati.
Nah, ini dua jalan di hadapanmu; kamu bisa memilih yang mana saja kamu kehendaki. Mintalah hidayah dan taufik dari Erhamürrâhimîn (Yang Maha Penyayang di antara para penyayang)...